Oleh : Angelina Kusuma
Akhir-akhir ini banyak iklan kosmetik di televisi yang menarik perhatian saya. Bukan menarik saya untuk membeli produk kosmetiknya, melainkan menarik saya untuk ikut memburu informasi seputar benda-benda yang sering disentuh oleh kaum Hawa ini.
Bukan sebuah rahasia lagi jika setiap wanita selalu ingin tampil cantik, tidak ingin terlihat cepat tua, dan juga selalu memperhatikan penampilannya terutama seputar wajah dan kulit. Iklan-iklan kosmetik yang beredar di tayangan-tayangan televisi pun begitu marak dengan janji-janji yang tidak jauh dari kebutuhan setiap wanita. Produk-produk kosmetik yang ditawarkan umumnya disertai dengan embel-embel bisa memperlambat tanda-tanda penuaan dini, mengencangkan pori-pori kulit, mengurangi flek hitam, dan juga memutihkan kulit.
Kulit putih ? Sebenarnya satu item ini sering membuat isi kepala saya bertanya-tanya sejak dahulu. Pentingkah kulit putih bagi manusia ? Produk-produk kosmetik baik wanita maupun pria saat ini mulai didomplengi oleh iming-iming bisa memutihkan kulit dengan segera. Bahkan ada sebuah iklan kosmetik wanita yang tidak segan-segan memasang janji bisa membuat kulit putih hanya dalam tujuh hari.
Dahulu, saya juga sempat tergiur oleh tayangan iklan-iklan kosmetik yang saya tonton. Pernah juga terobsesi ingin memiliki kulit seputih mutiara, seperti artis-artis atau model-model Indonesia yang sering dipakai oleh pihak pemasaran produk pemutih kulitnya. Tetapi setelah sering mempraktekannya sendiri dan ternyata kulit saya tetap berwarna sawo matang, akhirnya saya menghentikan keinginan dan usaha saya. Ditambah lagi dengan penemuan-penemuan informasi akurat, bahwa ternyata produk pemutih kulit sebenarnya semakin membahayakan kulit kita karena kandungan kimia yang ada didalamnya memaksa melamin untuk merubah strukturnya menjadi lain dari pada struktur yang sebelumnya - struktur melamin yang cocok untuk tubuh kita masing-masing.
Melamin adalah pelindung bagi kulit kita, terutama terhadap sengatan sinar UV (Ultra Violet). Kulit yang banyak mengandung melamin akan lebih kebal terhadap sinar UV dibandingkan mereka yang memiliki melamin lebih sedikit. Adalah sebuah kesalahan besar jika kita ingin merubah tatanan melamin dalam kulit kita hanya karena ingin tampil lebih cantik dan menarik. Berbagai macam penyakit mulai dari iritasi sampai kanker kulit, menjadi ancaman besar jika kita salah menggunakan kosmetik yang tidak sesuai dengan tubuh kita.
Ketika saya menyempatkan diri ke dokter kulit, saya mendapatkan sebuah nasehat yang berharga seputar pemakaian kosmetik. Beliau berkata kepada saya, "Sebenarnya, dalam bentuk apapun yang namanya kosmetik itu tidak terlalu baik bagi kulit manusia. Kosmetik tidak berasal dari bahan alami melainkan campuran dari berbagai bahan kimia. Jadi jika anda ingin memiliki wajah yang segar, kulit yang indah, dan tubuh yang sehat, maka jangan terlalu banyak menggunakan kosmetik. Kosmetik hanya boleh digunakan untuk merawat, melembabkan, dan mencerahkan bagian-bagian tubuh manusia, tetapi tidak untuk menjadikannya cantik atau tampan."
Saya merenung saat mendengar nasehat dari dokter kulit tersebut. Menurut Beliau, keluhan saya yang waktu itu membuat saya melangkahkan kaki ke kliniknya justru disebabkan oleh kosmetik yang saya pakai sebelumnya. Dan benar saja, setelah saya mengurangi pemakaian kosmetik-kosmetik tersebut kemudian menghentikan pemakaiannya sama sekali, keluhan atas timbulnya masalah dikulit wajah saya berangsur-angsur menghilang dengan sendirinya dan tidak bermunculan lagi sampai sekarang.
Dengan pengalaman dan nasehat yang saya peroleh dari dokter kulit tersebut, akhirnya membuat saya sadar bahwa kosmetik bukanlah sebuah solusi yang tepat untuk membuat seorang wanita menjadi cantik dan menarik. Sangat disayangkan bahwa sampai saat ini masih banyak wanita yang begitu antusias dengan produk kosmetik terbaru, yang memberikan janji-janji bisa mempercantik diri mereka dengan cepat, membuat kulit putih, dan membuat wanita tampil lebih awet muda, sehingga membuat mereka dengan segera tergiur untuk membeli dan memakai kosmetik-kosmetik tersebut tanpa memikirkan efek samping pada masa jangka panjangnya.
Tidak salah jika tidak putih
Tubuh kita dirancang dengan keunikan masing-masing. Kulit kita putih, sawo matang atau coklat, kuning langsat, atau pun hitam, bukanlah kesalahan bagi si Perancang Agungnya. Semua mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Penelitian di dunia kedokteran juga menunjukkan bahwa kulit putih justru lebih rentan terhadap kanker dan tidak cocok untuk negara tropis dengan efek sinar UV matahari yang banyak. Jadi, masih bijakkah tindakan para wanita-wanita yang mengorbankan kesehatannya dengan memakai produk-produk pemutih kulit dan tubuh secara membabi buta atau terobsesi untuk memiliki kulit putih apa pun juga caranya demi sebuah kata pujian agar dinilai cantik ?
Wanita cantik bukan hanya karena ia berkulit putih. Yang berkulit sawo matang atau coklat dan yang berkulit hitam pun juga bisa terlihat lebih cantik dari pada mereka yang berkulit putih. Kecantikan yang sejati bersumber dari dalam hati dan pikiran. Apa yang dilihat oleh mata manusia bisa merupakan sebuah kamuflase sesaat. Tetapi apa yang bisa dirasakan dengan hati manusia jauh lebih abadi nilainya.
Jangan pernah tertipu oleh bujukan iklan sehingga kita melupakan point terpenting dalam hidup ini. Wanita cantik dilihat dari seberapa sanggup ia mengubah keadaan yang ada disekelilingnya dari buruk menjadi baik, bukan karena ia cantik secara fisik - wajah. Wanita putih dilihat dari seberapa tulus hatinya untuk memberi warna kepada kehidupan disekelilingnya, bukan karena ia putih secara tubuh luar saja. Wanita menarik dilihat dari semanis apa senyum dan sikapnya untuk seluruh manusia yang ada disekelilingnya, bukan karena ia memakai pernak-pernik yang bisa membuat seluruh mata memalingkan diri dan menikmatinya secara vulgar.
Women, you're beautiful because you're it
Thursday, April 10, 2008
Bertumbuh Dewasa
Oleh : Angelina Kusuma
Waktu duduk dikelas 4 SD, saya mempunyai sebuah pengalaman lucu ketika diajak bepergian oleh kedua orang tua saya. Tradisi keluarga besar saya dari pihak ibu, selalu mengadakan acara arisan keluarga setiap dua bulan sekali secara bergiliran dari rumah kerabat satu ke rumah kerabat yang lainnya. Hari itu saya diajak untuk mengikuti acara tersebut di rumah kerabat kami yang berbeda kecamatan - tetapi masih dalam satu kota/kabupaten - dan hanya berjarak sekitar 30 kilo meter dari rumah saya.
Ketika mobil yang kami tumpangi saat itu melewati sebuah perempatan jalan, dengan girang saya kecil berteriak, "Papi, kok seragam pak polisi yang ada dipatung itu sama dengan seragam yang dipakai polisi di NEGARA kita ya ?"
Ayah saya menoleh kearah patung berbentuk polisi lalu lintas yang ada disalah satu pojok perempatan jalan yang saya tunjuk sambil tertawa, sama seperti saya saat ini yang bisa tertawa jika mengenang peristiwa 16 tahun yang lalu tersebut - mungkin anda juga akan tertawa ketika mendengar seorang anak kelas 4 SD yang baru bepergian keluar kecamatan dalam satu kota yang sama dengan rumahnya, tetapi sudah mengira bahwa ia berada diluar negeri.
Seiring dengan bertambahnya usia, meluasnya jarak pandang, dan juga banyaknya pengalaman yang telah dilalui seseorang, maka cara berfikirnya juga akan bertambah panjang. Jika saya waktu kelas 4 SD mengira bahwa pergi keluar kecamatan saja rasanya sudah berada di negara lain, sekarang meskipun saya pergi keluar propinsipun dalam wilayah Indonesia sudah tidak lagi menganggap bahwa saya sedang berada diluar negeri.
Bayangkan jika diusia saya yang sudah lewat seperempat abad ini saya masih mempunyai cara berfikir seperti seorang anak kecil, kelas 4 SD. Apakah yang akan dikatakan oleh orang lain mengenai saya ? Mungkin julukan orang bodoh, idiot, mempunyai keterbelakangan mental, sampai orang gila bisa disematkan kepada saya karena cara berfikir yang tidak mengalami perubahan sama sekali seiring bertambahnya usia dan tubuh saya yang mengembang keatas dan ke kanan - kiri.
Ada satu lagi pengalaman lucu lain yang terjadi ketika saya duduk dibangku kelas 3 SD. Hari itu ada ujian Bahasa Indonesia di kelas saya. Saya mengerjakan semua pertanyaan yang ada dilembar soal dengan sebaik mungkin. Tiba-tiba waktu guru penjaga keluar ruangan, seisi kelas menjadi gaduh. Beberapa teman laki-laki yang tempat duduknya persis dibelakang saya mulai sibuk bicara dan bertukar jawaban.
Epen : "Sttt, jawaban pertanyaan, 'Kita menanam padi dimana ?' apa ?"
Putut : "A, di kamar."
Epen : "Masa 'di kamar' ?"
Putut : "Iya benar, 'di kamar'. Percaya deh sama aku."
Anda pasti sudah tahu jawaban yang benar tempat untuk menanam padi bukan ? Yup, jawabannya pasti 'di sawah'. Dan memang dijawaban soalnya ada beberapa pilihan seperti : kamar, sawah, ladang, dan kebun. Seluruh pembicaraan dua orang teman laki-laki yang duduk dibelakang saya tersebut masuk ke dalam telinga saya. Begitu mendengar bahwa teman saya menjawab 'di kamar' sebagai jawaban dari tempat menanam padi, saya kecil mulai bimbang dengan pilihan jawaban saya sendiri.
"Teman-temanku memilih jawaban 'di kamar', masa aku memilih jawaban 'di sawah' sendiri ? Nanti kalo jawabanku malah salah bagaimana ?", pikiran seperti ini mulai memasuki pikiran dan manguasai hati saya. Akhirnya, saya kecil mengganti pilihan jawaban di kertas saya persis seperti jawaban dua orang teman dibelakang saya, yang pembicaraannya saya dengar sebelumnya. Jawaban dari menaman padi adalah : 'di kamar' ! - Itulah salah satu the final answer yang mengisi kertas ujian Bahasa Indonesia saya hari itu.
Beberapa hari kemudian, ibu saya yang menjadi salah satu guru di SD saya juga, memanggil saya ketika saya sedang menikmati makan siang di rumah. Dengan sedikit tertawa beliau mulai bertanya kepada saya, "Lin *), kamu menjawab pertanyaan menanam padi waktu ujian Bahasa Indonesia kemarin dimana sie ?"
Saya kecil : "Di kamar, Mi."
Ibu saya : "Kok bisa 'di kamar' ?"
Saya kecil : "Abisnya, si Putut ma Epen juga jawab soal itu 'di kamar' sie, Mi. Aku dengar mereka ngobrol pas Bu Har keluar kelas kok. Jadi aku rubah deh jawabanku sendiri biar sama ma mereka."
Menanam padi 'di kamar' ! Anda pasti tergelak membayangkannya bukan ? Begitu polosnya hati seorang anak kecil. Begitu mudahnya pendirian seorang anak kecil diombang-ambingkan oleh keadaan yang ada disekelilingnya. Dan begitu belum perdulinya seorang anak kecil dengan hidupnya sendiri, kecuali semangat untuk bermain-main dan berbagi dengan teman-temannya meskipun terkadang itu salah.
Setiap manusia pasti harus melewati masa bayi, kanak-kanak, dan remaja terlebih dahulu sebelum bertumbuh menjadi dewasa. Setiap manusia akan dituntut semakin berfikir dewasa seiring dengan bertambahnya usia dan pertumbuhan fisiknya. Sesuatu yang menyimpang jika saya tetap membawa kebiasaan saya waktu SD diatas sampai usia saya yang sekarang.
Berfikir sempit, tergesa-gesa, mudah terpengaruh dengan lingkungan, hanya ingin bermain-main atau bersenang-senang saja tanpa memikirkan masa depan, adalah beberapa ciri dari polah tingkah anak kecil yang belum bertumbuh dewasa. Anak kecil hanya dapat menyusu kepada ibunya dan tidak bisa berkarya lebih bagi dunia ini.
Anak-anak masih memerlukan bimbingan orang tuanya untuk mengambil keputusan, tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri, dan tidak bisa bertindak sendiri tanpa pengawasan langsung dari kedua orang tuanya.
Hanya orang dewasa yang pantas menjadi raja dari sebuah negara besar. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan menikah dan membina rumah tangganya sendiri. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan bekerja dan mendapat gaji sesuai dengan standar upah harian minimum. Hanya orang dewasa yang bisa berbuah - baik buah-buah secara rohani maupun menghasilkan anak sebagai buah jasmani.
Kedewasaan selalu memerlukan pertumbuhan. Dan bertumbuh menjadi dewasa dalam cara berfikir dan tingkah laku adalah sebuah pilihan, bukan sebuah kepastian seperti pertumbuhan fisik yang pasti kita alami sesuai dengan bertambahnya usia kita setiap tahunnya.
1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
*) Lin adalah singkatan dari Lina - Angelina, panggilan saya di rumah.
Waktu duduk dikelas 4 SD, saya mempunyai sebuah pengalaman lucu ketika diajak bepergian oleh kedua orang tua saya. Tradisi keluarga besar saya dari pihak ibu, selalu mengadakan acara arisan keluarga setiap dua bulan sekali secara bergiliran dari rumah kerabat satu ke rumah kerabat yang lainnya. Hari itu saya diajak untuk mengikuti acara tersebut di rumah kerabat kami yang berbeda kecamatan - tetapi masih dalam satu kota/kabupaten - dan hanya berjarak sekitar 30 kilo meter dari rumah saya.
Ketika mobil yang kami tumpangi saat itu melewati sebuah perempatan jalan, dengan girang saya kecil berteriak, "Papi, kok seragam pak polisi yang ada dipatung itu sama dengan seragam yang dipakai polisi di NEGARA kita ya ?"
Ayah saya menoleh kearah patung berbentuk polisi lalu lintas yang ada disalah satu pojok perempatan jalan yang saya tunjuk sambil tertawa, sama seperti saya saat ini yang bisa tertawa jika mengenang peristiwa 16 tahun yang lalu tersebut - mungkin anda juga akan tertawa ketika mendengar seorang anak kelas 4 SD yang baru bepergian keluar kecamatan dalam satu kota yang sama dengan rumahnya, tetapi sudah mengira bahwa ia berada diluar negeri.
Seiring dengan bertambahnya usia, meluasnya jarak pandang, dan juga banyaknya pengalaman yang telah dilalui seseorang, maka cara berfikirnya juga akan bertambah panjang. Jika saya waktu kelas 4 SD mengira bahwa pergi keluar kecamatan saja rasanya sudah berada di negara lain, sekarang meskipun saya pergi keluar propinsipun dalam wilayah Indonesia sudah tidak lagi menganggap bahwa saya sedang berada diluar negeri.
Bayangkan jika diusia saya yang sudah lewat seperempat abad ini saya masih mempunyai cara berfikir seperti seorang anak kecil, kelas 4 SD. Apakah yang akan dikatakan oleh orang lain mengenai saya ? Mungkin julukan orang bodoh, idiot, mempunyai keterbelakangan mental, sampai orang gila bisa disematkan kepada saya karena cara berfikir yang tidak mengalami perubahan sama sekali seiring bertambahnya usia dan tubuh saya yang mengembang keatas dan ke kanan - kiri.
Ada satu lagi pengalaman lucu lain yang terjadi ketika saya duduk dibangku kelas 3 SD. Hari itu ada ujian Bahasa Indonesia di kelas saya. Saya mengerjakan semua pertanyaan yang ada dilembar soal dengan sebaik mungkin. Tiba-tiba waktu guru penjaga keluar ruangan, seisi kelas menjadi gaduh. Beberapa teman laki-laki yang tempat duduknya persis dibelakang saya mulai sibuk bicara dan bertukar jawaban.
Epen : "Sttt, jawaban pertanyaan, 'Kita menanam padi dimana ?' apa ?"
Putut : "A, di kamar."
Epen : "Masa 'di kamar' ?"
Putut : "Iya benar, 'di kamar'. Percaya deh sama aku."
Anda pasti sudah tahu jawaban yang benar tempat untuk menanam padi bukan ? Yup, jawabannya pasti 'di sawah'. Dan memang dijawaban soalnya ada beberapa pilihan seperti : kamar, sawah, ladang, dan kebun. Seluruh pembicaraan dua orang teman laki-laki yang duduk dibelakang saya tersebut masuk ke dalam telinga saya. Begitu mendengar bahwa teman saya menjawab 'di kamar' sebagai jawaban dari tempat menanam padi, saya kecil mulai bimbang dengan pilihan jawaban saya sendiri.
"Teman-temanku memilih jawaban 'di kamar', masa aku memilih jawaban 'di sawah' sendiri ? Nanti kalo jawabanku malah salah bagaimana ?", pikiran seperti ini mulai memasuki pikiran dan manguasai hati saya. Akhirnya, saya kecil mengganti pilihan jawaban di kertas saya persis seperti jawaban dua orang teman dibelakang saya, yang pembicaraannya saya dengar sebelumnya. Jawaban dari menaman padi adalah : 'di kamar' ! - Itulah salah satu the final answer yang mengisi kertas ujian Bahasa Indonesia saya hari itu.
Beberapa hari kemudian, ibu saya yang menjadi salah satu guru di SD saya juga, memanggil saya ketika saya sedang menikmati makan siang di rumah. Dengan sedikit tertawa beliau mulai bertanya kepada saya, "Lin *), kamu menjawab pertanyaan menanam padi waktu ujian Bahasa Indonesia kemarin dimana sie ?"
Saya kecil : "Di kamar, Mi."
Ibu saya : "Kok bisa 'di kamar' ?"
Saya kecil : "Abisnya, si Putut ma Epen juga jawab soal itu 'di kamar' sie, Mi. Aku dengar mereka ngobrol pas Bu Har keluar kelas kok. Jadi aku rubah deh jawabanku sendiri biar sama ma mereka."
Menanam padi 'di kamar' ! Anda pasti tergelak membayangkannya bukan ? Begitu polosnya hati seorang anak kecil. Begitu mudahnya pendirian seorang anak kecil diombang-ambingkan oleh keadaan yang ada disekelilingnya. Dan begitu belum perdulinya seorang anak kecil dengan hidupnya sendiri, kecuali semangat untuk bermain-main dan berbagi dengan teman-temannya meskipun terkadang itu salah.
Setiap manusia pasti harus melewati masa bayi, kanak-kanak, dan remaja terlebih dahulu sebelum bertumbuh menjadi dewasa. Setiap manusia akan dituntut semakin berfikir dewasa seiring dengan bertambahnya usia dan pertumbuhan fisiknya. Sesuatu yang menyimpang jika saya tetap membawa kebiasaan saya waktu SD diatas sampai usia saya yang sekarang.
Berfikir sempit, tergesa-gesa, mudah terpengaruh dengan lingkungan, hanya ingin bermain-main atau bersenang-senang saja tanpa memikirkan masa depan, adalah beberapa ciri dari polah tingkah anak kecil yang belum bertumbuh dewasa. Anak kecil hanya dapat menyusu kepada ibunya dan tidak bisa berkarya lebih bagi dunia ini.
Anak-anak masih memerlukan bimbingan orang tuanya untuk mengambil keputusan, tidak bisa menentukan mana yang baik dan buruk bagi dirinya sendiri, dan tidak bisa bertindak sendiri tanpa pengawasan langsung dari kedua orang tuanya.
Hanya orang dewasa yang pantas menjadi raja dari sebuah negara besar. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan menikah dan membina rumah tangganya sendiri. Hanya orang dewasa yang diperbolehkan bekerja dan mendapat gaji sesuai dengan standar upah harian minimum. Hanya orang dewasa yang bisa berbuah - baik buah-buah secara rohani maupun menghasilkan anak sebagai buah jasmani.
Kedewasaan selalu memerlukan pertumbuhan. Dan bertumbuh menjadi dewasa dalam cara berfikir dan tingkah laku adalah sebuah pilihan, bukan sebuah kepastian seperti pertumbuhan fisik yang pasti kita alami sesuai dengan bertambahnya usia kita setiap tahunnya.
1 Korintus 13:11, Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.
*) Lin adalah singkatan dari Lina - Angelina, panggilan saya di rumah.
Belajar dari Si Nonik
Oleh : Angelina Kusuma
Ia adalah seorang siswi SMP. Perawakannya kecil dengan kulit putih dan mata yang agak sipit. Rambutnya panjang sebahu kecoklatan. Pertama kali saya melihatnya masuk ke netcafe, saya sudah mulai merasakan ada sesuatu yang istimewa dari diri anak ini. Bukan hanya wajahnya yang terlihat beda dari kebanyakan pelanggan netcafe saya yang pribumi, tetapi lebih mengarah kepada polah tingkahnya. Ketika pertama kali masuk ke netcafe, sebuah kalimat sapaan, "Selamat siang mbak, saya ingin memakai internet bisa ?", meluncur dari mulutnya.
Raut mukanya yang ramah dan tidak dibuat-buat, melengkungkan sebuah senyum disudut bibir saya. Rasanya manis sekali didengar telinga ini ada seorang anak perempuan yang bisa menerapkan tata krama yang begitu santun kepada orang yang tidak dikenal sebelumnya. Setelah saya mempersilahkan dia masuk dan menyiapkan sebuah komputer untuk dipakainya, ia juga sempat mengucapkan, "Makasih mbak", sebelum saya meninggalkan mejanya.
Saya duduk terhenyak di meja kerja saya sambil berfikir. Seandainya semua pelanggan saya seperti ini, alangkah nyamannya saya melayani mereka. Memang pelanggan adalah raja dan setiap penyedia jasa harus melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Tetapi hari itu ternyata rapor saya masih kalah ramah dan santun dibandingkan pelanggan kecil yang mengesankan ini.
Kira-kira satu jam berikutnya anak perempuan tersebut menghampiri saya. Rupanya ia kehabisan pulsa hand phone dan ingin membeli voucher isi ulang untuk hand phone-nya tersebut. Tetapi berhubung di netcafe saya tidak menyediakan jenis voucher yang ia minta, akhirnya ia mengurungkan niatnya dan meminta izin untuk meminjam hand phone saya. Tergerak oleh kesan saya sejak pertama kali melihat anak perempuan ini, maka dengan sukarela saya mengambil hand phone saya dan menyerahkan padanya. Ia menulis message SMS dari hand phone itu didepan saya langsung tanpa beranjak kembali ke mejanya - padahal saya tidak memintanya untuk berdiri didepan saya dan seolah-olah saya mengawasinya memakai pulsa hand phone saya. Selesai SMS yang ditulisnya terkirim, ia langsung berucap kembali, "Saya harus mengganti berapa buat SMS-nya mbak ?", sambil menyerahkan hand phone kembali ke tangan saya.
"O, ngga perlu. Saya iklas membantu kok", Sahut saya sambil tersenyum. Anak tersebut kembali ke mejanya sambil mengucapkan terima kasih kembali kepada saya. Sungguh, baru kali ini saya mendapati seorang anak perempuan yang masih SMP tetapi sudah berani menghadapi orang yang tidak dikenalnya dengan gaya sesantun itu. Saya sungguh terkesan !
Tepat jam dua siang, anak perempuan yang namanya tidak saya ketahui ini dengan tergesa-gesa menuju meja saya. Karena siang itu saya jadwal jaga netcafe, makanya komputer server dan meja operator ada dibawah kendali saya.
"Mbak maaf, saya harus les jam setengah tiga. Tapi ketikan saya belum selesai. Bisa disimpankan dulu dikomputer itu ? Nanti saya kembali lagi kesini."
Saya langsung tanggap. Saya berjalan menuju komputer yang dipakai anak perempuan ini kemudian memindahkan dokumen yang ia maksudkan ke directory komputer server saya agar tidak hilang. Setelah membayar biaya pemakaian komputer dan mengucapkan terima kasih, akhirnya anak itu keluar dari netcafe saya.
Dari tempat duduk, sayapun masih menyempatkan diri untuk memperhatikan gerak-geriknya yang menghilang dari pandangan saya dengan menggunakan sepeda mini. Melihat wajah manisnya yang imut-imut dan sepeda mininya itu, maka dengan segera nama Nonik - nona cilik - terlintas diotak saya. Akhirnya nama julukan itulah yang saya berikan kepada pelanggan kecil saya yang manis itu.
Kira-kira satu jam kemudian, bayangan si Nonik kembali melintas di netcafe saya. Masih dengan dandanan yang sama - memakai seragam coklat Pramuka dan juga tas berwarna pink yang dibawanya dikeranjang sepeda mini, ia masuk kembali ke netcafe saya. "Wow, anak ini punya jadwal disiplin yang hebat", decak saya didalam hati. Saya kemudian kembali mempersiapkan komputer buat dia beserta dokumen yang ia minta untuk disimpan sebelumnya.
Selesai melayani si Nonik, saya kembali merenung. Penasaran rasanya dengan sosok si Nonik yang manis, sopan dan juga punya karakter ini. Paling tidak keberaniannyaa untuk meminjam hand phone saya tanpa takut atau malu-malu, meminta saya menyimpan dokumennya sementara waktu selama les dan kembali satu jam kemudian tepat waktu, telah memberi sedikit gambaran tentang karakter seorang anak yang punya disiplin dan kemandirian tinggi dibenak saya. Ditambah lagi, ia datang ke netcafe saya bertepatan dengan jadwal pulang sekolah dan tetap memakai seragam yang sama sekembali dari lesnya. Jadi kesimpulan saya, sepulang sekolah ia langsung ke netcafe saya mengerjakan tugas sekolahnya kemudian berangkat les dan kembali mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
Dari hasil printing tugas sekolah yang dikerjakannya di komputer netcafe, barulah saya tahu dimana anak ini bersekolah. Kebetulan yang di-print adalah cover dari tugas kliping sekolahnya. Disitu tercantum SMP Katolik Slamet Riyadi, yang membuat saya tersadar. Ternyata anak ini adalah adik kelas saya di SMP yang sama sekitar lima belas tahun yang lalu. Dari sikap tubuh dan ciri-cirinya saya juga bisa mengira-ngira bahwa anak ini pasti beragama Kristen atau Katolik - dikalung lehernya tergantung sebuah salib kecil yang menguatkan dugaan saya bahwa dia adalah salah satu pengikut Kristus.
Si Nonik kecil ini sudah memberi saya sebuah contoh yang luar biasa tentang kehidupan ke-Kristenan yang sejati. Ia adalah gambaran seorang Kristen yang seharusnya dimiliki oleh semua pengikut Kristus. Tidak hanya mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi setiap gerak-geriknya juga menandakan bahwa ia gambaran Kristus seutuhnya. Sapaannya kepada orang yang baru dikenalnya, ucapan terima kasihnya untuk hal sekecil apapun yang telah dilakukan orang lain kepadanya, dan juga kelakuannya yang konsisten terhadap dirinya sendiri telah membuat mata saya terkesan. Perbuatannya tersebut juga memberi sebuah kesaksian bahwa Yesus ada diwajah dan disetiap gerak-geriknya tanpa ia mengatakan kepada saya bahwa ia pengikut Kristus. Saya sudah melihat Kristus dari pancaran matanya, anggukan sopannya, kalimatnya yang lembut dan juga bahasa tubuhnya.
Luar biasa bukan ?
Bagaimana dengan kita ? Sudahkan anda dan saya mengikuti jejak si Nonik dalam kehidupan kita setiap hari ? Penginjilan yang berhasil justru berawal dari sebuah teladan yang baik. Bukan seberapa banyak kita menggunakan dan mengutip ayat Alkitab untuk menyertai kita saat mengabarkan berita tentang Yesus.
Jangan menjadi seorang Kristen eksklusif. Yang hanya menunjukkan terang di tempat yang terang. Yang bergaul dan beramah tamah kepada sesama orang Kristen. Berbuat baik juga hanya kepada mereka yang berlabel anak Tuhan. Jika demikian apa gunanya ? Apa yang bisa kita beritakan kepada orang yang sudah mendengar dan mengakui bahwa Yesus Tuhan, selain menciptakan orang Kristen bertipe ’tanam dan cabut’ ? Dan bisakah kita menggarami lautan yang sejak dari awalnya sudah asin ?
Kejadian 1:3-4, Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
Terang diciptakan Allah untuk memisahkan gelap. Bukan sebagai pemisah antara terang itu sendiri.
Tunjukkan kasih kita kepada setiap orang tanpa memandang apakah orang tersebut juga pengikut Kristus. Tunjukkan kebaikan kita kepada setiap manusia dimuka bumi ini tanpa memandang bahwa mereka sepaham dan sejalan dengan kita. Karena itulah cerminan pengikut Kristus yang sejati. Dan bersiaplah untuk menuntun berpuluh-puluh orang kepada terang Kristus oleh setiap kesaksian yang kita bentuk, oleh setiap kata-kata dan tindakan yang kita lakukan bagi banyak orang didalam nama Yesus.
Jadilah seperti Nonik-Nonik yang bisa mengesankan saya dan puluhan orang-orang diluar sana hanya dengan menunjukkan sikap karakter kita Yesus sebagai sebuah kesaksian yang hidup didalam tubuh kita sendiri.
Daniel 12:3, Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.
Ia adalah seorang siswi SMP. Perawakannya kecil dengan kulit putih dan mata yang agak sipit. Rambutnya panjang sebahu kecoklatan. Pertama kali saya melihatnya masuk ke netcafe, saya sudah mulai merasakan ada sesuatu yang istimewa dari diri anak ini. Bukan hanya wajahnya yang terlihat beda dari kebanyakan pelanggan netcafe saya yang pribumi, tetapi lebih mengarah kepada polah tingkahnya. Ketika pertama kali masuk ke netcafe, sebuah kalimat sapaan, "Selamat siang mbak, saya ingin memakai internet bisa ?", meluncur dari mulutnya.
Raut mukanya yang ramah dan tidak dibuat-buat, melengkungkan sebuah senyum disudut bibir saya. Rasanya manis sekali didengar telinga ini ada seorang anak perempuan yang bisa menerapkan tata krama yang begitu santun kepada orang yang tidak dikenal sebelumnya. Setelah saya mempersilahkan dia masuk dan menyiapkan sebuah komputer untuk dipakainya, ia juga sempat mengucapkan, "Makasih mbak", sebelum saya meninggalkan mejanya.
Saya duduk terhenyak di meja kerja saya sambil berfikir. Seandainya semua pelanggan saya seperti ini, alangkah nyamannya saya melayani mereka. Memang pelanggan adalah raja dan setiap penyedia jasa harus melayani mereka dengan sebaik-baiknya. Tetapi hari itu ternyata rapor saya masih kalah ramah dan santun dibandingkan pelanggan kecil yang mengesankan ini.
Kira-kira satu jam berikutnya anak perempuan tersebut menghampiri saya. Rupanya ia kehabisan pulsa hand phone dan ingin membeli voucher isi ulang untuk hand phone-nya tersebut. Tetapi berhubung di netcafe saya tidak menyediakan jenis voucher yang ia minta, akhirnya ia mengurungkan niatnya dan meminta izin untuk meminjam hand phone saya. Tergerak oleh kesan saya sejak pertama kali melihat anak perempuan ini, maka dengan sukarela saya mengambil hand phone saya dan menyerahkan padanya. Ia menulis message SMS dari hand phone itu didepan saya langsung tanpa beranjak kembali ke mejanya - padahal saya tidak memintanya untuk berdiri didepan saya dan seolah-olah saya mengawasinya memakai pulsa hand phone saya. Selesai SMS yang ditulisnya terkirim, ia langsung berucap kembali, "Saya harus mengganti berapa buat SMS-nya mbak ?", sambil menyerahkan hand phone kembali ke tangan saya.
"O, ngga perlu. Saya iklas membantu kok", Sahut saya sambil tersenyum. Anak tersebut kembali ke mejanya sambil mengucapkan terima kasih kembali kepada saya. Sungguh, baru kali ini saya mendapati seorang anak perempuan yang masih SMP tetapi sudah berani menghadapi orang yang tidak dikenalnya dengan gaya sesantun itu. Saya sungguh terkesan !
Tepat jam dua siang, anak perempuan yang namanya tidak saya ketahui ini dengan tergesa-gesa menuju meja saya. Karena siang itu saya jadwal jaga netcafe, makanya komputer server dan meja operator ada dibawah kendali saya.
"Mbak maaf, saya harus les jam setengah tiga. Tapi ketikan saya belum selesai. Bisa disimpankan dulu dikomputer itu ? Nanti saya kembali lagi kesini."
Saya langsung tanggap. Saya berjalan menuju komputer yang dipakai anak perempuan ini kemudian memindahkan dokumen yang ia maksudkan ke directory komputer server saya agar tidak hilang. Setelah membayar biaya pemakaian komputer dan mengucapkan terima kasih, akhirnya anak itu keluar dari netcafe saya.
Dari tempat duduk, sayapun masih menyempatkan diri untuk memperhatikan gerak-geriknya yang menghilang dari pandangan saya dengan menggunakan sepeda mini. Melihat wajah manisnya yang imut-imut dan sepeda mininya itu, maka dengan segera nama Nonik - nona cilik - terlintas diotak saya. Akhirnya nama julukan itulah yang saya berikan kepada pelanggan kecil saya yang manis itu.
Kira-kira satu jam kemudian, bayangan si Nonik kembali melintas di netcafe saya. Masih dengan dandanan yang sama - memakai seragam coklat Pramuka dan juga tas berwarna pink yang dibawanya dikeranjang sepeda mini, ia masuk kembali ke netcafe saya. "Wow, anak ini punya jadwal disiplin yang hebat", decak saya didalam hati. Saya kemudian kembali mempersiapkan komputer buat dia beserta dokumen yang ia minta untuk disimpan sebelumnya.
Selesai melayani si Nonik, saya kembali merenung. Penasaran rasanya dengan sosok si Nonik yang manis, sopan dan juga punya karakter ini. Paling tidak keberaniannyaa untuk meminjam hand phone saya tanpa takut atau malu-malu, meminta saya menyimpan dokumennya sementara waktu selama les dan kembali satu jam kemudian tepat waktu, telah memberi sedikit gambaran tentang karakter seorang anak yang punya disiplin dan kemandirian tinggi dibenak saya. Ditambah lagi, ia datang ke netcafe saya bertepatan dengan jadwal pulang sekolah dan tetap memakai seragam yang sama sekembali dari lesnya. Jadi kesimpulan saya, sepulang sekolah ia langsung ke netcafe saya mengerjakan tugas sekolahnya kemudian berangkat les dan kembali mengerjakan tugasnya yang belum selesai.
Dari hasil printing tugas sekolah yang dikerjakannya di komputer netcafe, barulah saya tahu dimana anak ini bersekolah. Kebetulan yang di-print adalah cover dari tugas kliping sekolahnya. Disitu tercantum SMP Katolik Slamet Riyadi, yang membuat saya tersadar. Ternyata anak ini adalah adik kelas saya di SMP yang sama sekitar lima belas tahun yang lalu. Dari sikap tubuh dan ciri-cirinya saya juga bisa mengira-ngira bahwa anak ini pasti beragama Kristen atau Katolik - dikalung lehernya tergantung sebuah salib kecil yang menguatkan dugaan saya bahwa dia adalah salah satu pengikut Kristus.
Si Nonik kecil ini sudah memberi saya sebuah contoh yang luar biasa tentang kehidupan ke-Kristenan yang sejati. Ia adalah gambaran seorang Kristen yang seharusnya dimiliki oleh semua pengikut Kristus. Tidak hanya mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi setiap gerak-geriknya juga menandakan bahwa ia gambaran Kristus seutuhnya. Sapaannya kepada orang yang baru dikenalnya, ucapan terima kasihnya untuk hal sekecil apapun yang telah dilakukan orang lain kepadanya, dan juga kelakuannya yang konsisten terhadap dirinya sendiri telah membuat mata saya terkesan. Perbuatannya tersebut juga memberi sebuah kesaksian bahwa Yesus ada diwajah dan disetiap gerak-geriknya tanpa ia mengatakan kepada saya bahwa ia pengikut Kristus. Saya sudah melihat Kristus dari pancaran matanya, anggukan sopannya, kalimatnya yang lembut dan juga bahasa tubuhnya.
Luar biasa bukan ?
Bagaimana dengan kita ? Sudahkan anda dan saya mengikuti jejak si Nonik dalam kehidupan kita setiap hari ? Penginjilan yang berhasil justru berawal dari sebuah teladan yang baik. Bukan seberapa banyak kita menggunakan dan mengutip ayat Alkitab untuk menyertai kita saat mengabarkan berita tentang Yesus.
Jangan menjadi seorang Kristen eksklusif. Yang hanya menunjukkan terang di tempat yang terang. Yang bergaul dan beramah tamah kepada sesama orang Kristen. Berbuat baik juga hanya kepada mereka yang berlabel anak Tuhan. Jika demikian apa gunanya ? Apa yang bisa kita beritakan kepada orang yang sudah mendengar dan mengakui bahwa Yesus Tuhan, selain menciptakan orang Kristen bertipe ’tanam dan cabut’ ? Dan bisakah kita menggarami lautan yang sejak dari awalnya sudah asin ?
Kejadian 1:3-4, Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.
Terang diciptakan Allah untuk memisahkan gelap. Bukan sebagai pemisah antara terang itu sendiri.
Tunjukkan kasih kita kepada setiap orang tanpa memandang apakah orang tersebut juga pengikut Kristus. Tunjukkan kebaikan kita kepada setiap manusia dimuka bumi ini tanpa memandang bahwa mereka sepaham dan sejalan dengan kita. Karena itulah cerminan pengikut Kristus yang sejati. Dan bersiaplah untuk menuntun berpuluh-puluh orang kepada terang Kristus oleh setiap kesaksian yang kita bentuk, oleh setiap kata-kata dan tindakan yang kita lakukan bagi banyak orang didalam nama Yesus.
Jadilah seperti Nonik-Nonik yang bisa mengesankan saya dan puluhan orang-orang diluar sana hanya dengan menunjukkan sikap karakter kita Yesus sebagai sebuah kesaksian yang hidup didalam tubuh kita sendiri.
Daniel 12:3, Dan orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.
Being Beauty, Loveable, and Precious
Oleh : Angelina Kusuma
Tanggal 14 Februari yang diagung-agungkan dunia sebagai hari kasih sayang atau lebih keren disebut valentine day, tahun ini menyisakan sebuah cerita tersendiri bagi saya. Bukannya sebuah cerita karena saya juga larut dalam kehebohan orang-orang yang turut merayakan hari 'special' ini - sejak dulu saya tidak pernah ikut arus dunia merayakan hari valentine karena menurut saya hari valentine memang tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia, valentine day hanya adopsi dari kebudayaan barat, dan yang lebih menguatkan lagi, sekarang saya sudah menemukan bukti-bukti konkret bahwa valentine day tidaklah Alkitabiah.
Diseputar valentine day tahun ini, ada goresan prihatin saya yang tertera disana. Sebuah hari yang bahkan anak-anak SMP pun sudah ingin beramai-ramai merayakannya, yang dikatakan hari untuk mengungkapkan kasih sayang ke semua orang tanpa terkecuali, hari yang penuh kedamaaian dengan cinta, ... namun sekaligus sebagai hari 'depresi' bagi kebanyakan manusia juga. Depresi ? Ya, itulah kenyataan yang sering saya temukan.
Saya menghabiskan malam valentine day kemarin bersama segelas teh hangat, sepiring makan malam dengan sayur lodeh yang nyummy buatan Mami saya, dan alunan lembut Padi dengan Harmony-nya dari speaker komputer saya di netcafe - saya terbiasa makan malam sambil browsing di internet dan mendengarkan musik. Udara malam itu terasa sedikit dingin menusuk kulit, karena sejak pukul enam sore hujan sudah turun mengguyur kota saya. Dari tempat duduk saya yang persis didepan komputer server LAN netcafe, samar-samar saya bisa mendengarkan pembicaraan dua orang user yang menggunakan rent computer tak jauh dari tempat saya duduk sambil menikmati makan malam dan acara browsing. Salah seorang dari dua anak remaja usia SMP itu mengeluh, "Nggak enak ni valentine day sepi-sepi aja nggak ada acara. Enak yo yang punya pacar bisa kelaur berdua ..."
Spontan saya tersenyum geli sambil buru-buru menyembunyikan raut muka saya dibalik monitor komputer ketika mendengar pernyataan polos dari seorang anak remaja SMP itu. Rupanya wabah demam valentine day nan romantis sudah melekat dibenak mereka dan menebarkan penyakit 'depresi' karena mereka termasuk bagian dari anak-anak perempuan yang tidak mempunyai pacar - tidak dilirik kaum Adam - saat malam valentine day tiba.
Seminggu setelah berlalunya malam valentine day saya yang mengundang decak pribatin dengan pernyataan polos dua orang anak remaja usia SMP yang kesepian melewati malam valentine day mereka tanpa hadirnya pacar, kembali saya dibuat geleng-geleng kepala oleh ulah anak-anak remaja dari youth gereja yang meminta dibuatkan acara khusus valentine day.
Ketika saya diminta pihak gereja untuk membuat publikasi valentine day youth, akhirnya saya berkesempatan juga share seputar valentine day dengan seorang anak remaja SMU yang mengantarkan konsep undangan valentine day dari gereja ke meja kerja saya. Saya bertanya kepadanya kenapa anak-anak youth begitu antusias dengan perayaan valentine day, padahal ia dan yang lainnya sudah tahu kebenaran Tuhan bahwa valentine day tidak ada didalam Bible.
Pada mulanya anak gadis remaja tersebut memberikan jawaban klise yang sudah biasa saya dengar seperti, "Lha, semua temen-temen sekolahku ikut ngrayain valentine day lho kak." Tetapi setelah saya ajak sedikit bercanda sambil menggali ide bersama-sama untuk publikasi valentine day youth gereja, akhirnya keluar juga alasan sebenarnya kenapa ia dan anak-anak youth lainnya begitu getol minta ada perayaan valentine day khusus dari gereja.
"Kak, sebenere aku malu kalo pas malam valentine day tiba trus aku tetep aja dirumah tanpa ikut ngrayain rame-rame sama temen-temen sekolah. Tapi aku juga ga mau ikut sama mereka soalnya pada bawa pasangan masing-masing gitu deh. Padahal kan kakak tau kalo aku masih belum punya pacar."
OMG ... saya menghela nafas panjang mendengar pengakuan dari anak gadis remaja ini. Baik yang sudah mengenal Kristus maupun yang belum, ternyata problem demam merayakan valentine day hanya terletak pada ketakutan karena kesepian, takut dipandang kurang pergaulan, takut dipandang tidak laku dimata kaum Adam - bagi perempuan, dan alasan-alasan yang pastinya juga akan membuat Tuhan Yesus kita bersedih - jika sudah seperti ini pantaskah valentine day disebut sebagai hari kasih sayang dunia atau lebih pantas jika disebut sebagai hari 'depresi' bagi umat manusia yang merasa mempunyai kekurangan fisik dan penampilan ?
Kemudian anak remaja ini mulai sharing lebih lanjut kepada saya mengenai dirinya, penampilannya, dan tentang status kesendiriannya. Anak ini bukanlah anak yang kurang cantik dalam pandangan saya. Meskipun penampilannya agak tomboy, tetapi secara keseluruhan ia adalah seorang gadis yang menyenangkan. Yang dijadikannya 'kambing hitam' dari status kesendiriannya sampai saat ini adalah perasaannya mengenai dirinya yang selalu terlihat ugly dalam setiap kesempatan.
Apa benar penampilan buruk dan tidak disukai semua orang adalah takdir ?
Sampai sekarangpun, saya masih menyimpan kenangan saat saya melalui jalan-jalan kehidupan saya dengan perasaan bahwa saya diciptakan sebagai wanita berwajah ugly. Saya bisa merasakan kepedihan anak remaja youth gereja saya yang sedang dilanda demam valentine day dan 'depresi' akibat status kesendiriannya itu. Saat saya dalam posisi dia, saya juga merasa bahwa mungkin sudah menjadi takdir saya menjadi seorang wanita tomboy yang tidak pernah disukai oleh kaum Adam satupun dan merasa bahwa saya tidak mempunyai kelebihan apapun untuk menutupi sisi buruk saya.
Penampilan buruk dan tidak disukai semua orang adalah takdir, itu adalah anggapan saya sebelum mengerti arti kecantikan seorang wanita dan arti loveable yang sesungguhnya dalam hidup saya.
Beauty adalah mutlak milik wanita dan tidak akan pernah ada yang bisa merampasnya dari sosoknya. Penerimaan terhadap diri sendiri akan memperbaiki citra diri dan merubah pandangan ugly yang ada dalam pikiran kita menjadi beauty and more precious. Jadi sebenarnya tidak ada alat kecantikan apapun didunia ini yang bisa merubah atau membuat wanita menjadi cantik dan menarik seutuhnya.
Loveable
Dikasihi atau tidak, sebenarnya juga tergantung dari diri kita sendiri. Bisakah kita menerima diri kita apa adanya dahulu sebelum kita menuntut orang lain mengasihi kita ? Maukah kita mengasihi orang lain terlebih dahulu sebelum kita mencari kasih disekeliling kita ? Tidak ada seorangpun yang bisa memuaskan kita akan kasih selain kasih yang dari Kristus. Dan kasih Kristus hanya akan ada saat kita mulai memberi kepada orang lain, mengasihi mereka dengan tulus, bukan menerima dan menuntut orang lain untuk mengasihi kita.
Belum memiliki calon atau pasangan hidup bukanlah sebuah dosa. Tidak pernah dilirik lawan jenis dengan cara yang istimewa dan berlebihan bukanlah sebuah kutukan. Kasih yang sejati tidak pernah dengan gampang diraih. Dan hanya orang-orang yang bukan gampangan juga yang akan memperoleh hadiah terbesar tersebut. Karena ditangan orang-orang yang bukan gampangan itulah, rasa menghargai sesuatu akan membuat hal yang biasa menjadi special.
Kita berharga bagi Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Memandang kelebihan-kelebihan orang lain hanyalah tindakan orang bodoh. Kita dan orang-orang disekeliling kita diciptakan dengan tujuan yang unik satu sama lain. Jadi tidak akan pernah ada manusia didunia ini yang mempunyai jalan hidup sama persis. Semua orang pasti mempunyai cerita masing-masing. Ada orang yang menemukan pasangan hidupnya saat masih duduk dibangku sekolah, ada orang yang menemukan belahan jiwanya saat berlari mengejar kereta api, ada orang yang jatuh cinta dan dicintai hanya melalui perkenalan dunia maya pada awalnya, ada orang yang bisa menikah saat berumur 23 tahun, ada orang yang masih tetap melajang sampai berumur 30 tahun lebih, ada orang-orang yang harus diremukkan dahulu sebelum akhirnya menemukan kasih sejatinya, dan juga cerita-cerita hidup yang lainnya.
Hidup kita khusus dirancang oleh Tuhan untuk kita jalani sendiri, bukan untuk dijadikan sama dengan jalan hidup orang lain. Keirian hati karena orang lain bisa lebih dahulu mencapai apa yang kita inginkan, sama saja tindakan menghancurkan rancangan terindah-Nya dalam jejak-jejak hidup kita. So, why do you not try to be yourself ?
Being beauty, loveable, and precious bisa kita ciptakan sendiri ketika kita tahu untuk apa kita hidup didunia ini. Ketiganya bersumber dari diri kita dan pengertian kita akan Tuhan. Bukan sesuatu yang harus kita cari-cari, karena memang ketiga hal tersebut tidak pernah lari atau hilang dari hidup kita masing-masing.
Tanggal 14 Februari yang diagung-agungkan dunia sebagai hari kasih sayang atau lebih keren disebut valentine day, tahun ini menyisakan sebuah cerita tersendiri bagi saya. Bukannya sebuah cerita karena saya juga larut dalam kehebohan orang-orang yang turut merayakan hari 'special' ini - sejak dulu saya tidak pernah ikut arus dunia merayakan hari valentine karena menurut saya hari valentine memang tidak sesuai dengan adat ketimuran Indonesia, valentine day hanya adopsi dari kebudayaan barat, dan yang lebih menguatkan lagi, sekarang saya sudah menemukan bukti-bukti konkret bahwa valentine day tidaklah Alkitabiah.
Diseputar valentine day tahun ini, ada goresan prihatin saya yang tertera disana. Sebuah hari yang bahkan anak-anak SMP pun sudah ingin beramai-ramai merayakannya, yang dikatakan hari untuk mengungkapkan kasih sayang ke semua orang tanpa terkecuali, hari yang penuh kedamaaian dengan cinta, ... namun sekaligus sebagai hari 'depresi' bagi kebanyakan manusia juga. Depresi ? Ya, itulah kenyataan yang sering saya temukan.
Saya menghabiskan malam valentine day kemarin bersama segelas teh hangat, sepiring makan malam dengan sayur lodeh yang nyummy buatan Mami saya, dan alunan lembut Padi dengan Harmony-nya dari speaker komputer saya di netcafe - saya terbiasa makan malam sambil browsing di internet dan mendengarkan musik. Udara malam itu terasa sedikit dingin menusuk kulit, karena sejak pukul enam sore hujan sudah turun mengguyur kota saya. Dari tempat duduk saya yang persis didepan komputer server LAN netcafe, samar-samar saya bisa mendengarkan pembicaraan dua orang user yang menggunakan rent computer tak jauh dari tempat saya duduk sambil menikmati makan malam dan acara browsing. Salah seorang dari dua anak remaja usia SMP itu mengeluh, "Nggak enak ni valentine day sepi-sepi aja nggak ada acara. Enak yo yang punya pacar bisa kelaur berdua ..."
Spontan saya tersenyum geli sambil buru-buru menyembunyikan raut muka saya dibalik monitor komputer ketika mendengar pernyataan polos dari seorang anak remaja SMP itu. Rupanya wabah demam valentine day nan romantis sudah melekat dibenak mereka dan menebarkan penyakit 'depresi' karena mereka termasuk bagian dari anak-anak perempuan yang tidak mempunyai pacar - tidak dilirik kaum Adam - saat malam valentine day tiba.
Seminggu setelah berlalunya malam valentine day saya yang mengundang decak pribatin dengan pernyataan polos dua orang anak remaja usia SMP yang kesepian melewati malam valentine day mereka tanpa hadirnya pacar, kembali saya dibuat geleng-geleng kepala oleh ulah anak-anak remaja dari youth gereja yang meminta dibuatkan acara khusus valentine day.
Ketika saya diminta pihak gereja untuk membuat publikasi valentine day youth, akhirnya saya berkesempatan juga share seputar valentine day dengan seorang anak remaja SMU yang mengantarkan konsep undangan valentine day dari gereja ke meja kerja saya. Saya bertanya kepadanya kenapa anak-anak youth begitu antusias dengan perayaan valentine day, padahal ia dan yang lainnya sudah tahu kebenaran Tuhan bahwa valentine day tidak ada didalam Bible.
Pada mulanya anak gadis remaja tersebut memberikan jawaban klise yang sudah biasa saya dengar seperti, "Lha, semua temen-temen sekolahku ikut ngrayain valentine day lho kak." Tetapi setelah saya ajak sedikit bercanda sambil menggali ide bersama-sama untuk publikasi valentine day youth gereja, akhirnya keluar juga alasan sebenarnya kenapa ia dan anak-anak youth lainnya begitu getol minta ada perayaan valentine day khusus dari gereja.
"Kak, sebenere aku malu kalo pas malam valentine day tiba trus aku tetep aja dirumah tanpa ikut ngrayain rame-rame sama temen-temen sekolah. Tapi aku juga ga mau ikut sama mereka soalnya pada bawa pasangan masing-masing gitu deh. Padahal kan kakak tau kalo aku masih belum punya pacar."
OMG ... saya menghela nafas panjang mendengar pengakuan dari anak gadis remaja ini. Baik yang sudah mengenal Kristus maupun yang belum, ternyata problem demam merayakan valentine day hanya terletak pada ketakutan karena kesepian, takut dipandang kurang pergaulan, takut dipandang tidak laku dimata kaum Adam - bagi perempuan, dan alasan-alasan yang pastinya juga akan membuat Tuhan Yesus kita bersedih - jika sudah seperti ini pantaskah valentine day disebut sebagai hari kasih sayang dunia atau lebih pantas jika disebut sebagai hari 'depresi' bagi umat manusia yang merasa mempunyai kekurangan fisik dan penampilan ?
Kemudian anak remaja ini mulai sharing lebih lanjut kepada saya mengenai dirinya, penampilannya, dan tentang status kesendiriannya. Anak ini bukanlah anak yang kurang cantik dalam pandangan saya. Meskipun penampilannya agak tomboy, tetapi secara keseluruhan ia adalah seorang gadis yang menyenangkan. Yang dijadikannya 'kambing hitam' dari status kesendiriannya sampai saat ini adalah perasaannya mengenai dirinya yang selalu terlihat ugly dalam setiap kesempatan.
Apa benar penampilan buruk dan tidak disukai semua orang adalah takdir ?
Sampai sekarangpun, saya masih menyimpan kenangan saat saya melalui jalan-jalan kehidupan saya dengan perasaan bahwa saya diciptakan sebagai wanita berwajah ugly. Saya bisa merasakan kepedihan anak remaja youth gereja saya yang sedang dilanda demam valentine day dan 'depresi' akibat status kesendiriannya itu. Saat saya dalam posisi dia, saya juga merasa bahwa mungkin sudah menjadi takdir saya menjadi seorang wanita tomboy yang tidak pernah disukai oleh kaum Adam satupun dan merasa bahwa saya tidak mempunyai kelebihan apapun untuk menutupi sisi buruk saya.
Penampilan buruk dan tidak disukai semua orang adalah takdir, itu adalah anggapan saya sebelum mengerti arti kecantikan seorang wanita dan arti loveable yang sesungguhnya dalam hidup saya.
Beauty adalah mutlak milik wanita dan tidak akan pernah ada yang bisa merampasnya dari sosoknya. Penerimaan terhadap diri sendiri akan memperbaiki citra diri dan merubah pandangan ugly yang ada dalam pikiran kita menjadi beauty and more precious. Jadi sebenarnya tidak ada alat kecantikan apapun didunia ini yang bisa merubah atau membuat wanita menjadi cantik dan menarik seutuhnya.
Loveable
Dikasihi atau tidak, sebenarnya juga tergantung dari diri kita sendiri. Bisakah kita menerima diri kita apa adanya dahulu sebelum kita menuntut orang lain mengasihi kita ? Maukah kita mengasihi orang lain terlebih dahulu sebelum kita mencari kasih disekeliling kita ? Tidak ada seorangpun yang bisa memuaskan kita akan kasih selain kasih yang dari Kristus. Dan kasih Kristus hanya akan ada saat kita mulai memberi kepada orang lain, mengasihi mereka dengan tulus, bukan menerima dan menuntut orang lain untuk mengasihi kita.
Belum memiliki calon atau pasangan hidup bukanlah sebuah dosa. Tidak pernah dilirik lawan jenis dengan cara yang istimewa dan berlebihan bukanlah sebuah kutukan. Kasih yang sejati tidak pernah dengan gampang diraih. Dan hanya orang-orang yang bukan gampangan juga yang akan memperoleh hadiah terbesar tersebut. Karena ditangan orang-orang yang bukan gampangan itulah, rasa menghargai sesuatu akan membuat hal yang biasa menjadi special.
Kita berharga bagi Tuhan dengan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. Memandang kelebihan-kelebihan orang lain hanyalah tindakan orang bodoh. Kita dan orang-orang disekeliling kita diciptakan dengan tujuan yang unik satu sama lain. Jadi tidak akan pernah ada manusia didunia ini yang mempunyai jalan hidup sama persis. Semua orang pasti mempunyai cerita masing-masing. Ada orang yang menemukan pasangan hidupnya saat masih duduk dibangku sekolah, ada orang yang menemukan belahan jiwanya saat berlari mengejar kereta api, ada orang yang jatuh cinta dan dicintai hanya melalui perkenalan dunia maya pada awalnya, ada orang yang bisa menikah saat berumur 23 tahun, ada orang yang masih tetap melajang sampai berumur 30 tahun lebih, ada orang-orang yang harus diremukkan dahulu sebelum akhirnya menemukan kasih sejatinya, dan juga cerita-cerita hidup yang lainnya.
Hidup kita khusus dirancang oleh Tuhan untuk kita jalani sendiri, bukan untuk dijadikan sama dengan jalan hidup orang lain. Keirian hati karena orang lain bisa lebih dahulu mencapai apa yang kita inginkan, sama saja tindakan menghancurkan rancangan terindah-Nya dalam jejak-jejak hidup kita. So, why do you not try to be yourself ?
Being beauty, loveable, and precious bisa kita ciptakan sendiri ketika kita tahu untuk apa kita hidup didunia ini. Ketiganya bersumber dari diri kita dan pengertian kita akan Tuhan. Bukan sesuatu yang harus kita cari-cari, karena memang ketiga hal tersebut tidak pernah lari atau hilang dari hidup kita masing-masing.
Be 100 %, Biar Ga Kecolongan ...
Oleh : Angelina Kusuma
Minggu sore menjelang pukul lima, seperti biasa saya bersiap-siap pergi ke gereja untuk mengikut Ibadah Raya. Saya mengenakan baju serapi mungkin, menyisir rambut dikepang satu ke belakang, memakai parfum pewangi, mengambil tas, mengambil Alkitab, kemudian brum, dengan mengendarai sebuah sepeda motor saya akhirnya pergi ke gereja. Waktu dalam perjalanan, sebenarnya saya merasa ada sesuatu yang terlewat saya kerjakan tadi.
Saya berpikir dan terus mengingat-ingat, "Apa ya kira-kira yang terlupakan ?" Uang persembahan sudah, Alkitab sudah, kunci rumah sudah. "Apakah saya lupa berdoa sebelum pergi dari rumah ?" Tetapi seingat saya juga sudah berdoa. Lalu, apakah bagian yang terlupa dikerjakan itu ?
Masih dengan sedikit gamang, akhirnya saya menepi juga ke lapangan parkir gereja. Selesai mengunci sepeda motor, saya kemudian berjalan menuju pintu gerbang gereja. Didepan pintu gerbang gereja, tiba-tiba kepala saya menunduk. Melihat ke bawah. Ops, saya terkejut ketika menyadari bahwa 'F4 ijo' saya nangkring ditelapak kaki. Pantas, dari tadi saya merasa ada sesuatu yang terlewat saya kerjakan sebelumnya. Ternyata, sore ini saya pergi ke gereja dengan mengenakan 'F4 ijo'. Alias sandal jepit saya, warna hijau yang ada gambarnya F4 pemain sinema Asia Meteor Garden.
Dengan reflek saya membalikan badan saya ingin pulang kembali ke rumah. Tetapi kelakuan saya itu ketahuan oleh para penerima tamu wanita yang ada dipintu gereja. Kontan saja para penerima tamu gereja tersebut tertawa begitu melihat penampakan aneh saya sore itu. Baju atasan hitam, celana panjang hitam, tetapi telapak kaki berhiaskan sandal jepit dengan warna hijau yang begitu mencolok dibandingkan warna-warna sebelumnya.
"Udah masuk aja, Ngel. Nggak ada yang bakalan lihat kok. Lagian kan emang nggak sengaja." Hibur Ci Novi yang akhirnya membuat saya masuk ke gereja juga. Untung ibadahnya belum dimulai. Jadi yang hadir di gereja saat itu baru para pelayan ibadah sore yang sedang khusyuk mengikuti doa pelayan mimbar.
Dengan sok cuek saya masuk ke gereja sambil berfikir. Kenapa tadi saya tidak peka sama sekali dengan bisikan-bisikan yang bersliweran ditelinga saya bahwa ada sesuatu yang lupa saya kerjakan ?. Saya mengambil tempat dideretan kursi nomor empat, paling pojok sebelah kiri dekat tembok - padahal biasanya saya selalu duduk dikursi jemaat barisan depan.
Selesai doa penutup pelayan mimbar diucapkan, para pelayan ibadah kemudian bersiap-siap mengambil posisi masing-masing. Pemain musik, pemimpim pujian, penyanyi latar, bersiap dimimbar dan juga pengatur sound system dibagian belakang deretan kursi jemaat. Tanpa saya duga, tiba-tiba Ibu Gembala melihat ke arah saya duduk.
“Gawat nie”, pikir saya. Jika Ibu Gembala tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada saya seperti itu, biasanya ada sesuatu yang harus saya kerjakan selama ibadah berlangsung. Jika tidak disuruh mengedarkan kantung kolekte, biasanya disuruh mengoperasikan komputer gereja untuk memutar slide presentasi lagu ke LCD proyektor.
Nah, benar saja. Beliau memberi tanda agar saya maju ke tempat komputer gereja berada dengan jari telunjuknya. Berhubung komputer itu letaknya persis didepan bangku jemaat, otomatis akan terlihat semua apa saja yang dikerjakan oleh seorang operator komputer tersebut. Bayangkan jika jemaat gereja tahu ada pelayan ibadah sore yang memakai sandal jepit ?
Di gereja saya yang ini lumayan tertib aturannya. Semua pelayan gereja selalu diwajibkan memakai baju yang sopan - tertutup dan tidak mengundang hal yang macam-macam bagi yang melihatnya, ditambah harus memakai dasi bagi kaum pria dan sepatu. Bagaimana jika saya maju ke depan bangku jemaat dengan memakai sandal jepit ? Meskipun pelayanan didepan komputer gereja adalah sebuah pelayanan yang tidak sevital pemimpin pujian, penyanyi latar, atau pengkotbah – tanggung jawabnya, tetapi tetap saja seorang pemegang komputer dan LCD proyektor juga harus memperhatikan aturan itu - ini adalah salah satu peraturan pelayan mimbar yang baku di gereja saya. Aturan ini hanya berubah sedikit di Ibadah Kaum Muda-nya. Di Ibadah Kaum Muda, semua pelayan ibadah diperbolehkan memakai kaos oblong khas remaja dan pemuda. Tujuannya agar mereka bisa dekat dengan komunitas yang dilayani. Tetapi di Ibadah Raya aturan ini sama sekali tidak boleh dilanggar dengan toleransi seperti apa pun juga.
Akhirnya saya memberi tanda 'tidak mau' kepada Ibu Gembala dengan silangan tangan-tangan saya didepan dada dari tempat duduk sebagai jawaban atas permintaan Beliau sebelumnya. Beruntung Ci Novi sudah mengetahui keadaan saya yang hanya memakai sandal jepit sore itu. Begitu dilihatnya Ibu Gembala hendak menyuruh saya maju ke depan meja komputer gereja, ia langsung menghampiri Ibu Gembala kemudian berbisik ditelinga Beliau. Hasilnya, Ibu Gembala melihat kembali ke arah saya kemudian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Diawal-awal ibadah berlangsung, saya sulit berkonsentrasi. Pikiran saya antara geli bercampur dengan jengkel. Saya teringat dengan kisah lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana didalam Alkitab menjelang perjamuan kawin - Matius 25:1-13. Sore itu rasanya saya termasuk dalam kategori salah satu dari lima gadis bodoh yang lupa membawa minyak persediaan untuk pelitanya sehingga membuat mereka ditolak masuk ke perjamuan kawin.
Hanya gara-gara sandal jepit - 'F4 ijo' - saya batal menjadi salah satu pelayan di Ibadah Raya gereja. Masih ditambah rasa malu lagi.
Matius 25:12-13, Tetapi Ia menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Jelas sekali Yesus berkata bahwa kita harus berjaga-jaga ! Tidak ada seorangpun didunia ini yang tahu kapan waktunya Kerajaan Sorga akan tiba. Karena itulah kita semua harus berjaga-jaga, siap sedia setiap saat.
”Be 100 %, biar ga kecolongan”. Intinya kita tidak boleh kehilangan fokus kita kepada Dia sedikitpun, kapanpun dan dimanapun. Kita harus benar-benar siap sedia 100 %. Tidak boleh 99,9 %, apalagi dibawah itu.
Memang, begitu banyak persoalan. Banyak masalah yang harus dihadapi oleh manusia didunia saat ini. Bencana di Indonesia sekarang sambung menyambung tidak ada habis-habisnya. Jika kita tidak kuat iman, Iblis selalu mengangakan mulutnya untuk membuat kita jatuh ke lubang dosa.
I Petrus 5:8, Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Untuk menjadi 100 % terkadang kita harus melatih diri terlebih dahulu melalui hal-hal yang sepele. Dalam hal terkecil sekalipun, Roh Kudus yang berdiam dalam hati kita tidak bisu. Ia selalu memberikan kita suatu sinyal ketika kita melakukan tindakan yang kurang tepat.
Contohnya seperti saya. Sandal jepit adalah perkara kecil. Tetapi seingat saya dengan sadar, mulai dari saat kaki saya melangkah keluar pintu rumah sampai didepan pintu gerbang gereja, hati saya selalu gelisah. Pastinya saat itu Roh Kudus sedang mengingatkan kepada saya, jika saya tidak sedang memakai sepatu dan nantinya digereja saya akan ditunjuk untuk mengoperasikan LCD proyektor dan komputer gereja. Sayangnya, saya tidak peka-peka juga dari awal sampai akhir.
Jika kita tidak peka terus-menerus terhadap peringatan-Nya, apakah Roh Kudus akan diam dan membiarkan kita begitu saja ? Tidak sama sekali !
Kepala saya tiba-tiba menunduk tepat didepan gerbang gereja, baru setelah itu saya menyadari bahwa saat itu saya sedang memakai 'F4 ijo'.
Saya membayangkannya seperti ini : sepanjang perjalanan selama lima belas menit diatas sepeda motor sebelumnya, Roh Kudus pasti jengkel karena saya tidak mengindahkan peringatan-Nya dan tidak sadar-sadar juga jika saat itu saya pergi ke gereja hanya memakai sandal jepit. Makanya sebelum saya benar-benar masuk ke gereja, Ia menundukkan kepala saya tepat didepan pintu gerbang gereja agar saya bisa melihat fokus yang ingin Ia ingatkan dari tadi dengan jelas.
Itulah Roh Kudus kita. Ia tidak hanya mengingatkan hal-hal yang besar kepada kita tetapi juga mengingatkan hal yang sekecil-kecilnya. Kerajaan Surga berbicara mengenai hal yang kudus dan tidak bercela sedikitpun. Yang membuat kita sadar atau tidak dengan tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita hanya terletak pada mau atau tidaknya kita mengasah kepekaan hati kita untuk menikmati keberadaan-Nya dan mendengarkan suara-Nya saat menuntun kita.
Yohanes 16:13-15, Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
Minggu sore menjelang pukul lima, seperti biasa saya bersiap-siap pergi ke gereja untuk mengikut Ibadah Raya. Saya mengenakan baju serapi mungkin, menyisir rambut dikepang satu ke belakang, memakai parfum pewangi, mengambil tas, mengambil Alkitab, kemudian brum, dengan mengendarai sebuah sepeda motor saya akhirnya pergi ke gereja. Waktu dalam perjalanan, sebenarnya saya merasa ada sesuatu yang terlewat saya kerjakan tadi.
Saya berpikir dan terus mengingat-ingat, "Apa ya kira-kira yang terlupakan ?" Uang persembahan sudah, Alkitab sudah, kunci rumah sudah. "Apakah saya lupa berdoa sebelum pergi dari rumah ?" Tetapi seingat saya juga sudah berdoa. Lalu, apakah bagian yang terlupa dikerjakan itu ?
Masih dengan sedikit gamang, akhirnya saya menepi juga ke lapangan parkir gereja. Selesai mengunci sepeda motor, saya kemudian berjalan menuju pintu gerbang gereja. Didepan pintu gerbang gereja, tiba-tiba kepala saya menunduk. Melihat ke bawah. Ops, saya terkejut ketika menyadari bahwa 'F4 ijo' saya nangkring ditelapak kaki. Pantas, dari tadi saya merasa ada sesuatu yang terlewat saya kerjakan sebelumnya. Ternyata, sore ini saya pergi ke gereja dengan mengenakan 'F4 ijo'. Alias sandal jepit saya, warna hijau yang ada gambarnya F4 pemain sinema Asia Meteor Garden.
Dengan reflek saya membalikan badan saya ingin pulang kembali ke rumah. Tetapi kelakuan saya itu ketahuan oleh para penerima tamu wanita yang ada dipintu gereja. Kontan saja para penerima tamu gereja tersebut tertawa begitu melihat penampakan aneh saya sore itu. Baju atasan hitam, celana panjang hitam, tetapi telapak kaki berhiaskan sandal jepit dengan warna hijau yang begitu mencolok dibandingkan warna-warna sebelumnya.
"Udah masuk aja, Ngel. Nggak ada yang bakalan lihat kok. Lagian kan emang nggak sengaja." Hibur Ci Novi yang akhirnya membuat saya masuk ke gereja juga. Untung ibadahnya belum dimulai. Jadi yang hadir di gereja saat itu baru para pelayan ibadah sore yang sedang khusyuk mengikuti doa pelayan mimbar.
Dengan sok cuek saya masuk ke gereja sambil berfikir. Kenapa tadi saya tidak peka sama sekali dengan bisikan-bisikan yang bersliweran ditelinga saya bahwa ada sesuatu yang lupa saya kerjakan ?. Saya mengambil tempat dideretan kursi nomor empat, paling pojok sebelah kiri dekat tembok - padahal biasanya saya selalu duduk dikursi jemaat barisan depan.
Selesai doa penutup pelayan mimbar diucapkan, para pelayan ibadah kemudian bersiap-siap mengambil posisi masing-masing. Pemain musik, pemimpim pujian, penyanyi latar, bersiap dimimbar dan juga pengatur sound system dibagian belakang deretan kursi jemaat. Tanpa saya duga, tiba-tiba Ibu Gembala melihat ke arah saya duduk.
“Gawat nie”, pikir saya. Jika Ibu Gembala tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada saya seperti itu, biasanya ada sesuatu yang harus saya kerjakan selama ibadah berlangsung. Jika tidak disuruh mengedarkan kantung kolekte, biasanya disuruh mengoperasikan komputer gereja untuk memutar slide presentasi lagu ke LCD proyektor.
Nah, benar saja. Beliau memberi tanda agar saya maju ke tempat komputer gereja berada dengan jari telunjuknya. Berhubung komputer itu letaknya persis didepan bangku jemaat, otomatis akan terlihat semua apa saja yang dikerjakan oleh seorang operator komputer tersebut. Bayangkan jika jemaat gereja tahu ada pelayan ibadah sore yang memakai sandal jepit ?
Di gereja saya yang ini lumayan tertib aturannya. Semua pelayan gereja selalu diwajibkan memakai baju yang sopan - tertutup dan tidak mengundang hal yang macam-macam bagi yang melihatnya, ditambah harus memakai dasi bagi kaum pria dan sepatu. Bagaimana jika saya maju ke depan bangku jemaat dengan memakai sandal jepit ? Meskipun pelayanan didepan komputer gereja adalah sebuah pelayanan yang tidak sevital pemimpin pujian, penyanyi latar, atau pengkotbah – tanggung jawabnya, tetapi tetap saja seorang pemegang komputer dan LCD proyektor juga harus memperhatikan aturan itu - ini adalah salah satu peraturan pelayan mimbar yang baku di gereja saya. Aturan ini hanya berubah sedikit di Ibadah Kaum Muda-nya. Di Ibadah Kaum Muda, semua pelayan ibadah diperbolehkan memakai kaos oblong khas remaja dan pemuda. Tujuannya agar mereka bisa dekat dengan komunitas yang dilayani. Tetapi di Ibadah Raya aturan ini sama sekali tidak boleh dilanggar dengan toleransi seperti apa pun juga.
Akhirnya saya memberi tanda 'tidak mau' kepada Ibu Gembala dengan silangan tangan-tangan saya didepan dada dari tempat duduk sebagai jawaban atas permintaan Beliau sebelumnya. Beruntung Ci Novi sudah mengetahui keadaan saya yang hanya memakai sandal jepit sore itu. Begitu dilihatnya Ibu Gembala hendak menyuruh saya maju ke depan meja komputer gereja, ia langsung menghampiri Ibu Gembala kemudian berbisik ditelinga Beliau. Hasilnya, Ibu Gembala melihat kembali ke arah saya kemudian tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Diawal-awal ibadah berlangsung, saya sulit berkonsentrasi. Pikiran saya antara geli bercampur dengan jengkel. Saya teringat dengan kisah lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana didalam Alkitab menjelang perjamuan kawin - Matius 25:1-13. Sore itu rasanya saya termasuk dalam kategori salah satu dari lima gadis bodoh yang lupa membawa minyak persediaan untuk pelitanya sehingga membuat mereka ditolak masuk ke perjamuan kawin.
Hanya gara-gara sandal jepit - 'F4 ijo' - saya batal menjadi salah satu pelayan di Ibadah Raya gereja. Masih ditambah rasa malu lagi.
Matius 25:12-13, Tetapi Ia menjawab: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Jelas sekali Yesus berkata bahwa kita harus berjaga-jaga ! Tidak ada seorangpun didunia ini yang tahu kapan waktunya Kerajaan Sorga akan tiba. Karena itulah kita semua harus berjaga-jaga, siap sedia setiap saat.
”Be 100 %, biar ga kecolongan”. Intinya kita tidak boleh kehilangan fokus kita kepada Dia sedikitpun, kapanpun dan dimanapun. Kita harus benar-benar siap sedia 100 %. Tidak boleh 99,9 %, apalagi dibawah itu.
Memang, begitu banyak persoalan. Banyak masalah yang harus dihadapi oleh manusia didunia saat ini. Bencana di Indonesia sekarang sambung menyambung tidak ada habis-habisnya. Jika kita tidak kuat iman, Iblis selalu mengangakan mulutnya untuk membuat kita jatuh ke lubang dosa.
I Petrus 5:8, Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu si iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-ngaum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Untuk menjadi 100 % terkadang kita harus melatih diri terlebih dahulu melalui hal-hal yang sepele. Dalam hal terkecil sekalipun, Roh Kudus yang berdiam dalam hati kita tidak bisu. Ia selalu memberikan kita suatu sinyal ketika kita melakukan tindakan yang kurang tepat.
Contohnya seperti saya. Sandal jepit adalah perkara kecil. Tetapi seingat saya dengan sadar, mulai dari saat kaki saya melangkah keluar pintu rumah sampai didepan pintu gerbang gereja, hati saya selalu gelisah. Pastinya saat itu Roh Kudus sedang mengingatkan kepada saya, jika saya tidak sedang memakai sepatu dan nantinya digereja saya akan ditunjuk untuk mengoperasikan LCD proyektor dan komputer gereja. Sayangnya, saya tidak peka-peka juga dari awal sampai akhir.
Jika kita tidak peka terus-menerus terhadap peringatan-Nya, apakah Roh Kudus akan diam dan membiarkan kita begitu saja ? Tidak sama sekali !
Kepala saya tiba-tiba menunduk tepat didepan gerbang gereja, baru setelah itu saya menyadari bahwa saat itu saya sedang memakai 'F4 ijo'.
Saya membayangkannya seperti ini : sepanjang perjalanan selama lima belas menit diatas sepeda motor sebelumnya, Roh Kudus pasti jengkel karena saya tidak mengindahkan peringatan-Nya dan tidak sadar-sadar juga jika saat itu saya pergi ke gereja hanya memakai sandal jepit. Makanya sebelum saya benar-benar masuk ke gereja, Ia menundukkan kepala saya tepat didepan pintu gerbang gereja agar saya bisa melihat fokus yang ingin Ia ingatkan dari tadi dengan jelas.
Itulah Roh Kudus kita. Ia tidak hanya mengingatkan hal-hal yang besar kepada kita tetapi juga mengingatkan hal yang sekecil-kecilnya. Kerajaan Surga berbicara mengenai hal yang kudus dan tidak bercela sedikitpun. Yang membuat kita sadar atau tidak dengan tuntunan Roh Kudus dalam hidup kita hanya terletak pada mau atau tidaknya kita mengasah kepekaan hati kita untuk menikmati keberadaan-Nya dan mendengarkan suara-Nya saat menuntun kita.
Yohanes 16:13-15, Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari pada-Ku.
Batasan Relationship
Oleh : Angelina Kusuma
Siang kemarin, Ibu Gembala gereja saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat kerja saya. Sebenarnya keperluan Beliau hanya mengadakan konsolidasi KKR Natal gereja kami yang akan diadakan bulan Januari 2008 dengan salah seorang anggota panitia Natal yang letak kantornya ada didepan tempat kerja saya. Berhubung berdekatan, akhirnya Tante Ruth - nama Ibu Gembala saya - beserta Tante Magda - yang ikut mendampingi Beliau kemarin - menitipkan sepeda motor mereka didepan tempat kerja saya.
Selesai dengan keperluannya, Tante Ruth akhirnya meluangkan waktu untuk mampir dan mengobrol sebentar dengan saya. Kami bercakap-cakap mengenai undangan Natal yang hari itu rencananya akan disebar, tentang kondisi usaha saya, tentang cuaca hari-hari belakangan ini, kemudian mengarah ke sebuah kasus yang sedang terjadi dikalangan pemuda gereja kami.
Tante Ruth bercerita bahwa ada jemaat pemudi gereja kami yang menghilang jejaknya entah kemana dan membuat Beliau merasa kehilangan. Saya bingung, "Kok bisa ?". Usut punya usut ternyata jemaat pemudi ini sudah tidak asing lagi dimata saya. Ia seorang pemudi yang dulunya aktif dipelayanan gereja dan juga salah satu dari guru Sekolah Minggu di gereja kami.
Saya mulai teringat, wajah pemudi ini memang mulai jarang saya temui di gereja belakangan. Biasanya ia datang lebih dulu dari saya di Ibadah Raya Sore dan memegang peranan penting dipelayanan LCD proyektor dan komputer ibadah. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba ia mulai jarang pelayanan dan muncul di gereja sejak dua atau tiga bulan yang lalu. Pada mulanya saya tidak merasa jika hal tersebut adalah sebuah pertanda bahwa pelayanan pemudi ini mulai kendor. Berhubung saya tidak seberapa dekat dengan pemudi ini, maka saya juga tidak seberapa curiga kenapa akhir-akhir ini ia mulai jarang terlihat di pelayanan maupun pertemuan ibadah gereja.
Siang kemarin Tante Ruth juga sempat bercerita tentang relationship dari pemudi ini yang baru saja putus dengan pacarnya yang juga jemaat pemuda di gereja kami. Wajah pemuda inipun juga sering saya lihat dipelayanan mimbar gereja. Ia tergabung dalam tim musik gereja, kadang memainkan keyboard atau mengatur sound system selama ibadah berlangsung. Seingat saya, pemuda ini juga mendadak hilang dari peredaran gereja beberapa bulan terakhir. Sama seperti menghilangnya jejak si pemudi, mantan pacarnya.
Dalam hati saya bertanya-tanya, "Benarkah patah hati bisa membuat seseorang sampai harus mundur dari gereja dan mimbar pelayanan ?". Sebenarnya kasus seperti ini sudah pernah saya jumpai beberapa kali sebelumnya. Tetapi saya tetap tidak pernah habis berfikir dengan orang-orang yang rela mengorbankan ibadah gereja dan pelayanannya hanya karena sedang patah hati dari relationship-nya yang gagal. Bisa mengubah seorang pelayan Tuhan yang begitu antusias menjadi mundur semundur-mundurnya.
Apa sebenarnya yang telah dilakukan para pelaku relationship sehingga membuat mereka ikutan hancur seiring dengan leburnya hubungan relationship mereka ? Sampai dimana batasan pacaran agar ketika hubungan itu tidak pada tempatnya lagi dan terpaksa diakhiri, hal itu tidak menyakiti kedua belah pihak terlalu dalam ?
Saya juga pernah merasakan jatuh cinta ke seorang pria. Saya juga pernah merasakan patah hati. Saya juga pernah kecewa dengan hubungan relationship yang pernah saya jalin. Tetapi, semua sakit hati saya tersebut tidak sampai membuat saya keluar dari gereja, apalagi menghancurkan jadwal pelayanan saya. Tidak sampai membuat saya kapok bertemu dengan mantan pasangan saya dalam relationship itu kemudian menimbulkan tindakan saling menghindar satu sama lain apalagi dendam. So, what they were done before ?
Dua batasan dalam relationship yang mendasar :
1. Batasan Rohani
Hal pertama yang harus ditanamkan saat mulai menjalin relationship adalah komitmen dan juga batasan dalam kerohanian seseorang. Sadari bahwa ketika seseorang jatuh cinta, sering kali yang berkuasa adalah eross dan bukan agape. Sulit mengendalikan diri yang sudah bercampur dengan eross. Apalagi jika logika ikutan tertutup selama relationship itu berlangsung.
Terkadang, si pasangan bisa menjadi sebuah idol baru bagi pasangannya yang lain sehingga membuat kedudukan Allah tergeser dalam hidup mereka. Ini bukanlah kasih yang diharapkan Allah ada diantara kedua makhluk yang sedang menjalin relationship. Relationship adalah pondasi awal pembentukan sebuah hubungan suami-istri dalam rumah tangga. Dan pernikahan adalah sarana Allah untuk menggenapi Firman-Nya. Jadi, apakah relationship itu sebuah permainan dimata Allah ? Atau, relationship itu bisa menjadi sebuah ajang coba-coba ? Tentu tidak bukan ?
Jika seseorang melekat kepada Allah, maka dia akan tahu isi hati Allah. Dan sebuah batasan rohani sangat penting sebagai langkah awal menentukan arah selanjutnya dari relationship yang sehat. Pasangan kita bukanlah segalanya bagi kita sehingga menggantikan Allah. Pasangan kita bukanlah satu-satunya milik kita yang berharga sehingga patut dijaga setiap saat sampai melupakan satu kebenaran bahwa hubungan dengan Allahlah yang perlu kita jaga setiap detik yang bergulir dari hidup kita.
Kepergian seorang manusia dalam hidup kita, bisa Ia ganti dengan manusia lain yang sepuluh kali lipat jauh lebih baik dari sebelumnya. Tetapi ketika jarak kita dari Allah sendiri semakin jauh, siapa yang sanggup menggantikannya ? Allah jauh lebih berharga dari apa dan siapapun juga didunia ini.
Belajarlah seperti Abraham yang rela mempersembahkan Ishak bagi Allahnya, yang tetap menomor satukan Allah dalam kondisi apapun juga meskipun kita tahu bahwa kita mencintai manusia lain dengan sepenuh hati dan harus siap kehilangan dia setiap saat.
Ibrani 11:17, Karena iman maka Abraham, mempersembahkan Ishak.
Kita boleh mencintai manusia atau apapun di dunia ini, asalkan cinta itu tidak melebihi cinta kita kepada Allah
2. Batasan Jasmani
Saya mempunyai sebuah prinsip bahwa seluruh tubuh saya, dari ujung rambut sampai jari jempol kaki saya adalah milik Allah dan suami saya. Bukan milik pacar saya atau tunangan saya. Jadi jika ada orang yang masih dalam tahap relationship kemudian dengan gampang bisa malakukan aktivitas pelukan, ciuman, dan mengumbar fantasi berlebihan dalam relationship, menurut saya hal itu sudah sangat berlebihan. Hubungan relationship atau tunagan sekalipun bisa hancur kapan saja. Dan tidak ada jaminan atau garansi yang bisa kita tuntut ketika hubungan itu berakhir sementara kita sudah kehilangan banyak hal pada jasmani kita - apalagi sampai menyerahkan keperawanan atau keperjakaan kita kepada pacar atau tunangan.
Saya hanya bisa mengelus dada jika meliat dua orang lawan jenis, pria dan wanita lajang, yang masih dalam tahap relationship, tetapi bisa dengan gampang didepan khalayak umum melakukan hal-hal seperti pelukan dan ciuman - meskipun hanya mencium pipi atau kening. Bagi saya, jika didepan orang lain mereka gampang untuk melakukan hal tersebut, bagaimana jika mereka sedang berduaan sendirian ? Wah, pastinya bisa merembet kemana-mana kalau tidak segera direm.
Mungkin bisa dibilang prinsip saya adalah prinsip jadul - jaman dulu - yang tidak keren sama sekali. Tetapi sekali lagi, yang ingin saya tonjolkan dalam hidup saya adalah Allah dan bukan diri saya pribadi. Hubungan fisik seringan apapun dalam relationship seperti sentuhan tangan atau cium pipi kanan kiri atau kening, adalah awal dari hubungan yang lebih dalam lagi seperti petting atau intercourse dan juga pengikat hubungan pria dan wanita ke tahap yang lebih intim lagi.
Tak jarang, saya menjadi tempat share dari beberapa orang teman wanita saya yang baru saja mengalami kegagalan dalam relationship-nya. Dan sering kali yang membuat mereka tidak mudah melupakan mantan pasangan mereka adalah karena mereka selalu teringat akan cara si pria menyentuh bahunya, megenggam tangannya, mencium pipinya, atau membelai rambutnya. Sentuhan fisik sekecil apapun, bisa mengikat seorang pria dan wanita dalam relationship ke sebuah hubungan emosional atau hubungan jasmani yang lebih erat.
Jadi, selama belum terikat tali pernikahan kudus, sebaiknya hindari hubungan kontak fisik secara pribadi. Bukan saja menjauhkan diri agar tidak jatuh ke dosa perzinahan, tetapi juga menjaga kekudusan pikiran dan hati kita untuk suami atau istri yang sah serta mencegah hal-hal buruk jika ada beberapa sebab yang memaksa hubungan relationship tersebut berakhir sebelum berlanjut ke jenjang pernikahan.
Matius 5:27-30, Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
Jaga hati dan jaga kekudusan diri masing-masing akan membantu kita dalam menjalani sebuah relationship yang sehat dan bertanggungjawab
Siang kemarin, Ibu Gembala gereja saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat kerja saya. Sebenarnya keperluan Beliau hanya mengadakan konsolidasi KKR Natal gereja kami yang akan diadakan bulan Januari 2008 dengan salah seorang anggota panitia Natal yang letak kantornya ada didepan tempat kerja saya. Berhubung berdekatan, akhirnya Tante Ruth - nama Ibu Gembala saya - beserta Tante Magda - yang ikut mendampingi Beliau kemarin - menitipkan sepeda motor mereka didepan tempat kerja saya.
Selesai dengan keperluannya, Tante Ruth akhirnya meluangkan waktu untuk mampir dan mengobrol sebentar dengan saya. Kami bercakap-cakap mengenai undangan Natal yang hari itu rencananya akan disebar, tentang kondisi usaha saya, tentang cuaca hari-hari belakangan ini, kemudian mengarah ke sebuah kasus yang sedang terjadi dikalangan pemuda gereja kami.
Tante Ruth bercerita bahwa ada jemaat pemudi gereja kami yang menghilang jejaknya entah kemana dan membuat Beliau merasa kehilangan. Saya bingung, "Kok bisa ?". Usut punya usut ternyata jemaat pemudi ini sudah tidak asing lagi dimata saya. Ia seorang pemudi yang dulunya aktif dipelayanan gereja dan juga salah satu dari guru Sekolah Minggu di gereja kami.
Saya mulai teringat, wajah pemudi ini memang mulai jarang saya temui di gereja belakangan. Biasanya ia datang lebih dulu dari saya di Ibadah Raya Sore dan memegang peranan penting dipelayanan LCD proyektor dan komputer ibadah. Tetapi entah kenapa, tiba-tiba ia mulai jarang pelayanan dan muncul di gereja sejak dua atau tiga bulan yang lalu. Pada mulanya saya tidak merasa jika hal tersebut adalah sebuah pertanda bahwa pelayanan pemudi ini mulai kendor. Berhubung saya tidak seberapa dekat dengan pemudi ini, maka saya juga tidak seberapa curiga kenapa akhir-akhir ini ia mulai jarang terlihat di pelayanan maupun pertemuan ibadah gereja.
Siang kemarin Tante Ruth juga sempat bercerita tentang relationship dari pemudi ini yang baru saja putus dengan pacarnya yang juga jemaat pemuda di gereja kami. Wajah pemuda inipun juga sering saya lihat dipelayanan mimbar gereja. Ia tergabung dalam tim musik gereja, kadang memainkan keyboard atau mengatur sound system selama ibadah berlangsung. Seingat saya, pemuda ini juga mendadak hilang dari peredaran gereja beberapa bulan terakhir. Sama seperti menghilangnya jejak si pemudi, mantan pacarnya.
Dalam hati saya bertanya-tanya, "Benarkah patah hati bisa membuat seseorang sampai harus mundur dari gereja dan mimbar pelayanan ?". Sebenarnya kasus seperti ini sudah pernah saya jumpai beberapa kali sebelumnya. Tetapi saya tetap tidak pernah habis berfikir dengan orang-orang yang rela mengorbankan ibadah gereja dan pelayanannya hanya karena sedang patah hati dari relationship-nya yang gagal. Bisa mengubah seorang pelayan Tuhan yang begitu antusias menjadi mundur semundur-mundurnya.
Apa sebenarnya yang telah dilakukan para pelaku relationship sehingga membuat mereka ikutan hancur seiring dengan leburnya hubungan relationship mereka ? Sampai dimana batasan pacaran agar ketika hubungan itu tidak pada tempatnya lagi dan terpaksa diakhiri, hal itu tidak menyakiti kedua belah pihak terlalu dalam ?
Saya juga pernah merasakan jatuh cinta ke seorang pria. Saya juga pernah merasakan patah hati. Saya juga pernah kecewa dengan hubungan relationship yang pernah saya jalin. Tetapi, semua sakit hati saya tersebut tidak sampai membuat saya keluar dari gereja, apalagi menghancurkan jadwal pelayanan saya. Tidak sampai membuat saya kapok bertemu dengan mantan pasangan saya dalam relationship itu kemudian menimbulkan tindakan saling menghindar satu sama lain apalagi dendam. So, what they were done before ?
Dua batasan dalam relationship yang mendasar :
1. Batasan Rohani
Hal pertama yang harus ditanamkan saat mulai menjalin relationship adalah komitmen dan juga batasan dalam kerohanian seseorang. Sadari bahwa ketika seseorang jatuh cinta, sering kali yang berkuasa adalah eross dan bukan agape. Sulit mengendalikan diri yang sudah bercampur dengan eross. Apalagi jika logika ikutan tertutup selama relationship itu berlangsung.
Terkadang, si pasangan bisa menjadi sebuah idol baru bagi pasangannya yang lain sehingga membuat kedudukan Allah tergeser dalam hidup mereka. Ini bukanlah kasih yang diharapkan Allah ada diantara kedua makhluk yang sedang menjalin relationship. Relationship adalah pondasi awal pembentukan sebuah hubungan suami-istri dalam rumah tangga. Dan pernikahan adalah sarana Allah untuk menggenapi Firman-Nya. Jadi, apakah relationship itu sebuah permainan dimata Allah ? Atau, relationship itu bisa menjadi sebuah ajang coba-coba ? Tentu tidak bukan ?
Jika seseorang melekat kepada Allah, maka dia akan tahu isi hati Allah. Dan sebuah batasan rohani sangat penting sebagai langkah awal menentukan arah selanjutnya dari relationship yang sehat. Pasangan kita bukanlah segalanya bagi kita sehingga menggantikan Allah. Pasangan kita bukanlah satu-satunya milik kita yang berharga sehingga patut dijaga setiap saat sampai melupakan satu kebenaran bahwa hubungan dengan Allahlah yang perlu kita jaga setiap detik yang bergulir dari hidup kita.
Kepergian seorang manusia dalam hidup kita, bisa Ia ganti dengan manusia lain yang sepuluh kali lipat jauh lebih baik dari sebelumnya. Tetapi ketika jarak kita dari Allah sendiri semakin jauh, siapa yang sanggup menggantikannya ? Allah jauh lebih berharga dari apa dan siapapun juga didunia ini.
Belajarlah seperti Abraham yang rela mempersembahkan Ishak bagi Allahnya, yang tetap menomor satukan Allah dalam kondisi apapun juga meskipun kita tahu bahwa kita mencintai manusia lain dengan sepenuh hati dan harus siap kehilangan dia setiap saat.
Ibrani 11:17, Karena iman maka Abraham, mempersembahkan Ishak.
Kita boleh mencintai manusia atau apapun di dunia ini, asalkan cinta itu tidak melebihi cinta kita kepada Allah
2. Batasan Jasmani
Saya mempunyai sebuah prinsip bahwa seluruh tubuh saya, dari ujung rambut sampai jari jempol kaki saya adalah milik Allah dan suami saya. Bukan milik pacar saya atau tunangan saya. Jadi jika ada orang yang masih dalam tahap relationship kemudian dengan gampang bisa malakukan aktivitas pelukan, ciuman, dan mengumbar fantasi berlebihan dalam relationship, menurut saya hal itu sudah sangat berlebihan. Hubungan relationship atau tunagan sekalipun bisa hancur kapan saja. Dan tidak ada jaminan atau garansi yang bisa kita tuntut ketika hubungan itu berakhir sementara kita sudah kehilangan banyak hal pada jasmani kita - apalagi sampai menyerahkan keperawanan atau keperjakaan kita kepada pacar atau tunangan.
Saya hanya bisa mengelus dada jika meliat dua orang lawan jenis, pria dan wanita lajang, yang masih dalam tahap relationship, tetapi bisa dengan gampang didepan khalayak umum melakukan hal-hal seperti pelukan dan ciuman - meskipun hanya mencium pipi atau kening. Bagi saya, jika didepan orang lain mereka gampang untuk melakukan hal tersebut, bagaimana jika mereka sedang berduaan sendirian ? Wah, pastinya bisa merembet kemana-mana kalau tidak segera direm.
Mungkin bisa dibilang prinsip saya adalah prinsip jadul - jaman dulu - yang tidak keren sama sekali. Tetapi sekali lagi, yang ingin saya tonjolkan dalam hidup saya adalah Allah dan bukan diri saya pribadi. Hubungan fisik seringan apapun dalam relationship seperti sentuhan tangan atau cium pipi kanan kiri atau kening, adalah awal dari hubungan yang lebih dalam lagi seperti petting atau intercourse dan juga pengikat hubungan pria dan wanita ke tahap yang lebih intim lagi.
Tak jarang, saya menjadi tempat share dari beberapa orang teman wanita saya yang baru saja mengalami kegagalan dalam relationship-nya. Dan sering kali yang membuat mereka tidak mudah melupakan mantan pasangan mereka adalah karena mereka selalu teringat akan cara si pria menyentuh bahunya, megenggam tangannya, mencium pipinya, atau membelai rambutnya. Sentuhan fisik sekecil apapun, bisa mengikat seorang pria dan wanita dalam relationship ke sebuah hubungan emosional atau hubungan jasmani yang lebih erat.
Jadi, selama belum terikat tali pernikahan kudus, sebaiknya hindari hubungan kontak fisik secara pribadi. Bukan saja menjauhkan diri agar tidak jatuh ke dosa perzinahan, tetapi juga menjaga kekudusan pikiran dan hati kita untuk suami atau istri yang sah serta mencegah hal-hal buruk jika ada beberapa sebab yang memaksa hubungan relationship tersebut berakhir sebelum berlanjut ke jenjang pernikahan.
Matius 5:27-30, Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
Jaga hati dan jaga kekudusan diri masing-masing akan membantu kita dalam menjalani sebuah relationship yang sehat dan bertanggungjawab
Love or be Loved
Oleh : Angelina Kusuma
"Siapakah murid yang dikasihi Yesus ?"
Pertanyaan ini sejenak membuat saya berfikir. Dikasihi atau mengasihi Yesus yang benar ? Jika Yesus mengasihi kita sebagai umat pilihan-Nya, saya percaya hal itu mudah Ia lakukan karena Ia adalah Allah Yang Maha Kuasa. Tetapi jika kita mengasihi Yesus, bisakah ?
Manusia masih mempunyai kedagingan, kelemahan, dan jauh lebih kecil dan tidak berkuasa dibandingkan dengan Yesus. Jika kita tidak ada apa-apanya dihadapan Yesus, sanggupkah kita mengasihi-Nya ? Ibaratnya, kita adalah setitik air ditengah samudra luas. Sanggupkah kita menggarami seluruh lautan yang sudah asin pada mulanya ?
Ada dua perbedaan mencolok yang menarik perhatian saya atas tingkah laku Petrus dan Yohanes. Keduanya sama-sama murid yang setia menyertai pelayanan Yesus dimanapun Ia berada. Namun dalam pertumbuhan iman keduanya, nampak bahwa ada perbedaan persepsi mengenai siapa yang mengasihi dan dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu.
Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya dan tiga kali pula Petrus dengan lantang berkata, "Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."
Tetapi apakah yang terjadi kepada Petrus ketika Yesus hendak disalibkan ? Apakah Petrus tetap menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan tulus sesuai dengan ucapan-ucapan semula ?
Fakta yang terjadi dari seseorang yang berkata, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau" - Matius 26:35, adalah menyangkali Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. Apakah tindakan Petrus yang menyangkali-Nya tersebut masih bisa dikatakan sebagai tindakan yang mengasihi Yesus ?
Yohanes memberikan kesaksian yang berbeda dengan Petrus mengenai prinsip mengasihi atau dikasihi oleh Tuhannya. Ia juga murid yang setia kepada Yesus selama dalam pelayanan-Nya dan selalu menyertai Yesus, bahkan sampai Ia disalibkan di bukit Golgota.
Dari Petrus dan Yohanes, saya belajar mengenai perbedaan sikap mengenai prinsip mengasihi Tuhan mereka. Petrus lebih dulu merasa bahwa ialah yang mengasihi Yesus, sedangkan Yohanes lebih memberi kesaksian bahwa ia telah dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu sebelum ia mampu mengasihi Tuhannya itu dengan tulus.
Ketika kita merasa bahwa kita bisa mengasihi Yesus, maka mungkin kita akan bernasif sama seperti Petrus. Ketika dunia sekitar kita sedang damai, tidak ada aral rintangan apapun, kita mampu berkata lantang bahwa kita mengasihi-Nya dengan sungguh-sungguh, bisa melayani-Nya dengan semangat dan berkobar-kobar. Tetapi ketika masa pencobaan tiba, kita juga bisa berbalik menyangkali-Nya setiap saat. Kasih yang dimiliki Petrus sebelum ia diubahkan ini disebut sebagai kasih manusia yang bersyarat.
Sebaliknya teladan yang diberikan oleh Yohanes berbeda dengan Petrus. Yohanes merasa dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan kekuatan manusia untuk mengasihi Tuhannya yang lebih berkuasa daripadanya. Yohanes mengambil tindakan lebih tepat daripada Petrus yaitu menyerahkan kasih manusianya yang terbatas kepada Yesus untuk mengubah kasihnya tersebut menjadi sempurna oleh anugerah-Nya sendiri. Karena itulah, ia tidak menyangkali Yesus ketika keadaan sekelilingnya berubah menjadi buruk.
Tidak penting seberapa besar kasih kita kepada Yesus. Yang perlu kita sadari bahwa jika kita bisa mengasihi-Nya sampai detik ini, semua itu hanyalah karunia dari Tuhan sendiri yang memampukan kita untuk melakukannya, bukan hasil usaha kita.
"Siapakah murid yang dikasihi Yesus ?"
Pertanyaan ini sejenak membuat saya berfikir. Dikasihi atau mengasihi Yesus yang benar ? Jika Yesus mengasihi kita sebagai umat pilihan-Nya, saya percaya hal itu mudah Ia lakukan karena Ia adalah Allah Yang Maha Kuasa. Tetapi jika kita mengasihi Yesus, bisakah ?
Manusia masih mempunyai kedagingan, kelemahan, dan jauh lebih kecil dan tidak berkuasa dibandingkan dengan Yesus. Jika kita tidak ada apa-apanya dihadapan Yesus, sanggupkah kita mengasihi-Nya ? Ibaratnya, kita adalah setitik air ditengah samudra luas. Sanggupkah kita menggarami seluruh lautan yang sudah asin pada mulanya ?
Ada dua perbedaan mencolok yang menarik perhatian saya atas tingkah laku Petrus dan Yohanes. Keduanya sama-sama murid yang setia menyertai pelayanan Yesus dimanapun Ia berada. Namun dalam pertumbuhan iman keduanya, nampak bahwa ada perbedaan persepsi mengenai siapa yang mengasihi dan dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu.
Tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus apakah ia mengasihi-Nya dan tiga kali pula Petrus dengan lantang berkata, "Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau."
Yohanes 21:15-17
21:15 Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:16 Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."
21:17 Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.
Tetapi apakah yang terjadi kepada Petrus ketika Yesus hendak disalibkan ? Apakah Petrus tetap menunjukkan kasihnya kepada Yesus dengan tulus sesuai dengan ucapan-ucapan semula ?
Markus 14:66-72
14:66 Pada waktu itu Petrus masih ada di bawah, di halaman. Lalu datanglah seorang hamba perempuan Imam Besar,
14:67 dan ketika perempuan itu melihat Petrus sedang berdiang, ia menatap mukanya dan berkata: "Engkau juga selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu."
14:68 Tetapi ia menyangkalnya dan berkata: "Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud." Lalu ia pergi ke serambi muka (dan berkokoklah ayam).
14:69 Ketika hamba perempuan itu melihat Petrus lagi, berkatalah ia pula kepada orang-orang yang ada di situ: "Orang ini adalah salah seorang dari mereka."
14:70 Tetapi Petrus menyangkalnya pula. Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: "Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!"
14:71 Maka mulailah Petrus mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang yang kamu sebut-sebut ini!"
14:72 Dan pada saat itu berkokoklah ayam untuk kedua kalinya. Maka teringatlah Petrus, bahwa Yesus telah berkata kepadanya: "Sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu menangislah ia tersedu-sedu.
Fakta yang terjadi dari seseorang yang berkata, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau" - Matius 26:35, adalah menyangkali Yesus tiga kali sebelum ayam berkokok dua kali. Apakah tindakan Petrus yang menyangkali-Nya tersebut masih bisa dikatakan sebagai tindakan yang mengasihi Yesus ?
Yohanes memberikan kesaksian yang berbeda dengan Petrus mengenai prinsip mengasihi atau dikasihi oleh Tuhannya. Ia juga murid yang setia kepada Yesus selama dalam pelayanan-Nya dan selalu menyertai Yesus, bahkan sampai Ia disalibkan di bukit Golgota.
Yohanes 21:20-24
21:20 Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata: "Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?"
21:21 Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus: "Tuhan, apakah yang akan terjadi dengan dia ini?"
21:22 Jawab Yesus: "Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: ikutlah Aku."
21:23 Maka tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu, bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus, bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan: "Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu."
21:24 Dialah murid, yang memberi kesaksian tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu, bahwa kesaksiannya itu benar.
Dari Petrus dan Yohanes, saya belajar mengenai perbedaan sikap mengenai prinsip mengasihi Tuhan mereka. Petrus lebih dulu merasa bahwa ialah yang mengasihi Yesus, sedangkan Yohanes lebih memberi kesaksian bahwa ia telah dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu sebelum ia mampu mengasihi Tuhannya itu dengan tulus.
Ketika kita merasa bahwa kita bisa mengasihi Yesus, maka mungkin kita akan bernasif sama seperti Petrus. Ketika dunia sekitar kita sedang damai, tidak ada aral rintangan apapun, kita mampu berkata lantang bahwa kita mengasihi-Nya dengan sungguh-sungguh, bisa melayani-Nya dengan semangat dan berkobar-kobar. Tetapi ketika masa pencobaan tiba, kita juga bisa berbalik menyangkali-Nya setiap saat. Kasih yang dimiliki Petrus sebelum ia diubahkan ini disebut sebagai kasih manusia yang bersyarat.
Sebaliknya teladan yang diberikan oleh Yohanes berbeda dengan Petrus. Yohanes merasa dikasihi oleh Yesus terlebih dahulu. Ia tidak menggunakan kekuatan manusia untuk mengasihi Tuhannya yang lebih berkuasa daripadanya. Yohanes mengambil tindakan lebih tepat daripada Petrus yaitu menyerahkan kasih manusianya yang terbatas kepada Yesus untuk mengubah kasihnya tersebut menjadi sempurna oleh anugerah-Nya sendiri. Karena itulah, ia tidak menyangkali Yesus ketika keadaan sekelilingnya berubah menjadi buruk.
1 Yohanes 4:9-10
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
1 Yohanes 4:19
4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Tidak penting seberapa besar kasih kita kepada Yesus. Yang perlu kita sadari bahwa jika kita bisa mengasihi-Nya sampai detik ini, semua itu hanyalah karunia dari Tuhan sendiri yang memampukan kita untuk melakukannya, bukan hasil usaha kita.
Tuesday, April 08, 2008
Blog Multiplyku diambang RIP
Oleh : Angelina Kusuma
Caayooooooo para blogger Indoensia !!
Sebuah kejadian mengesalkan hampir membuatku bergelut dengan mendung terus-menerus hari ini. Blogku di Multiply yang sudah dua tahun ini menjadi teman setiaku melewati hari-hari didepan komputer netcafe, tidak bisa dibuka sekitar jam sepuluh atau sebelas siang tadi. Padahal dipagi harinya, aku masih sempat log in ke home blogku dan memeriksa inbox-nya.
Menjelang siang ada seorang teman yang bertanya ke aku kenapa Multiply tidak bisa diakses. Saat itu aku cuek. "Ya, paling-paling servernya Multiply lagi down sebentar buat maintenance seperti biasanya", ini kalimat yang terlintas diotakku saat itu. Lagian, waktu pertanyaan itu datang, aku juga masih sibuk dengan kerjaanku. Makanya tetap aja santai ...
Begitu pekerjaanku udah agak longgar, seperti biasa aku log in ke home blog. Ah, kok ga bisa terus ? Ada apa gerangan ini ? Mana tanda-tanda gagal kebukanya blogku sedikit aneh. Kalo Multiply masih dalam tahap perbaikan, biasanya ada pemberitahuan resmi dari pihak Multiply jika mereka sedang dalam proses perbaikan dan akan bisa diakses lagi beberapa saat kemudian. Tetapi siang tadi ? Internet browserku langsung nunjukin kalo halaman browsing-nya error. Tandanya emang ada sesuatu yang tidak beres terjadi disana.
Aku mulai nanya kanan kiri buat mastiin kalo bukan koneksiku yang bermasalah. Aksesku ke situs-situs lain begitu lancar dan mudah. Hanya Multiply yang membuatku heran setengah mati. Dari temenku, Edi yang kerja di Schlumberger Balik Papan, bilang kalo saat itu dia lagi download lagu via Multiply. What ? "Wah, gimana bisa kamu bebas buka Multiply sementara aku enggak sama sekali ?"
Ga puas dengan satu orang, aku mulai nanya ke temen-temenku yang online di YM lainnya. Fay yang kerja di Jawaban.com bilang kalo dia bisa buka Multiply meskipun aksesnya sedikit lambat. Wow, semakin membuatku bingung. Next ... tiba giliran tanya ke Calvin yang kerja di Manado.Ternyata dia juga ga bisa akses Multiply. Hehehe baru deh aku lega. Trus dapat kabar juga dari Penguin yang di Bandung. Katanya dia ga bisa akses Multiply gara-gara aksesnya diblockir dari ISP-nya. Waw ... mana alasannya karena film Fitna yang kontroversial itu ? ckckck.
Terakhir aku nanya ke Mas Zuki, teman alumni kampus Kapal and then dia bilang kalo dia bisa buka blogku yang di cityofenjie.multiply.com. Wuis, aku tambah bersedih. Trus dia crita, katanya emang ada beberapa situs yang udah diblock dari kemarin-kemarin oleh pihak Pemerintah. Diantaranya yang tidak bisa dibuka dari tempatnya adalah Youtube. Iseng-iseng, aku nyoba juga buka Youtube. Hasilnya sama persis seperti waktu aku akses Multiply, error page !
Akhirnya aku nyari info ke websitenya Telkom Speedy providerku. Hasilnya ? Aku nemuin sebuah Pengumuman mengesalkan terpampang disana.
Gemes !
Sebel !
Jengkel !
Sedih !
Hanya gara-gara satu film kontroversial aja sampai mengorbankan hak para blogger sedemikian rupa ? Fuih ... yang aneh siapa sie nie ? Padahal kalo dipikir-pikir, Om Wilder yang bikin film Fitna-nya aja masih bebas diluar sana tuh. Haduh haduh ... ABCDEFG ampek Z dah kalo gini !
Gara-gara akses blog Multiply tersendat, aku juga terimbas males ngapa-ngapain sesore sampai malam ini. Tadi banyak temen yang nyuruh bobol block Multiply pake fasilitas web proxy. Dan bener aja emang bisa, meskipun ga maksimal 100 %. Diantara web proxy tersebut adalah :
www.zend2.com
www.spysurfing.com
http://circumventor.net
Sebenere masih ada beberapa lagi web proxy yang bisa njebolin blockir disitus-situs yang diblock diatas. Cuma yang sempet nyoba hanya tiga web itu. At least, aku agak bisa bernafas lega sedikitlah. Paling tidak tulisan-tulisan karyaku diblog Multiply masih aman, ga hilang hehehe.
Hhh ...
Tarik nafas bentar dulu ah ...
Sekarang aku ngrasa lapar ! hehehe. Capek ngamuk-ngamuk dari tadi kayaknya. Sekarang mo makan dulu, abis itu mo kerja lagi.
NB : Ayo Pemerintah Indonesia dewasa dikit dong ... Ga semua blogger itu negatif Pak / Bu. Saya ikutan blogger bukan buat nyebarin film-film ga mutu kayak gitu kok. Asli, ngeblog cuma buat ajang berkreasi sebagai penulis lepas. Jadi jangan mengkebiri kebebasan blogger secara membabi buta gitu dong ... Kalo mau yang lebih tepat mah tangkep tuh Om Wilder, bukan ngeblock akses Multiply sepihak hiks hiks
Menjelang siang ada seorang teman yang bertanya ke aku kenapa Multiply tidak bisa diakses. Saat itu aku cuek. "Ya, paling-paling servernya Multiply lagi down sebentar buat maintenance seperti biasanya", ini kalimat yang terlintas diotakku saat itu. Lagian, waktu pertanyaan itu datang, aku juga masih sibuk dengan kerjaanku. Makanya tetap aja santai ...
Begitu pekerjaanku udah agak longgar, seperti biasa aku log in ke home blog. Ah, kok ga bisa terus ? Ada apa gerangan ini ? Mana tanda-tanda gagal kebukanya blogku sedikit aneh. Kalo Multiply masih dalam tahap perbaikan, biasanya ada pemberitahuan resmi dari pihak Multiply jika mereka sedang dalam proses perbaikan dan akan bisa diakses lagi beberapa saat kemudian. Tetapi siang tadi ? Internet browserku langsung nunjukin kalo halaman browsing-nya error. Tandanya emang ada sesuatu yang tidak beres terjadi disana.
Aku mulai nanya kanan kiri buat mastiin kalo bukan koneksiku yang bermasalah. Aksesku ke situs-situs lain begitu lancar dan mudah. Hanya Multiply yang membuatku heran setengah mati. Dari temenku, Edi yang kerja di Schlumberger Balik Papan, bilang kalo saat itu dia lagi download lagu via Multiply. What ? "Wah, gimana bisa kamu bebas buka Multiply sementara aku enggak sama sekali ?"
Ga puas dengan satu orang, aku mulai nanya ke temen-temenku yang online di YM lainnya. Fay yang kerja di Jawaban.com bilang kalo dia bisa buka Multiply meskipun aksesnya sedikit lambat. Wow, semakin membuatku bingung. Next ... tiba giliran tanya ke Calvin yang kerja di Manado.Ternyata dia juga ga bisa akses Multiply. Hehehe baru deh aku lega. Trus dapat kabar juga dari Penguin yang di Bandung. Katanya dia ga bisa akses Multiply gara-gara aksesnya diblockir dari ISP-nya. Waw ... mana alasannya karena film Fitna yang kontroversial itu ? ckckck.
Terakhir aku nanya ke Mas Zuki, teman alumni kampus Kapal and then dia bilang kalo dia bisa buka blogku yang di cityofenjie.multiply.com. Wuis, aku tambah bersedih. Trus dia crita, katanya emang ada beberapa situs yang udah diblock dari kemarin-kemarin oleh pihak Pemerintah. Diantaranya yang tidak bisa dibuka dari tempatnya adalah Youtube. Iseng-iseng, aku nyoba juga buka Youtube. Hasilnya sama persis seperti waktu aku akses Multiply, error page !
Akhirnya aku nyari info ke websitenya Telkom Speedy providerku. Hasilnya ? Aku nemuin sebuah Pengumuman mengesalkan terpampang disana.
INFORMASI PEMBLOKIRAN FILM FITNA
08 April 2008 09:10:28 ( Sys Admin TSDC )
Mohon maaf, untuk saat ini situs-situs dan blog yang memuat Film Fitna kami blokir atas permintaan Menteri Komunikasi dan Informasi No.84/M.KOMINFO/04/08 tanggal 2 April 2008.
Situs dan blog yang ditutup:
* Youtube
* MySpace
* Metacafe
* Rapidshare
* Multiply
* Liveleak
* Themoviefitna.com
Situs-situs dan blog tersebut tidak akan bisa diakses hingga ada pemberitahuan lebih lanjut.
Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
Terimakasih
PT Telkom Indonesia Tbk.
Gemes !
Sebel !
Jengkel !
Sedih !
Hanya gara-gara satu film kontroversial aja sampai mengorbankan hak para blogger sedemikian rupa ? Fuih ... yang aneh siapa sie nie ? Padahal kalo dipikir-pikir, Om Wilder yang bikin film Fitna-nya aja masih bebas diluar sana tuh. Haduh haduh ... ABCDEFG ampek Z dah kalo gini !
Gara-gara akses blog Multiply tersendat, aku juga terimbas males ngapa-ngapain sesore sampai malam ini. Tadi banyak temen yang nyuruh bobol block Multiply pake fasilitas web proxy. Dan bener aja emang bisa, meskipun ga maksimal 100 %. Diantara web proxy tersebut adalah :
www.zend2.com
www.spysurfing.com
http://circumventor.net
Sebenere masih ada beberapa lagi web proxy yang bisa njebolin blockir disitus-situs yang diblock diatas. Cuma yang sempet nyoba hanya tiga web itu. At least, aku agak bisa bernafas lega sedikitlah. Paling tidak tulisan-tulisan karyaku diblog Multiply masih aman, ga hilang hehehe.
Hhh ...
Tarik nafas bentar dulu ah ...
Sekarang aku ngrasa lapar ! hehehe. Capek ngamuk-ngamuk dari tadi kayaknya. Sekarang mo makan dulu, abis itu mo kerja lagi.
NB : Ayo Pemerintah Indonesia dewasa dikit dong ... Ga semua blogger itu negatif Pak / Bu. Saya ikutan blogger bukan buat nyebarin film-film ga mutu kayak gitu kok. Asli, ngeblog cuma buat ajang berkreasi sebagai penulis lepas. Jadi jangan mengkebiri kebebasan blogger secara membabi buta gitu dong ... Kalo mau yang lebih tepat mah tangkep tuh Om Wilder, bukan ngeblock akses Multiply sepihak hiks hiks
Caayooooooo para blogger Indoensia !!
Subscribe to:
Posts (Atom)