Wednesday, May 29, 2019

Memacu Adrenalin di Pantai Timang Jogjakarta

Ke Pantai Timang pake Motor Matic? BISA! Saya lady solo traveler yang nanjak ke Pantai Timang dengan Motor Matic :).

Jalanannya offroad. Dan memang sengaja dibiarkan begitu (mungkin) untuk mendatangkan pundi-pundi uang bagi sebagian orang disana. Ya, dengan kondisi jalanan yang menanjak dan berbatu-batu terjal, pastilah pengunjung (yang tak punya nyali sebesar saya hahaha) wajib mengorek kocek lebih dalam untuk mencapai pantainya.

Di gapura depan menuju Pantai Timang, saya dicegat beberapa pria yang menawarkan jasa Ojek & Jeep untuk menuju pantai ini. Tapi karena harga Ojek & Jeep yang ditawarkan terlalu mahal untuk backpacker seperti saya, akhirnya saya tetep nekad memacu Motor Matic yang saya sewa dari Jogja sampai ke Pantai Timang (hahaha...sebenarnya emang dari awal udah niatnya motoran aja sampai pantai).

Setelah beberapa saat motoran, ketemulah saya dengan jalanan offroad...berbatu-batu terjal dan menanjak. Seorang tukang Ojek mengejar saya sampai disini sambil mengumbar kata-kata manis, "Ayo mbak, saya antar sampai pantai...ga bakal kuat Motor Matic-nya sampai ke atas".

"Ah hellow...anda tak tahu sedang berhadapan dengan siapa, sir!", gerutu saya dalam hati. Nyali saya jadi agak menciut juga sih saat mendengarkan kata-kata tukang Ojek itu ditambah Motor Matic saya yang agak ngadat di tengah jalan dan hanya rodanya saja yang berputar. Oh no, masa sih nyerah gitu aja? Tengsin kan?!!

Huh, akhirnya saya berkata-kata agak kesal (baca: mengusir hihihi) sama si tukang Ojek yang terus mengoceh kesana-kemari berusaha untuk menggagalkan usaha saya nanjak ke Pantai Timang dengan Motor Matic. Dan...jrenggg...akhirnya motor saya berhasil melewati satu lubang dan mulai merangkak naik. Begitu melihat saya tak menggubrisnya, si tukang Ojek akhirnya pergi menjauhi saya *sudahlah pak, makhluk yang ada di depan anda sekarang ini punya Gen X Super, jadi tak perlu dianggap sebagai 'wanita' terlalu berlebihan begitu wkwkwk.

Dengan motor yang kondisinya prima dan skill mengemudi yang OK, Pantai Timang akhirnya bisa saya taklukkan dengan MOTOR MATIC!




Oh yah, begitu sampai di pantainya...saya sudah tidak berminat lagi naik Gondola ataupun nyebrang pake Jembatan ke Pulau Watu Panjangnya. Saya cuma ngliatin dari batu karang saja karena saya merasa itu bukan lagi tantangan yang tepat buat saya hahaha. Itu cuma mainan anak-anak hepi yayaya (peace). Adrenalin saya sudah keluar begitu dahsyat saat menanjak dengan Motor Matic sampai ke pantai ini (dan juga kembalinya).

Pantai Timang sendiri rasanya terlalu 'mahal' untuk backpacker seperti saya. Biaya naik Gondola Rp. 150.000. Biaya naik Jembatan Rp. 100.000. Belum lagi biaya Ojek/Jeep. Trus ya, pantai ini juga komersiil cuy. Hampir semua spot foto berbayar, antara Rp. 5.000 - Rp. 30.000. OMG, kalo saya mah ogah disuruh bayar lebih banyak lagi. Saya hanya mengeluarkan uang untuk bayar tiket masuk Rp. 5.000 dan biaya parkir motor Rp. 5.000 (seharusnya ini tidak perlu bayar, saya ketipu kayaknya).

Saat saya sampai lagi di bawah, beberapa tukang Ojek dan pemuda yang tadi melihat saya naik ke Pantai Timang dengan Motor Matic, tak lagi berteriak-teriak menawarkan jasanya. Ahai, mungkin dalam hati mereka mulai berdoa semoga ga ada lagi pengunjung bernyali seperti saya yang bisa bikin ladang duit mereka menyusut wkwkwk.

Wednesday, May 22, 2019

Light of Peace 2019 (Vesak Day) - Borobudur, 18 May 2019

Sudah lama sekali saya pengen ikutan nerbangin lampion saat Hari Waisak di Borobudur. Event ini masuk ke dalam salah satu 'A must to do list' di hidup saya. Meskipun saya bukan umat Budha, tapi saya tetap antusias untuk mengikuti acaranya.

Prosesi penerbangan lampion di Borobudur pun dikemas bukan hanya untuk umat Budha tetapi juga untuk umum. Karena itu, ketika saya mempunyai kesempatan untuk melakukannya, saya langsung mengemas ransel menuju Borobudur Magelang.




Tiket untuk penerbangan lampion bisa dibeli on the spot di Candi Mendut & Candi Borobudur seharga Rp. 100.000. Harus cepat-cepat saat hunting tiket ya, karena peserta penerbangan lampion di Borobudur selalu meningkat dari tahun ke tahun. Saya sendiri membeli tiket untuk penerbangan lampion di Candi Mendut sekitar jam 11 pagi agar tak kehabisan.

Di tahun 2019 ini, ada sekitar 5000 lampion yang diterbangkan di Borobudur. Penerbangan lampion dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama dimulai pukul 20:00 WIB dan sesi kedua dimulai pukul 22:00 WIB.

Saya mengikuti prosesi penerbangan lampion di sesi kedua dan beruntung sekali karena di sesi kedua ini seluruh peserta diberi kesempatan untuk menerbangkan lampion sebanyak dua kali! *Bonus euy!!

Oh ya, karena ini adalah rangkaian perayaan Hari Raya Waisak, peserta juga dihimbau untuk memakai pakaian yang sopan dan *kalau bisa* berwarna putih seperti dress code yang dipakai oleh umat Budha yang merayakan Waisak disana.


Sunday, May 12, 2019

Inspirasi Dak Rumah Minimalis dengan 4 Fungsi

Tonton videonya sebelum renovasi rumah. Siapa tahu terinspirasi untuk membuat dak rumah minimalis multifungsi seperti berikut ini...





Wednesday, May 01, 2019

Nyobain River Tubing di Ledok Amprong (Medium)...Seru, Menegangkan & Bikin NAGIHH!

Seminggu terakhir ini, dunia lagi demam Avengers: Endgame. Nah, berhubung saya bukan penggemar berat movie dan ga nonton film yang lagi happening ini, baiklah saya cerita tentang petualangan saya di Ledok Amprong saja hahaha.

Saya sudah naksir pengen river tubingan disini sejak beberapa tahun lalu dan akhirnya niat saya terlaksana juga hari Sabtu lalu, yay! Sabtu itu selesai acara ketemuan dengan teman saya di Pertapaan Gunung Karmel, saya mengarahkan motor matic saya ke Ledok Amprong. Saya hanya mengikuti petunjuk yang ada di Google Maps.




Perjalanan ke Ledok Amprong sungguh membuat saya takjub. Pemandangan alam yang disuguhkan Desa Gubukklakah, Kec. Poncokusumo ini memang indah. Hampir seluruh kiri dan kanan jalan dipenuhi tumbuh-tumbuhan hijau, ada kebun Apel yang sedang berbunga, pohon kelapa dan juga hutan pinus. Mendekati Ledok Amprong, jalanan yang semula beraspal berubah menjadi berbatu-batu. Nah, ini yang agak sulit. Jalanan berbatu-batunya agak ekstrim, naik turun bukit. Motor matic yang saya kendarai beberapa kali terguncang-guncang dan hampir tergelincir karena nubruk bebatuan.

Sampai di Ledok Amprong sudah hampir pukul 14:00 WIB. Keadaan sudah sepi dan mereka hampir berkemas-kemas tutup. Tapi demi seorang Angelina Kusuma (ceileh), mereka tetap melayani saya untuk menikmati aliran sungai Amprong yang kesohor itu hahaha.

Saya dikawal oleh 3 bodyguards (alah!). Jadi ya, sore itu saya berasa lagi private river tubing di Ledok Amprong. 3 crew yang menyertai saya berperan sebagai penjaga depan, penjaga belakang dan tukang foto (hihihi istimewa sekali pelayanannya untuk saya yang keren ini #plak).

Saya memilih river tubing dengan jarak Medium karena waktu. Jarak Medium biayanya Rp. 70.000/orang dan menempuh jarak sekitar 1,2 km.

Seruuu sekali river tubingnya...arus deras yang ada dibawah ban saya seakan membuat saya makin bersemangat. Ditambah lagi ketiga crew yang menyertai saya sore itu begitu sigap mengarahkan ban saya agar bisa mengikuti aliran arus sungai yang menantang.

Arrgghhh, lain kali kudu nyoba river tubing lagi yang jarak Long nih!

Rincian harga river tubing di Ledok Amprong :
- Jarak Short (800 m) = Rp. 50.000/orang (teh panas)
- Jarak Medium (1,2 km) = Rp. 70.000/orang (soft drink + snack)
- Jarak Long (2,5 km) = Rp. 120.000/orang (soft drink + snack + makan)

Harga diatas all in include peralatan tubing, life jacket, helm, crew yang mengawal selama river tubing berlangsung dan dokumentasi (dengan menggunakan HP/kamera pribadi peserta).

Ah ya, saat saya river tubingan disini...ketemu deh dengan beberapa bidadari yang lagi mandi. Ahai, kalian para cowok-cowok pasti jadi ga sabar buat kesini, yekan? *Lihat aja detail video saya, itu kurekam juga para bidadari yang lagi mandinya hihihi.

Salam backpack-adventure!