Friday, December 18, 2020

Indahnya Pemandangan dari Bukit Berselimut Kaktus Ini...

Hi, I'm back to the adventure world 😂. Fix, selama pandemi covid19 ini berlangsung, aku jadi jarang banget petualangan. Bukan cuma gara-gara ada PSBB sana sini situ, tapi juga gara-gara duitnya ikutan menipis karena jobnya jadi berkurang bo' wkwkwk.

Anyway, hari ini aku bisa petualangan lagi! Ahai, akhirnya nemu tempat yang OK buat ngademin pikiran yang juga ga jauh dari rumah. Cukup dengan naik sepeda 15 menit dari rumah bisa sampai ke tempat ini nih.

Namanya Bukit Srandil. Bukit ini unik, hampir seluruh bagian bukit diselimuti kaktus. Iya, tumbuhan berduri itu lho. Jalan mendakinya sudah bagus dan mudah dilalui oleh pengunjung yang bukan pendaki.

Diatas bukit ada sebuah gardu pandang. Dari gardu pandang ini pemandangannya indah banget. Bukit Cumbri dan area persawahan juga terlihat dari sini.

Penasaran kan? Yuk ikuti petualanganku hari ini di Bukit Srandil Ponorogo 🤘




Thursday, November 26, 2020

Ide Wirausaha: Meraup Untung dari Gagal Mudik

Masa pandemi covid19 membuat banyak org sulit mudik. Ini masalah, dan masalah adalah ladang bagi para wirausaha untuk menciptakan uang dari masalah tersebut.

Yuk simak ide wirausaha yg kali ini terinspirasi dr Gagal Mudik!




Friday, October 09, 2020

Pertama di Indonesia -- Rak Bawang Model KNOCKDOWN yang Bisa Dibongkar-Pasang

Pertama di Indonesia! Kini telah hadir Rak Bawang Model Knockdown yang bisa dibongkar-pasang. Sangat praktis, ekonomis dan bisa dikirim kemana saja...





Rak Bawang ini juga kokoh, multifungsi dan stylist. Bisa dipakai untuk tempat bumbu dapur (bang merah, bawang putih, bawang bombay, cabai, dll), empon-empon (serai, jahe, laos, kunir, dll), telur, sayuran, buah, snack/jajan sampai umbi-umbian (kentang, ketela dll).

Setiap pembelian Rak Bawang Knockdown, kamu akan mendapatkan: - Module Rangka Besi - Mur Baut - Anyaman Bambu



Wednesday, July 29, 2020

Modal Rp. 50.000 Makan Enak di Sekitar Pasar Gede Solo

Hello travellers, I'm back! Yea, saya kembali ke Solo lagi untuk berburu berbagai kuliner khas yg nikmat di kota ini. Sama seperti pengalaman yg pertama lalu (pengalaman pertama berburu kuliner khas Solo dng modal Rp. 50.000 bisa dilihat disini: https://youtu.be/aTM40J5JtbM), kali ini saya jg membatasi modal saya hanya Rp. 50.000 saja. Nah, dapat apa saja kali ini dng uang segitu di Solo? Let's go...


1. Timlo Sastro 1
Pernah denger group parodi Timlo di TV? Iyap, mereka menunjukkan kota asal mereka, yaitu Solo! Timlo merupakan salah satu makanan khas Solo yg tak boleh dilewatkan. Bentuknya berupa sup berisi sosis Solo, telur dan ati ampela.

Pertama-tama saya menapakkan kaki di Pasar Gede Solo. Berhubung Timlo Sastro yg melegenda letaknya sudah tak disana lagi, maka saya berjalan kaki dari Pasar Gede ke lokasi Timlo Sastro 1 yg baru di Jl. Abdul Muis. Enggak jauh sih, sekitar 15 menit saja jalan kaki. Itung-itung olahraga, yekan?

Saya memesan Timlo Komplit seharga Rp. 22.000. Pengunjung jg bisa memesan Timlo dng isian yg lebih khusus, seperti Telur saja atau Ati Ampela. Harganya lebih murah pula kalo selain Timlo Komplit...

2. Mie Pinangsia
Dari Timlo Sastro 1, saya kembali berjalan kaki ke Pasar Gede. Selanjutnya saya menuju Mie Pinangsia yg berlokasi di bangunan sebelah Utara Pasar Besar.

As note, ini makanan non halal ya. Di salah satu sudut warung sudah ada tulisan besar-besar, "Non Halal", jadi yg ga bisa makan babi jangan nekad haha.

Disini saya memesan semangkuk Mie Kuah seharga Rp. 18.000. Wah, rasanya mantap. Mienya kenyal, kuahnya gurih, taburan daging babinya lezat. Cuma kalo mau makan disini kudu sabar. Yg ngantri pesan banyakkk.

3. Gempol Pleret Bu Wiji
Setelah menyelesaikan semangkuk mie kuah, saya bergerak ke gedung Pasar Gede bagian Selatan. Dari pintu masuk, setelah deretan kios buah...disanalah saya mencari minum haha.

Saya memesan semangkuk Gempol Pleret dilapaknya Bu Wiji. Harganya murah, cuma Rp. 8.000. Rasanya legit dicampur gurih dari pleretnya. Tekstur gempolnya jg kenyal dan padat. So yummy...

Jadi total saya menghabiskan Rp. 48.000 saja di sesi perburuan kuliner khas Solo kali kedua ini. Kenyangnya dapat, hepinya dapat, ringan dikantong pula. See you again and enjoy Solo.

Tuesday, June 30, 2020

Rp. 50.000 Bisa Makan Apa Saja di Pasar Gede Solo?

Hari ini saya melangkahkan kaki dengan mantap ke Pasar Gede untuk berburu berbagai kuliner khas Kota Solo.

Dengan bermodal Rp. 50.000 saja, saya bisa memanjakan lidah dan perut saya dengan aneka panganan yg enak-enak ini...


1. Lenjongan Yu Sum
Kuliner tradisional ini wajib kamu cicipi saat di Solo. Isinya berupa campuran antara gethuk, ketan hitam, cenil dan teman-temannya yg disiram parutan kelapa dan kuah gula merah. Wuah, pokoknya nikmat! Harganya cuma Rp. 5.000 saja.

2. Dawet Telasih Bu Dermi
This is the most famous Dawet di Pasar Gede. Saya pikir rasa Dawetnya sama kayak Dawet Jawa Timuran. Tapi ternyata beda. Sumpah, yg ini lebih enak #ops! Isi Dawet Telasih ada cendol, jenang sumsum, ketan hitam, dipadu dng santan kelapa, kuah gula merah dan selasih. Harganya memang agak mahal untuk ukuran Dawet, tapi sepadanlah dengan rasanya. Saya menghabiskan Rp. 10.000 untuk semangkuk Dawet Telasih.

3. Cabuk Rambak
Mendengar namanya saja sudah membuat rasa keinginan-tahu saya menggelora haha. Akhirnya saya memutari pasar demi mencari penjual Cabuk Rambak dan beruntung...ketemu! Cabuk Rambak ternyata isinya ketupat yg disiram saus wijen dan ditambah kerupuk rambak. Rasanya unik dilidah saya. Ada nuansa sedikit manis dari saus wijennya. Harganya juga murahhhh, Rp. 5.000 saja sudah kenyang.

4. Babi Kuah Toko Podjok
My last adventure for today is...Babi Kuah! Ahai, rasanya luar biasa mantull. Yg jual cuma pakai rombong kecil didepan Toko Podjok. Jam bukanya mulai pukul 09.30 sampai habis. Tapi usahakan datang kesini sebelum jam 13.00 ya, karena kabarnya jam segitu sudah habis. Harga seporsi Babi Kuah Campur Rp. 15.000. Ada didehnya juga (darah), tapi saya ga doyan haha. Kalo mau order bagian tertentu saja juga bisa. Saya perhatikan ada pembeli yg order 10 ribuan bagian buntut aja, ada pula yg order samcan aja, etc. Pokoknya penggemar babi akan terpuaskan disini hihihi *maaf buat teman-teman yg tidak bisa makan makanan yg satu ini...

Jangan lupa untuk selalu pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak saat travelling di masa New Normal ini ya gaes. As note, di beberapa sudut Pasar Gede Solo ini sudah tersedia tempat cuci tangan yg bisa digerakkan dng kaki. Jadi kamu bisa sering-sering cuci tangan disini tanpa takut menyentuh kran airnya. Disediakan sabun juga kok... Enjoy Solo!


Friday, June 19, 2020

2 Jam di Kota Solo Bisa Kemana Aja?

Hello travellers... Kita sudah masuk era new normal nih. Siap jalan-jalan lagi? Tetap patuhi setiap protokol kesehatan agar jalan-jalannya seru ya...

Kali saya mau share tentang pengalaman saya solo cycling di Kota Solo. Saya memilih bersepeda sendirian mengingat saat ini kita masih harus waspada terhadap pandemi Covid19. Jadi saya tetap menerapkan social distancing dalam acara jalan-jalan saya sekaligus olahraga dan go green dong.




1. Benteng Vastenburg
Tempat pertama yg saya singgahi adalah benteng ini. Benteng Vastenburg dibangun tahun 1745 dan masih kokoh berdiri hingga sekarang.

2. Keraton Kasunanan
Belum ke Solo katanya kalo belum mengunjungi ikon yg satu ini, yup Keraton Kasunanan yg bangunannya didominasi oleh warna cat putih dan biru mudanya.

3. Baluwarti
Wah ini dia nih, kampung wisata didalam area  keraton yg juga menarik untuk dieksplore. Saya menemukan sebuah rumah joglo besar yg cantik dan dicat serba putih disana.

4. Jl. Gatot Subroto
Disepanjang jalan Gatot Subroto, banyak terdapat mural-mural cantik karya seniman Solo. Mural-mural ini menghiasi tembok-tembok kosong sampai pintu-pintu toko. Wow, seru deh foto-foto disini. Ada muralnya Bapak Jokowi yg ikonik juga disini. Kalo belum kesampaian foto sama Pak Presiden, ya foto aja sama muralnya dulu haha.

5. Pasar Triwindu
Pasar ini terkenal sebagai pusat barang-barang antik dengan harga miring. Nah, buat kamu yg ingin belanja oleh-oleh khas Solo yg klasik, datengi aja Pasar Triwindu ini. Seru juga lho foto-foto disini. Background-nya jadul, retro berkelas.

6. Rutan Solo
Heh yg bener? Iya bener, yg saya maksud disini Rutan... Rumah Tahanan Kelas 1 di Surakarta! Tapi jangan dibayangin bentuk rutan yg serem ya. Rutan Solo ini cantik. Bagian depannya sudah disulap oleh para seniman Solo hingga menjadi tempat kekinian buat nongkrong dan foto-foto selfie. Saat saya kesini, banyak anak-anak muda yg lagi photo session juga.

7. Pasar Gede
Pasar Gede menjadi destinasi akhir saya kali ini. Disini banyak kuliner khas Solo dengan harga terjangkau.

Saya membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk mengunjungi tempat-tempat wisata diatas dengan sepeda. Saya membawa air minum sendiri dan menjaga jarak dengan orang lain selama wisata singkat di Kota Solo.

Nah, tertarik untuk bergowes ria di Kota Solo weekend depan? Happy traveling and stay healthy.

Friday, June 12, 2020

Itinerary 1 Day to Muine & Dalat, Vietnam from HCMC

Vietnam adalah negara termurah di dunia yg bisa kamu kunjungi jika kamu ingin melihat gurun asli.

Yea, Rupiah perkasa di Vietnam. So, kamu bisa dengan mudah menjelajah negeri ini tanpa takut kantong kering.


Di Muine, kamu bisa menemukan 2 gurun terkenal yaitu White Sand Dunes dan Red Sand Dunes. Perjalanan dari HCMC ke Muine bisa ditempuh dengan overnight sleeper bus. Bus-nya cukup nyaman, penumpang bisa rebahan sepanjang perjalanan.

Saya menyewa private jeep dari Muine ke White Sand Dunes. Enggak sempet ke Red Sand Dunes dan destinasi menarik lainnya di Muine karena jadwal pesawat saya dari Dalat ke Hanoi dirubah pihak Vietjet. Jadi saya hanya bisa mengunjungi 1 destinasi saja di Muine. Padahal kota ini lebih keren daripada HCMC. Jika kamu punya waktu, sempatkan untuk stay di Muine 2-3 hari. Disini juga ada pantai dan budaya setempat yg menarik untuk di explore.

Perjalanan dari Muine ke Dalat bisa ditempuh dengan bus. Kamu harus hati-hati dengan jadwal bus. Bus dari Muine ke Dalat hanya berangkat 2 kali sehari, pagi dan siang. Pastikan kamu dapat seat dan tidak ketinggalan.

Di Dalat saya juga hanya sempat mengunjungi 1 destinasi, yaitu Xuan Huong Lake yg letaknya tak jauh dari bus terminal. As note, Dalat terkenal sebagai kota bunganya Vietnam. Kalo kamu suka bunga, doyan selfie dan fotografi, kota ini pasti akan membuatmu betah. Dalat sendiri lebih terkesan Eropanya daripada Vietnam. Banyak bangunan-bangunan yg arsitekturnya cenderung ke Barat disini.

Wednesday, April 29, 2020

Itinerary Phnom Penh 2D1N

Cambodia punya banyak bangunan-bangunan yang luar biasa menarik menurut saya. Selain Angkor Wat di Siem Reap yang sukses membuat takjub dunia, di Phnom Penh juga bertebaran bangunan-bangunan yang eksotis.

Saya menyewa Tuk-tuk untuk berkeliling kota Phnom Penh selama 2 hari dan berikut ini adalah itinerary saya...




Day 1
1. Hunting Dinner
2. Mekong Riverside

Day 2
1. Wat Phnom
2. Mekong Riverside
3. Wat Ounalom Monastery
4. National Museum of Cambodia
5. Royal Palace
6. Monk's Residence

Berhati-hatilah saat traveling di Cambodia. Banyak scam di negara ini. Saya masuk ke Cambodia melalui border Thailand (via darat) dan hampir dipalak 100 Baht di kantor imigrasi. Tapi saya bisa menghalau petugasnya dengan ngeyel keras, karena WNI memang free visa untuk masuk ke Cambodia.

Semangat traveling ke Cambodia teman-teman :).

Thursday, April 23, 2020

Bangunan Kuno Berusia 200 Tahun, Bukti Cinta Sejati Pria Cina dan Putri Jawa Lasem

Saat menjelajahi rumah ini, mendadak mataku tertegun ketika melihat 2 buah foto yang ada ditengah-tengah puluhan foto lainnya. Mataku masih bisa melihat adanya perbedaan suku antara kedua foto itu. Yang pria jelas punya garis darah Cina karena matanya sipit dan yang wanita jelas sekali terlihat wajah Jawanya.




Akhirnya aku menemukan jawabannya di Google haha. Yea, rumah ini didirikan oleh Oei Am th 1818. Oei Am berasal dari Cina. Ia mendarat di Lasem th 1813 kemudian menikahi putri Jawa Lasem yang pandai menari dan membatik. Tak dijelaskan siapa nama asli dari putri Jawa Lasem itu. Namanya berubah menjadi Tjioe Nio setelah dinikahi Oei Am.

Oei Am sendiri meninggal di usia yang cukup muda, baru 40th. Ia punya 2 orang anak dari pernikahannya dengan Tjioe Nio. Roemah Oei saat ini berfungsi sebagai cafe dan homestay.  Di cafenya, pengunjung bisa belajar sejarah sekaligus menikmati kuliner khas Lasem seperti Soto Kemiri, Kopi Lelet dan Yopia.

Friday, April 03, 2020

Itinerary George Town Penang 2 Days 1 Night

Aku punya kebiasaan agak unik saat traveling ke luar negeri. Aku jarang hanya explore 1 negara. Biasanya aku akan explore 2 atau lebih negara sekali trip. Negara yang kupakai sebagai pintu gerbang adalah Singapore dan Malaysia. Yeah, ada beberapa maskapai yang menawarkan penerbangan dengan harga terjangkau dari 2 negara tersebut, makanya aku suka explore kedua negara itu sekaligus ke negara utama yang kutuju.

Trip kali ini aku menyasar 4 negara: Malaysia, Thailand, Cambodia dan Vietnam. Aku terbang dari Surabaya langsung ke Penang, Malaysia setelah mendapatkan tiket pesawat PP sekitar 500 ribuan haha. Perjalanan ke tiga negara berikutnya kutempuh melalui perjalanan darat by bus. Jadi ya, aku merayap dari Penang, Malaysia ke Hatyai, Thailand kemudian ke Bangkok, Thailand trus bla bla bla sampai ke ujung Hanoi, Vietnam trus baru deh aku terbang balik ke Penang, Malaysia dan kembali ke Tanah Air.

Setibanya di Penang, Malaysia, aku langsung menuju George Town. Aku suka segala sesuatu yang berbau heritage, jadilah kujelajahi kota ini sebagai destinasi pertamaku di trip ini. Menarik, sekilas tata kota George Town mirip dengan Singapore. Di kota ini isinya ada peranakan Melayu, China dan India. Ada satu gang jalan yang juga diberi nama Little India, mirip yang ada di Singapore. Beberapa bangunan juga terkesan mirip Chinatown-nya Singapore.

Nah, ini dia itinerary-ku selama 2 hari 1 malam di George Town, Penang, Malaysia. Enjoy it.




Day 1:
- Love Lane
- Little India
- Masjid Kapitan Keling
- Char Kway Teow

Day 2:
- Tokong Han Jiang
- Lebuh Ah Quee
- Lebuh Armenian
- Teochew Chendul & Nasi Lemak


Thursday, March 26, 2020

Itinerary 1 Day to Fenchihu & Alishan

This is my main reason why I travel to Taiwan. Yes, ALISHAN!

Untuk mencapainya harus melalui drama super menegangkan dulu haha. Aku hampir putus asa dan mencoret Alishan dari daftar yang ingin kukunjungi di Taiwan.




Kisahnya begini...

Sejak pertama kali menginjakan kaki di Taiwan sampai hari ke 4, itinerary yang kubuat berjalan lancar tanpa hambatan. Hari pertama aku ke Yangmingshan lewat Qingtiangang Grassland. Hari kedua aku ke Taroko Gorge National Park, join ke 1 day tour Klook. Hari ketiga aku join lagi ke 1 day tour-nya Klook ke Yehliu, Shifen, Jiufen, dll. Hari ke empat city tour di seputar Taipei saja... Then hari ke lima, pagi-pagi sekali aku mendaki Xiangshan trus siangan dikit kembali ke Yangmingshan (niat ngebantai gunung-gunung di Taiwan tenan kok haha) lewat Lengshuikeng.

Kemudian drama dimulai... Sepulang dari Lengshuikeng, aku ngambil ransel dari penginapan (udah check out dulu siangnya) trus nyari tempat makan yang sudah ku-book lewat Klook. Tempatnya ga jauh dari Ximen Station, tapi ya tetep aja makan waktu untuk mencapainya dari penginapanku. Dan gara-gara kelamaan nyari tempat inilah, aku sampai kehabisan tiket bus dari Taipei ke Alishan. Ah, ketambahan pula ternyata makanan yang kupesan itu *Eh minuman ding...ternyata adalah Kembang Tahu yang ditambah Kacang Hijau. Huhu enak sih, tapi sama aja kayak menu yang kucicipi kemarin waktu di Jiufen Old Street haha *Gini nih akibatnya kalo asal pesan karena ga tahu bahasa #nyengir.

Aku sampai di Taipei Bus Terminal dengan perjuangan. Informasi di internet, ada overnight bus langsung dari Taipei ke Alishan yang dioperasikan oleh Kuo-Kuang Bus. Bus ini hanya berangkat pukul 8:45 pm dan 9:45 pm dari Taipei setiap hari Jumat dan Sabtu (jadwal kembalinya dari Alishan ke Taipei hari Sabtu dan Minggu). Nah, hari itu bertepatan dengan hari Jumat malam dan kedua jadwal bus ke Alishan sudah full semua. Duh, kakiku lemas seketika. Mana aku sudah tak ada penginapan untuk malam itu karena sesuai itinerary-ku, aku keesokan harinya sudah ada di Alishan dan akan menginap di Chiayi sepulang dari Alishan.

Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya kuputuskan untuk menempuh perjalanan dari Taipei ke Chiayi. Beruntung, bus yang kunaiki dari Taipei ke Chiayi ada free Wi-Fi-nya jadi aku bisa kirim message ke penginapanku di Chiayi untuk memajukan jadwal bermalamku. Namun sayangnya...tak ada balasan dari owner-nya. Hedeh, sepanjang perjalanan aku galau haha.

Menjelang sampai di Chiayi, cewek disebelahku bangun *Ini yang sangat kukagumi dari orang-orang Taiwan. Mereka kalo naik bus ato kereta bisa cepat tidur dan ngepas bangun sebelum sampai di tempat yang dituju lho. Mirip dengan orang-orang Jepang. Mumpung si cewek bangun, akhirnya aku bertanya kepadanya dimana letak penginapanku. Ah, tet tot...ternyata cewek itu ga bisa bahasa Inggris. Alamak, usianya masih muda gini ga bisa Inggris...gosong deh eike mbok. Di Taipei aja aku udah mabok gara-gara susah nyari orang yang ngerti Inggris, kayaknya bakal semakin repot nih begitu masuk lagi ke pedalaman seperti Chiayi gini.

Tapi baiknya, si cewek itu meski ga ngerti Inggris tapi dia narik tanganku sampai keluar terminal. Ternyata dia tahu ancer-ancer penginapanku setelah lihat Google Maps dan dia nyuruh ibunya (menjemputnya di depan terminal) yang bawa sepeda motor nganter aku sampai sana. Wow, aku terkesan! Aku diturunkan di depan hotel sama si ibu (bukan penginapanku). Setelah aku mengucapkan Xie-xie, si ibu pergi dan sekarang aku berhadapan dengan para staff hotel! Hoff, kujelaskan ke mereka kalo aku bukannya ingin menginap disitu, tapi aku sedang mencari penginapanku yang letaknya tak jauh dari situ. Untungnya para staff hotel baik. Mereka ikut bantu aku mencari tempat penginapanku yang absurb itu haha. Ada yang sampai mengantarku muter-muter di gang ga jelas ngikuti Google Maps.

Akhirnya sampailah aku di sebuah rumah jorok. Astaga, ini mah bukan penginapan. Seumur hidup ngetrip, baru kali ini aku kecewa dengan pilihan penginapan lewat aplikasi online. Mau kubatalkan tapi aku sangat terkendala dengan bahasa. Yang kuajak ngobrol rata-rata ga ngerti Inggris. Damn! No internet pula *Di Taipei aku selalu dapat free Wi-Fi, di Chiayi nihil! No free internet here.

Bayangin ya, aku cewek jalan sendirian di negara asing, bawa tas carrier seberat 8 kg, jam 9 malam pula...dan tak ada yang ngerti bahasa Inggrisku. Pengen nangis garuk-garuk aspal rasane. Seorang wanita dari salon dekat 'penginapanku' akhirnya membantuku. Beliau ngerti Inggris sedikit-sedikit dan dia menyarankan aku untuk pindah ke homestay tak jauh dari situ karena rumah itu tak layak untuk seorang turis sepertiku. Aku setuju! Aku mau pindah...eh mendadak owner rumahnya bangun. Bah, macam dipaksa masuk ke lubang buaya aku ini. Baiklah, akhirnya aku ikut si nenek-nenek dengan bahasanya masuk ke rumahnya yang super jorok *Jujur baru kali ini aku masuk ke tempat jorok di Taiwan. Biasanya tempat-tempat yang kumasuki selalu bersih, rapi dan wangi. Ini ga banget!

Aku bayar penginapan sebesar yang tertera di aplikasi online kemudian si nenek mempersilahkan aku masuk ke kamar yang sudah terisi 2 orang. Ampun Tuhan...everything at this house is look like a hell for me. Jorok dan bau. Mana 2 wanita yang sudah tidur di dalam ruanganku mendengkur keras pula. Aku mandi (untungnya shower-nya ada air panas) kemudian berusaha tidur sebisaku. Aku mungkin hanya tidur 4 jam malam itu, kemudian keesokan harinya pagi-pagi sekali aku bangun dan keluar kamar penginapan mencari si nenek untuk bilang kalo aku check out. Saat aku sedang turun tangga, tiba-tiba ada engkoh-engkoh berlari kearahku. Beliau mengenalkan diri sebagai owner sebenarnya (ternyata si nenek itu ibunya) dan memberiku free tumpangan ke stasiun kereta api. Aku bisa sedikit bernafas lega. Paling tidak, dari sekian daftar negatif dari penginapanku semalam, masih ada positifnya juga. Si engkoh itu nganterin aku pake motor sampai ke stasiun kereta api, beneran gratis tis tis.

Sesampai di stasiun kereta api, aku beli bento di 7eleven dulu karena counter tiket kereta ke Alishan belum buka. Meski bento yang kupesan rasanya enak, tapi tubuhku rasanya masih ngambang haha. Selesai sarapan, aku langsung berdiri didepan counter tiket kereta. Disana kusempatkan untuk ngrobrol dengan orang setempat yang juga ikut mengantri. Seorang om-om membantuku memberi informasi yang lagi-lagi kurang enak! Ternyata ga ada kereta api dari Chiayi ke Alishan. Yang ada adalah kereta yang sampai ke Fenchihu saja. Alamak, dua kali kakiku lemas. Dari Fenchihu ke Alishan bisa naik bus, tapi si om itu bilang waktunya ga akan cukup. Solusinya beliau kasih saran agar aku explore Fenchihu saja dan kembali lagi ke Chiayi ato menginap di Fenchihu dan ke Alishan keesokan harinya. Wadoh, buyar semua itinerary-ku!

Aku naik kereta ke Fenchihu tanpa semangat. Tujuanku kesini cuma satu, redeem makan siang yang sudah ku book lewat Klook haha. Tipis emang harapanku untuk sampai ke Alishan hari itu juga. Semua buyar karena aku tak dapat tiket overnight bus dari Taipei ke Alishan. Sesampai di Fenchihu, aku langsung mencari tempat lunchbox yang kupesan. Dibantu oleh beberapa orang yang ga ngerti Inggris, puji Tuhan sampai juga aku di tujuan haha. Aku agak terhibur dengan makan siangku. Enak banget pork-nya! Aslinya aku sudah tak berniat melanjutkan perjalanan ke Alishan setelah makan. Aku muter kesana-kemari, lihat museum kereta api tua di Fenchihu trus ketemu sesama solo backpacker cewek dari India. Dia bilang dia mau menginap di Fenchihu dan meneruskan perjalanan ke Alishan keesokan harinya. Harga penginapan di Fenchihu mencapai NT$1000 yang tak mungkin kubayar dengan uangku. Aiss, ga perlu tanya rasanya hatiku kayak apa ya. Yang jelas aku udah diujung tanduk nih antara hidup dan pingsan cielahhh.

Ditengah keputus-asaan, aku melihat tanda terminal bus. Aku berjalan menuju kesana dengan sempoyongan. Waktu kulihat jadwal bus, mendadak ada sedikit harapan muncul seketika. Ada bus menuju Alishan pukul 13.00. Oh okay, aku menunggu disini...

Saat aku menunggu bus, ada 3 orang dari Thailand datang kearahku. Mereka bilang juga akan ke Alishan dan ditawari mobil sewaan untuk kesana. Mereka ngajak akau patungan harga. Tapi kemahalan kalo aku disuruh bayar NT$500. Then...sekonyong-konyongnya, ada 6 orang dari Vietnam datang! Mereka juga sedang menunggu bus ke Alishan. Setelah kami semua berembuk, akhirnya kami putuskan untuk menyewa mobil untuk ke Alishan. 3 orang Thailand, 6 orang Vietnam & 1 orang Indonesia. Yeah, per orang bayar NT$200 dan perjalanan dari Fenchihu ke Alishan dengan mobil hanya perlu 1 jam. Yuhu...I'm super lucky! Finally aku bisa menginjakan kaki di Alishan! 3 orang Thailand turun di hotel yang mereka pesan dan aku bergabung dengan 6 orang Vietnam explore Alishan.

Di Alishan, kami memutuskan untuk mengambil rute termudah dan tercepat yaitu Zhaoping. Kami naik kereta dari Alishan ke Chaoping Railway Station kemudian berjalan kaki menuju Sisters Ponds, Shoujhen Temple, Sacred Tree and the last: Alishan City of Clouds. Rasanya aku kayak mimpi saat aku memandangi matahari yang hampir tenggelam di spot City of Clouds. Hanya karena kemurahan Tuhan aku ga jadi ilang di Taiwan. Thanks God.

Aku ikut rombongan 6 orang Vietnam itu untuk kembali ke Taichung langsung. Kupikir, it's better to stay di Taichung yang agak modern daripada Chiayi. Kami naik bus terakhir ke Taichung dari Alishan Transport Station ke Chiayi Train Station kemudian naik HSR ke Taichung. Ke 6 teman baruku ini sangat membantuku. Mereka juga yang membantu memesan tiket HSR dan memastikan aku sampai dengan selamat di Taichung. I'm so grateful to them. Sesampainya di Taichung Station dan setelah berpisah dengan ke 6 orang Vietnam itu, aku book penginapan lewat aplikasi online dan bersyukur, malam itu aku dapat hostel backpacker yang cukup keren sehingga aku bisa memejamkan mata dengan nyenyak dan melupakan drama horor kemarin malam haha.

Wednesday, March 25, 2020

Itinerary 1 Day City Tour in Taipei

Hari ke empat di Taipei kuhabiskan untuk city tour dan hunting makanan Taiwan. Hari pertama tiba disini sampai hari ketiga sudah full adventure soalnya, so...mari kita sedikit mengendorkan urat saraf dan memenuhi si kampung tengah yang juga menuntut untuk diisi dengan yang enak-enak. Kebetulan hari itu prakiraan cuaca di Accuweather ga begitu cerah, jadi aku sengaja pilih city tour trip. Kebetulan juga ada temen dari Ponorogo yang kerja disana pengen ngajak ketemuan, jadilah hari itu kami muter-muter kota pake bus dan juga banyak jalan kaki dari satu destinasi ke destinasi lainnya.

Pertama-tama kami mengunjungi Huashan 1914 Creative Park. Sesuai dengan namanya, disini banyak hal-hal unik dan kreatif karya masyarakat Taiwan di taman ini. Selesai mengelilingi Huashan 1914 Creative Park, kami nyebrang jalan cari food stall untuk makan siang. Jangan tanya namanya satu per satu, aku ga inget sama sekali haha. Pokoknya siang itu aku minta dipilihin menu berbau pork semua sama temenku *Mumpung di Taiwan gitu lho, kalo balik lagi di Ponorogo ya susah deh cari menu pork. Yang kuinget satu, minuman Mango Juice-nya enaknya super! Sungguhan deh, beda sama Jus Mangga yang ada di Indonesia. Rasanya tuh bener-bener manis dan segar.

Selesai makan siang, kami kemudian menuju Chiang Kai-shek Memorial Hall. Yeaa, katanya belum ke Taiwan kalo belum mengunjungi tempat ini. Kalo kamu jeli, hampir disetiap tempat wisata di Taiwan pasti ada patung Chiang Kai-shek. Menurut sejarahnya, beliau ini pemimpin pertama di Taiwan makanya masyarakat sana sangat mengagungkannya sampai dibuatkan memorial hall.




Dari Chiang Kai-shek Memorial Hall kami berjalan kaki ke Presidential Office Building. Tapi ops, rupanya pengunjung ga boleh lama-lama berhenti di area ini. Waktu aku asyik ambil foto-foto, datanglah itu si babang-babang berseragam militer bawa senjata laras panjang nyuruh eike segera pergi pake bahasa Jawa, eh bahasa sono ding... Tanpa perlu diterjemahkan Google Translate-pun, aku segera angkat kaki dari depan Presidential Office Building. Takut di dorr! *Kalo 'ditembak' babang tamvan mah mau, lha kalo kalo ditembak pake senjata beneran ya ga mau dong... Eike belum mau mati, belum nikah...eh, belum sampai keliling dunia seluruhnya haha #MendadakError

Destinasi kami yang terakhir hari itu adalah Xi-Men Walker! Ahai, tempat ini sebenarnya dekat dengan penginapanku, tapi aku malas gerak hari-hari kemarin. Begitu sampai disini, langsung deh itu jajaran food stall ada dimana-mana menawarkan bau-bau aneka makanan yang sukses bikin perutku meronta-ronta minta diisi lagi. Aku penasaran dengan Stinky Tofu yang katanya famous di Taiwan. Tapi begitu kucicipi, ternyata rasanya masih enakan Tahu Petis di Indonesia haha *Maaf, kayaknya ekspektasiku terlalu berlebihan untuk jenis makanan ini. Trus nyobain juga Es Krim Taiwan yang wuidihhh...uenakkk tenan. Kembang Tahunya juga enak. Rasanya beda dengan Kembang Tahu yang ada di Indonesia. Overall, hari itu aku puas city tour di Taipei *Perutku yang puas maksudnya haha.

Tuesday, March 24, 2020

Itinerary 1 Day to Yehliu, Yin Yang Sea, Golden Waterfall, Jiufen, Shifen & Pingxi from Ximending

Tripku kali ini 'menang' banyak! Hanya dengan membayar sekitar 350 ribuan lewat aplikasi Klook, aku bisa menginjak 6 destinasi sekaligus di Taiwan tanpa banyak kerja keras haha. Setelah membandingkan harga trip lewat tour dan harga backpacker, akhirnya kuputuskan untuk bergabung ke 1 Day Tour by Klook untuk menjelajah Yehliu, Jiufen dan Shifen yang terkenal itu.




Aku memilih tour yang berangkat dari Ximen Station karena letak titik kumpulnya hanya berjarak 500 meter dari tempatku menginap di Ximending. Rombongan tour berangkat dari Ximen Station dengan menggunakan mini bus khusus dari Klook sekitar pukul 8 pagi. Destinasi yang kubidik awalnya hanya Yehliu, Jiufen dan Shifen. Tapi ternyata tour ini juga mengunjungi Yin Yang Sea, Golden Waterfall dan Pingxi Sky Lantern. Wow, mengesankan! Meskipun aku harus lari-larian mengejar jadwal tour yang super padat *Hampir tertinggal bus saat di Jiufen Old Street haha.

Yang menjadi tour leader-ku hari itu namanya Terry. Dia pernah tinggal di Jakarta selama beberapa tahun dan bisa berbahasa Indonesia meski logatnya terdengar kaku di telingaku. Tour yang kupesan sudah termasuk harga tiket masuk ke Yehliu dan snack berupa Chicken Rice + Peanut Ice Cream yang enaknya luar biasa *Masih kebayang sampai hari ini lho hihi. Lewat tour ini juga bisa pesan lampion untuk diterbangkan di Pingxi Sky Lantern. Tapi aku memilih untuk tidak pesan lampion karena buatku lebih enjoy menikmati jalan-jalan dan makannya saja *Aku sudah pernah nerbangin lampion di Candi Borobudur dan bentuk lampionnya ya mirip-mirip itulah, cuma kalo di Taiwan lampionnya warna-warni.

How To Travel in Taiwan by Bus for FREE

Kabar gembira buat para backpacker berduit cekak yang ingin explore Taiwan, negara ini punya fasilitas yang bisa meringankan pengeluaranmu selama disana.

Di kota-kota modern seperti Taipei, Taoyuan dan Taichung, banyak bertebaran bus-bus dengan tarif NT$ 0.00! Jadi kamu bisa muterin kota sampai gempor for free!




Awalnya kupikir Taiwan mirip Jepang yang transportasinya mihil. Tapi ternyata nope... Aku baru nyadar waktu search rute di Google Maps dan nemu rute bus yang tarifnya 0. Waktu kunaiki, eh bener-bener ga motong saldo di Easy Card ku. Haha gara-gara temuan jenius itulah, akhirnya aku sering cari rute bus yang bertarif zero selama di Taiwan. Lumayan menghemat recehan dollars hihi.


Sunday, March 22, 2020

Taichung to Taoyuan by Taiwan High Speed Rail | Ticket by Klook

Aku udah beberapa kali nyoba Shinkansen di Jepang. Nah, waktu ke Taiwan penasaran juga dong pengen nyoba kereta cepat versi sana.

Kalo di Taiwan, nyebutnya THSR alias Taiwan High Speed Rail. Keretanya mirip Shinkansen Jepang sih. Cuma station nya lebih sederhana.




Aku nyoba THSR dari Taichung ke Taoyuan di hari terakhir dari perjalanan soloku di Taiwan. Tiketnya kubeli online lewat Klook. Proses redeem tiket THSR di Taichung guampang buanget... Cuma sayangnya waktu itu aku dapatnya standard seat karena kereta full. Sakjane pengen dapat reserved seat gitu yg agak keren haha.

Anyway THSR keren cuy. Yg naik perlente semua. Berasa eike dekil sendiri gitu bo', soalnya bawa2 ransel gede. Sementara yg lain bawaannya tas jinjing cantik plus high heels.

Menurut pantauanku, kecepatan THSR dari Taichung ke Taoyuan sekitar 120 - 160 mph. Wuss, aku naik kereta cuma 38 menit doang. Ah, kurang lama! Next time maybe nyoba yg dari Taipei ke Kaohsiung lah *Ciye, niat balik ke Taiwan ceritanya?

Thursday, February 13, 2020

Pesona Telaga Ngebel, Disini Ponorogo Bermula

Di Ponorogo cuma ada Reyog? Nope! Disini juga banyak spot-spot alam yang cantik yang bisa dinikmati lho. Salah satunya ini nih, Telaga Ngebel! Jalanan menuju Telaga Ngebel sudah teraspal bagus. Bisa ditempuh dari arah Ponorogo Kota dan arah Madiun. Tiket masuk ke telaga cukup murah, hanya Rp. 8.000/org.




Pengunjung bisa melakukan kegiatan-kegiatan ini saat di area telaga:
1. Berkeliling telaga dengan speed boat.
2. Menikmati makan/ngopi di warung sekitar telaga. As note: menu makanan andalan disini adalah Ikan Bakar. Ikannya diambil langsung dari keramba yang ada di telaga.
3. Berburu oleh-oleh khas Ngebel: kaos, baju & pernak-pernik Reyog Ponorogo, buah Nangka dan Duren.

Pengunjung juga bisa meneruskan perjalanan ke Mloko Sewu dari Telaga Ngebel. View dari Mloko Sewu sangat cantik. Disini kamu bisa melihat seluruh Telaga Ngebel dari atas.

Di sekitar Telaga Ngebel saat ini sudah banyak berdiri tempat penginapan/homestay yang nyaman dan layak disewa jika kamu ingin menghabiskan waktu atau mengejar sunrise dari telaga.

Sunday, February 09, 2020

Omah Idjo, Penginapan Bernuansa Belanda Jawa di Lasem

Saya menginap disini selama 2 malam saat solo backpack di Lasem. Penginapan ini berada di pusat kota, tak jauh dari Masjid Jami Lasem. Pemilik Omah Idjo sama dengan Roemah Oei (letak kedua penginapan ini saling berdekatan).

Harga yang ditawarkan cukup nyaman dikantong backpacker seperti saya. Dengan Rp. 100.000/hari saya mendapatkan 1 kamar dengan tempat tidur dan kipas angin, lengkap dengan peralatan mandi dan sarapan.




Arsitektur bangunan Omah Idjo bernuansa Belanda Jawa. Disini juga tersedia galeri batik yang menyediakan berbagai merchandise khas Lasem berupa Batik 3 Negeri, kaos, tas, dll. Pengunjung juga bisa menyewa Sepeda Unto untuk berkeliling Lasem dengan harga Rp. 20.000/hari.

Thursday, February 06, 2020

Itinerary Lasem 3H2M

Hello travelers...

Buat kamu yang tertarik untuk explore Kota Lasem, berikut ini adalah itinerary saya selama 3 hari 2 malam solo backpack-an disana. Tempat-tempat wisata di Lasem kebanyakan wisata sejarah. Jadi kalo kamu demen belajar hal-hal yang menyangkut history, so this is the right place for you!




Itinerary Lasem 3H2M

Hari ke 1:
- Makan siang Soto Kemiri di Roemah Oei
- Check in ke penginapan Omah Idjo sekaligus melihat Batik 3 Negeri di galeri mereka
- Tiongkok Kecil Heritage Lasem
- Omah Batik Lasem
- Melihat pembatik yang sedang berkarya di Rumah Merah
- Makan sore dengan Jus Kawis & Ayam Geprek
- Klenteng Cu An Kiong

Hari ke 2:
- Explore Omah Idjo yang khas bangunan Belanda - Jawa
- Explore Roemah Oei
- Masjid Jami Lasem
- Klenteng Gie Yong Bio
- Klenteng Po An Bio
- Makan siang dng Lontong Tuyuhan (sarapan sudah dapat dari penginapan)
- Omah Lawang Ombo/Rumah Candu
- Klenteng Cu An Kiong utk mendapat view siang hari
- Pantai Caruban
- Mencicipi Yopia & Kopi Lelet di Roemah Oei
- Kembali ke sekitar Rumah Merah & Tiongkok Kecil Heritage Lasem, view malamnya cukup keren dng lampion-lampion merah yg cantik

Hari ke 3:
- Pondok Pesantren Kauman Lasem
- Melihat anak-anak yg sedang berlatih seni Liong & Barongsai di Rumah Merah
- Melihat pembatik di Workshop Batik Tulis "Pusaka Beruang"


Transportasi Menuju Lasem

Saya memilih jalur Pantura sebagai jalan saya menuju Lasem. Saya naik bus ekonomi dari Surabaya jurusan Semarang kemudian turun di Masjid Jami Lasem. Perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam. Harga karcis bus sekitar Rp. 32.000 (berangkat) dan Rp. 36.000 (pulang). Selama di Lasem saya lebih banyak jalan kaki kemana-mana karena letak tempat-tempat wisata yang saya tuju berdekatan dan memungkinkan untuk saya jelajahi dengan kaki. Saya hanya menggunakan jasa ojek biasa saat berangkat ke Pantai Caruban dan jasa ojek online saat kembali dari pantai ke penginapan. Selain ojek, pengunjung juga bisa mencoba Becak, Kereta Kuda (Andong) dan Sepeda Unto untuk berkeliling kota Lasem. Tarif sewa Sepeda Unto (sepeda tua zaman dulu) seharga Rp. 20.000 untuk sehari.


Penginapan Lasem

Ada beberapa penginapan eksotis di Lasem yang bisa dipilih pengunjung. Diantaranya Tiongkok Kecil Heritage Lasem, Roemah Oei, Omah Idjo, Omah Londo, dll. Karena saya solo backpacker, saya memilih 1 kamar non AC di Omah Idjo. Harga kamar saya Rp. 100.000/malam dengan fasilitas: handuk, peralatan mandi (sikat gigi, pasta gigi & sabun), kamar dilengkapi dengan kipas angin dan sarapan.


Tempat wisata alam lain yang bisa kamu explore di Lasem (saya tak sempat mendatanginya): Pantai Karang Jahe, Hutan Mangrove Jembatan Merah, Trembesi Tua.
Makanan yang juga belum sempat saya cicipi di Lasem tapi juga layak untuk kamu coba: Dumbeg, Urap Latoh, Sate Srepeh.
Aktivitas lain yang bisa kamu explore di Lasem: melihat proses pembuatan Yopia (saat saya kesana sedang tak ada pembuatan Yopia karena hari Minggu).

 
Enjoy Lasem!!

Monday, February 03, 2020

Menikmati Malam Imlek di Lasem 2020

Pernah kebayang ga menikmati malam Imlek di kota Lasem?

Lasem dikenal juga sebagai "Tiongkok kecil" karena merupakan kota awal pendaratan orang Cina di tanah Jawa. Di kota ini terdapat banyak peninggalan sejarah berupa klenteng dan bangunan-bangunan kuno cantik yang masih kokoh berdiri hingga kini.

Hujan mengguyur kota Lasem ketika siang itu (24 Januari 2020) kaki-kaki saya menapak untuk pertama kalinya di kota ini. Awalnya saya memilih Lasem untuk malam Imlek karena tak sengaja. Rasanya wes biasa orang-orang menyerbu Solo dan Semarang untuk berburu segala sesuatu tentang tradisi Imlek. Kemudian pikir saya, "Kenapa ga ke Lasem? Bukankah kota itu merupakan kota awal mula penyebaran warga Tionghoa di tanah Jawa?" Dan...jadilah saya membulatkan tekad untuk menjelajahi sudut-sudut kota Lasem di momen Imlek tahun 2020 ini.




Kali ini perayaan malam Imlek di Lasem dipusatkan di Klenteng Cu An Kiong atau yang lebih dikenal sebagai Klenteng Dasun oleh orang-orang sini. Klenteng ini merupakan kelenteng tertua di Kota Lasem dan bahkan konon merupakan klenteng tertua di Pulau Jawa.

Saya berkenalan dengan Ibu Ana, salah seorang staff di Omah Idjo tempat saya menginap selama 2 malam di Lasem. Beliau seorang Katolik yang kemudian mengajak saya untuk ikut misa digerejanya karena hari Minggu siang saya sudah harus pulang ke rumah. Menyenangkan rasanya bisa beribadah di kota yang saya kunjungi dan berkenalan dengan orang-orang lokal setempat meskipun saya Kristen (hehe saya bukan orang fanatik, jadi saya tetap bisa beribadah dimana saja asal ada Yesus-nya).

Selesai misa di gereja, saya diajak ke Klenteng Cu An Kiong untuk bergabung dengan masyarakat Tionghoa disana merayakan malam Imlek. Wah, saya senang sekali...dapat makan malam gratis, dapat tempat duduk di depan untuk menikmati pertunjukan musik dan lagu trus bisa menikmati pertunjukan seni Liong dan Barongsai pula. Ahai, saya merasa jadi makhluk yang paling beruntung dan paling cantik malam itu #Nyengir.


Transportasi Menuju Lasem

Saya memilih jalur Pantura sebagai jalan saya menuju Lasem. Saya naik bus ekonomi dari Surabaya jurusan Semarang kemudian turun di Masjid Jami Lasem. Perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam. Harga karcis bus sekitar Rp. 32.000 (berangkat) dan Rp. 36.000 (pulang). Selama di Lasem saya lebih banyak jalan kaki kemana-mana karena letak tempat-tempat wisata yang saya tuju berdekatan dan memungkinkan untuk saya jelajahi dengan kaki. Saya hanya menggunakan jasa ojek biasa saat berangkat ke Pantai Caruban dan jasa ojek online saat kembali dari pantai ke penginapan. Selain ojek, pengunjung juga bisa mencoba Becak, Kereta Kuda (Andong) dan Sepeda Unto untuk berkeliling kota Lasem. Tarif sewa Sepeda Unto (sepeda tua zaman dulu) seharga Rp. 20.000 untuk sehari.


Tempat Wisata Lasem

Saya mengunjungi tempat-tempat ini selama 3 hari 2 malam di Lasem:
1. Roemah Oei
2. Omah Idjo
3. Klenteng Cu An Kiong
4. Klenteng Gie Yong Bio
5. Klenteng Po An Bio
6. Tiongkok Kecil Heritage Lasem (Rumah Merah)
7. Omah Lawang Ombo
8. Poskamling Pondok Pesantren Kauman
9. Workshop Batik Tulis Lasem Pusaka Beruang
10. Pantai Caruban


Kuliner Lasem

Tak lengkap rasanya kalo berkunjung ke suatu kota tanpa menikmati makanan khas kota tersebut, yekan? Nah, saya juga berburu makanan-makanan berikut ini di Lasem:
1. Soto Kemiri
2. Jus Kawis
3. Lontong Tuyuhan
4. Kopi Lelet
5. Yopia


Penginapan Lasem

Ada beberapa penginapan eksotis di Lasem yang bisa dipilih pengunjung. Diantaranya Tiongkok Kecil Heritage Lasem, Roemah Oei, Omah Idjo, Omah Londo, dll. Karena saya solo backpacker, saya memilih 1 kamar non AC di Omah Idjo. Harga kamar saya Rp. 100.000/malam dengan fasilitas: handuk, peralatan mandi (sikat gigi, pasta gigi & sabun), kamar dilengkapi dengan kipas angin dan sarapan.


Menurut keterangan warga Lasem yang saya dengar kemarin, juga akan ada perayaan saat Cap Gomeh (8 Februari 2020) disana. Monggo yang mau dolan ke Lasem, bisa sekalian belajar sejarah dan menikmati kekayaan budaya lho. Kota ini benar-benar menakjubkan menurut saya. Tingkat toleransi warganya luar biasa keren. Saya bertemu dengan beberapa orang berpeci dan berjilbab hadir juga saat makan malam di klenteng, beberapa pemain Liong juga berjilbab. Setiap jalan saya mendengar orang-orang berbahasa Jawa meskipun mata mereka sipit. Bangunan pos kamling di depan Pesantren Kauman-pun tetap bernuansa Cina. Terlihat sekali bahwa percampuran budaya di kota ini cukup bagus.


Wednesday, January 29, 2020

Amazing View of Qingjing Farm Taiwan -- A Day Trip from Taichung

Buat kamu pecinta gunung yang sedang traveling ke Taiwan, kamu wajib mengunjungi tempat ini. Namanya Qingjing Farm. Lokasinya berada di Nantou County tapi bisa ditempuh dengan menggunakan tourist shuttle bus dari Taichung.

Untuk menghemat uang, beli saja Qingjing Farm Pass di Nantou Bus Gancheng Station. Disini juga tersedia Sun Moon Lake Pass dan Xitou Pass. Kamu bisa pilih mana yang paling sesuai dengan itinerary-mu.




Saya sendiri memilih Qingjing Farm Pass seharga NT$680 yang berangkat jam 8 pagi hari dari Taichung. Bus-nya besar dan nyaman. Yang harus kamu perhatikan adalah jadwal bus. Bus tidak lewat setiap saat seperti di Indonesia. Jadi kamu harus benar-benar tahu jadwal bus agar kamu tidak tertinggal di Qingjing Farm kecuali jika kamu hendak menginap disana.

Saya mengunjungi 2 destinasi utama di Qingjing Farm dengan menggunakan kartu pass saya:
1. Green green Grasslands
2. Guanshan Pastoral Area

Kedua area ini bisa ditempuh dengan jalan kaki. Pemandangannya luar biasa indah! Didalam Qingjing Farm juga banyak berkeliaran domba-domba yang dibiarkan bebas. Seru pokoknya berwisata disini.

Sunday, January 19, 2020

Yehliu Geopark Taiwan

Yehliu Geopark merupakan salah satu destinasi yang wajib kamu kunjungi saat di Taipei, Taiwan. Lokasinya dekat dengan Taipei, bisa ditempuh dengan public bus atau join ke one day tour from Taipei. Tiket masuk ke Yehliu sekitar TWD 80 untuk orang dewasa, dengan jam operasional pukul 8.00 AM to 5.00 PM.




Saat berkunjung kesini, secara otomatis saya ingat tentang Bukit Jamur di Gresik. Ada kemiripan bentuk bebatuan yang ada di Yehliu Taiwan dan Bukit Jamur Gresik. Bebatuan yang ada di Yehliu juga berbentuk seperti jamur yang muncul dari dalam bumi. Bedanya...kalo Bukit Jamur Gresik lokasinya di bukit dan areanya tak luas, tapi Yehliu lokasinya di tepi laut dan areanya sangat luas.

Top view yang dicari di Yehliu adalah The Queen's Head. Batu ini mengalami perubahan bentuk yang cukup significan dari tahun ke tahun dan diramal akan hilang 10 tahun ke depan. Jadi jangan lupa untuk mencari The Queen'S Head yang fenomenal ini saat ke Yehliu.

Friday, January 10, 2020

Rainbow Village Taichung: A Paradise for Instagrammers

Buat kamu pecinta Instagram, kamu tak boleh melewatkan destinasi di Taiwan yang satu ini. Ya, kamu harus berkunjung ke Rainbow Village yang ada di Taichung.

Sesuai dengan namanya, Rainbow Village merupakan satu kawasan yang berisi bangunan-bangunan yang dilukis warna-warni. Kisahnya, tempat ini dilukis oleh seorang kakek bernama Huang Yung-fu berusia 95 tahun. Tidak ada biaya apapun untuk masuk ke Rainbow Village. Disana ada food court dengan harga terjangkau dan juga dilengkapi dengan toilet yang bersih. Ada akses free Wi-Fi juga di area ini. Benar-benar menyenangkan kan? Applause buat pemerintah Taiwan dalam hal mengelola tempat wisatanya.




Transportasi dari kota Taichung ke Rainbow Village sekitar 1,5 jam dengan bus. Tempat ini sangat famous jadi mudah ditemukan di Google Maps. Berbeda dengan rainbow village yang ada di Indonesia (kalo kalian pernah ke Malang, pasti sudah paham dengan Kampung Jodipan yang dicat warna-warni itu), Rainbow Village di Taichung ini tidak luas. Hanya ada beberapa bangunan saja yang dilukis berwarna-warni, tapi kunjungan turis yang datang kesini luar biasa banyak.

Wednesday, January 08, 2020

Itinerary 1 Day in Taroko National Park Hualien from Taipei Taiwan

Taroko National Park merupakan salah satu destinasi wisata terfavorit di Taiwan. Lokasinya berada di Hualien County, berjarak sekitar 157 km dari Taipei. Ada banyak cara menuju tempat ini dari Taipei. Bisa dengan bus, dengan HSR kemudian disambung dengan bus, dengan mobil carteran langsung dari Taipei, dengan pesawat atau seperti saya, ikut 1 Day Tour to Taroko National Park from Taipei by Klook. Saya memutuskan ikut 1 day tour ini untuk menyingkat waktu karena kawasan Taroko itu luasnya sekitar 920 km² dan ini adalah kunjungan perdana saya di Taiwan. Kalo saya ilang di Taroko gimana? Revottt kan? haha. Yang paling nyaman emang harus stay di Hualien sekitar 2-3 hari. Jadi bisa puas meng-explore destinasi ini karena suerrr...Taroko itu indah banget nget nget nget!




Itinerary 1 Day Tour to Taroko National Park from Taipei adalah seperti ini:
1. Naik HSR dari Taipei Station to Hualien Station (kumpul di Taipei Station pukul 8 AM)
2. Dengan mini bus mengunjungi tempat-tempat berikut ini:
- Qixingtan Beach
- Lunch at restaurant
- Swallow Grotto Yanzikou Trail
- Suspension Bridge
- Red bridge
- Rest area (bisa ngopi, makan atau hunting merchandise juga disini karena bangunannya berupa cafe)
- Changchun (Eternal Spring) Shrine
3. Mini bus kembali ke Hualien Station
4. Naik HSR dari Hualien Station ke Taipei Station

Selama tour berlangsung ada guide dengan bahasa Inggris yang menyertai perjalanan.

Tuesday, January 07, 2020

Hike on Lengshuikeng Trail in Yangmingshan National Park Taiwan

Lengshuikeng adalah trail kedua yang terkenal di Yangmingshan National Park selain Qingtiangang Grassland Trail. Trail di Lengshuikeng ini tergolong medium, ada lebih banyak tanjakan dibandingkan Qingtiangang Grassland Trail yang berupa dataran dengan rerumputan di kanan kirinya. Di musim gugur, pepohonan di sekitar area Lengshuikeng akan berubah kekuningan. Sempatkan kesini jika kamu ingin menikmati perubahan daun-daun di musim gugur tak jauh dari kota Taipei.




Lengshuikeng Trail dan Qingtiangang Grassland Trail dihubungkan dengan mini bus S15. Kamu bisa menempuh perjalanan dengan MRT dari Taipei sampai Jiantan Station, kemudian nyebrang jalan ke Jihe Road dan naik mini bus S15 sampai Lengshuikeng. Kalo kamu ingin melanjutkan perjalanan ke Qingtiangang Grassland setelah puas meng-explore Lengshuikeng, kamu bisa kembali ke halte bus dan naik S15 lagi ke Qingtiangang Grassland. Tapi kamu juga bisa berjalan kaki dari Lengshuikeng ke Qingtiangang Grassland atau sebaliknya dengan mengikuti rute trekking yang sudah ada *sekalian olah raga gitu hehe.

Usahakan kamu sudah keluar dari area Lengshuikeng sebelum pukul 2 PM. Banyak turis yang menyasar kedua tempat ini setiap hari, jadi kamu harus berlomba dengan yang lain untuk menuju dan kembali  lagi ke Taipei dengan transportasi umumnya. As note, mini bus S15 bisa dibayar dengan Easy Card ya... Jangan lupa membawa perbekalan secukupnya saat trekking karena tidak ada warung liar disekitar gunung haha *emang loe pikir ini Indonesia apa? #miris. Ada semacam food court di belakang Information Tourist Center. Kamu bisa mengisi perbekalan disini sebelum trekking.

Enjoy Yangmingshan National Park Taiwan!

Sunday, January 05, 2020

Hiking Elephant Mountain for the Best View of Taipei and Taipei 101, Taiwan

Pengen ke Taipei 101 tapi ogah bayar mahal? Pergi saja ke Xiangshan atau Elephant Mountain. Kamu bisa masuk ke tempat ini gratis. Lokasinya ada di district Xinyi, ga jauh dari pusat kota Taipei. Bisa ditempuh dengan MRT atau bus (untuk rutenya dari Taipei kamu bisa search di Google Maps).




Pengunjung harus trekking melalui ratusan anak tangga ke spot panorama yang ada di gunung ini. Datanglah sebelum pukul 9 AM jika kamu ingin menikmati keindahan kota Taipei dan Taipei 101 dengan tenang dan damai. Kalo kamu datang sore hari pasti ramai pengunjung karena tempat ini juga terkenal sebagai lokasi hunting sunset terbaik di Taipei, Taiwan.

As note, tiket masuk ke Taipei 101 untuk umum sebesar NT$600 (sekitar USD 19,50). Bedanya, kalo kamu masuk ke Taipei 101 kamu bisa naik lift sampai puncak. Kalo di Elephant Mountain kamu harus berkeringat dulu untuk menuju puncak. Pilih mana? Mudah dengan duit atau sehat dan gratis? haha.

Saturday, January 04, 2020

Exploring Yangmingshan Taiwan Through Qingtiangang Grassland Trail

Buat kamu yang bosan muter-muter di kota Taipei, kamu bisa melipir sedikit ke district Shilin untuk menikmati pemandangan gunung di Yangmingshan National Park.

Ada banyak cara menuju tempat ini dan juga ada banyak destinasi yang bisa dinikmati di Yangmingshan National Park.




Kali ini saya memilih Qingtiangang Grassland untuk dijelajahi sehari. Trialnya paling mudah dibanding dengan trial-trial lain.

Untuk mencapai Qingtiangang Grassland dari Taipei, kamu bisa naik MRT sampai Jiantan Station kemudian nyebrang jalan ke Jihe Road dan ambil mini bus S15. Mini bus ini langsung berhenti di depan Information Tourist Center.

Karena trialnya paling mudah, Qingtiangang Grassland selalu ramai dikunjungi turis setiap hari. Pastikan kamu berangkat pagi dari Taipei dan sudah keluar dari area pukul 2 PM. Diatas jam 2 PM antrian turis yang menunggu mini bus kembali ke Taipei bisa luar biasa banyak karena mini bus hanya lewat di jam-jam tertentu saja.

Thursday, January 02, 2020

Backpacker 41 Hostel, A Great Hostel in Taichung, Taiwan

Ini satu-satunya penginapan di Taiwan (yang saya inapi) yang bisa membuat saya betah bermalas-malasan setengah hari tanpa sibuk mikirin ngetrip haha. Hostel ini lokasinya tak jauh dari Taichung Station dan didepannya persis ada 7-Eleven. Mudah sekali menemukan hostel ini dengan panduan Google maps.

Salah satu alasan yang membuat saya betah bermalas-malasan di dalam hostel karena tempatnya cantik. Ada taman asri di depan hostel dan di setiap sudut ruangan berhiaskan pernak-pernik dekorasi yang kekinian. Ah, pokoknya nyaman sekali menginap disini.

Saya memesan only female room di hostel ini lewat Agoda. Harga per malamnya USD 13.71 (saya bayar pakai Paypal). Ruangan saya berisi 10 beds dan cukup lega. Akses ke semua pintu ruangan menggunakan kartu elektrik, termasuk akses ke lift. Fasilitas yang didapat di hostel cukup memenuhi standar kebutuhan para backpacker seperti free Wi-Fi, free coffee and tea every time, hot and cold water in shower room, free shampoo and soap dan free water refill.




Saya sengaja tidak memesan sarapan di hostel. Di 7-Eleven yang ada di depan hostel tersedia banyak makanan siap saji seperti Onigiri, aneka roti dan Bento. Harganyapun cukup terjangkau bagi kantong backpacker (ada yang sekitar NT$35) dan rasanya tetep enak kok.

Di sekitar Backpacker 41 Hostel juga banyak tempat makan enak (salah satunya Miyahara Ice Cream yang terkenal di Taichung) termasuk masakan Indonesia juga. As your noted, baru di Taichung ini saya bertemu WNI paling banyak selama di Taiwan. Di kota-kota lain (saya mengunjungi Taipei, Hualien, Keelung, Chiayi dan Taichung di Trip '10 Days in Taiwan' kali ini) saya hanya bertemu WNI satu atau dua kali. Tapi di Taichung...wow...saya sampai ngakak ketika lewat di Taman Taichung dan saya mendengar orang-orang berbicara dengan bahasa Jawa dari ujung ke ujung! Ada tempat makan yang berjualan Ayam Geprek, Sate Madura sampai Bakso Arema Malang di sekitar Taman Taichung *Buat yang kangen masakan Indonesia saat di Taiwan, boleh tuh mampir kesana.