Monday, May 11, 2009

Libatkan Tuhan Lebih Banyak. Manusia? Sedikit Saja!

Oleh : Angelina Kusuma

Beberapa saat yang lalu, seorang adik rohani saya berkata demikian, "Kak, aku kok tambah bingung ya sama masalahku yang kemarin. Si A bilang gini, si B bilang gitu, trus si C punya pendapat yang lain lagi. Makin lama, aku jadi berpikiran macem-macem nie. Sulit buat keep positive thinking akhirnya."

Ketika manusia menghadapi sebuah masalah, tak jarang kita akan merasakan apa yang dirasakan oleh adik rohani saya diatas. Betul apa 'betul'? :D.

Dulu saya juga begitu ;) (sebelum bertobat :p). Saya lebih suka mencari jawaban atas masalah yang menimpa saya dengan bertanya kepada orang-orang disekitar saya yang akhirnya membuat masalah bukannya selesai, tapi semakin tampak rumit dan membuat saya terjebak dilema asas praduga tak bersalah (hahaha, bahasanya juga rumit rek :D).

Pernah ada sahabat yang bertanya, "Kamu expert dalam hal konsultasi pribadi ya? Buktinya, udah banyak tuh orang yang curhat sama kamu", kepada saya.

Well, sebenarnya saya tidak pernah merasa bahwa saya sudah ahli atau pakar dalam hal menangani masalah orang lain. Guess, what do I do if somebody share to me? Hehehe, saya tidak melakukan hal-hal yang ajaib atau memberikan solusi yang super jitu kepada mereka kok. Saya lebih banyak mendengar saja saat mereka menceritakan kronologis masalah-masalah mereka dan berkata, "Semangat!" :p.

Setiap orang sebenarnya sudah mempunyai kemampuan untuk mengalahkan semua masalah yang sedang dihadapinya. Yang kadang tidak disadarinya hanyalah bagaimana menemukan kembali keberanian dan kepercayaan diri untuk menghadapi masalah-masalah tersebut.

1 Korintus 10:13, Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia.

Jika kita menyadari betul janji Firman Tuhan di 1 Korintus 10:13 ini, kita tidak akan terlalu sibuk dengan diri sendiri ketika memasuki sebuah pencobaan. Janji Tuhan ya dan amin. Apa yang perlu kita ragukan lagi jika Ia sendiri sudah berkata bahwa, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia."

Seberat apapun rasanya pencobaan yang sedang kita alami saat ini, pasti bisa kita hadapi dengan sempurna ketika kita mempercayai kekuatan yang sudah Ia berikan ke dalam tubuh kita. Tuhan tidak akan pergi dari posisi-Nya di hati kita meski kita jatuh ke jurang masalah yang kelam.

Kesalahan yang umum dilakukan oleh manusia ketika ia menemui masalah di hidupnya, ia lebih banyak melibatkan manusia lain daripada melibatkan Tuhan dengan intens. Bertanya kepada orang yang lebih berpengalaman memang tidak salah, tapi bertanya langsung kepada Tuhan jauh lebih baik dan tepat sasaran.

Setelah menyadari bahwa melibatkan banyak orang ternyata lebih membuat saya bingung karena menimbulkan banyak kemungkinan-kemungkinan baru yang tanpa dasar, saya lebih senang berdiam diri di dalam Tuhan ketika mengalami sebuah pencobaan dan bergumul sendirian dengan-Nya. Saya lebih yakin dan percaya kepada-Nya dibandingkan orang lain, bahkan pendeta sekalipun. Bagi saya, melibatkan Tuhan lebih banyak dan melibatkan sedikit manusia, membuat fokus saya tetap terarah kepada tujuan hidup saya, bukan kepada besar atau kecilnya masalah yang sedang saya hadapi. Saya percaya bahwa Yesus saja sudah cukup untuk mengatasi semua masalah yang saya hadapi karena Dia jauh lebih besar dari apapun juga di dunia ini (nj@coe).

1 Yohanes 4:4b, Sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.



Sunday, May 10, 2009

Selagi Muda

Oleh : Angelina Kusuma

Selasa malam kemarin adalah hari yang istimewa buat saya. Malam itu saya berkesempatan berkumpul dengan para 'ahli Taurat' di gereja hehehe. Saya menyebut mereka sebagai 'ahli Taurat' karena mereka adalah sekumpulan ibu-ibu dan bapak-bapak yang sudah lama bergabung di tim pendoa syafaat dan merupakan aktivis gereja yang setiap Selasa malam berkumpul untuk mendengarkan pengajaran Firman Tuhan.

Bergabung di komunitas 'paruh baya' ini membuat saya kadang agak jiper. Pada kenyataannya kegiatan semacam Bible Study di gereja saya ini memang lebih banyak dipenuhi oleh kaum ibu-ibu dan bapak-bapak berusia paruh baya. Kelompok youth apalagi remaja, sangat jarang terlihat di kegiatan-kegiatan seperti ini.

Di sesi sharing dari Firman Tuhan yang sudah disampaikan, saya mendapat kelompok yang terdiri dari empat orang wanita termasuk saya. Sebagai anggota kelompok yang paling muda, saya lebih tertarik mendengarkan para ibu-ibu senior itu membagikan pengalaman mereka selama mengikut Tuhan. Jalannya sharing benar-benar menarik perhatian dan memberkati saya.

Ibu-ibu rumah tangga ini ternyata lebih banyak mengalami kesulitan ketika ingin mendalami Firman Tuhan dibandingkan saya yang masih single. Ada yang kerepotan mendalami Firman Tuhan karena disibukkan oleh pekerjaan rumah tangganya seperti mencuci pakaian, memasak, bersih-bersih rumah, dll, ada yang karena kerepotan mengurus anak-anaknya, sampai karena adanya kejenuhan dan masalah pribadi antara suami istri.

Well, saya tersenyum di dalam hati mendengar pengakuan dari mereka ini. Sebagai wanita single, tidak munafik, kadang saya merasa iri dengan keberadaan mereka yang sudah menikah dan berpasangan. Sepertinya kehidupan mereka jauh lebih bahagia dan berwarna dengan adanya suami dan anak-anaknya dibandingkan saya yang masih single.

Seorang ibu yang selama ini saya pandang mempunyai kerohanian yang cukup matang karena beliau pernah menjadi song leader di ibadah kebaktian gereja, membuat pengakuan yang membuat saya terbelalak. Ia bahkan belum pernah sekalipun bisa menyelesaikan pembacaan Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu dan merasa kesulitan setiap kali hendak memulainya. Wow, tiba-tiba saya merasa jauh lebih beruntung daripada beliau.

Saat ini usia saya 27 tahun dan saya sedang sibuk menyelesaikan program pembacaan whole Bible saya dan sudah mulai menginjak kitab 2 Tawarikh di bulan ini. Meski awalnya saya merasa agak terlambat memulai bedah Alkitab karena saya baru memulainya di usia sekarang (bandingkan dengan Yesus yang sudah bergaul akrab dengan Firman sejak usia-Nya 12 tahun, Lukas 2:41-52), rupanya saya masih punya lebih banyak kesempatan untuk semakin menstabilkan pondasi rohani saya ke depan.

Kondisi single saya adalah modal utama untuk lebih dekat kepada Yesus dan Firman-Nya! Dibandingkan ibu-ibu rumah tangga yang sudah mempunyai beban pikiran tambahan berupa anak, kebutuhan hidup berumah tangga, dan suaminya tersebut, saya lebih beruntung karena beban saya saat ini hanyalah diri saya saja.

Kondisi single bukanlah kekurangan. Justru single adalah peluang untuk mengenal Firman Tuhan dengan sebaik-baiknya dan kesempatan emas untuk menstabilkan pondasi iman kita kepada-Nya. Jika saat single kita sudah merasa kekurangan, saat berpasanganpun kita akan semakin kekurangan nantinya. Pengakuan ibu ini semakin memacu saya untuk merampungkan banyak hal di masa single saya yang tinggal sedikit lagi ini :). Saya ingin ketika memasuki dunia marriage nanti, saya sudah mempunyai modal pondasi iman yang kokoh sehingga saya tidak akan kekurangan berkat rohani yang bernilai kekal yaitu hubungan saya dengan Bapa di Surga.

Yesus telah memberikan teladan tentang kecintaan-Nya akan Firman sejak Ia masih berusia sangat muda. Sebagai anak-anak pilihan-Nya, kita juga harus memanfaatkan masa muda dan single kita untuk bergaul akrab dengan Firman-Nya tanpa mengeluh! (nj@coe).

Friday, May 08, 2009

Ibuku Yang 'Kejam'

Oleh : Angelina Kusuma

Mami saya adalah figur seorang ibu yang 'kejam'!

Saat duduk di kelas 3 SMU, saya pernah hampir kehilangan nyawa karena kecelakaan lalu lintas. Kejadiannya berlangsung cepat. Saat itu saya baru saja keluar dari sebuah toko buku dan hendak menyeberang kearah jalan pulang. Di perempatan jalan dekat dengan alun-alun kota, terjadilah kejadian yang akhirnya membuat saya trauma naik sepeda motor lagi bertahun-tahun berikutnya itu. Saya dikerubuti dua buah mobil tepat di tengah perempatan jalan yang mengantarkan saya pada komitmen, "Aku nggak akan naik sepeda motor lagi seumur hidup setelah hari ini!"

Sejak kejadian itu, saya benar-benar tidak pernah menyentuh yang namanya sepeda motor dan mengendarainya seorang diri. Setiap kali mengingat kejadian sore dimana nyawa saya hampir melayang karenanya, jantung saya terasa ingin berhenti berdetak. Takut, khawatir, dan rasa cemas selalu membayangi saya ketika melihat sosok yang namanya sepeda motor dan jalan raya!

3 tahun lalu tepatnya sekitar 6 tahun sejak kejadian di perempatan jalan yang mengakibatkan trauma yang teramat sangat itu, saya ditantang Mami saya untuk melakoni pantangan tersebut. Sejak saya tidak mau naik sepeda motor lagi, saya memang sedikit banyak merepotkan orang-orang disekeliling saya untuk mengantarkan saya saat beraktivitas. "Kalo kegiatanmu sedikit sie nggak masalah Mami atau Papi nganter kesana-kemari. Tapi kegiatanmu itu terlalu banyak dan intens. Kalo terus-terusan minta anter kesana-kemari, bisa-bisa Papi sama Mami yang jatuh sakit", ini adalah alasan Mami saya kenapa beliau memaksa saya untuk melawan rasa takut saat berkendara sepeda motor sendirian di jalan raya.

Keluarga saya mempunyai prinsip yang disiplin. Sejak kecil saya dan adik saya sudah dididik untuk melakukan segala sesuatu tanpa pembantu. Jika lapar, kami tidak segan untuk ke dapur dan memasak makanan sendiri jika perlu. Jika rumah kotor, tanpa diperintahpun kami harus sadar untuk bergotong royong membersihkannya. Karenanya, kami terbiasa tumbuh menjadi orang yang mandiri dan harus berani bertanggung-jawab. Termasuk dengan aktivitas sehari-hari kami. Kami harus mempertanggung-jawabkannya agar tidak mengganggu aktivitas anggota keluarga lainnya di dalam rumah.

6 tahun setelah peristiwa yang membawa trauma mengendarai sepeda motor, saya hidup di luar kota yang jauh dari keluarga. Saya terbiasa menggunakan jasa angkutan umum atau nebeng kendaraan teman jika hendak keluar rumah. Tapi sejak kedatangan saya kembali ke rumah yang hanya di sebuah kota kecil tanpa jasa angkutan umum memadai dan mendudukung aktivitas saya yang harus menjangkau tempat-tempat yang tidak dilewati satu jasa angkutan umumpun, keluarga saya mulai kelabakan mengimbangi gerak saya.

Sebulan ada di rumah, saya sadar bahwa trauma saya dulu mulai merepotkan orang lain. Bagaimana tidak, Mami atau Papi saya terpaksa harus mengantar dan menjemput saya dari dan ke tempat kerja, belum lagi ditambah jika saya sedang ada kegiatan di gereja atau membeli beberapa keperluan yang saya butuhkan.

"Kamu harus bisa naik sepeda motor lagi!" Punishment dari Mami saya ini membuat saya berkeringat dingin berhari-hari. Saya kenal betul dengan beliau. Jika kata 'harus' sudah keluar dari perbendaharaan kosakatanya, berarti dengan cara apapun saya harus patuh.

Dan benar saja, meski saya berurai air mata, Mami saya tetap memaksa saya mengendarai sepeda motor. Saking besarnya ketakutan yang ada di diri saya, saya juga harus jatuh bangun ketika sepeda motor yang saya kendarai tidak bisa berjalan tegak, menabrak pagar tanaman milik tetangga beberapa kali, dan lain-lain. Mami saya mengajari saya dengan keras. Beliau tidak perduli dengan tangisan saya (eh, kalo inget saya jadi malu :D. Saat itu saya berumur 22 tahun dan menangis dengan PD-nya diatas sepeda motor hahaha) dan permohonan saya agar diijinkan untuk tidak mengendarai sepeda motor lagi. Setiap kali saya mengerang, beliau sudah siap dengan kata-kata pedasnya, "Kamu harus berani. Harus bisa! Jangan nyusahin orang terus dong."

Seminggu berikutnya, Mami saya tidak pernah memberi saya ruang bebas dan memaksa saya untuk terus belajar melawan ketakutan berkendara sepeda motor. Mulai dari belajar mengendarai sepeda motor di jalanan sepi, menyeberang di perempatan jalan yang bagi saya seperti momok paling menakutkan, sampai mengendarai sepeda motor di daerah dengan tanjakan dan turunan yang menyeramkan jalurnya.

Bagi saya, tidak mudah melepaskan ketakutan yang sudah menimbulkan trauma bertahun-tahun itu. Saya sampai menjuluki Mami saya sebagai ibu yang 'kejam'! Nggak perduli betapa berjasanya beliau telah melahirkan dan mengasuh saya hingga besar, pokoknya beliau adalah ibu yang 'kejam'...'kejam'...dan 'kejam'...!!! Tiap hari rasanya saya tidak sedang berhadapan dengan seorang ibu saat itu, tapi seperti sedang berhadapan dengan dosen super killer hehehe.

Setelah latihan ekstra seminggu berlalu, saya mulai merasa lebih baikan. Saya bisa kembali mengendarai sepeda motor dan terbiasa dengan hiruk pikuk jalan raya. Dibawah tekanan Mami saya yang 'kejam' itu, trauma saya berkendara sepeda motor sendirian di jalan raya berangsur-angsur hilang. Sekarang setelah 3 tahun berlalu, trauma saya di masa lalu sudah benar-benar hilang. Saya bisa mengendarai sepeda motor kembali dengan lancar dan tidak ada ketakutan seperti 9 tahun yang lalu. Pengajaran keras dari Mami saya yang 'kejam' itu telah membawa saya berani melawan ketakutan yang ada di diri mengalahkan trauma saya.

Amsal 13:24, Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya.

Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap masalah di dunia ini. Baik itu anak kecil atau orang dewasa, rakyat biasa sampai presiden, semua mempunyai beban masalah sendiri-sendiri. Ketika kita diberi masalah oleh Tuhan, tandanya Ia sedang mendidik kita agar lebih baik di masa depan.

Mami dunia saya saja tidak pernah membiarkan saya tinggal dalam trauma dan ketakutan. Apalagi Bapa kita di Surga. Ia menghilangkan orang yang kita sayangi agar kita belajar menghadapi ketakutan akan sendirian, Ia membuat kita kadang tidak mendengar-Nya agar kita belajar percaya kepada janji-janji-Nya, Ia membuat kita menangis dengan lengan-Nya yang teracung agar kita menyadari bahwa kekuatan yang Ia berikan di dalam diri kita sebenarnya jauh lebih besar dari semua masalah yang kita hadapi.

Saya bersyukur mempunyai seorang Mami yang 'kejam'. Beliau mengajari saya untuk menjadi orang yang berani menghadapi kemustahilan meski saya tidak punya dasar untuk itu sebelumnya. Ketakutan yang kita punyai bukanlah dari Tuhan. Setiap kita diperlengkapi-Nya dengan kekuatan yang bisa dipakai untuk menghadapi setiap masalah yang terjadi di hidup kita. Tidak ada trauma atau kelemahan yang tidak bisa kita kalahkan jika kita punya nyali untuk menaklukkannya. Bersama Yesus kita bisa! ^_^ (nj@coe).



Wednesday, May 06, 2009

Anjing dan Kucingpun Bisa Berdamai

Oleh : Angelina Kusuma

Pak Arief adalah seorang yang sangat menyayangi binatang. Beliau mempunyai dua ekor anjing, yang jantan diberi nama Friki dan yang betina diberi nama Friko. Senin pagi, Pak Arief melakukan kebiasaannya berolah raga ditemani Friki ke area persawahan yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Ketika sedang asyik berolah raga, beliau menemukan empat ekor anak kucing yang sedang menjerit-jerit karena ditinggal induknya. Empat anak kucing ini mempunyai warna bulu yang berbeda-beda. Satu hitam, satu orange, satu abu-abu, dan yang satu lagi mempunyai tiga warna bulu dibadannya, hitam, putih, dan orange.

Melihat anak kucing yang masih kecil-kecil itu, Friki yang sudah terlatih untuk memburu tikus-tikus di rumah Pak Arief, langsung menerkam kearah kerumunan empat anak kucing tersebut. Si anak kucing yang mempunyai tiga warna bulu ditubuhnya, akhirnya mati langsung ditempat akibat terkaman Friki.

Karena kasihan, Pak Arief membawa ketiga anak kucing yang masih tersisa itu ke rumahnya. Keesokan harinya, anak kucing yang berwarna orange ikut menyusul mati. Melihat anak-anak kucingnya mati satu per satu Pak Arief mulai merancang sebuah eksperimen. Ia mencampurkan kedua anak kucingnya ke kandang Friko agar ia bertindak sebagai induk bagi anak-anak kucing yang malang itu.

Anak kucing berwarna abu-abu, mati di hari kedua setelah ia sekandang dengan Friko. Yang tersisa tinggal anak kucing berwarna hitam yang rupanya mulai bisa beradaptasi dengan induk barunya. Si Friko yang juga anjing berbulu coklat kehitam-hitaman, mengasuh anak kucing berwarna hitam itu sampai hari ini. Meski air susu Friko tidak keluar, kadang terlihat juga bahwa si anak kucing hitam itu tetap nyaman ngempeng padanya dan membuat si anak kucing hitam bisa bertahan hidup.

Kisah Friko dan anak kucing hitam ini, membuat saya teringat akan film kartun yang sering saya tonton waktu kecil dulu, Tom and Jerry. Di kisah Tom si kucing dan Jerry si tikus yang di dunia nyata juga tidak bisa akur, di film ini bisa menjadi sahabat baik. Rupanya, permusuhan antara kucing dan anjing di dunia nyatapun bisa diperdamaikan seperti kisah Tom and Jerry yang ada di film kartun produksi MGM (Metro-Goldwyn-Mayer) itu.

Friko yang sekarang menjadi induk bagi anak kucing hitam milik Pak Arief, telah mematahkan mitos permusuhan anjing dan kucing yang selama ini beredar di masyarakat. Nah, bagaimana dengan kita sebagai manusia? Bisakah kita selalu damai/akur dengan sesama kita? Bisakah kita hidup berdampingan dengan saudara-saudara kita lainnya, dan selalu mengampuni ketika ada yang berbuat salah atau telah melukai hati kita, entah ia sengaja maupun tidak?

Derajat manusia lebih tinggi daripada anjing, kucing, dan tikus. Kalo anjing dan kucing bisa berdamai, kenapa kita tidak? (nj@coe).

Imamat 19:18, Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.

Tuesday, May 05, 2009

15 Facts About Men (Part 2)

Lanjutan dari : 15 Facts About Men (Part 1)

Oleh : Angelina Kusuma


11. Most men are attached to their mothers

Kebanyakan pria lebih dekat kepada ibu mereka daripada kepada ayah mereka. Karena kedekatan ini, menyebabkan tidak sedikit dari pria-pria yang kemudian mencari wanita-wanita yang juga mirip dengan ibu mereka. Berada di sisi wanita yang mempunyai sifat seperti ibunya, membuat para pria ini lebih nyaman dan terlindungi selama menjalani hubungan.

12. Most men want their wives to be loving, caring, and good home makers

Pria bukanlah tipe makhluk yang mudah memutuskan untuk menikah. Mereka akan berpikir puluhan kali sebelum akhirnya berkata, "Would you like to be my wife" kepada seorang wanita meski ia sudah mencintainya segenap hati dalam waktu yang cukup lama. Berbagai pertimbangan seperti aspek ekonomi dan keberlangsungan rumah tangga mereka ke depan, menjadi beban tanggung jawab tersendiri dipundak para pria.

Wanita yang bisa mencintai, memperhatikan, dan capable dalam urusan dalam rumah tangga seperti memasak dan mengurus anak-anak, akan memperoleh nilai plus di hadapan pria. Wanita seperti ini, pasti selalu menjadi dambaan setiap pria tanpa kecuali. Pria memang menyukai wanita yang mandiri dan memiliki karrier bagus dibidangnya. Namun bagi mereka, kodrat wanita yang tidak bisa dirubah adalah mengurus rumah tangga.

Kegagalan seorang wanita di mata pria yaitu ketika mereka dipandang telah melalaikan kewajiban rumah tangganya seperti mengurus keperluan suami dan anak-anaknya. Tidak perduli apakah wanita tersebut mampu mencetak jutaan Rupiah setiap minggu atau setiap bulannya, yang dibutuhkan pria dari wanita adalah pengabdian mereka terhadap rumah tangga dan anak-anaknya nanti, bukan pekerjaannya di kantor yang hebat, pendidikannya yang tinggi, segudang aktivitasnya di oraganisasi ini itu, dan lain-lain, meskipun pria juga menyukai pasangan yang cerdas, mandiri, dan mempunyai segudang prestasi.

13. Every man, most desires to be the best husband for his wife

Selaras dengan keinginan setiap pria untuk memiliki istri yang mampu memberikan cinta, perhatian, dan bisa mengurus keperluan rumah tangga dengan baik, jauh di lubuk hati setiap pria mereka juga mendambakan dirinya bisa menjadi suami terbaik bagi istrinya. Meski seorang pria termasuk sulit mengambil komitmen relationship atau nampak sebagai pria dengan bertemperamen liar, ia tetaplah seorang pria yang perlu dikasihi dan mengasihi, serta pasti mempunyai kerinduan membentuk keluarga dengan orang yang dicintainya dan berbahagia dalam rumah tangganya suatu saat nanti.

14. A man feel happiest when he becomes a father

"Tidak ada hal yang membuat hidupmu terasa lengkap kecuali ketika kamu menjadi orang tua", ini adalah kalimat yang diucapkan oleh seorang sahabat pria saya beberapa hari setelah ia menggendong bayi mungil hasil pernikahannya. Ya, itulah kebanggaan lain dari seorang pria. Mereka bangga dan bahagia ketika mereka menjadi seorang ayah dari anak yang lahir dari darah dagingnya sendiri meski terkadang ia bisa terkesan sangat cuek dan kurang bisa bergaul akrab dengan anak-anak kecil.

15. Men love romanticism, but most of them can not do romantic attention

Hampir semua pria-pria yang ada disekeliling saya merupakan pria-pria yang tidak romantis. Setiap kali saya berkata kepada mereka, "Kok kamu nggak bisa romantis sie?", mereka akan membalik pertanyaan saya menjadi, "Emang romantis itu seperti apa sie? Kan aku udah ngajak kamu makan bareng, jalan bareng, ngasih coklat...Itu bukan romantis ya?"

Hahaha, banyak pria mengalami dilema saat disuruh berromantis ria kepada wanita. Mereka pikir, arti romantis pasti seperti yang ada di film-film Hollywood dimana kebiasaannya seorang pria akan datang kepada wanita dengan bunga rose merah dan coklat di tangan, kemudian mengajaknya candle light dinner dibawah siraman cahaya bulan dan bintang. Itukah yang disebut romantis? Oh no!

Bagi wanita, romantis adalah refleksi kepercayaan terhadap pasangannya. Romantis bukan hanya sekedar tindakan tapi lebih kearah keterlibatan emosi dan keintiman. Banyak pria tidak bisa bersikap romantis kepada wanita karena logika mereka sering bergerak maju lebih dulu daripada perasaan, sehingga kebanyakan dari mereka hanya bisa melakukan tindakan yang berbau romantis namun tidak terasa/berkesan romantis bagi wanita yang ia maksut karena tidak ada keterlibatan emosi dan keintiman didalam tindakan-tindakan tersebut, atau mereka benar-benar tidak mau melakukan tindakan yang bersentuhan dengan keromantisan karena mereka malu jika nanti ditertawakan oleh wanita saat mereka berusaha menunjukkan sisi kelembutannya (kebanyakan pria juga takut akan penolakan rite?).

Ajari para pria-pria kekasih anda untuk bersikap romantis dari hati, bukan mengomelinya ketika mereka mengulurkan bunga, coklat, atau menawari anda candle light dinner namun mereka menunjukkan sikap dingin dan tidak perduli terhadap perasaan anda sendiri. Sebagai wanita, kita adalah penolong pria. Jika mereka membutuhkan bantuan untuk mengkoreksi bagaimana cara bersikap yang benar dan menyentuh hati anda, ya utarakan uneg-uneg yang ada dihati anda dengan lembut dan penuh kasih.

Ok, have a nice relationship yo ^_^ (nj@coe).



15 Facts About Men (Part 1)

Oleh : Angelina Kusuma

Bagi kebanyakan wanita, pria adalah pribadi yang misterius. Lingkungan sosialisasi pria yang lebih sempit dibandingkan wanita, membuat makhluk jenis ini seolah menyimpan banyak misteri yang sulit dipahami oleh lawan jenisnya. Tapi dibalik kemisteriusannya itu, pria mempunyai rahasia-rahasia yang sebenarnya sangat sederhana. Apakah itu?

1. Men like to gossip too

Pria juga mempunyai kebiasaan yang hampir sama dengan wanita ketika mereka menemukan sebuah topik yang menarik. Meski tidak sevulgar wanita yang sejak lahir katanya sudah ditakdirkan suka berbicara, diam-diam para pria juga suka bergosip lho. Saat mereka berada di komunitasnya, para pria yang terlihat cool dan jauh dari kesan 'bisik-bisik tetangga' ini juga bisa sibuk menggosip. Beberapa sahabat pria yang ada di list Facebook saya, terkadang membuat saya tertawa geli ketika melihat mereka sedang menyapa sahabat lamanya melalui media wall. "Eh, si A kabarnya mo married sama X bulan depan lho", "Itu si D akhirnya dapet kerjaan juga di PT. Y. Cuma kayaknya sie nggak bakal krasan dia"

Hahaha, so what? Para pria juga butuh berbicara dengan sesamanya dengan bumbu-bumbu disana-sini seperti para wanita rupanya. Hanya saja, biasanya pria baru mau bergosip dengan komunitas mereka (ketika ada kaum Hawa mendekat kearah pembicaraan mereka, maka mereka bisa langsung tutup mulut dan berlagak seperti tidak ada apa-apa lagi). Tidak seperti wanita yang anywhere dan anytime bisa langsung menggelar tikar kemudian, "Pst, eh jeng...jeng...tau nggak sie loe...bla bla bla...and...bla..bla...bla...", cara bergosip pria lebih tertutup dibanding wanita.

Topik pembicaraan yang dipilih priapun tak jauh dari topik yang biasa dipergunjingkan oleh wanita. Bedanya, para pria lebih menaruh perhatian pada tema-tema pembicaraan seputar pekerjaan, gadgets, olahraga, dan kegiatan harian khas mereka.

2. A man can not alone for a long time without his friends

Pria juga tidak bisa hidup nyaman tanpa teman-teman se-gank-nya. Mereka membutuhkan sekumpulan atau beberapa orang pria lainnya untuk menemani mereka mulai dari sekedar nongkrong di tepi jalan, hang out ke tempat fitness, nonton pertandingan bola ramai-ramai, sampai rekan/partner diskusi untuk masalah-masalah di tempat kerja dan keseharian mereka.

Berbeda dengan para wanita yang lebih tahan berada sendirian, pria relatif tidak tahan sendiri. Mereka perlu teman untuk membuat mereka aman dan nyaman. Satu kebiasaan ini sering kali membuat wanita kurang memahaminya. Wanita lebih mengingini suasana romantis dimana hanya ada dia dan si pria pasangannya, namun pria lebih memilih teman-temannya daripada berada dekat dengan kekasih yang ia cintai sekalipun. Tapi itulah pria. Kebebasannya berada di lingkungan teman-teman yang telah membuatnya nyaman lebih dulu memang tidak mudah digantikan oleh seseorang yang baru masuk ke dalam hidupnya kemudian.

3. The first thing that make a man feel adorable from a woman is her looks

Pria tak hanya tertarik pada paras yang cantik dari seorang wanita tapi juga dengan seluruh kemasan yang diusung oleh wanita tersebut. Bagi pria, mata mereka adalah kelemahan. Mereka mudah jatuh cinta pada sesuatu yang enak dilihat dan indah di mata mereka. Ingat, tak hanya wajah saja, tapi pria juga tertarik pada keseluruhan hal yang ada di diri seorang wanita. Wajah cantik, penampilan serasi, dan sikap yang sopan bisa membuat pria-pria makin mabuk kepayang dibuatnya.

4. Pride a man is in his job

Kemakmuran merupakan ukuran pride khusus bagi pria. Semakin mereka mempunyai pekerjaan yang mapan, penghasilan cukup apalagi sampai melimpah, kepercayaan diri mereka akan ikut meningkat seiring dengan stabilnya posisi perekonomian yang mereka miliki. Inilah sebabnya kenapa para pria lebih rentan terjangkit workaholic alias si gila kerja.

Uang juga dianggap sebagai modal para pria untuk berani melangkah ke jenjang yang lebih tinggi yaitu memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga, menghidupi istri dan anak-anaknya, serta memberikan jaminan atas seluruh kebutuhan hidup rumah tangganya. So, jangan heran jika mereka mendadak bisa menjadi seperti anak berusia lima tahun meski usia sebenarnya sudah diatas 30 tahun ketika posisi mereka di pekerjaan mulai terancam. Tandanya, pria itu sedang mengalami dilema sebagai seorang pria yang identik harus lebih berguna, lebih berkuasa, lebih mapan, dan lebih berwibawa dengan menghasilkan uang, sumber kehidupan bagi keluarganya.

5. A man is most tense when he ask out to a girl that he likes

Meski pria terlihat sangat percaya diri ketika mereka berjalan atau memecahkan sebuah masalah, mereka akan berubah tegang, gugup, dan salah tingkah ketika berhadapan dengan wanita yang disukainya. Seatraktif mungkin perilaku seorang pria, ia bisa diam seribu bahasa di depan wanita yang bisa membuat degup jantungnya berdebar-debar.

Ada banyak pria berkata kepada saya bahwa mereka sebenarnya sangat takut akan penolakan. Itu sebabnya mereka bisa merasakan ketegangan, gugup, dan salah tingkah ketika berhadapan pada sosok wanita yang mereka sukai. Perasaan takut kehilangan dan takut ditolak itu, membuat para pria tidak bisa berfikir jernih dan percaya diri seperti biasa yang mereka pegang sebagai prinsip hidup.

6. Never talk to your man about what he thinks about you

Hal yang menurut pria sia-sia adalah ketika seorang wanita bertanya apa pendapat mereka tentangnya. Meski pria mengagumi wanita, tapi mereka tidak terlalu suka mengatakannya secara langsung ataupun berargumen untuk membuat anda tersenyum karenanya. Pria tidak pandai berbasa-basi. Jika anda bertanya kepadanya mengenai baju yang sedang anda pakai, dandanan yang sedang anda kenakan, atau pertanyaan mengenai cantik manakah antara anda dan wanita berbaju merah sexy yang baru saja lewat di depannya, mereka pasti lebih memilih untuk membawakan anda cermin daripada menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut hehehe.   

7. An ideal date for a man would be dinner and a live concert/sport game

Kebanyakan pria lebih suka menantang adrenalin mereka daripada menghabiskan semalam penuh romantis dalam kesunyian. Bagi mereka, bersama orang yang dicintai dan semangat berpetualang haruslah seimbang.

Jika anda sudah mempunyai kekasih, sekali-sekali ajaklah ia menikmati suasana kencan yang sesuai dengan selera mereka. Tetap bernuansa romantis namun ada sense memacu adrenalin agar mereka tidak cepat merasa bosan dengan acara kencan bersama anda tentunya. Dinner dengan iringan live music dan arena sports game seperti billiard atau bowling, pasti lebih mengasyikkan bagi mereka daripada sekedar dinner diatas puncak gedung bertingkat, memandangi bulan purnama yang bertabur bintang-bintang.  

8. Men think about sex in a day everytime their mind start to wander

Banyak orang berkata bahwa pria dan sex adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Banyak wanita menyangka jika seorang pria mengajak mereka berkencan, itu artinya mereka meminta sebuah permainan sex dan berakhir diatas ranjang. Hal ini tidak sepenuhnya benar!

Pria hanya berpikir kearah sex ketika pikiran mereka sedang kosong atau dibiarkan ngelantur. Selama wanita dan orang-orang yang ada disekelilingnya memberikan support membangun di pikiran pria itu untuk terus bergerak kearah yang positif, pria tidak akan berminat melakukan sex meski ia mempunyai banyak peluang. Seorang pria yang penat sehabis kerja lembur berhari-hari atau sedang asyik menonton pertandingan sepak bola, juga dikatakan menunjukkan penurunan terhadap keinginan mereka terhadap sex.

Think positive, otak pria tidak selamanya berisi sex melulu kok hihihi.

9. Men hate the most a nagging and over possesive girl

Para pria suka berburu. Mereka suka akan tantangan. Suka menikmati proses saat mengejar wanita-wanita yang menjadi target incaran mereka. Keberhasilan mereka mengambil inisiatif pertama atas hubungannya dengan wanita yang sudah lama dikejarnya juga merupakan pride tersendiri bagi pria. Oleh karena itu, mereka tidak terlalu respek pada wanita-wanita yang menunjukkan agresifitas diawal hubungan, rasa posesif, dan suka memonitor setiap kegiatan mereka setiap saat. Semakin diawasi atau dikekang, pria bukannya bertambah nyaman dan setia kepada pasangannya, tapi biasanya mereka cenderung lari dan menghindar cepat-cepat.

Pria juga kurang suka jika hanya dijadikan sebagai pendengar yang baik. Mereka paling benci diomeli dan menjadi obyek pelampiasan dari gerutuan wanita yang sedang mengkritik tindakan mereka. Jika mereka menghadapi situasi dimana wanita siap dengan puluhan bahkan ratusan kata-kata yang siap dilontarkan kepadanya, ia pasti memilih untuk diam atau menghilang sesaat karena kemampuan utama pria bukanlah meladeni wanita dalam hal bersilat lidah.

10. A man love high tech and electronics

Jika wanita mudah tersentuh oleh hal-hal berbau romantis, pria lebih mudah tersentuh oleh segala sesuatu yang berbau high tech. Jika wanita berjalan ke mall dan mereka bisa menghabiskan ratusan ribu untuk membeli baju dan peralatan make up, maka para pria juga bisa menghabiskan jutaan Rupiah hanya demi membeli barang-barang elektronik kesukaannya.

Hadiah yang menarik bagi seorang pria tentu saja yang berbau elektronik dan high tech. Mereka tidak terlalu terpesona dengan hadiah liburan gratis ke tempat paling indah atau paling mahal sekalipun. Tapi mereka akan segera bersorak girang ketika mereka mendapatkan gadgets keluaran terbaru atau barang elektronik yang mereka idam-idamkan sejak lama. Hmm, anda tertarik memberi hadiah kepada seorang pria? Cari tahu aja benda elektronik atau gadgets apa yang sedang menjadi incarannya saat ini (nj@coe).

Lanjut ke : 15 Facts About Men (Part 2)    

Monday, May 04, 2009

Do Everything In Love

Oleh : Angelina Kusuma

Lisa memandangi dirinya di depan cermin dengan seksama. Sesekali ia memutar-mutar tubuh untuk mematutkan setelan gaun yang sedang dipakainya sembari melukis sekulum senyum dipantulan cermin. Sedetik kemudian Lisa mengambil sisir untuk merapikan rambutnya, menjepitnya dengan hiasan kupu-kupu pink yang manis. Diambilnya minyak wangi...dan...sret sret...menebarkan aroma bau semerbak ke seluruh tubuhnya. Lalu, Lisa mengambil high heel-nya. Memasangnya di kaki kemudian berlenggak-lenggok bak peragawati berjalan diatas catwalk. Yeah, malam ini adalah malam Minggu. Dan Lisa sedang berdandan secantik mungkin untuk menyambut Toni yang akan datang menjemputnya berkencan sekitar satu jam lagi. Sebagai seorang gadis yang sedang dilanda asmara, Lisa tengah berbahagia saat ini. Demi pujaan hatinya, ia rela berdandan secantik mungkin meski harus menghabiskan banyak waktu.

Setiap manusia, satu atau dua kali pastinya pernah merasakan jatuh cinta. Sama seperti Lisa yang sedang jatuh cinta kepada Toni, saat kita jatuh cinta, kita juga bisa merelakan banyak hal demi seseorang atau sesuatu yang kita cintai tersebut. Mungkin berkorban waktu, uang, perhatian, prioritas, dan pikiran yang rela tersita oleh satu hal yang istimewa itu. Yup, cinta membuat kebanyakan orang mau melakukan apa saja bahkan yang kurang masuk diakal sekalipun!

Hebatnya pengaruh dari cinta, membuat Rasul Paulus pun menuliskannya sebagai salah satu nasehat yang ia kirimkan kepada jemaat di Korintus. Ia menulis, "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!" (1 Cor. 16:14, Do everything in love).

Menurut Helen Fisher Ph.D, seorang antropolog dari Rutgers University, jatuh cinta membuat otak lebih meningkatkan kinerjanya untuk menghasilkan hormon dopamine yang membuat orang merasa senang/bahagia, menyegarkan mood, menambah stamina, dan meningkatkan kemampuan berkonsentrasi pada obyek yang dicintainya. Salah satu makanan yang dapat merangsang hormon dopamine adalah cokelat. Karena itulah, jarang ada orang berhenti makan cokelat pada gigitan pertama.

Selain kepada lawan jenis (pacar, tunangan, suami/istri), sebenarnya kita juga bisa menggunakan kekuatan dari momen jatuh cinta ini di semua bidang. Jika kita jatuh cinta kepada pekerjaan, tentu akibatnya kita bisa melakukan apa saja agar pekerjaan itu berjalan dengan baik. Jika kita jatuh cinta kepada orang tua, tentu akibatnya kita akan berbakti kepada mereka dengan segenap jiwa. Kita juga bisa belajar untuk jatuh cinta kepada semua hal yang ada disekeliling kita lainnya, seperti hobby, rumah, sahabat-sahabat, rekan sekerja, tempat kerja, lingkungan temat tinggal, dan lain-lain.

Raja Daud, memberi contoh jatuh cinta kepada yang lebih ekstrim lagi. Ia jatuh cinta kepada rumah Tuhannya! (Mazmur 69:10a, Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku). Wow, apa yang terjadi jika semua orang meneladani tindakan Raja Daud ini? Benar. Tidak akan ada lagi kemunafikan dan 'hitung-hitungan' dengan Tuhan di dunia ini. Semua orang tanpa perlu diperingatkan atau dihimbau oleh gembala sidang dan hamba-hamba Tuhan lainnya, pasti akan berbondong-bondong datang ke rumah Tuhan dan memberikan persembahan yang terbaik untuk-Nya. Jika saat jatuh cinta kepada manusia lain kita bisa menghalalkan segala cara untuk menunjukkan rasa cinta kita kepadanya, terlebih lagi jika kita sedang jatuh cinta kepada Bapa yang di Surga. Iya kan?

Jatuh cinta adalah pilihan. Hari-hari akhir ini, banyak orang lebih 'memilih' tinggal dalam kesakitan akibat patah hati daripada jatuh cinta. Selama kita berjalan pada kebenaran Firman Tuhan, cinta tidak akan menyakiti. Sebaliknya, cinta yang benar bisa membangun dan mendorong kita kearah yang lebih baik dari sebelumnya. Lepaskan semua beban berat yang anda pikul dan mulailah jatuh cinta pada hal-hal yang ada dan sudah terjadi dalam hidup anda sampai hari ini. Biarkan otak anda memproduksi hormon dopamine lebih banyak setiap hari sehingga kehidupan anda berada dalam naungan kebahgiaan yang terus mengalir. Love your life, change your world! (nj@coe).



Saturday, May 02, 2009

Kumbang






Date: 29 April 2009
Location: Ponorogo
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS