Friday, May 22, 2009

Heart




Date: 21 May 2009
Location: Telaga Sarangan Magetan
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS


Dari Balik Kabut




Date: 21 May 2009
Location: Telaga Sarangan Magetan
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS

Red Flower








Date: 21 May 2009
Location: Telaga Sarangan Magetan
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS


Monday, May 18, 2009

Kepribadian Terbuka dan Tertutup

Oleh : Angelina Kusuma

Seorang pria memasuki netcafe saya sekitar pukul 6 sore ini. Penampilannya agak unik. Beliau mengenakan pakaian serba hitam, topi hitam pula, dan...sebuah scraft cantik yang melilit lehernya. Benda satu itu membuatnya tampak unik di mata saya. Saya tidak ingin menertawakannya atau menilainya agak kurang gentle karena mengenakan benda yang biasa disukai oleh wanita itu. Tapi gimana ya? Abis, warna scraft yang dikenakannya itu berwarna merah muda/pink dengan beberapa sulaman benang emas disana-sini yang sangat kontras jika dibandingkan pakaian dan topi serba hitamnya...serta nampak terlalu manis untuknya, seorang pria :p.

Ketika memasuki pintu netcafe, ia tersenyum kepada saya sambil mengucapkan kalimat yang membuat saya menoleh kaget. "Good morning...", katanya. Hahaha, tentu saja saya langsung menoleh kearahnya, wong beliau jelas-jelas mengucapkan kalimat yang salah di kondisi yang tidak tepat (seharusnya kan beliau mengucapkan, "Good evening..." kalopun maksutnya untuk menyapa orang di sore hari hehehe).

Pikiran jahil terus terang hinggap di kepala saya melihat pria ini dan caranya mengucapkan kalimat. Dilihat dari penampilannya, hampir bisa dipastikan bahwa beliau bukanlah warga dari kota ini/kemungkinan besar adalah warga pendatang. Penampilan serta kesalahannya mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris, makin membuat saya merasa bahwa beliau memang cukup unik ^_^.

Satu jam berikutnya, pria unik ini keluar dari rent room yang digunakannya untuk berinternet ria sambil berbicara di handphone. Satu dua kalimat sempat saya tangkap dengan jelas karena beliau berbicara tepat di sebelah tempat duduk saya di kursi lounge netcafe. Dari pembicaraannya dengan seseorang diseberang sana, jelaslah bahwa beliau bukanlah warga asli dari kota ini. Beliau menyatakan kepada orang yang sedang diajaknya berbicara bahwa beliau ke kota ini untuk menjenguk opanya.

Pembicaraan lainnya tidak begitu saya perhatikan lagi. Lebih tepatnya saya tidak mau perduli lagi karena jika saya melakukannya sama artinya dengan menguping pembicaraan orang lain dong.

Tak berapa lama beliau terlibat percakapan via handphone, tiba-tiba saya melihat beliau meneteskan air mata...M-E-N-A-N-G-I-S!!

Menyadari bahwa saya memperhatikannya ketika buru-buru menghapus air mata dengan punggung tangannya, spontan beliau mengucapkan sederet kalimat lagi, "You know...I'm crying..." Saya hanya melongo dengan tindakan pria ini. Di telepon, beliau berbicara secara fasih dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tapi kenapa beliau lebih memilih mengucapkan kalimat dalam bahasa Inggris ketika hendak berkomunikasi dengan saya (apa muka saya seperti bule Inglis? hahaha). Melihat ekspresi melongo saya, beliau kembali berkata, "Ah...nothing...nggak pa pa..." sambil mengusap kembali air matanya.

"Hehehe, benar-benar pria yang unik!", kata saya dalam hati. Saya bukannya tidak mengerti maksud dari semua kalimat bahasa Inggris yang beliau ucapkan sejak memasuki netcafe sore ini, namun cara beliau memilih mengucapkannya padahal beliau baru bertemu dengan saya dan sebenarnya fasih berbahasa Indonesia itulah yang membuat saya terbengong-bengong menanggapinya, hingga mungkin beliau berpikir saya tidak mengerti bahasa yang sedang diucapkannya itu hihihi :D.

Tingkah unik pria ini tidak hanya sampai disitu saja. Setelah berkata bahwa pemakaian rent room yang tadi digunakannya selesai, beliau mengambil sebotol minuman dari freezer kemudian duduk kembali di kursi longue sambil merokok dan mata yang menerawang entah kemana (eh, emang benar menerawang atau sengaja berlagak sok 'menerawang' agar terlihat sedang memikirkan sesuatu yang berat ya? hihihi).

Saya tidak berani mengusik pria unik ini setelah memergokinya tiba-tiba meneteskan air mata. Saya hanya membiarkannya bertingkah demikian, sesuka hatinya, karena memang saya tidak mengenalnya sebelum sore ini dan tidak tahu apa yang bisa saya perbuat untuk membantunya selain membiarkannya menikmati duduknya, minuman, dan rokoknya :D.

Setelah minuman dibotolnya habis, akhirnya beliau membayar semua biaya yang sudah beliau pakai kemudian pergi dengan sepeda motor hitamnya yang juga unik! Bagian depan sepeda motor tersebut dilindungi kaca penutup yang cukup mencolok, makanya saya sebut itu juga sebagai kendaraan unik hehehe.

Sepeninggal pria dengan kalimat yang unik, penampilan yang unik, tindakan yang unik, dan juga kendaraannya yang unik tersebut, saya masih saja terkesima karenanya. Tingkah lakunya dari awal sampai akhir tadi benar-benar tidak saya sangka-sangka. Yang saya tahu, selama ini pria memang jarang sekali terlihat cengeng. Hampir semua pria yang saya kenal di dunia ini merupakan pria-pria yang punya prinsip, boys don't cry. Begitu melihat seorang pria yang begitu mudah menangis di depan orang lain seperti pria unik yang 'nyasar' di netcafe saya sore ini, wajarlah jika saya terheran-heran :D.

Di komsel (kelompok sel) saya Kamis lalu, ada seorang anak youth yang mengaku bahwa ia termasuk anak yang sulit untuk curhat. Sulit mengungkapkan isi hatinya kepada orang lain ketika sedang menghadapi masalah. Tipe pemendam, itulah istilah sederhananya. Dibandingkan dengan pria unik yang saya temui sore ini, mungkin si Andik (sebutan anak youth di komsel saya yang mengaku tidak bisa curhat itu) terlihat lebih 'pria' dibandingkan beliau. Tapi, benarkah sisi maskulin (bisa menahan air mata) itu yang membuat pria disebut pria?

Meski 1:10, saya tidak menyebut bahwa cara pria unik ini menangis di netcafe merupakan tanda bahwa beliau benar-benar pria yang mungkin punya kelainan jiwa (bukan gila beneran lho maksutnya), disamping cara berpenampilannya yang juga eksentrik dibanding pria-pria pada umumnya. Setiap orang sah-sah saja berpenampilan lebih feminin/maskulin dibandingkan kaum sebangsanya dan tidak ada larangan yang mengatur soal itu. Yang membedakannya dengan Andik dan pria-pria pada umumnya, hanya karena beliau lebih terbuka secara emosional kepada orang lain bahkan yang baru ditemuinya seperti saya (meski tidak sampai curhat, baru menunjukkan ekspresi saja).

Keterbukaan bukanlah hal yang sepele dan mudah dilakukan. Memendan semua masalah seorang diri seperti yang dilakukan oleh Andik juga tidak baik bagi pertumbuhan jiwanya. Ketika seseorang tidak bisa berbagi (sharing) dengan orang lain, itu sama saja membuat tubuhnya seperti bom atom yang tidak tahu kapan akan meledak tapi bisa 'buum' setiap saat. Masalah-masalah yang tidak terselesaikan dan tertimbun lama di dalam hati tanpa tersalurkan, bisa menjerumuskan manusia ke kejatuhan yang lebih dalam jika ia tak kunjung menemui seseorang yang bisa membantunya untuk lebih terbuka.

Sikap pria unik di netcafe itu mungkin agak memalukan jika mengingat prinsip boys don't cry yang biasa dipegang teguh oleh para pria. Tapi, orang-orang yang mudah menunjukkan/mengekspresikan suasana di hati sepertinya, juga mempunyai kelebihan. Biasanya orang-orang yang demikian akan lebih tahan terhadap masalah karena semua beban bisa langsung dikeluarkan dan tidak tertimbun sehingga menyebabkan luka-luka batin yang tak tersembuhkan.

Memiliki kepribadian yang terbuka atau tertutup terjadi karena keputusan setiap orang yang menjalaninya. Kepribadian terbuka lebih baik daripada kepribadian tertutup asal kita tidak salah mengaplikasikannya dikehidupan sehari-hari dan mampu mengendalikan diri agar tindakan kita yang mudah mengekspresikan segala sesuatu di hati itu tidak membuat orang lain berpikiran yang negatif tentang kita (nj@coe).

Sunday, May 17, 2009

Unique Cafe








Date: 17 May 2009
Location: Ponorogo
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS
Sotfware Editing: Picasa3


Ada Berapa Tuhanmu?

Oleh : Angelina Kusuma

Setelah beberapa lama menggeluti dunia fotografi, baru kali ini saya benar-benar jengkel dengan yang namanya kamera. Bagaimana tidak? Karena satu kamera, saya sampai melupakan suatu hal yang sangat penting siang tadi dan membuat saya menyesal sampai sekarang.

Pagi ini gembala sidang saya menyerahkan bagan struktur organisasi gereja baru yang harus saya buat secepatnya menggantikan struktur lama. Di gereja, saya memegang bagian kesekretariatan makanya gembala sidang saya begitu percaya memberikan tugas yang berhubungan dengan tulis-menulis atau multimedia kreatif ke tangan saya.

Saya benar-benar lalai kali ini. Begitu sampai di rumah, saya baru menyadari bahwa kertas berisi bagan struktur organisasi gereja yang sudah susah payah dibuat oleh gembala sidang saya itu, hilang! Sejak kecil saya diajari orang tua saya untuk menjunjung tinggi kepercayaan dan mengharagi semua pekerjaan yang diserahkan ke tangan saya, nggak perduli itu besar atau kecil. Ketika saya sadar bahwa kertas itu sudah tidak ada di tas saya tanpa ingat hilangnya dimana, saya menjadi serba salah hingga menjelang sore hari. Ahh, ceroboh sekali saya ini...

Siangnya, sambil mengerjakan struktur organisasi gereja dengan sisa-sisa nama pengurus beserta posisinya yang sempat saya hafal, akhirnya saya bisa mengingat kembali dimana kertas yang diserahkan gembala sidang itu sebelum raib. Seusai ibadah raya, saya menyempatkan diri membereskan bahan sharing komsel yang akan dipakai sepanjang minggu depan lebih dulu. Karena berbarengan dengan kegiatan Sekolah Minggu, tergodalah saya untuk memotret anak-anak itu dan inilah cikal bakal terjadinya bencana hilangnya kertas bagan struktur organisasi gereja :(.

Saat hendak memotret Tabita (anak Sekolah Minggu yang imut-imut), tanpa sadar saya menyerahkan kertas itu ke tangannya. Dan anda tahu kan bagaimana ketika saya sudah memotret sesuatu? Yeah, betullll. Saya lupa ingatan jadinya (bukan gila beneran lho artinya hehehe). Selesai memotret Tabita, Sharon, dan juga Alvin, saya langsung membalikkan badan, mengemasi barang-barang saya kemudian...sayonaraaaa...Saya lupa mengambil kembali kertas yang amat penting tersebut dari tangan anak-anak Sekolah Minggu yang dengan sukarela telah menjadi model saya itu.

Setelah ingat kronologis peristiwa tragis yang melenyapkan satu-satunya tulisan indah dari gembala sidang saya mengenai bagan struktur organisasi di gereja, saya semakin merenung karenanya. Sebenarnya bukan hanya kali ini saja saya teledor gara-gara keasyikan sesuatu. Sebelumnya, saya juga sering terserang sakit maag atau flu karena terlalu serius berada di depan komputer untuk menulis di journal blog atau sekedar nge-Facebook yang membuat saya menunda-nunda waktu makan dan tidur larut malam.

Di LivingSocial Facebook, saya pernah mengaku bahwa saat ini saya tengah kecanduan lima hal. Satu Facebook, dua Multiply, tiga photography, empat pizza, dan lima traveling. Kelima hobby saya ini, kadang memang membuat saya lupa akan dunia luar. Kalo sudah terlanjur asyik di depan komputer, saya bisa menghabiskan waktu dari pukul 8 pagi sampai 10 malam non stops (don't try this at home hehehe). Kalo sudah terlanjur makan pizza, saya bisa ngabisin ber-pan-pan pizza seorang diri tanpa ingat program diet lagi (hahaha). Kalo sudah terlanjur pengen traveling...wuuu...harus tetap terlaksana meski merogoh kocek dalam-dalam alias menguras ATM hihihi. Dan kalo sudah terlanjur keasyikan pegang kamera, ya seperti tadi pagi :(. Bisa lupa akan tugas dan kewajiban penting hiks...

Segala sesuatu yang kita cintai, baik itu manusia maupun sesuatu, bisa memperbudak kita ke dalam dosa jika kita lengah mengendalikannya.

Adik-adik rohani saya juga ada beberapa yang mengeluh kepada saya ketika relationships-nya berakhir. Tapi saat disuruh menengok ke belakang apa yang sudah diperbuatnya kepada Tuhan selama menjalin relationships dengan mantan pacarnya dulu, hampir semua berkata, "Iya sie kak...belakangan aku agak lupa menjalin hubungan intim sama Babeh di Surga sejak jadian sama dia..."

Tuhan tidak pernah mau posisi-Nya di hati kita digantikan oleh orang yang kita cintai, pekerjaan yang kita banggakan, atau kegemaran-kegemaran kita lainnya. Semakin kita ngotot menduakan Tuhan, Ia bisa menghilangkan apa saja yang membuat pandangan kita tidak tertuju pada-Nya sampai kita menomor-satukan-Nya kembali.

Di kitab Perjanjian Lama, banyak terdapat kisah saat bangsa Israel diserahkan ke tangan musuh-musuhnya karena mereka melupakan Tuhan, Allah yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Tuhan bertindak 'kejam' kepada bangsa Israel bukan karena Ia tidak menyayanginya lagi namun untuk membuat agar mereka belajar menyerahkan diri dan percaya kepada-Nya saja. Ketika kita mulai menggeser posisi Tuhan di hati kita dengan sesuatu atau manusia lain, kita juga bisa bernasip sama seperti bangsa Israel yang dihukum Tuhan dengan menyerahkannya ke tangan musuh-musuhnya.

* * *

Ada berapa 'tuhan' di dalam hidup anda saat ini? Apakah Yesus benar telah menjadi yang terutama bagi anda atau Dia sebenarnya masih kalah pamor dengan pacar anda, istri/suami anda, anak-anak anda, pekerjaan anda, gadgets anda, rumah anda, mobil anda, kesibukan, kegemaran, dan barang-barang yang anda cintai lainnya.

Untuk memeriksa lebih tinggi mana antara kadar kecintaan anda kepada Tuhan dan kadar kecintaan anda kepada dunia sangatlah sederhana. Hitunglah berapa jam sehari yang sudah anda habiskan untuk kepentingan anda sendiri dan untuk orang-orang yang ada disekeliling anda, kemudian bandingkan dengan berapa lama anda sudah 'berbicara' pada-Nya. Jika anda sudah menghabiskan lebih dari separuh hari hanya untuk anda, orang-orang yang anda cintai, dan hobby anda saja tanpa ada hubungan intim dengan-Nya setiap saat, mungkin anda sudah mentuhankan selain Tuhan. Jadi, waspadalah! (nj@coe).

Saturday, May 16, 2009

Membatasi Mukjizat

Oleh : Angelina Kusuma

Pernahkah anda berpikir, kenapa mukjizat yang terjadi di hidup seseorang terlalu sedikit atau bahkan sama sekali belum pernah terjadi mukjizat dihidupnya?

Apakah itu tanda bahwa Tuhan tidak mengasihinya atau membenci kehidupan orang tersebut?

Di kitab Raja-raja, dikisahkan bahwa ada seorang janda dari salah satu para nabi yang mendatangi Elisa untuk mengadukan masalahnya. Suaminya meninggal dengan mewariskan hutang kepadanya yang sudah jatuh tempo dan para penagih hutang datang untuk menagih pembayaran hutangnya. Ia tidak mempunyai apa-apa dirumahnya selain dari sebuah buli-buli berisi minyak. Dari pembicaraan keduanya, Elisa kemudian menyuruh si janda ini melakukan sesuatu agar terjadi mukjizat dihidupnya.

2 Raja-raja 4:3-4, Lalu berkatalah Elisa: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!"

Elisa menyuruh si janda meminta bejana-bejana kosong dari tetangganya namun, "...jangan terlalu sedikit", kata Elisa. Selanjutnya, terjadilah mukjizat ketika janda ini menuangkan buli-buli berisi minyak itu ke dalam bejana-bejana yang sudah diperolehnya. Selama ia menuang, minyak tidak pernah berhenti mengalir dan memenuhi bejana-bejananya. Setelah semua bejana yang dimilikinya penuh, barulah minyak dari buli-buli berhenti mengalir!

2 Raja-raja 4:6, Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: "Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi," tetapi jawabnya kepada ibunya: "Tidak ada lagi bejana." Lalu berhentilah minyak itu mengalir.

Dari kisah ini, kita bisa belajar satu hal penting yaitu selain perlu tindakan iman dan penyerahan diri atas masalah kita kepada Tuhan untuk memancing terjadinya mukjizat, mukjizat juga hanya akan berhenti ketika kita 'membatasi/menghentikannya'.

Ketika anak si janda berkata, "Tidak ada lagi bejana", minyak yang awalnya mengalir terus dari buli-buli berhenti dan tidak ada mukjizat yang terjadi lagi. So, apakah benar Tuhan tidak mengasihi atau membenci kehidupan seseorang jika manusia tersebut kekurangan mukjizat? No! Jawabannya, manusialah yang sering kali membatasi/menghentikan Tuhan sehingga Ia tidak bisa membuat atau memperbanyak mukjizat dalam kehidupannya.

Yesus yang sepanjang hidup-Nya di dunia sering mengadakan mukjizat dari satu tempat ke tempat lain, juga terkesan kurang suka mengadakan mukjizat di tanah kelahiran-Nya sendiri di Betlehem. Sebabnya juga bukan karena Ia tidak mampu melakukan mukjizat disana, tapi...lagi-lagi...karena bangsa-Nya sendiri, umat Israel, tidak mempercayai-Nya dengan sepenuh hati bahkan menolak-Nya dari kelahiran sampai pada penyaliban-Nya.

Jika anda merasa bahwa hidup anda terlalu biasa-biasa saja atau kekurangan berkat dan mukjizat disana-sini, jangan buru-buru mengeluh dan memarahi Tuhan. Periksa dulu hidup anda dengan seksama. Mungkin anda sudah membatasi atau bahkan sudah 'melarang' Tuhan agar tidak mengadakan mukjizat-Nya di hidup anda selama ini dengan tidak melibatkan-Nya dalam setiap masalah-masalah anda atau membiarkan Ia duduk di bawah sedangkan anda berada di tahta hidup anda, memerintah Dia.

Tuhan tidak akan pernah pergi dari hidup kita kecuali kita yang pergi meninggalkan-Nya lebih dulu. Mukjizat hanya akan terjadi ketika kita membiarkan kuasa Tuhan mengalir tanpa dibatasi oleh pemikiran dunia kita, bukan Dia yang menghentikannya (nj@coe).



Friday, May 15, 2009

Akar yang Memberi Buah Lebat

Oleh : Angelina Kusuma

Tiga hari ini saya sibuk membersihkan halaman rumah saya dari rumput-rumput liar. Meski seharusnya bulan ini sudah memasuki musim kemarau, nyatanya tiga hari belakangan cuaca menurunkan hujan juga yang cukup lebat dan membuat tanah menjadi sedikit gembur sehingga mempermudah pekerjaan saya.

Halaman rumah saya bukanlah tanah yang subur untuk bercocok tanam. Lebih tepatnya, tanah tersebut banyak bercampur pecahan batu-batu dan kerikil karena dulunya merupakan bekas dari penghancuran bangunan pagar depan. Meski berupa tanah berbatu-batu dan sulit ditumbuhi tanaman hias lain, namun rumput-rumput liar rupanya tetap eksis disana. Sekitar satu jam setiap hari, sekarang saya sibuk membungkuk-bungkuk di halaman rumah itu demi mencabuti si rumput-rumput liar yang tumbuh dengan suburnya.

Sepanjang perhatian saya, saya menemukan tiga jenis rumput liar yang tumbuh dihalaman rumah itu. Ciri-ciri dari ketiga rumput liar ini berbeda-beda. Ada yang batangnya tumbuh tinggi keatas namun akarnya kurang kuat sehingga sangat mudah dicabut. Jenis rumput kedua lebih tepat dikatakan sebagai rumput yang bisa merambat. Batangnya beruas-ruas dan setiap ruas bisa tumbuh rumput baru dalam satu rangkaian. Rumput jenis kedua ini agak sulit dicabut karena multiplikasi batangnya yang banyak itu. Jenis rumput terakhir paling sulit dicabut. Daun rumputnya pendek-pendek namun akar-akarnya bisa menjangkau lebih dalam ke tanah dibandingkan kedua jenis rumput lainnya. Semakin besar diameter daun rumputnya, akar-akar yang tertanam ditanahpun semakin dalam sehingga saya memerlukan bantuan benda tajam untuk menggali tanah sekelilingnya sampai ia beserta akar-akarnya bisa dicabut dengan sempurna.

Penampilan luar dari jenis-jenis rumput dihalaman rumah saya ini ternyata ada yang menipu. Yang terlihat tinggi menjulang lebih mudah tercabut dan mati dibandingnya rumput yang batang dan daun-daunnya pendek namun berakar lebih kuat dan tidak mudah dicabut.

Kehidupan setiap tumbuhan tergantung dari seberapa kuat akarnya. Semakin dalam akar-akar tumbuhan mencengkeram tanah, semakin baik pula ketahanan batang dan daun-daun diatasnya terhadap gangguan lingkungan seperti perubahan cuaca, angin, terik sinar matahari, dll. Tidak semua tumbuhan yang terlihat kokoh diluar (punya batang dan daun yang menonjol), berarti kokoh juga didalamnya (bagian akarnya).

Jika kita diibaratkan seperti tumbuhan, bagaimanakah kondisi kerohanian kita? Apakah kita termasuk orang-orang dengan penampilan luar terlihat begitu cinta Tuhan namun mudah tercabut ketika lingkungan berbalik menentang kita, atau kita sudah tertanam benar dan berakar kuat didalam Yesus sehingga kita tidak mudah terpengaruh lagi oleh gangguan dan ancaman dari pihak-pihak lain?

Bu Suwanto adalah figur encim-encim di gereja saya yang tetap terlihat awet muda meski usianya sudah memasuki kepala 7. Tidak kalah dengan kawula muda, beliau menjalani hari-harinya dengan sangat antusias, bahkan lebih antusias dari yang muda-muda saya rasa hehehe. Beliau aktif di kelompok doa, ikut program PA (Pendalaman Alkitab), terlibat di kelompok sel, dan juga rajin ke gereja baik itu ibadah raya maupun kegiatan-kegiatan lainnya.

Setiap kali keluar rumah, beliau hanya mengendarai sepeda mini berwarna merah dan bisa berkeliling kota menggunakan sepedanya tersebut tanpa mengeluh kecapekan. Kesehatan beliau benar-benar mengagumkan. Belum lagi ditambah keberhasilan beliau dalam hal PI (Pekabaran Injil). Sepanjang sepengetahuan saya selama tiga tahun berjemaat di gereja lokal yang sekarang ini, beliau sudah membawa tiga orang yang belum mengenal Kristus sama sekali menjadi pengikut-Nya melalui pendekatan pribadi kepada yang bersangkutan seorang diri tanpa bantuan pendeta maupun hamba Tuhan lainnya. Semakin mengagum bukan? Saya saja selama hidup belum bisa membawa seorangpun yang belum mengenal Yesus sama sekali kepada-Nya, baru bisa memuridkan jemaat-Nya yang sudah ada (di komsel/KTB-Kelompok Tumbuh Bersama). Dibandingkan beliau, saya tidak ada apa-apanya :(.

Bu Suwanto tak hanya berakar dan bertumbuh didalam Yesus, namun juga berbuah lebat. Tak jarang saya mendapat nasehat dari beliau seperti ini, "Jadi anak muda sing (yang) semangat yo, ojo (jangan) loyo. Selasa ikut doa malam, Jumat siang ikut doa puasa, ben (biar) tubuhmu kuat. Koyo (seperti) emak iki (ini) lho. Dadi (jadi) ben (biar) iso (bisa) menangin jiwa akeh (banyak) buat Tuhan Yesus."

Saya tersenyum setiap kali mendengar kesaksian dari Bu Suwanto ini. Pantesan aja beliau terlihat begitu sehat, antusias, dan terus berbuah bagi Yesus. Beliau tidak pernah memanjakan dirinya secara fisik maupun rohani. Beliau rajin berolah raga sepeda dan berdoa setiap hari, makanya tubuh dan jiwanya juga sehat. Penampilan luarnya boleh seperti encim-encim biasa, tapi dalamnya luar biasa bung! Kecintaannya akan Tuhan membuatnya diberkati melimpah-limpah dan menjadi teladan untuk orang-orang yang melihatnya.

Nah, sudahkah anda menjadi murid Yesus sekelas Bu Suwanto saat ini? (nj@coe).

Kolose 2:7, Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.