Saturday, April 18, 2009

Ulat + Kupu-kupu






Date: 18 April 2009
Location: Ponorogo
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS

Si Biru (Koro)








Date: 18 April 2009
Location: Ponorogo
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS


Friday, April 17, 2009

Past of 11 PM






Date: 16 April 2009
Location: Ponorogo
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS

When you're sleeping, they're not. Still in front of their marketable goods through the street, waiting customer and money :)

Wednesday, April 15, 2009

Maximized Yourself

Oleh : Angelina Kusuma

"Ah, aku sudah terlalu tua untuk memperdalam musik. Yang muda-muda aja deh", kalimat ini sempat saya dengar dari seorang Bapak-bapak yang ditawari melayani di bagian departemen musik gerejanya. Bapak-bapak ini memang bisa sedikit bermain alat musik gitar meski tidak semua kord gitar beliau kuasai dengan baik. Dengan berdalih bahwa usianya yang telah menginjak 45 tahun itu sudah terlalu tua untuk memperdalam permainan alat-alat musik, sepertinya beliau telah melontarkan alasan yang masuk akal. Tapi sebenarnya, bukankah beliau sedang membatasi dirinya untuk berkembang lebih dihidupnya?

Terkadang tanpa sadar, kita sendirilah yang membatasi diri menjadi yang terbaik di dunia ini. Karena alasan usia, kesibukan, jarak, dan lain-lain, kita sering menolak untuk belajar tentang sesuatu. Yang membuat manusia enggan belajar, salah satunya karena faktor proses yang selalu memakan waktu. Kebanyakan orang, ketakutan kehilangan waktu berharga mereka karena berpikir sempit!

Sempit? Yah, itulah yang akan saya katakan mengenai orang-orang yang malas mempelajari sesuatu karena alasan takut kehilangan waktu-waktu berharganya. Tidak ada yang sia-sia dalam proses belajar. Dan meskipun kita tidak menjadi juara pertama di bidang yang kita pelajari tersebut, paling tidak hal itu akan menambah warna tersendiri di hidup kita.

Sejak kecil saya termasuk orang yang aktif. Selalu ada hal-hal baru yang ingin saya pelajari dan tidak pernah membiarkan waktu saya berlalu hanya karena ia disebut 'terlalu berharga'. Justru karena waktu saya di dunia ini sangat berharga, maka saya memilih untuk mengisi hari-hari saya itu dengan segudang kegiatan dan hal-hal menarik/hal-hal baru yang perlu dipelajari.

Saya belum pernah menjadi yang terbaik di semua bidang yang pernah saya pelajari. Saya belum menjadi song leader tetap meski saya bisa menyanyi. Saya belum menjadi dancer meski saya bisa menari. Saya belum bisa menjadi anggota inti di tim bola basket meski saya bisa bermain basket. Saya belum menjadi the best writer meski saya bisa menulis. Saya belum bisa menjadi fotografer handal meski saya bisa memotret. Dan saya belum bisa menjadi koki hebat meski saya bisa memasak. Biarpun demikian, saya masih terus memperdalam ilmu-ilmu saya di bidang-bidang tersebut dan tidak akan pernah menutup pintu terhadap peluang-peluang lain yang perlu dipelajari seperti design grafis, bermain musik, melukis, atau lain-lainnya yang mungkin saja peluangnya mendatangi saya suatu ketika nanti.

Mungkin ada beberapa orang yang akan mengata-ngatai saya demikian, "Buat apa repot-repot mempelajari banyak hal? Toh, nanti juga tidak akan terpakai semua dengan maksimal?"

Eits, itu kan kata orang...tapi tidak buat saya! hehehe.

Bagi saya, setiap hari di hidup kita adalah proses pembelajaran. Tidak ada kesia-siaan dengan hasil apapun yang kita peroleh dari belajar meski tidak menempatkan kita dijajaran top scorer or the best. Justru dengan semakin banyak kita tahu dan merambah ke segala bidang, kita akan menjadi semakin dewasa dan bijaksana dengan sendirinya. Karena tidak semua bidang itu mudah dipelajari dan perlu perjuangan untuk mengendalikan diri atau banyak bersabar untuk mendapatkan ilmunya.

Talenta tak hanya diberikan secara cuma-cuma oleh Tuhan kepada kita, tapi juga karena kita berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya.

Lukas 19:24-26Lalu katanya kepada orang-orang yang berdiri di situ: Ambillah mina yang satu itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh mina itu. Kata mereka kepadanya: Tuan, ia sudah mempunyai sepuluh mina. Jawabnya: Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya.

Di perumpamaan talenta yang diajarkan oleh Yesus kepada murid-murid-Nya di Lukas 19:12-27, dikisahkan mengenai seorang bangsawan yang memberikan sepuluh mina kepada sepuluh hambanya untuk berdagang. Setelah penobatannya sebagai raja, maka hamba-hambanya tersebut dipanggil kembali menghadap kepadanya untuk memberi pertanggung-jawaban atas apa yang telah mereka perbuat terhadap uang yang dititipkan kepada mereka.

Hamba pertama menghasilkan sepuluh mina (Lukas 19:16), hamba kedua menghasilkan lima mina (Lukas 19:18), tapi hamba ketiga tidak menghasilkan mina lain kecuali satu mina yang mula-mula diberikan oleh rajanya itu (Lukas 19:20). Akibat karena hamba ketiga ini tidak menjalankan mina yang telah diberikan oleh rajanya untuk menghasilkan laba, maka seperti yang ditulis oleh Lukas 19:24-26, minanya itu diberikan kepada hamba lain yang berhasil menjalankan mina rajanya hingga menjadi sepuluh mina.

Jika kita tidak mengasah talenta-talenta yang Tuhan berikan kepada kita, kita juga bisa bernasip sama seperti hamba ketiga dalam perumpamaan tentang talenta yang diajarkan oleh Yesus ini. Sebaliknya, jika kita didapati-Nya setia menjalankan talenta-talenta kita bahkan sanggup menghasilkan lebih dari yang Ia inginkan, tidak tertutup kemungkinan Ia akan memberikan talenta-talenta lain kepada kita yang jauh lebih besar.

Maximized yourself by learning and doing. Tidak pernah terlambat untuk belajar hal-hal baru dan memperdalam ilmu-ilmu yang kita punyai meski kadarnya masih dibawah standar rata-rata. Jadikan hidup anda sebagai petualangan seru yang harus anda nikmati setiap harinya. Menjadi manusia multi talent selalu lebih menarik daripada hidup terus dalam bayang-bayang keterbatasan yang kita buat sendiri dalam pikiran (nj@coe).



Tuesday, April 14, 2009

Perubahan

Oleh : Angelina Kusuma

Sebelum hari ini, saya mengenalinya sebagai seorang gadis dengan rambut keriting, langkah-langkah tegapnya ketika berjalan, T-shirt/kemeja berukuran gombrang dibadan dan celana jeans yang melekat disetiap penampilannya, serta sepatu kets dan tas ransel besar yang tak pernah lupa disandangnya kemana-mana saat keluar rumah. Lina si gadis tomboy! Itulah julukan yang diberikan oleh teman-teman kami kepadanya.

Tapi hari ini, saya tersentak dibuatnya. Sosoknya tak lagi tomboy seperti lima tahun lalu dimata saya. Dengan gaun dan sepatu high heel, ia tersenyum kepada saya sambil menyibakkan rambut lurus rebounding miliknya. Senyum itu masih milik Lina yang dulu, tapi tidak dengan penampilannya sekarang. Keanggunan yang ditunjukkannya kini, tak ayal membuat saya terpana!

"Wow, you're so different sist...like a woman...", hanya kalimat ini yang bisa saya lontarkan untuk menanggapi perubahan drastis yang sudah dialami oleh Lina. Selanjutnya, kami duduk bersama-sama di meja cafe, memesan dua gelas cappucino kemudian melanjutkan pembicaraan kembali sebagai dua orang sahabat yang lama terpisah oleh benua berbeda sejak lulus dari bangku kuliah.

Well, hampir kebanyakan wanita di dunia ini pernah mengalami masa-masa seperti Lina. Masa-masa dimana melangkah sebagai gadis dengan penampilan yang tak jauh berbeda dengan laki-laki alias si tomboy. Entah pengaruh pergeseran budaya, lingkungan pergaulan, atau memang trend mode yang sedang bergulir, penampilan wanita lambat laun tak jauh dari pada kemeja, kaos gombrang, dan celana jeans yang notabene merupakan milik kaum Adam dulunya. Tak hanya itu, banyak kaum Hawa yang mulai menekuni dunia profesi kaum Adam, berjalan seperti mereka, dan bertingkah laku seolah mereka tidak ada bedanya dengan pria juga.

Menjadi wanita sesungguhnya tentu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kasus seperti Lina yang adalah gadis tomboy dulunya, sering kita jumpai di era masyarakat sekarang. Perlu kekuatan ekstra untuk merubah identitasnya agar penampilan yang cantik, anggun, dan lemah-lembut tak hanya terlihat diluar saja namun juga berimbang dengan inner beauty dan kecerdasan yang dimilikinya.

Semboyan 3 B, Brain, Beauty, dan Behaviour, yang biasa kita dengar diajang-ajang pemilihan putri Indonesia maupun kontes ratu sejagad, bisa kita raih dalam kehidupan sehari-hari jika kita tahu kuncinya. Setiap wanita sudah dibekali dengan ketiga hal diatas sejak ia lahir ke dunia. Hanya saja, tidak semua wanita memaksimalkan ketiganya sejak awal. Ada wanita yang memilih mengasah Brain-nya saja, sehingga tampil sebagai wanita dengan otak yang cerdas, namun minus di Beauty dan Behaviour-nya. Ada juga wanita yang mengedepankan Beauty dan Behaviour, namun Brain-nya tidaklah digunakan dengan sempurna.

Perubahan adalah keputusan

Lina mampu merubah penampilan tomboy-nya menjadi anggun dan cantik karena ia memutuskan lebih dulu untuk menjadi seperti demikian. Perubahan tidak terjadi dengan tiba-tiba atau semaunya. Ia perlu proses dan diawali dengan sebuah keputusan, bukan sekedar angan-angan atau impian semata.

Saat kecil saya sering ditanya oleh orang tua saya, "Besok kalo udah besar, ingin jadi apa?" Jawab saya, "Jadi pengusaha!" Dan hasilnya, jadilah seperti apa yang sudah saya putuskan waktu kecil, saya menjadi seorang pengusaha saat ini.

Jika anda ingin berubah menjadi wanita yang cantik, putuskanlah untuk menjadi demikian. Jika anda ingin menjadi wanita yang cerdas, putuskanlah untuk menjadi demikian juga. Apa yang kita ambil sebagai keputusan, bisa menjadi gaya pendorong kuat saat berlari mewujudkan impian tersebut dimasa depan.

Perubahan adalah konsistensi

Apa yang anda pikirkan mengenai seseorang yang pernah bersumpah bahwa ia tidak akan berbohong lagi namun mengulagi tindakan itu di kejadian-kejadian selanjutnya. Apakah anda akan menganggapnya sudah tidak pernah berbohong lagi atau justru mengganggapnya hanya berbual saja? Ya, tentu saja jawaban yang kedua yang akan anda pilih.

Demikian juga halnya dengan keinginan kita untuk melakukan perubahan hidup. Anda tak cukup mengambil keputusan untuk berubah namun juga harus menjaga konsistensi anda terhadap keputusan yang sudah anda ambil itu, mengeraminya, sampai perubahan yang anda dambakan itu menjadi kenyataan.

Renungkan arti quote yang pernah saya dapatkan dari seorang hamba Tuhan ini, "Perubahan bukanlah perubahan sampai terjadi suatu perubahan"

Perubahan adalah proses kearah yang lebih baik

Jika perubahan itu mengarah kepada hal yang lebih buruk, pasti tidak layak disebut perubahan tapi kemunduran. Proses terjadi dengan memakan waktu, tidak instan. Ada yang prosesnya cepat, agak cepat, dan lambat. Semua tergantung dari komitmen kita menjaga tekad dan konsistensi dalam mewujudkan keputusan kita untuk berubah menjadi lebih baik. Kesabaran kita menunggu hasil proses sangat menentukan baik atau buruk dihasil akhirnya.

Untuk menunjang proses yang berjalan, jangan malu mencari referensi dari orang-orang yang sudah mengalami perubahan itu dimasa lalunya. Dengan adanya feedback dari orang-orang yang sudah berpengalaman tersebut, kita bisa menilai kekurangan apa yang belum kita lakukan untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Semakin banyak feedback yang kita peroleh, semakin mudah kita melakukan perubahan demi perubahan dalam hidup kita.

Monday, April 13, 2009

Keep Struggling

Oleh : Angelina Kusuma

Masih ingat dengan kisah Chicken Little? Film animasi besutan Walt Disney tahun 2005 lalu ini, sempat menjadi tontonan yang sukses menyodok box office AS dengan muatan cerita yang sangat mendidik, utamanya bagi para anak-anak dan remaja. Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak ayam (Chicken Little) yang ingin merubah hidupnya menjadi lebih baik setelah mengalami pengalaman buruk di masa lalunya.

Suatu siang, sebuah potongan benda jatuh menimpa kepalanya dan membuat seluruh kota menjadi panik karena Chicken Little memukul lonceng di menara kota dan mengatakan bahwa langit akan jatuh. Setelah seluruh warga kota dan ayahnya mendatangi tempatnya pertama kali melihat potongan langit yang jatuh dan tidak menemukan benda aneh disana, hal itu membuatnya menjadi bahan olok-olokan. Ayahnya sendiri mengira bahwa Chicken Little hanya kejatuhan buah oak yang disangkanya sebagai potongan langit. Setahun setelah peristiwa itu, warga kota masih terus mengingat ulah yang pernah dilakukan oleh Chicken Little itu dan membuat ayahnya merasa sangat malu sehingga tidak mempercayai perkataannya lagi.

Di sekolahpun, Chicken Little sering mendapat perlakuan kurang baik dari teman-temannya kecuali dari tiga sahabatnya, yaitu Master Runt of the Litter, Abby Mallard, dan Fish Out of Water. Berkat dukungan dari ketiga sahabatnya tersebut, Chicken Little akhirnya mendapatkan ide untuk melakukan sebuah rencana agar ia kembali mendapatkan kepercayaan dari ayahnya dan juga dari warga kota lainnya. Ia kemudian bergabung dalam tim baseball sekolah dan berlatih sekuat tenaga agar bisa membuktikan bahwa dirinya masih berguna.

Impian Chicken Little terkabul! Sebuah kesempatan emas mendatanginya saat di turnamen baseball sekolah. Ia mendapat kesempatan memukul bola dan akhirnya mencetak home run dengan mulus setelah melewati perjuangan yang mendebarkan. Karena kesuksesan membawa tim baseball sekolahnya menjuarai pertandingan, akhirnya ia kembali mendapat kepercayaan dari ayah, teman-teman sekolah, dan seluruh warga kotanya. Ketika semuanya terlihat sangat baik dan rencana Chicken Little untuk memperoleh kembali masa depannya tanpa dibayang-bayangi masa lalu mengenai potongan langit yang jatuh, tiba-tiba saja benda itu kembali muncul melalui jendela kamarnya.

Takut kejadian masa lalunya terulang lagi, Chicken Little memanggil ketiga sahabatnya dan menunjukkan kepada mereka mengenai potongan benda yang jatuh dari langit itu. Tanpa disengaja, potongan langit itu membawa Fish Out of Water terbang hingga mereka berempat tiba disebuah piring terbang raksasa yang dihuni para alien. Ketakutan keempatnya makin memuncak ketika mereka menemukan monitor map berisi gambar tata surya, matahari dengan planet-planet yang mengelilinginya. Beberapa planet sudah ditandai dengan silang dan di planet bumi tempat mereka tinggal saat ini ditandai dengan anak panah yang menunjukkan bahwa bumi seolah-olah merupakan target perhancuran para alien itu selanjutnya.

Keempat sahabat itu keluar dari piringan terbang alien dengan ketakutan sehingga mereka tidak menyangka bahwa si anak alien mengikuti mereka sampai ia tertinggal oleh piringan terbang orang tuanya. Chicken Little dan sahabat-sahabatnya kembali ke kota, memukul lonceng menara kota, dan memperingatkan seluruh warga kota tentang rencana para alien untuk memusnahkan kota dan bumi. Sayangnya, kejadian setahun lalu terulang lagi sekarang. Ayah Chicken Little dan warga kota tetap tidak percaya dengan perkataan Chicken Little meski ketiga sahabatnya turut menjadi saksi.

Para alien yang kehilangan anaknya, kembali lagi ke kota tersebut dan membuat kepanikan karena mereka menembaki warga-warga kota yang ditemuinya hingga menghilang satu per satu. Kali ini, barulah seluruh warga kota menjadi benar-benar mempercayai kata-kata Chicken Little sebelumnya. Ayah Chicken Little pun akhirnya kembali percaya kepada anaknya itu dan berjuang bersama-sama dengannya mengembalikan si anak alien yang mengikuti Chicken Little dan mencegah seluruh kota dimusnahkan oleh para alien. Ending ceritanya, ternyata para alien itu datang ke bumi bukan untuk memusnahkannya melainkan karena mereka hendak mencari buah oak yang hanya terdapat di bumi dan dinilai mereka mirip dengan bentuk tubuh dan nenek moyang alien.

Setelah mendapatkan kembali anaknya, para alien membangun keadaan kota yang sudah dirusaknya dan mengembalikan warga kota yang sudah dihilangkannya seperti semula. Chicken Little mendapat banyak sanjungan dari ayah dan seluruh warga kotanya. Akhirnya, ia memperoleh kehidupan yang lebih baik dan tidak lagi menjadi bahan olok-olok, namun sudah menjadi hero bagi kotanya.

Kisah film ini memberi pesan positif bahwa apapun keadaan kurang baik yang kita hadapi sekarang, kita bisa merubahnya menjadi lebih baik dimasa depan jika kita mau berusaha melakukan yang terbaik didalamnya, pantang menyerah pada setiap keadaan selagi kita masih bisa berkarya dan teruslah berusaha sampai perubahan yang baik itu terjadi.

Saat kita menghadapi masalah dan kehidupan yang kurang baik, tirulah apa yang sudah diperbuat oleh Chicken Little. Hadapi setiap ketakutan, kekecewaan, kehilangan, rasa malu, kesedihan, dan lain-lain dengan gagah berani. Hidup adalah untuk diperjuangkan, bukan sekedar dijalani seadanya. Don't give up, be a hero for your life. Everyday is a chance to be better than yesterday! So, keep struggling for more goodness (nj@coe).



Sunday, April 12, 2009

In Black and White Theme




Date: 11 April 2009
Location: My corner
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS
Model: Angelina Kusuma

Hahaha, memodeli diri sendiri ^o^ V

Saturday, April 11, 2009

Berthing




Date: 10 April 2009
Location: Waduk Bening Widas, Saradan, Madiun
Photographer: Angelina Kusuma
Camera: Power Shot A590 IS
Editing software: LightZone