Tuesday, October 21, 2008

No Reason for Lonely

Oleh : Angelina Kusuma

Pagi tadi, saya terbangun tidak seperti biasanya. Perasaan kosong tiba-tiba menyelimuti hati dan pikiran saya sehingga membuat saat teduh saya menjadi kacau. Terus terang, ini bukan kali pertama saya mengalaminya. Ketika perasaan sepi menyelinap masuk menguasai hati dan pikiran, seperti inilah akibat yang selalu terjadi kepada saya. Mezbah doa saya hilang dan sepanjang hari saya seketika berantakan. Mungkin bukan saya saja yang mengalaminya. Anda dan semua orang di bumi ini pasti pernah merasai yang namanya kesepian dan hati yang kosong.

Serba salah rasanya ketika saya dikuasai oleh ketidak-utuhan sebagai pribadi seperti ini. Apalagi jika saat kesepian kita sedang dalam keadaan single and available (baca jomblo hehehe). Ide-ide seperti, "Andai aku punya teman berbagi yang special", "Andai saat seperti ini ada yang menguatkan aku secara khusus", "Andai aku tidak hidup seorang diri saja", "Andai aku punya pasangan", dengan cepat akan membuat kita jatuh ke posisi instable. Sulit memang menjaga hati saat kesepian datang menyapa. Sering kali yang kita lihat sebagai 'kenyamanan' adalah jika kita mempunyai pasangan berbagi yang secara khusus bisa mengisi kekosongan di hati kita itu. Benarkah?

Keadaan kita ketika merasa tidak utuh, kesepian, dan terasing ibaratnya adalah sebuah gelas yang kosong atau hanya terisi separuh. Untuk membuat gelas menjadi penuh, tentunya kita membutuhkan isi dari tempat lain. Misalkan saja dua orang yang sedang menjalin relationships seperti dua buah gelas ini. Ketika satu gelas tidak terisi penuh dan gelas yang lain harus mengisinya, maka kecenderungan gelas yang bertindak sebagai pengisi akan menjadi tidak penuh lagi atau bahkan menjadi kosong setelah ia menyumbangkan isinya kepada gelas yang lain. Dan jika keduanya telah menjadi sama-sama kosong, bisakah mereka saling memenuhi satu sama lain lagi?

Saling menuntut untuk dipenuhi pasangannya bukanlah prinsip relationships yang sehat. Manusia selalu mempunyai kecenderungan untuk tidak utuh setiap saat. Kedagingan kita merupakan penghalang utama menjadi gelas yang penuh. Ketika dua orang yang belum mencapai kepenuhan menjalin relationships, keduanya hanya akan menularkan ketidak-utuhan pribadinya kepada pasangannya dan membuat jalannya relationships tak lebih dari sekedar status.

Yang bisa memenuhi ketidak-utuhan manusia adalah sesuatu yang lebih sempurna daripada manusia itu sendiri, yaitu Tuhan. Saat Tuhan masuk dan bertahta di hati kita, saat itulah semua kekurangan kita akan ditutupi oleh-Nya dan kita bisa menjadi gelas yang terisi penuh. Relationships yang sehat terjadi ketika dua orang pelakunya tidak lagi saling menuntut harus dipenuhi oleh pasangannya tetapi sudah menjadi gelas-gelas yang penuh lebih dulu. Gelas yang penuh tidak perlu isi dari tempat lain. Pribadi yang sudah terpenuhi oleh kasih karunia Tuhan juga tidak perlu menuntut orang lain untuk membuatnya menjadi utuh.

Saya menepis jauh-jauh semua ide yang ditawarkan oleh pikiran saya untuk mencari pasangan hidup guna menghilangkan kesepian yang menyerang tadi pagi. Saya berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan agar Ia memenuhi saya dengan kasih-Nya yang sempurna dan tidak membiarkan kesepian menguasai diri saya terlalu lama. Menjadi pribadi tidak utuh hanya akan merugikan kita. Kita diciptakan sebagai pribadi yang bisa tetap utuh meski tanpa pasangan jika kita mempunyai hubungan yang intim dengan Tuhan. Pernikahan adalah karunia, bukan sarana mencari kebahagiaan dengan cara mencari keutuhan dari keberadaan pasangan di sisi kita. Jadi mencari pasangan hidup cepat-cepat hanya untuk menghilangkan kesepian di hati kita adalah ide buruk!

Jika kita membiarkan diri tidak utuh, maka kita tidak akan pernah memperoleh relationships yang berkualitas dengan manusia manapun dan bagaimanapun caranya. Kita harus mengejar keutuhan pribadi lebih dulu agar tidak meninggalkan jejak-jejak kesalahan dan kesia-siaan pada relationships yang sedang kita rajut. Sampai kita menikah, menjadi orang tua, dan meninggal, kita juga harus tetap tinggal dalam keutuhan pribadi yang terpenuhi oleh Tuhan, bukan oleh manusia yang sama tidak sempurnanya dengan kita.

Banyak hal yang bisa membuat kita menjadi pribadi tidak utuh. Pengalaman masa lalu yang kurang baik seperti relationships yang pernah gagal, gambar Bapa yang rusak, adanya hubungan-hubungan lain yang retak (persahabatan, rekan sekerja, rekan sepelayanan), dan sebagainya, akan mempengaruhi kualitas pemulihan kita saat sedang tidak utuh dan merasai kesendirian. Semakin sering kita mengenang pengalaman-pengalaman yang kurang baik dari hidup kita di masa lalu dan tidak berusaha untuk terus menatap kepada pintu-pintu lain yang sudah terbuka untuk kita di masa depan, akan semakin sering juga kita merasai kesepian di jiwa.

Kekosongan, kesendirian, dan keterasingan adalah musuh bagi setiap manusia. Jika kita ingin menjadi pribadi yang tetap utuh, jangan lama-lama berdiam diri ketika ketiganya mencoba menyapa hati dan pikiran kita. Tuhan menyukai setiap bentuk hubungan dan karenanya kita juga tercipta sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan hubungan dalam hidupnya. Ketika kita merasakan kesepian, berarti kita tidak sedang berada di jalur yang benar di antara hubungan-hubungan yang ada di sekitar kita itu. Bisa jadi hubungan vertikal kita dengan Tuhan yang kurang baik atau belum pulihnya kita dengan hubungan-hubungan horisontal yang tidak sebagaimana mestinya.

Hidup haruslah bermakna. Kita hidup di hari ini, bukan di hari kemarin atau di hari yang akan datang. Karenanya, yang harus kita ambil cukup bagian kita di hari ini saja. Hari-hari yang lalu sudah menjadi sejarah. Kita bisa belajar untuk lebih baik darinya tetapi bukan untuk menghidupinya. Hari-hari di depan adalah haknya Tuhan dan biarkan Ia tetap menggenggamnya sampai waktunya kita memilikinya tiba. Dengan begitu, tidak ada alasan lagi bagi kita untuk terus kesepian bukan? Karena kita diciptakan bukan untuk tinggal di dalam kesepian! Tetapi tinggal di dalam keutuhan pribadi, hubungan-hubungan yang manis dengan Tuhan dan sesama (tidak selalu harus dengan pasangan hidup, tetapi juga dengan sahabat, keluarga, dan rekan-rekan beraktivitas kita lainnya), dan kepenuhan sukacita surgawi (nj@coe).



No comments: