Oleh : Angelina Kusuma
Hari Selasa tanggal 29 Januari 2008 pukul 17.00 - 20.30 WIB, saya berkesempatan melayani Kebaktian Kebangunan Rohani Natal, disebuah gereja lokal dikota saya bersama tim choir. Saat session penyalaan lilin yang diiringi lagu Malam Kudus, saya beserta seluruh anggota tim choir didaulat untuk mengedarkan penyalaan lilin mulai dari bangku jemaat barisan terdepan sampai barisan belakang dan yang ada ditingkat dua gedung.
Saya sendiri mendapat tugas mengedarkan penyalaan lilin dibarisan paling belakang bangku jemaat yang terletak diluar gereja dan dinaungi oleh tenda portable. Saat saya menyalakan lilin-lilin yang dipegang oleh jemaat, ada seorang anak kecil yang berwajah murung duduk dikursinya. Lilinnya belum menyala. Saya mendekati anak itu dan menyodorkan lilin saya untuk menyulut lilin yang yang ada ditangannya. Berkali-kali saya mencoba tetapi tetap tidak bisa menyalakan lilin tersebut karena ternyata tidak ada sumbu yang tertanam didalamnya.
Melihat muka murung si adik kecil tersebut, selesai menunaikan tugas saya untuk menyalakan semua lilin yang dipegang oleh jemaat yang ada diarea itu, saya menyodorkan lilin yang saya pegang untuk diambil oleh adik kecil tersebut dan meminta lilin tanpa sumbu yang ada ditangannya untuk saya bawa kembali ke depan.
Lilin tanpa sumbu
Dari Wikipedia saya mendapat keterangan yang lebih akurat mengenai lilin. Lilin adalah sumber penerangan yang terdiri dari sumbu yang diselimuti oleh bahan bakar padat. Sebelum abad ke-19, bahan bakar yang digunakan biasanya adalah lemak sapi. Sekarang yang biasanya digunakan adalah paraffin.
Tanpa sumbu, paraffin tidak akan bisa terbakar dan menghasilkan terang. Jadi, apalah arti sebuah lilin yang tidak bersumbu kecuali menjadi benda pajangan atau dilempar ke tempat sampah jika sudah tidak berbentuk indah lagi ?
Didunia ini banyak orang Kristen yang mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamatnya pribadi. Banyak orang Kristen yang namanya sudah tercatat di Surga tetapi kehidupannya tidak berada dalam Kerajaan Allah itu sendiri. Kehidupannya tetap seperti si bungsu yang keluar dari rumah bapanya (Lukas 15:11-32). Hanya memiliki status sebagai anak - Kristen, namun tidak tinggal dalam kemuliaan Kerajaan-Nya.
Maukah kita seperti itu terus menerus ?
Yusuf hanya seorang budak di Mesir sebelum ia menjadi wakil dari Firaun. Daud hanya seorang gembala domba pemetik kecapi yang bisa membuat Goliath tumbang dan membuat Raja Saul tenang saat ia kerasukan roh jahat. Ruth hanya seorang perempuan Moab yang pada masa Perjanjian Lama tidak layak hidup berdampingan dengan orang Israel, tetapi kemudian Bible mencatat bahwa ia ada dalam silsilah Daud. Maria Magadalena hanya seorang pelacur sebelum Yesus datang mengubah hidupnya dan akhirnya Bible pun mencatat bahwa ketika Yesus bangkit dari kematian, Ia menampakkan diri pertama kali – salah satunya - kepadanya.
Yusuf, Daud, Ruth, dan Maria Magdalena bukanlah orang-orang yang hebat pada mulanya. Mereka adalah orang-orang yang hina, terbuang, dan dari golongan rendahan. Yesuslah yang membuat mereka berbeda. Yesus yang ada didalam diri merekalah yang mengubah derajat mereka dari seseorang yang bukan siapa-siapa menjadi orang yang dilihat oleh dunia.
Semua orang bisa menjadi Kristen. Semua orang bisa mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan - Iblispun mengkaui bahwa Yesus adalah Tuhan. Tetapi, tidak semua orang bisa tinggal dalam Kerajaan Surga-Nya. Tidak semua orang bisa memerintah bersama Dia dibumi ini.
Wahyu 5:10, Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah menjadi raja di bumi.
Jika kita adalah seorang Kristen dengan keadaan standar-standar saja, berarti keadaan kita masih diluar Kerajaan Surga. Jika kita menjadi Kristen puluhan tahun tanpa mengalami perubahan dalam pola pikir dan tingkah laku kita, berarti kita masih jauh dari kemuliaan Allah itu sendiri. Anda dan saya sama seperti paraffin lilin. Kita bisa terbakar dan menjadi terang jika kita mempunyai sumbu didalam diri kita yang siap dibakar oleh api kemuliaan-Nya.
Yesus menciptakan kita bukan dengan mutu biasa-biasa saja. Yesus menciptakan kita untuk menjadi raja dibumi ! Masalahnya, maukah kita menjadi luar biasa ? Maukah kita menanggalkan baju gembel kita dan mengenakan jubah kemuliaan-Nya ? Maukah kita menjadi 'raja-raja-Nya' yang memerintah atas bumi ini ?
Seekor kupu-kupu tidak terlahir cantik sejak dari awal mulanya. Asal kupu-kupu adalah dari ulat. Hewan kecil yang selalu membuat saya dan para wanita lainnya jijik dan ngeri dengan bentuknya yang berbulu dan bisa menyebabkan gatal-gatal dikulit itu. Dari ulat menjadi kupu-kupu, harus ada tahap dimana si ulat bersedia mati. Tanpa sebuah kematian yang disebut kepompong, ulat tetaplah seekor ulat dan tidak akan pernah menjadi kupu-kupu.
Jika kita ingin hidup dalam Kerajaan Allah dan ikut memerintah sebagai raja bersama Dia, kita juga harus melewati masa mati. Mati secara kedagingan kita, mati dari cara hidup, dan cara berfikir kita dimasa lalu. Menyalibkan 'aku' dan membiarkan-Nya mengambil alih seluruh hidup kita selamanya.
Dalam dunia nyata 5 + 2 = 7. Tetapi ditangan Yesus, 5 + 2 = 5.000 + 12 bakul (Markus 6:34-44). Hanya Dia yang bisa mengubah hidup kita menjadi sesuatu yang besar, luar biasa, dan akan dilihat dunia. Hanya Dia yang sanggup mengubah seorang manusia hina menjadi raja.
We're the kings of God
Are you ready to receive His kingdom ?
Dead from 'I, me, mine, and myself' before ...
Thursday, April 10, 2008
Life is Wonderful if You Know How to Live
Oleh : Angelina Kusuma
"Saya terbelit masalah perselingkuhan. Saya sudah menjalin hubungan dengan wanita A tetapi backstreet. Kemudian ditengah jalan saya bertemu dengan wanita B dan jatuh cinta juga kepadanya. Saya harus bagaimana sekarang ? Saya tahu kebenaran Firman Tuhan tidak boleh melakukan perselingkuhan. Tetapi, ini sungguh sulit untuk dilepaskan."
"Kenapa saya tidak segera mendapat pasangan hidup yang benar ? Padahal saya sudah berdoa dan berpuasa, sudah berusaha mencari ditempat yang benar, sudah melakukan ini dan itu. Tetapi kenapa saya tetap tidak mendapatkan pasangan yang cocok ? Apa saya memang ditakdirkan untuk menjadi lajang seumur hidup saya ?"
"Saya sudah bekerja keras selama tiga tahun tetapi nasif saya tidak berubah sama sekali. Tetap saja saya menjadi bawahan. Belum sukses. Apakah Tuhan memang tidak adil kepada saya ?"
"Saya sudah berdoa kepada Tuhan untuk masalah saya itu. Tetapi karena saya menunggu jawaban yang tak kunjung datang, maka saya tidak sabar dan berhenti berdoa."
Tentu anda pernah mendengar salah satu atau dua dari petikan kalimat-kalimat yang saya cuplik diatas bukan ? Atau, mungkin saat ini anda justru berdiri dipihak orang-orang yang sedang mengatakan hal-hal tersebut ?
Tidak munafik, dulu saya juga pernah menjadi bagian dari orang-orang yang bisanya merengek dan menodong Tuhan dengan rentetan tuntutan yang harus jadikan-Nya khusus untuk saya. Tidak jarang juga saya lantas ngambek, jika Ia tidak peka dan mengabulkan keinginan-keinginan saya dengan segera.
Kenapa saat kita semakin dewasa, kadang justru bertindak seperti bayi ? Semakin dewasa secara fisik, terkadang polah tingkah kita justru menunjukkan kemunduran daripada saat kita remaja atau bahkan anak-anak ?
Ukuran kedewasaan rohani memang tidak bisa diukur dengan seberapa tua umur kita dan juga seberapa lama kita sudah menjadi orang Kristen. Orang Kristen sejak lahirpun banyak yang tidak mengerti apa maksud Alkitab dibandingkan mereka yang menjadi Kristen karena mualaf.
Kekuwatiran hidup, menjadi sebab utama kenapa manusia menjadi kerdil imannya. Betapa Tuhan tidak tertawa mendengar kalimat-kalimat konyol yang terucap diatas ?
Jika ditelusuri, cara hidup manusialah yang sering membuatnya masuk ke dalam kesulitan. Pikiran manusia yang terlalu berbelit-belit, menjadikannya tiba-tiba berada dalam sebuah padang gurun selama 40 tahun persis seperti bangsa Israel.
Ada seorang teman yang pernah mengatakan hal ini kepada saya, "Life is wonderful if you know how to live." Saat mendengar kalimat itu, saya sedang mengembara di padang gurun dan berputar-putar. Kalimat itu membuat saya bingung. Hingga akhirnya melontarkan kalimat balasan dengan entengnya, "Ah, yang bener adalah life is very very very difficult !”
Tetapi begitu saya berhasil keluar dari padang gurun saya, memang, penyelesaian dari masalah kita itu sebenarnya begitu mudah. Dan terkadang jawabannya sudah ada didepan mata kita jauh sebelum kita menyadarinya. Jika seandainya saya lebih pintar sedikit saat masuk ke padang gurun, pastinya saya tidak perlu mengembara menghabiskan waktu disana sampai kulit saya gosong terbakar matahari. Itulah alasan kenapa teman saya bisa mengatakan bahwa, "Life is wonderful if you know how to live."
Hidup itu mudah. Teramat sangat mudah. Jika kita tahu rahasianya tentunya. Kunci dari kehidupan di dunia ini ada ditangan Si Pencipta hidup itu sendiri. Tetapi terkadang, kita tidak cukup iman untuk melihat kunci itu. Kita tidak cukup kepercayaan bahwa Ia saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalah kita sehingga kita sering kali membantu Tuhan dengan tenaga kita yang terbatas.
Kita hebat bukan ? Bisa membantu Allah ? Mungkin itu yang ada dipikiran kita. Kita merasa berhak dan sangat pandai untuk mengatur ini dan itu dalam hidup kita, sehingga itu membuatnya tampak begitu berantakan !
Percayalah, yang bisa menghancurkan hidup kita itu sebenarnya bukan Iblis.
Lho ?
Yang bisa menghancurkan hidup kita adalah diri kita sendiri. Allah tidak mungkin menghancurkan hidup kita, karena Ia begitu mengasihi kita. Iblis, juga tidak punya kuasa apapun untuk menghancurkan hidup kita, karena ketika Yesus naik ke Surga, segala kekuatan yang dipunyai oleh Iblis sudah dilucuti-Nya. Tetapi, kita dengan segala prinsip dan juga kesok pintaran kita, teramat sangat bisa melakukannya.
Kadang, kita dengan bangga menuduh si Iblis dan mengkambing hitamkannya atas segala kehancuran yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi apa kita sadar bahwa meskipun Iblis bisa mengubah situasi disekeliling kita sehingga membuat kita terpojok dan terdakwa, kita masih mempunyai kesempatan untuk tidak memilih menghancurkan hidup kita sesuai dengan bujukan Iblis itu dan tetap percaya kepada Tuhan.
Ayub 1:9-11, "Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
Siapa di dunia ini yang pernah mengalami penderitaan seperti yang pernah diderita oleh Ayub ? Ayub pernah kehilangan seluruh harta bendanya (Ayub 1:15-17), kehilangan nyawa anak-anaknya (Ayub 1:19), terkena barah busuk dari telapak tangan sampai ke kepalanya (Ayub 2:7), dikutuki oleh istrinya sendiri (Ayub 2:10), dihina oleh teman-temannya (Ayub 18:2-4).
Ayub mempunyai 1001 alasan untuk murtad dari Tuhan saat itu. Ayub mempunyai 1001 dalih untuk kecewa atas hidupnya. Tetapi Ayub tetap memilih untuk berpegang teguh pada janji-janji yang telah diucapkan Tuhannya. Dan Alkitab mencatat, dalam kesemuanya itu Ayub sama sekali tidak berdosa.
Bisakah kita mempercayakan masa depan kita kepada Allah 100 % seperti Ayub mempercayakan seluruh tubuh dan barang yang dimilikinya kepada Tuhannya ? Tuhan yang Ayub sembah adalah Tuhan yang sama seperti yang kita sembah. Jika Ia bisa melakukan banyak hal kepada Ayub, kenapa Ia yang sama tidak bisa melakukan banyak hal juga kepada kita ? Dan kenapa kita tidak bisa mempercayakan keluarga kita, jodoh kita, pekerjaan kita, kehidupan dan juga doa-doa kita kepada-Nya ?
Tangan-Nya tidak pernah kurang panjang untuk menolong kita dan telinga-Nya tidak pernah kurang peka mendengar teriakan kita meminta tolong - baca merengek-rengek. Ia mampu mendengar semua keluhan dan nada protes kita kepada-Nya, ketidak puasan kita terhadap hidup kita dan juga keputus asaan kita setiap saat tanpa batas.
Yesaya 59:1-2, Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Sederhana
Kita tahu persis bahwa Allah kita tahu apa yang terbaik buat kita. Kebingungan kita terhadap sesuatu hal tidak akan pernah menambah satu centimeter dari hidup kita. Justru semakin kita bingung, kita panik, kita semakin jauh dan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sudah direncanakan-Nya untuk kita. Dan hasilnya, kita bisa saja tersesat di padang gurun seperti bangsa Israel yang kurang iman.
Kita tahu betul bahwa jodoh, uang, kedudukan dan juga ketenaran itu ada di tangan Tuhan. Kebingungan kita akan siapa pasangan kita dimasa depan, tidak akan membuat kita langsung bertemu dengan miss atau mr. charming diesok hari saat terbangun dari tidur bukan ?
Kepanikan kita saat tidak mempunyai uang sama sekali, tidak akan membuat kita tiba-tiba menemukan gunung emas didepan pintu rumah bukan ?
Kekuwatiran kita akan anak-anak dan keluarga kita tidak akan membuat kita tertidur nyenyak ditengah malam buta bukan ?
Keinginan kita untuk menjadi orang terkenal tidak akan membuat kita bisa menaklukkan dunia dengan sekali tepuk tangan bukan ?
Itulah beberapa alasan kenapa begitu banyak orang bodoh di dunia ini yang bisa mengeluh soal hidup. Mereka tidak tahu bagaimana caranya hidup yang benar.
Percayai Dia dalam segala hal
Masa depan kita ada ditangan kita. Tuhan memberi kita kehendak bebas untuk digunakan dengan bijaksana. Iblis tidak mempunyai kuasa untuk menghancurkan kita jika kita tidak menghendaki dan mengizinkannya campur tangan dalam setiap keputusan yang kita buat atas hidup ini. Begitu juga dengan Tuhan, jika kita mempercayai-Nya dan memberi-Nya kendali atas hidup kita 100 %, maka Ia juga akan bertindak untuk membenahi hidup kita, menyelesaikan masalah-masalah kita, dan memikul salib bersama kita.
"Saya terbelit masalah perselingkuhan. Saya sudah menjalin hubungan dengan wanita A tetapi backstreet. Kemudian ditengah jalan saya bertemu dengan wanita B dan jatuh cinta juga kepadanya. Saya harus bagaimana sekarang ? Saya tahu kebenaran Firman Tuhan tidak boleh melakukan perselingkuhan. Tetapi, ini sungguh sulit untuk dilepaskan."
"Kenapa saya tidak segera mendapat pasangan hidup yang benar ? Padahal saya sudah berdoa dan berpuasa, sudah berusaha mencari ditempat yang benar, sudah melakukan ini dan itu. Tetapi kenapa saya tetap tidak mendapatkan pasangan yang cocok ? Apa saya memang ditakdirkan untuk menjadi lajang seumur hidup saya ?"
"Saya sudah bekerja keras selama tiga tahun tetapi nasif saya tidak berubah sama sekali. Tetap saja saya menjadi bawahan. Belum sukses. Apakah Tuhan memang tidak adil kepada saya ?"
"Saya sudah berdoa kepada Tuhan untuk masalah saya itu. Tetapi karena saya menunggu jawaban yang tak kunjung datang, maka saya tidak sabar dan berhenti berdoa."
Tentu anda pernah mendengar salah satu atau dua dari petikan kalimat-kalimat yang saya cuplik diatas bukan ? Atau, mungkin saat ini anda justru berdiri dipihak orang-orang yang sedang mengatakan hal-hal tersebut ?
Tidak munafik, dulu saya juga pernah menjadi bagian dari orang-orang yang bisanya merengek dan menodong Tuhan dengan rentetan tuntutan yang harus jadikan-Nya khusus untuk saya. Tidak jarang juga saya lantas ngambek, jika Ia tidak peka dan mengabulkan keinginan-keinginan saya dengan segera.
Kenapa saat kita semakin dewasa, kadang justru bertindak seperti bayi ? Semakin dewasa secara fisik, terkadang polah tingkah kita justru menunjukkan kemunduran daripada saat kita remaja atau bahkan anak-anak ?
Ukuran kedewasaan rohani memang tidak bisa diukur dengan seberapa tua umur kita dan juga seberapa lama kita sudah menjadi orang Kristen. Orang Kristen sejak lahirpun banyak yang tidak mengerti apa maksud Alkitab dibandingkan mereka yang menjadi Kristen karena mualaf.
Kekuwatiran hidup, menjadi sebab utama kenapa manusia menjadi kerdil imannya. Betapa Tuhan tidak tertawa mendengar kalimat-kalimat konyol yang terucap diatas ?
Jika ditelusuri, cara hidup manusialah yang sering membuatnya masuk ke dalam kesulitan. Pikiran manusia yang terlalu berbelit-belit, menjadikannya tiba-tiba berada dalam sebuah padang gurun selama 40 tahun persis seperti bangsa Israel.
Ada seorang teman yang pernah mengatakan hal ini kepada saya, "Life is wonderful if you know how to live." Saat mendengar kalimat itu, saya sedang mengembara di padang gurun dan berputar-putar. Kalimat itu membuat saya bingung. Hingga akhirnya melontarkan kalimat balasan dengan entengnya, "Ah, yang bener adalah life is very very very difficult !”
Tetapi begitu saya berhasil keluar dari padang gurun saya, memang, penyelesaian dari masalah kita itu sebenarnya begitu mudah. Dan terkadang jawabannya sudah ada didepan mata kita jauh sebelum kita menyadarinya. Jika seandainya saya lebih pintar sedikit saat masuk ke padang gurun, pastinya saya tidak perlu mengembara menghabiskan waktu disana sampai kulit saya gosong terbakar matahari. Itulah alasan kenapa teman saya bisa mengatakan bahwa, "Life is wonderful if you know how to live."
Hidup itu mudah. Teramat sangat mudah. Jika kita tahu rahasianya tentunya. Kunci dari kehidupan di dunia ini ada ditangan Si Pencipta hidup itu sendiri. Tetapi terkadang, kita tidak cukup iman untuk melihat kunci itu. Kita tidak cukup kepercayaan bahwa Ia saja sudah cukup untuk menyelesaikan masalah kita sehingga kita sering kali membantu Tuhan dengan tenaga kita yang terbatas.
Kita hebat bukan ? Bisa membantu Allah ? Mungkin itu yang ada dipikiran kita. Kita merasa berhak dan sangat pandai untuk mengatur ini dan itu dalam hidup kita, sehingga itu membuatnya tampak begitu berantakan !
Percayalah, yang bisa menghancurkan hidup kita itu sebenarnya bukan Iblis.
Lho ?
Yang bisa menghancurkan hidup kita adalah diri kita sendiri. Allah tidak mungkin menghancurkan hidup kita, karena Ia begitu mengasihi kita. Iblis, juga tidak punya kuasa apapun untuk menghancurkan hidup kita, karena ketika Yesus naik ke Surga, segala kekuatan yang dipunyai oleh Iblis sudah dilucuti-Nya. Tetapi, kita dengan segala prinsip dan juga kesok pintaran kita, teramat sangat bisa melakukannya.
Kadang, kita dengan bangga menuduh si Iblis dan mengkambing hitamkannya atas segala kehancuran yang terjadi dalam hidup kita. Tetapi apa kita sadar bahwa meskipun Iblis bisa mengubah situasi disekeliling kita sehingga membuat kita terpojok dan terdakwa, kita masih mempunyai kesempatan untuk tidak memilih menghancurkan hidup kita sesuai dengan bujukan Iblis itu dan tetap percaya kepada Tuhan.
Ayub 1:9-11, "Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Apakah dengan tidak mendapat apa-apa Ayub takut akan Allah? Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah segala yang dipunyainya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu."
Siapa di dunia ini yang pernah mengalami penderitaan seperti yang pernah diderita oleh Ayub ? Ayub pernah kehilangan seluruh harta bendanya (Ayub 1:15-17), kehilangan nyawa anak-anaknya (Ayub 1:19), terkena barah busuk dari telapak tangan sampai ke kepalanya (Ayub 2:7), dikutuki oleh istrinya sendiri (Ayub 2:10), dihina oleh teman-temannya (Ayub 18:2-4).
Ayub mempunyai 1001 alasan untuk murtad dari Tuhan saat itu. Ayub mempunyai 1001 dalih untuk kecewa atas hidupnya. Tetapi Ayub tetap memilih untuk berpegang teguh pada janji-janji yang telah diucapkan Tuhannya. Dan Alkitab mencatat, dalam kesemuanya itu Ayub sama sekali tidak berdosa.
Bisakah kita mempercayakan masa depan kita kepada Allah 100 % seperti Ayub mempercayakan seluruh tubuh dan barang yang dimilikinya kepada Tuhannya ? Tuhan yang Ayub sembah adalah Tuhan yang sama seperti yang kita sembah. Jika Ia bisa melakukan banyak hal kepada Ayub, kenapa Ia yang sama tidak bisa melakukan banyak hal juga kepada kita ? Dan kenapa kita tidak bisa mempercayakan keluarga kita, jodoh kita, pekerjaan kita, kehidupan dan juga doa-doa kita kepada-Nya ?
Tangan-Nya tidak pernah kurang panjang untuk menolong kita dan telinga-Nya tidak pernah kurang peka mendengar teriakan kita meminta tolong - baca merengek-rengek. Ia mampu mendengar semua keluhan dan nada protes kita kepada-Nya, ketidak puasan kita terhadap hidup kita dan juga keputus asaan kita setiap saat tanpa batas.
Yesaya 59:1-2, Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.
Sederhana
Kita tahu persis bahwa Allah kita tahu apa yang terbaik buat kita. Kebingungan kita terhadap sesuatu hal tidak akan pernah menambah satu centimeter dari hidup kita. Justru semakin kita bingung, kita panik, kita semakin jauh dan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sudah direncanakan-Nya untuk kita. Dan hasilnya, kita bisa saja tersesat di padang gurun seperti bangsa Israel yang kurang iman.
Kita tahu betul bahwa jodoh, uang, kedudukan dan juga ketenaran itu ada di tangan Tuhan. Kebingungan kita akan siapa pasangan kita dimasa depan, tidak akan membuat kita langsung bertemu dengan miss atau mr. charming diesok hari saat terbangun dari tidur bukan ?
Kepanikan kita saat tidak mempunyai uang sama sekali, tidak akan membuat kita tiba-tiba menemukan gunung emas didepan pintu rumah bukan ?
Kekuwatiran kita akan anak-anak dan keluarga kita tidak akan membuat kita tertidur nyenyak ditengah malam buta bukan ?
Keinginan kita untuk menjadi orang terkenal tidak akan membuat kita bisa menaklukkan dunia dengan sekali tepuk tangan bukan ?
Itulah beberapa alasan kenapa begitu banyak orang bodoh di dunia ini yang bisa mengeluh soal hidup. Mereka tidak tahu bagaimana caranya hidup yang benar.
Percayai Dia dalam segala hal
Masa depan kita ada ditangan kita. Tuhan memberi kita kehendak bebas untuk digunakan dengan bijaksana. Iblis tidak mempunyai kuasa untuk menghancurkan kita jika kita tidak menghendaki dan mengizinkannya campur tangan dalam setiap keputusan yang kita buat atas hidup ini. Begitu juga dengan Tuhan, jika kita mempercayai-Nya dan memberi-Nya kendali atas hidup kita 100 %, maka Ia juga akan bertindak untuk membenahi hidup kita, menyelesaikan masalah-masalah kita, dan memikul salib bersama kita.
Let Man be a Man and Let Woman be a Woman
Oleh : Angelina Kusuma
Sebuah perhatian khusus yang diletakkan tidak pada tempatnya kepada lawan jenis, sering kali berakhir dengan ketidak nyamanan hubungan diantara keduanya. Perhatian dan kedekatan emosional dalam area relationship tanpa sebuah ikatan atau komitmen terlebih dahulu, pada akhirnya akan meneteskan air mata bagi yang sudah terlanjur menyerahkan hatinya kepada yang lain dalam konteks percintaan dua insan manusia.
Relationship yang tidak seimbang akan segera tercetak ketika diantara dua orang yang sedang berada dalam area tersebut tidak bisa mengambil posisi yang semestinya dalam hubungan antar keduanya. Seorang pria seharusnya menjadi kepala dalam relationship yang sehat, sedangkan wanita selalu menjadi penolong. Kedua peran ini harus dijalankan oleh pria dan wanita sampai berlanjut ke jenjang pernikahan dan tidak boleh ditukar meskipun hanya sebentar.
Nature seorang pria sudah dirancang oleh Tuhan dengan nalurinya sebagai seorang pemimpin dan yang seharusnya mengawali hubungan relationship maupun pernikahan - Adam diciptakan lebih dahulu daripada Hawa, bukan sebaliknya. Menjadi sesuatu yang bergeser dari semestinya jika dalam sebuah hubungan lawan jenis, seorang wanita jauh lebih fight daripada pria. Karena nature seorang wanita adalah penolong pria, maka seperti apapun kuat dan cerdas dirinya, tetap tidak akan pernah bisa memimpin jalannya relationship dan menjadi kepala untuk pria.
Seorang pria yang sanggup memikul peran sebagai pemimpin dalam relationship atau pernikahan bukan berarti bahwa ia pasti lebih matang secara usia dan fisik daripada wanita. Pria terakhir yang bersinggungan dengan area relationship saya tetap tidak bisa memimpin jalannya relationship kami meski usianya diatas saya. Sebaliknya, sering kali saya menyaksikan sebuah relationship yang tetap berlangsung sehat meski usia pria jauh dibawah sang wanita. Jelaslah, bahwa kepemimpinan ditentukan oleh tingkat kedewasaan rohani seseorang, tidak terjadi otomatis seiring bertambahnya usia dari tahun ke tahun.
Saya sadar bahwa masa lalu dan keterlibatan hubungan kita dengan orang tua khususnya dengan ayah dunia kita akan sangat mempengaruhi cara bersikap seseorang ketika bersinggungan dengan area relationship. Masa lalu yang kurang baik antara ayah dan anak laki-lakinya, Tuhan izinkan terjadi kepada pria yang pernah sangat dekat dengan saya. Hal itu membuatnya tidak bisa memposisikan diri sebagai pemimpin yang baik. Dan ketidak mampuan pria tersebut membawa komitmen tegas ke dalam hubungan kami selama bertahun-tahun, hampir membujuk saya untuk turun tangan menanganinya. Saya nyaris saja nekad menemuinya dan mengatakan bahwa saya benar-benar fall in love with him, mengikuti desakan nafsu yang ada didalam hati saya dan bisikan dari teman-teman dekat saya.
Let man be a man and let woman be a woman
Melalui seorang sahabat rohani, akhirnya saya diingatkan mengenai kekeliruan saya selama berada dalam relationship yang tidak seimbang tersebut sebelum nafsu dunia saya meledak dan membuat tindakan bodoh dengan mengambil posisi kepala yang seharusnya diemban oleh pria.
Jika masih dalam taraf relationship pria tidak bisa menjalani perannya sebagai pemimpin, bagaimana kelangsungan hidup berumah tangga dalam pernikahan nantinya ? Bagi saya tahap relationship memang bukan sekedar masa saling menyukai antar lawan jenis. Tetapi relationship adalah masa persiapan menuju pernikahan dan penggenapan rencana mulia Yesus atas dunia ini - Kejadian 1:28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.
Motivasi yang salah diawal relationship sangat mungkin terbawa ke dalam pernikahan. Dan jika seorang wanita terus menjadi kepala pria sampai masuk ke pernikahan, akankah itu menjadi sebuah hubungan yang diperkenan oleh Tuhan ? - Efesus 5:22-24, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Wanita akan mengambil posisinya sebagai penolong secara nature ketika ia berdampingan dengan seorang pria yang bisa menjadi pemimpin baginya. Dalam rangkaian kereta api, lokomotif akan menjadi penarik gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepadanya. Sebaliknya, ketika lokomotif tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepadanya juga tidak akan bergerak sama sekali. Seperti itulah peran pria sebagai lokomotif dan wanita sebagai gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepada lokomotif dalam relationship dan pernikahan.
Jika menginginkan hubungan lawan jenis - baik relationship dan pernikahan - yang sehat dan diperkenan oleh Tuhan, maka jangan pernah saling menggeser posisi yang sudah dari awal diciptakan-Nya khusus untuk pria dan khusus untuk wanita itu. Semua akan mengambil waktunya masing-masing saat kita setia terhadap tujuan hidup kita didalam Tuhan tanpa bersungut-sungut dan mudah terombang-ambing oleh dunia sekitar.
Sebuah perhatian khusus yang diletakkan tidak pada tempatnya kepada lawan jenis, sering kali berakhir dengan ketidak nyamanan hubungan diantara keduanya. Perhatian dan kedekatan emosional dalam area relationship tanpa sebuah ikatan atau komitmen terlebih dahulu, pada akhirnya akan meneteskan air mata bagi yang sudah terlanjur menyerahkan hatinya kepada yang lain dalam konteks percintaan dua insan manusia.
Relationship yang tidak seimbang akan segera tercetak ketika diantara dua orang yang sedang berada dalam area tersebut tidak bisa mengambil posisi yang semestinya dalam hubungan antar keduanya. Seorang pria seharusnya menjadi kepala dalam relationship yang sehat, sedangkan wanita selalu menjadi penolong. Kedua peran ini harus dijalankan oleh pria dan wanita sampai berlanjut ke jenjang pernikahan dan tidak boleh ditukar meskipun hanya sebentar.
Nature seorang pria sudah dirancang oleh Tuhan dengan nalurinya sebagai seorang pemimpin dan yang seharusnya mengawali hubungan relationship maupun pernikahan - Adam diciptakan lebih dahulu daripada Hawa, bukan sebaliknya. Menjadi sesuatu yang bergeser dari semestinya jika dalam sebuah hubungan lawan jenis, seorang wanita jauh lebih fight daripada pria. Karena nature seorang wanita adalah penolong pria, maka seperti apapun kuat dan cerdas dirinya, tetap tidak akan pernah bisa memimpin jalannya relationship dan menjadi kepala untuk pria.
Seorang pria yang sanggup memikul peran sebagai pemimpin dalam relationship atau pernikahan bukan berarti bahwa ia pasti lebih matang secara usia dan fisik daripada wanita. Pria terakhir yang bersinggungan dengan area relationship saya tetap tidak bisa memimpin jalannya relationship kami meski usianya diatas saya. Sebaliknya, sering kali saya menyaksikan sebuah relationship yang tetap berlangsung sehat meski usia pria jauh dibawah sang wanita. Jelaslah, bahwa kepemimpinan ditentukan oleh tingkat kedewasaan rohani seseorang, tidak terjadi otomatis seiring bertambahnya usia dari tahun ke tahun.
Saya sadar bahwa masa lalu dan keterlibatan hubungan kita dengan orang tua khususnya dengan ayah dunia kita akan sangat mempengaruhi cara bersikap seseorang ketika bersinggungan dengan area relationship. Masa lalu yang kurang baik antara ayah dan anak laki-lakinya, Tuhan izinkan terjadi kepada pria yang pernah sangat dekat dengan saya. Hal itu membuatnya tidak bisa memposisikan diri sebagai pemimpin yang baik. Dan ketidak mampuan pria tersebut membawa komitmen tegas ke dalam hubungan kami selama bertahun-tahun, hampir membujuk saya untuk turun tangan menanganinya. Saya nyaris saja nekad menemuinya dan mengatakan bahwa saya benar-benar fall in love with him, mengikuti desakan nafsu yang ada didalam hati saya dan bisikan dari teman-teman dekat saya.
Let man be a man and let woman be a woman
Melalui seorang sahabat rohani, akhirnya saya diingatkan mengenai kekeliruan saya selama berada dalam relationship yang tidak seimbang tersebut sebelum nafsu dunia saya meledak dan membuat tindakan bodoh dengan mengambil posisi kepala yang seharusnya diemban oleh pria.
Jika masih dalam taraf relationship pria tidak bisa menjalani perannya sebagai pemimpin, bagaimana kelangsungan hidup berumah tangga dalam pernikahan nantinya ? Bagi saya tahap relationship memang bukan sekedar masa saling menyukai antar lawan jenis. Tetapi relationship adalah masa persiapan menuju pernikahan dan penggenapan rencana mulia Yesus atas dunia ini - Kejadian 1:28, Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu.
Motivasi yang salah diawal relationship sangat mungkin terbawa ke dalam pernikahan. Dan jika seorang wanita terus menjadi kepala pria sampai masuk ke pernikahan, akankah itu menjadi sebuah hubungan yang diperkenan oleh Tuhan ? - Efesus 5:22-24, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu.
Wanita akan mengambil posisinya sebagai penolong secara nature ketika ia berdampingan dengan seorang pria yang bisa menjadi pemimpin baginya. Dalam rangkaian kereta api, lokomotif akan menjadi penarik gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepadanya. Sebaliknya, ketika lokomotif tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepadanya juga tidak akan bergerak sama sekali. Seperti itulah peran pria sebagai lokomotif dan wanita sebagai gerbong-gerbong kereta api yang diikatkan kepada lokomotif dalam relationship dan pernikahan.
Jika menginginkan hubungan lawan jenis - baik relationship dan pernikahan - yang sehat dan diperkenan oleh Tuhan, maka jangan pernah saling menggeser posisi yang sudah dari awal diciptakan-Nya khusus untuk pria dan khusus untuk wanita itu. Semua akan mengambil waktunya masing-masing saat kita setia terhadap tujuan hidup kita didalam Tuhan tanpa bersungut-sungut dan mudah terombang-ambing oleh dunia sekitar.
Kriteria Pasangan Hidup
Oleh : Angelina Kusuma
Minggu lalu, saya tertarik untuk mengangkat sebuah topik mengenai kriteria pasangan hidup yang diharapkan oleh peserta diskusi sebuah forum online via blog. Mengesankan, dalam tempo sehari, topik tersebut di-reply sebanyak 47 kali dan diakses sebanyak 201 kali oleh 123 member yang tergabung di host blog - tidak termasuk orang-orang yang tidak tergabung melalui host blog atau yang menemukan topik ini langsung melalui mesin pencari data online di internet. Padahal, topik mengenai kriteria pasangan hidup termasuk sering diangkat di forum online via blog ini. Tetapi responnya, tidak pernah sepi peminat. Kesimpulan saya, cinta dan pertanyaan mengenai seputar pasangan hidup memang merupakan satu topik yang tidak akan pernah usang dimakan waktu.
Jawaban yang beragam mengenai kriteria pasangan hidup saya terima dari member yang me-reply pertanyaan saya. Ada jawaban kriteria yang membuat saya mengangguk-angguk setuju, tersenyum, tertawa geli, sampai jawaban kriteria-kriteria yang mengarah kepada advise - biasanya diberikan oleh mereka yang sudah mengalami pernikahan itu sendiri.
Kenapa kita perlu menetapkan kriteria pasangan hidup ?
Bagi saya, kasih adalah sebuah ujian yang rumit bagi manusia. Ketika seorang manusia jatuh cinta kepada manusia yang lain, sebenarnya ia sedang digiring ke tes psikologinya Tuhan. Disana ada golakan antara nafsu duniawi dan rohani, ada gesekan-gesekan hubungan manusia secara vertikal dan horisontal, dan juga ujian kepekaan membedakan antara suara Roh Kudus dan bisikan Iblis.
Banyak orang Kristen yang menganggap bahwa membahas tentang kasih atau love itu tidaklah sepenting membahas tentang ayat-ayat Alkitab atau doktrin Alkitabiah tertentu. Tetapi bagi saya, pembahasan tentang kasih seharusnya tidak menjadi topik anak tiri kita sebagai pengikut Kristus karena tiga alasan penting, yaitu :
1. Kasih tidak akan pernah berkesudahan
1 Korintus 13:8, Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
2. Allah adalah contoh nyata dari kasih itu sendiri.
1 Yohanes 4:16, Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
3. Kejatuhan manusia terhadap dosa yang paling banyak didunia adalah diarea love.
Banyak kesaksian yang saya dengar tentang kejatuhan manusia terhadap dosa hanya karena mempunyai akar pahit akibat cinta yang salah. Dan sering kali saya menyaksikan banyak kompromi dengan falsafah dunia yang telah dilakukan oleh anak-anak Tuhan ketika mereka mengalami jatuh cinta kepada manusia yang lain.
Ya, akar dari kehidupan ini sebenarnya adalah kasih. Jika seseorang gagal mendapatkan kasih yang sejati atau terbelenggu dalam cinta nafsu – eross - maka Iblislah yang akan menang dihidupnya. Iblis dipatahkan kuasanya oleh Allah melalui kasih pengorbanan Yesus diatas kayu salib. Itulah sebabnya, saat ini Iblispun giat menghancurkan anak-anak Tuhan melalui area love yang mereka miliki. Karena jika area tersebut kuat, hubungan manusia dengan Allah akan sulit dihancurkan oleh Iblis.
Cinta adalah dasar sebuah keluarga. Dan keluarga adalah rencana penggenapan Allah untuk menunaikan tugas mulia-Nya didunia ini.
Kejadian 1:27-28, Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Karena pentingnya arti keluarga dimata Allah, itulah alasan kenapa kita harus berhati-hati ketika sedang berada diarea love. Menetapkan kriteria tertentu sebagai pedoman dalam memilih pasangan hidup tidaklah salah. Asal, kita menetapkan kriteria tersebut berdasarkan pedoman yang Tuhan mau dan bukan berdasarkan nafsu kita sendiri. Kriteria pasangan hidup seperti sebuah kompas atau peta yang akan menunjukkan kita arah yang benar dalam mencari pasangan hidup yang sesungguhnya.
Kriteria utama pasangan hidup yang benar
[Kriteria Pertama] Visi dan misi yang saling melengkapi didalam Yesus
Cukupkah dengan kriteria pasangan hidup yang seagama bagi kita ? Saya akan menjawab, tidak. Saya pernah berjalan seiring dengan seorang pria Kristen yang sudah lahir baru dan juga taat kepada Tuhan. Saya kira saya telah menemukan seorang pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidup saya karena dalam kriteria pasangan hidup saya saat itu, urutan pertama ia haruslah sesama anak Tuhan. Tetapi kenyataannya, ternyata visi dan misi hidup kami didalam Tuhan tidaklah saling mendukung. Meskipun kami sama-sama menyembah Tuhan yang sama, bentrokan dalam hal arah hidup dan yang terpenting dalam hidup kami akhirnya menyudahi hubungan tersebut.
Jika anda menetapkan bahwa kriteria pertama pasangan hidup anda nantinya adalah beragama Kristen dan percaya kepada Yesus Kristus Tuhan, itu adalah satu hal yang benar. Tetapi itu saja belum cukup untuk membuat anda berdua bisa berjalan bersama dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam pernikahan. Visi dan misi yang saling mendukung juga sangat diperlukan untuk menyatukan langkah yang sama.
Saya pernah mendengar pengakuan dari seorang wanita yang bercerita bahwa ia tidak bisa menjelaskan masa lalunya kepada kekasihnya karena alasan tertentu. Dan saya juga pernah mendengar pengakuan dari seorang pria yang sudah berstatus suami, tetapi tidak bisa mengatakan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya kepada istrinya karena tidak ingin melukai perasaan istri dan keluarganya.
Apakah hubungan kedua contoh diatas sehat ? Baik dalam area relationship maupun area pernikahan, keterbukaan antar pasangan adalah kunci utama untuk membentuk hubungan yang sehat dan saling menguatkan. Bagaimana pasangan kita bisa membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan kita jika ia tidak tahu apa yang menjadi ketakutan-ketakutan kita dalam hidup ini ? Bagaimana kita benar-benar menjadi satu, jika visi dan misi hidup kita tidak jelas satu sama lain ? Bisa jadi apa yang menjadi ketakutan kita adalah sebuah pantangan bagi pasangan kita bukan ? Makanya, sebelum melangkah bersama-sama dalam sebuah pernikahan, ada baiknya jika saat kita menjalin relationship dengan orang lain, kita juga mulai membentuk visi dan misi hidup yang sama berlandaskan keterbukaan rohani yang saling membangun dan mengisi.
1 Korintus 1:10, Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.
[Kriteria Kedua] Pasangan kita adalah seseorang yang mampu memperlakukan kita sebagaimana mestinya
Saya tidak sedang berbicara tentang seorang pria atau wanita yang pandai merayu pasangannya atau memberikan perhatian lebih kepada pasangannya dengan intensitas kehadirannya setiap saat, berbagai macam hadiah, atau selalu bertutur kata yang sopan dan manis kepada pasangannya. Yang saya maksud disini adalah seseorang yang memahami betul perbedaan antara pria dan wanita sehingga mampu memposisikan dirinya dengan tepat bagi pasangannya.
• Pria adalah pemimpin, wanita adalah pendamping
Sehebat apapun seorang wanita, kedudukannya dalam relationship dan pernikahan adalah sebagai penolong pria dan bukan pengganti pria untuk memimpinnya. Meskipun dalam hubungan tersebut tingkat kerohanian si wanita lebih tinggi daripada pria, tetap saja ia harus tunduk kepada pria dan memberi dorongan kepada pria tersebut agar mencapai posisinya sebagai kepala keluarganya seperti Kristus bagi anak-anak-Nya.
• Pria memandang segala sesuatu secara keseluruhan, wanita memperhatikan detail
Jika dalam sebuah hubungan tidak ada kesadaran akan perbedaan cara pria dan wanita dalam memandang satu masalah, maka bersiaplah untuk melalui hubungan tersebut dengan percekcokan setiap saat. Pria mempunyai pandangan besar atas setiap masalah yang dihadapinya. Sebaliknya, wanita lebih menaruh perhatian pada detail-detail kecil yang terlewat oleh pandangan pria dan menempatkan gambaran besar masalah diakhir penglihatannya.
• Pria dan mata, wanita dan telinga
Poin ini juga mengarah pada perbedaan kekurangan pria dan wanita secara keseluruhan. Mata pria mudah tergoda oleh hal-hal yang menurutnya indah dan layak untuk dinikmati. Sedangkan telinga wanita mudah tergoda oleh hal-hal yang menurutnya enak didengar dan layak dimasukkan ke dalam hati.
Tentu, tidak akan ada malaikat sempurna didunia ini. Yang ada adalah hubungan manusia yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Memahami perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita dan pasangan kita, akan membantu kita agar bisa memperlakukan mereka sesuai dengan posisi mereka yang semestinya dihadapan manusia lain dan Allah sendiri.
Kejadian 2:22-24, Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Efesus 5:22-27, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
[Kriteria Ketiga] Bisa mencintai keluarga kita apa adanya
Jika kita mencintai seorang manusia didunia ini, maka kita juga harus bersiap untuk mencintai keluarganya. Hal ini adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Jika seseorang bisa mencintai pria maupun wanita secara pribadi tetapi tidak bisa mencintai keluarganya, itu adalah sesuatu yang harus diberi tanda 'hati-hati'.
Keluarga adalah sarana seorang pribadi manusia terlahir ke dunia ini. Seburuk apapun keadaan didalam keluarga, tali kekeluargaan tidak bisa diputuskan begitu saja. Dan jika seseorang hanya bisa menerima pribadi yang dicintainya tetapi tidak bisa mencintai keluarganya sekaligus, maka hubungan yang terjalin kemungkinan besar akan berada dalam kisaran nafsu dan bukan dalam rencana Allah untuk menggenapi Firman-Nya.
Dalam Keluaran 20:12 jelas dikatakan mengenai salah satu dari 10 perintah Tuhan pertama kepada bangsa Israel yang diwahyukan melalui hamba-Nya Musa berisi, Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Inilah arti penting restu keluarga dalam sebuah hubungan relationship maupun pernikahan. Keluarga adalah otoritas pertama yang diberikan oleh Allah agar kita belajar taat, menghormati dan tunduk dalam hubungan kasih kita dengan manusia lain didunia ini.
Bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang benar ?
Akhir-akhir ini saya diingatkan oleh Tuhan kembali mengenai tiga hal : doa - iman - mukjizat dalam setiap tindakan saya. Hal inilah juga yang Tuhan inginkan ketika kita sedang bergumul tentang pasangan hidup. Sadarkan kita bahwa terkadang sering kali kita membalik ketiga cara diatas. Tidak lagi sebagai doa - iman - mukjizat tetapi mukjizat - doa - iman.
Ketika saya mengenal seorang pria yang baik menurut saya, terkadang saya langsung menandai pribadinya kemudian menggumulinya dalam doa-doa saya sambil menanti-nanti sebuah tanda yang akan diberikan oleh Tuhan bahwa pria tersebut adalah calon pasangan hidup saya yang benar. Tetapi ketika saya ditegur Tuhan bahwa cara saya terbalik, barulah saya tersadar.
Sering kali kita melakukan hal tersebut bukan ? Kita membiarkan mata kita melihat terlebih dahulu bahwa ada seorang pria atau wanita yang layak untuk menjadi pasangan hidup kita muncul, kemudian kita mulai mendoakannya dan beriman agar hal tersebut menjadi kenyataan. Sepertinya hal ini adalah sebuah cara yang benar, tetapi itu adalah sebuah kesalahan. Ketika kita mulai membiarkan hidup kita dikuasai oleh mata, telinga, dan pemikiran duniawi kita sebelum bersentuhan dengan doa secara pribadi kepada Tuhan, kita sudah menyimpang dari jalan dan rencana agung-Nya.
Saat kita mendoakan pasangan hidup kita, saat itu pikiran kita justru harus bersih dari semua bentuk dan bayangan pria atau wanita yang kita kenal dan yang kita sukai. Kita harus menanggalkan keinginan-keinginan kita dan menyalibkan daging kita terlebih dahulu. Saat pikiran kita bersih dari pemikiran nafsu dunia itulah, biarkan Allah yang mengisinya, biarkan Ia menuntun kita kepada pasangan hidup kita yang benar sesuai dengan jalan-Nya, kemudian baru kita menggenapi bagian kita yaitu beriman dan menanti dengan setia sampai mukjizat itu terjadi dalam hidup kita - hadirnya pasangan hidup kita yang sesungguhnya.
Minggu lalu, saya tertarik untuk mengangkat sebuah topik mengenai kriteria pasangan hidup yang diharapkan oleh peserta diskusi sebuah forum online via blog. Mengesankan, dalam tempo sehari, topik tersebut di-reply sebanyak 47 kali dan diakses sebanyak 201 kali oleh 123 member yang tergabung di host blog - tidak termasuk orang-orang yang tidak tergabung melalui host blog atau yang menemukan topik ini langsung melalui mesin pencari data online di internet. Padahal, topik mengenai kriteria pasangan hidup termasuk sering diangkat di forum online via blog ini. Tetapi responnya, tidak pernah sepi peminat. Kesimpulan saya, cinta dan pertanyaan mengenai seputar pasangan hidup memang merupakan satu topik yang tidak akan pernah usang dimakan waktu.
Jawaban yang beragam mengenai kriteria pasangan hidup saya terima dari member yang me-reply pertanyaan saya. Ada jawaban kriteria yang membuat saya mengangguk-angguk setuju, tersenyum, tertawa geli, sampai jawaban kriteria-kriteria yang mengarah kepada advise - biasanya diberikan oleh mereka yang sudah mengalami pernikahan itu sendiri.
Kenapa kita perlu menetapkan kriteria pasangan hidup ?
Bagi saya, kasih adalah sebuah ujian yang rumit bagi manusia. Ketika seorang manusia jatuh cinta kepada manusia yang lain, sebenarnya ia sedang digiring ke tes psikologinya Tuhan. Disana ada golakan antara nafsu duniawi dan rohani, ada gesekan-gesekan hubungan manusia secara vertikal dan horisontal, dan juga ujian kepekaan membedakan antara suara Roh Kudus dan bisikan Iblis.
Banyak orang Kristen yang menganggap bahwa membahas tentang kasih atau love itu tidaklah sepenting membahas tentang ayat-ayat Alkitab atau doktrin Alkitabiah tertentu. Tetapi bagi saya, pembahasan tentang kasih seharusnya tidak menjadi topik anak tiri kita sebagai pengikut Kristus karena tiga alasan penting, yaitu :
1. Kasih tidak akan pernah berkesudahan
1 Korintus 13:8, Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap.
2. Allah adalah contoh nyata dari kasih itu sendiri.
1 Yohanes 4:16, Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.
3. Kejatuhan manusia terhadap dosa yang paling banyak didunia adalah diarea love.
Banyak kesaksian yang saya dengar tentang kejatuhan manusia terhadap dosa hanya karena mempunyai akar pahit akibat cinta yang salah. Dan sering kali saya menyaksikan banyak kompromi dengan falsafah dunia yang telah dilakukan oleh anak-anak Tuhan ketika mereka mengalami jatuh cinta kepada manusia yang lain.
Ya, akar dari kehidupan ini sebenarnya adalah kasih. Jika seseorang gagal mendapatkan kasih yang sejati atau terbelenggu dalam cinta nafsu – eross - maka Iblislah yang akan menang dihidupnya. Iblis dipatahkan kuasanya oleh Allah melalui kasih pengorbanan Yesus diatas kayu salib. Itulah sebabnya, saat ini Iblispun giat menghancurkan anak-anak Tuhan melalui area love yang mereka miliki. Karena jika area tersebut kuat, hubungan manusia dengan Allah akan sulit dihancurkan oleh Iblis.
Cinta adalah dasar sebuah keluarga. Dan keluarga adalah rencana penggenapan Allah untuk menunaikan tugas mulia-Nya didunia ini.
Kejadian 1:27-28, Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi."
Karena pentingnya arti keluarga dimata Allah, itulah alasan kenapa kita harus berhati-hati ketika sedang berada diarea love. Menetapkan kriteria tertentu sebagai pedoman dalam memilih pasangan hidup tidaklah salah. Asal, kita menetapkan kriteria tersebut berdasarkan pedoman yang Tuhan mau dan bukan berdasarkan nafsu kita sendiri. Kriteria pasangan hidup seperti sebuah kompas atau peta yang akan menunjukkan kita arah yang benar dalam mencari pasangan hidup yang sesungguhnya.
Kriteria utama pasangan hidup yang benar
[Kriteria Pertama] Visi dan misi yang saling melengkapi didalam Yesus
Cukupkah dengan kriteria pasangan hidup yang seagama bagi kita ? Saya akan menjawab, tidak. Saya pernah berjalan seiring dengan seorang pria Kristen yang sudah lahir baru dan juga taat kepada Tuhan. Saya kira saya telah menemukan seorang pria yang tepat untuk menjadi pendamping hidup saya karena dalam kriteria pasangan hidup saya saat itu, urutan pertama ia haruslah sesama anak Tuhan. Tetapi kenyataannya, ternyata visi dan misi hidup kami didalam Tuhan tidaklah saling mendukung. Meskipun kami sama-sama menyembah Tuhan yang sama, bentrokan dalam hal arah hidup dan yang terpenting dalam hidup kami akhirnya menyudahi hubungan tersebut.
Jika anda menetapkan bahwa kriteria pertama pasangan hidup anda nantinya adalah beragama Kristen dan percaya kepada Yesus Kristus Tuhan, itu adalah satu hal yang benar. Tetapi itu saja belum cukup untuk membuat anda berdua bisa berjalan bersama dalam memenuhi panggilan Tuhan dalam pernikahan. Visi dan misi yang saling mendukung juga sangat diperlukan untuk menyatukan langkah yang sama.
Saya pernah mendengar pengakuan dari seorang wanita yang bercerita bahwa ia tidak bisa menjelaskan masa lalunya kepada kekasihnya karena alasan tertentu. Dan saya juga pernah mendengar pengakuan dari seorang pria yang sudah berstatus suami, tetapi tidak bisa mengatakan ketakutan-ketakutan dalam hidupnya kepada istrinya karena tidak ingin melukai perasaan istri dan keluarganya.
Apakah hubungan kedua contoh diatas sehat ? Baik dalam area relationship maupun area pernikahan, keterbukaan antar pasangan adalah kunci utama untuk membentuk hubungan yang sehat dan saling menguatkan. Bagaimana pasangan kita bisa membantu kita mengatasi kelemahan-kelemahan kita jika ia tidak tahu apa yang menjadi ketakutan-ketakutan kita dalam hidup ini ? Bagaimana kita benar-benar menjadi satu, jika visi dan misi hidup kita tidak jelas satu sama lain ? Bisa jadi apa yang menjadi ketakutan kita adalah sebuah pantangan bagi pasangan kita bukan ? Makanya, sebelum melangkah bersama-sama dalam sebuah pernikahan, ada baiknya jika saat kita menjalin relationship dengan orang lain, kita juga mulai membentuk visi dan misi hidup yang sama berlandaskan keterbukaan rohani yang saling membangun dan mengisi.
1 Korintus 1:10, Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir.
[Kriteria Kedua] Pasangan kita adalah seseorang yang mampu memperlakukan kita sebagaimana mestinya
Saya tidak sedang berbicara tentang seorang pria atau wanita yang pandai merayu pasangannya atau memberikan perhatian lebih kepada pasangannya dengan intensitas kehadirannya setiap saat, berbagai macam hadiah, atau selalu bertutur kata yang sopan dan manis kepada pasangannya. Yang saya maksud disini adalah seseorang yang memahami betul perbedaan antara pria dan wanita sehingga mampu memposisikan dirinya dengan tepat bagi pasangannya.
• Pria adalah pemimpin, wanita adalah pendamping
Sehebat apapun seorang wanita, kedudukannya dalam relationship dan pernikahan adalah sebagai penolong pria dan bukan pengganti pria untuk memimpinnya. Meskipun dalam hubungan tersebut tingkat kerohanian si wanita lebih tinggi daripada pria, tetap saja ia harus tunduk kepada pria dan memberi dorongan kepada pria tersebut agar mencapai posisinya sebagai kepala keluarganya seperti Kristus bagi anak-anak-Nya.
• Pria memandang segala sesuatu secara keseluruhan, wanita memperhatikan detail
Jika dalam sebuah hubungan tidak ada kesadaran akan perbedaan cara pria dan wanita dalam memandang satu masalah, maka bersiaplah untuk melalui hubungan tersebut dengan percekcokan setiap saat. Pria mempunyai pandangan besar atas setiap masalah yang dihadapinya. Sebaliknya, wanita lebih menaruh perhatian pada detail-detail kecil yang terlewat oleh pandangan pria dan menempatkan gambaran besar masalah diakhir penglihatannya.
• Pria dan mata, wanita dan telinga
Poin ini juga mengarah pada perbedaan kekurangan pria dan wanita secara keseluruhan. Mata pria mudah tergoda oleh hal-hal yang menurutnya indah dan layak untuk dinikmati. Sedangkan telinga wanita mudah tergoda oleh hal-hal yang menurutnya enak didengar dan layak dimasukkan ke dalam hati.
Tentu, tidak akan ada malaikat sempurna didunia ini. Yang ada adalah hubungan manusia yang saling melengkapi kekurangan dan kelebihan masing-masing. Memahami perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita dan pasangan kita, akan membantu kita agar bisa memperlakukan mereka sesuai dengan posisi mereka yang semestinya dihadapan manusia lain dan Allah sendiri.
Kejadian 2:22-24, Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki." Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Efesus 5:22-27, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.
[Kriteria Ketiga] Bisa mencintai keluarga kita apa adanya
Jika kita mencintai seorang manusia didunia ini, maka kita juga harus bersiap untuk mencintai keluarganya. Hal ini adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan. Jika seseorang bisa mencintai pria maupun wanita secara pribadi tetapi tidak bisa mencintai keluarganya, itu adalah sesuatu yang harus diberi tanda 'hati-hati'.
Keluarga adalah sarana seorang pribadi manusia terlahir ke dunia ini. Seburuk apapun keadaan didalam keluarga, tali kekeluargaan tidak bisa diputuskan begitu saja. Dan jika seseorang hanya bisa menerima pribadi yang dicintainya tetapi tidak bisa mencintai keluarganya sekaligus, maka hubungan yang terjalin kemungkinan besar akan berada dalam kisaran nafsu dan bukan dalam rencana Allah untuk menggenapi Firman-Nya.
Dalam Keluaran 20:12 jelas dikatakan mengenai salah satu dari 10 perintah Tuhan pertama kepada bangsa Israel yang diwahyukan melalui hamba-Nya Musa berisi, Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu. Inilah arti penting restu keluarga dalam sebuah hubungan relationship maupun pernikahan. Keluarga adalah otoritas pertama yang diberikan oleh Allah agar kita belajar taat, menghormati dan tunduk dalam hubungan kasih kita dengan manusia lain didunia ini.
Bagaimana cara mendapatkan pasangan hidup yang benar ?
Akhir-akhir ini saya diingatkan oleh Tuhan kembali mengenai tiga hal : doa - iman - mukjizat dalam setiap tindakan saya. Hal inilah juga yang Tuhan inginkan ketika kita sedang bergumul tentang pasangan hidup. Sadarkan kita bahwa terkadang sering kali kita membalik ketiga cara diatas. Tidak lagi sebagai doa - iman - mukjizat tetapi mukjizat - doa - iman.
Ketika saya mengenal seorang pria yang baik menurut saya, terkadang saya langsung menandai pribadinya kemudian menggumulinya dalam doa-doa saya sambil menanti-nanti sebuah tanda yang akan diberikan oleh Tuhan bahwa pria tersebut adalah calon pasangan hidup saya yang benar. Tetapi ketika saya ditegur Tuhan bahwa cara saya terbalik, barulah saya tersadar.
Sering kali kita melakukan hal tersebut bukan ? Kita membiarkan mata kita melihat terlebih dahulu bahwa ada seorang pria atau wanita yang layak untuk menjadi pasangan hidup kita muncul, kemudian kita mulai mendoakannya dan beriman agar hal tersebut menjadi kenyataan. Sepertinya hal ini adalah sebuah cara yang benar, tetapi itu adalah sebuah kesalahan. Ketika kita mulai membiarkan hidup kita dikuasai oleh mata, telinga, dan pemikiran duniawi kita sebelum bersentuhan dengan doa secara pribadi kepada Tuhan, kita sudah menyimpang dari jalan dan rencana agung-Nya.
Saat kita mendoakan pasangan hidup kita, saat itu pikiran kita justru harus bersih dari semua bentuk dan bayangan pria atau wanita yang kita kenal dan yang kita sukai. Kita harus menanggalkan keinginan-keinginan kita dan menyalibkan daging kita terlebih dahulu. Saat pikiran kita bersih dari pemikiran nafsu dunia itulah, biarkan Allah yang mengisinya, biarkan Ia menuntun kita kepada pasangan hidup kita yang benar sesuai dengan jalan-Nya, kemudian baru kita menggenapi bagian kita yaitu beriman dan menanti dengan setia sampai mukjizat itu terjadi dalam hidup kita - hadirnya pasangan hidup kita yang sesungguhnya.
Komitmen Relationship
Oleh : Angelina Kusuma
Sebelumnya saya tidak pernah mengerti apa alasannya ketika ada seseorang yang bilang kepada saya bahwa sebaiknya prialah yang memegang kendali terlebih dahulu dalam sebuah relationship, termasuk didalamnya hal memberi ketegasan soal komitmen hubungan. Saya pikir alasannya hanya sekedar bahwa kita berada di negara Indonesia yang sarat dengan budaya ketimuran. Yang konon katanya kurang sopan jika seorang wanita terlebih dulu mengatakan, "Saya mencintai kamu" kepada seorang pria yang disukainya.
Jauh sebelum manusia merencanakan seorang pasangan hidup bagi dirinya, Tuhan sudah merencanakannya terlebih dulu
Kejadian 2:18, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
Kejadian 2:20, Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
Inisiatif pertama tentang hubungan pria dan wanita ada di tangan Allah. Sebelum manusia merencanakan bahwa dia membutuhkan seorang penolong dalam hidupnya, Allah sudah mengetahui soal ketimpangan manusia jika ia sendirian.
Saat sedang bergumul tentang pasangan hidup, libatkanlah Allah secara aktif. Ia yang merencanakan terlebih dahulu dan pastinya Dialah yang terlebih tahu juga, mana yang terbaik untuk anda dan saya. Manusia mana yang cocok dengan kita dan sanggup menjadi penolong yang sepadan dan seimbang untuk kita.
Mengapa harus pria yang membuat komitmen terlebih dulu ?
Hubungan relationship pria dan wanita itu seperti hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Otoritas tertinggi jemaat ada pada Kristus. Demikian juga otoritas sebuah hubungan relationship yang sehat juga harus ada pada seorang pria. Pria yang harusnya memegang kendali, sebagai nahkoda yang akan membawa ke arah mana hubungan pria dan wanita yang sudah terjalin dalam persahabatan sebelumnya itu dilanjutkan.
Kenapa saya mengatakan berawal dari persahabatan terlebih dahulu ? Karena saya sama sekali tidak percaya dengan yang namanya cinta instan. Ada orang yang mengatakan bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Tetapi bagi saya pribadi, setelah kejadian kita terpesona dengan mr. or miss charming dalam sebuah pandangan atau pertemuan pertama, maka waktulah yang akan menjawab apakah perasaan cinta yang timbul itu akan terus berlanjut atau hanya mampir sesaat itu saja. Jadi yang logis adalah saat kita melihat bahwa seseorang itu cukup baik dan kita mulai bertahap menyukainya dari sekedar seorang sahabat kemudian ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu cinta kasih antara pria dan wanita secara dewasa dalam relationship sampai ke jenjang pernikahan.
Kejadian 2:24, Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Pada awal mula Kitab Kejadian ditulis, itu adalah dasar bagaimana seluruh kontrol dunia ini harus berjalan sebagaimana semestinya. Allah menciptakan seorang Hawa untuk Adam itu ada alasannya. Dan kenapa bukan Hawa yang diciptakan terlebih dahulu oleh Allah kemudian baru Adam, itu juga ada alasannya. Dan Allah tidak mungkin salah menempatkan segala sesuatu di dunia ini.
Kejadian 1:26-27, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1 Korintus 11:8-9, Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
1 Korintus 14:34, Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.
Adam adalah cerminan citra Allah yang kuat dan berkuasa untuk mengusahakan dunia yang telah dibentuk oleh-Nya sebelumnya. Sedangkan Hawa diciptakan oleh Allah kemudian, untuk mendampingi Adam. Lebih tepatnya melakukan segala sesuatu yang Adam tidak bisa melakukannya sendiri. Itulah alasan kenapa Hawa dijadikan setelah Adam dan bukan sebaliknya Hawa duluan baru kemudian Adam.
Intinya : Allah menciptakan Adam – pria - terlebih dahulu untuk menyatakan maksud-Nya bahwa ia harus mengatur dan memberi pimpinan kepada Hawa – wanita - dan keluarganya nanti. Hawa – wanita - diciptakan setelah Adam – pria - direncanakan sebagai pendamping dan penolong dalam memenuhi kehendak Allah bagi kehidupan mereka, bukan untuk menggantikan posisi Adam.
Jadi jelas, apa alasan harus pria dulu yang mengambil inisiatif dan memegang kendali dalam sebuah relationship pria dan wanita.
Jika si pria tidak mampu melakukan perannya dengan benar dalam relationship dan mengambil ketegasan dalam hubungan tersebut, bagaimana bisa ia menjadi seorang kepala keluarga secara utuh, yang harus memimpin si wanita dan keluarganya dalam hidup selanjutnya dalam pernikahan ?
Sebelumnya saya tidak pernah mengerti apa alasannya ketika ada seseorang yang bilang kepada saya bahwa sebaiknya prialah yang memegang kendali terlebih dahulu dalam sebuah relationship, termasuk didalamnya hal memberi ketegasan soal komitmen hubungan. Saya pikir alasannya hanya sekedar bahwa kita berada di negara Indonesia yang sarat dengan budaya ketimuran. Yang konon katanya kurang sopan jika seorang wanita terlebih dulu mengatakan, "Saya mencintai kamu" kepada seorang pria yang disukainya.
Jauh sebelum manusia merencanakan seorang pasangan hidup bagi dirinya, Tuhan sudah merencanakannya terlebih dulu
Kejadian 2:18, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."
Kejadian 2:20, Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.
Inisiatif pertama tentang hubungan pria dan wanita ada di tangan Allah. Sebelum manusia merencanakan bahwa dia membutuhkan seorang penolong dalam hidupnya, Allah sudah mengetahui soal ketimpangan manusia jika ia sendirian.
Saat sedang bergumul tentang pasangan hidup, libatkanlah Allah secara aktif. Ia yang merencanakan terlebih dahulu dan pastinya Dialah yang terlebih tahu juga, mana yang terbaik untuk anda dan saya. Manusia mana yang cocok dengan kita dan sanggup menjadi penolong yang sepadan dan seimbang untuk kita.
Mengapa harus pria yang membuat komitmen terlebih dulu ?
Hubungan relationship pria dan wanita itu seperti hubungan Kristus dengan jemaat-Nya. Otoritas tertinggi jemaat ada pada Kristus. Demikian juga otoritas sebuah hubungan relationship yang sehat juga harus ada pada seorang pria. Pria yang harusnya memegang kendali, sebagai nahkoda yang akan membawa ke arah mana hubungan pria dan wanita yang sudah terjalin dalam persahabatan sebelumnya itu dilanjutkan.
Kenapa saya mengatakan berawal dari persahabatan terlebih dahulu ? Karena saya sama sekali tidak percaya dengan yang namanya cinta instan. Ada orang yang mengatakan bahwa cinta pada pandangan pertama itu ada. Tetapi bagi saya pribadi, setelah kejadian kita terpesona dengan mr. or miss charming dalam sebuah pandangan atau pertemuan pertama, maka waktulah yang akan menjawab apakah perasaan cinta yang timbul itu akan terus berlanjut atau hanya mampir sesaat itu saja. Jadi yang logis adalah saat kita melihat bahwa seseorang itu cukup baik dan kita mulai bertahap menyukainya dari sekedar seorang sahabat kemudian ke jenjang yang lebih serius lagi yaitu cinta kasih antara pria dan wanita secara dewasa dalam relationship sampai ke jenjang pernikahan.
Kejadian 2:24, Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Pada awal mula Kitab Kejadian ditulis, itu adalah dasar bagaimana seluruh kontrol dunia ini harus berjalan sebagaimana semestinya. Allah menciptakan seorang Hawa untuk Adam itu ada alasannya. Dan kenapa bukan Hawa yang diciptakan terlebih dahulu oleh Allah kemudian baru Adam, itu juga ada alasannya. Dan Allah tidak mungkin salah menempatkan segala sesuatu di dunia ini.
Kejadian 1:26-27, Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
1 Korintus 11:8-9, Sebab laki-laki tidak berasal dari perempuan, tetapi perempuan berasal dari laki-laki. Dan laki-laki tidak diciptakan karena perempuan, tetapi perempuan diciptakan karena laki-laki.
1 Korintus 14:34, Sama seperti dalam semua Jemaat orang-orang kudus, perempuan-perempuan harus berdiam diri dalam pertemuan-pertemuan Jemaat. Sebab mereka tidak diperbolehkan untuk berbicara. Mereka harus menundukkan diri, seperti yang dikatakan juga oleh hukum Taurat.
Adam adalah cerminan citra Allah yang kuat dan berkuasa untuk mengusahakan dunia yang telah dibentuk oleh-Nya sebelumnya. Sedangkan Hawa diciptakan oleh Allah kemudian, untuk mendampingi Adam. Lebih tepatnya melakukan segala sesuatu yang Adam tidak bisa melakukannya sendiri. Itulah alasan kenapa Hawa dijadikan setelah Adam dan bukan sebaliknya Hawa duluan baru kemudian Adam.
Intinya : Allah menciptakan Adam – pria - terlebih dahulu untuk menyatakan maksud-Nya bahwa ia harus mengatur dan memberi pimpinan kepada Hawa – wanita - dan keluarganya nanti. Hawa – wanita - diciptakan setelah Adam – pria - direncanakan sebagai pendamping dan penolong dalam memenuhi kehendak Allah bagi kehidupan mereka, bukan untuk menggantikan posisi Adam.
Jadi jelas, apa alasan harus pria dulu yang mengambil inisiatif dan memegang kendali dalam sebuah relationship pria dan wanita.
Jika si pria tidak mampu melakukan perannya dengan benar dalam relationship dan mengambil ketegasan dalam hubungan tersebut, bagaimana bisa ia menjadi seorang kepala keluarga secara utuh, yang harus memimpin si wanita dan keluarganya dalam hidup selanjutnya dalam pernikahan ?
Ketika Mulai Terluka
Oleh : Angelina Kusuma
Minggu kemarin lagi-lagi saya ceroboh. Ketika keluar dari kamar tidur, tanpa sengaja siku tangan kanan saya terbentur daun pintu. Beberapa detik setelah kejadian itu, saya hanya merasakan sedikit nyeri kemudian sembuh. Ketika saya mengeceknya sekilas juga tidak ada luka yang serius, makanya saya tidak ambil pusing dengan kejadian tersebut.
Waktu saya di kamar mandi dan mengguyur bagian tubuh saya dengan air, barulah terasa nyeri yang lebih menyakitkan dari sebelumnya dari tangan kanan saya. Seketika saya tersadar, mungkin rasa nyeri itu asalnya dari siku saya yang sempat berbentur keras dengan pintu ketika keluar dari kamar tidur sebelumnya. Dan benar saja, luka sepanjang lima centimeter itu menganga lebar dan mengeluarkan darah.
Begitu melihat darah, saya tidak jadi meneruskan aktifitas mandi saya. Terpaksa keluar dari kamar mandi, mengambil kapas kemudian membersihkan luka saya. Tetapi berhubung saya mengetahui agak terlambat, maka bagian luka itu sampai menimbulkan lebam. Pedih rasanya begitu disentuh dengan benda apapun, apalagi kalau terkena air. Mungkin seminggu lagi luka itu baru akan kering dan sembuh. Yang jelas butuh waktu agak lama untuk menyembuhkan luka yang dari pertamanya tidak kita sadari dan dirawat dengan baik.
Hari Jumat lalu saya sempat chating dengan seorang teman pria yang saya kenal lewat sebuah forum online. Yang saya tahu, ia memang pernah kecewa dengan seorang wanita mantan pacarnya yang meninggalkannya tanpa sebuah alasan yang jelas. Masalah ini sudah lama terjadi, mungkin sekitar 1,5 tahun yang lalu. Dan saya kira jiwa pria ini sudah sembuh.
Tetapi ternyata tidak demikian kejadiannya. Tersirat dari hasil chating saya dengannya kemarin, masalah yang dialaminya bukannya selesai tetapi justru merembet ke masalah yang baru lagi. Mungkin kejadiaannya seperti waktu siku tangan saya terluka akibat tergores daun pintu. Pertamanya saya meremehkan luka itu, membiarkannya hingga mengeluarkan darah dan meradang. Seandainya setelah tahu tergores saya langsung mengoleskan antiseptik di bagian yang terluka itu, tentu hasilnya akan lebih cepat sembuh daripada sekarang.
Saya bisa merasakan dalam Roh, bahwa pria ini juga melakukan hal yang sama seperti saya. Ia kira dengan kepindahannya dari kota yang membuatnya terkenang akan mantan pacarnya dahulu itu adalah langkah untuk menyembuhkan luka batinnya. Tetapi yang terjadi sebenarnya justru ia membiarkan luka itu semakin meradang. Dikotanya yang baru sekarang ini ia semakin kesepian, tidak pernah lagi ke gereja, semakin terpuruk dalam kenangan mantan pacarnya dan yang lebih menyedihkan lagi, ia sering ke diskotik, minum minuman keras dan tidak lagi merasa bahwa hidupnya berharga dimata Allah. Iblis telah berhasil menguasai hampir separuh hidupnya justru setelah ia merasa bisa mengabaikan luka batinnya.
Di luar sana juga pasti banyak manusia-manusia seperti teman saya ini. Waktu memang bisa menyembuhkan luka batin dan fisik. Tetapi itu harus disertai dengan usaha untuk menyembuhkannya juga. Jika luka fisik saja dibiarkan terlalu lama, ia bisa meradang dan menimbulkan lebam. Apa yang terjadi jika luka batin terus kita pelihara ? Jauh lebih mengerikan imbasnya bukan ? Dan itulah yang sedang dialami oleh teman saya ini.
Saya juga pernah mempunyai luka batin. Bukan hanya satu atau dua, tetapi banyak. Saya pernah mengalami yang namanya tersingkir dari manusia lain, terhina, terbuang, dan juga merasa minder karena saya tidak mempunyai keistimewaan sama sekali. Jika anda mengenal saya sekarang yang seolah menjadi wanita tegar, pemberani, cuek, dan juga jago berdebat, apakah anda pernah membayangkan bahwa dahulu karakter saya bukan seperti itu ? Bahkan jauh dari saya yang sekarang terlihat sebagaimana adanya, dulu saya pendiam, pemalu, penakut, tidak mempunyai teman, dan selalu berfikiran negatif tentang hidup dan diri saya sendiri.
Semua kelakuan negatif saya diatas bersumber dari luka batin. Luka yang meradang karena kepahitan atas keluarga dan perlakuan teman-teman saya. Itu adalah diri saya semasa kecil sampai SMP. Masih terkenang jelas diingatan saya tentang diri saya yang dahulu. Rasanya dunia saya isinya gelap gulita, tidak ada istimewanya sama sekali. Semua berubah ketika saya sadar bahwa hidup saya terlalu berharga untuk saya lewati dalam lorong-lorong kegelapan. Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada saya dan Ia menyembuhkan luka-luka batin saya satu per satu. Tidak hanya disembuhkan, saya diberi-Nya kemampuan lain yang sama sekali tidak pernah saya punyai semasa kecil - keberanian, ketegaran, dan juga fokus.
Pertama kali saya tahu bahwa batin saya terluka, rasanya ingin melarikan diri. Keegoisan manusia terkadang menjadikan benteng tebal yang membuat luka batin manusia itu justru sulit tersembuhkan. Jika kita tidak punya semangat untuk sembuh, kapankah luka-luka tersebut akan mengering dan hilang ? Yang ada justru luka-luka itu semakin meradang kemudian merembet ke luka-luka yang baru bukan ?
Jika kita mempunyai luka batin, kita juga harus waspada. Luka batin acap kali membuat kita melukai diri kita secara fisik atau yang lebih parah lagi luka itu akan melukai orang lain. Saya juga pernah terluka karena luka batin orang lain. Bagaimana bisa ?
Jika kita melampiaskan kekesalan atas kepahitan yang terpendam didalam diri kita kepada orang yang ingin memperhatikan kita dengan tulus, itulah saatnya luka batin akan terimpartasi dan melukai orang tersebut. Jadi kita merasa bahwa batin kita pernah terluka, berhati-hatilah. Akan ada dua hal yang mengikutinya jika luka-luka itu tidak segera disembuhkan. Luka batin itu akan menyakiti diri kita sendiri secara fisik dan semakin parah anda derita atau luka batin itu akan melukai orang lain yang ingin memperhatikan kita dengan tulus.
Akar pahit harus dicabut. Dan cara untuk mencabutnya pertama kali adalah dengan pengakuan bahwa kita sakit, terluka dan butuh obat untuk menyembuhkannya. Tanpa pengakuan diatas alias melarikan diri dari kenyataan dan menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja meskipun dengan barah di sekujur tubuh, itu tidak akan pernah membuat kita sembuh dari luka batin kita.
Langkah kedua untuk menyembuhkan luka batin adalah dengan turun tahta dari pemerintahan hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa mengatur hidup kita dengan baik kecuali jika Allah ada dalam tahta pemerintahan tersebut. Ketika kita naik tahta, kendali kita bisa disetir oleh Iblis. Tetapi ketika Yesus yang naik tahta dan memerintah hidup kita, Iblis tidak akan bisa menyetir-Nya. Jadi lebih baik mana ? Kita menyerahkan luka-luka kita dirawat Yesus atau kita terus menerus menyimpan luka-luka batin itu seorang diri selamanya ? Luka batin yang tersimpan lama suatu saat akan meledak dengan kepedihan yang lebih parah dan sulit tersembuhkan.
Hidup kita terlalu berharga untuk terus digunakan merenungi apa yang telah hilang dari kita. Saya hidup sudah 25 tahun di dunia ini, sebentar lagi 26 tahun. Manusia normal hidup sampai usia 75 tahun. Hanya 50 tahun lagi kira-kira saya bernafas di dunia yang sedang mengalami percepatan waktu yang luar biasa ini. 24 jam sehari terasa begitu singkat. Dan pastinya 50 tahun juga bukan jangka waktu yang lama lagi.
Terlalu berharga bukan, menghabiskan 50 tahun hidup saya ke depan untuk mengejar hal-hal yang sia-sia, yang membuat diri saya menderita, tersiksa, dan membuang waktu dengan percuma.
Fokus pada kemuliaan Kerajaan Surga, itu yang saya pelajari dari Yesus. Apapun kekurangan kita, jika kita memandang Yesus terus dan berfokus untuk kemuliaan nama-Nya, semua akan mampu kita lewati dengan sempurna. Pandang sisi negatif kita sebagai alat untuk mukjizat Yesus terjadi, membuang keluh kesah, menutup mata dari rumput hijau dihalaman tetangga, dan terus menghitung berkat dalam hidup setiap detik. Tidak ada hal mustahil yang tidak bisa dikerjakan bagi Yesus, Tuhan kita.
Minggu kemarin lagi-lagi saya ceroboh. Ketika keluar dari kamar tidur, tanpa sengaja siku tangan kanan saya terbentur daun pintu. Beberapa detik setelah kejadian itu, saya hanya merasakan sedikit nyeri kemudian sembuh. Ketika saya mengeceknya sekilas juga tidak ada luka yang serius, makanya saya tidak ambil pusing dengan kejadian tersebut.
Waktu saya di kamar mandi dan mengguyur bagian tubuh saya dengan air, barulah terasa nyeri yang lebih menyakitkan dari sebelumnya dari tangan kanan saya. Seketika saya tersadar, mungkin rasa nyeri itu asalnya dari siku saya yang sempat berbentur keras dengan pintu ketika keluar dari kamar tidur sebelumnya. Dan benar saja, luka sepanjang lima centimeter itu menganga lebar dan mengeluarkan darah.
Begitu melihat darah, saya tidak jadi meneruskan aktifitas mandi saya. Terpaksa keluar dari kamar mandi, mengambil kapas kemudian membersihkan luka saya. Tetapi berhubung saya mengetahui agak terlambat, maka bagian luka itu sampai menimbulkan lebam. Pedih rasanya begitu disentuh dengan benda apapun, apalagi kalau terkena air. Mungkin seminggu lagi luka itu baru akan kering dan sembuh. Yang jelas butuh waktu agak lama untuk menyembuhkan luka yang dari pertamanya tidak kita sadari dan dirawat dengan baik.
Hari Jumat lalu saya sempat chating dengan seorang teman pria yang saya kenal lewat sebuah forum online. Yang saya tahu, ia memang pernah kecewa dengan seorang wanita mantan pacarnya yang meninggalkannya tanpa sebuah alasan yang jelas. Masalah ini sudah lama terjadi, mungkin sekitar 1,5 tahun yang lalu. Dan saya kira jiwa pria ini sudah sembuh.
Tetapi ternyata tidak demikian kejadiannya. Tersirat dari hasil chating saya dengannya kemarin, masalah yang dialaminya bukannya selesai tetapi justru merembet ke masalah yang baru lagi. Mungkin kejadiaannya seperti waktu siku tangan saya terluka akibat tergores daun pintu. Pertamanya saya meremehkan luka itu, membiarkannya hingga mengeluarkan darah dan meradang. Seandainya setelah tahu tergores saya langsung mengoleskan antiseptik di bagian yang terluka itu, tentu hasilnya akan lebih cepat sembuh daripada sekarang.
Saya bisa merasakan dalam Roh, bahwa pria ini juga melakukan hal yang sama seperti saya. Ia kira dengan kepindahannya dari kota yang membuatnya terkenang akan mantan pacarnya dahulu itu adalah langkah untuk menyembuhkan luka batinnya. Tetapi yang terjadi sebenarnya justru ia membiarkan luka itu semakin meradang. Dikotanya yang baru sekarang ini ia semakin kesepian, tidak pernah lagi ke gereja, semakin terpuruk dalam kenangan mantan pacarnya dan yang lebih menyedihkan lagi, ia sering ke diskotik, minum minuman keras dan tidak lagi merasa bahwa hidupnya berharga dimata Allah. Iblis telah berhasil menguasai hampir separuh hidupnya justru setelah ia merasa bisa mengabaikan luka batinnya.
Di luar sana juga pasti banyak manusia-manusia seperti teman saya ini. Waktu memang bisa menyembuhkan luka batin dan fisik. Tetapi itu harus disertai dengan usaha untuk menyembuhkannya juga. Jika luka fisik saja dibiarkan terlalu lama, ia bisa meradang dan menimbulkan lebam. Apa yang terjadi jika luka batin terus kita pelihara ? Jauh lebih mengerikan imbasnya bukan ? Dan itulah yang sedang dialami oleh teman saya ini.
Saya juga pernah mempunyai luka batin. Bukan hanya satu atau dua, tetapi banyak. Saya pernah mengalami yang namanya tersingkir dari manusia lain, terhina, terbuang, dan juga merasa minder karena saya tidak mempunyai keistimewaan sama sekali. Jika anda mengenal saya sekarang yang seolah menjadi wanita tegar, pemberani, cuek, dan juga jago berdebat, apakah anda pernah membayangkan bahwa dahulu karakter saya bukan seperti itu ? Bahkan jauh dari saya yang sekarang terlihat sebagaimana adanya, dulu saya pendiam, pemalu, penakut, tidak mempunyai teman, dan selalu berfikiran negatif tentang hidup dan diri saya sendiri.
Semua kelakuan negatif saya diatas bersumber dari luka batin. Luka yang meradang karena kepahitan atas keluarga dan perlakuan teman-teman saya. Itu adalah diri saya semasa kecil sampai SMP. Masih terkenang jelas diingatan saya tentang diri saya yang dahulu. Rasanya dunia saya isinya gelap gulita, tidak ada istimewanya sama sekali. Semua berubah ketika saya sadar bahwa hidup saya terlalu berharga untuk saya lewati dalam lorong-lorong kegelapan. Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada saya dan Ia menyembuhkan luka-luka batin saya satu per satu. Tidak hanya disembuhkan, saya diberi-Nya kemampuan lain yang sama sekali tidak pernah saya punyai semasa kecil - keberanian, ketegaran, dan juga fokus.
Pertama kali saya tahu bahwa batin saya terluka, rasanya ingin melarikan diri. Keegoisan manusia terkadang menjadikan benteng tebal yang membuat luka batin manusia itu justru sulit tersembuhkan. Jika kita tidak punya semangat untuk sembuh, kapankah luka-luka tersebut akan mengering dan hilang ? Yang ada justru luka-luka itu semakin meradang kemudian merembet ke luka-luka yang baru bukan ?
Jika kita mempunyai luka batin, kita juga harus waspada. Luka batin acap kali membuat kita melukai diri kita secara fisik atau yang lebih parah lagi luka itu akan melukai orang lain. Saya juga pernah terluka karena luka batin orang lain. Bagaimana bisa ?
Jika kita melampiaskan kekesalan atas kepahitan yang terpendam didalam diri kita kepada orang yang ingin memperhatikan kita dengan tulus, itulah saatnya luka batin akan terimpartasi dan melukai orang tersebut. Jadi kita merasa bahwa batin kita pernah terluka, berhati-hatilah. Akan ada dua hal yang mengikutinya jika luka-luka itu tidak segera disembuhkan. Luka batin itu akan menyakiti diri kita sendiri secara fisik dan semakin parah anda derita atau luka batin itu akan melukai orang lain yang ingin memperhatikan kita dengan tulus.
Akar pahit harus dicabut. Dan cara untuk mencabutnya pertama kali adalah dengan pengakuan bahwa kita sakit, terluka dan butuh obat untuk menyembuhkannya. Tanpa pengakuan diatas alias melarikan diri dari kenyataan dan menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja meskipun dengan barah di sekujur tubuh, itu tidak akan pernah membuat kita sembuh dari luka batin kita.
Langkah kedua untuk menyembuhkan luka batin adalah dengan turun tahta dari pemerintahan hidup kita. Kita tidak akan pernah bisa mengatur hidup kita dengan baik kecuali jika Allah ada dalam tahta pemerintahan tersebut. Ketika kita naik tahta, kendali kita bisa disetir oleh Iblis. Tetapi ketika Yesus yang naik tahta dan memerintah hidup kita, Iblis tidak akan bisa menyetir-Nya. Jadi lebih baik mana ? Kita menyerahkan luka-luka kita dirawat Yesus atau kita terus menerus menyimpan luka-luka batin itu seorang diri selamanya ? Luka batin yang tersimpan lama suatu saat akan meledak dengan kepedihan yang lebih parah dan sulit tersembuhkan.
Hidup kita terlalu berharga untuk terus digunakan merenungi apa yang telah hilang dari kita. Saya hidup sudah 25 tahun di dunia ini, sebentar lagi 26 tahun. Manusia normal hidup sampai usia 75 tahun. Hanya 50 tahun lagi kira-kira saya bernafas di dunia yang sedang mengalami percepatan waktu yang luar biasa ini. 24 jam sehari terasa begitu singkat. Dan pastinya 50 tahun juga bukan jangka waktu yang lama lagi.
Terlalu berharga bukan, menghabiskan 50 tahun hidup saya ke depan untuk mengejar hal-hal yang sia-sia, yang membuat diri saya menderita, tersiksa, dan membuang waktu dengan percuma.
Fokus pada kemuliaan Kerajaan Surga, itu yang saya pelajari dari Yesus. Apapun kekurangan kita, jika kita memandang Yesus terus dan berfokus untuk kemuliaan nama-Nya, semua akan mampu kita lewati dengan sempurna. Pandang sisi negatif kita sebagai alat untuk mukjizat Yesus terjadi, membuang keluh kesah, menutup mata dari rumput hijau dihalaman tetangga, dan terus menghitung berkat dalam hidup setiap detik. Tidak ada hal mustahil yang tidak bisa dikerjakan bagi Yesus, Tuhan kita.
Kekuatan dari Minus ( - )
Oleh : Angelina Kusuma
Ketika kelebihan kita menjadi sebuah kekuatan untuk kita, bukankah itu suatu hal yang sudah wajar dan seharusnya. Tetapi jika kekurangan kita justru menjadi sebuah pemicu timbulnya kekuatan dahsyat yang akan ada didalam diri kita sendiri, bisakah kita mempercayainya ?
Kekurangan kita bukanlah kelemahan kita dan kelebihan kita bukanlah satu-satunya sumber kekuatan kita
Di gereja saya memperkerjakan seorang wanita paruh baya untuk mengurus segala keperluan rumah tangga gereja, mulai dari membersihkan gereja, kamar mandi, mengurus logistik saat ada latihan para pelayan, sampai mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pelayanan. Beliau adalah seorang wanita yang ceria dan sangat murah senyum kepada semua jemaat menurut saya. Kehebatan Beliau yang tidak bisa ditandingi oleh semua anggota jemaat gereja lain adalah Beliau bisa menemukan barang-barang yang hilang disekitar wilayah gereja dengan cepat. Kemampuan Beliau ini benar-benar membuat para pelayan mimbar yang kebingungan mencari alat untuk pelayanan di gereja bersorak gembira. Tetapi dibalik keistimewaan dan keramahan tingkah lakunya tersebut, tahukah anda bahwa Beliau tidak bisa berbicara alias bisu.
Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah toko hand phone dikota saya untuk membeli voucher pulsa. Disana, saya bertemu dengan seorang pemuda yang dengan jari-jarinya begitu lihai memencet tombol keypad hand phone yang ada ditangannya. Saya kagum dengan ketrampilan pemuda ini untuk meneliti kualitas hand phone yang hendak dibelinya tersebut. Hand phone yang dipegang oleh pemuda ini termasuk hand phone keluaran terbaru dengan sebuah fitur multimedia tercanggih saat ini. Dengan obrolannya dengan penjaga counter, cukup membuat mulut saya ternganga. Ia tahu cara memakai kamera hand phone yang ada ditangannya, tahu tombol untuk mendengarkan radio FM, dan ia juga bisa menggunakan hands free untuk mendengarkan suara dari hand phone. Tetapi tahukah anda keadaan pemuda tersebut ? Ketika berjalan ia harus dituntun oleh seorang petunjuk jalan alias ia seorang yang buta sejak lahir dan hanya satu bola matanya yang berfungsi dengan ukuran yang mengecil didalam kelopak matanya.
Setiap sekitar pukul sepuluh siang, saya senang melihat wajah seorang wanita penjual kue keliling yang biasa melintas didepan tempat kerja saya. Wajahnya selalu ceria dengan senyuman yang selalu diberikannya kepada orang-orang yang melintas didepannya. Beliau selalu terlihat bersemangat menjalani profesinya sebagai penjual kue keliling meski harus berpanas-panas ria ditengah terik siang hari. Dan anda tahu berapa usia dari wanita penjual kue ini ? Menurut perkiraan saya, Beliau adalah nenek-nenek berusia sekitar enam puluh tahun keatas, dengan rambut sanggulnya yang terlihat hampir seluruhnya memutih dan kebaya Jawa, pakaian khasnya sehari-hari.
Akhir-akhir ini ada berita mengejutkan lagi terjadi di kota saya, yaitu mengenai kabar sebuah lagu berjudul Tinggal Kenangan yang tiba-tiba menjadi hits dan banyak di-request oleh anak-anak muda setempat layaknya lagu profesional yang keluar dari dapur rekaman resmi. Bukan lagu atau suara penyanyinya yang terlalu indah didengar, namun kisah yang melatar belakangi lagu ini tercipta, membuatnya mendapat perhatian besar. Bermula dari kisah nyata tentang dua orang anak SMA yang sedang dimabuk asmara. Suatu ketika si anak perempuan pura-pura marah saat si anak laki-laki datang ke rumahnya. Kemudian sekembali si anak laki-laki dari rumah si anak perempuan tersebut, ia tewas tertabrak truk ditengah perjalanan pulang. Untuk mengenang kekasihnya kemudian si anak perempuan menulis lagu untuk mantan kekasihnya tersebut kemudian merekamnya. Tragisnya, setelah lagunya selesai direkam kemudian si anak perempuan itupun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kisah yang mirip dengan legenda Romeo and Juliet. Setahu saya, anak perempuan yang rela menghabisi nyawanya sendiri ini adalah murid dari sebuah SMA terfavorit dan terbaik dikota saya. Sangat disayangkan, ia mengakhiri hidupnya ditengah usia remaja dan bakat sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang berpotensi untuk diasah lagi dimasa depan.
Dunia ini mempunyai dua sisi. Semua manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memandang hanya disatu sisi saja akan menjadikan kita lemah
Kekurangan bukanlah alasan bahwa kita tidak bisa melakukan hal-hal besar dalam hidup kita. Kelemahan bukanlah sebuah batu sandungan bagi kita, jika kita tahu bahwa dengan kelemahan itu justru akan menunjukkan sisi ke-Tuhanan Kristus didalam kita.
Banyak orang yang mengeluh tidak bisa melakukan ini dan itu karena kekurangan uang, pengalaman, pendidikan, tidak percaya diri karena keadaan fisiknya yang cacat atau tidak seperti manusia lain yang lebih cantik, tampan, cerdas, bertalenta, kaya, ceria, dan alasan-alasan yang lain.
Kita bukanlah budak intimidasi Iblis. Kita umat yang merdeka. Kekurangan kita sudah digenapi oleh Kristus ketia Ia disalibkan. Apapun keadaan kita, kita adalah ciptaan yang sempurna dimata-Nya dan tidak ada yang salah dalam rancangan-rancangan-Nya.
Orang-orang yang mempunyai cacat fisik dan usia tua yang saya ceritakan dalam kasus pertama sampai ketiga diatas menunjukkan bahwa kekurangan bukanlah sebuah kelemahan bagi mereka yang memilikinya. Mereka adalah gambaran manusia-manusia yang tetap bersemangat menjalani hidup dan mengetahui bahwa kekurangan mereka juga merupakan anugerah terbesar yang telah Tuhan beri dalam hidup mereka. Kekurangan pada fisik mereka tidak pernah menghambat aktivitas dalam hidup mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai manusia kerdil yang harus meminta belas kasihan orang lain untuk hidup. Sebaliknya cerita dalam kasus keempat yang saya ceritakan, menunjukkan salah satu bukti bahwa sisi kelebihan seseorang terkadang tidak bisa membuat hidupnya damai dan terpelihara dalam kemenangan.
Kelebihan dalam hidup kita juga bisa menjadi batu sandungan dalam hidup kita jika kita salah menggunakannya
Tentunya anda pernah mendengar bahwa ada manusia yang tidak pernah merasa aman menyimpan kekayaannya disuatu tempat, ketenaran seseorang yang justru membuatnya tidak bisa tenang jika berjalan seorang diri ditengah keramaian tanpa bodyguard yang menjaganya, kejeniusan seseorang yang membuatnya tidak mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan dirinya dan dunia ini, ketampanan atau kecantikan seseorang yang membuatnya diburu banyak manusia yang iri hati kepadanya, dan sebagainya.
Maukah anda melewati hidup didunia ini penuh dengan gelimangan harta, wajah yang tampan atau cantik, ketenaran, kekuasaan, namun hidup anda kosong dan sia-sia ? Tidak bukan ? Baik itu sisi kekurangan maupun sisi kelebihan dalam diri kita, bisa menjadi batu sandungan jika kita salah memahaminya sebagai sebuah keterbatasan atau sesuatu yang terlalu disanjung berlebihan.
Kekuatan dari kekurangan
Jika kita diberikan sebuah kondisi perekonomian yang sulit, itu berarti bahwa kita harus selalu menghargai setiap pekerjaan kita dan memanfaatkan uang yang kita peroleh dengan bijaksana. Kita kekurangan uang bukan berarti kita miskin. Jika kita mempunyai hati yang bisa mengatur segala bentuk keuangan kita, itulah yang disebut kekayaan hidup yang sesungguhnya. Kaya bukan berarti berlimpah harta, namun berarti bahwa kita bisa mengatur semua berkat yang telah Tuhan percayakan kepada kita untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kita dan dari situ nama Tuhan dipermuliakan.
Jika kita diberikan anggota tubuh yang lengkap meskipun tidak terlalu istimewa, itu berarti bahwa kita masih harus bersyukur karena kita lebih beruntung dari pada mereka yang bertubuh cacat. Ketampanan dan kecantikan luar manusia bisa memudar seiring bertambahnya usia. Tetapi jika kita memiliki ketampanan dan kecantikan dalam pribadi kita, itulah yang disebut nilai positif dari jiwa kita. Kepribadian yang hebat, akan lebih menarik dari pada ketampanan maupun kecantikan luar manusia dan tidak akan pernah usang oleh waktu dan tempat.
Jika kita diberikan keluarga yang penuh dengan konflik didalamnya, itu berarti kita masih lebih beruntung dari pada orang-orang yang terlahir kemuka bumi ini tanpa mengetahui siapa orang tua mereka. Seburuk apapun orang tua kita, mereka adalah utusan Allah, sarana kita terlahir ke dunia ini.
Jika kita harus kehilangan satu orang yang kita sayangi didunia ini, itu berarti kita harus menyadari bahwa ada banyak orang yang kehilangan seluruh anggota keluarganya karena kecelakaan, bencana alam, atau wabah sakit penyakit.
Tidak ada kehidupan yang sempurna didunia ini. Dunia bukanlah Surga. Dan setiap kekurangan yang kita miliki, sebenarnya adalah celah yang akan digunakan Tuhan untuk menunjukkan kekuasaan-Nya didalam hidup kita. Bersukacitalah terhadap sisi-sisi kekurangan kita. Karena dengan adanya hal tersebut berarti kita masih berguna untuk mukzijat-mukjizat-Nya.
2 Korintus 12:9, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Ketika kelebihan kita menjadi sebuah kekuatan untuk kita, bukankah itu suatu hal yang sudah wajar dan seharusnya. Tetapi jika kekurangan kita justru menjadi sebuah pemicu timbulnya kekuatan dahsyat yang akan ada didalam diri kita sendiri, bisakah kita mempercayainya ?
Kekurangan kita bukanlah kelemahan kita dan kelebihan kita bukanlah satu-satunya sumber kekuatan kita
Di gereja saya memperkerjakan seorang wanita paruh baya untuk mengurus segala keperluan rumah tangga gereja, mulai dari membersihkan gereja, kamar mandi, mengurus logistik saat ada latihan para pelayan, sampai mempersiapkan peralatan yang akan digunakan untuk pelayanan. Beliau adalah seorang wanita yang ceria dan sangat murah senyum kepada semua jemaat menurut saya. Kehebatan Beliau yang tidak bisa ditandingi oleh semua anggota jemaat gereja lain adalah Beliau bisa menemukan barang-barang yang hilang disekitar wilayah gereja dengan cepat. Kemampuan Beliau ini benar-benar membuat para pelayan mimbar yang kebingungan mencari alat untuk pelayanan di gereja bersorak gembira. Tetapi dibalik keistimewaan dan keramahan tingkah lakunya tersebut, tahukah anda bahwa Beliau tidak bisa berbicara alias bisu.
Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke sebuah toko hand phone dikota saya untuk membeli voucher pulsa. Disana, saya bertemu dengan seorang pemuda yang dengan jari-jarinya begitu lihai memencet tombol keypad hand phone yang ada ditangannya. Saya kagum dengan ketrampilan pemuda ini untuk meneliti kualitas hand phone yang hendak dibelinya tersebut. Hand phone yang dipegang oleh pemuda ini termasuk hand phone keluaran terbaru dengan sebuah fitur multimedia tercanggih saat ini. Dengan obrolannya dengan penjaga counter, cukup membuat mulut saya ternganga. Ia tahu cara memakai kamera hand phone yang ada ditangannya, tahu tombol untuk mendengarkan radio FM, dan ia juga bisa menggunakan hands free untuk mendengarkan suara dari hand phone. Tetapi tahukah anda keadaan pemuda tersebut ? Ketika berjalan ia harus dituntun oleh seorang petunjuk jalan alias ia seorang yang buta sejak lahir dan hanya satu bola matanya yang berfungsi dengan ukuran yang mengecil didalam kelopak matanya.
Setiap sekitar pukul sepuluh siang, saya senang melihat wajah seorang wanita penjual kue keliling yang biasa melintas didepan tempat kerja saya. Wajahnya selalu ceria dengan senyuman yang selalu diberikannya kepada orang-orang yang melintas didepannya. Beliau selalu terlihat bersemangat menjalani profesinya sebagai penjual kue keliling meski harus berpanas-panas ria ditengah terik siang hari. Dan anda tahu berapa usia dari wanita penjual kue ini ? Menurut perkiraan saya, Beliau adalah nenek-nenek berusia sekitar enam puluh tahun keatas, dengan rambut sanggulnya yang terlihat hampir seluruhnya memutih dan kebaya Jawa, pakaian khasnya sehari-hari.
Akhir-akhir ini ada berita mengejutkan lagi terjadi di kota saya, yaitu mengenai kabar sebuah lagu berjudul Tinggal Kenangan yang tiba-tiba menjadi hits dan banyak di-request oleh anak-anak muda setempat layaknya lagu profesional yang keluar dari dapur rekaman resmi. Bukan lagu atau suara penyanyinya yang terlalu indah didengar, namun kisah yang melatar belakangi lagu ini tercipta, membuatnya mendapat perhatian besar. Bermula dari kisah nyata tentang dua orang anak SMA yang sedang dimabuk asmara. Suatu ketika si anak perempuan pura-pura marah saat si anak laki-laki datang ke rumahnya. Kemudian sekembali si anak laki-laki dari rumah si anak perempuan tersebut, ia tewas tertabrak truk ditengah perjalanan pulang. Untuk mengenang kekasihnya kemudian si anak perempuan menulis lagu untuk mantan kekasihnya tersebut kemudian merekamnya. Tragisnya, setelah lagunya selesai direkam kemudian si anak perempuan itupun mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Kisah yang mirip dengan legenda Romeo and Juliet. Setahu saya, anak perempuan yang rela menghabisi nyawanya sendiri ini adalah murid dari sebuah SMA terfavorit dan terbaik dikota saya. Sangat disayangkan, ia mengakhiri hidupnya ditengah usia remaja dan bakat sebagai penyanyi sekaligus pencipta lagu yang berpotensi untuk diasah lagi dimasa depan.
Dunia ini mempunyai dua sisi. Semua manusia diciptakan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Memandang hanya disatu sisi saja akan menjadikan kita lemah
Kekurangan bukanlah alasan bahwa kita tidak bisa melakukan hal-hal besar dalam hidup kita. Kelemahan bukanlah sebuah batu sandungan bagi kita, jika kita tahu bahwa dengan kelemahan itu justru akan menunjukkan sisi ke-Tuhanan Kristus didalam kita.
Banyak orang yang mengeluh tidak bisa melakukan ini dan itu karena kekurangan uang, pengalaman, pendidikan, tidak percaya diri karena keadaan fisiknya yang cacat atau tidak seperti manusia lain yang lebih cantik, tampan, cerdas, bertalenta, kaya, ceria, dan alasan-alasan yang lain.
Kita bukanlah budak intimidasi Iblis. Kita umat yang merdeka. Kekurangan kita sudah digenapi oleh Kristus ketia Ia disalibkan. Apapun keadaan kita, kita adalah ciptaan yang sempurna dimata-Nya dan tidak ada yang salah dalam rancangan-rancangan-Nya.
Orang-orang yang mempunyai cacat fisik dan usia tua yang saya ceritakan dalam kasus pertama sampai ketiga diatas menunjukkan bahwa kekurangan bukanlah sebuah kelemahan bagi mereka yang memilikinya. Mereka adalah gambaran manusia-manusia yang tetap bersemangat menjalani hidup dan mengetahui bahwa kekurangan mereka juga merupakan anugerah terbesar yang telah Tuhan beri dalam hidup mereka. Kekurangan pada fisik mereka tidak pernah menghambat aktivitas dalam hidup mereka dan tidak menjadikan mereka sebagai manusia kerdil yang harus meminta belas kasihan orang lain untuk hidup. Sebaliknya cerita dalam kasus keempat yang saya ceritakan, menunjukkan salah satu bukti bahwa sisi kelebihan seseorang terkadang tidak bisa membuat hidupnya damai dan terpelihara dalam kemenangan.
Kelebihan dalam hidup kita juga bisa menjadi batu sandungan dalam hidup kita jika kita salah menggunakannya
Tentunya anda pernah mendengar bahwa ada manusia yang tidak pernah merasa aman menyimpan kekayaannya disuatu tempat, ketenaran seseorang yang justru membuatnya tidak bisa tenang jika berjalan seorang diri ditengah keramaian tanpa bodyguard yang menjaganya, kejeniusan seseorang yang membuatnya tidak mempercayai adanya Tuhan yang menciptakan dirinya dan dunia ini, ketampanan atau kecantikan seseorang yang membuatnya diburu banyak manusia yang iri hati kepadanya, dan sebagainya.
Maukah anda melewati hidup didunia ini penuh dengan gelimangan harta, wajah yang tampan atau cantik, ketenaran, kekuasaan, namun hidup anda kosong dan sia-sia ? Tidak bukan ? Baik itu sisi kekurangan maupun sisi kelebihan dalam diri kita, bisa menjadi batu sandungan jika kita salah memahaminya sebagai sebuah keterbatasan atau sesuatu yang terlalu disanjung berlebihan.
Kekuatan dari kekurangan
Jika kita diberikan sebuah kondisi perekonomian yang sulit, itu berarti bahwa kita harus selalu menghargai setiap pekerjaan kita dan memanfaatkan uang yang kita peroleh dengan bijaksana. Kita kekurangan uang bukan berarti kita miskin. Jika kita mempunyai hati yang bisa mengatur segala bentuk keuangan kita, itulah yang disebut kekayaan hidup yang sesungguhnya. Kaya bukan berarti berlimpah harta, namun berarti bahwa kita bisa mengatur semua berkat yang telah Tuhan percayakan kepada kita untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kita dan dari situ nama Tuhan dipermuliakan.
Jika kita diberikan anggota tubuh yang lengkap meskipun tidak terlalu istimewa, itu berarti bahwa kita masih harus bersyukur karena kita lebih beruntung dari pada mereka yang bertubuh cacat. Ketampanan dan kecantikan luar manusia bisa memudar seiring bertambahnya usia. Tetapi jika kita memiliki ketampanan dan kecantikan dalam pribadi kita, itulah yang disebut nilai positif dari jiwa kita. Kepribadian yang hebat, akan lebih menarik dari pada ketampanan maupun kecantikan luar manusia dan tidak akan pernah usang oleh waktu dan tempat.
Jika kita diberikan keluarga yang penuh dengan konflik didalamnya, itu berarti kita masih lebih beruntung dari pada orang-orang yang terlahir kemuka bumi ini tanpa mengetahui siapa orang tua mereka. Seburuk apapun orang tua kita, mereka adalah utusan Allah, sarana kita terlahir ke dunia ini.
Jika kita harus kehilangan satu orang yang kita sayangi didunia ini, itu berarti kita harus menyadari bahwa ada banyak orang yang kehilangan seluruh anggota keluarganya karena kecelakaan, bencana alam, atau wabah sakit penyakit.
Tidak ada kehidupan yang sempurna didunia ini. Dunia bukanlah Surga. Dan setiap kekurangan yang kita miliki, sebenarnya adalah celah yang akan digunakan Tuhan untuk menunjukkan kekuasaan-Nya didalam hidup kita. Bersukacitalah terhadap sisi-sisi kekurangan kita. Karena dengan adanya hal tersebut berarti kita masih berguna untuk mukzijat-mukjizat-Nya.
2 Korintus 12:9, Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.
Karena Wanita Itu Cantik
Oleh : Angelina Kusuma
Dibalik seorang pria yang hebat, ada wanita (istri) yang hebat
Pastinya anda pernah mendengar pepatah itu bukan ? Akhir-akhir ini saya mulai meresapi arti pepatah itu dengan sepenuh hati. Bukan berarti bahwa saya baru mendengar pepatah itu beberapa menit sebelum saya menulis artikel ini. Tetapi jauh sebelum hari ini, pepatah tersebut sudah saya simpan didalam lubuk hati saya. Sebuah pepatah yang mengingatkan kepada saya tentang arti pentingnya seorang wanita dan betapa uniknya ia dirancang oleh Allah untuk seorang pria.
Kejadian 2:18, Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.
Janji tersebut diucapkan oleh Allah untuk Adam ketika ia berada di Taman Eden dan tidak menjumpai makhluk yang sama dengan dirinya. Dari ayat tersebut jelas bahwa Tuhan menciptakan sesosok Hawa untuk menjadi seorang penolong bagi Adam dalam melakukan pekerjaannya. Hawa tidak diciptakan kuat secara fisik sama seperti Adam. Allah mendandani Hawa dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan rupa yang lebih halus untuk mengimbangi Adam dengan segala keperkasaan dan kekuatan fisiknya.
Saya termasuk wanita yang menuai banyak kritikan pada penampilan luar saya. Saya kira penampilan luar tidak tidaklah penting. Toh, Tuhan selalu memandang hati kita dan bukan rupa kita seperti apa. Jadi bagi saya, apapun yang saya lakukan dengan tubuh saya - cara berpakaian, cara merias wajah, menyisir rambut, cara berjalan, cara makan, cara bertutur kata, dan sebagainya - itu terserah saya. Entah itu saya ingin berpakaian sporty, saya ingin bertingkah cuek, saya ingin berpenampilan tomboy dan sebagainya, itu juga terserah saya. Toh, yang Tuhan lihat adalah apa yang ada didalam hati saya - lagi-lagi beralasan.
1 Samuel 16:7, Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Saya juga tidak pernah merasa bahwa dengan penampilan saya yang tomboy, itu akan merubah hati saya yang taat kepada Tuhan. Dan saya merasa selalu baik-baik saja dengan cara berpakaian sporty, yang penting hati saya melekat kepada Allah.
Ingat, Tuhan melihat hati dan bukan rupa. Kata-kata inilah yang membuat saya selalu bersorak dan berterima kasih kepada Tuhan. Hingga suatu saat ada sebuah teguran datang dari sahabat saya yang share tentang masalah yang menimpanya seputar penampilan fisik.
Sahabat saya ini sedang menghadapi sebuah konflik dengan kekasihnya yang salah satunya menyangkut soal ketidak sukaan pihak pria atas penampilan sahabat saya yang dinilainya sedikit tomboy. Wow, kontan saya terlonjak. Penampilan saya jauh lebih tomboy daripada sahabat saya ini. Dan ternyata, ia yang menurut pandangan saya sungguh girly, masih tertimpa masalah penampilan fisik juga ?
Saya lantas mundur kebelakang, membuka semua file dalam kenangan otak saya, membongkar kritikan-kritikan yang pernah saya terima seputar penampilan luar saya dan mulai merenung. Sungguh, baru kali inilah saya benar-benar merenung tentang diri saya, tentang apa yang selama ini saya pakai, bagaimana saya merawat wajah saya, sambil berkaca didepan cermin. Beberapa kalimat kritikan dari teman pria saya seketika me-refresh ingatan saya.
"Njie, dandan sedikit dong. Masa dari kuliah penampilanmu begitu terus ?"
"Memangnya aku nggak cantik ya kalo berpenampilan seperti ini ?"
(Mungkin jika teman saya itu mau jujur, ia bisa tergelak mendengar pertanyaan saya ini)
"Cantik sie ... Tapi nggak ada sisi dewasanya sama sekali. Wanita itu kodratnya dandan, pakai gaun, biar jadi wanita yang sesungguhnya dan tidak membosankan dilihat mata pria."
Tanpa perlu saya lanjutkan percakapan diatas, pastinya anda sudah bisa menebak akan kearah mana pembicaraan tersebut berlanjut. Ya, percakapan itu kemudian penuh dengan debat panjang utamanya dari saya yang tetap teguh memegang pendapat bahwa penampilan luar seperti apapun itu tidaklah lebih penting dibandingkan dengan etika, cara berfikir, dan juga hati saya.
1 Timotius 2:9, Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal.
Bagaimana kita menerjemahkan kata pantas, sopan, dan sederhana sesuai dengan Alkitab diatas mengenai dandanan atau penampilan seorang wanita ?
Pantas : layak atau patut
Sopan : sesuai dengan tata krama yang berlaku
Sederhana : tidak berlebihan
Tidak ada batasan yang mutlak didalam Alkitab bahwa seorang wanita harus berpakaian seperti apa. Yang jelas penggabungan arti kata pantas, sopan dan sederhana akan merujuk kepada penampilan wanita dimana orang yang memandangnya akan segera mengetahui bahwa ia adalah seorang wanita.
1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Seorang wanita berpenampilan sporty boleh-boleh saja. Seorang wanita berpenampilan cuek sah-sah saja. Seorang wanita tomboy juga tidak ada hukum yang melarang. Yang membuatnya luar biasa adalah apakah dengan berpenampilan sporty, cuek dan tomboy, wanita tersebut kemudian menjadi batu sandungan bagi orang lain yang melihatnya atau tidak. Ini yang lebih penting.
Tidak jarang, saya dengan penampilan tomboy saya justru lebih sering dipanggil mas daripada mbak. Sering dikritik dan bukan dipuji. Dan yang paling parah lagi, banyak yang melempar kutuk seputar penampilan saya.
"Bagaimana pria bisa tertarik sama kamu dengan penampilan seperti itu ?"
Kalimat diatas adalah intisari dari puluhan kalimat yang mengeluhkan penampilan saya sebelumnya.
Jika dalam hal berpenampilan saja seorang wanita sudah menjadi batu sandungan bagi yang melihatnya, apakah ia bisa menjadi seorang penolong yang sepadan dan seimbang untuk laki-laki ? Memang penampilan luar kita tidak akan berpengaruh apapun terhadap kadar iman seseorang. Tetapi jika hanya dengan satu titik kekurangan kita dipandang minus oleh orang lain utamanya oleh pasangan hidup kita bagaimana ?
Salah satu perbedaan antara laki-laki dan wanita adalah terletak pada mata dan telinga. Sejak awal mula kehidupan laki-laki lemah terhadap mata. Lihat kasus Daud yang jatuh ke dalam dosa karena memandang Batsyeba pada waktu mandi. Sedangkan wanita lebih lemah terhadap telinga. Lihat kasus Hawa waktu jatuh ke dalam dosa. Hawa mendengar bisikan ular untuk memakan buah pengertian yang baik dan yang jahat, memasukkannya ke dalam otak dan hati, kemudian menuruti bujukannya.
Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam. Keduanya adalah simbiosis mutualisme - hubungan yang saling melengkapi dan saling menguntungkan. Itulah kenapa dari hal fisik dan cara berfikir kaum Adam dan Hawa dibuat-Nya berbeda. Jika keduanya sama persis, tentu bukan saling melengkapi yang terjadi tetapi justru menimbulkan persaingan.
Salah satu pasal di Alkitab yang menunjukkan gambaran wanita hebat ada didalam Amsal 31:10-31. Saya menyukai Amsal ini dan selalu berandai-andai, alangkah sempurnanya wanita yang digambarkan Salomo ini. Mungkin jika pada masa itu ada ajang Miss Universe, wanita dalam gambaran Amsal ini akan menduduki kehormatan tersebut. Tidak hanya memiliki beauty saja, tetapi juga brain dan behaviour. Tiga perpaduan yang sempurna untuk seorang wanita hebat. Kurang satu hal, tentunya akan mengurangi juga nilai kehebatan seorang wanita. Tidak hanya kemampuan berfikir dan kadar iman yang dimiliki wanita, yang akan dinilai oleh pasangannya maupun orang-orang yang ada disekelilingnya. Tetapi cara wanita tersebut memperlakukan dirinya juga penting.
Dibalik seorang pria yang hebat, ada wanita (istri) yang hebat
Pastinya anda pernah mendengar pepatah itu bukan ? Akhir-akhir ini saya mulai meresapi arti pepatah itu dengan sepenuh hati. Bukan berarti bahwa saya baru mendengar pepatah itu beberapa menit sebelum saya menulis artikel ini. Tetapi jauh sebelum hari ini, pepatah tersebut sudah saya simpan didalam lubuk hati saya. Sebuah pepatah yang mengingatkan kepada saya tentang arti pentingnya seorang wanita dan betapa uniknya ia dirancang oleh Allah untuk seorang pria.
Kejadian 2:18, Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya yang sepadan dengan dia.
Janji tersebut diucapkan oleh Allah untuk Adam ketika ia berada di Taman Eden dan tidak menjumpai makhluk yang sama dengan dirinya. Dari ayat tersebut jelas bahwa Tuhan menciptakan sesosok Hawa untuk menjadi seorang penolong bagi Adam dalam melakukan pekerjaannya. Hawa tidak diciptakan kuat secara fisik sama seperti Adam. Allah mendandani Hawa dengan penuh kelembutan, kasih sayang, dan rupa yang lebih halus untuk mengimbangi Adam dengan segala keperkasaan dan kekuatan fisiknya.
Saya termasuk wanita yang menuai banyak kritikan pada penampilan luar saya. Saya kira penampilan luar tidak tidaklah penting. Toh, Tuhan selalu memandang hati kita dan bukan rupa kita seperti apa. Jadi bagi saya, apapun yang saya lakukan dengan tubuh saya - cara berpakaian, cara merias wajah, menyisir rambut, cara berjalan, cara makan, cara bertutur kata, dan sebagainya - itu terserah saya. Entah itu saya ingin berpakaian sporty, saya ingin bertingkah cuek, saya ingin berpenampilan tomboy dan sebagainya, itu juga terserah saya. Toh, yang Tuhan lihat adalah apa yang ada didalam hati saya - lagi-lagi beralasan.
1 Samuel 16:7, Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: "Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati."
Saya juga tidak pernah merasa bahwa dengan penampilan saya yang tomboy, itu akan merubah hati saya yang taat kepada Tuhan. Dan saya merasa selalu baik-baik saja dengan cara berpakaian sporty, yang penting hati saya melekat kepada Allah.
Ingat, Tuhan melihat hati dan bukan rupa. Kata-kata inilah yang membuat saya selalu bersorak dan berterima kasih kepada Tuhan. Hingga suatu saat ada sebuah teguran datang dari sahabat saya yang share tentang masalah yang menimpanya seputar penampilan fisik.
Sahabat saya ini sedang menghadapi sebuah konflik dengan kekasihnya yang salah satunya menyangkut soal ketidak sukaan pihak pria atas penampilan sahabat saya yang dinilainya sedikit tomboy. Wow, kontan saya terlonjak. Penampilan saya jauh lebih tomboy daripada sahabat saya ini. Dan ternyata, ia yang menurut pandangan saya sungguh girly, masih tertimpa masalah penampilan fisik juga ?
Saya lantas mundur kebelakang, membuka semua file dalam kenangan otak saya, membongkar kritikan-kritikan yang pernah saya terima seputar penampilan luar saya dan mulai merenung. Sungguh, baru kali inilah saya benar-benar merenung tentang diri saya, tentang apa yang selama ini saya pakai, bagaimana saya merawat wajah saya, sambil berkaca didepan cermin. Beberapa kalimat kritikan dari teman pria saya seketika me-refresh ingatan saya.
"Njie, dandan sedikit dong. Masa dari kuliah penampilanmu begitu terus ?"
"Memangnya aku nggak cantik ya kalo berpenampilan seperti ini ?"
(Mungkin jika teman saya itu mau jujur, ia bisa tergelak mendengar pertanyaan saya ini)
"Cantik sie ... Tapi nggak ada sisi dewasanya sama sekali. Wanita itu kodratnya dandan, pakai gaun, biar jadi wanita yang sesungguhnya dan tidak membosankan dilihat mata pria."
Tanpa perlu saya lanjutkan percakapan diatas, pastinya anda sudah bisa menebak akan kearah mana pembicaraan tersebut berlanjut. Ya, percakapan itu kemudian penuh dengan debat panjang utamanya dari saya yang tetap teguh memegang pendapat bahwa penampilan luar seperti apapun itu tidaklah lebih penting dibandingkan dengan etika, cara berfikir, dan juga hati saya.
1 Timotius 2:9, Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana, rambutnya jangan berkepang-kepang, jangan memakai emas atau mutiara ataupun pakaian yang mahal-mahal.
Bagaimana kita menerjemahkan kata pantas, sopan, dan sederhana sesuai dengan Alkitab diatas mengenai dandanan atau penampilan seorang wanita ?
Pantas : layak atau patut
Sopan : sesuai dengan tata krama yang berlaku
Sederhana : tidak berlebihan
Tidak ada batasan yang mutlak didalam Alkitab bahwa seorang wanita harus berpakaian seperti apa. Yang jelas penggabungan arti kata pantas, sopan dan sederhana akan merujuk kepada penampilan wanita dimana orang yang memandangnya akan segera mengetahui bahwa ia adalah seorang wanita.
1 Korintus 10:23, "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. "Segala sesuatu diperbolehkan." Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun.
Seorang wanita berpenampilan sporty boleh-boleh saja. Seorang wanita berpenampilan cuek sah-sah saja. Seorang wanita tomboy juga tidak ada hukum yang melarang. Yang membuatnya luar biasa adalah apakah dengan berpenampilan sporty, cuek dan tomboy, wanita tersebut kemudian menjadi batu sandungan bagi orang lain yang melihatnya atau tidak. Ini yang lebih penting.
Tidak jarang, saya dengan penampilan tomboy saya justru lebih sering dipanggil mas daripada mbak. Sering dikritik dan bukan dipuji. Dan yang paling parah lagi, banyak yang melempar kutuk seputar penampilan saya.
"Bagaimana pria bisa tertarik sama kamu dengan penampilan seperti itu ?"
Kalimat diatas adalah intisari dari puluhan kalimat yang mengeluhkan penampilan saya sebelumnya.
Jika dalam hal berpenampilan saja seorang wanita sudah menjadi batu sandungan bagi yang melihatnya, apakah ia bisa menjadi seorang penolong yang sepadan dan seimbang untuk laki-laki ? Memang penampilan luar kita tidak akan berpengaruh apapun terhadap kadar iman seseorang. Tetapi jika hanya dengan satu titik kekurangan kita dipandang minus oleh orang lain utamanya oleh pasangan hidup kita bagaimana ?
Salah satu perbedaan antara laki-laki dan wanita adalah terletak pada mata dan telinga. Sejak awal mula kehidupan laki-laki lemah terhadap mata. Lihat kasus Daud yang jatuh ke dalam dosa karena memandang Batsyeba pada waktu mandi. Sedangkan wanita lebih lemah terhadap telinga. Lihat kasus Hawa waktu jatuh ke dalam dosa. Hawa mendengar bisikan ular untuk memakan buah pengertian yang baik dan yang jahat, memasukkannya ke dalam otak dan hati, kemudian menuruti bujukannya.
Allah menciptakan Hawa sebagai pendamping Adam. Keduanya adalah simbiosis mutualisme - hubungan yang saling melengkapi dan saling menguntungkan. Itulah kenapa dari hal fisik dan cara berfikir kaum Adam dan Hawa dibuat-Nya berbeda. Jika keduanya sama persis, tentu bukan saling melengkapi yang terjadi tetapi justru menimbulkan persaingan.
Salah satu pasal di Alkitab yang menunjukkan gambaran wanita hebat ada didalam Amsal 31:10-31. Saya menyukai Amsal ini dan selalu berandai-andai, alangkah sempurnanya wanita yang digambarkan Salomo ini. Mungkin jika pada masa itu ada ajang Miss Universe, wanita dalam gambaran Amsal ini akan menduduki kehormatan tersebut. Tidak hanya memiliki beauty saja, tetapi juga brain dan behaviour. Tiga perpaduan yang sempurna untuk seorang wanita hebat. Kurang satu hal, tentunya akan mengurangi juga nilai kehebatan seorang wanita. Tidak hanya kemampuan berfikir dan kadar iman yang dimiliki wanita, yang akan dinilai oleh pasangannya maupun orang-orang yang ada disekelilingnya. Tetapi cara wanita tersebut memperlakukan dirinya juga penting.
Subscribe to:
Posts (Atom)