Friday, September 25, 2009

One Way - One Way



Di tengah maraknya band-band Indonesia yang mengusung tema perselingkuhan dan patah hati, One Way hadir dengan warna yang berbeda. Band asal Jogjakarta ini, merilis album bertajuk One Way yang membawa harapan baru bagi para penikmat musik di Indonesia. Dengan gaya musik pop yang easy listening, kualitas bermusiknya nampak jelas dalam 11 lagu mereka di album ini.

Band yang digawangi oleh Bobby (vokal), Tommy (kibor), Henry (gitar), dan Jonas (drum) ini mempunyai filosofi bahwa mereka akan tetap eksis di belantika musik Indonesia tanpa harus menjual lirik-lirik lagu cinta yang menyayat hati. Benar-benar melawan arus trend musik dari band-band di Indonesia sekarang bukan?

Ayo, dukung terus musisi dan pelaku seni di Indonesia yang membawa pengharapan baru bagi negeri ini, bukan menawarkan musik-musik dan seni-seni bernuansa negatif yang merusak moral anak bangsa! Mau dibawa kemana bangsa ini jika setiap hari telinga kita dicekoki lagu patah hati. Mata disuruh melihat sinetron perselingkuhan dan film hantu-hantuan?

It's time to bring a new hope for Indonesia! Hidup One Way! You're really the best bro! Terus berkarya...

Track List:
1. Di Sini
2. Hilang Tanpamu
3. Ketika Ku Tak Bersamamu
4. Sepi
5. Tak Mengapa
6. Menjelang Angan
7. Takkan Kubiarkan
8. Cintaku
9. Denny Dan Dorena
10. Kini Kau T’lah Di Sana
11. Terbang





Wednesday, September 23, 2009

Wanita Takut Patah Hati; Pria Takut Penolakan

Oleh : Angelina Kusuma

Beberapa kali saya mendengar sahabat wanita saya mengeluh seperti ini, "Kenapa ya pria itu nggak nembak-nembak juga?" Nah, sementara itu dari pihak pria, saya juga sering mendengar mereka mengeluh demikian, "Respon wanita kok lebih sering nggak jelas ya kalo ada pria yang lagi nglakuin pendekatan kepadanya?"

Wanita takut patah hati

Konon, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk pria yang lebih dekat dengan hati, menjadikan sosoknya sebagai makhluk yang mudah terluka perasaannya. Sebuah peribahasa berkata, "Patah hati merupakan kehancuran bagi wanita tapi pengalaman bagi pria" (Broken heart is smash for women, but an experience for men).

Karena hati wanita yang lembut ini, menyebabkan mereka 'diharuskan' lebih ekstra hati-hati dalam menjaga hatinya. Wanita nampak lebih lambat merespon tindakan pria yang mendekatinya bukan karena alasan ia tidak suka kepada pria tersebut saja, tapi bisa jadi karena ia sedang membentuk benteng untuk melindungi hatinya dari keretakan.

Dewi, membagikan isi hatinya kepada saya suatu siang, "Aku sebenarnya suka sama Andi."
"Lalu kenapa kamu ngindar terus kalo Andi ke rumahmu?"
"Aduh...itu dia...aku takut patah hati..."

Buat para pria yang sedang melakukan pendekatan kepada wanita, sadarilah bahwa hati wanita itu lebih rapuh dari hatimu. Salah sentuh, bisa membuat hidup wanita menjadi tidak normal beberapa saat. Karenanya, mereka sudah terdidik secara alami untuk mengatasi luka hatinya dengan membentuk benteng-benteng pertahanan guna melindungi satu-satunya harta wanita yang berharga tersebut.

Saat wanita sudah menyerahkan hatinya kepada satu pria, ia akan sulit berpaling darinya. Tapi untuk menuju kesana, mereka perlu diyakinkan dulu bahwa mereka akan menyerahkan hati itu kepada orang yang tepat, yang akan menjaganya, dan tidak akan menyakitinya. Mengertilah terhadap ketakutan wanita yang satu ini dan bertindaklah tegas kepada mereka. Ketegasan pria akan menimbulkan rasa aman kepada wanita selain perbuatan dan perhatian dari anda, sehingga mereka berani menunjukkan respon yang tepat kepada pendekatan anda pada waktunya.

Pria takut penolakan

Jika wanita punya ketakutan terhadap patah hati, pria juga memiliki rasa ketakutan tersendiri. Pria takut ditolak ketika ia hendak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dari sekedar pertemanan dengan wanita yang disukainya. Karena pria takut penolakan ini, membuat mereka tak jarang mengulur-ulur waktu untuk berkomitmen.

Secara naluri, para pria punya keinginan untuk selalu dikagumi oleh para wanita, terutama wanita yang disukainya. Hal inilah yang membuat pria takut akan penolakan dan pasti menghadapi dilema saat mereka hendak menyatakan perasaannya kepada wanita yang ditujunya.

"Baiknya aku nembak Nina nggak ya?", tanya Dedi.
"Kenapa ragu? Bukannya Nina juga udah ngasih respon baik sama pendekatanmu selama ini?"
"Ya...tapi kan belum tentu 100% bakal diterima juga. Aku takut, ntar abis nembak Nina trus ternyata dia nggak suka sama aku, kemudian bikin persahabatan kami buyar. Aku nggak mau kehilangan Nina baik sebagai wanita yang kusukai apalagi sebagai sahabat."

Buat para wanita yang sedang menunggu pria pujaan hatinya mengambil komitmen, beri mereka dorongan semangat dengan memberi respon yang tepat atas tindakan pendekatan mereka, agar mereka percaya diri pada kekuatannya. Pria perlu diyakinkan bahwa mereka akan tetap berharga di mata anda sampai kapanpun meski nanti sesuatu yang buruk menimpa hubungan kalian.

Jika pria memutuskan untuk pergi/menarik diri dari wanita lebih dulu, lebih sulit mengawali hubungan mereka kembali daripada jika pihak wanita yang memutuskan untuk pergi/menarik diri duluan. Ketika hati pria beku, logika dan egonya semakin mengambil peran dan itu lebih sulit ditaklukkan dengan apapun juga selain mereka sendiri yang mengubahnya. Sebaliknya, jika hubungan itu diputuskan oleh wanita lebih dulu, mereka masih cenderung lebih mudah memaafkan pria di kemudian hari karena wanita terbiasa berempati dan bergerak dengan hatinya, bukan dengan logika (nj@coe).


Tuesday, September 22, 2009

Apakah Aku Akan Bahagia?

Oleh : Angelina Kusuma

Sederet kalimat di status Facebook, membuat saya merenung siang ini. Seseorang menulis seperti ini, "Apakah aku akan bahagia?". Kian bertambahnya beban kehidupan dari hari ke hari, rupanya semakin membuat banyak orang bertanya-tanya tentang masa depan dan kebahagiaannya, termasuk si penulis status Facebook itu.

Bagi saya, sebenarnya kata bahagia itu bukan sesuatu yang harus dicari-cari, tapi hanya cukup dengan dinikmati saja. Kebahagiaan tidak muncul dengan syarat tertentu, karena bahagia timbul dari hati yang mau menerima apa adanya.

Liburan kali ini, beberapa keluarga saya dari luar kota bertandang ke rumah dengan membawa serta anak-anak mereka. Ada empat orang dewasa dan empat orang anak-anak keponakan yang ikut menginap di rumah, mengikuti para orang tuanya yang adalah adik-adik dari mami saya.

Saat acara makan pagi kemarin, semua orang duduk di meja makan. Mami saya menghidangkan makanan beserta lauk-pauknya lengkap dan beberapa gelas teh hangat. Karena gelas-gelas kami kurang, maka mami saya menuangkan teh-teh itu ke beberapa gelas yang berbeda. Ada di gelas kristal, di gelas biasa, di cangkir, dan juga di gelas plastik.

Selesai acara makan pagi, saya membantu tante-tante dan mami saya membereskan semua peralatan makan yang selesai digunakan. Ada yang menarik perhatian saya saat membawa gelas-gelas kosong yang tadinya berisi teh-teh hangat. Teh yang ada di gelas kristal, gelas biasa, maupun cangkir, semuanya telah kosong. Yang tersisa adalah teh yang ada di gelas plastik.

Saya mengambil teh di gelas plastik itu kemudian meminumnya. Saya kira, mungkin rasa teh yang ada di gelas ini berubah rasa, makanya tak ada yang mengambil. Tapi setelah merasai beberapa teguk airnya, rasanya sama kok seperti teh yang ada di gelas-gelas lain. Mungkin karena tampilan gelas plastiknya kurang menarik jika dibandingkan dengan gelas-gelas dan cangkir lain, maka hanya gelas plastik ini yang tidak terpilih.

Jika kita amati, bukankah kebahagiaan itu seperti teh hangat, dan gelas-gelas atau cangkir-cangkirnya adalah keadaan yang mempengaruhinya?

Ketika seseorang menentukan pekerjaan, status sosial, pernikahan, anak-anak, keluarga, kekayaan, karir, gelar pendidikan, dan lain-lain sebagai sesuatu yang harus ditangkapnya lebih dulu, berarti ia sama dengan anggota keluarga saya yang memilih gelas dan cangkir bagus sebagai wadah teh hangat. Padahal inti yang sebenarnya ingin dirasai dan dicapai adalah tehnya, bukan wadahnya!

Teh dimanapun ia berada, akan tetap terasa sebagai teh. Teh di gelas kristal, ya tetap terasa sebagai teh. Teh di cangkir, ya tetap terasa sebagai teh. Teh di gelas biasa, ya tetap terasa sebagai teh. Dan teh di gelas plastik, ya tetap terasa sebagai teh. Wadah tidak akan mengubah rasa teh kecuali wadah tersebut sudah tercemar sebelumnya. Orang yang ingin bahagia, harus memilih isinya bukan wadahnya, memilih bahagia detik itu juga bukan dipengaruhi harus ini atau itu lebih dulu.

Roma 9:23b, Kita sudah disiapkan-Nya untuk menerima kebahagiaan itu (BIS)

Ketika saya menemukan Roma 9:23b versi BIS ini, saya berdecak kagum. Keberadaan setiap manusia di dunia ini adalah untuk menerima kebahagiaan. Tapi kenapa banyak orang masih terus bertanya-tanya, "Apakah aku akan bahagia?" atau "Kapan aku bisa bahagia?"

Kebahagiaan itu sudah lama ada dan tak perlu dicari-cari. Kita juga pasti bahagia karena kita memang disiapkan untuk menjadi bahagia. Banyak orang tidak bisa menikmati kebahagiaan karena mereka tidak tahu cara menerimanya. Cara menerima kebahagiaan cukup sederhana. Sesederhana menikmati teh hangat bagaimanapun wadahnya. Meski kita tidak mempunyai wadah yang bagus, jika isinya teh, rasanya juga tetap nikmat seperti teh.

Bahagia bukan karena kita sudah memiliki rumah, mobil, pasangan yang tampan/cantik, pekerjaan yang mapan, uang yang banyak, atau kesehatan yang fit. Bahagia itu saat kita memutuskan untuk menikmati setiap keadaan kita apa adanya, meski wadah yang kita gunakan hanyalah gelas plastik, bukan gelas kristal atau cangkir yang cantik (nj@coe).




Doa yang Mengancam!

Oleh : Angelina Kusuma

Film yang tokoh utamanya diperankan oleh Aming, seorang komedian kontemporer ini, membuat saya tertampar dengan isi moral ceritanya. Karena doa-doa kepada penciptanya tidak dikabulkan, Madrim (Aming) mengamcam akan murtad dari tuhannya dan mengikut setan. Hahaha, bukankah hampir semua orang punya kemungkinan untuk melakukan hal tersebut?

"Tuhan, kalo Engkau tidak menjodohkan aku dengan dia, maka mulai sekarang aku tidak akan ke gereja lagi!"
"Bapa, kalo aku tetep aja nggak sukses tahun ini, aku tidak akan memberi persepuluhan!"
"Yesus, dimanakan Engkau? Jika Engkau nggak ngabulin doa-doaku kali ini, aku tidak akan berdoa lagi mulai sekarang!"
"Tuhan, kalo Engkau tidak menyembuhkan penyakitku ini, aku akan ke dukun besok!"

Berapa kali anda sudah mengancam Tuhan karena doa-doa anda rasanya hanya sampai di atap rumah saja?

Bilangan 14:1-10

14:1 Lalu segenap umat itu mengeluarkan suara nyaring dan bangsa itu menangis pada malam itu.
14:2 Bersungut-sungutlah semua orang Israel kepada Musa dan Harun; dan segenap umat itu berkata kepada mereka: "Ah, sekiranya kami mati di tanah Mesir, atau di padang gurun ini!
14:3 Mengapakah TUHAN membawa kami ke negeri ini, supaya kami tewas oleh pedang, dan isteri serta anak-anak kami menjadi tawanan? Bukankah lebih baik kami pulang ke Mesir?"
14:4 Dan mereka berkata seorang kepada yang lain: "Baiklah kita mengangkat seorang pemimpin, lalu pulang ke Mesir."
14:5 Lalu sujudlah Musa dan Harun di depan mata seluruh jemaah Israel yang berkumpul di situ.
14:6 Tetapi Yosua bin Nun dan Kaleb bin Yefune, yang termasuk orang-orang yang telah mengintai negeri itu, mengoyakkan pakaiannya,
14:7 dan berkata kepada segenap umat Israel: "Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya.
14:8 Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
14:9 Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka."
14:10 Lalu segenap umat itu mengancam hendak melontari kedua orang itu dengan batu. Tetapi tampaklah kemuliaan TUHAN di Kemah Pertemuan kepada semua orang Israel.

Berkali-kali bangsa Israel mengancam Tuhan karena keadaan mereka yang nampak lebih buruk setelah keluar dari Mesir. Mereka memberontak terhadap para pemimpin mereka (Musa dan Harun) dan melanggar kebenaran Firman yang sudah diturunkan Tuhan untuk mereka patuhi.

Apa akibat mengancam Tuhan? Selama 40 tahun bangsa Israel hanya berputar-putar di padang gurun sampai generasi pertama yang dibawa Tuhan keluar dari Mesir seluruhnya habis, kecuali Yosua dan Kaleb.

Tuhan bukan manusia yang gentar jika kita mengancam-Nya. Justru sebaliknya, jika kita berani melawan Dia, tangan kuat-Nya akan menekan kita hingga kesombongan kita itu berhasil diremukkan-Nya! Kita hanya mencelakakan diri jika berniat mencobai Tuhan (Matius 4:7, Yesus berkata kepadanya: "Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!").

Bukan ancaman yang akan membuat Tuhan berpaling dan mendengar doa-doa kita. Ketika kita dengan penuh kerendahan hati, datang kepada Tuhan dan meminta sesuatu berdasarkan kehendak-Nya (karena kita diciptakan bukan untuk kemegahan manusia melainkan untuk kemuliaan Bapa di Surga), saat itulah apa yang kita doakan akan dikabulkan-Nya (1 Yohanes 5:14-15, Dan inilah keberanian percaya kita kepadaNya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepadaNya menurut kehendakNya. Dan jikalau kita tahu, bahwa Ia mengabulkan apa saja yang kita minta, maka kita juga tahu, bahwa kita telah memperoleh segala sesuatu yang telah kita minta kepadaNya).

Nggak salah berdoa minta kebutuhan jasmani seperti kekayaan, jodoh, rumah, mobil, karir, anak-anak, ketenaran, kesembuhan dari sakit, dan lain-lain, kepada Tuhan dengan ngotot. Tapi yang perlu diingat, rancangan Bapa Surgawi tidak bisa kita paksakan dengan rancangan kita sendiri. Jika kita memaksakan rancangan kita kepada-Nya, maka yang terjadi bukan hal baik tapi kecelakaan.

Tuhan menolong pasti tepat waktu, tidak pernah terlambat! Dan jika kita tetap rendah hati dan menjaga jalan kita agar kedapatan benar di hadapan-Nya, tidak ada yang mustahil, Ia pasti berpaling kepada kita dan mendengar doa-doa kita, tak perlu disertai dengan ancaman! (Mazmur 34:16, Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong. (ayat 18), Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya) (nj@coe).


Sunday, September 20, 2009

Aku Akan beribadah Kepada Tuhanku, Apapun yang Terjadi!

Oleh : Angelina Kusuma

Kapan terakhir kalinya anda beribadah kepada Tuhan? Pagi tadikah? Atau siang tadikah?

Hari ini, hari Minggu. Hari yang oleh umat Kristiani ditetapkan sebagai hari Sabat, hari pemberhentian. Perintah Tuhan untuk menguduskan hari Sabat, tidak pernah main-main. Hari ini adalah hari dimana seluruh umat yang mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat pribadinya, harusnya datang berduyun-duyun ke tempat-tempat ibadah, khusus untuk memuji dan menyembah Dia.

Keluaran 20:8-11, Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.

Tuntutan zaman boleh berubah. Pekerjaan manusia boleh semakin melelahkan tubuh-tubuh jasmaninya. Tapi ingat satu hal, Tuhan tetap menghendaki umat-Nya mengkuduskan hari Sabat-Nya dan tidak ada perintah diperbolehkannya hari Sabat diganti dengan hari yang lain!

Hari ini, saya harus melawan tiga orang yang saya kasihi di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Tuhan Yesus yang saya sembah. Keluarga saya memang belum seutuhnya dijamah oleh Tuhan. Papi, mami, dan adik saya belum mau mengikut Tuhan Yesus seperti saya. Dan tak jarang, karena iman percaya saya ini, saya mendapat perlakuan seperti pagi tadi.

Hari ini, mereka bertiga merayakan hari besar agama mereka. Dan hari ini juga, saya juga merayakan hari Sabat yang dikuduskan oleh Tuhan bagi saya. Pagi-pagi benar, seusai saya bersaat teduh, adik saya memasuki kamar tidur saya. "Mari, kita pulang ke rumah nenek. Hari ini lebaran." Saya menjawab dengan cepat, "Tidak, hari ini aku tidak akan kemana-mana sebelum ke gereja!" Mendengar jawaban saya, adik saya laporan ke papi dan mami saya. Selesai saya mandi dan hendak berganti pakaian, papi saya mendatangi saya dengan setengah marah. "Kenapa kamu mementingkan dirimu sendiri? Hormati dong adikmu yang merayakan hari rayanya."

"Tidak papi, saya hanya dua jam di gereja, jam 10 saya akan kembali ke rumah. Saya tetap menghormati dia yang merayakan lebaran, tapi hari ini, saya tidak mau ikut acara lainnya jika saya tidak ke gereja lebih dulu."
"Ini kan sekali setahun!"
"Dan saya juga hanya sekali seminggu, Sabat di gereja!"
Mendengar jawaban saya yang tidak mau bergeming dari prinsip saya, papi saya bertambah marah.

"Jika kamu ke gereja pagi ini, kamu tidak akan kembali ke rumah ini lagi!"
"Saya siap pi!"
"Kamu mau, papi bertengkar sama adikmu."
"Silahkan. Yang penting hari ini hari Minggu dan aku harus ke gereja, apapun yang terjadi!"
"Apa sie posisimu di gereja? Sampai kamu berani seperti itu kepada keluargamu?"
"Ini bukan masalah posisiku di gereja pi. Tapi ini adalah komitmenku! Aku pelayan Tuhan, pagi ini aku singer di ibadah pagi. Dan aku mau beribadah ke rumah Tuhanku seperti ini sampai kapanpun."

Markus 8:34-35, Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.

Saya tak lagi mengindahkan kata-kata papi saya yang lain. Bukannya saya tak lagi hormat kepada beliau, tapi ini sikap radikal (baca: nekad) yang berani saya ambil untuk tidak perpaling dari pengudusan saya atas hari Sabat. Selesai berganti pakaian, saya turun dari lantai dua dan mendapatkan ketiga orang yang saya kasihi itu bersiap lagi menentang acara saya untuk beribadah pagi di gereja.

"Sia-sia aku pulang ke rumah ini. Disini aku cuma mendapati seorang egois yang mementingkan kepentingannya sendiri. Acara sekali setahun dikalahkan dengan acara sekali seminggu!" Adik saya mulai menceracau lagi.

Saya diam, saya mendekati mami saya, meminta kunci sepeda motor untuk sarana jalan saya dari rumah ke gereja.

"Tidak, kamu harus ke gereja naik angkutan umum hari ini. Jangan menambah masalah lagi dengan mambawa motor." Mami saya menolak permintaan saya dengan sangat 'halus'.

Saya tersenyum kecut. Baik mami, papi, dan adik saya, menunjukkan wajah-wajah tak senangnya karena keinginan saya untuk ke gereja pagi di hari Minggu. Akhirnya saya keluar dari rumah tanpa meminta apa-apa lagi dari orang rumah.

Sebenarnya, saya juga agak sangsi bisa mendapat angkutan untuk ke gereja pagi ini. Jam baru menunjukkan pukul 06.15 WIB ditambah lagi hari ini adalah hari pertama perayaan lebaran. Kemungkinan besar orang-orang termasuk para sopir dan kondektur angkutan umum juga sedang melakukan aktivitas di rumahnya sendiri-sendiri karena kota tempat saya berada ini adalah kota yang juga belum dimenangkan sepenunhnya oleh Tuhan.

Saya menyusuri jalan-jalan kota yang lengang sambil memutar otak. Apa yang harus saya perbuat? Kiri dan kanan saya tidak ada kendaraan umum yang melintas. Yang ada hanyalah mereka yang sedang terburu-buru menuju masjid-masjid setempat dengan sepeda motor atau mobilnya, bukan ke arah gereja.

Di tengah keputusasaan saya, tiba-tiba ada sebuah bis dari arah Barat menghampiri saya. Saya bersorak! Bis ini merupakan bis angkutan dari kota Purwantoro ke Ponorogo. Isi bisnya hanya tinggal beberapa orang saja, namun saya sangat bersyukur dengan adanya bis ini. Saya bisa mencapai kota hanya dalam waktu 10 menit. Turun dari bis, saya menempuh sisa perjalanan dengan berjalan kaki.

Sepanjang perjalanan saya merenung. "Oh Tuhan, betapa berharganya waktu untuk beribadah kepada-Mu bagi orang-orang yang setia kepada-Mu", kata saya dalam hati. Rasanya saya sedih jika mendengar anak Tuhan yang seluruh keluarganya sudah mengakui bahwa Yesus juga sebagai Juruselamatnya, namun mereka masih bermain-main dengan waktu ibadah mereka kepada Tuhan. Mereka lebih memilih bekerja mencari uang dan kekayaan, atau memilih liburan dan menggadaikan hari Sabat Tuhan demi kesenangan hidup duniawi mereka. Sementara di lain pihak, saya (dan mungkin banyak orang di luar sana seperti saya) harus berjuang seperti ini, melawan tiga orang yang saya kasihi hanya demi bisa beribadah kepada Tuhan di hari Minggu!

Ketika saya masuk ke gereja, saya semakin bersukacita karena kedahsyatan Tuhan saya. Saya percaya bahwa Tuhan yang saya sembah bukan Tuhan yang bisu dan tuli seperti tuhan-tuhan yang disembah oleh agama lain di dunia ini termasuk yang dipuja oleh keluarga saya. Saya melayani Tuhan saya hari ini dengan 'berbeda'. Dia sudah menempatkan saya pada satu posisi yang lebih tinggi daripada hari-hari kemarin melalui peristiwa tidak mengenakkan di pagi hari ini dan saya tetap mengucap syukur karenanya.

Selesai ibadah, saya mendekati seorang bapak yang bertugas penjemputan gereja. Saya berkata kepada beliau bahwa saya akan ikut mobil gereja sampai ke halte bis terdekat karena saya tidak membawa sepeda motor hari ini. Saya adalah orang terakhir yang diantarkannya ke halte bis setelah mengantarkan dua orang manula lainnya ke rumah masing-masing. Begitu sampai di halte bis, bapak ini berkata, "Beneran diantar sampai sini saja? Kelihatannya tidak akan ada bis yang lewat nie." Keadaan halte bis memang cukup lengang saat itu. Tidak ada calon penumpang yang nampak, apalagi antrian bis atau angkutan umum yang biasa berjajar disana untuk mengantarkan calon penumpang ke tempat tujuannya.

"Iya, pak. Saya yakin akan ada angkutan yang mengantar saya ke rumah nanti."
"O ya udah, nanti kalo lama nggak datang-datang bisnya, tolong telpon Om Arief ya, biar diantar sampai rumah."
"Ya!" Hanya itu yang saya ucapkan kepada bapak itu sambil memandangi mobil gereja perlahan pergi dari hadapan saya.

Tak berapa lama, seorang tukang ojek menghampiri saya.
"Mau diantar mbak?"
"Oh tidak pak, saya nunggu angkutan lewat saja."
"Tapi nanti lama."
"Tidak apa-apa, saya akan menunggu." Saya mau menunggu angkutan umum lewat dan menolak tukang ojek yang menawarkan jasanya itu bukan karena saya tidak ingin cepat-cepat sampai di rumah. Tapi, saya tidak mau buang-buang uang lebih banyak lagi karena pagi ini saya keluar rumah dengan uang terbatas. Belum lagi tarif angkutan umum di hari lebaran juga naik semua. Jika saya salah menggunakan uang dan nanti tidak cukup untuk membayar sewa ojeknya, tidak akan ada bantuan lain karena keluarga saya sudah 'menolak' saya pagi ini.

Puji Tuhan, hanya 10 menit menunggu, ada bis angkutan umum lewat di depan saya. Tuhan saya benar-benar ajaib. Apa yang saya perlukan hari ini, dipenuhi-Nya tepat pada waktunya. Dan 10 menit kemudian saya sudah berdiri di depan pintu rumah saya kembali dengan selamat. Seluruh keluarga saya memandangi saya dengan takjub. Bagaimana mungkin saya bisa pulang dan pergi dari rumah ke gereja dan kembali ke rumah lagi dalam waktu secepat itu, padahal hari ini adalah hari pertama lebaran dimana angkutan umum di pagi hari tergolong sulit didapati. Ah, andai mereka tahu siapa itu Yesus, Tuhan saya! hehehe. Apa yang mustahil bagi manusia, bisa diadakan-Nya dengan sekali tepuk! Ya kan? :)

Tak berhenti sampai disitu. Hari ini saya benar-benar bisa membungkam mulut iblis dengan telak!

Sesampai di rumah, setelah berganti pakaian, selesai menyantap makan pagi, saya menyempatkan diri bersama papi, mami, dan adik saya berkunjung ke rumah-rumah tetangga untuk mengucapkan selamat hari raya kepada mereka. Saya melihat perubahan sikap pada papi, mami, dan adik saya karena saya bisa bersikap wajar meski dikatai-katai pedas pagi tadi dan diberondong beramai-ramai sementara saya hanya seorang diri mempertahankan prinsip saya. Mereka yang tadi pagi begitu ganas menyerang keinginan saya untuk beribadah kepada Tuhan dengan tuduhan bahwa saya tidak menghormati mereka yang beragama lain, sekarang diam.

Berkat lain, saya peroleh dari toko saya. Hari ini sebenarnya saya ingin meliburkan toko, tempat usaha saya. Tapi meski saya berencana tutup, ada saja tetangga yang masuk dan membeli barang dagangan saya atau menggunakan jasa yang saya jual di toko dari siang sampai sore ini. Yah, saya percaya inilah efek dari kemenangan saya membungkam mulut iblis pagi ini! Saya sudah mengalahkannya yang menahan saya untuk melangkah ke rumah Tuhan di hari Minggu dan menyelesaikan karya pelayanan saya di ibadah pagi ini dengan baik. Tuhan tidak pernah lalai menepati janji-Nya. Penyertaan-Nya sempurna bagi anak-anak-Nya yang setia menguduskan nama-Nya dan hari Sabat-Nya.

Jika hari ini Ia berkenan menggoncangkan perbendaharaan dari Surga-Nya untuk saya, jangan iri! Saya sudah beribadah kepada-Nya, saya sudah melayani-Nya, dan saya sudah memikul salib saya pagi ini. Saya berani bayar harga mahal untuk mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan saya pagi ini!

Anda mau diberkati oleh-Nya seperti saya?

Kuduskan hari Sabat Tuhan! Berhentilah bekerja sesaat, cari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tahan dulu keinginan anda untuk berlibur, datangi Tuhan lebih dulu. Senangkan Dia sebelum anda bersenang-senang sendiri bersama orang-orang yang anda kasihi. Ia lebih berharga daripada pekerjaan anda, lebih mulia dari kekayaan anda, dan lebih mendatangkan sukacita daripada kesenangan dunia. Jika anda mendapatkan Dia, anda akan memperoleh seluruh dunia ini sebagai bonusnya. Tapi meski anda berjuang keras mendapatkan dunia ini, jika Ia tidak berkenan kepada anda, anda tidak akan mendapat apa-apa. So, jangan anggap remeh Tuhan Yesusmu. Jangan anggap sepele hari Sabat, hari Minggu-Nya! Kuasa Firman-Nya ribuan tahun lalu masih tetap berkuasa sampai hari ini dan selama-lamanya! (nj@coe).




Saturday, September 19, 2009

[Sekolah Minggu] Cara Menghemat Uang Bagi Anak-anak Terang

Oleh : Angelina Kusuma

Meski papa dan mama kita selalu memberi uang saku yang besar jumlahnya dan tak terbatas kepada kita, tapi kita juga harus tahu cara menghematnya juga lho. Kalo sejak kecil kita sudah boros, nanti kalo besar kita tidak bisa menjadi orang dewasa yang baik deh. Jadi, mari belajar menghemat uang saku mulai dari anak-anak...

1. Membayar persepuluhan

Siapa bilang persepuluhan itu hanya untuk orang dewasa? Kita anak-anak kecil juga harus membayar persepuluhan.

Maleakhi 3:10, Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

Apa itu persepuluhan?

Persepuluhan adalah persembahan yang harus kita kembalikan kepada Tuhan, karena itu adalah milik-Nya. Cara menghitungnya yaitu dengan menyisihkan jumlah total uang saku yang kita terima dibagi 10. Misalnya: papa mama kita memberikan uang saku sebulan Rp. 10.000,-. Persepuluhan berarti membagi uang Rp. 10.000,- itu dengan 10 = Rp. Rp. 1.000,-. Uang yang Rp. 1.000,- ini harus kita bawa ke kotak persembahan untuk Tuhan, sedangkan sisanya yang Rp. 9.000,- boleh kita gunakan sesuka hati.

Ingat, barang siapa membayar persepuluhan, Tuhan akan melimpahinya dengan berkat-berkat lain yang lebih besar karena Tuhan melihat ketulusan hati anak-anak-Nya yang setia terhadap perkara-perkara kecil.

2. Membeli barang yang diperlukan saja

Kita juga harus pandai-pandai memilih barang nie. Sebaiknya, beli barang-barang yang kita perlukan saja, bukan semua yang kita inginkan. Misalnya: kita pergi ke toko swalayan. Disana tersedia berbagai macam barang mulai dari keperluan sekolah hingga mainan. Kita harus pandai memilih barang. Jika yang kita perlukan adalah buku sekolah, ya belilah buku sekolah yang kita butuhkan itu bukan barang lain yang tidak perlu. Ok!

3. Menabung

Ada peribahasa yang berkata, "Hemat pangkal kaya". Uang saku yang kita punyai jangan dihabiskan semuanya, tapi mulailah belajar untuk menabungnya. Dengan menabung, kita bisa belajar bersabar, belajar mengatur keuangan, belajar disiplin, dan belajar bekerja keras. Uang saku yang kita punyai bisa kita tabung di celengan atau di bank kalo sudah punya. Dengan begitu, suatu saat kita bisa menggunakan uang tabungan tersebut untuk keperluan-keperluan yang lebih berguna di masa depan.

4. Menggunakan barang-barang yang masih bisa dipakai lagi

Sudah tahu istilah daur ulang kan? Di sekitar kita, pasti banyak barang-barang yang sudah tidak terpakai namun bisa dimanfaatkan untuk keperluan lain. Misalnya: kertas-kertas dari buku sisa kita tahun lalu, bisa kita gunakan lagi untuk buku catatan, gelas-gelas bekas air mineral bisa kita pakai untuk membuat berbagai macam hiasan yang indah jika kita kreatif, kardus-kardus bekas, bisa kita manfaatkan untuk menyimpan buku-buku pelajaran, dan lain-lain. Selain menghemat pengeluaran uang, dengan memanfaatkan kembali barang-barang yang sudah tidak terpakai itu bisa membantu mengurangi sampah.

5. Matikan kran air dan keperluan listrik yang tidak terpakai

TV yang tidak ditonton, AC atau kipas angin yang tidak dipakai, PS/game player yang selesai dimainkan, komputer yang selesai digunakan, lampu di kamar kosong, charger handphone yang tidak dipakai lagi, atau kran yang bak airnya sudah penuh, semua harus kita matikan. Gunakan listrik dan air seperlunya aja ya. Selain membantu papa dan mama menghemat pengeluaran uang bulanan, menggunakan listrik dan air seperlunya aja juga bisa mencegah pemanasan global di bumi (biar cuaca nggak panas terus!).

Gimana, udah siap berhemat anak-anak terang?! (nj@coe)


Thursday, September 17, 2009

Komitmen Untuk Terus ke Garis Finish

Oleh : Angelina Kusuma

Setiap kali saya melihat video ini, saya menangis!

Kisah ini nyata terjadi pada tahun 1992 yang lalu. Seorang pelari 400 meter bernama Britain Derek Redmond, membuat seluruh penonton di stadium Barcelona Olympic Games saat itu melakukan standing applause buatnya. Bukan kemenangan sebagai juara pertama yang membuatnya mendapat ribuan tepuk tangan dan sorak-sorai dari para penonton, tapi karena komitmennya untuk menyelesaikan pertandingan sampai garis finish!

Setelah tembakan pistol meletus tanda pertandingan lari 400 meter dimulai, Derek berlari sekencang-kencangnya menuju garis finish bersama peserta lomba yang lain. Tiba-tiba di tengah perlombaan, Derek mengalami cidera di kaki sebelah kanannya. Ia mencoba terus berlari terpincang-pincang namun kemudian jatuh terduduk di lapangan sendirian, sementara teman-teman peserta lomba lainnya terus berlari ke garis finish meninggalkannya. Beberapa menit kemudian Derek tampak terus menunduk sambil memegangi kakinya yang cidera. Ia menangis! Dan mungkin juga putus asa selain merasai kesakitan yang luar biasa dari kaki kanannya.

Ketika semua orang berpikir bahwa Derek akan segera menepi dan menyudahi pertandingan karena cideranya itu, tiba-tiba ia berdiri. Sambil menahan cidera kakinya, ia mulai berlari terpincang-pincang menuju garis finish. Melihat keberanian dan komitmennya untuk menyelesaikan pertandingan dan tidak menyerah pada keadaannya yang lemah, serentak semua penonton yang ada di stadium Barcelona Olympic Games itu berdiri, bertepuk tangan, dan memberinya semangat.

Seorang pria nampak berlari dari deretan penonton ke arah Derek. Pria ini kemudian memeluk Derek, memapahnya, dan membantunya berjalan tertatih-tatih ke garis finish tanpa mengindahkan larangan orang-orang disekitarnya yang hendak menyuruhnya pergi dari lapangan pertandingan itu.

Siapakah pria yang membantu Derek sampai ke garis finish ini? Dia adalah Ayah Derek!

1 Timotius 6:12, Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal. Untuk itulah engkau telah dipanggil.

Hidup kita di dunia ini sama seperti sebuah pertandingan. Garis finish kita adalah Surga. Kita mungkin sering mengalami cidera-cidera di hidup ini seperti Derek saat menjalani pertandingan lari 400 meter-nya. Menyerah, menyelesaikan pertandingan sebelum mencapai garis finish atau tetap berkomitmen teguh mencapai garis finish meski harus menanggung cidera yang cukup membuat menderita/lemah, menjadi pilihan kita setiap saat.

Yesaya 41:9b-10, Engkau hamba-Ku, Aku telah memilih engkau dan tidak menolak engkau, janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.

Jika bapa di dunia seperti Ayah Derek rela berlari dari bangku penonton guna menolong anaknya menyelesaikan pertandingannya, apalagi Bapa kita di Surga. Ia memegang tangan kanan anda dan saya selama di dunia ini dan tidak pernah melepaskannya. Ia selalu ada di samping kita untuk terus memberi kita semangat sampai akhirnya kita sampai ke garis finish dengan selamat di Surga kekal nanti!

Setiap masalah, luka-luka, cidera, kesakitan, dan penderitaan, tidaklah kita tanggung sendirian. Bapa kita selalu ada di samping kita untuk menopang kita melewati masa-masa sulit itu seperti Ayah Derek, menopang anaknya yang cidera saat di tengah-tengah pertandingan lari 400 meter menuju garis finish! Trust Him. He never let you alone in this world coz He is your Father! (nj@coe).




Monday, September 14, 2009

Why Men Don't Talk?

Oleh : Angelina Kusuma

"Cowoku ngilang entah kemana! Ditelpon nggak bisa. Didatengin ke rumah katanya di kantor. Giliran didatengin ke kantor langsung, katanya yang meeting-lah, yang sibuklah, yang ke luar kotalah, sudah pulang lebih awallah...Seperti nggak ada waktu lagi buatku. Padahal awalnya kami seperti nggak ada masalah serius deh."

Wanita lebih sering ngalami saat-saat dimana para pria yang dikasihinya tiba-tiba menghilang entah kemana dalam beberapa waktu tanpa alasan yang jelas, dan kemudian dengan tiba-tiba juga para pria tersebut bisa muncul lagi di depan mereka tanpa diduga dan kembali bersikap seperti tak ada apa-apa. Kenapa ya?

Sebagai wanita, kita pasti pernah dipusingkan dengan perilaku pria yang suka ngilang dan muncul kembali ini sesekali waktu. Yang bikin tambah gregetan, biasanya mereka menghilang tanpa kabar dan muncul dengan tanpa kabar juga. Piyuh, nyebelin kan...

Evelin: "Seminggu kemarin kamu kemana aja sie? Aku cari-cari kok nggak ketemu terus. HP juga cuma hidup, tapi nggak bisa dikontak sama sekali."
Raka: "Biasalah ada masalah."
Evelin: "Masalah apa?"
Raka: "Bukan apa-apa. Cuma masalah kecil."
Evelin: "Apa tuh?"
Raka: (tanpa menjawab...langsung ngeloyor pergi)

Women, men are not one of you!

Berbeda dengan wanita yang bisa lebih 'greget' jika mereka berada di sekitar teman-teman, keluarga, dan orang-orang yang dikasihinya saat menghadapi masalah, pria lebih suka bersembunyi ke dalam 'gua' mereka dan menyendiri beberapa saat tanpa melibatkan orang lain dalam hidupnya, meskipun itu adalah anda, wanita yang sangat dikasihinya. Ini adalah hal yang wajar dilakukan oleh hampir semua pria tanpa kecuali.

Perlu waktu untuk menyelesaikan masalah

Figur pria selalu diidentikkan sebagai sosok pemimpin, pelindung, penyelamat, dan pemrakarsa utama di semua aspek kehidupan dunia. Karenanya, ketika mereka sedang menghadapi masalah, tak jarang para pria ini akan beranggapan bahwa mereka juga harus tetap kuat dan tak tergoyahkan. Dengan menyendiri, para pria berharap bisa menyelesaikan masalah mereka dan menjaga image-nya tetap sebagai 'pria sejati' yang tak mudah terlihat lemah di mata orang-orang sekelilingnya.

Tak punya jawaban

Percakapan Evelin dengan Raka di atas adalah contoh kecil yang biasa kita jumpai sehari-hari. Wanita yang sudah terbiasa sharing dengan siapa saja dan dengan topik apa saja, sering memperlakukan pria sebagai salah satu seperti mereka. Ketika pria diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan yang dia tidak tahu jawabannya atau memang dia tidak mau menjawab, mereka akan memilih untuk menjauhi orang yang membuatnya tak berkutik itu.

Pertanyaan-pertanyaan 'kurang penting' yang biasa diucapkan oleh wanita kepada pria-prianya seperti, "Aku udah cantik belom", "Gimana penampilanku sore ini?", "Cantik mana aku sama cewe berbaju pink itu?", "Kamu kangen sama aku nggak?", "Kamu masih cinta sama aku kan?", juga bisa membuat para pria diam. Diam bukan berarti dia tidak mengasihi anda lagi, tapi karena menurut pria pertanyaan-pertanyaan tersebut terlalu 'mudah' untuk mereka jawab sehingga menyebabkan mereka justru ogah menjawab karena akan buang waktu!

Bingung atau tertekan

Bila dibandingkan dengan wanita, pria sebenarnya lebih rapuh saat menghadapi tekanan. Wanita dirancang dengan sistem kekebalan yang unik. Wanita lebih mudah berbagi dengan lingkungannya dan itu yang menyebabkan wanita lebih tahan hidup karena bisa berbagi beban. Selain itu, otak kanan dan otak kiri wanita bekerja bersamaan dalam satu waktu. Pria lebih mengandalkan kekuatan fisiknya setiap kali ia tertimpa masalah dan hanya berpikir secara terpusat di satu waktu.

Meski wanita dalam keadaan tertekan, wanita masih bisa memikirkan baju yang diingininya di mall yang kemarin dilewatinya, masih bisa memikirkan nanti sore makan apa, masih bisa merencanakan liburan akhir pekannya, dan lain-lain. Tapi pria? Ketika pria mengalami tekanan, ia hanya akan memikirkan masalahnya itu terus-menerus sehingga menghilangkan mood-nya pada yang lain.

John Gray berkata, "If a woman is unhappy in her relationships, she can’t concentrate on her work. If a man is unhappy at work he can’t focus on his relationships". Satu-satunya cara untuk membuat para pria keluar dari rasa tertekannya bukan dengan menodongnya dengan alasan relationships yang sudah terjalin, tapi dengan memberinya dorongan agar ia bisa segera menyelesaikan masalahnya lebih dulu. Pikiran pria lebih dipengaruhi oleh pekerjaannya ketimbang urusan cintanya. Ketika mereka merasa terancam di pekerjaannya, pria lebih cepat menjadi dingin kepada wanita meski mereka sangat menggebu-gebu mengejar wanita tersebut dulunya.

Mencari jati diri

Seorang rekan pria saya tampak murung akhir-akhir ini. Di setiap kesempatan kumpul-kumpul, ia terlihat paling diam di antara yang lainnya dan tidak seperti biasanya. Usut punya usut, ternyata ia hendak melangsungkan pernikahannya tiga bulan lagi. Jika wanita hendak melangsungkan pernikahan, ia akan lebih nampak gembira dari pada hari-hari biasanya, pria sebaliknya. Tak jarang, pria menjadi sosok yang lebih linglung menjelang hari pernikahannya.

Kenapa? Rekan saya menjawab, "Aku bingung dengan pernikahanku. Mendadak, aku merasa akan menjadi orang lain setelah menikah nanti. Aku takut salah memilih calon istri, aku takut tidak bisa membahagiakannya, aku takut tidak bisa membiayai keluargaku, aku takut tidak bisa menjadi bapak yang baik bagi anak-anak kami nantinya, aku takut tidak bisa utuh menjadi kepala dalam rumah tanggaku nanti, aku takut pekerjaanku tidak bisa menjamin kebutuhan rumah tangga kami..."

Jika wanita mencari jati diri dengan menggalakkan komunikasi dengan orang-orang di sekitarnya, beginilah sikap pria ketika sedang mencari jati dirinya. Mereka lebih memilih menanyai dirinya sendiri dengan berbagai pertanyaan yang membuatnya ragu-ragu dan menarik diri sementara waktu dari peredaran dari pada sibuk cuap sana, cuap sini.


Ketika priamu mulai menarik diri untuk bersembunyi ke 'gua'-nya, beri dia waktu untuk benar-benar menikmati kesendiriannya beberapa saat. Buat rencana perjalanan atau hang out rame-rame bersama gank wanitamu sementara ia bersemedi, jika tidak mau terus-menerus makan hati memikirkannya.

Setelah pria puas dengan kesendiriannya dan berhasil menyelesaikan masalahnya sendiri, sambut kemunculannya lagi dengan wajar. Tak perlu menanyainya macam-macam apalagi mencurigainya. Pria tidak ingin dibuat merasa bersalah karena ia menarik diri sementara waktu dari anda. Ia hanya perlu diterima sama seperti sebelum ia menghilang atau tiba-tiba mendiamkan anda (nj@coe).