Monday, November 03, 2008

Aku Cantik!

Oleh : Angelina Kusuma

Pernahkah anda ingin menjadi orang lain? Hmm, mungkin satu atau dua kali, wajar jika kita berfikiran demikian. Berandai-andai menjadi Angelina Jolie dengan segudang prestasi, ketenaran, dan kecantikannya atau ingin seperti Bill Gates dengan kekayaan dan keenceran otaknya. Tak jarang juga akhirnya kita meniru perilaku orang-orang yang kita kagumi tersebut dalam keseharian kita agar dinilai mempunyai 'kemiripan' dengan sang idola yang perfect.

Saya juga pernah ingin menjadi orang lain yang karakternya jauh berbeda dengan yang saya miliki saat ini. Saya pernah ingin terlihat lebih tenang, lebih anggun, lebih lembut, dan lebih feminin daripada saya yang sebenarnya. Demi dilihat oleh orang lain bahwa saya juga bisa menjadi wanita yang layak dikagumi orang lain karena sisi femininnya, akhirnya saya rela membaca banyak artikel tentang wanita, membeli pernak-pernik wanita, memburu trend mode untuk wanita-wanita anggun, sampai membeli peralatan kecantikan wanita. Sebelumnya, image saya adalah tomboy dan mandiri. Jangankan berdandan, penampilan berbusana saya saja jarang tersentuh kesan feminin.

Setelah mengumpulkan banyak bahan untuk menunjang diri saya berubah menjadi wanita anggun, ternyata tak semudah membalikkan tangan di praktek nyatanya. Dalam perjalanannya, kadang saya mendapati kondisi yang tidak sebagaimana mestinya. Beberapa kali ketika memandangi cermin, saya menjadi frustasi karenanya. Saya memang menjadi lebih 'wanita' dari sebelumnya dengan sentuhan gaun-gaun dan peralatan kecantikan wanita. Tetapi jati diri saya yang asli serasa ikut hilang juga bersama perubahan yang 'dipaksakan' itu.

Perubahan ke arah yang lebih baik memang perlu. Saya bukannya menolak menjadi lebih feminin dari penampilan saya yang agak tomboy sebelumnya. Saya tahu bahwa kodrat saya dari semula adalah wanita. Tampil cantik dan anggun juga merupakan keinginan saya setiap saat. Tetapi, tentunya tidak semua cara berpenampilan wanita lain akan terlihat cocok jika saya kenakan. Karakter setiap manusia diciptakan unik dan tidak akan pernah ada yang sama persis. Karena itu juga, cara berpakaian, cara merias wajah, gaya rambut, cara berjalan, dan bertutur kata seorang wanita terbaik, belum tentu menghasilkan penampilan yang baik juga jika ditiru oleh wanita lainnya.

Karakter dasar seseorang ikut mempengaruhi apa yang tampak di luarnya. Mengubah penampilan luar saja hanya akan menyisakan hal yang sia-sia. Kita harus mengubah inner beauty kita lebih dulu sebelum beranjak mengubah outer beauty kita. Wanita cantik bukan saja karena riasan di wajahnya, tetapi dari kepribadiannya yang menyenangkan. Wanita feminin tidak dilihat dari rok berenda yang dikenakannya, tetapi juga dari kemandiriannya. Wanita lembut bukan hanya ditutur katanya yang santun, tetapi juga karena kecekatannya berfikir dan bertindak. Wanita manis tidak harus terlihat manja dan tak berdaya, tetapi karena ia bisa diandalkan di setiap keadaan genting.

Tak perlu berubah menjadi kalem bak titisan putri-putri keraton agar disebut sebagai wanita anggun. Tak perlu berjalan pelan-pelan untuk menyandang wanita lemah-lembut. Ketika saya beranggapan bahwa wanita feminin harus berkarakter seperti seorang putri yang sempurna, karakter saya sebagai wanita periang, berpendirian teguh, dan mandiri hampir musnah. Padahal itu adalah karakter positif saya yang paling penting. Kehilangan karakter diri hanya demi sebutan feminin atau wanita anggun tidaklah bijaksana. Yang harus kita lakukan untuk menjadi wanita anggun hanya mengubah hal-hal yang kurang membangun dari sikap dan tindakan kita, kemudian mempertahankan jati diri kita agar semakin berkarakter dan bernilai membangun bagi dunia di sekitar kita.

Saya juga tidak setuju dengan cekokan prinsip-prinsip dunia yang salah mengenai wanita cantik selama ini. Iklan-iklan, sinetron, film, lagu, seolah berlomba-lomba menanamkan image bahwa wanita yang cantik harus mempunyai tiga kriteria yaitu putih, langsing, dan berambut lurus. Wow, saya sangat jauh dari dua hal diatas. Saya tidak putih dan tidak memiliki rambut yang lurus. Apakah hanya karena saya tidak putih dan tidak berambut lurus maka saya tidak cantik? Lalu bagaimana dengan para wanita yang tidak memiliki tiga kriteria itu alias wanita bertubuh gemuk, berambut gimbal, dan berkulit hitam? Menjadi burukkah mereka karenanya?

Kecantikan wanita bersumber dari hati, pikiran, dan tindakannya. Saya bangga dengan kulit sawo matang saya. Karenanya, saya tidak terlalu berpotensi terkena penyakit kanker kulit yang lebih rentan terhadap kulit putih. Saya bangga dengan rambut ikal saya. Karenanya, saya tidak perlu sibuk menyisir rambut dalam keadaan darurat (disisir atau enggak sama aja kan kelihatannya? hihihi). Saya bangga dengan senyum riang saya. Karenanya, saya bisa menginspirasi banyak orang untuk tetap tersenyum dan bersukacita meski apapun yang telah terjadi di hidup mereka (menularkan virus narsis bin sok kepedean dimana-mana hahaha). Dan saya bangga dengan kemadirian saya. Karenanya, saya bisa menjadi inspirasi banyak wanita untuk berkreasi lebih, berkarya lebih, dan menyelesaikan banyak masalah sendiri, seperti ngebenerin genteng bocor, melanglang buana ke tempat-tempat yang ok sebagai 'nekad' traveller, mengangkat benda berkilo-kilo beratnya dengan kedua tangan, dan lain-lain (wanita kan juga bisa menjadi Hulk hehehe).

Sekarang saya tidak ingin menjadi wanita lain lagi. Saya mencintai diri saya apa adanya sebagai ciptaan yang unik dan special dari Tuhan, meskipun dunia berkata tentang kecantikan dan keanggunan pasti dimiliki oleh wanita yang 'harus' putih, berambut lurus, dan langsing. Saya hanya ingin menjadi diri sendiri. Seorang wanita dengan tas ransel di punggung, sandal jepit di kaki, senyum mempesona yang begitu akrab di camera foto, dan segudang ide 'gila' di balik tempurung kepalanya.

Ada yang ingin berkata bahwa saya tidak cantik? (awas aja ada 'F4 Ijo' melayang kearahmu saat ini wkwkwk ^o^ V).




No comments: