Friday, July 10, 2009

Eksotisme Telaga Ngebel Ponorogo


Oleh : Angelina Kusuma

Mendengar kata Ponorogo, bayangan seni Reyog yang menjadi andalan kota ini pasti tergambar dengan cepat di benak kita. Kota yang satu ini memang menjadi pusat berkembangnya kesenian Reyog yang pernah menjadi perdebatan antara pemerintah Indonesia dan Malaysia mengenai keaslian budayanya itu. Tapi bukan saja Reyog yang terkenal dari Ponorogo lho. Keindahan alamnya nan eksotis dan masih alami, layak mendapat prioritas perhatian bagi para turis dan juga penggila adventure.

Salah satu tempat wisata terkenal di Ponorogo yang harus anda kunjungi, berupa sebuah telaga letaknya di Desa Ngebel, Kab. Ponorogo, Jawa Timur, berlokasi sekitar 24 km ke arah Timur Laut dari pusat kota Ponorogo (1 sampai 1,5 jam perjalanan menggunakan kendaraan umum). Telaga ini berada di lereng gunung Wilis dengan kedalaman sekitar 734 m diatas permukaan air laut dan temperaturnya antara 22-32 derajat Celsius. Luas permukaan telaganya sendiri sekitar 1,5 km dan dikelilingi jalan setapak sejauh 5 km.

Di kiri-kanan telaga, ada daerah perbukitan dan cagar alam luas berupa hutan lindung yang hijau dan asri. Untuk mencapai tempat wisata ini tidak terlalu sulit, karena Pemkab Ponorogo sudah menyediakan jalanan beraspal sampai ke telaga yang bisa dilalui sepeda motor ataupun mobil angkutan pribadi. Hanya saja, anda tetap harus berhati-hati berkendara di daerah ini karena banyaknya tanjakan dan tikungan jalan yang meliuk-liuk, penuh tikungan tajam disana-sini.

Telaga Ngebel ini tak hanya dijadikan sebagai tempat wisata di kota Ponorogo, tapi juga sebagai pusat kegiatan agama berupa Larung Sesaji setiap jatuh Tahun Baru Hijriyah/Tahun Baru Islam 1 Muharam atau 1 Suro oleh masyarakat Ponorogo.

Mitos terbentuknya Telaga Ngebel

Konon, telaga ini muncul sebagai akibat kemarahan seorang pemuda miskin bernama Baru Klinting yang sering diejek penduduk sekitar berperangai arogan. Baru Klinting sendiri sebetulnya merupakan manusia jelmaan seekor naga yang dibunuh warga setempat untuk konsumsi pesta rakyat.

Kedatangan Baru Klinting yang seperti pengemis, memicu cemoohan warga yang jijik melihat penampilan sang pemuda. Kecuali Nyai Latung yang tetap berbaik hati padanya. Menerima ejekan dari warga mengenai penampilannya yang seperti pengemis, sang pemuda pun marah. Dengan kesaktiannya, ia menenggelamkan seluruh desa dengan air yang mengalir terus-menerus dari lidi yang ditancapkannya ke tanah. Hanya Nyai Latung yang selamat dari bencana tersebut dan air bah itulah yang kini dikenal sebagai Telaga Ngebel.

Fasilitas sekitar Telaga Ngebel

Di Telaga Ngebel sudah dikembangkan wahana sport tourism berupa pengadaan beberapa speed boat motor untuk melayani pengunjung yang ingin mengelilingi telaga dengan perahu. Masing-masing speed boat ini bermuatan max. 20 orang dengan lama berkeliling telaga sekitar 30 menit, disertai oleh satu sampai dua orang pemandu kapal yang semuanya berseragam batik.

Ada juga area bermain anak yang cukup menarik di sekitar telaga. Diantaranya ayunan, jungkat-jungkit, prosotan hingga flying fox khusus untuk anak-anak balita sampai yang berusia max. 13 tahun.

Bagi pecinta kegiatan memancing, Telaga Ngebel juga merupakan surganya. Di dalam telaga banyak terdapat ikan nila dan ikan ngongok yang katanya hanya hidup di kawasan telaga ini saja. Penduduk juga memanfaatkan telaga ini untuk berternak ikan air tawar dalam keramba-keramba.

Sayangnya, hotel atau penginapan belum banyak berdiri di Telaga Ngebel. Salah satu penginapan yang terdekat dengan telaga adalah Pesanggrahan Songgolangit milik Pemkab Ponorogo. Ada juga beberapa losmen lengkap dengan restoran yang dikelola masyarakat setempat, yang bisa digunakan untuk anda yang ingin menginap disekitar telaga.

Wisata kuliner

Selain menikmati suasana telaga yang indah dan udara sejuk, tak lengkap rasanya jika tidak disertai acara mengisi perut. Di sekitar telaga, banyak bertebaran warung-warung kecil yang menyediakan menu makanan khas Telaga Ngebel berupa ikan air tawar dan nasi tiwul. Ikan air tawar yang disajikan di warung-warung ini kebanyakan juga berasal dari budidaya para petani di Telaga Ngebel sendiri didalam keramba-keramba mereka. Jadi bisa dijamin selalu fresh dan tidak tercemar bahan kimia berbahaya.

Menu andalan yang banyak diburu para pecinta kuliner yang datang ke Telaga Ngebel adalah ikan nila, wader, mujair, atau gurame dengan berbagai macam cara memasak, dari digoreng sampai dibakar.

Buah-buahan yang tumbuh subur disekitar Telaga Ngebel juga pantas diburu sebagai oleh-oleh. Daerah ini penghasil buah durian, mangga, manggis, dan pundung. Asal pandai menawar, harga buah-buahan yang dijual rata-rata jauh lebih murah dibandingkan harga toko karena merupakan hasil dari kebun warga sendiri.

Rute perjalanan

Ada beberapa jalur yang bisa di lewati untuk menuju lokasi wisata Telaga Ngebel. Bagi anda yang membawa kendaraan sendiri, jalur yang paling mudah dilalui adalah rute Ponorogo (kota) - Pasar pon - Jenangan - Ngebel atau Ponorogo (kota) - Mlilir (ngepos) - Ngebel. Satu lagi jalur alternatif namun lebih menanjak dan sempit adalah lewat Dolopo, pertigaan sebelah PLN Dolopo ke timur - Ngebel.

Bagi yang tidak membawa kendaraan sendiri, jangan khawatir. Ada angkutan pedesaan dari Terminal Seloaji Ponorogo tujuan Jenangan yang siap mengatarkan anda berwisata sampai ke Telaga Ngebel.

Jika anda menempuh perjalanan dari arah kota Madiun, tidak perlu melewati Ponorogo kota untuk mencapai Telaga Ngebel. Begitu lepas dari Madiun, anda bisa lewat Mlilir (ngepos) atau Dolopo, kemudian langsung ke arah telaga. Ada petunjuk arah ke Telaga Ngebel di sekitar jalan raya Madiun - Ponorogo yang bisa anda baca agar tidak tersesat (nj@coe).

Wednesday, July 08, 2009

Pengampunan Atas Masa Kecil Yang Kurang Baik

Oleh : Angelina Kusuma

Yeremia 30:17, Sebab Aku akan mendatangkan kesembuhan bagimu, Aku akan mengobati luka-lukamu, demikianlah firman TUHAN, sebab mereka telah menyebutkan engkau: orang buangan, yakni sisa yang tiada seorangpun menanyakannya.

Penyanyi legendaris yang dijuluki The King of Pop, Michael Jackson, membuat hampir seluruh dunia gempar karena berita kematiannya yang mendadak seminggu belakangan ini. Jutaan penggemar menangisi kepergiaannya dengan berbagai cara. Ada yang rela berdesak-desakan mendapatkan tiket masuk ke upacara pemakamannya, membuat mini-mini konser untuk mengenang pribadi dan karya-karyanya yang terkenal tak lekang dimakan waktu, sampai memborong kepingan-kepingan kaset atau VCD sisa-sisa yang pernah meliris album-albumnya semasa hidup.

Hari Selasa, 7 Juli 2009, sekitar pukul 23.00 WIB pun, tercatat ada beberapa stasiun televisi swasta Indonesia yang ikut beramai-ramai menayangkan Exclusive Michael Jackson Funeral secara live dari Staples Center, Los Angeles. Antusiasme penggemar Michael Jackson saat mengantar jasadnya ke peristirahatan terakhir ini, dikatakan jauh melebihi kemegahan pemakaman orang-orang terkenal pendahulunya seperti Putri Diana dan legenda Rock & Roll, Elvis Presley.

Dibalik segala prestasi dan keberhasilan yang dinikmati oleh seorang 'raja' di bidang musik pop mulai dari hidup hingga kematiaannya, sosok Michael Jackson juga merupakan gambaran seseorang yang mempunyai banyak sisi kelam. Bisa dikatakan, ia adalah produk dari kepahitan yang menyebabkan hidupnya menyimpang ke kanan dan ke kiri. Ia mengganti seluruh warna kulitnya dari hitam menjadi putih dengan berbagai macam operasi plastik, pernah dituding melakukan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, pernikahannya terpaksa berujung pada perceraian, tersandung kasus hutang jutaan US $ yang membayangi hingga kematiannya (entah benar atau hanya gosip belaka), sampai kasus pemakaian obat-obatan yang tidak sesuai takaran seharusnya.

Sesuai dengan pengakuannya sendiri, Michael Jackson sering mendapat perlakuan kurang baik saat masih kanak-kanak. Sejak kecil ia mengalami kekerasan dari ayahnya, baik secara fisik maupun mental, seperti rehearsal (latihan) yang tak henti-hentinya, dicambuk, dipukuli, dipanggil dengan panggilan yang kasar, dan ditakut-takuti, sampai ia sering menangis kesepian dan terkadang muntah ketika melihat ayahnya sendiri. Kepahitan demi kepahitan yang tertimbun didalam diri Michael Jackson muda dan tidak segera dibereskan inilah, yang akhirnya membuatnya tumbuh menjadi orang besar namun jiwanya kerdil.

Saat kecil, saya juga pernah mendapat perlakuan agak keras dari kedua orang tua saya. Diantaranya sering dibanding-bandingkan dengan adik saya, beberapa kali dibilang bodoh, dan pernah ditampar dengan sandal di mulut oleh papi saya ketika tidak mau makan. Saat bertumbuh remaja sampai dewasa, saya juga pernah mendapat teraan penolakan baik dari keluarga maupun orang-orang disekitar saya. Ketika SMP, saya tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat pemalu dan pendiam karena merasa 'berbeda' dengan teman-teman lainnya (saya dilahirkan dari kondisi keluarga dengan kedua orang tua berbeda agama dan tidak pernah mendapat sentuhan rohani dari agama manapun).

Setelah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi di bangku kuliah, beberapa akar pahit warisan masa kecil yang belum dibereskan, mempengaruhi cara pandang saya terhadap sesuatu. Saya cenderung selalu ingin membuktikan bahwa saya bisa melakukan segala sesuatu dan mampu unggul diberbagai bidang dimanapun saya berada. Beberapa orang juga sering berkata bahwa saya ini terlihat sedikit 'mengerikan' karena kurang bisa berbasa-basi atau tersenyum ramah kepada orang lain apalagi kepada orang asing. Ya, semua tindakan saya yang over protektif terhadap diri sendiri itu terjadi akibat kepahitan-kepahitan yang tertimbun didalam hati tanpa pemberesan meski saya sudah mengikut Tuhan dan terlibat aktif dipelayanan.

Selasa malam saat saya mengikuti acara pendalaman Alkitab di gereja tempat saya berjemaat sekitar dua tahun ini, seorang hamba Tuhan berbicara mengenai akibat perlakuan-perlakuan kurang baik dimasa kecil yang menyebabkan penyimpangan perilaku bagi orang-orang yang memendam kepahitan tersebut. Selama ini, saya sudah terlalu nyaman dengan persepsi salah yang saya yakini. Saya merasa sudah cukup memberikan diri saya kepada Tuhan untuk diurus sesuai dengan kehendak-Nya. Tapi yang benar, saya (dan mungkin juga anda yang pernah mengalami masa kecil kurang baik) tetap perlu mengakui semua perlakuan kurang baik yang pernah kita terima dimasa lalu dan melepaskan pengampunan kepada orang-orang yang telah melakukannya untuk membereskan kepahitan yang diakibatkannya.

Saya didoakan dan dilayani oleh seorang ibu pendoa syafaat gereja malam itu, dan memperoleh pendamaian di hati yang luar biasa.

Rabu siang ketika mengantar mami ke pasar buah, tanpa sengaja saya membuat motor yang kami tumpangi hampir diserempet mobil dari belakang di sebuah perempatan jalan, karena saya tidak memperhatikan bahwa mobil tersebut hendak berjalan lurus sedangkan saya ingin berbelok ke arah kanan. Tahu bahwa saya melakukan kesalahan, mami saya mengkritik dengan pedas yang membuat saya kembali merasakan sakit tiada tara didalam hati (padahal malam hari sebelumnya saya baru saja didoakan agar lepas dari segala kepahitan akibat perlakuan kurang baik dari orang-orang disekitar saya oleh seorang ibu pendoa syafaat gereja).

Mami saya ini belum mengenal Tuhan Yesus dan beliau adalah seorang ibu yang suka 'berkotbah' lama didepan anak-anaknya yang melakukan kesalahan. Sampai kami selesai berbelanja buah dan berkendara motor ke arah jalan pulang, beliau tetap berkata-kata tentang kesalahan saya saat berbelok di perempatan jalan tadi. Hal ini membuat hati saya terasa bertambah pedih meski beliau tidak mengumpati saya dengan kata-kata yang kasar atau tidak sopan.

Saya yang ada diboncengan belakang di perjalanan kali ini, hanya bisa memejamkan mata sambil berdoa dalam hati, "Aku mengampuni semua orang yang telah menyebutku bodoh, aku mengampuni semua orang yang mengatakan bahwa aku tidak berguna, aku mengampuni semua orang yang berkata aku tak layak untuk dicintai, aku mengampuni semua orang yang sudah memukulku, aku mengampuni semua orang yang sudah mencela tindakanku, aku mengampuni semua orang yang memarahiku ketika aku salah meski aku sudah mengakuinya, aku mengampuni semua orang yang menyakiti hatiku tanpa mereka sadari..."

Saya terus mengucapkan kalimat-kalimat pengampunan ini sambil mendengarkan kalimat-kalimat bernada mengkritik dari mami saya selama perjalanan ke rumah. Air mata saya mulai mengalir satu per satu saat saya merasakan kembalinya damai sukacita dari Tuhan yang indah, turut mengisi bagian-bagian hati saya yang mulai kesakitan tadi. Sesampainya di rumah, barulah saya merasa lega. Saya tidak lagi merasakan hati yang sakit akibat kata-kata yang diucapkan mami saya sebelumnya dan bisa kembali tersenyum manis kepada beliau.

Dari pengalaman sederhana ini, saya belajar satu hal bahwa pemberesan kepahitan memang tidak bisa dilakukan secara instan. Ada tahapan-tahapan tertentu yang harus kita lewati sebelum bisa mengampuni semua orang yang telah menorehkan luka-luka batin di hati dan menyembuhkan kepahitan-kepahitan itu dengan sempurna. Kita juga perlu mengakui dengan jelas dan melepaskan pengampunan-pengampuan atas hal-hal kurang baik yang kita dapatkan itu setiap saat ketika kita kembali merasakan intimidasi kepahitan.

Saya tidak ingin hidup terus dalam kepahitan seperti Michael Jackson yang bergelimang harta dan kepopuleran namun bersembunyi dibalik hitamnya jiwa yang sakit. Saya tidak ingin lama-lama mendendam atas apa yang orang tua saya lakukan waktu kecil, teman-teman disekitar saya, dan juga perlakuan-perlakuan kurang baik yang pernah saya terima lainnya. Saya ingin selalu hidup dalam damai sukacita Tuhan setiap saat dan berlindung dibawah naungan sayap-Nya hingga kesudahannya nanti.

Bagi anda yang juga pernah mengalami hal-hal kurang baik dimasa kecil, mulailah mengucapkan pengampunan-pengampunan anda untuk orang-orang yang telah melukai batin anda. Mungkin, mereka yang telah berbuat itu kepada anda tidak sadar bahwa anda sakit dan terluka karena tindakan-tindakannya. Meski demikian, anda tetap harus melepaskan pengampunan kepada mereka agar hidup anda bebas dari kepahitan. Mintalah pelayanan konseling dari orang-orang percaya lainnya atau dari gereja lokal jika anda memerlukan peneguhan doa dan pelepasan. God bless...(nj@coe).

Tuesday, July 07, 2009

Missionary Marriage

Oleh : Angelina Kusuma

Mungkin, anda sudah pernah membaca kisah di bawah ini. Entah siapa yang menulisnya pertama kali, saya kurang tahu. Saya pernah mendapat forward-an e-mail yang berisi sebuah kisah indah mengenai gambaran cinta sejati dan pernikahan ini beberapa tahun lalu dan mungkin anda juga akan dengan mudah menemukan kisah ini melalui search engine internet, karena memang kisah ini sudah menjadi konsumsi publik yang menguatkan banyak pihak. Dengan rasa hormat kepada penulis aslinya, saya akan menceritakan kembali kisah yang pernah saya dapat melalui e-mail itu disini:

Seorang pria dan kekasihnya menikah, dan acara pernikahannya sungguh megah. Semua kawan-kawan dan keluarga mereka hadir menyaksikan dan menikmati hari yang berbahagia tersebut. Suatu acara yang luar biasa mengesankan. Mempelai wanita begitu anggun dalam gaun putihnya dan pengantin pria juga tampak gagah dalam tuxedo hitamnya. Setiap pasang mata yang memandang, setuju mengatakan bahwa mereka sungguh-sungguh saling mencintai.

Beberapa bulan kemudian, sang istri berkata kepada suaminya, "Sayang, aku baru membaca sebuah artikel di majalah tentang bagaimana memperkuat tali pernikahan", katanya sambil menyodorkan majalah tersebut. "Masing-masing kita akan mencatat hal-hal yang kurang kita sukai dari pasangan kita. Kemudian, kita akan membahas bagaimana merubah hal-hal tersebut dan membuat hidup pernikahan kita bersama lebih bahagia."

Suaminya setuju dan mereka mulai memikirkan hal-hal dari pasangannya yang tidak mereka sukai dan berjanji tidak akan tersinggung ketika pasangannya mencatat hal-hal yang kurang baik, sebab hal tersebut untuk kebaikkan bersama. Malam itu mereka sepakat untuk berpisah kamar dan mencatat apa yang terlintas dalam benak mereka masing-masing.

Besok pagi ketika sarapan, mereka siap mendiskusikannya. "Aku akan mulai duluan ya", kata sang istri. Ia lalu mengeluarkan daftarnya. Banyak sekali yang ditulisnya, sekitar 3 halaman. Ketika ia mulai membacakan satu persatu hal yang tidak ia sukai dari suaminya, ia memperhatikan bahwa air mata suaminya mulai mengalir. "Maaf, apakah aku harus berhenti?", tanyanya.

"Oh tidak, lanjutkan…", jawab suaminya. Lalu sang istri melanjutkan membacakan semua yang didaftarnya, lalu kembali melipat kertasnya dengan manis diatas meja dan berkata dengan bahagia, "Sekarang gantian ya, engkau yang membacakan daftarmu".

Dengan suara perlahan suaminya berkata, "Aku tidak mencatat sesuatupun di kertasku. Aku berpikir bahwa engkau sudah sempurna, dan aku tidak ingin merubahmu. Engkau adalah dirimu sendiri. Engkau cantik dan baik bagiku. Tidak satupun dari pribadimu yang kudapatkan kurang." Sang istri tersentak dan tersentuh oleh pernyataan dan ungkapan cinta serta isi hati suaminya, bahwa suaminya menerimanya apa adanya. Ia menunduk dan menangis.

Amsal 10:12, Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Banyak orang tertarik kepada lawan jenisnya karena ia cantik/tampan, bertingkah laku lembut/sopan, pintar dan berprestasi, kaya, mempunyai karrier bagus di tempat kerjanya, pandai mengurus rumah tangga dan anak-anak, seseorang yang selalu berpenampilan rapi dan mampu bersosialisasi dengan teman-teman terdekat dan keluarga, serta kelebihan-kelebihan yang lainnya. Tapi ketika diperhadapkan pada sisi kekurangannya, seperti kebiasaannya yang sering datang terlambat, tidur mendengkur, malas mandi, boros/shopaholic, pelupa, cepat naik darah, cemburuan, posesif, kurang bisa bersikap romantis, berpenampilan urakan, terlalu tomboy/feminin, dan kekurangan-kekurangan lainnya, banyak juga yang lantas mengambil langkah seribu menjauh.  

Cinta sejati tidak diukur dari hal-hal istimewa apa yang bisa kita terima dari pasangan, namun diukur dari seberapa mampu kita menerima kekurangan-kekurangan yang dimiliki olehnya, dan keberadaan kita disampingnya adalah sebagai pelengkap dari kekurangan-kekurangannya sehingga kebersamaan itu menjadikan keduanya satu.

Pernikahan Kristen bukanlah ajang coba-coba. Tuhan yang kita sembah tidak pernah menghendaki perceraian diantara pernikahan yang telah dipersatukan-Nya didepan altar gereja dan jemaat kudus-Nya. Ketika dua orang manusia, pria dan wanita, sepakat mengucapkan janji suci dihadapan-Nya, itu berarti bahwa keduanya sudah harus siap juga menerima kekurangan pasangan masing-masing dan harus terus bersedia berjalan beriringan dalam bahtera pernikahan sampai maut memisahkan.

Tuhan mempunyai tujuan khusus untuk dijalankan saat mempersatukan Adam dengan Hawa. Demikian juga ketika pernikahan-pernikahan lain akhirnya terjadi di gereja-gereja-Nya. Tuhan memberikan tujuan yang sama seperti tujuan yang Ia berikan kepada Adam dan Hawa agar manusia setelah generasi pertama itu saling bekerja sama dan memuliakan nama-Nya dalam pernikahannya masing-masing.

Ketika kita tahu bahwa pernikahan sebenarnya adalah penugasan dari Tuhan agar sepasang suami istri memenuhi tujuan mulia-Nya, kita tidak akan pernah lagi bermain-main dalam memilih pasangan hidup dan menjalani purity relationship agar sampai kepada missionary marriage. Kebenaran ini mutlak kita ketahui sebelum kita terlanjur menikah dengan seseorang, karena saat kita sudah menikah, kita sudah melewati garis perbatasan dan tidak bisa berbalik arah lagi mengulang semuanya dari awal jika ternyata kedapatan ada yang salah pada akhirnya. Meski suami/istri kita mempunyai seribu kekurangan, kita harus bisa menerimanya seperti saat kita menerima kelebihan-kelebihannya.

Missionary marriage bisa diwujudkan jika para suami dan istri (serta yang masih berstatus 'calon') menyadari peranan masing-masing didalam pernikahan dengan penuh kerendahan hati kepada Tuhan yang terutama dan kepada pasangannya yang kemudian. Selama keduanya masih memegang ego dan menimbang-nimbang kelebihan atau kekurangan yang dipunyai pasangannya, pernikahan akan sulit mencapai tujuan agungnya dengan maksimal.

Efesus 5:22-27, Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh. Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu. Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.

Selama masih ada waktu untuk memilih, ujilah relationship yang sedang anda jalani saat ini sampai benar-benar yakin bahwa pasangan anda itu memang the right man yang dibawa Tuhan untuk anda dan bersiaplah menerima dia apapun keadaannya, termasuk segala kekurangan-kekurangan yang juga dimilikinya. Arahkan fokus anda kepada hubungan-hubungan untuk memuliakan nama Tuhan, bukan sekedar hubungan biasa yang tanpa tujuan. You're made for God purpose and your marriage must be a missionary marriage in Christ (nj@coe).

Sunday, July 05, 2009

Pertunangan

Oleh : Angelina Kusuma

2 Korintus 11:2b, Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.

Di antara beberapa sahabat pria yang dekat dengan saya, ia adalah pria paling potensial untuk masuk ke area relationship and marriage saya. Bukan saja karena kami berdua masih sama-sama berstatus single, tapi karena kami juga sudah menjalin kedekatan satu sama lain dalam persahabatan sejak masih di bangku kuliah hingga bekerja dibidangnya masing-masing.

Sahabat-sahabat saya selalu bertanya, "Kenapa sie kamu nggak jadian aja sama dia?", berkali-kali ketika mereka tahu atau memergoki kami jalan bareng dan beraktivitas berdua, yang biasa dilakukan seorang pria dan wanita yang sedang dalam masa pendekatan alias berkencan.

Saya tidak menampik kemungkinan bahwa ia adalah benar calon pasangan hidup yang telah disediakan oleh Tuhan buat saya. Saya juga tidak menutup hati jika kebersamaan kami ini akhirnya berujung pada hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan. Hanya saja, saya belum berani mengklaim 100% demikian selama belum mendengarnya meminta saya sebagai pasangan hidupnya secara pribadi.

"Tembak aja dia. Nggak zaman sekarang cewe nunggu terus, move on duluan nggak masalah kok."

Jujur, saya juga sempat berpikir seperti saran salah seorang sahabat saya ini. Hampir saja saya keluar dari masa long waiting saya atas hubungan kami ini dan bergerak maju sebagai seorang putri dengan pakaian baja dan peralatan perangnya, membebaskan sang pangeran impian yang bersembunyi di puri, dan membawanya ke istana keputrian kemudian menikahinya :D.

Beruntung, saya adalah wanita yang dibesarkan di keluarga yang tidak menceritakan kisah diatas ketika anak-anaknya hendak pergi tidur. Saya masih ingat, ketika saya kecil, ayah saya sering bercerita mengenai dogeng seorang pangeran gagah berani dengan kuda putih dan pedangnya yang selalu membela kaum lemah, termasuk menyelamatkan putri impian dan kemudian menikahinya. Dari ayah, saya juga belajar bahwa prialah yang harus datang kepada wanita untuk memintanya menjadi pasangan hidupnya, meski prinsip ini sekarang sudah mulai luntur dan terbalik (banyak wanita zaman sekarang yang berani memimpin pengambilan komitmen relationship lebih dulu dari pada pria).

Terlepas dari tradisi ketimuran dan dongeng-dongeng legendaris tentang pria-pria yang berani berjuang untuk para wanita special dimatanya, saya lebih memegang erat isi kebenaran Firman Tuhan yang saya hormati. Tuhan menjadikan pria sebagai pemimpin dan wanita sebagai penolong. Jika dalam hal membuat komitmen relationship saja pria harus dipimpin lebih dulu, bagaimana dalam pernikahan nanti? Saya tidak butuh pria dengan karakter penolong yang hebat. Yang saya perlukan hanyalah seorang pria yang mempunyai karakter pemimpin, meskipun ia bukanlah pria terhebat, terkaya, tertampan, terpintar, ataupun tanpa sematan sebutan-sebutan 'ter' yang lainnya. Saya siap menjadi penolong bagi seorang pria pemimpin biasa, karena untuk itulah saya diciptakan dari tulang rusuknya, bukan diambil dari kepala atau bagian lain dari pria itu.

"Apa kamu nggak nyesel buang banyak waktu nantinya? Kalo dia ketemu cewe lain trus cewe ini berani nembak dia dan ternyata dia trima, kamu bakal kehilangan kesempatan menjalin relationship dengannya nanti..."

Dalam masa penantian akan pasangan hidup, saya tidak pernah membiarkan perasaan saya berjalan sendirian. Saya sadar, saya adalah wanita yang diciptakan dekat dengan hati, karenanya pasti sulit mengontrol logika ketika saya mulai jatuh cinta, seperti para wanita pada umumnya. Tapi di masa penantian ini, sebelum calon pasangan hidup saya yang teruji datang dan meminta saya menjadi pasangan hidupnya, saya tidak akan pernah membiarkan hati saya jatuh cinta mentah-mentah kepada seorang pria. Ya, saya tidak bisa melakukannya sendirian tentunya. Saya perlu meminta tangan Yesus yang maha kuasa itu melindungi hati saya sampai tiba waktu-Nya saya menyerahkan hati ini kepada seorang pria yang dibawa oleh-Nya ke hadapan saya. Selama dia belum berada disisi saya didepan altar gereja, satu-satunya hati saya masih seutuhnya milik Tuhan :).

Yang saya nanti dalam status single ini juga bukanlah salah seorang pria yang saya cintai atau pria berpotensial yang mempunyai kemungkinan paling besar untuk menikahi saya. Saya tidak pernah mengklaim satu pribadipun sebagai calon pasangan hidup saya sampai saat ini. Saya hanya menyerahkan kriteria calon pasangan hidup yang saya ingini dan membiarkan Bapa saya yang memilihkannya dari antara anak-anak-Nya yang sepadan dan berkenan di hadirat-Nya untuk saya. Saya percaya Bapa saya sanggup mengadakan pria terbaik untuk anak-anak wanita-Nya seperti saya. Ia adalah Tuhan yang kreatif, tak terbatas pada rencana buatan manusia. Saya tidak akan pernah mengambil hak yang seharusnya dikerjakan oleh Tuhan, dengan membatasinya pada satu pribadi yang saya ingini dengan sangat, karena yang terbaik buat saya, belum tentu yang terbaik juga buat Tuhan.

Keluarga ada bukan karena keinginan seorang pria dan wanita yang cukup umur dan ingin menikah. Keluarga adalah batu bata penyokong bangunan gereja yang dibentuk untuk memuliakan nama-Nya diatas bumi. Tuhanlah pemrakarsa proses penyatuan setiap pria dan wanita. Keluarga yang dikasihi-Nya tidak terbentuk karena peranan manusia, tapi atas rencana-Nya. Dan karena keyakinan bahwa Tuhan selalu bergerak didepan saya inilah, saya tidak perlu risau atau takut terlambat dalam mendapatkan sesuatu. Tuhan pasti akan memberikan kasih karunia-Nya kepada saya, termasuk soal pasangan hidup, tepat pada waktu-Nya.

Pepatah kuno mengatakan, "Jika jodoh tidak akan kemana-mana". Firman Tuhan di 2 Korintus 11:2b juga berkata bahwa sebenarnya masing-masing dari kita sudah 'dipertunangkan'.

Bagian saya sebagai wanita dalam masa menanti pasangan hidup adalah memperbarui karakter saya didalam Kristus, menjaga kekudusan jasmani (keperawanan) dan rohani saya, dan bersiap-siap ketika sang mempelai itu datang seperti persiapan lima gadis bijak dengan pelitanya menjelang perjamuan kawin. Lebih baik, saya membuang banyak waktu untuk menunggu pria yang telah disediakan oleh-Nya untuk saya bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus lebih dulu dan memperbarui karakter pemimpin dalam dirinya, dari pada membawa pria seadanya ke pelaminan cepat-cepat dan merubahnya kemudian setelah berstatus suami. Yang tidak berharga sekarang, ia tidak akan pernah berharga setelah 2, 5, atau 10 tahun ke depan. Yang tidak bisa memimpin saat pacaran, tidak akan pernah bisa juga memimpin saat sudah berumah tangga. Jadi untuk apa mempertahankan yang sudah jelas belum berada di posisinya yang benar? (nj@coe).