Sunday, September 25, 2016

Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia

Oleh: Angelina Kusuma

"Jika engkau telah berlari dengan orang berjalan kaki, dan engkau telah dilelahkan, bagaimanakah engkau hendak berpacu melawan kuda? Dan jika di negeri yang damai engkau tidak merasa tenteram, apakah yang akan engkau perbuat di hutan belukar sungai Yordan?" (Yeremia 12:5)

Pernah punya pikiran seperti ini nggak, "Orang itu hidupnya kok enak ya? Cuma ongkang-ongkang kaki doang kerjaannya tapi punya segalanya, bisa pergi kesana-kesini-kesitu. Sementara aku yang siang malam kerja banting tulang, melayani Tuhan...urip rasane kok soroooo!"

Kalo kamu pernah punya pikiran kayak gitu, kamu nggak sendirian kok. Om Yeremia juga pernah ngalaminya, sampai akhirnya Tuhan ingatkan akan kesalahan dia.

TUHAN berkata, "Yeremia, jika engkau menjadi lelah berlomba dengan manusia, mana mungkin engkau berlomba dengan kuda? Jika di tanah yang aman engkau ketakutan, apakah yang akan kaulakukan apabila kau berada di hutan belukar di tepi Yordan?" (versi BIS)

Iri hati seringkali membutakan mata kita sehingga kita tidak bisa melihat kelebihan-kelebihan dan berkat-berkat yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Ketika matamu mulai suka 'menikmati' kehidupan orang lain yang nampak lebih indah dari hidupmu, pstt...tutup matamu segera dan bersyukurlah!

Kamu nggak pernah tahu proses apa yang telah terjadi dalam hidup seseorang di masa lalu hingga itu mengantarkannya sampai di hari ini. Seringkali, orang yang hebat tidak ditempa dengan jalan yang mulus dan mudah. Kupu-kupu aja harus melewati proses dari ulat yang buruk rupa menjadi kepompong. Nggak serta merta jadi kupu-kupu dengan sayap-sayapnya yang indah kan? Coba bayangin kalo si ulat menolak jadi kepompong. Emangnya dia bisa jadi kupu-kupu? Oh no, ora biso...mustajab itu mah *Eh, mustahil ding :D.

Kita nggak boleh terperangkap dalam keadaan dunia/kehidupan orang lain sehingga kita menjadi lelah sendiri *Lelah karena kita tidak bisa 'bersaing' dengan mereka.

Dalam Ibrani 12:1,2 tertulis "...berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Marilah kita melakukan dengan mata yang tertuju kepada Yesus..."

So, buang itu segala macam bentuk iri hati dan persungutan, "Orang yang tidak setia dan malas ke gereja tapi kok hidupnya makin enak dan sejahtera?" Eits, stop! Berhenti berpikiran seperti ini!

Ingat, tujuan kita mengikut Tuhan bukanlah berkat-berkat duniawi. Tapi tujuan kita mengikut Dia ialah 'Panggilan Sorgawi' (Filipi 3:14). Berkat-berkat jasmani yang kita terima selama di dunia adalah sekedar bukti bahwa pemeliharaan Tuhan atas kita itu sempurna dan Dia mencukupkan segala keperluan kita. Yang perlu kita utamakan adalah 'Kerajaan Allah' (Matius 6:33), bukan kerajaan kita sendiri ataupun kemuliaan/kemasyuran kita. Seek first his kingdom and his righteousness, and all these things will be given to you as well.

Apapun keadaanmu saat ini, jangan palingkan pandanganmu dari-Nya karena, "...Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia" (Ibrani 11:6).

Amin? Selamat hari Minggu, selamat beribadah ^_^.

Tuesday, September 20, 2016

Hendaklah terangmu bercahaya


Oleh: Angelina Kusuma


Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." (Yakobus 4:15)

Sepulang dari Raja Ampat beberapa bulan lalu, saya sempat berdoa untuk bulan September ini. Sebenarnya saya ingin menjelajah Pulau Komodo, Flores dan Sumba bulan ini. Tapi entah kenapa, saya tak pernah menemui rasa damai di hati sampai akhirnya rencana penjelajahan itu saya undur sampai tahun depan. Sebagai gantinya, saya naik ke Gunung Rinjani bulan Agustus kemarin bersama teman-teman pendaki saya.

Sebelum saya berangkat ke Lombok, Tuhan ingatkan saya tentang seorang teman wanita yang tinggal disana. Dulu dia kuliah di Malang dan sekarang kerja di Mataram. Dia mengenal saya lewat tulisan-tulisan saya yang pernah dimuat di Majalah GFresh dan blog. Saya sudah berencana menjelajah Lombok sejak beberapa tahun lalu dan saya berjanji kepadanya bahwa saya akan menemuinya saat saya traveling ke Lombok. Tapi entah kenapa, baru Agustus kemarin Tuhan izinkan saya menapakkan kaki yang pertama kalinya di kota itu.

Pertemuan saya dan teman saya itu berlangsung cukup menyenangkan. Di hari pertama saya di Mataram, saya melewatkan waktu sore-malam hari berdua saja dengannya. Kami menikmati Ayam Taliwang sebagai menu makan malam kami kemudian dia mengantarkan saya putar-putar kota Mataram dengan sepeda motor. Baru keesokan harinya, jam 5 pagi saya berangkat menuju Sembalun untuk kemudian mendaki Gunung Rinjani bersama ke enam teman pendaki saya lainnya.

Selesai mendaki Gunung Rinjani selama 4H3M, akhirnya saya kembali lagi ke Mataram. Beberapa jam sebelum saya pulang ke Surabaya dengan pesawat terbang, teman yang saya temui di hari pertama saya di Lombok itu mengirimkan pesan di akun LINE saya, "Kak, boleh minta waktu sebentar? Aku pengen share sesuatu" Well, akhirnya pagi itu dia datang kembali ke hotel saya dan saya persilahkan dia untuk curhat tentang hidupnya di kamar saya.

Setelah dia selesai curhat, saya ajak teman saya ini berdoa dan puji Tuhan ketika kami berpisah di Terminal Bus Mandalika, saya sudah bisa melihat senyumnya kembali mengembang. Aiss, bahagia sekali rasanya. Meski saya sedang berlibur, tapi Tuhan tidak membiarkan saya libur dalam melayani Dia hehe. Di Lombok, Dia bawa satu jiwa yang sedang dalam kesesakan untuk saya doakan. Yah, sebenarnya cuma itu yang bisa saya lakukan :p. Saya tidak pandai berkotbah, tidak pandai berdebat soal doktrin gereja ataupun debat tentang pendalaman Alkitab. Nggak ngerti juga bahasa Ibrani, Yunani, Romawi...bisanya cuma mondar-mandir dari satu kota ke kota lain, kalo ada yang butuh telinga...saya bisa dengan cepat ada didepannya dan mendengarkan cerita seseorang dari A sampai Z, kemudian solusi yang saya punyapun cuma satu, "Ayo kita berdoa" Hahaha klise ya, tapi heran lho...tetep aja banyak yang curhat sama saya *Hmm, mungkin saya kece! :D.

Nah, kembali lagi ke bulan September...

Hari ini saya baru mengerti kenapa Tuhan tidak memberi saya izin untuk menjelajah Pulau Komodo, Flores dan Sumba di bulan ini dan justru membelokkan kaki saya ke Lombok di bulan Agustus lalu. Hari ini, tgl 19 September 2016, gereja saya didaulat menjadi tuan rumah untuk acara Youth Bamag Ponorogo untuk pertama kalinya. Saya baru dapat jadwal pelayanan saya di gereja untuk bulan September beberapa minggu lalu dan ternyata bulan ini jadwal pelayanan saya di gereja padat merayap. Ya singer di Ibadah Raya, LCD, mimpin sharing di komsel youth, jadi host komsel sampai ditunjuk sebagai singer di Ibadah Youth Bamag Ponorogo sore tadi. Meski saya harus gigit-gigit jari melihat postingan foto teman-teman saya yang sedang menjelajah Pulau Komodo, Flores dan Sumba sejak minggu lalu sampai hari ini di Instagram...saya rela! Rasanya lebih bersukacita ketika saya melihat anak-anak youth Bamag tadi loncat-loncat saat memuji dan menyembah Tuhan daripada lihat foto-foto indahnya panorama diatas Puncak Padar, eksotisnya rumah-rumah adat di Wae Rebo dan nyamannya menginap di Nihiwatu Resort :).

Dimana hatimu berada, itu menentukan arah tujuan hidupmu.

Tuhan panggil saya untuk melayani pekerjaan-Nya sejak saya berusia 18 tahun sampai hari ini. Saya tidak pernah memilih bidang pelayanan tertentu. Saya melakukan semua jenis pelayanan (angkat kursi, choir, singer, mimpin sharing, mengunjungi orang, menjamu anak-anak Tuhan di rumah, menulis blog, ndengerin orang curhat, etc) karena dasarnya saya cinta setengah mati dengan Tuhan Yesus yang saya sembah, bukan karena alasan yang lain. Dimanapun saya berada dan apapun yang saya lakukan, saya belajar untuk menyerahkan semuanya ke tangan Tuhan. Ketika saya sedang merencanakan sesuatu, saya suka berkata kepada-Nya, "Dad, jadikan acara ini acara-Mu". Dan benar saja, Dia mulai memakai setiap hal yang saya lakukan untuk kemuliaan nama-Nya. Setiap saya pergi ke suatu tempat, ada saja hal yang bisa saya lakukan untuk Tuhan disana.

Ketika saya kembali ke Ponorogo setelah mendaki Gunung Rinjani kemarin, ada seorang ibu-ibu yang menyalami saya sambil berkata kepada anaknya yang masih SD, "Tuh...contoh mbak Angel, pemberani. Bisa ke Jepang, ke Rinjani...jadi anak muda itu harus semangat" Hahaha saya bersyukur bahwa 'kegilaan' saya bisa juga menjadi kesaksian untuk anak-anak muda di gereja ini :D.

Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:16)

Terang...kamu adalah terang dunia! Izinkan Tuhan berkarya melalui hidupmu. Saat fokus kita murni kepada Tuhan, Dia akan mencukupkan segala keperluan kita. Trust Him! Saya bukan orang kaya, tapi saya sering mengecap 'hidangan' para raja. Saya bisa liburan ke Jepang, Singapore, Malaysia (beneran liburan lho ya, bukan kerja), menjelajah Raja Ampat sampai mendaki Gunung Rinjani (padahal saya pernah punya masalah di paru-paru dan tulang belakang!). Keren nggak? Hanya karena kasih karunia Tuhan saya bisa seperti ini. Saya tinggal di kota kecil, Ponorogo. Tak ada stasiun kereta api ataupun bandara disini. Tapi Tuhan bisa membuat saya 'terbang' kesana-kemari sewaktu-waktu. Dahsyatnya lagi, saya tak perlu pindah ke kota besar untuk mencari gaji besar. Tuhan kirim job-job bernilai ratusan USD ke rumah saya di desa di Ponorogo setiap hari!

Kuncinya hanya satu: libatkan Tuhan dalam setiap detail hidupmu. Dia tidak bisa dibatasi oleh ruang, waktu dan pikiran kita. Dia lebih besar dan hebat dari yang bisa kita bayangkan...

Tuesday, August 23, 2016

Hal-hal yang wajib dikerjakan sebelum dewasa (30-35 tahun)

Oleh: Angelina Kusuma


Anak-anak muda zaman sekarang banyak yang hidupnya kurang maksimal karena gagal fokus. Masih usia SMP saja sudah banyak yang sibuk cari pacar, hidup hura-hura, hidup terlalu santai tanpa perencanaan masa depan yang matang...sehingga saat masa dewasanya tiba, mereka tidak siap dengan beban hidup yang berat.

Beranilah tampil beda diantara teman-temanmu. Beranilah mengambil keputusan untuk menggunakan masa mudamu untuk hal-hal yang positif, mengesampingkan sejenak gejolak darah mudamu, sehingga kamu menjadi manusia diatas rata-rata saat memasuki usia 30-35 tahun nanti.

Beberapa hal dibawah ini wajib kamu kerjakan sebelum memasuki usia dewasa (30-35 tahun):

1. Baca buku sebanyak-banyaknya

Buku adalah jendela dunia. Banyak ilmu yang terkandung didalam satu buah buku. Saat memasuki jenjang sekolah SMP-SMU, saya adalah kutu buku. Hampir ratusan buku telah saya lahap di usia muda saya dan itu menjadi bekal yang kuat dalam kehidupan saya sampai sekarang. Ambillah komitmen untuk membaca 1 buku dalam 1 minggu/1 bulan. Kamu bisa memanfaatkan fasilitas perpustakaan sekolah/daerah dan mulailah menggali ilmu dari buku-buku yang membangun.

2. Kuasai minimal Bahasa Inggris

Mau tak mau, Bahasa Inggris-mu harus sampai level 'aktif', bukan sekedar jago mengerjakan soal-soal Bahasa Inggris secara tulisan/pasif. Menguasai Bahasa Inggris aktif dan pasif bisa membawamu ke bangsa-bangsa nantinya, karena setiap bangsa di dunia ini pasti menggunakan Bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa internasionalnya.

3. Belajar menabung

Kebiasaan menabung tidak serta merta lahir dalam satu atau dua hari. Kebiasaan ini lahir dari kebiasaan yang kita lakukan bertahun-tahun. Maka dari itu, mulailah mengumpulkan beberapa ribu Rupiah untuk ditabung sehingga itu menjadi kebiasaan yang baik sampai usiamu dewasa nantinya. Jangan belanjakan semua uang saku dari orang tuamu untuk hal-hal yang kurang perlu. Ingat, masa depanmu masih panjang. Jadi mulailah berhemat dan menabung.

4. Aktif di kegiatan organisasi

Manfaatkan usia mudamu untuk berorganisasi. Dari situ kamu bisa belajar management, team work, kedisiplinan sampai memperluas area pertemananmu. Tapi meski kamu sibuk berorganisasi, jangan pernah tinggalkan kewajiban sekolahmu. Keduanya bisa berjalan beriringan jika kamu bisa mengatur waktu. Saat sekolah dulu, saya aktif di OSIS, KIR, Pramuka, HIMA sampai PALA. Dan semuanya membawa dampak positif bagi perkembangan karakter saya hingga sekarang.

5. Jangan mempunyai keinginan untuk menjadi karyawan, tapi punyailah jiwa entrepreneur/menciptakan lapangan pekerjaan

Ini penting! Jika kamu menjadi karyawan, kamu akan terikat pada pekerjaanmu dan waktumu terbatas. Tapi jika kamu bisa menjadi entrepreneur, kamu bisa mengatur waktu dengan sesukamu dan kamu bebas berekspresi. Makanya, bercita-citalah untuk menjadi seorang pengusaha sejak muda dan berlarilah meraihnya!

6. Kembangkan hobi-hobi yang positif

Perlu bagi kamu untuk menguasai beberapa hal dan mengembangkannya secara serius. Banyak orang menemukan pekerjaan yang sesuai dengan pribadinya bermula dari sekedar hobi. Banyak hobi yang positif yang pantas kamu coba, seperti menulis, menggambar, fotografi, olah raga, berdagang, membuat kerajinan tangan, memasak, menyanyi, menari, bermain musik, dll. Saat ini saya bekerja di dunia SEO dan itu sesuai dengan hobi saya sejak SMU, yaitu menulis. Saya menikmati pekerjaan saya karena itu adalah bidang yang sudah saya kuasai sejak muda. Makanya, selagi muda...segera temukan passion-mu dan mulailah mengembangkannya. Sukur-sukur hobimu nanti bisa menjadi sumber penghasilan.

7. Buatlah paspor dan lakukan solo traveling di Indonesia sampai ke seluruh dunia

Traveling sudah menjadi salah satu gaya hidup untuk saat ini. Kegiatan ini sebenarnya banyak manfaatnya jika kita bijaksana dalam melakukannya. Kita bisa belajar segala sesuatu dari dunia disekitar kita, belajar membuat rencana perjalanan yang matang, belajar merencanakan keuangan, belajar berinteraksi dengan dunia luar, dll. Buatlah paspor, jelajahi satu negara yang tidak berbahasa Melayu 'sendirian' dan rasakan bedanya! Kamu akan tumbuh lebih kuat dan mandiri setelah pulang dari solo traveling-mu. Trust me, it work! Traveling sendirian bukan berarti kamu kesepian lho. Justru dengan berjalan sendirian kamu akan mengenal dirimu sendiri lebih dalam dan mengenal orang-orang disekitarmu lebih dekat. Saya sering melakukan solo traveling di beberapa kota di Indonesia dan juga ke Jepang dan Singapura. Rasanya benar-benar menantang. Sesekali, kamu harus coba!

8. Buat target-target untuk masa depan

Hidup akan bermakna jika kita punya tujuan. Buatlah target-target yang bisa memotivasi kamu dalam mewujudkan cita-citamu. Misal: selesai kuliah di usia 21 tahun, punya rumah di usia 28 tahun, punya usaha sendiri di usia 30 tahun, mulai menabung dan berinvestasi di usia 33 tahun, pergi ke New Zealand di usia 35 tahun, dll. Target-target yang kamu buat itu akan menjadi 'pagar' agar kamu tetap konsisten dalam menjalani hidupmu dan mewujudkan mimpi-mimpimu.

9. Jadilah volunteer

Pernah dengar kata volunteer/sukarelawan? Sukarelawan adalah orang-orang yang melakukan sesuatu dengan sukarela (tidak karena diwajibkan atau dipaksakan). Kamu bisa menjadi 'pahlawan' untuk orang lain yang membutuhkan pertolonganmu dengan cara-cara yang sederhana. Misal: ikut membersihkan sampah-sampah plastik di gunung, sungai, laut, dll, menjadi donatur untuk pantai asuhan, menanam pohon, dan seterusnya. Dengan menjadi sukarelawan artinya kita menjadi saluran berkat untuk orang lain.

10. Kelilingi dirimu dengan orang-orang yang berdampak positif

Lingkungan pergaulanmu bisa berdampak pada perkembangan karaktermu. Sering-seringlah bergaul dengan orang-orang sukses agar kamu juga terinspirasi dengan kesuksesannya. Saat kegagalan/kesedihan/kekecewaan/kegalauan melandamu...cari tempat curhat yang benar. Kita memang perlu teman-teman untuk hidup dan bersosialisasi. Selagi muda, carilah orang-orang yang bisa diajak berjalan maju bersama. Jika yang satu mulai kendor, bisa saling mengingatkan. Orang-orang positif disekitarmu akan memberimu semangat untuk terus bergerak dan pantang menyerah.


Untuk menjadi pribadi luar biasa, harus rela dibentuk dengan cara-cara yang tak biasa. Dan KAMU, pasti bisa menjadi salah satu generasi yang membawa perbedaan di negeri ini!

Salam kemenangan!

Thursday, August 18, 2016

Kisah dari Gunung Rinjani





Oleh: Angelina Kusuma


Gunung Rinjani, akhirnya saya berhasil menapakkan kaki disana. Gunung yang satu ini memang benar-benar cantik. Hampir sepanjang jalan mata saya dimanjakan oleh berbagai pemandangan indah yang tak pernah sama. Meskipun saya dan tim harus mendaki berjam-jam setiap hari, rasanya semua pegal dan rasa capek di tubuh terbayar lunas!

Kami mengawali pendakian Gunung Rinjani dengan rute Sembalun - Plawangan - Segara Anak - Senaru dengan estimasi waktu 4H3M. Semua berjalan lancar, hampir tidak ada kendala yang berarti...sampai pada akhirnya kami tiba di Senaru.

Saat di Sembalun, Plawangan (Sembalun) dan Segara Anak, kami sering bertemu dengan pendaki-pendaki dari berbagai daerah di Indonesia. Perbandingan antara pendaki lokal dan internasional 60:40. Tapi saat kami mulai mendaki Senaru untuk pulang, terlihat lebih banyak turis-turis internasional yang berani melewati rute ini.

Dari Segara Anak ke Plawangan Senaru, kami harus menempuh jalanan mendaki yang terjal penuh dengan batu-batu besar. Dari Plawangan Senaru ke Pos 3 Senaru, jalanan menurun dengan pasir licin yang membuat kami beberapa kali harus jatuh bangun terpeleset. Jalur Senaru memang lebih berat dibandingkan Sembalun. Mungkin karena alasan ini kenapa jalur Senaru lebih banyak disukai turis internasional daripada pendaki-pendaki lokal.

Ketika kami turun dari Plawangan Sembalun ke Segara Anak, kami bertemu dengan seorang pendaki dari UGM Jogja. Dia sudah memberi kami sebuah 'peringatan' saat tahu bahwa kami akan pulang lewat jalur Senaru esok harinya. Katanya, "Nanti kalo ada yang 'ngisengin' di Senaru, cuekin aja"

Kami tiba di Plawangan Senaru sudah hampir jam 5 sore. Tapi karena persediaan logistik yang menipis, kami harus mencapai Pos 3 Senaru baru bisa mendirikan tenda. Nah, saat melintasi beberapa pendaki lokal yang sudah bersiap mendirikan tenda disekitar Plawangan Senaru, mereka juga memberikan kami 'peringatan' kedua, "Jangan mendaki setelah jam 6 sore"

Wah, andai saya bisa menghentikan waktu, saya sebenernya juga ingin segera berhenti mendaki, mendirikan tenda disitu dan bersembunyi di sleeping bag saya yang nyaman. Tapi apa boleh buat, kami harus segera menuju Pos 3 Senaru agar kami tak perlu kebingungan dengan logistik untuk esok hari.

Perjalanan dari Plawangan Senaru ke Pos 3 Senaru terasa beda dari perjalanan-perjalanan kami sebelumnya. Kesunyian di sore itu terasa sedikit mencekam. Ya, biasanya kami mendaki dengan suasana ramai. Bertemu dengan banyak pendaki-pendaki baik lokal maupun turis internasional. Tapi sore ini, hanya kami bertujuh yang berjalan tersaruk-saruk menyibak pasir-pasir licin di bawah sepatu-sepatu kami.

Saya berjalan diurutan no. 2 dari belakang. Hidung saya sudah mulai mengalirkan air, tanda bahwa saya sudah terlalu banyak menggunakan tubuh saya melebihi kapasitasnya sore itu. Normalnya, saya tak bisa menghirup bau apa saja jika hidung saya sudah demikian. Tapi kenyataannya, saya bisa membau 'sesuatu' yang wangi lewat disekitar kami. Nggak cuma sekali, tapi sampai tiga kali! Teman saya dibelakangpun akhirnya angkat bicara, "Kok baunya wangi ya?" Haiss, tak perlu dikomando lagi...kami bertujuh berjalan hampir setengah berlari menuju Pos 3 Senaru. Dan puji Tuhan...kami selamat sampai disana tanpa kekurangan sesuatu apapun. Meski wajah udah pucat pasi semua hahaha.

Di Pos 3 Senaru, hanya ada 2 grup yang berkemah. 1 grup lain berkemah diatas bukit dan tenda kami berdiri dibawahnya. Mereka adalah pendaki-pendaki asal dari Madura. Guide saya cukup bijaksana menyikapi ketegangan yang kami alami selama perjalanan menuju Pos 3 Senaru ini. Malam itu kami menghabiskan waktu untuk membuat api unggun dan saling bercanda sambil menikmati makan malam berlauk ikan yang berhasil kami pancing dari Segara Anak tadi pagi *Padahal 2 malam sebelumnya, begitu kami sampai di tempat yang dituju, kami segera masuk ke tenda masing-masing dan tidur.

Sekitar pukul 11 malam, barulah kami bertujuh kembali ke tenda. Saya dan 2 orang teman wanita lainnya masuk ke tenda yang ditengah, diapit oleh 2 tenda lain untuk pendaki laki-laki.

Hoff, ketegangan belum berakhir...

Malam di Senaru ini terasa lebih dingin dan basah! Mungkin karena disekitar tempat kami berkemah dikelilingi banyak pohon-pohon besar dan rapat. Tak ada lagi suara cekikikan pendaki seperti yang biasa terdengar di Plawangan Sembalun dan Segara Anak. Yang ada hanyalah kesunyian.

Saya tak bisa menutup mata saya dengan segera. Begitu juga 2 teman wanita saya. Tidurpun kami gelisah. "Ok, Angel...this is the time to war!", kata saya dalam hati. Saya kutip beberapa ayat Alkitab agar roh saya kembali tenang. Sebelumnya saya juga berdoa untuk kedua orang tua saya di Ponorogo, adik saya yang ada di Surabaya, teman-teman dan orang-orang yang berarti dalam hidup saya.

"Sebab sesungguhnya, Dia yang membentuk gunung-gunung dan menciptakan angin, yang memberitahukan kepada manusia apa yang dipikirkan-Nya, yang membuat fajar dan kegelapan dan yang berjejak di atas bukit-bukit bumi--TUHAN, Allah semesta alam, itulah nama-Nya" Amos 4:13

Ayat di Amos 4:13 ini membuat saya damai. Sebelum saya berhasil mencapai Gunung Rinjani, ada beberapa 'kegaduhan' yang terjadi. Mulai dari Gunung Bromo erupsi, Gunung Baru Jari (Anak Rinjani) erupsi sampai kasus penutupan Bandara Lombok. Semua masalah akhirnya teratasi dan saya bisa menginjakkan kaki disini. Jika tidak ada campur tangan Tuhan, mustahil terjadi. Atas izin Dia, saya ada di Rinjani...dan atas seizin Dia pula, saya akan kembali ke rumah dengan selamat. Kepercayaan masyarakat Jawa menyatakan bahwa tempat-tempat tertentu di muka bumi ini pasti ada yang menjadi penjaganya (gaib). Kadang kita disuruh izin dulu sama 'sing mbaurekso' jika hendak memasuki tempat-tempat yang wingit (angker) kan?

Ah, saya lebih suka minta izin langsung ke Sang Penciptanya saja! Seluruh jagad raya ini milik Bapa saya, so saya tak perlu takut lagi sama 'sing mbaurekso' itu tadi :).

Pelajaran yang saya dapat dari Gunung Rinjani: dimanapun kamu berada, bawalah selalu 'pedang Roh' bersamamu. Efesus 6:17, "dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah"

Disaat orang lain tak bisa membantu saya, ayat-ayat Alkitab itulah tempat saya memperoleh kekuatan kembali.

Tuesday, August 02, 2016

Bersyukur

Oleh: Angelina Kusuma


"Allah, Dialah yang menjadi tempat pengungsianku yang kuat dan membuat jalanku rata" (2 Samuel 22:33)

Pertengahan Agustus 2016 nanti, saya berencana untuk mendaki Gunung Rinjani, Lombok. Yah, gunung berapi tertinggi nomor 2 di Indonesia itu menarik hati saya untuk menjelajahinya.

Tiket pesawat pulang pergi Surabaya-Lombok sudah dipesan, semua biaya untuk pendakian sudah dibayar, peralatan mountaineering seperti sleeping bag dan trekking poles sudah dibeli, persiapan fisik sudah saya mulai sejak 2 minggu lalu (jalan kaki selama 1 jam setiap pagi), bahkan jadwal pelayanan saya diantara hari-hari pendakian sudah saya sesuaikan dengan pihak gereja.

Yup, 70% saya telah bersiap untuk mencapai puncak Dewi Anjani! ‪#‎Rock‬

Count days before a date...10 days left...

Dan mendadak, kemarin malam saya mendapat berita bahwa Anak Gunung Rinjani erupsi! Bandara Lombok ditutup selama 2 hari dan sewaktu-waktu bisa ditutup kembali jika debu vulkanik mengganggu jalannya penerbangan. Entah sampai kapan Anak Gunung Rinjani 'batuk-batuk' seperti itu *Mungkin perlu dikasih Komix 10 biji eaaa.

Kesel? Iyess...

Tapi Firman Tuhan mengingatkan saya untuk bersyukur dalam segala hal. Rencana manusia bisa gagal, hanya rancangan Tuhanlah yang tak akan pernah gagal.

"Dialah Allah yang menguatkan aku dan membuat jalanku aman" (versi BIS). Yah...selalu ada yang perlu disyukuri dalam setiap kejadian. Cari perkenanan Tuhan dalam segala hal. Dia yang berdaulat atas hidupmu. Baik atau buruk keadaan kita saat ini, bersyukurlah!

Sunday, July 24, 2016

Be a good role model!



Oleh: Angelina Kusuma


Sebut saja namanya Bang Tumpak. Dia adalah Tour Leader saya saat jelajah Misool dan Wayag - Raja Ampat, Papua bulan Mei 2016 lalu. Yang membekas di hati saya tentang dia adalah logat Bataknya yang kental dan kegilaannya sepanjang trip berlangsung.

Suatu ketika saat saya dan teman-teman lainnya sedang beristirahat dan mengobrol santai untuk mengisi jeda trip, Bang Tumpak ikut berbaur di antara kami dan menunjukkan foto-foto dari HP-nya.

Sontak kami semua tertawa saat melihat gayanya di berbagai foto yang kebanyakan berambut panjang itu. Dia tak pernah berpose normal seperti kebanyakan orang, kadang posenya sambil mangap, bergaya ala Bob Marley, bergaya culun lengkap dengan kacamata segede gaban, sampai membentuk rambut panjangnya serupa candi! Haha gila...baru kali ini saya ketemu orang yang berani jelek di foto seperti itu. Biasanya orang mau tampak ganteng, rapi dan cool kalo di foto kan?

Nah, di saat kami semua cekikikan melihat foto-foto noraknya, tiba-tiba Bang Tumpak angkat bicara, "Hei, dari tadi kalian ketawain foto-fotoku terus...tak bertanyakah kalian kenapa sampai kupotong rambutku yang panjang itu?"

"Emang kenapa bang?"

"Aku potong rambut panjangku untuk kudonasikan ke anak-anak penderita kanker"

Dzingggg...mendadak suasana yang riuh menjadi hening...


Hidupmu adalah kitab yang terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang. Apakah mereka bisa melihat Kristus hidup didalammu? (2 Korintus 3:2-3)

Saat melihat foto-foto Bang Tumpak, saya tahu bahwa dia bukanlah orang sembarangan. Kebanyakan foto-foto dirinya diambil di berbagai negara di Eropa dan Asia. Cara bicaranyapun (meski dia suka bercanda) sudah terlihat bahwa dia adalah seorang yang berwawasan luas. Dan yang lebih penting adalah, dia tidak merokok. Jarang saya bertemu cowok yang suka traveling dan adventure tapi tidak merokok seperti dia.

Saya suka belajar sesuatu yang baru di setiap perjalanan yang saya buat. Pemandangan indah di tempat wisata itu hanyalah bonus. Tapi yang terpenting adalah bagaimana saya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi setelah perjalanan itu selesai. Saya suka belajar pada alam dan belajar dari semua orang yang saya temui di jalan (tak perduli agama dan sukunya apa).

Buat saya pribadi, orang yang menginspirasi itu tak harus beragama Kristen. Selama orang itu bisa memberikan sesuatu yang baik, kenapa enggak dijadikan teladan? Sering kali saya melihat orang Kristen yang hafal Alkitab pun tak pernah hidup seperti Yesus. So, apakah orang Kristen seperti itu masih layak dijadikan teladan?


Dari Bang Tumpak saya belajar beberapa hal ini:

1. Don't judge people you don't know

Kami semua menertawakan gaya rambut Bang Tumpak yang sepanjang pinggang itu pada awalnya. Membuatnya sebagai bahan olok-olokan. Tapi siapa yang sangka jika dia sengaja memanjangkan rambutnya untuk anak-anak penderita kanker! Kapan terakhir kalinya kamu memikirkan nasip orang lain di luar sana yang membutuhkan pertolonganmu?

2. Keberhasilanmu tak perlu digembar-gemborkan, biarkan orang lain tahu siapa kamu dengan sendirinya

Bang Tumpak sudah pernah menjelajahi ke 34 Propinsi di Indonesia (saya selalu terkesima melihat update foto-foto travelingnya di akun Instagram). Dia pernah mengenyam pendidikan di Jerman. Negara-negara di Eropa dan Asia hampir semua sudah dijejakinya (padahal usianya masih tergolong muda). Dia jago snorkeling dan juga seorang pendaki gunung yang handal. Puncak gunung-gunung tertinggi di Indonesia seperti Gunung Rinjani dan Gunung Cartenz, juga Gunung Himalaya di Nepal sudah pernah ditaklukkannya. Meski demikian dia tetap santai aja meski kadang dijadikan bahan becandaan oleh orang-orang disekitarnya.

3. Berusahalah menjadi seperti Kristus, bukan sekedar beragama Kristen dan hafal ayat-ayat atau katam membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu

Sikap kita kepada orang lain, lebih mencerminkan siapa kita daripada agama apa yang tertulis di KTP kita. Open your mind. Penginjilan tak hanya melalui mimbar gereja dan ayat-ayat Alkitab saja. Hidupmu juga bisa dipakai untuk menginjili orang lain. Do everything with passion and let everyone see Jesus inside you (Kolose 3:23).

Saya terinspirasi dari ucapan seorang Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) ini, "Tidak penting apapun agamamu atau sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yg baik untuk semua orang, orang tidak akan tanya apa agamamu"

Yep, pada akhirnya seseorang akan diingat karena sikap dan tingkah laku selama hidupnya, bukan agama/suku/jabatan/harta/rupanya.

Be a good role model!

Friday, July 08, 2016

Belajar dari Gunung



Oleh: Angelina Kusuma


Gunung, apa yang kamu pikirkan tentangnya?

Jauh sebelum hari ini, saya menganggap gunung itu hanya enak dipandang mata saja namun harus segera dijauhi karena tempat itu berbahaya. Tapi hari ini saya 'hampir' bisa berkata bahwa gunung adalah tempat bermain sekaligus salah satu sekolah/guru yang hebat di dunia.

No, I'm not a mountaineer. Level saya baru pendaki bukit, bukan gunung. Karena sebenarnya yang pantas disebut gunung harus berada di ketinggian 3.000 mdpl lebih. Sementara 'gunung' tertinggi yang pernah saya daki baru Gunung Ijen - Banyuwangi 2.443 mdpl.

1. It is not the mountain we conquer but ourselves (Edmund Hillay)

Saat mendaki gunung, kamu akan tahu siapa kamu yang sebenarnya. Inilah pelajaran pertama yang saya dapat dari mendaki gunung. Bukan gunung yang harus kita taklukan, melainkan diri kita sendiri. Kamu akan tahu kapan kamu harus beristirahat, kamu akan mengenal suara hatimu yang memberimu semangat untuk terus berjalan sampai puncak & turun dengan selamat, dan kamu juga akan mengetahui bahwa kamu termasuk penakut atau pemberani dari kegiatan ini.

2. Each fresh peak ascended teaches something (Sir Martin Convay)

Setiap gunung mempunyai karakternya sendiri-sendiri. Tidak pernah ada yang sama. Saat ingin memulai mendaki sebuah gunung, jangan pernah melihat berapa tingginya saja, karena bisa jadi kamu terbunuh di gunung setinggi 638 mdpl meski kamu pernah lolos di gunung setinggi 2.443 mdpl. Cuaca, kondisi tubuh, keadaan alam dan waktu pendakian...semua memberikan pelajaran yang berbeda kepada setiap pendaki. Semakin sering kamu mendaki gunung, kamu akan belajar bagaimana cara untuk mempersiapkan diri dan segala sesuatunya dengan baik.

3. Mountains are not Stadiums where I satisfy my ambition to achieve, they are the cathedrals where I practice my religion (Anatoli Boukreev)

Gunung mengajarkan kita untuk lebih sadar betapa kecilnya kita diantara indah ciptaan Tuhan. Kesombongan tidak berarti apa-apa di gunung, sebaliknya gunung akan mengajar kita untuk lebih bersyukur kepada Tuhan, menghargai kehidupan dan mengajar kita untuk lebih bijaksana.

4. He who climbs upon the highest mountains laughs at all tragedies, real or imaginary (Friedrich Nietzsche)

Tak ada restoran makanan cepat saji di atas gunung. Tak mungkin juga ada hotel bintang 5 disana. Gunung akan membuatmu sederhana! Makan dan minum seadanya. Tidur di tenda, merasakan dingin dan terik matahari secara langsung. Tak bisa bermanja dan bermalas-malas ria di gunung. Karena itulah, orang-orang yang suka naik gunung akan tumbuh menjadi orang yang mandiri, kuat dan bertanggung jawab dengan sendirinya.

Mendaki gunung akan membentuk karakter kita secara positif asal kita benar-benar belajar darinya. Jangan habiskan waktumu hanya untuk berdiam diri di rumah atau kerja terus di kantor dari pagi hingga malam. Today is your day and your mountain is waiting, so...get on your way!


*Ditulis sekembali dengan selamat dari Gunung Cumbri, Wonogiri

Wednesday, February 24, 2016

Wanita yg seperti wanita


Wanita yg seperti wanita itu yg bagaimana?

Yg pake rok, yg ber-make up, yg kalem, yg bicaranya pelan, yg jalannya lemah gemulai?

Gimana kalo wanita itu lebih sering pake celana, lebih suka manggul ransel daripada nenteng tas centil, lebih milih panjat tebing, mendaki gunung, nyelam di laut daripada ngabisin waktu berjam2 buat dandan benerin gincu & celak, yg ngomongnya kwak-kwak bisa didenger dari jarak 1 km? Apakah lantas dia tak pantas menjadi wanita?

Haiya, kalo standar wanita harus seperti kriteria no. 1, aku mundur!

Let's be smart! Wanita tangguh lebih dibutuhkan di zaman sekarang. Menjadi wanita tangguh juga tak lantas meninggalkan kodrat sebagai wanita tulen kok. Wanita seharusnya dinilai dari kepiawaiannya menempatkan dirinya sesuai dengan lingkungan yg sedang dihadapinya bukan dari penampilan fisik

Wanita yg punya kebiasaan 'laki' bukan berarti dia kepenuhan kromosom Y & bukan wanita lagi. Kadang itu hanyalah cara yg dipakainya untuk menempa dirinya agar bisa survive di dunia yg keras ini. Jadi jangan pernah menilai tingkat kewanitaan wanita dari kulitnya saja. Lihat hatinya, lihat karakternya, lihat tujuan hidupnya...sebelum kamu men-judge dia dengan dalil2 bagaimana seharusnya wanita itu


Note: Kedua foto itu adalah aku *Sumpah! Foto pertama waktu aku naik gunung, no make up, no high heels. Foto kedua waktu aku jadi bridesmaid, with make up and high heels. Jujur, aku lebih suka aku di no. 1, that's the real me! But I also love being no. 2 because I'm a woman