Salah satu ciri backpacker adalah mereka suka mencari penginapan murah (tapi ya ga 'murahan' bangetlah...) yang dekat dengan moda transportasi utama di kota yang mereka singgahi. Bukan karena backpacker ga punya duit buat nginep di hotel berbintang sih, tapi lebih dikarenakan para backpacker punya tujuan yang luasss banget, so mereka perlu menghemat duit buat melanglang-buana ke kota-kota bahkan negara-negara lain. Jadi, kenyamanan tidur di kasur nan empuk dengan wangi aroma terapi kadang tak pernah masuk di list seorang backpacker. Yang penting punya tempat buat tidur aja udah bikin mereka hepi hehe. Lagian ya, backpacker pasti ga akan betah 'menikmati' hotel saat traveling. Biasanya mereka ngluyur dari pagi sampai malam tanpa kakinya pegel! Karenanya, Guesthouse atau Hostel menjadi pilihan cerdas bagi para backpacker.
Ada banyak Guesthouse and Hostel untuk backpacker di Kota Malang. Salah satunya ini nih, SO! Boutique Hostel. Hostel ini termasuk kedalam jaringan RedDoorz, layanan penyedia penginapan murah dengan fasilitas yang ga murahan.
Saya menginap di hostel ini setelah memesannya melalui Agoda. Harga per malam untuk tipe dormitory hanya sekitar 79 ribu. Harga segitu sudah termasuk handuk dan toiletries lho guys (sikat dan pasta gigi). Body soap dan shampoo tersedia di semua shower room. Free Wi-Fi all room. Juga, personal locker untuk menyimpan barang-barang berharga kita.
Lokasinya dekat dengan Stasiun Malang Kota Baru. Hanya sekitar 15 menit jalan kaki. Itulah alasan utama kenapa saya memilih hostel ini. Bangunan hostel terbilang masih baru. Ruangannya juga bersih dan bed-nya cukup lega. Pria dan Wanita dipisah, jadi ga perlu kuatir hoho. Oh ya, SO! Boutique Hostel ini menempati lantai 2. Lantai dasarnya dipakai oleh Fugu Vosco Coffee. Wah, bisa nginep murah sambil ngopi nih!
Bagi seorang backpacker, berhemat pengeluaran selama nge-trip itu wajib hukumnya! Yekan?
Buat kalian yang punya planning backpack-an ke Taiwan dan mendarat di Taoyuan International Airport, kalian bisa memanfaatkan free shower room di bandara ini untuk mandi dan dandan setelah penerbangan dan sebelum nge-trip tentunya.
Meskipun gratis, shower room di Bandara Taoyuan sangat nyaman dan lengkap. Dilengkapi dengan hot and cold water, free body soap and shampoo, space untuk meletakkan barang-barang kita, hair dryer, charging station dan cermin.
Lantainya bersih dan wangi. Ada petugas yang membersihkan ruangan setelah ada pengunjung yang memakai fasilitasnya.
Lokasi free shower room berada setelah pemeriksaan imigrasi. Untuk info lengkapnya, kunjungi: https://www.taoyuan-airport.com/english/store3_detail/Shower
Saya baru kembali dari perjalanan solo saya ke Taiwan beberapa hari lalu. Saya mendapatkan visa ROC (Taiwan) 'free biaya' dengan memanfaatkan visa waiver Jepang yg saya punya (saya sudah 2 kali ke Jepang sebelumnya).
Nah, disini saya ingin berbagi itinerary selama 10 hari perjalanan solo saya di Taiwan (efektif 9 hari di Taiwan). Berangkatnya saya transit 11 jam di Singapore, jadi di itinerary ini juga merekam jejak-jejak saya disana.
Day 1: Singapore
1. Little India
2. Jewel
Day 2: Taipei
1. Qingtiangang Grassland
2. Ximending
Day 3: Taroko Gorge National Park
1. Qixingtan Beach
2. Swallow Grotto Yanzikou Trail
3. Zhuilu Suspension Bridge
4. Changchun (Eternal Spring) Shrine
Day 4: Taipei
1. Yehliu Geopark
2. Yin Yang Sea
3. Golden Waterfall
4. Jiufen Old Street
5. Shifen Waterfall
6. Shifen Old Street
Day 5: Taipei
1. Huashan 1914 Creative Park
2. Chiang Kai-Shek Memorial Hall
3. Presidential Office Building
4. Ximen Walker
Day 6: Taipei
1. Xiangshan (Elephant Mountain)
2. Lengshuikeng
Day 7: Chiayi
1. Fenchihu
2. Alishan Forest Recreation Area
Day 8: Taichung
(Karena bertemu dng Hari Minggu, saya sempatkan beribadah di IFGF Taichung. Gereja ini punya jam ibadah berbahasa Indonesia jam 14.00 siang. Lokasinya dekat dng Feng Chia University dan Feng Chia Night Market)
1. Feng Chia Night Market
Day 9: Taichung
1. Qingjing Farm
Day 10: Taichung
1. Rainbow Village
- Back to Indonesia...
These are 5 famous festivals in Indonesia you must attend : Gandrung Sewu Banyuwangi, Vesak Lantern Borobudur, Yadnya Kasada Bromo, Jember Fashion Carnaval, Grebeg Suro Ponorogo.
Ke Pantai Timang pake Motor Matic? BISA! Saya lady solo traveler yang nanjak ke Pantai Timang dengan Motor Matic :).
Jalanannya offroad. Dan memang sengaja dibiarkan begitu (mungkin) untuk mendatangkan pundi-pundi uang bagi sebagian orang disana. Ya, dengan kondisi jalanan yang menanjak dan berbatu-batu terjal, pastilah pengunjung (yang tak punya nyali sebesar saya hahaha) wajib mengorek kocek lebih dalam untuk mencapai pantainya.
Di gapura depan menuju Pantai Timang, saya dicegat beberapa pria yang menawarkan jasa Ojek & Jeep untuk menuju pantai ini. Tapi karena harga Ojek & Jeep yang ditawarkan terlalu mahal untuk backpacker seperti saya, akhirnya saya tetep nekad memacu Motor Matic yang saya sewa dari Jogja sampai ke Pantai Timang (hahaha...sebenarnya emang dari awal udah niatnya motoran aja sampai pantai).
Setelah beberapa saat motoran, ketemulah saya dengan jalanan offroad...berbatu-batu terjal dan menanjak. Seorang tukang Ojek mengejar saya sampai disini sambil mengumbar kata-kata manis, "Ayo mbak, saya antar sampai pantai...ga bakal kuat Motor Matic-nya sampai ke atas".
"Ah hellow...anda tak tahu sedang berhadapan dengan siapa, sir!", gerutu saya dalam hati. Nyali saya jadi agak menciut juga sih saat mendengarkan kata-kata tukang Ojek itu ditambah Motor Matic saya yang agak ngadat di tengah jalan dan hanya rodanya saja yang berputar. Oh no, masa sih nyerah gitu aja? Tengsin kan?!!
Huh, akhirnya saya berkata-kata agak kesal (baca: mengusir hihihi) sama si tukang Ojek yang terus mengoceh kesana-kemari berusaha untuk menggagalkan usaha saya nanjak ke Pantai Timang dengan Motor Matic. Dan...jrenggg...akhirnya motor saya berhasil melewati satu lubang dan mulai merangkak naik. Begitu melihat saya tak menggubrisnya, si tukang Ojek akhirnya pergi menjauhi saya *sudahlah pak, makhluk yang ada di depan anda sekarang ini punya Gen X Super, jadi tak perlu dianggap sebagai 'wanita' terlalu berlebihan begitu wkwkwk.
Dengan motor yang kondisinya prima dan skill mengemudi yang OK, Pantai Timang akhirnya bisa saya taklukkan dengan MOTOR MATIC!
Oh yah, begitu sampai di pantainya...saya sudah tidak berminat lagi naik Gondola ataupun nyebrang pake Jembatan ke Pulau Watu Panjangnya. Saya cuma ngliatin dari batu karang saja karena saya merasa itu bukan lagi tantangan yang tepat buat saya hahaha. Itu cuma mainan anak-anak hepi yayaya (peace). Adrenalin saya sudah keluar begitu dahsyat saat menanjak dengan Motor Matic sampai ke pantai ini (dan juga kembalinya).
Pantai Timang sendiri rasanya terlalu 'mahal' untuk backpacker seperti saya. Biaya naik Gondola Rp. 150.000. Biaya naik Jembatan Rp. 100.000. Belum lagi biaya Ojek/Jeep. Trus ya, pantai ini juga komersiil cuy. Hampir semua spot foto berbayar, antara Rp. 5.000 - Rp. 30.000. OMG, kalo saya mah ogah disuruh bayar lebih banyak lagi. Saya hanya mengeluarkan uang untuk bayar tiket masuk Rp. 5.000 dan biaya parkir motor Rp. 5.000 (seharusnya ini tidak perlu bayar, saya ketipu kayaknya).
Saat saya sampai lagi di bawah, beberapa tukang Ojek dan pemuda yang tadi melihat saya naik ke Pantai Timang dengan Motor Matic, tak lagi berteriak-teriak menawarkan jasanya. Ahai, mungkin dalam hati mereka mulai berdoa semoga ga ada lagi pengunjung bernyali seperti saya yang bisa bikin ladang duit mereka menyusut wkwkwk.
Sudah lama sekali saya pengen ikutan nerbangin lampion saat Hari Waisak di Borobudur. Event ini masuk ke dalam salah satu 'A must to do list' di hidup saya. Meskipun saya bukan umat Budha, tapi saya tetap antusias untuk mengikuti acaranya.
Prosesi penerbangan lampion di Borobudur pun dikemas bukan hanya untuk umat Budha tetapi juga untuk umum. Karena itu, ketika saya mempunyai kesempatan untuk melakukannya, saya langsung mengemas ransel menuju Borobudur Magelang.
Tiket untuk penerbangan lampion bisa dibeli on the spot di Candi Mendut & Candi Borobudur seharga Rp. 100.000. Harus cepat-cepat saat hunting tiket ya, karena peserta penerbangan lampion di Borobudur selalu meningkat dari tahun ke tahun. Saya sendiri membeli tiket untuk penerbangan lampion di Candi Mendut sekitar jam 11 pagi agar tak kehabisan.
Di tahun 2019 ini, ada sekitar 5000 lampion yang diterbangkan di Borobudur. Penerbangan lampion dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama dimulai pukul 20:00 WIB dan sesi kedua dimulai pukul 22:00 WIB.
Saya mengikuti prosesi penerbangan lampion di sesi kedua dan beruntung sekali karena di sesi kedua ini seluruh peserta diberi kesempatan untuk menerbangkan lampion sebanyak dua kali! *Bonus euy!!
Oh ya, karena ini adalah rangkaian perayaan Hari Raya Waisak, peserta juga dihimbau untuk memakai pakaian yang sopan dan *kalau bisa* berwarna putih seperti dress code yang dipakai oleh umat Budha yang merayakan Waisak disana.