Oleh : Angelina Kusuma
Era Facebook, membawa dampak positif dan negatif bagi penikmatnya. Kemampuan Facebook dalam menghubungkan banyak orang tanpa batasan waktu, tempat, dan keadaan, semakin memudahkan manusia dari berbagai belahan dunia untuk berkomunikasi satu sama lain dan saling bertukar informasi dalam hitungan detik. Sayangnya, Facebook yang sama juga bisa semakin memperburuk hubungan seseorang dengan beberapa orang lainnya.
Beberapa saat yang lalu, seorang sahabat wanita saya menulis di status Facebook-nya tentang kesedihannya karena ia dianggap negatif oleh seseorang yang ada di friends list Facebook-nya. Masalahnya sepele. Hanya karena ia sering menulis hal-hal mengenai masalah pribadinya di status Facebook tersebut, maka orang itu menjauhinya dan berpandangan kurang baik terhadap kehidupan si sahabat wanita saya ini.
Facebook dengan segala keterbukaan informasinya yang tanpa batas, selalu memancing orang untuk iseng. Mulai dari iseng dalam artian yang wajar sampai iseng dalam artian yang merugikan diri sendiri dan orang lain.
Wanita, memang paling sulit mengendalikan lidah dan pikirannya. Konon, dalam sehari wanita bisa berbicara sampai 20.000 kata, sementara pria hanya berbicara sekitar 7.000 kata sehari. Karena kemampuan berbicara wanita juga didukung oleh kinerja otak kanan dan otak kirinya secara bersamaan di satu waktu, wajar jika wanita lebih sulit mengontrol emosinya dibandingkan para pria.
Markus 7:20-23, Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang."
Susunan otak wanita yang menyebabkannya lebih banyak berkata-kata dibandingkan pria, bukanlah alasan yang bisa dibuat untuk menghilangkan dosa. Semua yang keluar dari mulut manusia, baik pria dan wanita, bersumber dari hati.
Ada 13 hal yang menajiskan manusia menurut Markus 7:20-23, yaitu:
1. Pikiran jahat
2. Percabulan
3. Pencurian
4. Pembunuhan
5. Perzihanan
6. Keserakahan
7. Kejatahan
8. Kelicikan
9. Hawa nafsu
10. Iri hati
11. Hujat
12. Kesombongan
13. Kebebalan
Bisa jadi, kita tidak menggunakan mulut kita untuk mengutuki orang lain atau mengomel/mengeluh atas hidup kita secara langsung dan terang-terangan. Tapi, apa yang kita tulis, entah itu di status, wall, atau notes Facebook, account social networking lain, blog, website, atau e-mail, juga bisa diartikan sebagai menggemakan lidah dan itu tetap dihitung sebagai kenajisan jika tidak mendatangkan berkat bagi yang membacanya!
So, kata-kata membangun atau kata-kata kenajisan yang sudah kita tulis di Facebook hari ini?
Ingat, tulisanmu, juga harimaumu lho.
Be careful! (nj@coe)
Amsal 4:23, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Sunday, September 13, 2009
Saturday, September 12, 2009
Karena Pria Juga Ingin Dimengerti
Oleh : Angelina Kusuma
Mejembatani makhluk yang bernama pria dan wanita, perlu kesabaran dan perhatian ekstra dalam hal pemahaman arti perbedaan di antara keduanya. Tidak semua pria mau menempatkan dirinya sebagai wanita, sehingga tak jarang tindakan mereka justru ditanggapi salah oleh wanita. Demikian juga wanita, kadang ia lebih banyak menuntut para pria bisa membaca pikiran mereka sehingga menempatkannya sebagai sosok yang misterius di mata banyak pria.
Jika selama ini ada anggapan bahwa wanita selalu ingin dimengerti, sebenarnya pria-pria juga demikian. Mereka ingin dimengerti juga oleh orang lain, terutama oleh para wanita, sehingga tindakan-tindakan mereka tak lagi dianggap kurang peka, kurang sopan, atau terlalu egois.
Dipercayai
Pagi itu, Lidya meminta Doni untuk mengantarnya ke rumah temannya. Alamat yang mereka ketahui sangat terbatas, ditambah lagi keduanya belum pernah menginjakkan kaki ke daerah tersebut sama sekali sebelumnya.
Lidya: "Yakin bisa nemuin alamatnya?"
Doni: "Bisa!"
Lidya: "Emang udah tahu tempatnya persis?"
Doni: "Belum, tapi kan bisa nanya-nanya di jalan"
Kepercayaan diri Doni akhirnya membuat Lidya mengangguk setuju dan tidak menolak lagi ketika Doni melangkah maju di depannya sebagai pemandu jalan. Karena sama-sama buta lokasi, keduanya terpaksa bertanya kepada orang-orang di sepanjang perjalanan beberapa kali. Ketika mereka nyasar di jalan, Lydia mulai khawatir.
Lidya: "Wah, gimana nie...apa kita balik aja, nggak usah kesana?"
Doni: "Nggak ah. Cuma salah jalan dikit aja. Tinggal balik ke tempat semula, nanya lagi ke orang di sekitar situ. Pasti ketemu."
Untuk kedua kalinya Lidya menuruti kata Doni. Mereka berbalik ke jalan sebelum nyasar dan kembali melanjutkan perjalanan setelah mendapat petunjuk arah baru dari seorang ibu yang melintas di depan mereka. Tak berapa lama kemudian, tempat yang mereka cari-cari mulai terlihat titik terangnya. Dan ketika mereka berdiri di depan rumah teman Lidya dengan selamat, dengan bangga Doni berucap, "Tuh kan, sampai..."
Pria adalah sosok yang sangat perlu dipercayai bahwa mereka sanggup melakukan atau menyelesaikan masalahnya sendirian. Memberi nasehat ketika mereka tidak memintanya, hanya akan membuat para pria gusar karena tak lagi dianggap mampu. Ketika anda sedang berhadapan dengan pria, rem mulut anda untuk tidak memberinya petunjuk/nasehat ini dan itu, seolah anda tahu apa yang terbaik bagi hidupnya. Beri mereka kepercayaan saat berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalahnya dan biarkan mereka berkembang dengan sendirinya. Jika mereka sudah tidak sanggup lagi dan meminta anda untuk membantunya, baru, berilah petunjuk tanpa menggurui agar mereka merasa bahwa anda tetap membutuhkannya dan karenanya mereka merasa dicintai.
Diterima
Pria selalu ingin diterima apa adanya, termasuk menerima kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat dan kekurangan-kekurangan yang mereka punya. Semakin besar kesalahan yang pernah dibuat oleh seorang pria yang bisa diterima oleh wanita, semakin besar juga nilai penghormatan mereka terhadap tindakan wanita tersebut.
Wanita sering kali suka mengkritik pria ketika mereka melakukan kesalahan untuk mengungkapkan kekesalan hatinya. Tapi percayalah, perkataan-perkataan negatif bernada mencela dari wanita yang dilontarkan untuk pria meskipun itu benar, tidak akan membuat mereka insyaf akan kesalahannya, justru akan membuat mereka semakin menjadi-jadi. Pria butuh penerimaan yang tinggi dari wanita dan orang-orang di sekitarnya untuk membuat mereka mau berubah dari kesalahannya. Pria tidak ingin wanita membuatnya merasa bersalah ketika mereka melakukan kesalahan namun menginginkan wanita menerima keterbatasan mereka tersebut.
Tubuh dan penampilan pria lebih mudah berubah dari pada wanita. Jika wanita terbiasa menjaga penampilannya meski ia sedang stress, begitu pria stress, menjaga penampilan tak lagi menarik perhatian mereka. Ketika pria bertambah berat badannya, bertambah grondrong, tak lagi bercukur, atau penampilannya menjadi urakan, mereka tetap ingin diterima sebagaimana keadaan mereka ketika mempunyai berat tubuh yang ideal, rapi, dan bersih. Jika wanita tidak bisa menerima keadaan mereka saat berantakan seperti itu, jangan harap mereka juga akan respect terhadap wanita.
Dihargai
Pria, selalu ingin keluar sebagai hero/penyelamat bagi wanita yang dikasihinya. Tak perduli apakah mereka menunjukkannya dengan cara yang benar atau justru membuat wanita jengah dibuatnya. Hal sekecil apapun yang telah diperbuat oleh seorang pria, perlu dihargai oleh wanita. Ketika seorang wanita tidak menghargai apa yang dilakukan oleh pria baginya, melainkan mengeluh mengenai apa yang tidak dilakukan pria tersebut, akan membuat pria merasa tidak dicintai karenanya. Dari pada memberondong pria dengan pernyataan, "Kok kamu gitu sie?", "Kenapa kamu nggak seperti dia?", "Aku kan maunya bukan yang ini", lebih baik pandang hal-hal positif yang sudah dilakukannya.
Ketika pria lupa melakukan satu hal yang ingin anda ia lakukan, jangan langsung menyerangnya dengan penuh kekecewaan, tapi katakan, "Tak apa kalau sekarang lupa, tapi besok lakuin ya". Ketika pria memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu anda inginkan, tak usah mencela pemberiaannya, tapi katakan, "Makasih ya, ini bagus banget. Tapi kalo boleh sie besok minta yang itu."
Pria sulit menangkap maksut tersembunyi dari wanita. Wanita memiliki intuisi yang membuatnya bisa mengerti sinyal-sinyal halus yang terkirim melalui bahasa tubuh atau perkataan seseorang. Tapi pria terbiasa blak-blakan. Mereka akan merasa dihargai ketika para wanita berbicara dengan kata-kata sederhana kepada mereka, bukan berbelat-belit atau dengan kalimat-kalimat tersirat yang biasa dilakukan wanita dengan sesamanya.
Dikagumi
Wanita mempunyai naluri untuk memperbaiki segala sesuatu. Wanita biasanya ingin mengubah hal-hal yang menurutnya kurang baik dan menjadikannya baik sesuai pandangannya. Naluri ini tidak ada pada pria. Ketika wanita berkata, "Kamu mestinya begini" atau "Kamu harusnya begitu" kepada seorang pria seolah-olah ia adalah seorang anak kecil yang perlu dibimbing dan diberitahu apa yang harus dilakukannya, pria akan kehilangan seleranya kepada wanita tersebut. Pria ingin dikagumi oleh para wanita, bukan dirubah atau diperbaiki.
Pujian dari wanita kepada pria juga perlu. Selama ini, banyak orang mengatakan bahwa wanita kelemahannya ada di telinga atau ketika ia mendengar kata-kata pujian mengenai dirinya. Tapi nyatanya, pria juga suka dipuji lho. Bagi pria, pujian atas apa yang telah mereka lakukan atau untuk hal-hal yang sudah mereka raih, merupakan salah satu tanda bahwa keberadaannya dikagumi dan karenanya mereka akan merasa lebih berarti. Beda arti pujian bagi wanita dan pria adalah, bagi wanita dengan dipuji ia akan merasa dikasihi sementara arti pujian bagi pria sebagai ungkapan kekaguman. Keduanya sama-sama mempunyai kepekaan di telinga.
Disetujui
Jangan heran jika seorang pria terkesan lama dalam masa penjajakan kepada seorang wanita. Jika wanita selalu ingin legalitas atau peresmian dalam segala hal, pria hanya perlu tindakannya disetujui oleh lawan mainnya. Ketika pria mendekatkan diri kepada wanita dan wanita tersebut menyambutnya dengan baik tanpa banyak protes, pria akan merasa bahwa tindakannya itu sudah disetujui oleh wanita, tanpa banyak berpikir mengenai perasaan orang yang bersangkutan. Jika wanita tidak segera memasang batas-batas atas hubungan yang sudah berlangsung itu, bisa jadi pria akan terus melakukan pendekatan tanpa mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan dari hubungan tersebut karena sudah merasa nyaman/disetujui lebih dulu oleh pihak wanita (itulah kenapa banyak kasus 'teman tapi mesra' di dunia ini).
Ketika seorang pria meminta pendapat atas apa yang akan ia lakukan, kebanyakan mereka sebenarnya menginginkan persetujuan dari orang tersebut atas apa yang akan ia lakukan itu, bukan mencari pertimbangan mana yang benar atau mana yang salah.
Dalam kamus pria, mereka selalu ingin menjadi tokoh yang baik bagi wanita. Ketika wanita mengungkapkan perasaan kecewanya secara tak langsung dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab seperti, "Kenapa kamu melakukan itu?", pria akan merasa bahwa figurnya sebagai tokoh yang baik bagi wanita ini hancur.
Dorongan
Pria juga perlu dorongan besar agar mereka menjadi percaya diri atas kekuatannya. Ketika pria hendak membuat keputusan atau mengambil inisitif atas sesuatu dan wanita berusaha memberinya nasehat atau sebaliknya mengecam, pria akan merasa tidak berharga sebagai seseorang yang seharusnya menjadi pemimpin, teladan, panutan, dan contoh bagi orang lain.
Ketika pria mulai terlihat ragu-ragu dalam bertindak, yang ia butuhkan bukan kritikan, nasehat, ataupun bantuan, tapi ia butuh seseorang yang bisa memberinya dorongan semangat yang membangkitkan kemampuannya. Ketika keberadaan seseorang bisa membuatnya merasa sanggup menaklukkan badai dalam hidupnya, bukan melemahkan semangatnya, tak perlu diragukan lagi, ia akan selalu dibutuhkan oleh pria tersebut dalam segala keadaan (nj@coe).
Mejembatani makhluk yang bernama pria dan wanita, perlu kesabaran dan perhatian ekstra dalam hal pemahaman arti perbedaan di antara keduanya. Tidak semua pria mau menempatkan dirinya sebagai wanita, sehingga tak jarang tindakan mereka justru ditanggapi salah oleh wanita. Demikian juga wanita, kadang ia lebih banyak menuntut para pria bisa membaca pikiran mereka sehingga menempatkannya sebagai sosok yang misterius di mata banyak pria.
Jika selama ini ada anggapan bahwa wanita selalu ingin dimengerti, sebenarnya pria-pria juga demikian. Mereka ingin dimengerti juga oleh orang lain, terutama oleh para wanita, sehingga tindakan-tindakan mereka tak lagi dianggap kurang peka, kurang sopan, atau terlalu egois.
Dipercayai
Pagi itu, Lidya meminta Doni untuk mengantarnya ke rumah temannya. Alamat yang mereka ketahui sangat terbatas, ditambah lagi keduanya belum pernah menginjakkan kaki ke daerah tersebut sama sekali sebelumnya.
Lidya: "Yakin bisa nemuin alamatnya?"
Doni: "Bisa!"
Lidya: "Emang udah tahu tempatnya persis?"
Doni: "Belum, tapi kan bisa nanya-nanya di jalan"
Kepercayaan diri Doni akhirnya membuat Lidya mengangguk setuju dan tidak menolak lagi ketika Doni melangkah maju di depannya sebagai pemandu jalan. Karena sama-sama buta lokasi, keduanya terpaksa bertanya kepada orang-orang di sepanjang perjalanan beberapa kali. Ketika mereka nyasar di jalan, Lydia mulai khawatir.
Lidya: "Wah, gimana nie...apa kita balik aja, nggak usah kesana?"
Doni: "Nggak ah. Cuma salah jalan dikit aja. Tinggal balik ke tempat semula, nanya lagi ke orang di sekitar situ. Pasti ketemu."
Untuk kedua kalinya Lidya menuruti kata Doni. Mereka berbalik ke jalan sebelum nyasar dan kembali melanjutkan perjalanan setelah mendapat petunjuk arah baru dari seorang ibu yang melintas di depan mereka. Tak berapa lama kemudian, tempat yang mereka cari-cari mulai terlihat titik terangnya. Dan ketika mereka berdiri di depan rumah teman Lidya dengan selamat, dengan bangga Doni berucap, "Tuh kan, sampai..."
Pria adalah sosok yang sangat perlu dipercayai bahwa mereka sanggup melakukan atau menyelesaikan masalahnya sendirian. Memberi nasehat ketika mereka tidak memintanya, hanya akan membuat para pria gusar karena tak lagi dianggap mampu. Ketika anda sedang berhadapan dengan pria, rem mulut anda untuk tidak memberinya petunjuk/nasehat ini dan itu, seolah anda tahu apa yang terbaik bagi hidupnya. Beri mereka kepercayaan saat berusaha sekuat tenaga untuk menyelesaikan masalahnya dan biarkan mereka berkembang dengan sendirinya. Jika mereka sudah tidak sanggup lagi dan meminta anda untuk membantunya, baru, berilah petunjuk tanpa menggurui agar mereka merasa bahwa anda tetap membutuhkannya dan karenanya mereka merasa dicintai.
Diterima
Pria selalu ingin diterima apa adanya, termasuk menerima kesalahan-kesalahan yang pernah mereka perbuat dan kekurangan-kekurangan yang mereka punya. Semakin besar kesalahan yang pernah dibuat oleh seorang pria yang bisa diterima oleh wanita, semakin besar juga nilai penghormatan mereka terhadap tindakan wanita tersebut.
Wanita sering kali suka mengkritik pria ketika mereka melakukan kesalahan untuk mengungkapkan kekesalan hatinya. Tapi percayalah, perkataan-perkataan negatif bernada mencela dari wanita yang dilontarkan untuk pria meskipun itu benar, tidak akan membuat mereka insyaf akan kesalahannya, justru akan membuat mereka semakin menjadi-jadi. Pria butuh penerimaan yang tinggi dari wanita dan orang-orang di sekitarnya untuk membuat mereka mau berubah dari kesalahannya. Pria tidak ingin wanita membuatnya merasa bersalah ketika mereka melakukan kesalahan namun menginginkan wanita menerima keterbatasan mereka tersebut.
Tubuh dan penampilan pria lebih mudah berubah dari pada wanita. Jika wanita terbiasa menjaga penampilannya meski ia sedang stress, begitu pria stress, menjaga penampilan tak lagi menarik perhatian mereka. Ketika pria bertambah berat badannya, bertambah grondrong, tak lagi bercukur, atau penampilannya menjadi urakan, mereka tetap ingin diterima sebagaimana keadaan mereka ketika mempunyai berat tubuh yang ideal, rapi, dan bersih. Jika wanita tidak bisa menerima keadaan mereka saat berantakan seperti itu, jangan harap mereka juga akan respect terhadap wanita.
Dihargai
Pria, selalu ingin keluar sebagai hero/penyelamat bagi wanita yang dikasihinya. Tak perduli apakah mereka menunjukkannya dengan cara yang benar atau justru membuat wanita jengah dibuatnya. Hal sekecil apapun yang telah diperbuat oleh seorang pria, perlu dihargai oleh wanita. Ketika seorang wanita tidak menghargai apa yang dilakukan oleh pria baginya, melainkan mengeluh mengenai apa yang tidak dilakukan pria tersebut, akan membuat pria merasa tidak dicintai karenanya. Dari pada memberondong pria dengan pernyataan, "Kok kamu gitu sie?", "Kenapa kamu nggak seperti dia?", "Aku kan maunya bukan yang ini", lebih baik pandang hal-hal positif yang sudah dilakukannya.
Ketika pria lupa melakukan satu hal yang ingin anda ia lakukan, jangan langsung menyerangnya dengan penuh kekecewaan, tapi katakan, "Tak apa kalau sekarang lupa, tapi besok lakuin ya". Ketika pria memberikan sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu anda inginkan, tak usah mencela pemberiaannya, tapi katakan, "Makasih ya, ini bagus banget. Tapi kalo boleh sie besok minta yang itu."
Pria sulit menangkap maksut tersembunyi dari wanita. Wanita memiliki intuisi yang membuatnya bisa mengerti sinyal-sinyal halus yang terkirim melalui bahasa tubuh atau perkataan seseorang. Tapi pria terbiasa blak-blakan. Mereka akan merasa dihargai ketika para wanita berbicara dengan kata-kata sederhana kepada mereka, bukan berbelat-belit atau dengan kalimat-kalimat tersirat yang biasa dilakukan wanita dengan sesamanya.
Dikagumi
Wanita mempunyai naluri untuk memperbaiki segala sesuatu. Wanita biasanya ingin mengubah hal-hal yang menurutnya kurang baik dan menjadikannya baik sesuai pandangannya. Naluri ini tidak ada pada pria. Ketika wanita berkata, "Kamu mestinya begini" atau "Kamu harusnya begitu" kepada seorang pria seolah-olah ia adalah seorang anak kecil yang perlu dibimbing dan diberitahu apa yang harus dilakukannya, pria akan kehilangan seleranya kepada wanita tersebut. Pria ingin dikagumi oleh para wanita, bukan dirubah atau diperbaiki.
Pujian dari wanita kepada pria juga perlu. Selama ini, banyak orang mengatakan bahwa wanita kelemahannya ada di telinga atau ketika ia mendengar kata-kata pujian mengenai dirinya. Tapi nyatanya, pria juga suka dipuji lho. Bagi pria, pujian atas apa yang telah mereka lakukan atau untuk hal-hal yang sudah mereka raih, merupakan salah satu tanda bahwa keberadaannya dikagumi dan karenanya mereka akan merasa lebih berarti. Beda arti pujian bagi wanita dan pria adalah, bagi wanita dengan dipuji ia akan merasa dikasihi sementara arti pujian bagi pria sebagai ungkapan kekaguman. Keduanya sama-sama mempunyai kepekaan di telinga.
Disetujui
Jangan heran jika seorang pria terkesan lama dalam masa penjajakan kepada seorang wanita. Jika wanita selalu ingin legalitas atau peresmian dalam segala hal, pria hanya perlu tindakannya disetujui oleh lawan mainnya. Ketika pria mendekatkan diri kepada wanita dan wanita tersebut menyambutnya dengan baik tanpa banyak protes, pria akan merasa bahwa tindakannya itu sudah disetujui oleh wanita, tanpa banyak berpikir mengenai perasaan orang yang bersangkutan. Jika wanita tidak segera memasang batas-batas atas hubungan yang sudah berlangsung itu, bisa jadi pria akan terus melakukan pendekatan tanpa mengatakan apa yang sebenarnya mereka inginkan dari hubungan tersebut karena sudah merasa nyaman/disetujui lebih dulu oleh pihak wanita (itulah kenapa banyak kasus 'teman tapi mesra' di dunia ini).
Ketika seorang pria meminta pendapat atas apa yang akan ia lakukan, kebanyakan mereka sebenarnya menginginkan persetujuan dari orang tersebut atas apa yang akan ia lakukan itu, bukan mencari pertimbangan mana yang benar atau mana yang salah.
Dalam kamus pria, mereka selalu ingin menjadi tokoh yang baik bagi wanita. Ketika wanita mengungkapkan perasaan kecewanya secara tak langsung dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak perlu dijawab seperti, "Kenapa kamu melakukan itu?", pria akan merasa bahwa figurnya sebagai tokoh yang baik bagi wanita ini hancur.
Dorongan
Pria juga perlu dorongan besar agar mereka menjadi percaya diri atas kekuatannya. Ketika pria hendak membuat keputusan atau mengambil inisitif atas sesuatu dan wanita berusaha memberinya nasehat atau sebaliknya mengecam, pria akan merasa tidak berharga sebagai seseorang yang seharusnya menjadi pemimpin, teladan, panutan, dan contoh bagi orang lain.
Ketika pria mulai terlihat ragu-ragu dalam bertindak, yang ia butuhkan bukan kritikan, nasehat, ataupun bantuan, tapi ia butuh seseorang yang bisa memberinya dorongan semangat yang membangkitkan kemampuannya. Ketika keberadaan seseorang bisa membuatnya merasa sanggup menaklukkan badai dalam hidupnya, bukan melemahkan semangatnya, tak perlu diragukan lagi, ia akan selalu dibutuhkan oleh pria tersebut dalam segala keadaan (nj@coe).
Thursday, September 10, 2009
Perbedaan Cara Berkomunikasi Antara Pria dan Wanita
Oleh : Angelina Kusuma
Mungkin, anda sering mendengar pernyataan seperti ini terlontar dari mulut seorang wanita, "Aku bingung deh, kenapa pria itu mundur teratur dari pdkt-nya ke aku ya. Padahal aku udah ngrasa ngasih tanggapan balik lho. Apa ada yang salah dengan tindakanku? Aku kurang ngasih sinyal atau justru kebanyakan ngasih sinyal sampek dia ilfil gitu sekarang?"
Nah, sementara itu, mungkin anda juga pernah mendengar pernyataan seperti ini dari para pria, "Aku nggak paham sama wanita ini. Dibaiki salah, dicueki salah. Dideketin menjauh, dijauhi...eh, malah mendekat. Enaknya diapain coba? Wanita emang makhluk Tuhan yang paling rumit sedunia!"
Jika anda wanita yang sulit mengerti cara berpikir pria, berarti anda masih normal. Itu artinya, anda masih wanita tulen! Dan jika anda pria yang kurang paham dengan tingkah laku wanita, berarti anda juga masih normal. Artinya, anda belum menjadi wanita hehehe.
Sejak awal, pria dan wanita sudah berbeda. Kata John Gray, pria itu dari Mars dan wanita itu dari Venus. Fisik serta mental pria dan wanita, berbeda. Pria hanya bisa menggunakan satu bagian dari otaknya pada satu saat saja, tapi wanita bisa menggunakan seluruh bagian otaknya pada satu saat yang sama. Pria seperti seorang pelari jarak cepat dan wanita lebih punya daya tahan atau keuletan (stamina) yang kuat. Pria memerlukan testosterone (hormon yang berkaitan dengan kekuatan tubuh) ketika menghadapi persoalan, dan wanita lebih memerlukan oxytocin (hormon yang berkaitan dengan kelekatan sosial) saat menghadapi masalah.
Sebuah pepatah berkata, jika anda bertanya kepada seorang pria, "Sekarang jam berapa?", maka ia akan segera melihat ke arlojinya. Tapi jika anda bertanya tentang pertanyaan yang sama itu kepada seorang wanita, tak berapa lama kemudian ia akan bercerita mengenai arloji-arloji cantik yang dilihatnya di pusat perbelanjaan kemarin sore kepada anda.
Women like people; men like things
Ketika dua orang wanita sedang berbicara, topik yang mereka bahas biasanya tak jauh dari kehidupan sehari-harinya. Wanita lebih tertarik berbicara mengenai penampilan mereka (cara make up, diet, acara shopping, dan lain-lain), keluarga mereka (orang tua dan saudara-saudaranya), pernikahan dan anak-anak mereka (bagi yang sudah menikah), pria mana yang sedang menarik perhatian mereka saat ini (bagi yang masih jomblo), pacar mereka (bagi yang sudah berpacaran), hubungannya dengan orang lain (dengan sahabat, rekan sekerja, tetangga, dan lain-lain), sampai urusan-urusan pribadi orang lain yang mereka kenal ataupun yang tidak mereka kenal (bisa membahas berita dari artis A, B, C, yang baru mereka tonton di televisi).
Ketika dua orang pria berbicara, benda, hobby, dan pekerjaan adalah obyek yang mereka sukai. Gadget apa yang sedang mereka buru, barang elektronik apa yang baru saja mereka boyong ke rumah, skor pertandingan sepak bola yang baru saja mereka lihat semalam, hasil modifikasi mobil atau kendaraan pribadi mereka, atau juga masalah tender yang baru saja berhasil mereka dapatkan di kantor.
Meski pria terkesan cuek terhadap pembicaraan mengenai hubungannya dengan manusia lain, bukan berarti mereka tidak suka membicarakannya. Tapi kadarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tingkat ketertarikan mereka saat membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan benda kesayangan mereka, hobby, dan pekerjaan. Demikian juga sebaliknya dengan para wanita.
Wanita berkomunikasi untuk mengekspresikan diri; pria berkomunikasi untuk memecahkan masalah dan bertukar informasi
Susunan otak pria dan wanita berbeda. Otak pria tersekat-sekat secara tegas yang mempengaruhi kemampuan dalam mengelola informasi di kepalanya. Hal ini memungkinkan pria untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di kepalanya, sehingga emosi pria relatif lebih mudah dikendalikan.
Di otak wanita tidak ada sekat-sekat tegasnya seperti pada otak pria. Semua masalah yang dipunyai wanita akan terus berputar-putar di kepalanya. Wanita cenderung melakukan pengulangan atas informasi yang sampai di kepala mereka berkali-kali. Satu-satunya cara untuk menghentikan penumpukan informasi-informasi di kepala wanita adalah dengan mengungkapkannya. Karena itulah wanita suka mengobrol dengan orang lain untuk sekedar menguraikan masalah agar membuatnya lega. Mengobrol membantu otak wanita untuk memilah-milah dan menata informasi-informasi di kepalanya, sehingga emosi mereka bisa stabil kembali setelah sharing dengan orang lain.
Kebiasaan wanita yang satu ini, kadang tidak akan bisa dimengerti oleh para pria. Mereka pikir, mereka harus selalu memberikan solusi atas apa yang diungkapkan oleh pasangan/teman wanita yang mengajaknya bicara/sharing. Padahal, wanita mengajak mereka ngobrol terkadang tidak perlu solusi, hanya perlu didengar karena keunikan otak wanita yang tidak bisa memilah-milah informasi dengan tegas tadi (hanya untuk mengekspresikan diri).
Berbeda dengan wanita, pria berkomunikasi dengan alasan yang agak serius. Ketika pria perlu berkomunikasi artinya mereka sedang perlu penyelesaian atas masalah-masalah mereka dan bertukar informasi (pencerahan istilah macho-nya).
Wanita suka berbicara di tempat khusus; pria lebih suka berbicara di tempat umum
Kebanyakan pria lebih menyukai tempat keramaian untuk mengobrol. Mereka tidak suka mengobrol dengan sesamanya di tempat yang sepi karena topik pembicaraan mereka memang tidaklah terlalu rahasia. Untuk sekedar mendiskusikan skor pertandingan sepak bola semalam, gadget keluaran baru, atau game terbaru yang ingin segera mereka mainkan, tentu tidak perlu tempat khusus yang penuh privacy bukan? Dan mungkin jika dua orang pria kepergok sedang berbicara akrab di tempat yang sepi berduaan, bisa-bisa mereka dianggap sebagai pria abnormal alias gay hehehe.
Wanita berbicara untuk menjalin kedekatan dan mengungkapkan perasaannya secara bebas. Karena topik pembicaraan wanita lebih ke arah personal dan rahasia, maka wanita lebih suka berbicara di tempat-tempat yang tenang dan agak sepi, misalnya cafe, rumah, sampai di toilet mall/plaza/hotel/pusat perbelanjaan lain.
Wanita bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan hubungan; pria lebih suka to the point
Wanita suka banyak bertanya, bahkan bertanya tentang pertanyaan yang mereka sendiri sudah tahu jawabannya atau meski mereka tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan yang telah mereka lontarkan itu dari orang lain. Wanita lebih suka dianggap dirinya 'ada' dengan bertanya ini itu meskipun tampak terlalu boros bahasa di mata para pria.
Pertanyaan wanita seperti, "Aku udah cantik belum?", "Bajuku pantes nggak dengan riasanku?", "Kamu beneran masih cinta sama aku seperti dulu kan?", "Kamu kangen sama aku kan?", dan sebagainya, mungkin akan sangat membosankan bagi pria. Tapi itulah wanita. Meski mereka sudah tahu jawabannya atau tidak butuh jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan itu, mereka akan tetap bertanya untuk memuaskan dirinya!
Berbeda dengan wanita yang suka bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan dengan orang yang ditanyainya, pria tidak terlalu suka bertanya. Bagi pria, banyak bertanya bisa menunjukkan kelemahan dan tanda tak mampu mereka, apalagi jika mereka berada di depan wanita. Pria lebih suka menangani masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaikannya hingga akhir, meski mereka tidak tahu bagaimana caranya dan hanya bermodal tebak-tebakan (karena tidak mau bertanya lebih dulu tadi).
Pria lebih suka to the point ketika ingin berkata-kata. Sikap to the point pria ini kadang membuat orang lain tersakiti atau terperanggah (terkejut-kejut) karena sikapnya yang kurang bisa menjaga perasaan lawan bicara dengan mengatakan apa saja yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir panjang itu.
Dengan memahami perbedaan antara cara pria dan wanita dalam hal berkomunikasi ini, jangan heran lagi jika keduanya sulit mencapai kata sepakat di awal-awal interaksi. Tapi, jika masing-masing pria dan wanita berusaha untuk saling memahami satu sama lain dan mengontrol emosi saat sedang berkomunikasi, tidak ada kemustahilan untuk menyamakan hasil akhirnya karena pada dasarnya perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan antara pria dan wanita itu adalah untuk saling melengkapi, bukan untuk menimbulkan perpecahan (nj@coe).
Mungkin, anda sering mendengar pernyataan seperti ini terlontar dari mulut seorang wanita, "Aku bingung deh, kenapa pria itu mundur teratur dari pdkt-nya ke aku ya. Padahal aku udah ngrasa ngasih tanggapan balik lho. Apa ada yang salah dengan tindakanku? Aku kurang ngasih sinyal atau justru kebanyakan ngasih sinyal sampek dia ilfil gitu sekarang?"
Nah, sementara itu, mungkin anda juga pernah mendengar pernyataan seperti ini dari para pria, "Aku nggak paham sama wanita ini. Dibaiki salah, dicueki salah. Dideketin menjauh, dijauhi...eh, malah mendekat. Enaknya diapain coba? Wanita emang makhluk Tuhan yang paling rumit sedunia!"
Jika anda wanita yang sulit mengerti cara berpikir pria, berarti anda masih normal. Itu artinya, anda masih wanita tulen! Dan jika anda pria yang kurang paham dengan tingkah laku wanita, berarti anda juga masih normal. Artinya, anda belum menjadi wanita hehehe.
Sejak awal, pria dan wanita sudah berbeda. Kata John Gray, pria itu dari Mars dan wanita itu dari Venus. Fisik serta mental pria dan wanita, berbeda. Pria hanya bisa menggunakan satu bagian dari otaknya pada satu saat saja, tapi wanita bisa menggunakan seluruh bagian otaknya pada satu saat yang sama. Pria seperti seorang pelari jarak cepat dan wanita lebih punya daya tahan atau keuletan (stamina) yang kuat. Pria memerlukan testosterone (hormon yang berkaitan dengan kekuatan tubuh) ketika menghadapi persoalan, dan wanita lebih memerlukan oxytocin (hormon yang berkaitan dengan kelekatan sosial) saat menghadapi masalah.
Sebuah pepatah berkata, jika anda bertanya kepada seorang pria, "Sekarang jam berapa?", maka ia akan segera melihat ke arlojinya. Tapi jika anda bertanya tentang pertanyaan yang sama itu kepada seorang wanita, tak berapa lama kemudian ia akan bercerita mengenai arloji-arloji cantik yang dilihatnya di pusat perbelanjaan kemarin sore kepada anda.
Women like people; men like things
Ketika dua orang wanita sedang berbicara, topik yang mereka bahas biasanya tak jauh dari kehidupan sehari-harinya. Wanita lebih tertarik berbicara mengenai penampilan mereka (cara make up, diet, acara shopping, dan lain-lain), keluarga mereka (orang tua dan saudara-saudaranya), pernikahan dan anak-anak mereka (bagi yang sudah menikah), pria mana yang sedang menarik perhatian mereka saat ini (bagi yang masih jomblo), pacar mereka (bagi yang sudah berpacaran), hubungannya dengan orang lain (dengan sahabat, rekan sekerja, tetangga, dan lain-lain), sampai urusan-urusan pribadi orang lain yang mereka kenal ataupun yang tidak mereka kenal (bisa membahas berita dari artis A, B, C, yang baru mereka tonton di televisi).
Ketika dua orang pria berbicara, benda, hobby, dan pekerjaan adalah obyek yang mereka sukai. Gadget apa yang sedang mereka buru, barang elektronik apa yang baru saja mereka boyong ke rumah, skor pertandingan sepak bola yang baru saja mereka lihat semalam, hasil modifikasi mobil atau kendaraan pribadi mereka, atau juga masalah tender yang baru saja berhasil mereka dapatkan di kantor.
Meski pria terkesan cuek terhadap pembicaraan mengenai hubungannya dengan manusia lain, bukan berarti mereka tidak suka membicarakannya. Tapi kadarnya jauh lebih kecil dibandingkan dengan tingkat ketertarikan mereka saat membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan benda kesayangan mereka, hobby, dan pekerjaan. Demikian juga sebaliknya dengan para wanita.
Wanita berkomunikasi untuk mengekspresikan diri; pria berkomunikasi untuk memecahkan masalah dan bertukar informasi
Susunan otak pria dan wanita berbeda. Otak pria tersekat-sekat secara tegas yang mempengaruhi kemampuan dalam mengelola informasi di kepalanya. Hal ini memungkinkan pria untuk memilah dan menyimpan informasi dengan rapi di kepalanya, sehingga emosi pria relatif lebih mudah dikendalikan.
Di otak wanita tidak ada sekat-sekat tegasnya seperti pada otak pria. Semua masalah yang dipunyai wanita akan terus berputar-putar di kepalanya. Wanita cenderung melakukan pengulangan atas informasi yang sampai di kepala mereka berkali-kali. Satu-satunya cara untuk menghentikan penumpukan informasi-informasi di kepala wanita adalah dengan mengungkapkannya. Karena itulah wanita suka mengobrol dengan orang lain untuk sekedar menguraikan masalah agar membuatnya lega. Mengobrol membantu otak wanita untuk memilah-milah dan menata informasi-informasi di kepalanya, sehingga emosi mereka bisa stabil kembali setelah sharing dengan orang lain.
Kebiasaan wanita yang satu ini, kadang tidak akan bisa dimengerti oleh para pria. Mereka pikir, mereka harus selalu memberikan solusi atas apa yang diungkapkan oleh pasangan/teman wanita yang mengajaknya bicara/sharing. Padahal, wanita mengajak mereka ngobrol terkadang tidak perlu solusi, hanya perlu didengar karena keunikan otak wanita yang tidak bisa memilah-milah informasi dengan tegas tadi (hanya untuk mengekspresikan diri).
Berbeda dengan wanita, pria berkomunikasi dengan alasan yang agak serius. Ketika pria perlu berkomunikasi artinya mereka sedang perlu penyelesaian atas masalah-masalah mereka dan bertukar informasi (pencerahan istilah macho-nya).
Wanita suka berbicara di tempat khusus; pria lebih suka berbicara di tempat umum
Kebanyakan pria lebih menyukai tempat keramaian untuk mengobrol. Mereka tidak suka mengobrol dengan sesamanya di tempat yang sepi karena topik pembicaraan mereka memang tidaklah terlalu rahasia. Untuk sekedar mendiskusikan skor pertandingan sepak bola semalam, gadget keluaran baru, atau game terbaru yang ingin segera mereka mainkan, tentu tidak perlu tempat khusus yang penuh privacy bukan? Dan mungkin jika dua orang pria kepergok sedang berbicara akrab di tempat yang sepi berduaan, bisa-bisa mereka dianggap sebagai pria abnormal alias gay hehehe.
Wanita berbicara untuk menjalin kedekatan dan mengungkapkan perasaannya secara bebas. Karena topik pembicaraan wanita lebih ke arah personal dan rahasia, maka wanita lebih suka berbicara di tempat-tempat yang tenang dan agak sepi, misalnya cafe, rumah, sampai di toilet mall/plaza/hotel/pusat perbelanjaan lain.
Wanita bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan hubungan; pria lebih suka to the point
Wanita suka banyak bertanya, bahkan bertanya tentang pertanyaan yang mereka sendiri sudah tahu jawabannya atau meski mereka tidak memerlukan jawaban atas pertanyaan yang telah mereka lontarkan itu dari orang lain. Wanita lebih suka dianggap dirinya 'ada' dengan bertanya ini itu meskipun tampak terlalu boros bahasa di mata para pria.
Pertanyaan wanita seperti, "Aku udah cantik belum?", "Bajuku pantes nggak dengan riasanku?", "Kamu beneran masih cinta sama aku seperti dulu kan?", "Kamu kangen sama aku kan?", dan sebagainya, mungkin akan sangat membosankan bagi pria. Tapi itulah wanita. Meski mereka sudah tahu jawabannya atau tidak butuh jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan itu, mereka akan tetap bertanya untuk memuaskan dirinya!
Berbeda dengan wanita yang suka bertanya untuk menggali informasi dan menjalin kedekatan dengan orang yang ditanyainya, pria tidak terlalu suka bertanya. Bagi pria, banyak bertanya bisa menunjukkan kelemahan dan tanda tak mampu mereka, apalagi jika mereka berada di depan wanita. Pria lebih suka menangani masalahnya sendiri dan berusaha menyelesaikannya hingga akhir, meski mereka tidak tahu bagaimana caranya dan hanya bermodal tebak-tebakan (karena tidak mau bertanya lebih dulu tadi).
Pria lebih suka to the point ketika ingin berkata-kata. Sikap to the point pria ini kadang membuat orang lain tersakiti atau terperanggah (terkejut-kejut) karena sikapnya yang kurang bisa menjaga perasaan lawan bicara dengan mengatakan apa saja yang terlintas di kepalanya tanpa berpikir panjang itu.
Dengan memahami perbedaan antara cara pria dan wanita dalam hal berkomunikasi ini, jangan heran lagi jika keduanya sulit mencapai kata sepakat di awal-awal interaksi. Tapi, jika masing-masing pria dan wanita berusaha untuk saling memahami satu sama lain dan mengontrol emosi saat sedang berkomunikasi, tidak ada kemustahilan untuk menyamakan hasil akhirnya karena pada dasarnya perbedaan yang diciptakan oleh Tuhan antara pria dan wanita itu adalah untuk saling melengkapi, bukan untuk menimbulkan perpecahan (nj@coe).
Wednesday, September 09, 2009
Relationships are Not a Hollywood Drama
Oleh : Angelina Kusuma
Ketika aku melihatnya, terasa debaran-debaran halus merambati hatiku. Tak terasa, pipiku merona saat ia tersenyum padaku. Andai bisa kubuka mulutku, aku akan berterus terang padanya bahwa aku sangat terpesona dengan kerling matanya, langkah-langkah kakinya, sapaan "Hai..."-nya, dan juga sentuhan tangannya yang hangat di jabat erat jari-jariku.
Hahaha, personifikasi orang yang sedang jatuh cinta biasanya digambarkan dengan tulisan-tulisan di atas. It's feel so romantic, rite? Bahkan saat saya menulis kalimat-kalimat tadi itu, rasanya saya juga ikut melambung-lambung ke awan-awan dan berdansa dengan bintang-bintang. Bayangan pangeran berkuda putih nan gagah dengan jubah kebesaran dan pedangnya yang berkilat-kilat, perlahan menghampiri saya...suit...suit...
Oh oh, sayangnya kisah cinta di dunia nyata dan di cerita cinta atau di kisah Hollywood, berbeda. Di novel atau di film, bisa saja bayangan orang yang sedang jatuh cinta semanis kisah Pretty Woman atau seabadi Romeo-Juliet. Tapi di dunia nyata?
Saat pertama kali bergumul tentang pasangan hidup, yang ada dibayangan saya adalah manisnya madu. Saya mendambakan seorang pangeran datang kepada saya, kemudian dengan matanya yang berbinar-binar mengatakan isi hatinya bahwa ia mencinta saya. So sweet...hehehe.
Tapi ketika saya berhadapan dengan relationships yang nyata, mendadak saya syok dibuatnya! Bayangan pangeran tampan dengan gitar dan mawar merahnya lenyap. Tak ada derap sepatu kuda, tak ada lagu cinta, tak ada obralan kata-kata rayuan yang membuat saya klepek-klepek. Yang ada adalah...
Hari itu kami traveling berdua. Bisa dibilang ini sebuah ekstrim dating hahaha. Saya tidak pernah membayangkan akan melakukan hal ini suatu hari nanti saat bergumul tentang pasangan hidup dulu. Bayangan saya, pasangan saya akan mengajak saya menikmati candle light dinner di puncak gedung bertingkat tujuh sambil melihat gemerlapnya lampu-lampu kota atau mengajak saya menyisiri pantai di sore hari sambil bergandengan tangan mesra hihihi. Nyatanya, kami malah hiking! Naik-turun bukit, menyusuri sungai-sungai, menaklukkan tanjankan-tanjakan maut, ke tempat yang belum terjamah banyak manusia!
It's sound a romantic place? Hahaha, iya, tempat yang kami tuju ini memang cukup menawan pemandangannya, sangat hijau, tenang, sejuk, dan cocok untuk 'mojok' berdua tanpa diganggu oleh orang-orang iseng hehehe. Tapi setelah perjalanan berat itu, dua hari saya terkapar. Kaki njarem semua huiks T_T.
Pertama mendaratkan kaki di ujung bukit tempat pendakian, insiden kecil terjadi. Sandal saya licin dan membuat saya terpeleset. Maunya saat itu, dia menolong saya dengan lembut kemudian sambil memapah saya yang abis jatuh ke tepi jalan. Aih, boro-boro dia kelihatan prihatin seperti, "Napa beib, sakit ya...sini-sini kulihat lukanya", dia malah berucap, "Udah tau mo hiking, masih aja pake sandal cantik. Lepas deh sandalnya." Huaaaaaaaa, rontok sudah semua bayangan romantisnya!
Kali kedua kami bersama-sama...
Yeah, sekarang di cafe. Lunch!
Sambil menunggu pesanan makanan, kami ngobrol. Saya baru kali ini diajaknya ke cafe ini. Tempatnya lumayan indah. Dekat dengan area persawahan yang penuh dengan nuansa kehijauan kesukaan saya. Suasana cafe di siang bolong itu juga tidak seberapa banyak pengunjung. Hanya beberapa ekor kucing yang berseliweran di dekat meja kami dan mereka benar-benar membuat saya iri! Abis, dua ekor kucing yang ada itu, lebih tampak mesra dari pada kami berdua huahaha.
Dari pengeras suara cafe tiba-tiba terdengar suara alunan musik. Wuih, feeling-nya udah mo romantis-romantis lagi nie. Suasananya mendukung untuk saling mendekatkan satu sama lain, kalo di film-film membuat dua orang pria dan wanita kemudian saling bertatapan penuh cinta yang berbunga-bunga gitu hahaha. Tapi sayangnya...
Saya: "Kok lagunya gini sie?"
Dia: "Emang kenapa, bagus kan, oldis?"
Saya: "What? Kamu suka lagu kayak gini? Ngantuk tau...mendingan ndengerin Peterpan!"
Dia: "Hah, apa itu Peterpan? Musik ga mutu..."
Haiyaaaaaa, pait...pait...pait...!!!
Semua tips dan kisah cinta yang pernah saya baca di novel dan juga film-film romantis tiba-tiba menjadi kabur semua. Mana itu kicauan burung-burung yang mengelilingi saat cinta datang menyapa, mana itu tatapan penuh cinta yang bertahan sepanjang malam, mana itu ucapan-ucapan penuh cinta sepanjang kereta api? Di kami, yang ada kok seperti peperangan tiap kali berinteraksi hehehe.
Ketika saya bergumul tentang pasangan hidup, saya juga mendambakan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan saya, "Kenapa kamu menjadi Kristen?" dengan sebuah kisah yang wow! Saya ingin calon suami saya adalah seorang pria dengan kisah pertemuan dengan Tuhannya yang bisa membuat mulut saya ternganga lebar.
Begitu saya bertemu dengannya?
Saya juga ternganga luebarrrr. Tapi bukan karena kisah pertemuannya dengan Tuhan yang dramatis. Tapi dengan pernyataannya, "Yang penting kan aku Kristen. Ada lagi yang lebih penting?" Wew, saat mendengar itu, saya langsung mencoretnya dari daftar calon pasangan hidup saya. Alasannya, dia masih cowo belum menjadi pria! Dia harus lahir baru dulu, harus belajar Firman dulu, harus bertumbuh menjadi pria sejati dulu, harus bla bla bla dan bla bla bla!
And what's up, nyatanya...sampai sekarang hanya dialah satu-satunya pria yang mampu membuat saya berarti :) ?!?! Karenanya, saya rela mengatur jam-jam doa saya untuk mendoakannya, menguatkannya, menolongnya menjalin hubungan pribadi dengan Tuhannya yang lebih intim.
Apa ada yang salah dengan motivasi saya? Atau sekarang saya sudah tersesat karena salah memilih jalan hidup? Mungkin iya, mungkin juga tidak hehehe.
Ketika kita mencari kesempurnaan di dunia ini, kehampaanlah yang akan kita temui. Tidak ada relationships semanis novel cinta atau film Hollywood. Tidak ada pangeran berkuda putih seperti di dongeng disini. When you found someone and your life change to be positive, that is your true love.
Mungkin yang ada di depanmu saat ini bukan seseorang yang sempurna. Tapi ketika dengan berjalan bersamamu, ia dan kamu bisa saling menyempurnakan, that's love. Bukan awalnya yang harus sempurna dalam suatu kisah, tapi bagaimana akhirnya yang seharusnya menjadi sempurna. Relationships are not a Hollywood drama that full romantic story, but it's a war in faith. Saat imanmu, kesabaranmu, pengharapanmu, dan kesetiaanmu diuji bertambah teguh karena kehadirannya dan ada gerakan saling membangun satu sama lain, itulah relationships. Relationships adalah tahap menyatukan dua pribadi yang penuh perbedaan. Tidak ada saling menuntut disana. Yang ada, gesekan yang menajamkan satu sama lain dan akhirnya keduanya benar-benar menjadi 'lain' dari sebelumnya.
So, jangan hafalkan teori-teori cinta saat jatuh cinta. Jangan terpengaruh novel atau film romantis saat menjalin hubungan dengan lawan jenismu. Wake up! You are in the real world, not in a legend. In the real world, you must fighting to get a goodness, not just a fantasy (nj@coe).
Ketika aku melihatnya, terasa debaran-debaran halus merambati hatiku. Tak terasa, pipiku merona saat ia tersenyum padaku. Andai bisa kubuka mulutku, aku akan berterus terang padanya bahwa aku sangat terpesona dengan kerling matanya, langkah-langkah kakinya, sapaan "Hai..."-nya, dan juga sentuhan tangannya yang hangat di jabat erat jari-jariku.
Hahaha, personifikasi orang yang sedang jatuh cinta biasanya digambarkan dengan tulisan-tulisan di atas. It's feel so romantic, rite? Bahkan saat saya menulis kalimat-kalimat tadi itu, rasanya saya juga ikut melambung-lambung ke awan-awan dan berdansa dengan bintang-bintang. Bayangan pangeran berkuda putih nan gagah dengan jubah kebesaran dan pedangnya yang berkilat-kilat, perlahan menghampiri saya...suit...suit...
Oh oh, sayangnya kisah cinta di dunia nyata dan di cerita cinta atau di kisah Hollywood, berbeda. Di novel atau di film, bisa saja bayangan orang yang sedang jatuh cinta semanis kisah Pretty Woman atau seabadi Romeo-Juliet. Tapi di dunia nyata?
Saat pertama kali bergumul tentang pasangan hidup, yang ada dibayangan saya adalah manisnya madu. Saya mendambakan seorang pangeran datang kepada saya, kemudian dengan matanya yang berbinar-binar mengatakan isi hatinya bahwa ia mencinta saya. So sweet...hehehe.
Tapi ketika saya berhadapan dengan relationships yang nyata, mendadak saya syok dibuatnya! Bayangan pangeran tampan dengan gitar dan mawar merahnya lenyap. Tak ada derap sepatu kuda, tak ada lagu cinta, tak ada obralan kata-kata rayuan yang membuat saya klepek-klepek. Yang ada adalah...
Hari itu kami traveling berdua. Bisa dibilang ini sebuah ekstrim dating hahaha. Saya tidak pernah membayangkan akan melakukan hal ini suatu hari nanti saat bergumul tentang pasangan hidup dulu. Bayangan saya, pasangan saya akan mengajak saya menikmati candle light dinner di puncak gedung bertingkat tujuh sambil melihat gemerlapnya lampu-lampu kota atau mengajak saya menyisiri pantai di sore hari sambil bergandengan tangan mesra hihihi. Nyatanya, kami malah hiking! Naik-turun bukit, menyusuri sungai-sungai, menaklukkan tanjankan-tanjakan maut, ke tempat yang belum terjamah banyak manusia!
It's sound a romantic place? Hahaha, iya, tempat yang kami tuju ini memang cukup menawan pemandangannya, sangat hijau, tenang, sejuk, dan cocok untuk 'mojok' berdua tanpa diganggu oleh orang-orang iseng hehehe. Tapi setelah perjalanan berat itu, dua hari saya terkapar. Kaki njarem semua huiks T_T.
Pertama mendaratkan kaki di ujung bukit tempat pendakian, insiden kecil terjadi. Sandal saya licin dan membuat saya terpeleset. Maunya saat itu, dia menolong saya dengan lembut kemudian sambil memapah saya yang abis jatuh ke tepi jalan. Aih, boro-boro dia kelihatan prihatin seperti, "Napa beib, sakit ya...sini-sini kulihat lukanya", dia malah berucap, "Udah tau mo hiking, masih aja pake sandal cantik. Lepas deh sandalnya." Huaaaaaaaa, rontok sudah semua bayangan romantisnya!
Kali kedua kami bersama-sama...
Yeah, sekarang di cafe. Lunch!
Sambil menunggu pesanan makanan, kami ngobrol. Saya baru kali ini diajaknya ke cafe ini. Tempatnya lumayan indah. Dekat dengan area persawahan yang penuh dengan nuansa kehijauan kesukaan saya. Suasana cafe di siang bolong itu juga tidak seberapa banyak pengunjung. Hanya beberapa ekor kucing yang berseliweran di dekat meja kami dan mereka benar-benar membuat saya iri! Abis, dua ekor kucing yang ada itu, lebih tampak mesra dari pada kami berdua huahaha.
Dari pengeras suara cafe tiba-tiba terdengar suara alunan musik. Wuih, feeling-nya udah mo romantis-romantis lagi nie. Suasananya mendukung untuk saling mendekatkan satu sama lain, kalo di film-film membuat dua orang pria dan wanita kemudian saling bertatapan penuh cinta yang berbunga-bunga gitu hahaha. Tapi sayangnya...
Saya: "Kok lagunya gini sie?"
Dia: "Emang kenapa, bagus kan, oldis?"
Saya: "What? Kamu suka lagu kayak gini? Ngantuk tau...mendingan ndengerin Peterpan!"
Dia: "Hah, apa itu Peterpan? Musik ga mutu..."
Haiyaaaaaa, pait...pait...pait...!!!
Semua tips dan kisah cinta yang pernah saya baca di novel dan juga film-film romantis tiba-tiba menjadi kabur semua. Mana itu kicauan burung-burung yang mengelilingi saat cinta datang menyapa, mana itu tatapan penuh cinta yang bertahan sepanjang malam, mana itu ucapan-ucapan penuh cinta sepanjang kereta api? Di kami, yang ada kok seperti peperangan tiap kali berinteraksi hehehe.
Ketika saya bergumul tentang pasangan hidup, saya juga mendambakan seseorang yang bisa menjawab pertanyaan saya, "Kenapa kamu menjadi Kristen?" dengan sebuah kisah yang wow! Saya ingin calon suami saya adalah seorang pria dengan kisah pertemuan dengan Tuhannya yang bisa membuat mulut saya ternganga lebar.
Begitu saya bertemu dengannya?
Saya juga ternganga luebarrrr. Tapi bukan karena kisah pertemuannya dengan Tuhan yang dramatis. Tapi dengan pernyataannya, "Yang penting kan aku Kristen. Ada lagi yang lebih penting?" Wew, saat mendengar itu, saya langsung mencoretnya dari daftar calon pasangan hidup saya. Alasannya, dia masih cowo belum menjadi pria! Dia harus lahir baru dulu, harus belajar Firman dulu, harus bertumbuh menjadi pria sejati dulu, harus bla bla bla dan bla bla bla!
And what's up, nyatanya...sampai sekarang hanya dialah satu-satunya pria yang mampu membuat saya berarti :) ?!?! Karenanya, saya rela mengatur jam-jam doa saya untuk mendoakannya, menguatkannya, menolongnya menjalin hubungan pribadi dengan Tuhannya yang lebih intim.
Apa ada yang salah dengan motivasi saya? Atau sekarang saya sudah tersesat karena salah memilih jalan hidup? Mungkin iya, mungkin juga tidak hehehe.
Ketika kita mencari kesempurnaan di dunia ini, kehampaanlah yang akan kita temui. Tidak ada relationships semanis novel cinta atau film Hollywood. Tidak ada pangeran berkuda putih seperti di dongeng disini. When you found someone and your life change to be positive, that is your true love.
Mungkin yang ada di depanmu saat ini bukan seseorang yang sempurna. Tapi ketika dengan berjalan bersamamu, ia dan kamu bisa saling menyempurnakan, that's love. Bukan awalnya yang harus sempurna dalam suatu kisah, tapi bagaimana akhirnya yang seharusnya menjadi sempurna. Relationships are not a Hollywood drama that full romantic story, but it's a war in faith. Saat imanmu, kesabaranmu, pengharapanmu, dan kesetiaanmu diuji bertambah teguh karena kehadirannya dan ada gerakan saling membangun satu sama lain, itulah relationships. Relationships adalah tahap menyatukan dua pribadi yang penuh perbedaan. Tidak ada saling menuntut disana. Yang ada, gesekan yang menajamkan satu sama lain dan akhirnya keduanya benar-benar menjadi 'lain' dari sebelumnya.
So, jangan hafalkan teori-teori cinta saat jatuh cinta. Jangan terpengaruh novel atau film romantis saat menjalin hubungan dengan lawan jenismu. Wake up! You are in the real world, not in a legend. In the real world, you must fighting to get a goodness, not just a fantasy (nj@coe).
Sunday, September 06, 2009
Bersyukur
Oleh : Angelina Kusuma
Bersyukur pasti sangat mudah dilakukan saat berkat-berkat Tuhan melimpah dalam hidup kita. Mungkin juga kata-kata seperti "Halleluya, terpujilah Tuhan" atau "Terima kasih Tuhan", akan meluncur lancar dari mulut kita saat kita dalam keadaan senang, gembira, sukacita, berkelimpahan berkat, dan lain-lain. Tetapi pernahkah kata-kata seperti itu sering kita ucapkan juga saat keadaan kita sedang terpuruk, susah, dan jauh dari kata cukup?
Disaat usaha atau bisnis anda hampir bangkrut, pernahkah anda mengucap syukur kepada Tuhan untuk keadaan tersebut? Disaat anda terkena musibah, kehilangan harta, orang yang anda kasihi meninggal, pernahkah anda berterima kasih kepada Tuhan untuk semua itu?
Disaat salah satu anggota keluarga anda hampir dipenjara atau berurusan dengan hukum karena melakukan kesalahan yang memalukan dan untuk menyelamatkan nama keluarga anda harus mengeluarkan uang tebusan dalam jumlah yang besar, apakah disaat itu pula anda masih mengingat bahwa Tuhan tetap baik dan tidak mencaci maki anggota keluarga anda itu karena kebodohannya?
Disaat orang yang sangat anda percayai mengkhianati anda, apakah disaat itu juga anda masih bisa berkata, "Saya bersyukur atas semua anugerah-Mu Tuhan", atau anda memilih menampar orang yang mengkhianati anda itu untuk menumpahkan kekesalan anda?
Masalah hidup manusia kian bertambah rumit dari hari ke hari. Saat ini alam dan kehidupan manusia sedang berjalan ke arah yang tak terkendali. Bencana alam terjadi dimana-mana, manusia-manusia berontak dari himpitan hidupnya yang semakin berat, aksi demo terjadi dimana-mana, penggangguran makin tak terhitung jumlahnya, terjadi aksi sikut-menyikut, bisnis gelap, korupsi, kolusi merajalela, semua menuju ke kehidupan yang jorok dan bobrok. Apakah disaat seperti ini masih ada kalimat, "Syukur ..." yang murni di hadapan Tuhan?
1 Tesalonika 5:18, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Mudah untuk menerapkan kata-kata Rasul Paulus diatas saat kehidupan kita dalam keadaan yang baik-baik saja. Tapi, pastilah amat sulit melakukannya jika kita menerapkan kata-kata tersebut sambil memandang ke arah ’gunung’ yang ada didalam hidup kita.
Apakah ‘gunung’ di hidup anda sekarang? Bisa jadi, itu adalah usaha anda yang hampir bangkrut, keluarga anda yang berantakan, kepahitan-kepahitan dari masa lalu anda, sakit-penyakit, rusaknya hubungan anda dengan teman, kekasih, rekan kerja, orang tua, keluarga, dan sebagainya.
Jika kita terus memandang ‘gunung-gunung’ persoalan dalam kehidupan kita, pastilah ucapan syukur yang tulus tidak akan bisa terlepas dari mulut kita kepada Tuhan. Yang terjadi mungkin sebaliknya. Kita tidak akan lagi bersyukur kepada-Nya, dan mulai merengek-rengek serta menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah terjadi. Padahal, bukankah Tuhan sudah memberikan kita kuasa untuk memindahkan ‘gunung-gunung’ itu ke dalam lautan?
Matius 21:21, Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi".
Hanya keteguhan iman yang bisa membuat kita selalu bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan seperti apapun juga.
Jika kita masih bisa makan, berpakaian dengan layak, dan tidur di tempat yang aman, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang saat ini ada di tenda-tenda pengungsian karena rumah dan harta mereka lenyap dilanda bencana alam?
Jika kita masih bisa bekerja di sebuah kantor meskipun dengan gaji yang kecil, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang sampai saat ini masih menganggur dan hanya bergantung dari belas kasihan orang lain untuk mendapatkan sesuap nasi di lorong-lorong jalanan?
Jika kita masih bisa naik kendaraan meskipun itu hanyalah sebuah angkutan umum, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang harus berjalan berkilo-kilo meter karena belum ada satupun kendaraan yang bisa mencapai daerah mereka yang terisolir dan primitif?
Kita masih termasuk dalam golongan orang-orang yang lebih beruntung dari pada ratusan bahkan ribuan pengemis, anak-anak jalanan, para gelandangan, para terpidana mati, para penyandang cacat, penduduk di wilayah pedalaman, dan orang-orang korban perang, bencana alam, dan tindak kejahatan yang terjadi di dunia ini! Jika benar demikian, kenapa kita tidak mulai bersyukur kepada Tuhan hari ini? (nj@coe)
Bersyukur pasti sangat mudah dilakukan saat berkat-berkat Tuhan melimpah dalam hidup kita. Mungkin juga kata-kata seperti "Halleluya, terpujilah Tuhan" atau "Terima kasih Tuhan", akan meluncur lancar dari mulut kita saat kita dalam keadaan senang, gembira, sukacita, berkelimpahan berkat, dan lain-lain. Tetapi pernahkah kata-kata seperti itu sering kita ucapkan juga saat keadaan kita sedang terpuruk, susah, dan jauh dari kata cukup?
Disaat usaha atau bisnis anda hampir bangkrut, pernahkah anda mengucap syukur kepada Tuhan untuk keadaan tersebut? Disaat anda terkena musibah, kehilangan harta, orang yang anda kasihi meninggal, pernahkah anda berterima kasih kepada Tuhan untuk semua itu?
Disaat salah satu anggota keluarga anda hampir dipenjara atau berurusan dengan hukum karena melakukan kesalahan yang memalukan dan untuk menyelamatkan nama keluarga anda harus mengeluarkan uang tebusan dalam jumlah yang besar, apakah disaat itu pula anda masih mengingat bahwa Tuhan tetap baik dan tidak mencaci maki anggota keluarga anda itu karena kebodohannya?
Disaat orang yang sangat anda percayai mengkhianati anda, apakah disaat itu juga anda masih bisa berkata, "Saya bersyukur atas semua anugerah-Mu Tuhan", atau anda memilih menampar orang yang mengkhianati anda itu untuk menumpahkan kekesalan anda?
Masalah hidup manusia kian bertambah rumit dari hari ke hari. Saat ini alam dan kehidupan manusia sedang berjalan ke arah yang tak terkendali. Bencana alam terjadi dimana-mana, manusia-manusia berontak dari himpitan hidupnya yang semakin berat, aksi demo terjadi dimana-mana, penggangguran makin tak terhitung jumlahnya, terjadi aksi sikut-menyikut, bisnis gelap, korupsi, kolusi merajalela, semua menuju ke kehidupan yang jorok dan bobrok. Apakah disaat seperti ini masih ada kalimat, "Syukur ..." yang murni di hadapan Tuhan?
1 Tesalonika 5:18, Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Mudah untuk menerapkan kata-kata Rasul Paulus diatas saat kehidupan kita dalam keadaan yang baik-baik saja. Tapi, pastilah amat sulit melakukannya jika kita menerapkan kata-kata tersebut sambil memandang ke arah ’gunung’ yang ada didalam hidup kita.
Apakah ‘gunung’ di hidup anda sekarang? Bisa jadi, itu adalah usaha anda yang hampir bangkrut, keluarga anda yang berantakan, kepahitan-kepahitan dari masa lalu anda, sakit-penyakit, rusaknya hubungan anda dengan teman, kekasih, rekan kerja, orang tua, keluarga, dan sebagainya.
Jika kita terus memandang ‘gunung-gunung’ persoalan dalam kehidupan kita, pastilah ucapan syukur yang tulus tidak akan bisa terlepas dari mulut kita kepada Tuhan. Yang terjadi mungkin sebaliknya. Kita tidak akan lagi bersyukur kepada-Nya, dan mulai merengek-rengek serta menyalahkan Tuhan atas apa yang sudah terjadi. Padahal, bukankah Tuhan sudah memberikan kita kuasa untuk memindahkan ‘gunung-gunung’ itu ke dalam lautan?
Matius 21:21, Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi".
Hanya keteguhan iman yang bisa membuat kita selalu bersyukur kepada Tuhan dalam keadaan seperti apapun juga.
Jika kita masih bisa makan, berpakaian dengan layak, dan tidur di tempat yang aman, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang saat ini ada di tenda-tenda pengungsian karena rumah dan harta mereka lenyap dilanda bencana alam?
Jika kita masih bisa bekerja di sebuah kantor meskipun dengan gaji yang kecil, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang sampai saat ini masih menganggur dan hanya bergantung dari belas kasihan orang lain untuk mendapatkan sesuap nasi di lorong-lorong jalanan?
Jika kita masih bisa naik kendaraan meskipun itu hanyalah sebuah angkutan umum, bukankah kita masih lebih beruntung dari pada mereka yang harus berjalan berkilo-kilo meter karena belum ada satupun kendaraan yang bisa mencapai daerah mereka yang terisolir dan primitif?
Kita masih termasuk dalam golongan orang-orang yang lebih beruntung dari pada ratusan bahkan ribuan pengemis, anak-anak jalanan, para gelandangan, para terpidana mati, para penyandang cacat, penduduk di wilayah pedalaman, dan orang-orang korban perang, bencana alam, dan tindak kejahatan yang terjadi di dunia ini! Jika benar demikian, kenapa kita tidak mulai bersyukur kepada Tuhan hari ini? (nj@coe)
Thursday, September 03, 2009
Mari Mengeluh!
Oleh : Angelina Kusuma
"Hari ini...bangun telad. Berangkat ke kantor kena macet di tol. Sampai di kantor dimarahi pimpinan. Kerjaan numpuk. Client rewel semua. Harus lembur sampai malam. Perjalanan pulang ke rumah kehujanan. Eh, sampai di rumah kunci kamar hilang! Lapar, jengkel, badan kayak digebukin orang sekampung, nggak bisa istirahat tenang lagi. Aduh pusiiiing...@#$%^!*#$#&($&($^(*!#!!!!!"
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kalimat, pasti tidak akan pernah bisa menampung semua keluhan-keluhan yang ingin kita sampaikan setiap hari. Kekurangan ini, kekurangan itu...selalu ada hal-hal kurang baik yang ingin kita rubah dari hidup kita. Yang masih mengganggur ingin bekerja, yang sudah bekerja ingin kaya, yang sudah kaya ingin bertambah kaya lagi. Ada tingkatan-tingkatan lebih tinggi yang membuat mata kita 'hijau' bila membandingkannya dengan apa yang tidak kita miliki.
Mazmur 32:3, Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.
Daud berkata, mengeluh sepanjang hari membuatnya lesu. Ketika kita hanya memandang kekurangan-kekurangan yang ada, semangat untuk menjalani hidup akan hilang dengan sendirinya. Mengeluh tentang keadaan atau kehidupan kita tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi malah seperti menambahkan beban lain pada masalahnya 10 kali lipat!
Tapi, ada juga mengeluh yang diperbolehkan lho?
Ratapan 3:39, Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!
Mengeluh tentang dosa!
Pernahkah anda melakukannya? Mengeluh tentang dosa-dosa yang telah anda perbuat selama hidup anda?
Bayangkan jika semua orang melakukan hal ini setiap waktu. Mengeluh karena telah berbuat kurang sopan kepada orang lain, mengeluh karena telah berbohong, mengeluh karena telah mencuri, mengeluh karena telah melukai hati orang lain, mengeluh karena menyimpan kepahitan, iri, dan dengki, mengeluh karena membunuh, merampok, berzinah, mengeluh karena mendukakan hati Bapa, dan sebagainya.
Kata dasar dari mengeluh adalah keluh yang artinya suara yang keluar oleh karena perasaan susah atau kesal. Mengeluh berarti mengeluarkan rasa susah atau kesal terhadap obyek yang dituju. Jika manusia mengeluh tentang apa yang kurang dari hidupnya, jelaslah bahwa hal itu membawa muatan negatif yang akan menambah beban hidup manusia semakin bertambah berat. Tapi jika manusia mengeluh karena dosa-dosanya? Dalam hitungan menit, dunia pasti penuh dengan jiwa-jiwa baru yang bertobat hari ini! :)
Stop, mengeluh tentang papamu, mamamu, adikmu, kakakmu, keluargamu, pekerjaanmu, keuanganmu, study-mu, kesehatanmu, penampilanmu, teman-temanmu, tetanggamu, statusmu, kehidupanmu...hari ini juga!
Tapi mengeluhlah tentang dosa-dosamu! Tumpahkan kekesalanmu padanya, benci dia, bersedihlah karena dosa-dosamu, dan berbaliklah dari jalan-jalan yang jahat. Dengan begitu, mengeluh yang anda lakukan akan membuat anda tampil beda dari dunia ini karena anda sudah dilepaskan dari hukuman dan maut! So, mari kita mengeluh...tentang dosa! (nj@coe)
"Hari ini...bangun telad. Berangkat ke kantor kena macet di tol. Sampai di kantor dimarahi pimpinan. Kerjaan numpuk. Client rewel semua. Harus lembur sampai malam. Perjalanan pulang ke rumah kehujanan. Eh, sampai di rumah kunci kamar hilang! Lapar, jengkel, badan kayak digebukin orang sekampung, nggak bisa istirahat tenang lagi. Aduh pusiiiing...@#$%^!*#$#&($&($^(*!#!!!!!"
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kalimat, pasti tidak akan pernah bisa menampung semua keluhan-keluhan yang ingin kita sampaikan setiap hari. Kekurangan ini, kekurangan itu...selalu ada hal-hal kurang baik yang ingin kita rubah dari hidup kita. Yang masih mengganggur ingin bekerja, yang sudah bekerja ingin kaya, yang sudah kaya ingin bertambah kaya lagi. Ada tingkatan-tingkatan lebih tinggi yang membuat mata kita 'hijau' bila membandingkannya dengan apa yang tidak kita miliki.
Mazmur 32:3, Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.
Daud berkata, mengeluh sepanjang hari membuatnya lesu. Ketika kita hanya memandang kekurangan-kekurangan yang ada, semangat untuk menjalani hidup akan hilang dengan sendirinya. Mengeluh tentang keadaan atau kehidupan kita tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi malah seperti menambahkan beban lain pada masalahnya 10 kali lipat!
Tapi, ada juga mengeluh yang diperbolehkan lho?
Ratapan 3:39, Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!
Mengeluh tentang dosa!
Pernahkah anda melakukannya? Mengeluh tentang dosa-dosa yang telah anda perbuat selama hidup anda?
Bayangkan jika semua orang melakukan hal ini setiap waktu. Mengeluh karena telah berbuat kurang sopan kepada orang lain, mengeluh karena telah berbohong, mengeluh karena telah mencuri, mengeluh karena telah melukai hati orang lain, mengeluh karena menyimpan kepahitan, iri, dan dengki, mengeluh karena membunuh, merampok, berzinah, mengeluh karena mendukakan hati Bapa, dan sebagainya.
Kata dasar dari mengeluh adalah keluh yang artinya suara yang keluar oleh karena perasaan susah atau kesal. Mengeluh berarti mengeluarkan rasa susah atau kesal terhadap obyek yang dituju. Jika manusia mengeluh tentang apa yang kurang dari hidupnya, jelaslah bahwa hal itu membawa muatan negatif yang akan menambah beban hidup manusia semakin bertambah berat. Tapi jika manusia mengeluh karena dosa-dosanya? Dalam hitungan menit, dunia pasti penuh dengan jiwa-jiwa baru yang bertobat hari ini! :)
Stop, mengeluh tentang papamu, mamamu, adikmu, kakakmu, keluargamu, pekerjaanmu, keuanganmu, study-mu, kesehatanmu, penampilanmu, teman-temanmu, tetanggamu, statusmu, kehidupanmu...hari ini juga!
Tapi mengeluhlah tentang dosa-dosamu! Tumpahkan kekesalanmu padanya, benci dia, bersedihlah karena dosa-dosamu, dan berbaliklah dari jalan-jalan yang jahat. Dengan begitu, mengeluh yang anda lakukan akan membuat anda tampil beda dari dunia ini karena anda sudah dilepaskan dari hukuman dan maut! So, mari kita mengeluh...tentang dosa! (nj@coe)
Wednesday, September 02, 2009
Approach your marriage by keep holiness
Oleh : Angelina Kusuma
Sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran, akhirnya sepakat untuk segera mengikat janji suci di pernikahan kudus gereja. Menjelang pemberkatan nikah, sang pria nampak gagah dengan tuxedo-nya dan sang wanita terlihat begitu anggun dengan gaun putihnya. Keduanya terlihat sangat bahagia menyambut hari penting yang akan terjadi sekali seumur hidup tersebut.
Sambil menunggu pendeta yang akan memberikan pemberkatan nikah kepada mereka datang, kedua calon mempelai menyempatkan diri berkeliling halaman gereja yang mempunyai pemandangan sangat menawan. Dengan gembira, keduanya menikmati taman-taman dan kolam-kolam yang ada di sekitar gereja sepuas-puasnya. Ketika hendak mengabadikan keindahan tempat itu dengan kamera foto, terjadilah kecelakaan kecil. Sang wanita yang sedang asyik berpose, tergelincir ke kubangan tanah berlumpur sehingga membuat gaun putihnya ternoda.
Pendeta yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang! Semua undangan dan keluarga mempelai bersiap-siap di dalam gedung gereja dan menanti acara pelaksanaan pemberkatan nikah kedua mempelai berbahagia.
Ketika pintu gereja dibuka dan kedua mempelai mulai menapaki lorong gereja menuju mimbar, semua mata tertuju kepada mereka. Mempelai wanita tampak meneteskan air mata tak henti-hentinya. Apakah mempelai wanita tersebut menangis karena terlalu bahagia menyambut pernikahannya yang sebentar lagi diberkati oleh pendeta di altar gereja?
Oh tidak! Rupanya mempelai wanita itu menangis karena gaun putihnya ternoda akibat insiden kecil di taman gereja menjelang pemberkatan nikah tadi!
Penyesalan biasanya selalu datang terlambat. Moment yang seharusnya berakhir bahagia, bisa rusak ketika kita tidak menjaga diri dan berhati-hati dalam bertindak.
Gaun putih yang dikenakan oleh pengantin, berbicara mengenai kekudusan. Sesuatu yang menimpa kain putih, selalu meninggalkan noda padanya. Meski sudah dicuci puluhan kali, noda pada kain putih akan sulit dihilangkan seutuhnya dan detergent paling mahal sekalipun tidak akan bisa mengembalikan kain putih bernoda itu menjadi seperti baru lagi.
Ketika dua orang lawan jenis membiarkan diri mereka dimabuk asmara saat menjalin kedekatan, kadang keduanya bisa lupa menjaga kekudusan diri masing-masing. Seperti kedua calon mempelai yang karena terlalu bahagia menikmati suasana menawan di taman gereja, sampai tidak memperhatikan ada kubangan berlumpur di tanah yang membuat gaun putih mereka ternoda sebelum pemberkatan nikah terjadi. Jika kita tidak berhati-hati saat berhubungan dengan lawan jenis, kita juga bisa menyebabkan gaun putih kita ternoda sebelum janji suci pernikahan itu terucap di altar gereja.
Gaun putih seorang pengantin tidak hanya sebatas baju yang akan dikenakannya saat menikah nanti. Gaun putih kita merupakan tanda kehormatan sebagai pria dan wanita berkarakter Kristus yang menjaga dirinya terhadap perzinahan dan kenajisan fisik dan rohani sebelum tiba waktunya resmi menjadi suami istri.
Engkau tahu, tubuhmu hanya satu. Maka, jaga tubuhmu dan serahkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, hatimu hanya satu. Maka, jaga perasaanmu dan berikan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, mulutmu hanya satu. Maka, jaga janjimu dan ucapkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Bukan pacarmu atau tunanganmu yang berhak atas tubuhmu, hatimu, dan janjimu, tapi hanya suamimu atau istrimu yang berhak atasmu seutuhnya. Pacaran bisa putus. Tunangan bisa berakhir. Tapi pernikahan kudus yang dipersatukan dan diberkati oleh Tuhan di depan sidang jemaat-Nya, tidak bisa diceraikan oleh manusia manapun kecuali oleh maut. Jangan nodai gaun putihmu sebelum pengikatan janji kudus pernikahan terjadi, hanya karena engkau tidak sabar menunggu hingga waktunya tiba! Sesuatu itu disebut berharga karena ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya, dan salah satunya adalah dengan be patience in His time
Sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran, akhirnya sepakat untuk segera mengikat janji suci di pernikahan kudus gereja. Menjelang pemberkatan nikah, sang pria nampak gagah dengan tuxedo-nya dan sang wanita terlihat begitu anggun dengan gaun putihnya. Keduanya terlihat sangat bahagia menyambut hari penting yang akan terjadi sekali seumur hidup tersebut.
Sambil menunggu pendeta yang akan memberikan pemberkatan nikah kepada mereka datang, kedua calon mempelai menyempatkan diri berkeliling halaman gereja yang mempunyai pemandangan sangat menawan. Dengan gembira, keduanya menikmati taman-taman dan kolam-kolam yang ada di sekitar gereja sepuas-puasnya. Ketika hendak mengabadikan keindahan tempat itu dengan kamera foto, terjadilah kecelakaan kecil. Sang wanita yang sedang asyik berpose, tergelincir ke kubangan tanah berlumpur sehingga membuat gaun putihnya ternoda.
Pendeta yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang! Semua undangan dan keluarga mempelai bersiap-siap di dalam gedung gereja dan menanti acara pelaksanaan pemberkatan nikah kedua mempelai berbahagia.
Ketika pintu gereja dibuka dan kedua mempelai mulai menapaki lorong gereja menuju mimbar, semua mata tertuju kepada mereka. Mempelai wanita tampak meneteskan air mata tak henti-hentinya. Apakah mempelai wanita tersebut menangis karena terlalu bahagia menyambut pernikahannya yang sebentar lagi diberkati oleh pendeta di altar gereja?
Oh tidak! Rupanya mempelai wanita itu menangis karena gaun putihnya ternoda akibat insiden kecil di taman gereja menjelang pemberkatan nikah tadi!
Penyesalan biasanya selalu datang terlambat. Moment yang seharusnya berakhir bahagia, bisa rusak ketika kita tidak menjaga diri dan berhati-hati dalam bertindak.
Gaun putih yang dikenakan oleh pengantin, berbicara mengenai kekudusan. Sesuatu yang menimpa kain putih, selalu meninggalkan noda padanya. Meski sudah dicuci puluhan kali, noda pada kain putih akan sulit dihilangkan seutuhnya dan detergent paling mahal sekalipun tidak akan bisa mengembalikan kain putih bernoda itu menjadi seperti baru lagi.
Ketika dua orang lawan jenis membiarkan diri mereka dimabuk asmara saat menjalin kedekatan, kadang keduanya bisa lupa menjaga kekudusan diri masing-masing. Seperti kedua calon mempelai yang karena terlalu bahagia menikmati suasana menawan di taman gereja, sampai tidak memperhatikan ada kubangan berlumpur di tanah yang membuat gaun putih mereka ternoda sebelum pemberkatan nikah terjadi. Jika kita tidak berhati-hati saat berhubungan dengan lawan jenis, kita juga bisa menyebabkan gaun putih kita ternoda sebelum janji suci pernikahan itu terucap di altar gereja.
Gaun putih seorang pengantin tidak hanya sebatas baju yang akan dikenakannya saat menikah nanti. Gaun putih kita merupakan tanda kehormatan sebagai pria dan wanita berkarakter Kristus yang menjaga dirinya terhadap perzinahan dan kenajisan fisik dan rohani sebelum tiba waktunya resmi menjadi suami istri.
Engkau tahu, tubuhmu hanya satu. Maka, jaga tubuhmu dan serahkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, hatimu hanya satu. Maka, jaga perasaanmu dan berikan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, mulutmu hanya satu. Maka, jaga janjimu dan ucapkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Bukan pacarmu atau tunanganmu yang berhak atas tubuhmu, hatimu, dan janjimu, tapi hanya suamimu atau istrimu yang berhak atasmu seutuhnya. Pacaran bisa putus. Tunangan bisa berakhir. Tapi pernikahan kudus yang dipersatukan dan diberkati oleh Tuhan di depan sidang jemaat-Nya, tidak bisa diceraikan oleh manusia manapun kecuali oleh maut. Jangan nodai gaun putihmu sebelum pengikatan janji kudus pernikahan terjadi, hanya karena engkau tidak sabar menunggu hingga waktunya tiba! Sesuatu itu disebut berharga karena ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya, dan salah satunya adalah dengan be patience in His time
Tuesday, September 01, 2009
De Visitor
Oleh : Angelina Kusuma
Minggu lalu, ada tamu special yang bertandang ke rumah maya saya.
Rumah maya?
Iya, itu tuh...blog saya hehehe.
Ceritanya seperti ini...
Selama ini saya menjadi anggota di sebuah penerbit sekaligus toko buku online internet. Sebenarnya saya bukanlah anggota yang selalu up to date, hanya sesekali saja saya menggunakan keanggotaan untuk membuka account di website dan mencari referensi buku-buku bacaan yang saya ingini. Hal ini saya lakukan karena kegemaran saya akan membaca buku terpaksa tersendat-sendat setelah saya pindah ke kota Ponorogo, sebuah kota kecil dengan toko buku terbatas yang jauh jika dibandingkan dengan Surabaya, Jakarta atau Cinere, kota-kota besar yang pernah saya tinggali, yang memudahkan setiap orang mendapatkan sebuah buku bacaan disana hanya dengan masuk ke mall-mall yang tersedia.
Hidup di kota kecil seperti Ponorogo, memaksa saya untuk lebih cerdik dalam segala hal, termasuk soal pengadaan buku bacaan yang rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari tubuh saya ini. Untungnya masih ada media internet yang membuat saya tidak seperti katak dalam tempurung karena berada di tempat yang fasilitas teknologinya kurang memadai dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah saya jamah sebelumnya. Saya masih bisa hidup tenang di kota kecil yang asri - dijamin, jauh dari macet dan udara kotor serta minim tindak kejahatan, dan tidak lantas menjadi orang yang ketinggalan informasi dengan adanya media internet ini.
Sebenarnya saya sudah menjadi anggota dari penerbit sekaligus toko buku online ini lumayan agak lama. Sekitar bulan Juni atau Juli tahun 2007 saya sudah sering keluar masuk website mereka untuk mencari buku-buku yang saya perlukan. Kemudian karena dorongan seorang teman yang menyuruh saya mencoba mengirimkan contoh tulisan saya ke sebuah penerbit - siapa tahu ada yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya, akhirnya terjadilah pengalaman ini.
Niatnya, benar-benar hanya iseng! Pagi itu saya menulis e-mail ke redaksi penerbit tersebut untuk sekedar mengenalkan tulisan-tulisan di blog saya. Saya kira, mungkin minggu depan atau beberapa hari lagi e-mail saya itu baru akan ditindak lanjuti. Soalnya, sebelum ini saya juga sudah pernah mengirimkan e-mail senada ke penerbit lain dan sampai hari ini tidak ada tanggapan sama sekali. Makanya setelah e-mail yang saya tulis itu terkirim ke penerbit, saya kembali bersantai-santai ria seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Tapi alangkah kagetnya saya, kira-kira empat atau lima jam berikutnya ada e-mail balasan masuk dari redaksi penerbit itu. Lebih mengejutkan lagi, yang membalas e-mail saya ini adalah Direkturnya sendiri yang juga seorang penulis. Kontan saja hal ini membuat saya tersenyum kecut. Rupanya kali ini saya sudah melakukan suatu kesalahan besar! Terlalu meremehkan dan memandang sebuah kondisi dari sudut pandang 'biasanya', yang akhirnya membuahkan hasil kurang baik bagi diri saya.
Isi e-mail dari Pak Direktur, juga membuat saya semakin menggigit jari! Beliau menulis sudah melihat isi link blog yang saya sertakan ke e-mail redaksinya. Di e-mail ini, beliau juga menasehati agar saya lebih banyak menulis artikel atau karya narasi berupa cerita dan bukan PUISI karena penikmat puisi di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan penikmat karya sastra jenis lainnya.
Tunggu!
Ada salah persepsi disini!!
Saya tidak pernah berminat meminta penerbit mana pun untuk menerbitkan puisi-puisi saya menjadi buku. Sasaran penerbitan saya adalah artikel-artikel yang sudah saya tulis. Di blog saya memang terpajang puisi juga, banyak malahan. Tapi puisi-puisi itu sebenarnya adalah pelampiasan waktu saat saya mengalami kehilangan ide untuk menulis artikel-artikel. Jadi, puisi-puisi itu bukan bagian terpenting dari karya-karya yang ingin saya terbitkan, hanya karya-karya 'buangan' saja.
Sejenak, saya merenung ulang.
Ya, kesalahan persepsi ini berawal dari saya sendiri. Saya tidak menata rumah saya terlebih dulu sebelum mengundang tamu berkunjung. Blog saya terbagi dalam beberapa tag. Dan kebetulan, tulisan puisi-puisi saya - bagian yang justru kurang penting - berkumpul di satu tag saja. Sedangkan tulisan artikel saya terpisah-pisah dalam beberapa tag sesuai dengan temanya. Jika dilihat dari luar, jelas akan nampak bahwa tag puisi saya jauh lebih produktif dari pada tag-tag artikel lainnya. Makanya, tak heran jika ada orang awan (bukan saya) yang melihat tampilan home blog saya, akan langsung mencap bahwa saya lebih jago menulis puisi dari pada menulis artikel.
Sampai hari ini, saya mempunyai pengalaman menerima tamu di rumah yang sangat berkesan:
1. Tamu pertama
Ia adalah teman saya waktu kuliah dulu, yang sekarang bekerja di Jakarta. Ketika dia berkata akan berkunjung ke rumah saya dalam rangka liburan, jelas saya begitu senang mendengarnya. Saya langsung membersihkan rumah, menata kursi, menyapu lantai, menyiapkan kamar tidur - persiapan jikalau dia mau menginap di rumah saya - sampai menyemprotkan parfum ke seluruh ruangan agar bau apek-nya lenyap.
Sayangnya, dia tidak jadi datang ke rumah saya karena waktu liburannya yang singkat dan dia hanya sempat mengabiskan waktu liburan itu di rumah orang tuanya.
Biar pun saya agak kecewa awalnya, akhirnya saya bisa menerima kenyataan juga. Paling tidak saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut dia. Kalau pun dia tidak jadi datang, tidak ada ruginya di saya karena saya sudah menyiapkan semuanya sesempurna mungkin yang bisa saya perbuat.
2. Tamu kedua
Ia adalah teman kuliah saya juga yang keluarganya tinggal di Jogja. Dia bekerja di luar pulau Jawa, dan dalam perjalanan liburannya bersama keluarga di kampung halaman, mereka ingin menyempatkan diri untuk mampir ke rumah saya.
Sama seperti saat saya hendak menyambut tamu yang pertama, saya juga membersihkan rumah dan menyiapkan ruangan untuk menginap. Berhubung teman saya ini rencananya datang bersama istri dan dua orang anaknya, maka saya menyempatkan diri untuk membersihkan rumah sejak dua hari sebelumnya.
Akhirnya tamu kedua saya datang juga.
Hhh, lega rasanya. Kali ini persiapan saya tidak sia-sia. Dia beserta keluarga yang dibawanya tak hanya singgah sebentar di rumah saya namun juga menginap sehari semalam.
3. Tamu ketiga
Ya, tamu saya di blog yang ada di cerita sebelumnya itu.
Saya yang mengundang dia untuk datang berkunjung, tetapi saya sama sekali tidak menyiapkan rumah saya dengan baik. Dan akhirnya dia datang dengan meninggalkan kesan kurang berkenan.
Ah, Sedihnya...
How if Jesus come to visit your home now?
Are you ready?
Tenang...tenang...
Anda tidak perlu panik!
Dia tahu bahwa rumah kita tidak akan pernah pantas untuk Dia kunjungi. Allah Maha Kudus dan kita maha kotor. Tidak ada yang bisa menampung kekudusan Allah bahkan seandainya kita sudah menyapu bersih seluruh serpihan-serpihan bagian dalam rumah kita sekalipun. Dosa dalam rumah kita yang disebut hati, tidak mungkin kita bersihkan dengan tenaga dan usaha kita sebagai manusia biasa.
Tetapi sebaliknya, jika Dia datang, maka Dialah yang akan membersihkan rumah kita. Menyapu lantai dan jendela-jendela hati kita yang kotor, kemudian mengembalikan kekudusan dalam hidup kita.
Kisah Zakheus - si pemungut cukai - ketika menerima Yesus di rumahnya, menjadi bukti bahwa ketika Dia bertamu ke rumah kita, maka Dia yang akan membersihkan dan menata rumah kita sehingga pantas untuk Dia singgahi. Bukan karena kita hebat bisa menerima Dia di rumah kita, tapi Dialah yang membuat kita pantas untuk menerima kunjungan-Nya itu.
Lukas 19:5, Ketika Yesus sampai di pohon itu, Ia melihat ke atas lalu berkata, "Zakheus, turunlah cepat! Sebab Aku harus berkunjung ke rumahmu hari ini."
Lukas 19:8-10, Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus, "Tuhan, separuh dari harta saya akan saya sedekahkan kepada orang miskin; dan siapa saja yang pernah saya tipu, akan saya bayar kembali kepadanya empat kali lipat!" Lalu kata Yesus, "Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat."
Apa yang harus kita lakukan ketika Dia hendak berkunjung ke rumah kita?
Buka pintu!
Heeh, mudah bukan?
Tapi terkadang banyak orang yang begitu susah melakukannya. Jika hendak menerima tamu dari teman lama atau saudara jauh, banyak orang yang antusias menyambutnya. Tapi jika Yesus yang berkata, "... Aku akan datang segera mendapatkanmu...", banyak orang memilih menggunakan logikanya untuk berfikir dan menimbang-nimbang untung ruginya lebih dulu, bahkan ada banyak orang yang langsung menolak-Nya mentah-mentah sebelum Dia sampai di depan pintu rumah.
Wahyu 3:20, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Lihat, seorang Tamu Agung sedang berdiri di muka pintu dan menunggu untuk masuk ke dalam rumah anda hari ini. Anda tak perlu takut tak pantas ada di depan-Nya karena dosa-dosa anda. Dia tahu bahwa anda memang tidak layak untuk-Nya, tapi Dia mau melayakkan anda untuk menerima kunjungan-Nya. Hanya butuh kesediaan dari anda untuk membuka pintu rumah, dan setelah itu Dia yang akan datang mendapatkan anda dengan sukacita. Be ready to change, because Jesus come to rebuild you.
Minggu lalu, ada tamu special yang bertandang ke rumah maya saya.
Rumah maya?
Iya, itu tuh...blog saya hehehe.
Ceritanya seperti ini...
Selama ini saya menjadi anggota di sebuah penerbit sekaligus toko buku online internet. Sebenarnya saya bukanlah anggota yang selalu up to date, hanya sesekali saja saya menggunakan keanggotaan untuk membuka account di website dan mencari referensi buku-buku bacaan yang saya ingini. Hal ini saya lakukan karena kegemaran saya akan membaca buku terpaksa tersendat-sendat setelah saya pindah ke kota Ponorogo, sebuah kota kecil dengan toko buku terbatas yang jauh jika dibandingkan dengan Surabaya, Jakarta atau Cinere, kota-kota besar yang pernah saya tinggali, yang memudahkan setiap orang mendapatkan sebuah buku bacaan disana hanya dengan masuk ke mall-mall yang tersedia.
Hidup di kota kecil seperti Ponorogo, memaksa saya untuk lebih cerdik dalam segala hal, termasuk soal pengadaan buku bacaan yang rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari tubuh saya ini. Untungnya masih ada media internet yang membuat saya tidak seperti katak dalam tempurung karena berada di tempat yang fasilitas teknologinya kurang memadai dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah saya jamah sebelumnya. Saya masih bisa hidup tenang di kota kecil yang asri - dijamin, jauh dari macet dan udara kotor serta minim tindak kejahatan, dan tidak lantas menjadi orang yang ketinggalan informasi dengan adanya media internet ini.
Sebenarnya saya sudah menjadi anggota dari penerbit sekaligus toko buku online ini lumayan agak lama. Sekitar bulan Juni atau Juli tahun 2007 saya sudah sering keluar masuk website mereka untuk mencari buku-buku yang saya perlukan. Kemudian karena dorongan seorang teman yang menyuruh saya mencoba mengirimkan contoh tulisan saya ke sebuah penerbit - siapa tahu ada yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya, akhirnya terjadilah pengalaman ini.
Niatnya, benar-benar hanya iseng! Pagi itu saya menulis e-mail ke redaksi penerbit tersebut untuk sekedar mengenalkan tulisan-tulisan di blog saya. Saya kira, mungkin minggu depan atau beberapa hari lagi e-mail saya itu baru akan ditindak lanjuti. Soalnya, sebelum ini saya juga sudah pernah mengirimkan e-mail senada ke penerbit lain dan sampai hari ini tidak ada tanggapan sama sekali. Makanya setelah e-mail yang saya tulis itu terkirim ke penerbit, saya kembali bersantai-santai ria seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Tapi alangkah kagetnya saya, kira-kira empat atau lima jam berikutnya ada e-mail balasan masuk dari redaksi penerbit itu. Lebih mengejutkan lagi, yang membalas e-mail saya ini adalah Direkturnya sendiri yang juga seorang penulis. Kontan saja hal ini membuat saya tersenyum kecut. Rupanya kali ini saya sudah melakukan suatu kesalahan besar! Terlalu meremehkan dan memandang sebuah kondisi dari sudut pandang 'biasanya', yang akhirnya membuahkan hasil kurang baik bagi diri saya.
Isi e-mail dari Pak Direktur, juga membuat saya semakin menggigit jari! Beliau menulis sudah melihat isi link blog yang saya sertakan ke e-mail redaksinya. Di e-mail ini, beliau juga menasehati agar saya lebih banyak menulis artikel atau karya narasi berupa cerita dan bukan PUISI karena penikmat puisi di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan penikmat karya sastra jenis lainnya.
Tunggu!
Ada salah persepsi disini!!
Saya tidak pernah berminat meminta penerbit mana pun untuk menerbitkan puisi-puisi saya menjadi buku. Sasaran penerbitan saya adalah artikel-artikel yang sudah saya tulis. Di blog saya memang terpajang puisi juga, banyak malahan. Tapi puisi-puisi itu sebenarnya adalah pelampiasan waktu saat saya mengalami kehilangan ide untuk menulis artikel-artikel. Jadi, puisi-puisi itu bukan bagian terpenting dari karya-karya yang ingin saya terbitkan, hanya karya-karya 'buangan' saja.
Sejenak, saya merenung ulang.
Ya, kesalahan persepsi ini berawal dari saya sendiri. Saya tidak menata rumah saya terlebih dulu sebelum mengundang tamu berkunjung. Blog saya terbagi dalam beberapa tag. Dan kebetulan, tulisan puisi-puisi saya - bagian yang justru kurang penting - berkumpul di satu tag saja. Sedangkan tulisan artikel saya terpisah-pisah dalam beberapa tag sesuai dengan temanya. Jika dilihat dari luar, jelas akan nampak bahwa tag puisi saya jauh lebih produktif dari pada tag-tag artikel lainnya. Makanya, tak heran jika ada orang awan (bukan saya) yang melihat tampilan home blog saya, akan langsung mencap bahwa saya lebih jago menulis puisi dari pada menulis artikel.
Sampai hari ini, saya mempunyai pengalaman menerima tamu di rumah yang sangat berkesan:
1. Tamu pertama
Ia adalah teman saya waktu kuliah dulu, yang sekarang bekerja di Jakarta. Ketika dia berkata akan berkunjung ke rumah saya dalam rangka liburan, jelas saya begitu senang mendengarnya. Saya langsung membersihkan rumah, menata kursi, menyapu lantai, menyiapkan kamar tidur - persiapan jikalau dia mau menginap di rumah saya - sampai menyemprotkan parfum ke seluruh ruangan agar bau apek-nya lenyap.
Sayangnya, dia tidak jadi datang ke rumah saya karena waktu liburannya yang singkat dan dia hanya sempat mengabiskan waktu liburan itu di rumah orang tuanya.
Biar pun saya agak kecewa awalnya, akhirnya saya bisa menerima kenyataan juga. Paling tidak saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut dia. Kalau pun dia tidak jadi datang, tidak ada ruginya di saya karena saya sudah menyiapkan semuanya sesempurna mungkin yang bisa saya perbuat.
2. Tamu kedua
Ia adalah teman kuliah saya juga yang keluarganya tinggal di Jogja. Dia bekerja di luar pulau Jawa, dan dalam perjalanan liburannya bersama keluarga di kampung halaman, mereka ingin menyempatkan diri untuk mampir ke rumah saya.
Sama seperti saat saya hendak menyambut tamu yang pertama, saya juga membersihkan rumah dan menyiapkan ruangan untuk menginap. Berhubung teman saya ini rencananya datang bersama istri dan dua orang anaknya, maka saya menyempatkan diri untuk membersihkan rumah sejak dua hari sebelumnya.
Akhirnya tamu kedua saya datang juga.
Hhh, lega rasanya. Kali ini persiapan saya tidak sia-sia. Dia beserta keluarga yang dibawanya tak hanya singgah sebentar di rumah saya namun juga menginap sehari semalam.
3. Tamu ketiga
Ya, tamu saya di blog yang ada di cerita sebelumnya itu.
Saya yang mengundang dia untuk datang berkunjung, tetapi saya sama sekali tidak menyiapkan rumah saya dengan baik. Dan akhirnya dia datang dengan meninggalkan kesan kurang berkenan.
Ah, Sedihnya...
How if Jesus come to visit your home now?
Are you ready?
Tenang...tenang...
Anda tidak perlu panik!
Dia tahu bahwa rumah kita tidak akan pernah pantas untuk Dia kunjungi. Allah Maha Kudus dan kita maha kotor. Tidak ada yang bisa menampung kekudusan Allah bahkan seandainya kita sudah menyapu bersih seluruh serpihan-serpihan bagian dalam rumah kita sekalipun. Dosa dalam rumah kita yang disebut hati, tidak mungkin kita bersihkan dengan tenaga dan usaha kita sebagai manusia biasa.
Tetapi sebaliknya, jika Dia datang, maka Dialah yang akan membersihkan rumah kita. Menyapu lantai dan jendela-jendela hati kita yang kotor, kemudian mengembalikan kekudusan dalam hidup kita.
Kisah Zakheus - si pemungut cukai - ketika menerima Yesus di rumahnya, menjadi bukti bahwa ketika Dia bertamu ke rumah kita, maka Dia yang akan membersihkan dan menata rumah kita sehingga pantas untuk Dia singgahi. Bukan karena kita hebat bisa menerima Dia di rumah kita, tapi Dialah yang membuat kita pantas untuk menerima kunjungan-Nya itu.
Lukas 19:5, Ketika Yesus sampai di pohon itu, Ia melihat ke atas lalu berkata, "Zakheus, turunlah cepat! Sebab Aku harus berkunjung ke rumahmu hari ini."
Lukas 19:8-10, Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus, "Tuhan, separuh dari harta saya akan saya sedekahkan kepada orang miskin; dan siapa saja yang pernah saya tipu, akan saya bayar kembali kepadanya empat kali lipat!" Lalu kata Yesus, "Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat."
Apa yang harus kita lakukan ketika Dia hendak berkunjung ke rumah kita?
Buka pintu!
Heeh, mudah bukan?
Tapi terkadang banyak orang yang begitu susah melakukannya. Jika hendak menerima tamu dari teman lama atau saudara jauh, banyak orang yang antusias menyambutnya. Tapi jika Yesus yang berkata, "... Aku akan datang segera mendapatkanmu...", banyak orang memilih menggunakan logikanya untuk berfikir dan menimbang-nimbang untung ruginya lebih dulu, bahkan ada banyak orang yang langsung menolak-Nya mentah-mentah sebelum Dia sampai di depan pintu rumah.
Wahyu 3:20, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Lihat, seorang Tamu Agung sedang berdiri di muka pintu dan menunggu untuk masuk ke dalam rumah anda hari ini. Anda tak perlu takut tak pantas ada di depan-Nya karena dosa-dosa anda. Dia tahu bahwa anda memang tidak layak untuk-Nya, tapi Dia mau melayakkan anda untuk menerima kunjungan-Nya. Hanya butuh kesediaan dari anda untuk membuka pintu rumah, dan setelah itu Dia yang akan datang mendapatkan anda dengan sukacita. Be ready to change, because Jesus come to rebuild you.
Subscribe to:
Posts (Atom)