Thursday, April 17, 2008

Dipersiapkan Untuk Menjadi Terampil

Oleh : Angelina Kusuma

Hari itu Jumat malam sekitar pukul 21.00 WIB, saya melakukan pengisian tinta refill ke kedua ink tank printer iP1700 saya. Secara bergantian saya menyuntikkan tinta refill ke ink tank untuk black dan colour. Sebelumnya, saya tidak pernah gagal saat mengisi tinta refill ke ink tank printer saya. Maka dengan santai setelah mengisi ink tank sampai penuh, saya mengembalikan ke tempat mereka masing-masing. Anehnya ketika saya menekan tombol power printer dan mencoba untuk mencetak sebuah dokumen, tiba-tiba printer saya mengalami blinking - kedua lampu indikator menyala dengan warna orange dan berkedip terus-menerus. Berkali-kali saya memeriksa letak kedua ink tank, letak kertas, dan memeriksa setting printer dari komputer, semua menunjukkan keadaan ready dan save.

Sejak pertama kali membeli printer jenis iP1700 ini, saya memang sedikit was-was. Banyak testimonial di internet yang menyatakan tentang keadaan head cartridge yang lebih rentan terhadap kerusakan dibandingkan jenis printer keluaran sebelumnya dari merk yang sama. Testimonial negatif tentang kerentanan printer tersebut terhadap kerusakan seketika memenuhi pikiran saya dan membuat saya panik. Sampai larut malampun saya tetap tidak bisa mengatasi blinking dari printer saya dan akhirnya meninggalkannya dalam keadaan masih bermasalah.

Keesokan paginya saya kembali memeriksa keadaan printer saya. Begitu sedihnya saya ketika menekan tombol power, ternyata keadaan blinking di printer saya belum hilang. Masih dalam keadaan seperti kemarin malam setelah saya meninggalkannya.

Hati saya mulai gelisah. Saya mulai menebak-nebak bahwa kemungkinan besar printer saya itu membutuhkan resetter untuk menyelesaikan masalahnya. Saya pernah me-reset printer saya yang lama ke tukang reparasi dengan biaya Rp. 50.000 sekali reset. Rasanya begitu sayang jika hanya untuk me-reset printer blinking saja harus mengeluarkan Rp. 50.000 dari kantong saya. Sedangkan proses resetting itu sendiri hanya menghabiskan waktu sekitar 20 menit.

Akhirnya setelah menemui jalan buntut disana-sini, saya duduk diam dikursi saya dan mulai bicara dengan Roh Kudus, "Tuhan, Engkau tahu saya sedang menghadapi masalah di printer dan saya tidak punya uang banyak hanya untuk me-resetnya ke tukang reparasi. Beri tahu apa yang harus saya perbuat sekarang."

Ajaib, saat itu ada sebuah suara lembut berbisik ditelinga saya, "Buka internet." Saya tidak berlama-lama membiarkan suara Roh Kudus menghilang dari pendengaran saya. Saya langsung membuka Opera - internet browser - kemudian log in ke Google. Dengan lancar jari-jari saya langsung mengetik, 'iP1700 blinking'. 0,20 detik kemudian saya dipertontonkan dengan puluhan artikel yang siap saya baca untuk memecahkan masalah di printer saya. Dan akhirnya saya menemukan deretan kalimat dibawah ini dari sebuah situs internet yang berhasil saya browse :

Waste Ink Counter Reset Manual for Service mode :
Turn off the printer. And disconnect the printer cable.
Press and hold the POWER button, turn on the printer.
The indicator (L.E.D.) should be green.
Press and release the RESUME button , the indicator (L.E.D.) should be orange.
Press and release the RESUME button again, the indicator (L.E.D.) should be green.
Release both buttons.
Praise God ! Setelah saya mencoba langkah-langkah yang tertulis diatas, ternyata berhasil mengembalikan kondisi printer saya ke kondisi normal kembali.

Selesai memperbaiki printer, saya menonton TV bersama adik saya diruang tamu. Tiba-tiba satu jam kemudian HP saya berdering. Seorang teman dari gereja mengatakan bahwa ia sedang bermasalah dengan printer dikantornya dan meminta saya untuk melihat permasalahan printer ditokonya. Saat itu saya bertanya-tanya didalam hati, "Ada apakah gerangan hari ini ? Kenapa dari kemarin malam, pagi ini sampai siang hari saya selalu dilibatkan dengan masalah printer ?"

Saya setuju untuk ke tempat kerja teman saya tersebut secepatnya meskipun sebenarnya masih ada keraguan dalam hati saya. Pertama, sebenarnya saya tidak ahli dalam memperbaiki perangkat komputer maupun printer karena memang disiplin ilmu yang saya pelajari disekolah tidak melingkupi hal itu. Jika saya bisa memperbaiki beberapa kerusakan komputer maupun printer, itu lebih mengarah kepada kemampuan otodidak saya melalui cara bertanya kepada teman yang ahli kemudian saya praktekan ataupun mencari artikel pendukung dari internet. Kedua, saya tidak tahu letak toko teman saya tersebut. Saya memiliki kelemahan dalam mengingat nama jalan dan arah. Dari alamat yang diberikan oleh teman saya lewat telepon itupun saya hanya bisa mengingat dua hal, 'dari perempatan Pasar Legi belok ke arah Timur' dan 'nama toko' tempat teman saya tersebut bekerja.

Kembali saya berbicara kepada Roh Kudus sebelum saya berangkat, "Tuhan, Engkau tahu kelemahan saya. Saya tidak tahu tempat toko itu dan entah apakah nanti saya bisa memperbaiki kerusakan printer-nya. Tuntun saya dengan benar."

Disepanjang jalan menuju Pasar Legi, hati saya begitu tenang. Dan ketika sampai diperempatan Pasar Legipun, seolah motor yang saya naiki dituntun untuk langsung membelok ke arah Timur dan berhenti didepan sebuah toko. Saya hanya memerlukan waktu 5 menit untuk memastikan bahwa nama toko tersebut sama seperti nama toko yang disebutkan oleh teman saya, kemudian menyeberang jalan menuju tempat parkirnya.

Dengan mantap juga saya memasuki toko yang baru saya masuki saat itu juga dan memukan teman saya sedang menunggu kedatangan saya sejak tadi. Wow, saya terpesona. Mudah sekali jalan yang saya lalui hari ini. "Nggak nyasar kan, Njie ?", tanya ci Novi yang memang mengetahui kelemahan saya terhadap mengingat jalan dan arah. Saya tertawa mendengar pertanyaan ci Novi dan didalam hati saya bersyukur atas penyertaan-Nya hari itu. Jika bukan karena tuntunan Roh Kudus, saya pasti nyasar sebelum menemukan toko ini.

10 menit kemudian saya memeriksa kondisi printer yang dikabarkan bermasalah. Satu hal lagi yang rasanya begitu kebetulan terjadi, merk printer tersebut ternyata sama dengan merk printer saya yang bermasalah pada pagi hari sebelumnya. Hanya berbeda tipe, kali ini saya menghadapi iP1500.

Bisa karena terbiasa, kata pepatah. Saya hanya memerlukan waktu 15 menit untuk menyelesaikan masalah di printer teman saya tersebut dan menyelesaikannya dengan baik. Praise God, Dia benar-benar mengajari saya untuk menjadi profesional mengatasi masalah printer jenis PIXMA hari itu. Saya sadar sekarang bahwa memang tidak ada yang kebetulan didalam rencana-Nya. Apa yang terjadi didalam diri kita saat ini, sering kali itu akan membuat kita terampil untuk menghadapi masalah serupa dimasa mendatang. Dan saya sudah belajar dari-Nya melalui masalah dari printer iP1700 saya.

Terima kasih untuk pembelajaran dan tuntunan-Mu, Roh Kudus. You're the great theacher for me.

Berkat-berkat Abraham juga Untukmu !

Oleh : Angelina Kusuma

Siapakah didunia ini yang tidak ingin diberkati dalam pekerjaan, usaha, keluarga, pendidikan, kesehatan, dan berkat-berkat secara jasmani lainnya ? Selain kelimpahan secara rohani, tentunya kita juga sangat mengharapkan berkat-berkat jasmani melingkupi keseharian kita.

Mengharahapkan berkat-berkat jasmani bukan berarti bahwa kita bukan lagi sebagai manusia rohani. Sesuai dengan Firman Tuhan sendiri didalam Galatia 3:13-14 - Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: "Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!" Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu - dan Galatia 3:29 - Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah, maka seharusnya kita memang berhak dan pantas untuk mendapatkan berkat-berkat jasmani yang pernah diterima Abraham, pendahulu kita.

Apa sajakah berkat-berkat Abraham itu ?

1. Keluarga besar
Kejadian 12:2a, Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar,

2. Nama harum
Kejadian 12:2b, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur;

3. Menjadi berkat bagi orang lain
Kejadian 12:2c, dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat"


Kunci memperoleh berkat-berkat Abraham :

A. Tuhan pemilik, manusia sebagai pengelola

Kejadian 2:15, TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.

Sebelum mengerti tentang prinsip ini, dulu saya sering pongah dengan kedudukan saya sebagai seorang wanita karier. Saya bangga dengan posisi saya sebagai seorang pengelola sebuah usaha pribadi dan menempatkan saya sebagai satu-satunya pemilik yang sah diatasnya. Saya hampir saja melupakan posisi Tuhan yang adalah Pemilik Agung dari semua hal yang ada diunia ini, sehingga menjadikan saya over protective terhadap apa yang telah dengan susah payah saya rintis. Karena saya merasakan bagaimana sulitnya memulai, merencanakan, dan mengelola usaha saya tersebut, tak jarang saya justru mengalami depresi ketika apa yang telah saya targetkan tidak mengenai sasarannya yang tepat.

TUHAN menempatkan manusia di taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu, bukan untuk memilikinya. Manusia diberi-Nya kuasa untuk mengelola taman sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya sehingga bisa menghidupi diri dan keluarganya. Lalu siapakah Pemilik taman Eden tersebut ? Pemilik taman Eden tetaplah TUHAN. Manusia pengelola dan TUHAN sebagai pemilik, ini adalah kebenaran mutlak yang harus kita sadari dalam setiap aspek kehidupan kita.

Keluarga, pekerjaan, unit usaha, pasangan, ketenaran, kesehatan, status sosial, dan lain-lain yang kita miliki didunia ini hanyalah titipan dari TUHAN. Kita berhak mengelola semua berkat-berkat jasmani yang kita peroleh selama mengembara didunia namun tidak berhak memiliki dan menguasainya secara mutlak. Kita terlahir dengan telanjang dan akan kembali kepada kekekalan dengan telanjang pula. Tidak ada barang berhargapun yang layak kita agungkan sehingga mengukuhkan kita sebagai pemilik satu-satunya dan melupakan TUHAN, Sang Pemilik Agung. Jika Ia mau, dengan sekali tepuk Ia bisa mengambil semua yang kita miliki hingga tak tersisa sama sekali. Begitu juga sebaliknya, jika Ia sudah berkehendak, maka seluruh duniapun bisa diberikan-Nya ke tangan kita dalam hitungan detik.

Menyadari bahwa saya tak lebih hanya seorang pengelola unit usahanya TUHAN, hal tersebut berangsur-angsur membuat saya kembali merendahkan diri saya dihadapan-Nya. Belajar untuk melepaskan apa yang paling berharga bagi kita memang tidak mudah. Saya juga masih terus belajar untuk menundukkan diri sebagai pengelola unit usaha-Nya TUHAN dan bukan lagi sebagai pemilik satu-satunya sampai sekarang. Dalam segala hal, saya juga mulai menyadari betul bahwa segala yang saya miliki adalah milik TUHAN. Keluarga, status sosial, pelayanan, kesehatan, orang-orang yang saya cintai, teman-teman, pendidikan, dan talenta, semuanya adalah milik TUHAN dan harus saya kembalikan untuk kemuliaan nama-Nya.

Kedamaian hati melingkupi saya ketika saya sudah menyerahkan seluruh hidup saya kepada-Nya. Karena Sang Pemilik Agung, tidak mungkin membuat barang milik-Nya rusak dan sia-sia. Ia akan memberikan petunjuk-petunjuk pengelolaan yang baik kepada pengelolanya dibumi ini - kita - jika si pengelola dibumi mempunyai relationship yang akrab dengan Sang Pemilik Agungnya.

B. Batasan yang tidak boleh dilanggar oleh manusia sebagai pengelola milik TUHAN

Status kita yang hanya sebagai pengelola miliknya TUHAN, tentu mempunyai batasan-batasan yang tidak boleh kita dilanggar.

1. Ada pembagian khusus antara pengelola dan Sang Pemilik

Kejadian 2:16-17, Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: "Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati."

Semua pohon dalam taman Eden memang boleh dimakan oleh manusia, tetapi TUHAN juga berbicara bahwa ada satu pohon yang sama sekali tidak boleh dimakannya. Bagian ini menyangkut pembahasan mengenai persembahan persepuluhan.

Ketika kita berhasil mengelola milik TUHAN, kita tidak boleh melupakan bagian TUHAN yang hanya sepersepuluh dari seluruh hasil yang dapat kita nikmati. TUHAN sebagai pemilik, menetapkan bagian yang begitu kecil dibandingkan dengan apa yang telah kita terima. Ia memberikan kita udara secara gratis untuk bertahan hidup didunia, memberi ladang pekerjaan untuk diusahakan dan menghasilkan, serta bonus-bonus lain dalam hidup kita seperti adanya rekan-rekan sekerja, sahabat, pasangan, ataupun keluarga kita. Nilai sepersepuluh tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kasih dan anugerah-Nya yang melimpah dalam hidup kita.

Membayar persembahan persepuluhan tidak berarti bahwa TUHAN mata duitan. Ia terlampau kaya sehingga sanggup menyerahkan harta milik-Nya sebagian untuk kita kelola dan menghidupi kita beserta keluarga. Yang ingin dilihat TUHAN adalah ketaatan kita terhadap status kita yang hanya pengelola milik-Nya. Persepuluhan mengungkapkan banyak arti dari orang yang telah mempersembahkannya, mulai dari kejujuran, sikap merendahkan diri, dan melibatkan TUHAN dalam setiap kepercayaan yang sudah dibebankan-Nya dalam hidupnya.

Maleakhi 3:10-11, Bawalah seluruh persembahan dan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langkit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. Aku akan menghardik bagimu belalang pelahap, supaya jangan dihabisinya hasil tanahmu dan supaya jangan pohon anggur di padang tidak berbuah bagimu.

2. Diberkati untuk memberkati

Berbicara mengenai ke-Kristenan tanpa ada ruang untuk sharing, hampir sama artinya dengan kosong. Ke-Kristenan bukan egois. Yesus memberi contoh tentang tindakan berbagi kepada sesama yang begitu nyata sepanjang hidupnya. Ia mengajar dan memberitakan kebenaran Firman, melayani sesama, menyembuhkan orang sakit, sampai menyerahkan diri-Nya sendiri untuk disalibkan bagi dosa umat manusia. Berkat-berkat yang TUHAN titipkan kepada kita juga untuk dibagikan kembali kepada sesama kita, sama seperti teladan yang telah dicontohkan-Nya selama melayani dibumi ini.

Saya mempunyai seorang karyawan yang membantu saya dalam mengelola unit usaha saya. Saya selalu bersyukur karena saya sudah memiliki kesempatan untuk berbagi berkat dengan orang tersebut meskipun jumlahnya hanya sedikit. Pernah suatu ketika, disatu bulan pendapatan saya dalam unit usaha tersebut bisa dibilang minim. Tetapi karena saya tahu bahwa karyawan saya tersebut tidak mempunyai pekerjaan lain selain dari pekerjaannya bersama saya, saya tidak pernah mempunyai niat untuk merumahkannya. Ada kerinduan untuk tetap berbagi berkat dalam pengelolaan unit usaha saya tersebut dengan karyawan ini bagaimanapun keadaan yang harus saya terima - merugi.

Menghadapi kenyataan seperti itu, saya hanya bisa membuat laporan seperti ini kepada Atasan yang memiliki unit usaha saya, "Tuhan, usaha-Mu sepi. Aku punya tanggungan karyawan satu dan dia juga butuh berkat dari-Mu. Jika aku tidak lagi Kau percayai untuk mengelola unit usaha ini, aku masih bisa makan beberapa bulan lagi dengan tabungan yang ada direkeningku. Tetapi untuk karyawanku, upah hariannya pasti habis untuk sehari."

Ajaib ! Saat saya melibatkan Sang Pemilik Agung untuk membantu mengelola unit usaha dan tetap memelihara kerinduan untuk berbagi berkat dengan orang lain, maka Ia yang setia dan adil segera membalikkan keadaan sehingga unit usaha saya yang semula sepipun kembali ramai dan berkat-berkat jasmani kembali mengalir tanpa henti dari TUHAN dalam hidup saya.

Berkat-berkat Abraham juga hak kita. Jadilah pengelola-pengelola milik TUHAN yang setia, dan Ia akan membuat hidup kita berkelimpahan setiap saat.



Tuesday, April 15, 2008

Usai Terbanting ke Lantai

Oleh : Angelina Kusuma

Keyboard komputer saya sudah lama menunjukkan ketidak beresan. Jika dipakai terlalu lama - sekitar enam jam berturut-turut - maka setelah itu biasanya akan mengeluarkan huruf 'y' secara terus-menerus tanpa sebab yang jelas. Keyboard ini memang bukan dari merk terbaik dibidangnya - harganya juga tidak sampai dua puluh ribu rupiah, maka kerusakan setelah pemakaian dalam jangka waktu tidak terlalu lama pun tidak bisa dihindari - hanya selang dua tahun setelah saya pakai.

Keluarnya huruf 'y' secara otomatis ini kadang membuat saya jengah. Pekerjaan saya sehari-hari berhadapan dengan komputer dan tidak bisa menghindari pemakaian keyboard untuk mengetik data entry ke komputer. Mau tak mau saya harus mengganti keyboard komputer saya setelah pemakaian enam jam berikutnya. Dan itu artinya, sedikt menambah pekerjaan sepele yang merepotkan saya.

Kejadian tak terduga tiba-tiba terjadi tiga hari kemarin. Ketika saya hendak mengganti keyboard yang sudah mulai mengeluarkan huruf 'y' secara otomatis tersebut dengan keyboard lain yang masih sehat, tidak sengaja tangan saya menyenggol keyboard bermasalah tersebut hingga terjatuh dari meja kerja saya.

"Yah, hancur sudah ...", saya hanya bisa bergumam seperti itu. Bagaimana tidak ? Masalah di huruf 'y' belum selesai, sekarang justru keyboard-nya terjatuh dari meja dan terbanting keras ke lantai. Saya pikir riwayat keyboard ini pasti sudah menemui ajalnya sekarang. Benar-benar harus segera dilembaru esok hari - dilempar, kemudian beli yang baru.

Wonderful ! Dua hari ini serasa ada mukjizat terjadi pada keyboard saya pasca kejadian terbanting ke lantai tempo hari. Keyboard yang saya kira pasti tidak akan bisa digunakan lagi itu masih survive. Ketika saya menekan tuts-tuts-nya untuk mengetik esok harinya, tidak nampak lagi masalah seperti sebelumnya. Huruf 'y' yang kadang keluar otomatis tiba-tiba hilang meski saya sudah menggunakan keyboard tersebut selama dua belas jam berturut-turut. Dan sampai hari ini, keyboard tersebut sudah kembali ke kondisi normalnya seperti sebelum saat ia bermasalah.

Akhirnya saya mendapat pelajaran berharga mengenai kehidupan dari kejadian dengan keyboard ini.

Seringkali kita mengalami masalah yang tidak bisa kita hindari. Masalah yang kadang bertubi-tubi datang dan menekan kita hingga terjepit. Keadaan sekeliling kita semakin bertambah suram dan tidak bisa kita kendalikan. Kita terjatuh dari zona kenyamanan kita dan harus bergelut dengan masalah kita sendirian. Tak jarang, saat dalam kondisi dibawah, manusiapun mulai mempertanyakan 'kenapa hal demikian harus terjadi dalam hidupnya dan dimanakah Tuhan ?'

Saya juga pernah merasa ditinggal sendirian oleh Tuhan ketika sebuah masalah menjepit saya dengan ketat. Tetapi ketika saya berhasil keluar dari masalah tersebut, saya seperti keyboard yang diperbaharui sistemnya setelah terjatuh dengan keras dari atas meja ke lantai. Benturan yang diderita oleh keyboard justru mengembalikan fungsinya yang bermasalah selama berminggu-minggu dalam tempo hanya beberapa detik saja.

Tuhan mengizinkan cobaan dan masalah hidup terjadi dalam hidup kita bukan karena Ia tidak mengasihi kita lagi. Sering kali kitalah yang berfikiran sempit ketika masalah datang dan membuat kita terjatuh semakin dalam sehingga membuat kita lupa akan janji-janji-Nya yang ajaib. Kita memang tidak bisa melihat gambaran besar yang telah Ia rencanakan jauh sebelum kita terlahir ke dunia ini. Melihat kotak-kotak kecil dari sebuah puzzle juga tidak akan bisa membuat kita mengerti maksut besar puzzle tersebut dibuat.

Baik atau buruk, susah atau senang, mudah atau sukar, semua bisa dipakai oleh Tuhan untuk menyatakan rencana agung-Nya dalam hidup kita. Kejatuhan dan keadaan kita saat terbanting ke dalam masalah juga diketahui dengan detail oleh-Nya. Yang perlu kita lakukan hanyalah mempercayai Dia dalam segala hal dan membiarkan tangan-Nya bekerja baik saat kita berada di zona nyaman atau di zona yang bermasalah. Yesus terlebih besar dari semua masalah-masalah yang hilir mudik disekeliling kita. So, don't worry, just trust HIM in everything.

Roma 8:28, Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Simulasi Relationship

Oleh : Angelina Kusuma

A : "Njie, aku udah jadian."
Enjie : "Hah, ma siapa ?"
A : "C-lah ..."
Enjie : "Secepat itukah ?"
A : "Aku nggak mau lama-lama nge-jomblo terus, itu hanya membuatku ingat B dan sedih. Makanya, begitu C pdkt ke aku ya langsung kuterima."
Enjie : "Yakin hatimu bisa 'free' dalam jangka waktu sebulan abis putus dari A ?"
A : "Actually, sometimes I still remember B. Selama ini kalo aku ingat B cepat-cepat aku telpon si C kok. I will try to loving C ..."
Enjie : "Jadi sebenarnya kamu sendiri belum yakin penuh kalo kamu benar-benar jatuh cinta ke C kan ?"
A : "Yang jelas B tetap yang terbaik buat aku, tapi daripada menyesali putusnya aku ma dia terus kan lebih baik aku menerima orang yang mencintai aku dan belajar menerima dia juga ?"

Speechless. Saya kehabisan kata-kata dan kalimat ketika mendengar alasan A menerima uluran relationship dari C tersebut. Saya tahu betul siapa si A. Sebelumnya ia sangat mengasihi B hingga mampu bertahan lebih dari tujuh tahun untuk menjalin relationship dengannya. Ketika hubungan mereka terhenti, saya tahu betapa terlukanya si A. Sebulan lalu saya masih sering menemuinya menangisi kehancuran relationship-nya dengan B dan terlihat kesulitan bangkit dari masa lalunya tersebut. Tetapi ketika ia bercerita bahwa ia sudah menemukan pengganti B dalam waktu sebulan, saya justru semakin bersedih untuknya.

Bangkit dari masa lalu itu harus. Kita hidup di hari ini dan hari esok. Hari kemarin hanya akan menjadi bayang-bayang dan tidak akan pernah bisa kita perbaiki dan kita ulangi. Saya selalu mendukung setiap manusia yang berusaha keluar dari cangkang ketakutannya dan menghadapi hari depannya dengan tegar. Tetapi apakah alasan A menerima C diatas menunjukkan bahwa ia telah menjadi tegar menghadapi masa lalunya ? Menerima orang lain pasca gelar jomblo kembali tersandang, hanya karena takut kesepian, takut teringat terus kepada mantan, dan belajar mencintai serta menerima orang lain yang dianggap mirip dengan mantannya adalah tindakan melarikan diri dari kenyataan bagi saya. Sama sekali tidak menunjukkan kedewasaan sikap dan ketegaran.

Simulasi ! Simulasi adalah suatu peniruan sesuatu yang nyata, keadaan sekelilingnya - state of affairs, atau proses. Saya menyebut bahwa keadaan yang sedang dijalani oleh A ini hanya sebuah simulasi relationship. Belajar mencintai orang lain ketika masa lalu masih membayangi dengan erat adalah salah satu penyebab tidak sehat dalam relationship. Setiap manusia diciptakan dengan keunikan tersediri oleh Tuhan. Tidak ada dua manusia yang sama persis didunia ini. Dan jika kita mencintai seseorang hanya karena orang tersebut mempunyai kemiripan dengan orang yang pernah kita kasihi sebelumnya, ini juga bisa menggiring kita kearah relationship yang tidak seharusnya.

Dalam sebuah hubungan pasti ada take and give. Ketika kita terburu-buru masuk dalam relationship tanpa mengisi dan memenuhi diri kita terlebih dahulu - menjadi single yang utuh - kita akan cenderung menjadi seorang penuntut nantinya. Rasa kesepian adalah tanda bahwa orang tersebut belum sepenuhnya menjadi utuh sebagai seorang pribadi. Orang yang benar-benar utuh menjadi single, tidak memerlukan orang lain untuk membuatnya bahagia - kebahagiaan manusia hanya bisa terpenuhi ketika hubungannya dengan Tuhan dipulihkan terlebih dahulu, bukan mencarinya dengan menjalin hubungan dengan manusia lain. Orang yang sudah terpuaskan menjadi single, tidak perlu khawatir dengan pendapat orang lain mengenai dirinya karena ia tahu apa yang terbaik untuknya memang tidak perlu dicari-cari melainkan dinikmati dari segala hal yang sudah diperolehnya selama ini.

Try to Loving Someone

Belajar mengasihi seseorang tidak bisa kita lakukan jika didalam hati kita masih ada bagian untuk orang lain. Relationship bukan ajang berbelas kasihan. Relationship is a growing up. Tidak adil rasanya memberikan sisa-sisa hati yang masih penuh luka kepada orang lain dan memanfaatkan keberadaannya disisi kita untuk menyembuhkan.

Pasangan hidup seharusnya mendapatkan yang terbaik dari kita. Ia adalah satu-satunya orang yang akan menemani kita menghabiskan sisa waktu kita didunia ini sampai kekekalan menjemput kita. Lebih baik kita membereskan hati terlebih dahulu dari masa lalu dan sisa-sisa relationship sebelumnya, mengejar keutuhan diri pribadi dalam status single sebelum buru-buru memutuskan masuk ke relationship selanjutnya.

Seorang yang setia akan perkara kecil akan diberikan perkara besar. Single doesn't mean alone. Single adalah masa persiapan menuju relationship dan pernikahan. Jika saat menghadapi masa single, seseorang tidak utuh dan panik, maka ia juga tidak akan bisa siap saat memasuki masa relationship dan pernikahan. Inilah fungsi utama dari masa single, menyiapkan pribadi kita sebelum masuk ke tahap selanjutnya dan tempat kita belajar untuk menjadikan kita sebagai pribadi yang tetap utuh, meski sudah masuk ke tahap relationship dan pernikahan.

Tuhan menciptakan setiap tahap kehidupan - single, relationship, pernikahan - dengan kesulitannya masing-masing. Single mempunyai beban tersendiri, begitu juga dengan relationship dan pernikahan. Salah satu tahap tidak lebih istimewa atau lebih baik daripada tahap yang lainnya. So, don't be sad because u're single dan jangan terburu-buru ingin segera masuk ke tahap relationship atau pernikahan jika kita sendiri belum yakin bahwa kita sanggup menjadi seorang manusia yang utuh dihadapan Tuhan dan sesama kita.

Tidak ada kepura-puraan dalam hal cinta.
Tidak ada pengharapan untung rugi dalam hal mencintai dan dicintai.
Tidak ada judi dalam jalinan relationship.

Cinta bukan permainan yang bisa dimainkan.
Jika suka akan terus dielu-elukan dan jika sudah bosan dihentikan atau dibuang.
Relationship bukan sebuah percobaan.
Hanya orang bodoh yang bermain dekat api dan membiarkan dirinya mudah terbakar.

Mencobai cinta, sama saja melukai diri sendiri dengan telak.


Find your true love in waiting with Jesus, the source of LOVE



Predictable

Oleh : Angelina Kusuma

Sudah sebulan ini saya mempunyai kebiasaan baru setiap kali jam dinding di ruang kerja saya menunjukkan pukul satu siang. Akhir-akhir ini, saya memang mengalami kejadian yang terjadi secara berulang-ulang dalam waktu yang hampir bersamaan setiap hari. Dan akhirnya setiap kali waktu menunjukkan pukul satu siang, saya akan segera bersiap-siap menyambut kejadian yang biasanya terjadi tersebut, sambil berkali-kali melihat keadaan diluar ruangan yang mendung.

Apakah yang saya nantikan setiap hari menjelang pukul satu siang sebulan ini ?

Air limbahan dari kebocoran saluran air dari talang rumah !

Tempat kerja yang saya sewa ini masih satu atap dengan sebuah toko swalayan yang letaknya hanya terpisahkan oleh satu tembok. Sebulan lalu, karena curah hujan tinggi yang mengguyur kota saya setiap pukul satu siang keatas, membuat pipa saluran air yang ada di toko swalayan tersebut terkoyak. Saluran air yang semestinya bisa menampung air limbahan dari talang atap rumah, kembali menyemburkan air kelebihan yang ditampungnya ke gudang milik swalayan dan membuat kebocoran tepat diatas ruang kerja saya. Kebocoran yang ikut tertransfer ke ruang kerja saya sebenarnya tidak separah yang diderita oleh pihak swalayan langsung. Namun air yang menetes ke sebuah ruangan penuh dengan peralatan listrik, tetap saja membuat saya harus waspada dan segera menyiapkan wadah khusus untuk menampung air tersebut agar tidak berceceran di lantai dan membuat korsleting ditempat kerja saya.

Pertama kali saat saya merasakan setetes air jatuh dari atap ruang kerja saya, hal ini membuat saya panik. Setetes air yang mengenai peralatan elektronik berarti pertanda sebuah bencana besar akan datang jika tidak segera ditanggulangi. Air bukan saja membuat peralatan elektronik rusak, tetapi juga bisa mengalirkan aliran listrik ribuat volt yang bisa membunuh manusia dalam hitungan detik karena air adalah penghantar listrik.

Setelah kejadian tersebut terulang beberapa kali selama beberapa hari, saya sudah mulai hafal dengan apa yang harus saya lakukan ketika mendung mulai terlihat mengantung dilangit dan waktu menginjak pukul satu siang. Dengan serta merta, saya akan menyiapkan wadah untuk menampung tetesan air limbahan dari atap dan menggelar keset disekitar tempat kebocoran selalu terjadi, meskipun terkadang hujan yang mengguyur tidak selamanya sampai membuat atap saya bocor.

Sebagai manusia normal, kita dilengkapi Tuhan dengan sebuah kemampuan untuk mengetahui hal-hal yang predictable dan unpredictable bukan ? Jangankan manusia, seekor keledaipun tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali. Artinya, setiap manusia dan bahkan hewan, mempunyai naluri untuk menghindari hal-hal buruk yang pernah ia alami sebelumnya. Hanya orang-orang bodoh dan keledai dungu yang melakukan kesalahannya dua kali.

Saya sadar bahwa manusia juga mempunyai kelemahan dalam dagingnya. Jika manusia pernah melakukan kesalahan, itu juga wajar. Yang tidak wajar adalah jika kesalahan yang terjadi sudah berulang-ulang dan kita sebagai manusia tidak pernah belajar untuk memperbaikinya atau berusaha meminimalis terjadinya kesalahan-kesalahan berikutnya dengan cepat dan bijaksana.

Jika saya tidak pernah mengasah naluri saya untuk mengantisipasi transferan air limbahan dari kebocoran saluran pipa talang dari swalayan sebelah, mungkin suatu saat tetesan air tersebut akan membuat peralatan elektronik yang ada di ruang kerja saya rusak dan bahkan membuat saya atau orang yang sedang berada didalam ruangan tersebut tersengat aliran listrik yang terkena tetesan air.

Jika kita tidak berusaha belajar dari kesalahan-kesalahan kita dimasa lalu untuk menjadikannya sebuah pedoman untuk tidak mengulanginya dimasa depan, pastilah kita seperti keledai dungu yang jatuh ke lubang sama dua kali. Maukan kita disebut orang bodoh atau keledai dungu ?

Mari, kita belajar dari kejadian-kejadian buruk yang pernah kita alami dan menjadikannya sebuah moment predictable untuk segera diatasi ketika mulai terlihat tanda-tandanya akan terjadi.

Amsal 15:14, Orang bijaksana mencari pengetahuan; orang bodoh sibuk dengan kebodohan.

Hubungan Pribadi Dengan Tuhan

Oleh : Angelina Kusuma

Satu tahun setelah kepindahan saya ke sebuah kota kecil di Jawa Timur yang bernama Ponorogo, saya masih membawa tabiat-tabiat keegoan saya terdahulu. Sulitnya meninggalkan kenyamanan pada kehidupan serba ada dan berteknologi tinggi di kota-kota besar yang pernah saya diami sebelumnya, membuat saya seperti orang asing ketika harus memulai hidup baru di kota yang jauh daripada mall, plaza, hiruk pikuk kemacetan, dan budaya workaholic.

Suasana kota yang lebih nyaman dan lebih tenang dibandingkan kota terakhir yang pernah saya diami, tetap membuat saya harus beradaptasi dengan ekstra di kota yang baru ini. Saya tidak bermasalah dengan keadaan kotanya. Namun kebiasaan hidup secara individu dan juga budaya acuh satu sama lain dari kota sekelas Jakarta, ternyata mampu mengasingkan saya dari budaya kota Ponorogo yang sarat dengan tata krama dan sopan santun adat Jawa yang begitu kental, hampir selama setahun berikutnya.

Proses adaptasi saya dengan kota inipun berdampak langsung dalam hal kerohanian saya. Pada awal bergereja, saya hanya menjadi jemaat mingguan. Datang ke gereja hanya untuk mengikuti Ibadah Raya, kemudian buru-buru meninggalkan ibadah setelah doa berkat selesai diaminkan. Bukan hanya kesibukan kerja baru saya yang menyita waktu. Tetapi juga keengganan saya berbaur dengan orang asing yang membuat saya jalan ditempat, menjadi jemaat yang cuek terhadap lingkungan sekitarnya.

Seiring dengan menjauhnya saya dengan komunitas rohani dan berkurangnya sahabat-sahabat didalam Kristus yang bisa menguatkan ketika saya tertimpa masalah, membuat antusias saya terhadap Firman Tuhanpun ikut terseret arus timbul tenggelam. Saya jadi lebih mudah lepas emosi, lekas suntuk ketika berhadapan dengan kesulitan sekecil apapun, dan lebih rentan terhadap perasaan tersinggung.

Minggu lalu, kebetulan ada seorang sahabat yang mengirimkan instant message di chat online saya mengenai hal serupa yang pernah saya alami setahun lalu, "Bagaimana caranya menjaga HPDT supaya tidak naik turun ?" HPDT atau Hubungan Pribadi Dengan Tuhan memang sangat rentan terombang-ambing dan naik turun. Hampir semua orang Kristen pasti pernah mengalaminya termasuk saya, anda, para nabi, pendeta, dan bahkan para murid-murid Yesus sendiri.

Saya tidak mempunyai tips jitu untuk mempertahankan HPDT agar selalu diatas atau naik. Manusia yang masih terbalut oleh kedagingan, sangat mustahil mempertahankan HPDT agar tidak padam apinya setiap saat sampai 100 % tingkat keberhasilannya. Yang saya tahu selama ini hanyalah cara keluar dari situasi yang membuat HPDT kita bermasalah.

1. Fokus Pikiran

Pengajaran ilmu psikologi duniapun selalu menyarankan agar kita berpikir positif untuk kehidupan yang lebih baik. Demikian juga fokus pikiran sangat berpengaruh terhadap HPDT kita. Pikiran-pikiran negatif sering kali membawa kita kepada perasaan malas dan enggan untuk berdoa dan membina hubungan intim dengan Pencipta kita. Selama kita tidak bisa menjaga fokus pikiran kita dan menaklukkannya dibawah kaki Yesus, selama itu pula HPDT kita akan terus menurun.

Filipi 4:8, Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

2. Lingkungan Bertumbuh

Berapa banyak orang-orang yang takut akan Tuhan mengelilingi kehidupan kita ? Lingkungan tempat kita bertumbuh juga bisa mempengaruhi naik turunnya HPDT. Jika lingkungan kita penuh dengan orang-orang yang takut akan Dia, maka kecenderungan kita untuk memiliki HPDT yang relatif konstant akan lebih tinggi daripada mereka yang mempunyai lingkungan dengan sedikit pengikut Kristus didalamnya. Rekan-rekan sesama tersebut bisa menjadi pemacu semangat ketika kita mulai kendor dan menjadi cermin saat kita mulai menjauh dari hadapan Tuhan.

Pengkotbah 4:9-12 Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.

3. Melayani

Saat Daud mengalahkan Goliat, ia sedang dalam misi Tuhan. Tetapi ketika Daud jatuh ke dalam dosa perzinahan, ia tidak sedang melayani Tuhannya. Tugasnya sebagai panglima yang seharusnya maju berperang, ia gunakan untuk melihat pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat di tempat permandian wanita. Ketika kita merasa egois dengan menyimpan talenta yang Tuhan berikan untuk kita sendiri, saat itu sebenarnya kita sedang membatasi hubungan intim kita dengan-Nya. Pelayanan adalah sebuah bentuk kasih kita kepada Tuhan. Orang yang mengenal Tuhannya dengan intim, akan segera mengambil tindakan untuk melayani-Nya.

Yohanes 21:15, Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku."

Tiga poin penting ini sempat saya lupakan saat awal kehidupan saya selepas dari tempat tinggal saya terdahulu. Saya tidak menjaga fokus pikiran saya kepada Yesus, tidak lagi bergaul dengan orang-orang yang takut akan Tuhan, dan mulai jarang melayani karena saya hanyalah seorang jemaat mingguan. Keteledoran saya ini akhirnya membuat HPDT saya turun. Gairah saya terhadap Firman Tuhan mulai mengendor, kehidupan doa pribadi saya tersendat-sendat, dan membuat rohani saya dingin.

Pemulihan terdahap HPDT sayapun membutuhkan cukup banyak energi yang terserap. Saya mulai mengubah fokus pikiran saya dan mengutamakan Yesus dalam setiap keputusan. Kehidupan Kekristenan saya yang hanya mingguan mulai saya tambah dengan acara kelompok sel gereja, mengenal pribadi orang lain didalam Kristus di lingkungan saya, menerima lingkungan saya apa adanya, dan mulai kembali mengambil bagian dalam pelayanan.

Perubahan adalah keputusan. Tanpa tindakan, keinginan kita untuk menjaga HPDT tetap naik hanyalah sebuah impian. Tiga poin yang saya sebutkan diatas akan berlalu begitu saja jika kita tidak mempunyai tekad untuk memiliki antusias terhadap hubungan intim dengan Tuhan itu sendiri. Buang jauh-jauh ego dan sikap acuh tak acuh terhadap keadaan lingkungan sekitar. Inti dari kehidupan para pengikut Kristus adalah kasih. Dan jika kita tidak pernah perduli dengan sekeliling kita, layakkah kita mendapat perhatian istimewa dari-Nya ?

Tuhan tidak pernah menjauh dari kehidupan umat-Nya sedetikpun. Jika kita merasakan hubungan yang renggang dengan-Nya, bukan berarti bahwa Ia meninggalkan kita saat itu. Sebaliknya, seringkali kitalah yang menjauhi-Nya dengan segala macam alasan dan kegiatan dunia kita yang sama sekali tidak diperkenan-Nya.

Yang namanya sebuah hubungan, haruslah dari kedua belah pihak. Yesus sudah memberikan diri-Nya mati diatas kayu salib demi memperbaiki hubungan-Nya dengan kita. Sekarang waktu kitalah yang mengambil sikap dan tindakan untuk mendekat kepada-Nya sebagai tanda bahwa kita juga mengasihi-Nya.

Keep On Fire !





Special tx 4 Connie, PMK ITS : makasih atas kepanjangan HPDT-nya ya. Meskipun di awal aku salah nanya tentang HDPT, ternyata dirimu tetap bisa menangkap maksud hatiku hehehe.



Amin dan Iman

Oleh : Angelina Kusuma

Terbakar didalam Kristus itu mudah. Tetapi mempertahankan api yang membara didalam-Nya itu cukup sulit. Berapa tahun lamanya kita mengikut Kristus ? Sudahkah didalam setiap jejak langkah kita mengiring Dia, kita merasakan kesempurnaan penyertaan-Nya, pertolongan-Nya, dan mukjizat-mukjizat-Nya yang ajaib ? Jika belum, berarti Anda dan saya termasuk orang yang RUGI !

Yesus adalah sumber kehidupan. Didalam Dia semua kebutuhan kita sudah lengkap. Ia adalah Penjaga kita, Dokter kita, Hakim kita, Bapa kita, dan Sahabat kita. Didalam Dia semua yang mustahil bisa dirubah menjadi berkat dan mukjizat. Seringkali orang Kristen tidak mengalami mukjizat dan penyertaan-Nya bukan karena ia salah memilih Tuhan. Tetapi sering kali karena kita hanya menjadi orang Kristen yang bisa ber-amin dan tidak bisa ber-iman, mudah terbakar jika ada pemberitaan Firman Tuhan yang indah ditangkap oleh telinga kita namun tidak mampu mempertahankan bara Firman itu sehingga menjadi pegangan hidup kita setiap saat.

"Tuhan itu ada nggak sie ?", pernyataan ini pernah saya dengar dari seorang sahabat yang sudah menjadi Kristen sejak lahir. Hanya karena kecewa hubungan relationship-nya dengan beberapa orang gadis selalu berantakan sebelum naik ke pelaminan, lalu ia menanyakan keberadaan Tuhan.

"Tuhan itu benar-benar ada dan pertolongannya nyata !", sebaliknya pernyataan ini saya dengar dengan jelas dan tegas dari seorang ibu jemaat gereja saya yang baru saja menjadi pengikut Kristus satu bulan. Saya benar-benar tersentuh oleh kesaksian yang didapatnya beberapa minggu yang lalu. Keadaan suaminya menderita sakit yang agak parah. Uang mereka habis hanya untuk biaya pengobatan di rumah sakit selama seminggu lebih sebelumnya. Ketika suaminya dibawa pulang ke rumah, mereka hanya mengandalkan Tuhan untuk kehidupan sehari-hari. Suatu ketika suaminya berkata kepadanya untuk memintanya membelikan sebungkus nasi pecel. Ibu ini tidak mempunyai uang sepeserpun untuk membeli nasi itu. Tetapi ia hanya berdoa kepada Yesus dan beriman serta berkata kepada suaminya bahwa ia akan berangkat ke warung sebelah rumahnya dan akan membawa nasi pecel pesanan suaminya secepatnya. Mukjizat terjadi satu jam berikutnya. Seorang wanita yang tidak pernah dikenal ibu ini sebelumnya datang ke rumahnya dan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk membeli nasi pecel untuk suami dan keluarganya.

Jika Anda membaca tulisan ini dan tertawa saat saya menceritakan cerita yang pertama, maka periksalah hati Anda saat ini juga. Sering kali kita menjadi orang Kristen seperti itu. Hanya bisa menyebut Dia Tuhan saat kita senang, tetapi begitu badai pencobaan datang, keyakinan kita kepada-Nya lenyap. Hanya berganti dengan pertanyaan bodoh, "Apakah Tuhan itu ada ?"

Jika Anda segera mengucapkan amin ketika membaca cerita saya yang kedua, maka tanamkan dalam diri Anda bahwa ibu itu bisa menerima mukjizat karena ia menghendaki hal tersebut terjadi terlebih dahulu, bukan karena Ia lebih lama menjadi Kristen dan telah mendalami Alkitab dengan baik - ibu ini belum bisa membaca tulisan latin dengan lancar seperti kita, tetapi ia hanya bisa membaca tulisan Arab. Tanpa doa dan imannya, Tuhan tidak akan pernah menggerakkan seorang wanita yang tidak dikenal sebelumnya untuk memberkati ibu dan keluarganya.

Baik dalam perkara yang besar atau perkara kecil, Yesus selalu hadir disana. Ia bukan Allah yang buta terhadap kesulitan hidup kita. Ia tidak bisa bertindak lebih dalam hidup kita karena kita tidak melibatkan-Nya didalamnya, kita membiarkan Yesus tertidur diburitan kapal yang kita kemudikan seperti yang dilakukan oleh para murid ketika menghadapi taufan yang melanda perahu mereka.

Markus 4:37-38a, Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam.

Ketika kita membiarkan Yesus berada diluar kehidupan kita, Ia tidak akan bisa mengadakan mukjizat-Nya karena kitalah yang bertahta diatas kursi kerajaan yang seharusnya dipegang oleh-Nya. Kita tidak akan sanggup mengendalikan hidup kita tanpa bantuan-Nya. Jadi jangan salahkan Yesus jika hidup kita berantakan karena kepemimpinan kita sendiri. Ia baru bisa turun tangan jika kita menundukkan diri kita dihadapan-Nya dan meminta-Nya untuk mengatasi masalah hidup kita.

Markus 4:38b-39, Maka murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya: "Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?" Iapun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau itu: "Diam! Tenanglah!" Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali.

Jangan pernah membiarkan Yesus tertidur ! Bangunkan Dia segera, setiap saat !!


Do you have a problem ?
Don't worry !
Call Jesus hurry up !!
Matius 11:28

Friday, April 11, 2008

Jangan Terburu-buru 'Putus'

Oleh : Angelina Kusuma

"Aku pingin putus sama cowokku ... "

Mungkin saat ini anda sedang mengalami keadaan seperti teman saya diatas. Ia baru sekitar satu bulan yang lalu menjalin relationship dengan seorang rekan sekerjanya dikantor, kemudian mulai timbul masalah seiring berjalannya hubungan tersebut yang membuatnya merasa bahwa lebih baik jika hubungan tersebut diakhiri secepatnya.

Relationship is a growing up together

Jika didalam sebuah hubungan tidak ada gesekan antar pribadi, itu mustahil. Setiap manusia diciptakan dengan karakter yang berbeda-beda. Masa relationship bukan masa untuk menikmati kesenangan karena berhasil melepas predikat jomblo dari diri kita saja. Relationship yang senenarnya merupakan bengkel bagi kedua orang yang sedang terlibat didalamnya untuk saling menyesuaikan diri satu sama lain sebelum masuk ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.

Prinsip sepadan dan seimbang yang ada dalam relationship bukan berarti bahwa kedua orang yang sedang make a relationship harus mempunyai karakter yang sama sehingga tidak terjadi gesekan seperti apapun juga. Sepadan dan seimbang adalah saling melengkapi, saling mengisi kekosongan, dan saling mendukung dalam segala hal.

Orang yang bisa saling melengkapi, mengisi, dan mendukung tidak selalu berasal dari dua pribadi yang mempunyai banyak kemiripan karakter. Yang berbeda jauh karakternya juga bisa menjadi pasangan yang sepadan dan seimbang jika bisa saling nengendalikan diri saat gesekan karakter dalam relationship terjadi.

Keegoisan terkadang membuat masalah sepele bisa menjadi masalah besar bagi dua orang dalam relationship. Jangan pernah berkata 'putus' jika memang belum mencoba menjembatani gesekan karakter yang terjadi. Jejak-jejak relationship yang gagal bisa menimbulkan bekas dihati setiap orang, entah itu saat mengucapkan kata berpisah dengan cara baik-baik maupun dengan cara yang kurang baik. Suka atau tidak suka, broken heart akan tetap meninggalkan kenangan tersendiri yang akan mempengaruhi hubungan kita dengan orang lain lagi dimasa depan nantinya.

Terburu-buru menginginkan perpisahan sementara belum terjadi dialog antara keduanya juga bukan pilihan yang bijaksana. Pasangan adalah cermin bagi yang lainnya. Pria dan wanita diciptakan berbeda dan karena itulah mereka harus saling melengkapi kebutuhan masing-masing setiap saat, bukan justru saling menuntut untuk lebih dimengerti.

Ada seorang teman yang pernah berkata seperti ini kepada saya, "Saat kamu make a relationship dengan orang lain, maka bersiaplah untuk belajar menjadi 'orang lain'. Dan jika kamu sudah menikah dengan orang itu, maka bersiaplah untuk menjadi 'seseorang yang benar-benar lain' dari dirimu sebelumnya."

Apakah perkataan teman saya diatas berlebihan ?

Hmm, saya rasa memang ada benarnya. Dalam hubungan pertemanan saja terkadang kita harus memiliki toleransi-toleransi tertentu terhadap orang yang menjadi partner kita. Apalagi dalam kasus urusan pasangan hidup untuk selamanya. Jika saat berjalan bersama ada toleransi yang harus kita lakukan demi tetap berlangsungnya jalan relationship tersebut kearah yang lebih baik, why not ? - saya menggaris bawahi kata 'kearah yang lebih baik', bukan toleransi yang membuat kita jauh lebih buruk keadaannya daripada saat sebelum make a relationship.

Art to make communications

Jika pasangan kita lebih memilih untuk tenggelam dalam pekerjaannya, acara bersama teman-temannya, hobby-nya dan tidak mempunyai waktu lebih untuk menjalin komunikasi secara rutin dengan kita, bagaimana kita menyikapinya ? Ini adalah inti permasalahan yang kerap sekali membuat hubungan relationship menjadi renggang dan putus dengan sendirinya.

Komunikasi memang kunci utama sebuah relationship bisa bertahan awet sampai pernikahan. Tetapi perlu diingat juga bahwa bukan seberapa sering dan intens dua orang yang terlibat relationship tersebut melakukan kontak tatap muka atau terlibat dalam pembicaraan baik secara langsung maupun melalui perantara teknologi. Yang terpenting dari komunikasi dalam relationship adalah kualitasnya. Ada orang yang wasted time, setiap hari berbicara melalui telpon dan secara rutin seminggu sekali melakukan pertemuan, tetapi ketika dihadapkan pada kasus apakah ia sudah mengenal pasangannya secara luar dalam maka orang tersebut hanya bisa menggelengkan kepala.

Mengetahui apa yang akan kita bicarakan, apa yang menjadi tujuan pembicaraan, dan untuk apa pembicaraan tersebut dilakukan akan menuntun kita mendapatkan kualitas komunikasi dengan pasangan yang lebih baik daripada saat kita asal melakukan kontak dengannya hanya karena ia adalah kekasih kita dan kewajiban sebagai dua orang yang sedang dalam hubungan relationship.

Bersabar dalam pembentukan karakter

Ketika terjadi masalah dalam relationship, maka kita juga harus menikmatinya sebagai bagian dari pembentukan karakter kita sendiri. Membiarkan emosi menguasai hati dan pikiran saat terjadi perselisihan atau perang dingin hanya akan mengakibatkan sesal dikemudian hari jika ternyata keputusan yang diambil saat lepas kendali tidaklah tepat. Lebih baik memberikan sedikit waktu agar pribadi kita bisa berdiam diri, berfikir jernih, dan menenangkan diri sejenak, kemudian baru bergerak maju untuk menyelesaikan masalah yang terjadi bersama-sama.

Simpan baik-baik setiap kata-kata negatif yang ingin terlontar dari mulut kita saat diperhadapkan pada batu-batu kerikil relationship. Kata-kata yang keluar dari mulut kita sama seperti sebuah nubuatan untuk pribadi kita sendiri. Kalau memang kita masih belum ingin menyudahi hubungan yang sudah kita bina, maka jangan sering-sering menggemakan kata-kata 'putus' dengan mudahnya. Hanya orang bodoh yang menginginkan kejadian buruk menimpanya. Karena itu perkatakan hal-hal yang positif dan penuh berkat agar hidup kita selalu diberkati juga.


Bersabar dalam masalah yang terjadi, belajar bersama-sama untuk saling mengerti satu sama lain, dan menjaga kualitas komunikasi perlu kita perhatikan dengan seksama sebelum memutuskan untuk mengakhiri relationship dengan tergesa-gesa. Lebih baik berfikir seribu kali terlebih dahulu sebelum bertindak daripada menelan penyesalan dikemudian hari hanya karena emosi sesaat yang tidak terkontrol sempurna.