Friday, December 05, 2008

Love menurut Sternberg

Cinta menurut Om Sternberg neh...

Untuk renungan bagi yang sedang berada di wilayah 'Relationships' atau 'Friendship yang bisa mengarah kepada Relationships'.

Ada 3 komponen yg menyusun love:
A. Intimacy (kedekatan)
B. Passion (hasrat/nafsu)
C. Commitment (kesetiaan)

Dari sini muncullah beberapa jenis love:

1. Liking/friendship
Hanya ada Intimacy saja.

2. Infatuated love
Hanya ada Passion saja.

3. Empty love
Hanya ada Commitment saja.

4. Romantic love
Ada Intimacy + Passion.

5. Companionate love
Ada Intimacy + Commitment.

6. Fatuous love
Ada Passion + Commitment.

7. Consummate love
Ada Intimacy + Passion + Commitment.

Ketika seorang pria mulai suka kepada wanita atau wanita mulai suka kepada seorang pria, perlu diteliti apakah karena alasan-alasan di bawah ini:

- Karena ada intimacy?
Tandanya seperti nyambung saat diajak ngobrol, bisa saling membangun, likes to spend time together, ada rasa nyaman saat berinteraksi.

- Karena ada passion?
Lebih kearah ketertarikan secara fisik, seperti apakah si dia cantik/tampan, karena sorot matanya yang menawan, suka melihat senyumnya, tubuhnya yang menarik.

- Karena commitment?
Karena terlanjur dijodohkan, merasa wajib mendampingi, wajib menjaga, wajib membuat bahagia, karena sudah berjanji maka harus ditepati.

Sekarang mari kita cek hubungan kita dengan lawan jenis di area love kita yang berpotensial mengarah kepada relationships. Apakah hubungan kita mulai menunjukkan gabungan antara dua aspek seperti diatas atau justru hanya satu aspek saja (relationships tak seimbang) atau sudah mengarah kepada ketiga aspek yang ada? (relationships yang sehat).

Contoh:
a. Ada pria/wanita yang menarik tetapi tidak nyambung saat kita ajak ngobrol
Artinya, ada passion tetapi minim intimacy.

b. Ada pria/wanita yang sangat nyaman saat melakukan aktivitas bersama-sama, tetapi tidak terasa adanya 'chemistry'
Artinya, ada intimacy tetapi minim passion.

Yukkkk...introspeksi diri dalam hubungan lawan jenis kita masing-masing...

Sebelum melangkah terlalu jauh, jaga batas-batas antara friendship just for friendship atau friendship for the next relationships.

Pahit

Oleh : Angelina Kusuma

Pernah merasai air putih yang diisikan ke wadah bekas kopi?

Saya tidak terlalu suka menikmati pahitnya kopi. Rasa itu kurang familiar di lidah saya. Seumur hidup, jika dihitung kira-kira saya baru menenggak minuman berbahan kopi ini sebanyak 4 sampai 5 kali saja. Itupun jenis minuman kopi yang sudah dicampur dengan bahan-bahan lain sehingga rasa pahitnya banyak berkurang.

Seluruh anggota keluarga di rumah saya juga jarang mengkonsumsi kopi. Saya sendiri lebih memilih air putih sebagai minuman favorit saya sehari-hari, tanpa ada penambah rasa manis, pahit, atau rasa lain-lainnya. Bagi saya, selain menyehatkan air putih lebih mudah didapat dan lebih cepat menyegarkan tubuh saat dahaga datang menyapa.

Kemarin malam, air mineral galon di tempat kerja saya kebetulan habis. Karena saat berangkat ke tempat kerja saya tidak membawa kendaraan sendiri, akhirnya saya meminta adik membawakan sebotol air minum dari rumah. Setelah merasai beberapa teguk dari botol yang dibawakan oleh adik saya ke tempat kerja itu, tiba-tiba saja saya mengecap sedikit keanehan pada rasa air putih yang saya minum.

"Kok rasanya ada pahit-pahitnya, Bob?" Adik saya ikut meneguk air dari botol minuman yang tadi dibawanya kemudian juga berkata bahwa air itu berubah rasanya menjadi agak pahit.

"Wah, abis dipakai buat kopi nie botolnya..."

Ya, air putih yang diisikan ke dalam wadah bekas kopi itu ikut terimbas sisa-sia pahit yang masih menempel di dinding-dindingnya. Entah kapan terakhir kali wadah itu pernah diisi kopi, mungkin beberapa Minggu lalu ketika ada seorang pekerja yang membetulkan pompa air rusak di rumah saya. Meski sudah dicuci berulang kali ternyata rasa pahit dari kopinya masih membekas juga di wadah air minum dan membuat air yang diisikan ke dalamnya ikut terasa agak pahit seperti kopi.

Jika kita tidak berhati-hati dengan kepahitan di hidup kita, juga bisa berakibat sama seperti sisa-sisa pahit di wadah bekas kopi yang merubah rasa air minum yang dituang ke dalamnya. Kepahitan dalam hidup kita bisa membuat semua yang kita lihat tampak pahit meski sebenarnya tidak demikian. Kebencian, iri hati, kemarahan, ketidak-percayaan diri, kesedihan, kesepian, kegelisahan, dan ketidak-nyamanan hidup yang kita pelihara, bisa membuat semua orang 'seolah' tidak mengharapkan kehadiran kita dan berakibat menyakiti kita sendiri.

Pahitnya kopi lebih mudah membekas di wadahnya daripada rasa lainnya. Hal-hal yang negatif juga lebih mudah membekas di hati manusia daripada hal-hal yang positif. So, be careful if you going to be negative (nj@coe).



Tuesday, December 02, 2008

Nama Kembar

Oleh : Angelina Kusuma

Gara-gara tulisan 'Dani' di status chat online yang saya pasang, pagi ini saya mendapat beberapa message dari para 'Dani' di friends list saya.

Dani (pake akhiran 'el'): "Njie, emang gue sms apaan tadi pagi ke loe?"
Enjie: "Maksut loe?" ***bengong.
Dani (pake akhiran 'el'): "Itu...status loe bilang 'Dani, tx ya smsnya...'. Emang gue sms apa ke loe tadi?"
Enjie: "Wkwkwk..." ***ga tahan ngakak euy huahaha.

Tak berapa lama kemudian...

Danny (pake double 'n'): "Hallo, Njie. Piye kabare?"
Enjie: "Wuah, baik kak. Gimana kabar juga hari ini?"
Danny (pake double 'n'): "Baik. Eh, kemarin ultah ya. Selamat yo. Baru tahu dari FS nie."
Enjie: "Hehe, tx ya kak."
Danny (pake double 'n'): "Semoga lancar usahanya, tambah dewasa..."
Enjie: "Wah, teng kiu kakakku ^_^..." ***aslinya mulai mikir, kok tiba-tiba ni kak Dani pake double 'n' tiba-tiba nyapa pagi-pagi ya? gara-gara tulisan 'Dani' yang ada di status chat online-ku juga kah? huehehe.

Enjie: (ambil HP...search nama Dani GBI...call...nggak ada yang angkat ***grrrrrrrr...sebel...)

...Akhirnya, kemudian ada sms masuk juga di HP.

Dani (yang asli): "Mbak, sorry tadi lagi di jalan, nggak sempet angkat telp. Iya, itu anaknya lagi dalam perjalanan dari Surabaya ke Ponorogo. Yang sabar ya...Bentar lagi ibuku ke tempate sampeyan mo ngejelasin semuanya."
Enjie: "Ok deh, tak tunggu. Btw, gara-gara kamu aku diserbu para 'Dani' nie. Makanya, stand by dong HP-nya. Sms nggak jelas, mo ditelpon nggak bisa. Aku puyeng jadinya."
Dani (yang asli): "Emang kenapa?" ***mungkin sambil garuk-garuk kepala pas nulis sms balasan ini wkwkwk.
Enjie: "Nggak jadi dah. Nanti aja tak critain ke ibumu ato hari Minggu besok aku crita kalo ketemu di gereja" ***ambil nafas panjang, untung nggak jadi ngamuk-ngamuk ke Dani (yang asli) abis diberondong dua Dani lainnya di chat online huahaha.

Nama kembar bisa mengakibatkan hal-hal lucu seperti ini ya. Sebenarnya saya juga mempunyai pengalaman lucu dengan nama kembar ini. Dulu waktu SMP, saya punya seorang sahabat dengan nama depan sama yaitu Angelina. Karena nama kami sama, otomatis nama kecil kami juga sama, sama-sama Angie. Nah, sering kali jika ada orang yang menyebut Angelina atau Angie saja, kami berdua akan datang atau menoleh dengan serempak. Karena itu, untuk membedakannya, saya membuat nama panggilan saya dalam versi Indonesia maksa yaitu Enjie wkwkwk.

Setamat SMP, saya (Angelina dengan nama kecil Enjie) terpisah dengan Angelina dengan nama kecil Angie. Tetapi tiga tahun lalu kami bertemu kembali. Ia menyempatkan diri berkunjung ke tempat kerja saya sebelum kemudian melanjutkan studinya ke Los Angeles. Setelah itu, komunikasi kami lebih banyak melalui chat online, e-mail, dan juga account di sebuah social networking internet untuk bertukar foto-foto.

Pertengahan tahun kemarin, mamanya Angelina dengan nama kecil Angie, pergi ke LA menengok putrinya itu. Sepulang dari sana beliau membawakan oleh-oleh untuk saya (Angelina dengan nama kecil Enjie) berupa bingkisan parfum. Hadiah itu dibungkus dengan kertas kado yang tertulis 'Angelina'. Waktu mami saya (Angelina dengan nama kecil Enjie) melihat kotak persegi empat dengan kertas kado yang masih rapi di atas tempat tidur itu, dengan penasaran beliau segera mengambil barang tersebut kemudian bertanya kepada saya.

Mami Angelina dengan nama kecil Enjie: "Apa ini, Ngie?"
Enjie: "Hadiah dari Angie."
Mami Angelina dengan nama kecil Enjie: "Kamu beli hadiah buat dirimu sendiri?"
Enjie: "Bukan...dari Angie temen SMP dulu tuh yang namanya kembaran sama aku mi." ***gubrakkk, masa iya gue beli hadiah buat diri gue sendiri sie? gue nggak se-desperate itu kali meski nggak ada yang pernah ngasih gue kado istimewa wkwkwk.

Beberapa Minggu lalu, kejadian lucu gara-gara nama kembar kembali saya alami.

Ce Yuli: "Tadi ada seorang ibu-ibu dateng kesini katanya suruh ngambilin foto-fotomu di FS trus suruh burn ke CD. Besok mo diambil."
Enjie: "Maksutnya...?" ***bingung mode on.
Ce Yuli: "Nggak tahu, tadi si ibu itu cuma bilang, 'Foto-fotonya Angie yang ada di FS suruh ngambilin trus burn ke CD'...gitu..."
Enjie: (manggut-manggut) ***mulai ngerti duduk permasalahannya hehehe.

Ce Yuli ini adalah rekan sekerja saya. Ia belum tahu bahwa saya mempunyai sahabat dengan nama kembar dan nama panggilan kecil yang sama juga dengan saya. Mamanya Angie sering datang ke tempat kerja saya (Enjie) untuk meminta tolong saya mengambilkan (download) foto-foto Angie yang ter-upload di account social networking-nya.

Saat mama Angie menitipkan pesan, '...ambilkan foto-foto Angie yang ada di FS...', Ce Yuli yang hanya mengenal saya sebagai satu-satunya 'Angie' pasti mengira bahwa ibu itu berpesan bahwa saya (yang dikiranya Angie yang dimaksut) harus mengambil foto-foto saya sendiri yang ter-publish di FS untuk ibu itu ***wkwkwk, hebat juga kalo ada yang beneran nge-fans sama foto-foto cute gue sampai minta di download-in khusus gitu ya...gue rela...gue iklas...gue mauuuu kok...sok ngartis mode on!

Setiap manusia mempunyai ciri khas sendiri-sendiri. Nama boleh kembar, penampilan bisa serupa, tetapi kepribadian tidak akan pernah sama. Saya (Angelina dengan nama kecil Enjie) dan Angelina dengan nama kecil Angie sahabat saya semasa SMP, juga berbeda karakter meski nama depan kami sama-sama bernaung di bawah unsur Angelina. Kami (Enjie dan Angie) tentu juga berbeda kepribadian dengan Angelina Jolie atau juga Angelina Sondhak yang sebentar lagi dikabarkan hendak menikah dengan Adjie Massaid itu? ***sesama Angelina boleh dong nebeng beken dikit hihihi.

Sama seperti sahabat-sahabat saya yang bernaung di bawah nama Dani. Antara Dani pake akhiran 'el', dengan Danny pake double 'n', dan Dani asli yang saya tulis di status chat online saya pagi tadi, semuanya memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Hmm, jadi ingat satu sahabat saya lagi dengan unsur 'Dani'...namanya Dani pake awalan 'Ar'. Ke-empat sahabat saya dengan unsur nama Dani yang sama ini, tentu juga berbeda kepribadian dan kehidupannya dengan Dhani (pake 'h') Ahmad yang merupakan pentolan group Dewa 19 yang baru bercerai dengan Maia Estianty dari Duo Ratu beberapa bulan yang lalu itu.

Mungkin, nama anda juga ada kembarannya di dunia ini. Apalagi kalau orang tua yang memberikan nama kepada anda sengaja mengambil nama itu dari jajaran nama-nama yang sudah ada lebih dulu atau nama yang sudah terkenal (seperti nama adik kandung saya Bobby Fischer yang diambil dari nama pecatur asal Amerika Serikat), akan lebih banyak lagi nama yang menyamai anda. Bisa dua, lima, sampai puluhan bahkan ratusan kesamaan nama. Siapapun bisa menyandang Angelina, Erik, Fifi, Ika, Dani, Doni, Deni, Joe, David, Lucky, Hanny, Soni, Rony, Roby, Mulya, dan lain-lain sebagai namanya. Tetapi hanya akan ada satu pribadi yaitu anda masing-masing.

Di dunia ini boleh ada banyak Angelina. Tetapi Angelina yang mempunyai nama kecil Enjie dan merupakan sahabat dari Angelina dengan nama kecil Angie, yang nge-fans sama Angelina Jolie dan suka ngaku-ngaku masih sedarah sama Angelina Sondhak itu pastinya hanya saya! ^o^ V.

Yuk, bangun karakter diri sendiri lebih berkualitas lagi agar dunia mengingat kita sebagai Angelina yang baik, Soni yang bijak, Roby yang beken, Lucky yang keren, Hanny yang cantik, Mulya yang cool, Erik yang periang, Fifi yang tenang, Ika yang pintar, etc...

Jangan biarkan dunia mengenal anda sebagai orang berpredikat minus di antara orang-orang terbaik lainnya yang bernama sama dengan yang anda miliki (nj@coe).


Monday, December 01, 2008

Yes, I'm Loved

Oleh : Angelina Kusuma

Mencintai seseorang, mungkin mudah dilakukan oleh banyak orang. Untuk bisa mencintai orang lain, kadang kita tidak memerlukan teori atau alasan yang tepat lebih dulu. Tetapi menjadi seseorang yang mudah dicintai oleh orang lain, tidak semua orang bisa mendapatkan posisi yang istimewa ini. Perhatian merupakan salah satu bentuk apresiasi dari seseorang kepada orang yang dicintainya.

Lewat dua hari dari ulang tahun saya, saya masih terus menerima ucapan selamat dari sahabat-sahabat saya baik ucapan secara langsung, testimonial di beberapa account social networking, sms, dan juga message di chat online. Tak hanya ucapan, banyak di antara mereka yang menghantarkan doa-doa khusus bagi kehidupan saya di masa depan yang membuat saya terharu. Dengan datangnya hari yang hanya sekali dalam setahun diperingati sebagai kelahiran saya ini telah membuka mata saya bahwa saya telah dicintai oleh banyak orang selama ini. Beberapa orang sahabat lama saya yang sudah terpisah ratusan kilometer dari tempat saya berada saat inipun, ada yang rela mengirimkan kado istimewanya ke alamat rumah saya dengan sukarela.

Hari ulang tahun sebenarnya bukanlah hal besar bagi saya dan bagi kebanyakan orang hari tersebut pastinya juga tidak akan ada bedanya dengan hari-hari lain kecuali dengan bertambahnya usia seseorang setelah melewatinya. Tetapi kesediaan sahabat-sahabat saya mengingat hal terkecil dari hidup saya ini, telah membuat saya merasa berharga lebih dari yang saya bayangkan. Ketika mendapatkan ucapan selamat ulang tahun dari sahabat-sahabat itu (bahkan yang kurang saya kenal dengan baik), saya mulai bertanya-tanya di dalam hati, "Apakah aku sudah memberikan perhatian yang cukup kepada mereka seperti yang mereka lakukan kepadaku itu?"

Saya sangat menghargai persahabatan. Bagi saya, seorang sahabat juga merupakan saudara saya. Perhatian sekecil apapun dari orang lain adalah feedback dari apa yang sudah saya tabur sebelumnya. Beberapa orang yang memberi ucapan selamat ulang tahun dan mengirimkan doa-doa khususnya kepada saya kali ini bukanlah sahabat-sahabat terdekat saya. Di antara mereka banyak yang saya kenal hanya melalui mailist atau forum dan chat online. Meskipun begitu, ucapan dan doa-doa yang mereka kirimkan untuk saya tetap menjadi kado-kado istimewa di usia saya sekarang.

"If you want to win friends, make it a point to remember them. If you remember my name, you pay me a subtle compliment; you indicate that I have made an impression on you. Remember my name and you add to my feeling of importance" - Dale Carnegie

Mencintai tak harus selamanya diartikan kepada pasangan hidup, tetapi juga bisa ditujukan kepada keluarga dan sahabat-sahabat kita. Seberapa mudah kita dicintai oleh orang lain tergantung dari seberapa besar kita mau memberikan diri lebih dulu untuk mencintai orang-orang di sekeliling kita. Cinta tak hanya sekedar kata-kata. Perlu ada tindakan nyata yang membuatnya bisa bertumbuh dan menghasilkan buah.

Persahabatan juga memerlukan cinta dan tindakan. Perhatian sederhana dari sahabat-sahabat kita, seperti ucapan selamat ulang tahun, pertanyaan "Apa kabar?", mengingat nama kita, dan lain-lain, menandakan bahwa kita masih dicintai oleh mereka dan diharapkan kehadirannya di dekat mereka. Hargai sahabat anda hari ini, dan lihat betapa anda akan lebih berharga dari hari ke hari (nj@coe).



Friday, November 28, 2008

Siap atau Tidak Siap, Tetep PI

Oleh : Angelina Kusuma

Beberapa hari ini, saya asyik menikmati aplikasi-aplikasi game dari sebuah account social networking internet yang saya ikuti. Setidaknya, ada dua game yang hampir setiap harinya saya mainkan disela-sela jam kerja saya (kebiasaan buruk, jangan ditiru ya hehehe). Karena 'kesibukan' baru ini juga, akhirnya saya rela memangkas waktu yang biasanya saya gunakan untuk melakukan hobby saya lainnya seperti menulis blog, share di forum-forum online, atau juga ber-mailist ria. Tantangan untuk menyelesaikan level-level permainan dan semangat tidak mau tersaingi oleh teman-teman lain yang ada di list game saya, mampu membuat saya duduk manis di depan komputer beberapa jam tanpa mau memikirkan dunia luar dan lain-lainnya.

Saya masih menyempatkan diri memeriksa semua account dunia maya saya setiap kali online, tetapi tidak terlalu detail memperhatikan keseluruhannya beberapa hari ini. Hanya e-mail yang menarik pandangan mata dan private message penting baik di chat online maupun di account-account pribadi lainnya yang saya tanggapi sebelum kemudian mulai ber-game ria.

Dua hari yang lalu, saya mendapatkan sebuah private message di salah satu account forum Kristen online yang saya ikuti. Si pengirim pesan tidak menuliskan langsung apa yang ingin ia sampaikan kepada saya, melainkan hanya menulis bahwa ia ingin menceritakan masalah yang tengah dihadapinya kepada saya jika saya berkenan meluangkan waktu untuknya. Karena posisi saya di forum ini sebagai moderator Relationship dan Bussiness, saat menerima private message itu, saya langsung bisa mengira-ira masalah apakah gerangan yang akan diceritakan si pengirim pesan ini kepada saya.

"Paling masalah relationships..." Selama saya aktif di forum ini sejak dua tahun silam, masalah relationships menjadi topik utama yang sering dibawa para member forum ini kepada saya. Jarang ada member yang bertanya soal pekerjaan atau cara menangani bisnisnya meskipun saya juga merupakan moderator di bagian itu (hmm, lama-lama gue bisa buka praktek konseling relationships kali ya hihihi).

Setelah membalas private message bahwa saya bersedia menjadi tempat berbagi dengan si pengirim pesan itu, saya kembali beraktivitas seperti biasanya (nge-game maksute hahaha) dan tidak menaruh perhatian khusus atau memikirkan apakah masalah yang dihadapi oleh si pengirim pesan ini tergolong masalah ringan, sedang, atau masalah yang berat.

Hari kemarin, saya kembali memeriksa apakah ada balasan dari si pengirim pesan di hari sebelumnya melalui id forum saya. Dan benar saja, di inbox saya kembali terisi satu pesan baru dari id pengirim yang kemarin. Saat pertama kali saya membaca private message kedua ini, saya sempat tidak bisa memfokuskan pikiran. Semangat bermain di aplikasi game online saya lebih besar daripada kepedulian saya akan masalah yang tengah di hadapi oleh salah seorang member di forum Kristen saya ini.

Dua kali saya 'terpaksa' menutup halaman inbox forum saya gara-gara pikiran saya tidak berada di deretan-deretan kalimat yang sedang saya baca. Kemudian menyibukkan diri lebih dulu memeriksa account dunia maya saya lainnya dan ber-chat dengan beberapa orang teman yang ada di friends list chat online saya. Ketika saya sampai kepada account social networking yang didalamnya saya sering bermain aplikasi game, tiba-tiba saja koneksi internet saya tidak bisa melakukan browse pada content php (Roh Kudus bekerja...).

Karena saya tidak bisa melanjutkan level permainan di aplikasi game saya, akhirnya saya kembali ke halaman inbox forum saya dan membaca ulang seluruh isi private message yang saya terima dengan teliti.

"Pas lagi nggak kepingin mikir serius, kenapa kasus yang datang serumit ini sie?"

Si penulis pesan bercerita mengenai masalahnya di private message kedua ini. Awalnya ia bukanlah seorang yang percaya kepada Yesus. Ia kemudian bertekad untuk mengenal Yesus hanya karena jatuh cinta kepada rekan sekantornya yang beragama Kristen taat. Relationships yang mereka jalin akhirnya kandas dan si wanita memutuskan hubungan tersebut. Si pria yang tak lain adalah penulis pesan itu sendiri, saat ini sedang krisis percaya diri baik dari segi keimanannya kepada Kristus yang dasarnya memang rapuh dan memendam akar pahit karena si wanita yang memutuskan hubungan dengannya menganggapnya belum dewasa dalam segala hal dan terlalu posesif atas hubungan yang sudah berakhir.

Selesai membaca seluruh isi private message itu, saya tertegun. Saya sedang berhadapan dengan seseorang yang belum seutuhnya percaya kepada Yesus dan sedang mencari jati dirinya saat ini. Seandainya saya salah menegur atau salah menulis kalimat balasan (sejak dulu saya terkenal dengan ucapan saya yang selalu ceplas-ceplos soalnya hehehe), bisa-bisa saya membuat batu sandungan baru bagi hidupnya dan membuatnya terlepas 100% dari Kristus. Ada sekelumit perasaan bersalah hinggap di hati saya karena tidak menomor-satukan si pengirim pesan yang sedang bermasalah ini sejak kemarin. Coba kalau saja koneksi internet saya tetap lancar untuk membuka content aplikasi game di account social networking itu, pasti baru malam harinya saya membaca isi private message yang ada di inbox forum saya (forgive me Lord).

Peristiwa kali ini memberikan teguran bagi saya pribadi. Ah...rupanya beberapa hari ini saya terlalu terlena dengan kemudahan teknologi sampai-sampai sulit memfokuskan diri kepada pelayanan di ladang Tuhan. Hari ini, saya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama seperti hari kemarin. Sejak pertama online, yang saya tuju adalah account saya di forum Kristen yang saya ikuti itu. Dan puji Tuhan, ada balasan lagi dari si pengirim pesan kemarin. Ia memberikan respon positif atas apa yang sudah saya tulis untuknya mengenai Kristus, tujuan hidup yang utama, dan yang seharusnya ia kejar.

Saat ini, ia berada di daftar utama tim doa saya. Saya dan tim doa online saya (kami menyebut diri kami online karena kami memang lebih banyak berinteraksi satu sama lain melalui dunia maya), sedang memfokuskan diri kepada jiwa-jiwa baru bagi Kristus seperti si pengirim pesan di inbox forum saya ini. Beberapa kali di kesempatan sebelumnya, kami juga mendoakan jiwa-jiwa yang hampir hengkang dari iman percayanya kepada Kristus dengan berbagai macam latar belakang penyebabnya. Saya dan tim, tidak ingin bermain-main dengan urusan penginjilan. Meski kami terpisah di beberapa kota se-Indonesia, tetapi kami selalu mempunyai waktu khusus untuk bertemu di udara pada jam-jam tertentu dan berdoa bagi jiwa-jiwa baru yang datang kepada Kristus melalui jejaring yang kami bentuk. Baik atau tidak baik kondisi kami, kami sudah bertekad untuk tetap memberitakan keselamatan yang sudah kami terima lebih dulu kepada orang-orang yang kami kenal, terutama kepada jiwa yang nyasar di forum tempat kami bercokol (wkwkwk).

Kondisi saya yang sedang 'kesengsem' dengan aplikasi game di account social networking beberapa hari ini, bisa dikatakan tidak sedang dalam posisi tegap sebagai penginjil yang siap dengan selengkap senjata Allah-nya. Tetapi bagaimanapun itu bukanlah alasan agar saya bisa menghindar dari pelayanan. Karena saya sudah berkomitmen mengikut Tuhan Yesus, siap atau tidak siap, maka saya harus bersedia memberitakan Yesus kepada jiwa-jiwa yang mempertanyakan ke-Tuhanan-Nya dan harus menjadi terang bagi yang lainnya setiap saat.

Sebagai anak Tuhan, kita tidak boleh lengah sedikitpun. Iblis yang menjadi lawan kita tidak pernah tertidur mengawasi setiap mangsa yang bisa ditelannya. Beruntung, kali ini meskipun saya sempat terlena oleh keadaan 'nyaman' sesaat, saya bisa segera kembali ke kondisi siap sebagai penginjil dengan cepat (Roh Kudus yang memampukan saya untuk melakukan hal ini...lagi-lagi...tx Lord!).

2 timotius 4:2, Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

Anda siap menjadi penginjil bagi Kristus?

Siapkan diri anda untuk menghadapi hari-hari yang semakin singkat ini bagi kemuliaan Tuhan Yesus. Mintalah karunia-Nya agar Ia memampukan anda untuk membawa jiwa-jiwa lebih banyak lagi dan merampasi mereka yang terhilang dari api neraka (nj@coe).

Thursday, November 20, 2008

Dari Besar ke Kecil Atau Dari Kecil ke Besar?

Oleh : Angelina Kusuma

Tipe orang yang bagaimanakah anda? Orang yang ingin mendapatkan sesuatu yang besar atau mengatasi pekerjaan yang sulit terlebih dulu, baru kemudian mendapatkan sesuatu yang lebih kecil dan menyelesaikan pekerjaan yang lebih sederhana. Atau, anda adalah tipe orang yang lebih suka mendapatkan sesuatu yang kecil lebih dulu sambil menabung untuk mendapatkan sesuatu yang lebih besar lagi atau menyelesaikan pekerjaan yang lebih sederhana baru kemudian menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang rumit?

Beberapa hari ini, saya mengikuti ajang permainan game online milik sebuah social networking internet bernama Pet Society. Di game ini, setiap peserta diberikan satu hewan peliharaan yang harus dirawat, diberi makan, dan dimandikan agar ia tetap bisa hidup. Di samping itu, hewan peliharaan yang dimiliki tiap peserta ini bisa diikutkan berbagai jenis pertandingan di stadium pet untuk mendapatkan koin-koin yang nantinya bisa digunakan untuk membeli perlengkapan di rumah dan makanan bagi pet-nya.

Di game ini saya bertemu dengan seorang sahabat maya yang menjadi tetangga saya di dunia Pet Society. Saya sudah mengenal sahabat ini cukup lama. Kami telah menjadi rekan baik di blog dan beberapa account social networking lainnya. Meski belum pernah bertatap muka secara langsung, kami sudah merasa kenal dekat satu sama lain melalui kebersamaan kami melalui tulisan-tulisan di dunia maya selama ini.

Berkompetisi dengan ci Fransisca (demikian saya menyebut namanya) di Pet Society, menunjukkan perbedaan sifat dan karakter kami dalam menyikapi sebuah masalah. Game ini sebenarnya hanya sebuah permainan sederhana. Tetapi jika dicermati, maka akan ada beberapa hal positif yang bisa kita ambil darinya. Game ini tak lebih seperti ujian kesabaran, ujian ketangkasan dalam mengatur taktik bermain, dan ujian pengelolaan keuangan bagi pesertanya selain memberikan kepuasan tersendiri jika si pemain bisa menyelesaikan setiap level di game-nya.

Sampai hari ini, saya dan ci Fransisca saling memantau keberadaan rumah dan hewan peliharaan kami di Pet Society. Salah satu hal yang menandakan bahwa peserta game sukses dalam memainkan permainannya adalah dengan keberadaan isi rumah yang semakin bertambah dan berfungsi dengan baik dari ruang yang satu ke ruang yang lainnya.

Saat saya dan ci Fransisca masih sama-sama mempunyai dua ruang di rumah pet kami, saya sering tertawa ketika mengunjungi rumah pet milik ci Fransisca. Ia tetap mempunyai isi ruang yang standar berupa satu kursi dan satu televisi (isi ruang ini telah ada sejak peserta memulai permainannya), padahal isi rumah saya sudah mulai bertambah dengan barang-barang baru setiap harinya.

Enjie : "Ci, kok rumahnya nggak dibeliin isi sie? Emang mo dibuat apa tuh koin-koin yang udah dikumpulin? Liat dong isi rumahku. Paling tidak dari dua ruang yang kupunyai udah jadi satu yang isinya berfungsi baik. Ruang pertamaku udah jadi ruang tamu komplit dengan dua kursi, satu meja, satu pot bunga, satu meja kecil sama televisi, trus ada juga tempat pemajangan piala-piala hehehe. Tempatmu masih standar banget tuh...beliin isinya napa?"

Ci Fransisca : "Bentar Njie, aku lagi nabung buat beli yang besar-besar dulu nie. Lumayan tuh, beli tempat tidur aja perlu 2000 koin, bathtub perlu 1000 koin, trus wastafel 600 koin. Perlu kerja keras buat ngebelinya. Ntar kalo udah bisa beli yang besar-besar itu, baru deh beli yang kecil-kecil, yang harganya lebih murah. Jadi udah nggak perlu kerja keras lagi gitu..."

Untuk mendapatkan berbagai macam perlengkapan isi rumah yang dipajang di pet shops, memang harus menggunakan koin dalam jumlah tertentu. Penawarannyapun beragam. Mulai dari puluhan koin saja sampai yang harus menghabiskan ribuan koin untuk membawanya pulang. Di sini, setiap peserta game harus pandai-pandai mengatur pemasukan dan pengeluaran koin-koin yang dipunyainya untuk membeli makanan atau pakaian bagi pet dan membeli berbagai keperluan untuk mengisi rumahnya masing-masing. Siapa yang boros, siapa yang rajin menabung, dan siapa yang pandai atau kurang pandai dalam mengatur keuangannya, bisa terlihat di permainan ini.

Perbedaan saya dan ci Fransisca dalam mengelola keuanganpun terlihat nyata karenanya. Saya memilih mengisi ruang-ruang yang saya miliki dengan barang-barang sederhana lebih dulu sambil tetap menyisihkan beberapa koin untuk keperluan yang lebih besar. Saya juga memilih untuk menyelesaikan bentuk ruang pertama saya lebih dulu kemudian beringsut menyelesaikan bentuk ruang ke dua saya dan seterusnya. Lain dengan saya, ternyata ci Fransisca memilih jalan yang sedikit berbeda. Ia menerapkan banyak menabung koin di awal permainan dan merencanakan membeli barang-barang yang dinilainya mahal tapi diperlukan untuk isi rumahnya lebih dulu, baru kemudian menata ruang-ruang di rumahnya sesuai seleranya dan memperlengkapinya dengan barang-barang yang bisa dibeli dengan koin yang jumlahnya lebih kecil.

Hari ini, salah satu isi rumah yang harganya cukup mahal di Pet Society berupa tempat tidur pet seharga 2000 koin, akhirnya bisa saya dapatkan juga. Di pagi hari sebelumnya, ci Fransisca juga sudah bisa membeli tempat tidur itu sekaligus memperlengkapi isi rumahnya dengan beberapa barang yang harganya lebih kecil. Wow, saya takjub begitu melihat hasil akhir yang saya dan ci Fransisca dapatkan. Kami berbeda dalam hal mengelola keuangan di dunia Pet Society, tetapi akhirnya bisa mendapatkan satu barang yang harganya sama dalam waktu yang hampir bersamaan pula.

Dari permainan ini, saya menjadi lebih tahu karakter dan perbedaan sikap saya dan ci Fransisca dalam hal keuangan kami yang sebenarnya di dunia nyata secara tidak langsung. Karakter saya yang lebih mengedepankan sesuatu yang lebih sederhana sebelum menyelesaikan atau mendapatkan sesuatu yang lebih besar, terbawa dalam arus permainan Pet Society. Demikian juga gaya pengelolaan keuangan ci Fransisca yang lebih mengedepankan sesuatu yang lebih besar lebih dulu baru kemudian menyelesaikan sesuatu yang kecil-kecil, juga terbawa dalam permainan sederhana ini.

Cara kita menyelesaikan suatu masalah, menentukan siapa diri kita sebenarnya. Saya adalah tipe orang yang bergerak dari kecil ke besar, sedangkan ci Fransisca adalah tipe orang yang bergerak dari besar ke kecil. Tidak ada tipe yang lebih istimewa daripada yang lainnya. Sikap kita dalam menyelesaikan suatu masalah tergantung dari selera dan kebiasaan yang kita lakukan sehari-hari. Baik orang yang bergerak dari kecil ke besar dan orang yang bergerak dari besar ke kecil, bisa mendapatkan hasil yang sama memuaskan asal keduanya tahu persis apa yang menjadi tujuan utama mereka, sama seperti saya dan ci Fransisca yang akhirnya bisa mengisi ruang-ruang di rumah pet kami dengan barang-barang yang harganya sama, meski cara mendapatkannya berbeda.

Nah sekarang, tipe orang yang bagaimanakah diri anda? (nj@coe).



Wednesday, November 19, 2008

Pentingnya Pasangan yang Takut Tuhan

Oleh : Angelina Kusuma

Bergabung di tengah-tengah komsel dewasa muda yang terdiri dari para pasutri (pasangan suami istri) baik yang baru setahun atau dua tahun menikah sampai dengan pasutri yang sudah puluhan tahun menikah dan mempunyai anak-anak biologis, akhirnya membuat saya banyak belajar mengenai kehidupan berumah tangga dan seputar pernikahan yang nyata. Meski pada mulanya saya ikut komsel ini karena faktor 'terpaksa', sekarang saya mulai menikmatinya. Perbedaan status saya yang masih lajang di tengah-tengah pasutri yang sudah mempunyai anak dan perbedaan usia yang cukup jauh, menempatkan saya sebagai seorang 'anak' dan adik bagi senior-senior saya di komsel itu.

Kurang lebih selama  dua bulan ini saya sudah bergabung di komsel dewasa muda gereja dan dari minggu ke minggu, perbendaharaan pengetahuan saya akan pentingnya pasangan yang takut akan Tuhan semakin bertambah. Meski saya lebih banyak mendengar dan memperhatikan tingkah laku para bapak dan ibu itu berbagi mengenai kehidupan rumah tangganya masing-masing, dari sana saya bisa menarik kesimpulan-kesimpulan penting mengenai pernikahan.

Kisah keluarga 1:
Si istri merupakan mantan PKS (Pemimpin Kelompok Sel) youth dan si suami adalah salah satu anggota tim musik gereja. Pernikahan mereka berawal dari perkenalan di komsel youth dan kebersamaan di berbagai kegiatan gerejawi. Setelah menikah mereka mulai enggan datang lagi ke komsel youth dan karenanya ditarik bergabung di komsel dewasa muda dengan harapan, keaktivan mereka di gereja kembali terbangun ketika berkumpul dengan sesama pasutri lainnya.

Nyatanya, keduanya tetap jarang datang ke komsel dewasa muda dan sering tidak hadir mengikuti kegiatan gerejawi lainnya, padahal di hari Minggu mereka masih melayani di Ibadah Raya (salah satu syarat pelayan mimbar di gereja saya, minimal harus aktiv di komsel dan beberapa kegiatan gerejawi lainnya seperti doa syafaat atau doa puasa). Puncak dari masalahnya terjadi akhir-akhir ini. Baik si suami dan istrinya yang tengah mengandung 5 bulan, sudah tidak terlihat lagi di komsel dewasa muda dan kegiatan-kegiatan gerejawi lainnya sejak sebulan terakhir. Padahal, mengingat kehamilan si istri yang sudah beranjak tua, seharusnya mereka semakin giat mencari Tuhan dan bukannya menomor sekiankan Tuhan dengan alasan apapun.

Usut punya usut, ternyata ketidak-aktivan si istri di gereja selama ini karena ia telah tertular kebiasaan kurang baik dari suaminya. Si suami selama ini memang terkenal sebagai seorang pria yang agak acuh dengan urusan gerejawi meskipun ia merupakan salah satu anggota tim musik gereja. Si suami lebih memilih menonton pertandingan sepak bola atau pagelaran wayang kulit di rumahnya daripada pergi ke komsel atau kegiatan gerejawi lainnya. Si istripun lambat laun juga mengikuti jejak suaminya ini. Malas pergi ke komsel dewasa muda dan acuh tak acuh dengan kegiatan gerejawi yang dulu telah mempertemukannya dengan pasangan hidupnya itu.

Kisah keluarga 2:
Si suami menikahi si istri karena tuntutan usia dan pengaruh keluarganya yang menginginkan ia cepat-cepat menyanding seorang wanita setelah usianya dewasa. Ia akhirnya mendapatkan seorang istri yang takut akan Tuhan, hasil dari perjodohan keluarganya dan tak lama kemudian mereka dikaruniai seorang bayi perempuan yang sekarang sudah berusia sekitar 1 tahun. Di awal pernikahan sampai si istri melahirkan anak pertamanya, si suami dan si istri terlihat kompak datang ke komsel, ke gereja, dan melayani Tuhan.

Setelah si istri melahirkan anak pertama, kerajinan keduanya mulai kendor. Si suami mulai jarang hadir di komsel gereja dengan alasan sibuk bekerja dan si istri juga sibuk mengurus anaknya di rumah. Yang lebih mengejutkan lagi, si istri yang awalnya lebih takut akan Tuhan daripada suaminya, mendapat beban baru di keluarga kecilnya yang masih menumpang di rumah mertuanya itu. Si mertua kurang perduli dengan pertumbuhan cucu kecilnya dan karenanya si istri harus rela menjaga anaknya seorang diri karena pembantu rumah tangga mereka tidak pernah betah dengan perlakuan si mertua yang suka marah-marah tanpa sebab yang jelas.

Tekanan yang diterima oleh si suami yang kurang siap menyandang status sebagai suami dan ayah bagi anak pertamanya ini, memberikan andil besar dalam membentuk sosok istrinya menjadi kurang siap juga dengan posisi barunya sebagai istri dan ibu, yang akhirnya membuat keduanya kini sama-sama menghadapi ketidak-mantapan rohani, tak seperti saat mereka masih sama-sama lajang.

Kisah keluarga 3:
Keluarga ini merupakan keluarga paling senior di komsel dewasa muda saya. Sudah dikaruniai 4 orang putra dan putri yang anak pertamanya sebaya dengan saya. Si istri adalah seorang aktivis gereja sampai saat ini. Anak pertamanya seorang PKS youth, anak keduanya bekerja di luar kota, anak ketiganya seorang anggota tim musik gereja, dan anak bungsunya seorang anggota tim choir gereja.

Si suami merupakan PKS dewasa muda kami (seharusnya). Tetapi karena kesibukan kerja yang menyebabkan beliau lebih sering bertugas keluar kota, maka posisi tersebut lebih sering dipegang oleh istrinya. Pergumulan keluarga ini tidak hanya mengenai pekerjaan si suami yang cukup padat, tetapi juga mengenai pertumbuhan masa depan anak-anaknya. Untunglah, si istri yang takut akan Tuhan bisa mengatur semua keperluan rumah tangga dan masalah-masalah yang dihadapi oleh keluarga ini dengan bijaksana.

Karena peran si istri pulalah, meski si suami sering ditugaskan ke luar kota dan mempunyai jadwal kerja yang cukup padat, beliau masih tetap menunjukkan peran sertanya yang aktiv di komsel dewasa muda dan kegiatan gerejawi lainnya. Anak-anak yang dimiliki oleh keluarga ini juga tercetak dengan kualitas iman yang mantap dan menjadi berkat kesaksian bagi jemaat gereja kami lainnya.

Dari kisah ke tiga keluarga ini, saya bisa memahami betapa peran pasangan yang takut akan Tuhan itu sangat penting. Kisah keluarga pertama menunjukkan bahwa ketidak-sepadanan dalam hal iman antara suami dan istri bisa berakibat fatal bagi kedua belah pihak yang dipersatukan. Pepatah tentang 'pergaulan yang buruk bisa merusak pribadi yang baik' terjadi di keluarga pertama ini. Si istri yang pada mulanya takut akan Tuhan, lambat laun tertular kemalasan si suami karena dari semula ia tidak mengedepankan kesepadanan iman dalam memilih pasangan hidupnya.

Di kisah keluarga ke dua juga mengungkapkan hal yang serupa seperti kisah keluarga pertama. Ketidak-siapan si suami dalam membuka lembaran hidupnya dalam pernikahan ikut terimbas kepada istrinya. Menikah terburu-buru hanya karena tuntutan usia, tidak akan menghasilkan pondasi keluarga yang baik di masa depannya. Ketidak-siapan jiwa dan rohani seorang pria yang begitu cepat menjadi suami dan ayah, dan seorang wanita yang terlalu mudah menjadi istri dan ibu, bisa membuat keduanya kehilangan kendali saat menghadapi masalah rumah tangga yang nyata.

Pernikahan itu tidaklah semudah yang kita lihat di awalnya (proses pengikatan janji seorang pria dan wanita di depan gembala sidang dan jemaat gereja, kemudian keduanya memasuki bulan madu, dan berakhir penuh kebahagiaan). Status suami-istri dan ayah-ibu mengandung pertanggung-jawaban yang tidak ringan. Karenanya kita harus matang secara rohani dan jiwani untuk mengimbangi kematangan jasmani kita dalam hal menyandang status-status ini.

Kisah keluarga ke tiga bisa menjadi cermin bagi kehidupan rumah tangga yang dilakoni oleh orang-orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Kesepadanan antar pasangan yang takut akan Tuhan, berpengaruh positif saat keluarga ke tiga ini menghadapi masalah-masalah dalam rumah tangga mereka. Suami dan istri yang sama-sama takut akan Tuhan bisa saling mempengaruhi pasangannya agar semakin maju dalam hal kerohanian dan memberikan dampak yang membangun juga bagi anak-anak yang terlahir dari buah pernikahan mereka.

Semoga kisah dari beberapa keluarga di komsel dewasa muda gereja saya ini, membuat kita para lajang semakin mempersiapkan diri menjelang 'pernikahan' kita suatu saat nanti. Pasangan yang takut akan Tuhan lebih berharga daripada pasangan yang rupawan, cerdas, dan kaya raya. Pernikahan yang didasari kesiapan mental jauh lebih penting daripada pernikahan yang terjadi hanya karena tuntutan usia menurut dunia (nj@coe).
 

Sunday, November 16, 2008

Menaklukkan Pikiran

Oleh : Angelina Kusuma

Ada tiga hal yang bisa membuat hidup manusia kehilangan sukacitanya. Pertama kekuatiran, kedua stress, dan ketiga adalah ketakutan. Ketiga hal tersebut bersumber dari satu sebab utama yaitu pikiran. Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi seluruh kehidupan kita. Hari ini merupakan akibat dari apa yang kita pikirkan di hari kemarin dan hari esok adalah hasil dari apa yang kita pikirkan di hari ini. Karena pentingnya peran pikiran dalam kehidupan kita, maka jangan pernah bermain-main dengannya.

Kekuatiran, stress, dan ketakutan mempunyai artian yang berbeda. Kekuatiran adalah kegelisahan yang tidak wajar terhadap sesuatu. Stress adalah tekanan berlebihan yang kita rasakan terhadap keadaan yang tidak bisa dikendalikan. Sedangkan ketakutan adalah respon negatif dari tindak kejahatan, bahaya, atau kepedihan yang terjadi di lingkungan sekitar terhadap diri sendiri. Meski berbeda makna, namun ketiga hal ini menyebabkan akibat yang sama yaitu memperburuk kondisi kejiwaan yang akhirnya bisa berakibat fatal bagi kehidupan kita.

Dalam suratnya kepada jemaat di Filipi, Paulus menyuruh agar mereka memikirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Dalam artian yang lebih sederhana, Paulus memerintahkan jemaat Filipi agar menghitung berkat dan memenuhi pikiran mereka dengan karya-karya Kristus di dalam hidup ini setiap saat.

Penundukan diri dan menaklukkan pikiran tidak bisa dilakukan dengan sambil lalu. Iblis tahu betul kelemahan daging kita yang rentan terhadap hal-hal mengkuatirkan, menyebabkan stress, dan menakutkan. Oleh karenanya jika kita membiarkan pikiran kosong, maka dengan mudah ia akan memasukkan intimidasinya atas ketiga hal itu untuk membuat kita jatuh ke dalam kesalahan dan dosa.

Bersukacita adalah pilihan hidup. Ketika kita dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif seperti memerlukan sesuatu yang nyata untuk bersukacita, tergantung kepada orang lain agar bisa memberikan sukacita, dan selalu menantikan sesuatu yang membawa kebahagiaan akan datang dan terjadi suatu saat nanti di hidup kita, berarti kita tidak sedang memilih untuk hidup di dalam sukacita.

Hidup dalam sukacita tidak memerlukan sesuatu yang nyata untuk membuat hati bahagia, mampu menciptakan alasan sendiri untuk bersukacita meski tanpa orang lain, dan memilih untuk bersukacita sekarang juga, tidak perlu menantikan sesuatu yang kita harapkan terjadi dulu baru mengambil keputusan untuk berbahagia.

Apa yang menjadi pusat dari kehidupan kita

Kita tidak bisa mengatur kehidupan kita sendirian tanpa bantuan satu Pribadi yang bernama Yesus. Saat kita mampu memusatkan kehidupan kita kepada-Nya, maka pikiran kita akan bergerak ke arah yang membangun dengan sendirinya. Janji-janji-Nya yang menguatkan, membuat kita tetap bisa tersenyum meski di tengah badai kehidupan yang rumit.

Ketika kita mengedepankan Yesus dan kerajaan-Nya, semua kebutuhan hidup kita akan dipenuhi-Nya. Tidak ada hal yang bisa membatalkan perjanjian ini, kecuali kita memilih untuk hidup di luar dari kasih karunia dan penundukan diri yang benar terhadap kebenaran Firman-Nya. Bergaul akrab dengan Tuhan di dalam doa, puasa, dan pembacaan Firman-Nya harus menjadi gaya hidup sehari-hari dan menjadi kebiasaan yang terpelihara baik bagi orang-orang yang dikasihi oleh-Nya.

Apa yang kita lakukan di waktu luang

Saat sendirian adalah saat rawan bagi manusia yang mudah jatuh ke dalam kedagingan. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka tidak sedang bersekutu bersama Tuhan atau melakukan pekerjaan mereka mengelola taman Eden. Begitu juga dengan Daud. Ketika ia jatuh ke dalam perzinahan, Daud sedang 'cuti' dari pekerjaannya sebagai seorang panglima perang. Waktu luang yang kita miliki bisa menjadi batu sandungan jika kita salah menggunakannya.

Saat sendirian dan tidak sedang mengerjakan hal-hal yang menguras perhatian, biasanya pikiran-pikiran negatif akan datang menyapa kita dengan lebih giat. Apa yang belum kita miliki dalam hidup ini bisa menjadi target utama yang memenuhi kepala kita untuk dipikirkan saat itu. Dan jika pikiran-pikiran tentang hal-hal yang tidak kita miliki atau kondisi yang tidak bisa kita kendalikan itu berhasil menguasai kita, dengan segera kita akan terserang dampak kekuatiran, stress, dan ketakutan yang menjauhkan kita dari sukacita.

Berhati-hatilah dengan waktu luang yang anda miliki. Saat sendirian, setiap orang cenderung untuk memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Memikirkan kepentingan diri sendiri yang berlebihan bisa menimbulkan rasa mengasihani diri yang salah dan akhirnya membuat kita kabur terhadap kasih karunia yang telah Tuhan sediakan di hidup kita masing-masing.

Siapa yang menjadi orang-orang terdekat kita

Pergaulan yang buruk bisa merusak pribadi yang baik. Seseorang yang tumbuh di lingkungan para pemabuk, lebih mudah tertular menjadi pemabuk juga suatu saat nanti. Begitu juga jika lingkungan tempat tumbuh kita adalah keluarga yang takut akan Tuhan, kita juga akan lebih mudah termotivasi untuk mengasihi Dia dengan lebih sungguh-sungguh.

Jika anda ingin mempunyai pikiran yang selalu optimis, jangan biarkan pikiran pesimis dari orang-orang yang ada di sekeliling anda mempengaruhi fokus anda. Mungkin kita tidak bisa memilih hidup di lingkungan yang baik, keluarga yang sempurna dan takut akan Tuhan, atau sahabat-sahabat yang sukses berkarrier dan berkarya. Tetapi kita bisa memilih untuk mengatur pikiran kita agar tetap dalam koridor yang benar dengan menyadari dampak tidak baik yang bisa ditularkan oleh orang-orang terdekat kita itu dan menundukkan pikiran kita kepada kebenaran Firman Tuhan setiap saat.

Gereja seharusnya menjadi keluarga terdekat yang membangun bagi setiap jemaat yang bernaung di bawahnya. Itulah sebabnya, kita harus menjaga hubungan kita dengan saudara-saudara seiman dan tidak menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah seperti ibadah raya, kelompok sel, kelompok doa syafaat, dan kegiatan-kegiatan rohani lainnya. Saat kita berkumpul dan berbagi dengan saudara-saudara seiman, kita sedang membangun diri kita menuju keluarga Tuhan yang sebenarnya dan membantu kita tetap berapi-api meski lingkungan tempat tinggal dan keluarga kita yang asli masih jauh dari jangkauan kebenaran Firman Tuhan.

Dunia sudah menerima keselamatan sebagai anugerah terbesar yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus di atas kayu salib. Setiap orang percaya yang mengimani karya-Nya ini, harus mengerjakan keselamatan yang telah diterimanya itu dengan menaklukkan pikirannya kepada Kristus dan belajar menundukkan diri kepada Firman-Nya dari hari ke hari.

Jangan kuatir. Jangan stress. Dan jangan takut. Tuhan sudah memulai penciptaan-Nya atas kita dan dunia ini dengan awal yang baik dan Ia juga pasti akan mengakhirinya dengan baik pula. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak terbersukacita bersama-Nya. You gotta keep dancing with Jesus (nj@coe).

Filipi 1:6, Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.