Oleh : Angelina Kusuma
"Hari ini...bangun telad. Berangkat ke kantor kena macet di tol. Sampai di kantor dimarahi pimpinan. Kerjaan numpuk. Client rewel semua. Harus lembur sampai malam. Perjalanan pulang ke rumah kehujanan. Eh, sampai di rumah kunci kamar hilang! Lapar, jengkel, badan kayak digebukin orang sekampung, nggak bisa istirahat tenang lagi. Aduh pusiiiing...@#$%^!*#$#&($&($^(*!#!!!!!"
Beratus-ratus bahkan beribu-ribu kalimat, pasti tidak akan pernah bisa menampung semua keluhan-keluhan yang ingin kita sampaikan setiap hari. Kekurangan ini, kekurangan itu...selalu ada hal-hal kurang baik yang ingin kita rubah dari hidup kita. Yang masih mengganggur ingin bekerja, yang sudah bekerja ingin kaya, yang sudah kaya ingin bertambah kaya lagi. Ada tingkatan-tingkatan lebih tinggi yang membuat mata kita 'hijau' bila membandingkannya dengan apa yang tidak kita miliki.
Mazmur 32:3, Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari.
Daud berkata, mengeluh sepanjang hari membuatnya lesu. Ketika kita hanya memandang kekurangan-kekurangan yang ada, semangat untuk menjalani hidup akan hilang dengan sendirinya. Mengeluh tentang keadaan atau kehidupan kita tidak akan menyelesaikan masalah yang kita hadapi malah seperti menambahkan beban lain pada masalahnya 10 kali lipat!
Tapi, ada juga mengeluh yang diperbolehkan lho?
Ratapan 3:39, Mengapa orang hidup mengeluh? Biarlah setiap orang mengeluh tentang dosanya!
Mengeluh tentang dosa!
Pernahkah anda melakukannya? Mengeluh tentang dosa-dosa yang telah anda perbuat selama hidup anda?
Bayangkan jika semua orang melakukan hal ini setiap waktu. Mengeluh karena telah berbuat kurang sopan kepada orang lain, mengeluh karena telah berbohong, mengeluh karena telah mencuri, mengeluh karena telah melukai hati orang lain, mengeluh karena menyimpan kepahitan, iri, dan dengki, mengeluh karena membunuh, merampok, berzinah, mengeluh karena mendukakan hati Bapa, dan sebagainya.
Kata dasar dari mengeluh adalah keluh yang artinya suara yang keluar oleh karena perasaan susah atau kesal. Mengeluh berarti mengeluarkan rasa susah atau kesal terhadap obyek yang dituju. Jika manusia mengeluh tentang apa yang kurang dari hidupnya, jelaslah bahwa hal itu membawa muatan negatif yang akan menambah beban hidup manusia semakin bertambah berat. Tapi jika manusia mengeluh karena dosa-dosanya? Dalam hitungan menit, dunia pasti penuh dengan jiwa-jiwa baru yang bertobat hari ini! :)
Stop, mengeluh tentang papamu, mamamu, adikmu, kakakmu, keluargamu, pekerjaanmu, keuanganmu, study-mu, kesehatanmu, penampilanmu, teman-temanmu, tetanggamu, statusmu, kehidupanmu...hari ini juga!
Tapi mengeluhlah tentang dosa-dosamu! Tumpahkan kekesalanmu padanya, benci dia, bersedihlah karena dosa-dosamu, dan berbaliklah dari jalan-jalan yang jahat. Dengan begitu, mengeluh yang anda lakukan akan membuat anda tampil beda dari dunia ini karena anda sudah dilepaskan dari hukuman dan maut! So, mari kita mengeluh...tentang dosa! (nj@coe)
Thursday, September 03, 2009
Wednesday, September 02, 2009
Approach your marriage by keep holiness
Oleh : Angelina Kusuma
Sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran, akhirnya sepakat untuk segera mengikat janji suci di pernikahan kudus gereja. Menjelang pemberkatan nikah, sang pria nampak gagah dengan tuxedo-nya dan sang wanita terlihat begitu anggun dengan gaun putihnya. Keduanya terlihat sangat bahagia menyambut hari penting yang akan terjadi sekali seumur hidup tersebut.
Sambil menunggu pendeta yang akan memberikan pemberkatan nikah kepada mereka datang, kedua calon mempelai menyempatkan diri berkeliling halaman gereja yang mempunyai pemandangan sangat menawan. Dengan gembira, keduanya menikmati taman-taman dan kolam-kolam yang ada di sekitar gereja sepuas-puasnya. Ketika hendak mengabadikan keindahan tempat itu dengan kamera foto, terjadilah kecelakaan kecil. Sang wanita yang sedang asyik berpose, tergelincir ke kubangan tanah berlumpur sehingga membuat gaun putihnya ternoda.
Pendeta yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang! Semua undangan dan keluarga mempelai bersiap-siap di dalam gedung gereja dan menanti acara pelaksanaan pemberkatan nikah kedua mempelai berbahagia.
Ketika pintu gereja dibuka dan kedua mempelai mulai menapaki lorong gereja menuju mimbar, semua mata tertuju kepada mereka. Mempelai wanita tampak meneteskan air mata tak henti-hentinya. Apakah mempelai wanita tersebut menangis karena terlalu bahagia menyambut pernikahannya yang sebentar lagi diberkati oleh pendeta di altar gereja?
Oh tidak! Rupanya mempelai wanita itu menangis karena gaun putihnya ternoda akibat insiden kecil di taman gereja menjelang pemberkatan nikah tadi!
Penyesalan biasanya selalu datang terlambat. Moment yang seharusnya berakhir bahagia, bisa rusak ketika kita tidak menjaga diri dan berhati-hati dalam bertindak.
Gaun putih yang dikenakan oleh pengantin, berbicara mengenai kekudusan. Sesuatu yang menimpa kain putih, selalu meninggalkan noda padanya. Meski sudah dicuci puluhan kali, noda pada kain putih akan sulit dihilangkan seutuhnya dan detergent paling mahal sekalipun tidak akan bisa mengembalikan kain putih bernoda itu menjadi seperti baru lagi.
Ketika dua orang lawan jenis membiarkan diri mereka dimabuk asmara saat menjalin kedekatan, kadang keduanya bisa lupa menjaga kekudusan diri masing-masing. Seperti kedua calon mempelai yang karena terlalu bahagia menikmati suasana menawan di taman gereja, sampai tidak memperhatikan ada kubangan berlumpur di tanah yang membuat gaun putih mereka ternoda sebelum pemberkatan nikah terjadi. Jika kita tidak berhati-hati saat berhubungan dengan lawan jenis, kita juga bisa menyebabkan gaun putih kita ternoda sebelum janji suci pernikahan itu terucap di altar gereja.
Gaun putih seorang pengantin tidak hanya sebatas baju yang akan dikenakannya saat menikah nanti. Gaun putih kita merupakan tanda kehormatan sebagai pria dan wanita berkarakter Kristus yang menjaga dirinya terhadap perzinahan dan kenajisan fisik dan rohani sebelum tiba waktunya resmi menjadi suami istri.
Engkau tahu, tubuhmu hanya satu. Maka, jaga tubuhmu dan serahkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, hatimu hanya satu. Maka, jaga perasaanmu dan berikan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, mulutmu hanya satu. Maka, jaga janjimu dan ucapkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Bukan pacarmu atau tunanganmu yang berhak atas tubuhmu, hatimu, dan janjimu, tapi hanya suamimu atau istrimu yang berhak atasmu seutuhnya. Pacaran bisa putus. Tunangan bisa berakhir. Tapi pernikahan kudus yang dipersatukan dan diberkati oleh Tuhan di depan sidang jemaat-Nya, tidak bisa diceraikan oleh manusia manapun kecuali oleh maut. Jangan nodai gaun putihmu sebelum pengikatan janji kudus pernikahan terjadi, hanya karena engkau tidak sabar menunggu hingga waktunya tiba! Sesuatu itu disebut berharga karena ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya, dan salah satunya adalah dengan be patience in His time
Sepasang kekasih yang sudah lama berpacaran, akhirnya sepakat untuk segera mengikat janji suci di pernikahan kudus gereja. Menjelang pemberkatan nikah, sang pria nampak gagah dengan tuxedo-nya dan sang wanita terlihat begitu anggun dengan gaun putihnya. Keduanya terlihat sangat bahagia menyambut hari penting yang akan terjadi sekali seumur hidup tersebut.
Sambil menunggu pendeta yang akan memberikan pemberkatan nikah kepada mereka datang, kedua calon mempelai menyempatkan diri berkeliling halaman gereja yang mempunyai pemandangan sangat menawan. Dengan gembira, keduanya menikmati taman-taman dan kolam-kolam yang ada di sekitar gereja sepuas-puasnya. Ketika hendak mengabadikan keindahan tempat itu dengan kamera foto, terjadilah kecelakaan kecil. Sang wanita yang sedang asyik berpose, tergelincir ke kubangan tanah berlumpur sehingga membuat gaun putihnya ternoda.
Pendeta yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang! Semua undangan dan keluarga mempelai bersiap-siap di dalam gedung gereja dan menanti acara pelaksanaan pemberkatan nikah kedua mempelai berbahagia.
Ketika pintu gereja dibuka dan kedua mempelai mulai menapaki lorong gereja menuju mimbar, semua mata tertuju kepada mereka. Mempelai wanita tampak meneteskan air mata tak henti-hentinya. Apakah mempelai wanita tersebut menangis karena terlalu bahagia menyambut pernikahannya yang sebentar lagi diberkati oleh pendeta di altar gereja?
Oh tidak! Rupanya mempelai wanita itu menangis karena gaun putihnya ternoda akibat insiden kecil di taman gereja menjelang pemberkatan nikah tadi!
Penyesalan biasanya selalu datang terlambat. Moment yang seharusnya berakhir bahagia, bisa rusak ketika kita tidak menjaga diri dan berhati-hati dalam bertindak.
Gaun putih yang dikenakan oleh pengantin, berbicara mengenai kekudusan. Sesuatu yang menimpa kain putih, selalu meninggalkan noda padanya. Meski sudah dicuci puluhan kali, noda pada kain putih akan sulit dihilangkan seutuhnya dan detergent paling mahal sekalipun tidak akan bisa mengembalikan kain putih bernoda itu menjadi seperti baru lagi.
Ketika dua orang lawan jenis membiarkan diri mereka dimabuk asmara saat menjalin kedekatan, kadang keduanya bisa lupa menjaga kekudusan diri masing-masing. Seperti kedua calon mempelai yang karena terlalu bahagia menikmati suasana menawan di taman gereja, sampai tidak memperhatikan ada kubangan berlumpur di tanah yang membuat gaun putih mereka ternoda sebelum pemberkatan nikah terjadi. Jika kita tidak berhati-hati saat berhubungan dengan lawan jenis, kita juga bisa menyebabkan gaun putih kita ternoda sebelum janji suci pernikahan itu terucap di altar gereja.
Gaun putih seorang pengantin tidak hanya sebatas baju yang akan dikenakannya saat menikah nanti. Gaun putih kita merupakan tanda kehormatan sebagai pria dan wanita berkarakter Kristus yang menjaga dirinya terhadap perzinahan dan kenajisan fisik dan rohani sebelum tiba waktunya resmi menjadi suami istri.
Engkau tahu, tubuhmu hanya satu. Maka, jaga tubuhmu dan serahkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, hatimu hanya satu. Maka, jaga perasaanmu dan berikan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Engkau tahu, mulutmu hanya satu. Maka, jaga janjimu dan ucapkan nanti hanya kepada pasanganmu yang sah.
Bukan pacarmu atau tunanganmu yang berhak atas tubuhmu, hatimu, dan janjimu, tapi hanya suamimu atau istrimu yang berhak atasmu seutuhnya. Pacaran bisa putus. Tunangan bisa berakhir. Tapi pernikahan kudus yang dipersatukan dan diberkati oleh Tuhan di depan sidang jemaat-Nya, tidak bisa diceraikan oleh manusia manapun kecuali oleh maut. Jangan nodai gaun putihmu sebelum pengikatan janji kudus pernikahan terjadi, hanya karena engkau tidak sabar menunggu hingga waktunya tiba! Sesuatu itu disebut berharga karena ada harga yang harus dibayar untuk memperolehnya, dan salah satunya adalah dengan be patience in His time
Tuesday, September 01, 2009
De Visitor
Oleh : Angelina Kusuma
Minggu lalu, ada tamu special yang bertandang ke rumah maya saya.
Rumah maya?
Iya, itu tuh...blog saya hehehe.
Ceritanya seperti ini...
Selama ini saya menjadi anggota di sebuah penerbit sekaligus toko buku online internet. Sebenarnya saya bukanlah anggota yang selalu up to date, hanya sesekali saja saya menggunakan keanggotaan untuk membuka account di website dan mencari referensi buku-buku bacaan yang saya ingini. Hal ini saya lakukan karena kegemaran saya akan membaca buku terpaksa tersendat-sendat setelah saya pindah ke kota Ponorogo, sebuah kota kecil dengan toko buku terbatas yang jauh jika dibandingkan dengan Surabaya, Jakarta atau Cinere, kota-kota besar yang pernah saya tinggali, yang memudahkan setiap orang mendapatkan sebuah buku bacaan disana hanya dengan masuk ke mall-mall yang tersedia.
Hidup di kota kecil seperti Ponorogo, memaksa saya untuk lebih cerdik dalam segala hal, termasuk soal pengadaan buku bacaan yang rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari tubuh saya ini. Untungnya masih ada media internet yang membuat saya tidak seperti katak dalam tempurung karena berada di tempat yang fasilitas teknologinya kurang memadai dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah saya jamah sebelumnya. Saya masih bisa hidup tenang di kota kecil yang asri - dijamin, jauh dari macet dan udara kotor serta minim tindak kejahatan, dan tidak lantas menjadi orang yang ketinggalan informasi dengan adanya media internet ini.
Sebenarnya saya sudah menjadi anggota dari penerbit sekaligus toko buku online ini lumayan agak lama. Sekitar bulan Juni atau Juli tahun 2007 saya sudah sering keluar masuk website mereka untuk mencari buku-buku yang saya perlukan. Kemudian karena dorongan seorang teman yang menyuruh saya mencoba mengirimkan contoh tulisan saya ke sebuah penerbit - siapa tahu ada yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya, akhirnya terjadilah pengalaman ini.
Niatnya, benar-benar hanya iseng! Pagi itu saya menulis e-mail ke redaksi penerbit tersebut untuk sekedar mengenalkan tulisan-tulisan di blog saya. Saya kira, mungkin minggu depan atau beberapa hari lagi e-mail saya itu baru akan ditindak lanjuti. Soalnya, sebelum ini saya juga sudah pernah mengirimkan e-mail senada ke penerbit lain dan sampai hari ini tidak ada tanggapan sama sekali. Makanya setelah e-mail yang saya tulis itu terkirim ke penerbit, saya kembali bersantai-santai ria seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Tapi alangkah kagetnya saya, kira-kira empat atau lima jam berikutnya ada e-mail balasan masuk dari redaksi penerbit itu. Lebih mengejutkan lagi, yang membalas e-mail saya ini adalah Direkturnya sendiri yang juga seorang penulis. Kontan saja hal ini membuat saya tersenyum kecut. Rupanya kali ini saya sudah melakukan suatu kesalahan besar! Terlalu meremehkan dan memandang sebuah kondisi dari sudut pandang 'biasanya', yang akhirnya membuahkan hasil kurang baik bagi diri saya.
Isi e-mail dari Pak Direktur, juga membuat saya semakin menggigit jari! Beliau menulis sudah melihat isi link blog yang saya sertakan ke e-mail redaksinya. Di e-mail ini, beliau juga menasehati agar saya lebih banyak menulis artikel atau karya narasi berupa cerita dan bukan PUISI karena penikmat puisi di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan penikmat karya sastra jenis lainnya.
Tunggu!
Ada salah persepsi disini!!
Saya tidak pernah berminat meminta penerbit mana pun untuk menerbitkan puisi-puisi saya menjadi buku. Sasaran penerbitan saya adalah artikel-artikel yang sudah saya tulis. Di blog saya memang terpajang puisi juga, banyak malahan. Tapi puisi-puisi itu sebenarnya adalah pelampiasan waktu saat saya mengalami kehilangan ide untuk menulis artikel-artikel. Jadi, puisi-puisi itu bukan bagian terpenting dari karya-karya yang ingin saya terbitkan, hanya karya-karya 'buangan' saja.
Sejenak, saya merenung ulang.
Ya, kesalahan persepsi ini berawal dari saya sendiri. Saya tidak menata rumah saya terlebih dulu sebelum mengundang tamu berkunjung. Blog saya terbagi dalam beberapa tag. Dan kebetulan, tulisan puisi-puisi saya - bagian yang justru kurang penting - berkumpul di satu tag saja. Sedangkan tulisan artikel saya terpisah-pisah dalam beberapa tag sesuai dengan temanya. Jika dilihat dari luar, jelas akan nampak bahwa tag puisi saya jauh lebih produktif dari pada tag-tag artikel lainnya. Makanya, tak heran jika ada orang awan (bukan saya) yang melihat tampilan home blog saya, akan langsung mencap bahwa saya lebih jago menulis puisi dari pada menulis artikel.
Sampai hari ini, saya mempunyai pengalaman menerima tamu di rumah yang sangat berkesan:
1. Tamu pertama
Ia adalah teman saya waktu kuliah dulu, yang sekarang bekerja di Jakarta. Ketika dia berkata akan berkunjung ke rumah saya dalam rangka liburan, jelas saya begitu senang mendengarnya. Saya langsung membersihkan rumah, menata kursi, menyapu lantai, menyiapkan kamar tidur - persiapan jikalau dia mau menginap di rumah saya - sampai menyemprotkan parfum ke seluruh ruangan agar bau apek-nya lenyap.
Sayangnya, dia tidak jadi datang ke rumah saya karena waktu liburannya yang singkat dan dia hanya sempat mengabiskan waktu liburan itu di rumah orang tuanya.
Biar pun saya agak kecewa awalnya, akhirnya saya bisa menerima kenyataan juga. Paling tidak saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut dia. Kalau pun dia tidak jadi datang, tidak ada ruginya di saya karena saya sudah menyiapkan semuanya sesempurna mungkin yang bisa saya perbuat.
2. Tamu kedua
Ia adalah teman kuliah saya juga yang keluarganya tinggal di Jogja. Dia bekerja di luar pulau Jawa, dan dalam perjalanan liburannya bersama keluarga di kampung halaman, mereka ingin menyempatkan diri untuk mampir ke rumah saya.
Sama seperti saat saya hendak menyambut tamu yang pertama, saya juga membersihkan rumah dan menyiapkan ruangan untuk menginap. Berhubung teman saya ini rencananya datang bersama istri dan dua orang anaknya, maka saya menyempatkan diri untuk membersihkan rumah sejak dua hari sebelumnya.
Akhirnya tamu kedua saya datang juga.
Hhh, lega rasanya. Kali ini persiapan saya tidak sia-sia. Dia beserta keluarga yang dibawanya tak hanya singgah sebentar di rumah saya namun juga menginap sehari semalam.
3. Tamu ketiga
Ya, tamu saya di blog yang ada di cerita sebelumnya itu.
Saya yang mengundang dia untuk datang berkunjung, tetapi saya sama sekali tidak menyiapkan rumah saya dengan baik. Dan akhirnya dia datang dengan meninggalkan kesan kurang berkenan.
Ah, Sedihnya...
How if Jesus come to visit your home now?
Are you ready?
Tenang...tenang...
Anda tidak perlu panik!
Dia tahu bahwa rumah kita tidak akan pernah pantas untuk Dia kunjungi. Allah Maha Kudus dan kita maha kotor. Tidak ada yang bisa menampung kekudusan Allah bahkan seandainya kita sudah menyapu bersih seluruh serpihan-serpihan bagian dalam rumah kita sekalipun. Dosa dalam rumah kita yang disebut hati, tidak mungkin kita bersihkan dengan tenaga dan usaha kita sebagai manusia biasa.
Tetapi sebaliknya, jika Dia datang, maka Dialah yang akan membersihkan rumah kita. Menyapu lantai dan jendela-jendela hati kita yang kotor, kemudian mengembalikan kekudusan dalam hidup kita.
Kisah Zakheus - si pemungut cukai - ketika menerima Yesus di rumahnya, menjadi bukti bahwa ketika Dia bertamu ke rumah kita, maka Dia yang akan membersihkan dan menata rumah kita sehingga pantas untuk Dia singgahi. Bukan karena kita hebat bisa menerima Dia di rumah kita, tapi Dialah yang membuat kita pantas untuk menerima kunjungan-Nya itu.
Lukas 19:5, Ketika Yesus sampai di pohon itu, Ia melihat ke atas lalu berkata, "Zakheus, turunlah cepat! Sebab Aku harus berkunjung ke rumahmu hari ini."
Lukas 19:8-10, Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus, "Tuhan, separuh dari harta saya akan saya sedekahkan kepada orang miskin; dan siapa saja yang pernah saya tipu, akan saya bayar kembali kepadanya empat kali lipat!" Lalu kata Yesus, "Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat."
Apa yang harus kita lakukan ketika Dia hendak berkunjung ke rumah kita?
Buka pintu!
Heeh, mudah bukan?
Tapi terkadang banyak orang yang begitu susah melakukannya. Jika hendak menerima tamu dari teman lama atau saudara jauh, banyak orang yang antusias menyambutnya. Tapi jika Yesus yang berkata, "... Aku akan datang segera mendapatkanmu...", banyak orang memilih menggunakan logikanya untuk berfikir dan menimbang-nimbang untung ruginya lebih dulu, bahkan ada banyak orang yang langsung menolak-Nya mentah-mentah sebelum Dia sampai di depan pintu rumah.
Wahyu 3:20, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Lihat, seorang Tamu Agung sedang berdiri di muka pintu dan menunggu untuk masuk ke dalam rumah anda hari ini. Anda tak perlu takut tak pantas ada di depan-Nya karena dosa-dosa anda. Dia tahu bahwa anda memang tidak layak untuk-Nya, tapi Dia mau melayakkan anda untuk menerima kunjungan-Nya. Hanya butuh kesediaan dari anda untuk membuka pintu rumah, dan setelah itu Dia yang akan datang mendapatkan anda dengan sukacita. Be ready to change, because Jesus come to rebuild you.
Minggu lalu, ada tamu special yang bertandang ke rumah maya saya.
Rumah maya?
Iya, itu tuh...blog saya hehehe.
Ceritanya seperti ini...
Selama ini saya menjadi anggota di sebuah penerbit sekaligus toko buku online internet. Sebenarnya saya bukanlah anggota yang selalu up to date, hanya sesekali saja saya menggunakan keanggotaan untuk membuka account di website dan mencari referensi buku-buku bacaan yang saya ingini. Hal ini saya lakukan karena kegemaran saya akan membaca buku terpaksa tersendat-sendat setelah saya pindah ke kota Ponorogo, sebuah kota kecil dengan toko buku terbatas yang jauh jika dibandingkan dengan Surabaya, Jakarta atau Cinere, kota-kota besar yang pernah saya tinggali, yang memudahkan setiap orang mendapatkan sebuah buku bacaan disana hanya dengan masuk ke mall-mall yang tersedia.
Hidup di kota kecil seperti Ponorogo, memaksa saya untuk lebih cerdik dalam segala hal, termasuk soal pengadaan buku bacaan yang rasanya sudah tidak bisa dipisahkan dari tubuh saya ini. Untungnya masih ada media internet yang membuat saya tidak seperti katak dalam tempurung karena berada di tempat yang fasilitas teknologinya kurang memadai dibandingkan dengan kota-kota besar yang pernah saya jamah sebelumnya. Saya masih bisa hidup tenang di kota kecil yang asri - dijamin, jauh dari macet dan udara kotor serta minim tindak kejahatan, dan tidak lantas menjadi orang yang ketinggalan informasi dengan adanya media internet ini.
Sebenarnya saya sudah menjadi anggota dari penerbit sekaligus toko buku online ini lumayan agak lama. Sekitar bulan Juni atau Juli tahun 2007 saya sudah sering keluar masuk website mereka untuk mencari buku-buku yang saya perlukan. Kemudian karena dorongan seorang teman yang menyuruh saya mencoba mengirimkan contoh tulisan saya ke sebuah penerbit - siapa tahu ada yang mau menerbitkan tulisan-tulisan saya, akhirnya terjadilah pengalaman ini.
Niatnya, benar-benar hanya iseng! Pagi itu saya menulis e-mail ke redaksi penerbit tersebut untuk sekedar mengenalkan tulisan-tulisan di blog saya. Saya kira, mungkin minggu depan atau beberapa hari lagi e-mail saya itu baru akan ditindak lanjuti. Soalnya, sebelum ini saya juga sudah pernah mengirimkan e-mail senada ke penerbit lain dan sampai hari ini tidak ada tanggapan sama sekali. Makanya setelah e-mail yang saya tulis itu terkirim ke penerbit, saya kembali bersantai-santai ria seperti tidak terjadi apa-apa sebelumnya.
Tapi alangkah kagetnya saya, kira-kira empat atau lima jam berikutnya ada e-mail balasan masuk dari redaksi penerbit itu. Lebih mengejutkan lagi, yang membalas e-mail saya ini adalah Direkturnya sendiri yang juga seorang penulis. Kontan saja hal ini membuat saya tersenyum kecut. Rupanya kali ini saya sudah melakukan suatu kesalahan besar! Terlalu meremehkan dan memandang sebuah kondisi dari sudut pandang 'biasanya', yang akhirnya membuahkan hasil kurang baik bagi diri saya.
Isi e-mail dari Pak Direktur, juga membuat saya semakin menggigit jari! Beliau menulis sudah melihat isi link blog yang saya sertakan ke e-mail redaksinya. Di e-mail ini, beliau juga menasehati agar saya lebih banyak menulis artikel atau karya narasi berupa cerita dan bukan PUISI karena penikmat puisi di Indonesia masih relatif sedikit dibandingkan penikmat karya sastra jenis lainnya.
Tunggu!
Ada salah persepsi disini!!
Saya tidak pernah berminat meminta penerbit mana pun untuk menerbitkan puisi-puisi saya menjadi buku. Sasaran penerbitan saya adalah artikel-artikel yang sudah saya tulis. Di blog saya memang terpajang puisi juga, banyak malahan. Tapi puisi-puisi itu sebenarnya adalah pelampiasan waktu saat saya mengalami kehilangan ide untuk menulis artikel-artikel. Jadi, puisi-puisi itu bukan bagian terpenting dari karya-karya yang ingin saya terbitkan, hanya karya-karya 'buangan' saja.
Sejenak, saya merenung ulang.
Ya, kesalahan persepsi ini berawal dari saya sendiri. Saya tidak menata rumah saya terlebih dulu sebelum mengundang tamu berkunjung. Blog saya terbagi dalam beberapa tag. Dan kebetulan, tulisan puisi-puisi saya - bagian yang justru kurang penting - berkumpul di satu tag saja. Sedangkan tulisan artikel saya terpisah-pisah dalam beberapa tag sesuai dengan temanya. Jika dilihat dari luar, jelas akan nampak bahwa tag puisi saya jauh lebih produktif dari pada tag-tag artikel lainnya. Makanya, tak heran jika ada orang awan (bukan saya) yang melihat tampilan home blog saya, akan langsung mencap bahwa saya lebih jago menulis puisi dari pada menulis artikel.
Sampai hari ini, saya mempunyai pengalaman menerima tamu di rumah yang sangat berkesan:
1. Tamu pertama
Ia adalah teman saya waktu kuliah dulu, yang sekarang bekerja di Jakarta. Ketika dia berkata akan berkunjung ke rumah saya dalam rangka liburan, jelas saya begitu senang mendengarnya. Saya langsung membersihkan rumah, menata kursi, menyapu lantai, menyiapkan kamar tidur - persiapan jikalau dia mau menginap di rumah saya - sampai menyemprotkan parfum ke seluruh ruangan agar bau apek-nya lenyap.
Sayangnya, dia tidak jadi datang ke rumah saya karena waktu liburannya yang singkat dan dia hanya sempat mengabiskan waktu liburan itu di rumah orang tuanya.
Biar pun saya agak kecewa awalnya, akhirnya saya bisa menerima kenyataan juga. Paling tidak saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyambut dia. Kalau pun dia tidak jadi datang, tidak ada ruginya di saya karena saya sudah menyiapkan semuanya sesempurna mungkin yang bisa saya perbuat.
2. Tamu kedua
Ia adalah teman kuliah saya juga yang keluarganya tinggal di Jogja. Dia bekerja di luar pulau Jawa, dan dalam perjalanan liburannya bersama keluarga di kampung halaman, mereka ingin menyempatkan diri untuk mampir ke rumah saya.
Sama seperti saat saya hendak menyambut tamu yang pertama, saya juga membersihkan rumah dan menyiapkan ruangan untuk menginap. Berhubung teman saya ini rencananya datang bersama istri dan dua orang anaknya, maka saya menyempatkan diri untuk membersihkan rumah sejak dua hari sebelumnya.
Akhirnya tamu kedua saya datang juga.
Hhh, lega rasanya. Kali ini persiapan saya tidak sia-sia. Dia beserta keluarga yang dibawanya tak hanya singgah sebentar di rumah saya namun juga menginap sehari semalam.
3. Tamu ketiga
Ya, tamu saya di blog yang ada di cerita sebelumnya itu.
Saya yang mengundang dia untuk datang berkunjung, tetapi saya sama sekali tidak menyiapkan rumah saya dengan baik. Dan akhirnya dia datang dengan meninggalkan kesan kurang berkenan.
Ah, Sedihnya...
How if Jesus come to visit your home now?
Are you ready?
Tenang...tenang...
Anda tidak perlu panik!
Dia tahu bahwa rumah kita tidak akan pernah pantas untuk Dia kunjungi. Allah Maha Kudus dan kita maha kotor. Tidak ada yang bisa menampung kekudusan Allah bahkan seandainya kita sudah menyapu bersih seluruh serpihan-serpihan bagian dalam rumah kita sekalipun. Dosa dalam rumah kita yang disebut hati, tidak mungkin kita bersihkan dengan tenaga dan usaha kita sebagai manusia biasa.
Tetapi sebaliknya, jika Dia datang, maka Dialah yang akan membersihkan rumah kita. Menyapu lantai dan jendela-jendela hati kita yang kotor, kemudian mengembalikan kekudusan dalam hidup kita.
Kisah Zakheus - si pemungut cukai - ketika menerima Yesus di rumahnya, menjadi bukti bahwa ketika Dia bertamu ke rumah kita, maka Dia yang akan membersihkan dan menata rumah kita sehingga pantas untuk Dia singgahi. Bukan karena kita hebat bisa menerima Dia di rumah kita, tapi Dialah yang membuat kita pantas untuk menerima kunjungan-Nya itu.
Lukas 19:5, Ketika Yesus sampai di pohon itu, Ia melihat ke atas lalu berkata, "Zakheus, turunlah cepat! Sebab Aku harus berkunjung ke rumahmu hari ini."
Lukas 19:8-10, Kemudian di rumahnya, Zakheus berdiri dan berkata kepada Yesus, "Tuhan, separuh dari harta saya akan saya sedekahkan kepada orang miskin; dan siapa saja yang pernah saya tipu, akan saya bayar kembali kepadanya empat kali lipat!" Lalu kata Yesus, "Pada hari ini engkau dan seluruh keluargamu diselamatkan oleh Allah dan diberikan hidup yang baru, sebab engkau juga keturunan Abraham. Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan orang yang sesat."
Apa yang harus kita lakukan ketika Dia hendak berkunjung ke rumah kita?
Buka pintu!
Heeh, mudah bukan?
Tapi terkadang banyak orang yang begitu susah melakukannya. Jika hendak menerima tamu dari teman lama atau saudara jauh, banyak orang yang antusias menyambutnya. Tapi jika Yesus yang berkata, "... Aku akan datang segera mendapatkanmu...", banyak orang memilih menggunakan logikanya untuk berfikir dan menimbang-nimbang untung ruginya lebih dulu, bahkan ada banyak orang yang langsung menolak-Nya mentah-mentah sebelum Dia sampai di depan pintu rumah.
Wahyu 3:20, Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.
Lihat, seorang Tamu Agung sedang berdiri di muka pintu dan menunggu untuk masuk ke dalam rumah anda hari ini. Anda tak perlu takut tak pantas ada di depan-Nya karena dosa-dosa anda. Dia tahu bahwa anda memang tidak layak untuk-Nya, tapi Dia mau melayakkan anda untuk menerima kunjungan-Nya. Hanya butuh kesediaan dari anda untuk membuka pintu rumah, dan setelah itu Dia yang akan datang mendapatkan anda dengan sukacita. Be ready to change, because Jesus come to rebuild you.
Saturday, August 29, 2009
Menangislah
Oleh : Angelina Kusuma
Menangislah, bila harus menangis.
Karena kita semua, manusia.
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis.
(Lagu Air Mata - Dewa 19)
Daud menangis.
Petrus menangis.
Dan Yesus...menangis.
2 Samuel 1:11-12, Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
Matius 26:75, Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Yohanes 11:33-35, Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" Maka menangislah Yesus.
Ada yang salah dengan menangis, sehingga banyak pria di dunia ini yang benci menangis?
Meski saya seorang wanita, saya juga paling tidak suka sering-sering menangis. Bagi saya menangis sama dengan cengeng?!?!?!
Tapi ternyata, para kesatria, rasul, dan juga Yesus, pernah memberi contoh bahwa mereka pernah menangis!
Daud yang dikenal sebagai seorang raja, pemberani, pahlawan yang memenangkan ratusan perang, bisa menangis ketika mendengar berita bahwa Saul dan Yonatan sahabatnya mati. Petrus yang dikenal dengan sifatnya yang menggebu-gedu dan tindakannya yang agresif, juga menangis tak kala dia teringat akan dosanya menyangkali Yesus saat menjelang penyaliban-Nya di Golgota. Yesus? Dia menangis ketika melihat Lazarus sahabat-Nya meninggal dunia sebelum Dia membangkitkannya dari kematian.
Menangis bukanlah hal yang cengeng jika kita menangis pada tempatnya. Menangis adalah sebuah ekspresi untuk menunjukkan perasaan duka yang ada dalam hati manusia, sama seperti aktivitas tertawa, tersenyum, melompat, marah, dan lain-lainnya.
Menahan tangis hanya demi gengsi, itulah yang dinamakan cengeng. Karena jika kita menahan kesedihan dalam hati dan menyembunyikannya, berarti kita tidak berani menghadapi kenyataan yang ada.
Daud, Petrus, dan Yesus adalah contoh yang tepat tentang bagaimana cara mengungkapkan perasaan hati. Mereka berani menghadapi kenyataan hidup yang begitu pahit dan tidak malu mengekspresikannya dengan menangis.
Air mata diciptakan Tuhan sebagai alat untuk menyentuh surga. Berapa banyak orang-orang yang kembali ke jalan Dia hanya dengan tetesan air mata dari para pendoa syafaat? Berapa banyak bangsa-bangsa yang terlepas dari belenggu iblis hanya dengan cucuran air mata para evangelism dan volunteer?
Alkitab pun menggunakan air mata untuk membawa perumpamaan kemenangan.
Mazmur 126:5-6, Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
Jika air mata tidak berguna bagi dunia ini, tentu Allah tidak akan menciptakannya. Hanya saja, kita harus tahu kapan saatnya untuk menangis agar terhindar dari pandangan negatif orang lain.
Dengan membebaskan diri menikmati kesedihan, kita bisa menyelidiki kenapa kita bersedih dan kemana kita akan melangkah setelah kesedihan itu berlalu. Jadi air mata dan menangis bukannya tidak berguna bagi manusia dan harus dijauhi atau dibenci karena akan menunjukkan sisi kelemahan kita. Sebaliknya, air mata dan menangis mengandung kekuatan yang juga membangun bagi kehidupan ketika kita tahu cara menggunakan kekuatan yang dikandungnya itu dengan benar.
Hadapi kesedihan, beri waktu untuk anda menikmati kesedihan sebebas-bebasnya, dan izinkan diri anda menangis jika memang memerlukannya.
Menangislah kepada Tuhan. Dia tahu rasanya sedih. Dia pernah menangis. Dia tahu rasanya saat ditinggal sendirian. Dia mengenal kesedihan dan juga segala bentuk penderitaan di bumi ini. Tapi Dia yang sama, juga mengenal sukacita kebangkitan kembali. Mengenal sorak sorai kemenangan atas penderitaan, kesedihan, dan maut yang pernah dialami-Nya. Dan dengan kuasa-Nya juga, kita bisa kembali bangkit atas kesedihan kita sebelumnya (nj@coe).
Menangislah, bila harus menangis.
Karena kita semua, manusia.
Manusia bisa terluka, manusia pasti menangis.
(Lagu Air Mata - Dewa 19)
Daud menangis.
Petrus menangis.
Dan Yesus...menangis.
2 Samuel 1:11-12, Lalu Daud memegang pakaiannya dan mengoyakkannya; dan semua orang yang bersama-sama dengan dia berbuat demikian juga. Dan mereka meratap, menangis dan berpuasa sampai matahari terbenam karena Saul, karena Yonatan, anaknya, karena umat TUHAN dan karena kaum Israel, sebab mereka telah gugur oleh pedang.
Matius 26:75, Maka teringatlah Petrus akan apa yang dikatakan Yesus kepadanya: "Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Lalu ia pergi ke luar dan menangis dengan sedihnya.
Yohanes 11:33-35, Ketika Yesus melihat Maria menangis dan juga orang-orang Yahudi yang datang bersama-sama dia, maka masygullah hati-Nya. Ia sangat terharu dan berkata: "Di manakah dia kamu baringkan?" Jawab mereka: "Tuhan, marilah dan lihatlah!" Maka menangislah Yesus.
Ada yang salah dengan menangis, sehingga banyak pria di dunia ini yang benci menangis?
Meski saya seorang wanita, saya juga paling tidak suka sering-sering menangis. Bagi saya menangis sama dengan cengeng?!?!?!
Tapi ternyata, para kesatria, rasul, dan juga Yesus, pernah memberi contoh bahwa mereka pernah menangis!
Daud yang dikenal sebagai seorang raja, pemberani, pahlawan yang memenangkan ratusan perang, bisa menangis ketika mendengar berita bahwa Saul dan Yonatan sahabatnya mati. Petrus yang dikenal dengan sifatnya yang menggebu-gedu dan tindakannya yang agresif, juga menangis tak kala dia teringat akan dosanya menyangkali Yesus saat menjelang penyaliban-Nya di Golgota. Yesus? Dia menangis ketika melihat Lazarus sahabat-Nya meninggal dunia sebelum Dia membangkitkannya dari kematian.
Menangis bukanlah hal yang cengeng jika kita menangis pada tempatnya. Menangis adalah sebuah ekspresi untuk menunjukkan perasaan duka yang ada dalam hati manusia, sama seperti aktivitas tertawa, tersenyum, melompat, marah, dan lain-lainnya.
Menahan tangis hanya demi gengsi, itulah yang dinamakan cengeng. Karena jika kita menahan kesedihan dalam hati dan menyembunyikannya, berarti kita tidak berani menghadapi kenyataan yang ada.
Daud, Petrus, dan Yesus adalah contoh yang tepat tentang bagaimana cara mengungkapkan perasaan hati. Mereka berani menghadapi kenyataan hidup yang begitu pahit dan tidak malu mengekspresikannya dengan menangis.
Air mata diciptakan Tuhan sebagai alat untuk menyentuh surga. Berapa banyak orang-orang yang kembali ke jalan Dia hanya dengan tetesan air mata dari para pendoa syafaat? Berapa banyak bangsa-bangsa yang terlepas dari belenggu iblis hanya dengan cucuran air mata para evangelism dan volunteer?
Alkitab pun menggunakan air mata untuk membawa perumpamaan kemenangan.
Mazmur 126:5-6, Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.
Jika air mata tidak berguna bagi dunia ini, tentu Allah tidak akan menciptakannya. Hanya saja, kita harus tahu kapan saatnya untuk menangis agar terhindar dari pandangan negatif orang lain.
Dengan membebaskan diri menikmati kesedihan, kita bisa menyelidiki kenapa kita bersedih dan kemana kita akan melangkah setelah kesedihan itu berlalu. Jadi air mata dan menangis bukannya tidak berguna bagi manusia dan harus dijauhi atau dibenci karena akan menunjukkan sisi kelemahan kita. Sebaliknya, air mata dan menangis mengandung kekuatan yang juga membangun bagi kehidupan ketika kita tahu cara menggunakan kekuatan yang dikandungnya itu dengan benar.
Hadapi kesedihan, beri waktu untuk anda menikmati kesedihan sebebas-bebasnya, dan izinkan diri anda menangis jika memang memerlukannya.
Menangislah kepada Tuhan. Dia tahu rasanya sedih. Dia pernah menangis. Dia tahu rasanya saat ditinggal sendirian. Dia mengenal kesedihan dan juga segala bentuk penderitaan di bumi ini. Tapi Dia yang sama, juga mengenal sukacita kebangkitan kembali. Mengenal sorak sorai kemenangan atas penderitaan, kesedihan, dan maut yang pernah dialami-Nya. Dan dengan kuasa-Nya juga, kita bisa kembali bangkit atas kesedihan kita sebelumnya (nj@coe).
Yesus Sembuhkan Saya dari TBC Tulang Lumbal 1
Oleh : Angelina Kusuma
Ketika saya masih bekerja di Jakarta, banyak hal yang Tuhan izinkan terjadi kepada saya. Awal-awal mengalami dera derita yang diberikan-Nya, saya sempat mengeluh berkali-kali, "Kenapa sih Tuhan kok tega melakukan hal itu kepadaku?". Kini setelah lewat tiga tahun berlalu, saya baru mengerti maksud Tuhan mengizinkan cobaan itu terjadi. Ia menjadikannya agar iman saya semakin dikuatkan didalam Dia.
Bekerja di Jakarta adalah impian saya sejak dulu. Perusahaan pertama tempat saya bekerja selulus dari bangku kuliah, sama persis dengan bidang keahlian yang saya pelajari selama belajar di Surabaya. Untuk masuk ke sana, jalan saya dibuat sangat mudah oleh Tuhan. Saya lolos tes di perusahaan kapal fiberglass dari sekitar 100 orang yang mendaftar tanpa ada kesulitan apapun.
Mulanya saya gembira bekerja di perusahaan itu. Tetapi lama-kelamaan, kejenuhan mulai datang menyerang. Sisi kerohanian saya serasa mati perlahan-lahan selama hidup di kota Jakarta. Banyak sebab yang mempengaruhinya. Pimpinan saya waktu itu termasuk orang yang mudah naik darah dan jika Beliau marah maka tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak membawa berkat di telinga. Jam kerja saya juga bisa sampai 12 jam sehari non stops saat ada kegiatan sea trial kapal baru tanpa imbalan bonus yang berarti. Ditambah lagi, terkadang ada perintah langsung dari pimpinan yang mengharuskan saya menanda-tangani design bangunan kapal yang saya sendiri belum yakin 100% bahwa itu sudah teruji kebenarannya.
Rentetan kejadian-kejadian itu seperti bom yg perlahan-lahan tersulut didalam diri saya. Disatu pihak saya ingin menentang semua itu, namun disatu sisi lainnya saya tidak bisa berbuat banyak karena ada tekanan dari pimpinan. Segala hal yang menyakitkan hanya saya pendam sendiri, karena di Jakarta saya sama sekali tidak mempunyai teman akrab yang bisa menguatkan saya dijalan Tuhan. Saya masih tetap ke gereja setiap hari Minggu, namun semua tampak kosong. Saya benar-benar kehilangan sosok Kristus yang pernah saya kenal dekat semasa kuliah di Surabaya dulu.
Lambat laun, tubuh saya yang tidak kuat menahan semua 'racun' yang masuk itu. Belum lagi saya harus berinteraksi dengan lingkungan didaerah Jakarta Utara yang kotor dan bahan-bahan fiberglass yang memang bisa merusak tubuh perlahan-lahan. Setelah bekerja kurang lebih setahun di perusahaan, kondisi fisik saya mulai drop. Saya mulai terkena sakit batuk-batuk yang tak kunjung sembuh selama lebih dari tiga bulan, sampai akhirnya saya divonis dokter terkena TBC - Tubercolocis. Selama sembilan hari saya harus dirawat di rumah sakit dan harus minum obat anti TBC sepuluh butir sehari. Saat itu saya benar-benar down. Bukan hanya fisik tetapi rohani saya juga turut ambruk.
Berat badan saya turun drastis sampai hanya 38 kilogram. Dibandingkan dengan tinggi badan saya yang mencapai 165 cm, keadaan saya hanya tinggal kulit pembalut tulang. Bila saya berdiri atau berjalan, kepala saya terasa sangat pusing. Saya juga terkena komplikasi penyakit darah rendah akut. Semua makanan yang masuk ke mulut selalu saya muntahkan. Hanya infus yang bisa memberi kekuatan untuk perut saya tetap kenyang. Seluruh keluarga saya mulai cemas. Tidak jarang mereka menangis didepan saya ketika melihat saya yang sudah setengah sekarat diatas tempat tidur tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti kecuali membuka mata. Saat itu saya berdoa kepada Tuhan : "Tuhan, jika ini adalah saat terakhir hidupku di dunia ini, aku tidak menyesal. Jika Engkau mau cabut nyawaku, sekarang aku siap ke Surga." Saya sudah berserah total!
Yang lebih parah dari hari-hari saya di rumah sakit adalah saat dimana tiba-tiba liver saya membengkak karena tidak ada makanan yang mau masuk ke tubuh selain infus. Saya harus menjalani USG dan diambil darah sebanyak 100 cc tiga kali sehari. Untuk ukuran tubuh saya yang saat itu cukup lemah, hal itu semakin membuat saya menderita. Rasanya seluruh tubuh saya sakit semua. Belum lagi obat-obatan yang saya konsumsipun harus ditambah satu lagi, yakni untuk pereda liver yang bengkak.
Ternyata Tuhan Yesus masih menghendaki saya hidup. Saat itu ada teman seiman dari kantor saya yang datang menjenguk dan membacakan Mazmur 91. Mendengar teman saya membacakan ayat-ayat dari pasal itu, saya menangis. Hati saya seperti diketuk oleh Tuhan dan seketika itu juga saya mempunyai semangat untuk hidup kembali.
Selama empat bulan berikutnya setelah keluar dari rumah sakit, saya rutin berobat jalan dan berangsur-angsur mulai sembuh. Tetapi mendadak ada kejadian baru yang lebih mengejutkan lagi. Ketika saya menyampaikan keluhan mengenai sakit di punggung saya kepada dokter yang menangani penyakit saya dari perusahaan, Beliau menyarankan saya untuk rongent ulang, bukan di paru-paru lagi tetapi di tulang punggung. Dari hasil rongent baru ini, dokter mengambil kesimpulan bahwa ternyata TBC yang saya derita selama ini bukan TBC biasa. Virus TBC tidak hanya ada di paru-paru saya tetapi sudah menyerang sumsum tulang belakang saya. Tepatnya di daerah Lumbal 1 saya, ada dua ruas tulang yang remuk dan sedang membentuk benjolan baru sebagai hasil leburannya.
Tubuh saya terasa sakit jika dipakai untuk bergerak, tidur menjadi tidak nyenyak, dan saat berjalanpun menjadi goyang rasanya. Kata dokter, itu disebabkan karena saraf-saraf yang ada disekeliling dua ruas tulang itu ikut meradang. Vonis terakhir dari dokter ini membuat saya semakin syok. Dokter mengatakan, jika seandainya saya mengalami patah tulang belakang, maka kaki saya akan lumpuh seumur hidup. "Tuhannnnnn...", saya hanya bisa menjerit didalam hati menghadapi vonis terbaru dari penyakit saya itu. Beberapa bulan berikutnya, obat-obatan sayapun ditambah lagi jumlahnya. Obat-obatan itu semakin membuat saya seperti dicabik-cabik, sakit!
Proses demi proses saya jalani, sampai akhirnya saya memutuskan untuk pindah dari perusahaan tersebut. Saya tidak tahan dengan kondisi kerja di perusahaan yang membuat beban tersendiri bagi saya. Tubuh saya sudah tidak seperti dulu, maka begitu ada kesempatan untuk pindah ke perusahaan lain di Cinere, saya langsung mengambil kesempatan emas itu. Tiba di Cinere, pertama kali yang saya tuju adalah dokter paru-paru. Ternyata dokter specialist paru-paru di RS. Puri Cinere pun angkat tangan mengenai penyakit TBC saya. Virus TBC yang ada di paru-paru saya memang sudah bersih, tetapi yang menjadi masalah adalah virus TBC yang masih ada tulang belakang saya. Dokter itu kemudian merujuk saya untuk ke RS. Fatmawati. Dokter RS. Fatmawati mempunyai analisa yang sama seperti dokter dari perusahaan pertama saya dulu. Saya kembali divonis bisa lumpuh oleh dokter specialist orthopedi. Jika ada satu saraf saja disekeliling dua ruas tulang belakang saya yang meremuk itu putus, ini adalah langkah awal menuju kelumpuhan kaki seumur hidup saya.
Hmm, benar-benar ujian mental! Ketika dokter specialist orthopedi ini memvonis dengan kata-kata bisa lumpuh untuk kedua kalinya, beberapa hari berikutnya saya down lagi. Sampai-sampai saya harus kabur dari kost-kost-an saya di Cinere dan menginap di rumah teman di Jakarta Timur. Sedih, takut, bercampur ngeri menghantui saya. Kalau saya langsung mati karena penyakit TBC yang terlanjur parah ini, bagi saya tidak masalah. Tetapi kalau harus lumpuh terlebih dahulu...itulah yang saya takuti. Saya tidak bisa membayangkan jika diri saya yang sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil ini akan menjadi beban untuk orang-orang yang saya kasihi terutama pihak keluarga.
Ditengah ketakutan itu, saya hanya mengingat nama Yesus. Suatu malam ketika saya mengikuti sebuah FA - Family Altar - di gereja saya di Cinere, saya share didepan semua teman-teman tentang penyakit saya. Beruntung waktu di Cinere saya bertemu dengan teman-teman yang luar biasa imannya kepada Yesus sehingga saya juga turut dikuatkan bersama keberadaan mereka. Akhirnya, malam itu mereka berdoa khusus untuk saya. Suatu malam terindah dalam hidup yang baru kali itu saya rasakan. Saat seluruh tangan terangkat dan satu nama disebut "Yesus!...", seketika itu juga suatu keberanian yang luar biasa mulai masuk ke seluruh tubuh saya. Saya tersungkur dalam hadirat Tuhan dalam waktu yang cukup lama, menikmati kekuatan Surgawi yang mengalir melalui doa-doa teman-teman saya.
Keesokan harinya, saya mengambil komitmen untuk tidak akan menyentuh sedikitpun obat-obatan dari dokter lagi. Saya mengatakan keputusan ini kepada kakak rohani saya agar ia datang ke kost-kost-an saya dan membantu menguatkan iman saya semalaman. Keesokan harinya, saya benar-benar membuang semua obat-obatan dari dokter yang kurang lebih hampir delapan bulan sebelumnya saya konsumsi rutin.
Selama seminggu setelah saya tidak mengkonsumsi obat-obatan anti TBC yang jumlahnya tinggal delapan biji sehari – setelah dikurangi obat anti TBC untuk paru-paru yang sudah sembuh, saya mengalami tubuh linglung – obat-obatan anti TBC ada yang mengandung sejenis morfin untuk mengurangi rasa sakit, jika dilepaskan begitu saja tanpa pengurangan dosisnya sedikit demi sedikit bisa menyebabkan blank sesaat pada penderitanya. Saya pernah merasakan gelas yang saya pegang tiba-tiba terjatuh sendiri dari genggaman atau tiba-tiba tubuh saya mati rasa beberapa waktu. Semua yang saya lakukan terasa diluar kendali normal selama seminggu itu. Meski begitu, saya tetap bergantung penuh kepada Tuhan Yesus.
Anehnya setelah seminggu berlalu, tubuh saya berangsur-angsur semakin sehat. Saya tidak merasakan meriang lagi atau keadaan ’seperti tercabik-cabik’. Semua kembali ke kondisi normal seperti sebelum saya terkena penyakit TBC parah. Keputusan yang teramat penting juga langsung saya ambil setelah tubuh saya terkuatkan secara ajaib selama tidak mengkonsumsi obat-obatan anti TBC dari dokter, yakni komitmen untuk baptis selam di gereja!
Sampai sekarang saya masih tegak berdiri dengan kedua kaki sehat saya dan tidak lumpuh! Hasil leburan ditulang sumsum belakang saya tetap ada, tetapi sudah membatu. Dulu dokter specialist orthopedi dari RS. Fatmawati pernah menyarankan agar remukan tulang itu dioperasi kemudian dipasang sejenis pens penyangga dikedua sisi ruas tulangnya. Tetapi karena biaya operasinya lebih dari 50 juta, saya sama sekali tidak mau melakukan operasi itu karena biayanya terlalu mahal untuk ukuran saya. Saya hanya bergantung kepada Tuhan Yesus dan Ia pun bertindak melakukan mukjizat-Nya kepada saya. Saat ini bagian yang dulu membuat gerak tubuh saya agak terhambat sudah tidak terasa sakit lagi. Saya masih bisa berjalan normal, berlari, bahkan bermain basket seperti sebelum saya tervonis sakit TBC Tulang Lumbal 1.
Tuhan selalu mengingatkan saya dengan kisah Paulus. Jika Paulus mempunyai 'duri dalam daging'-nya, maka seorang Enjie pun mempunyai 'remukan disumsum tulang belakang'-nya.
Janji Tuhan yang saya imani, Dia akan selalu menjaga tulang saya dari patahan sampai kapanpun juga! (nj@coe)
Mazmur 34:21, Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah.
Ketika saya masih bekerja di Jakarta, banyak hal yang Tuhan izinkan terjadi kepada saya. Awal-awal mengalami dera derita yang diberikan-Nya, saya sempat mengeluh berkali-kali, "Kenapa sih Tuhan kok tega melakukan hal itu kepadaku?". Kini setelah lewat tiga tahun berlalu, saya baru mengerti maksud Tuhan mengizinkan cobaan itu terjadi. Ia menjadikannya agar iman saya semakin dikuatkan didalam Dia.
Bekerja di Jakarta adalah impian saya sejak dulu. Perusahaan pertama tempat saya bekerja selulus dari bangku kuliah, sama persis dengan bidang keahlian yang saya pelajari selama belajar di Surabaya. Untuk masuk ke sana, jalan saya dibuat sangat mudah oleh Tuhan. Saya lolos tes di perusahaan kapal fiberglass dari sekitar 100 orang yang mendaftar tanpa ada kesulitan apapun.
Mulanya saya gembira bekerja di perusahaan itu. Tetapi lama-kelamaan, kejenuhan mulai datang menyerang. Sisi kerohanian saya serasa mati perlahan-lahan selama hidup di kota Jakarta. Banyak sebab yang mempengaruhinya. Pimpinan saya waktu itu termasuk orang yang mudah naik darah dan jika Beliau marah maka tidak segan-segan mengeluarkan kata-kata yang sama sekali tidak membawa berkat di telinga. Jam kerja saya juga bisa sampai 12 jam sehari non stops saat ada kegiatan sea trial kapal baru tanpa imbalan bonus yang berarti. Ditambah lagi, terkadang ada perintah langsung dari pimpinan yang mengharuskan saya menanda-tangani design bangunan kapal yang saya sendiri belum yakin 100% bahwa itu sudah teruji kebenarannya.
Rentetan kejadian-kejadian itu seperti bom yg perlahan-lahan tersulut didalam diri saya. Disatu pihak saya ingin menentang semua itu, namun disatu sisi lainnya saya tidak bisa berbuat banyak karena ada tekanan dari pimpinan. Segala hal yang menyakitkan hanya saya pendam sendiri, karena di Jakarta saya sama sekali tidak mempunyai teman akrab yang bisa menguatkan saya dijalan Tuhan. Saya masih tetap ke gereja setiap hari Minggu, namun semua tampak kosong. Saya benar-benar kehilangan sosok Kristus yang pernah saya kenal dekat semasa kuliah di Surabaya dulu.
Lambat laun, tubuh saya yang tidak kuat menahan semua 'racun' yang masuk itu. Belum lagi saya harus berinteraksi dengan lingkungan didaerah Jakarta Utara yang kotor dan bahan-bahan fiberglass yang memang bisa merusak tubuh perlahan-lahan. Setelah bekerja kurang lebih setahun di perusahaan, kondisi fisik saya mulai drop. Saya mulai terkena sakit batuk-batuk yang tak kunjung sembuh selama lebih dari tiga bulan, sampai akhirnya saya divonis dokter terkena TBC - Tubercolocis. Selama sembilan hari saya harus dirawat di rumah sakit dan harus minum obat anti TBC sepuluh butir sehari. Saat itu saya benar-benar down. Bukan hanya fisik tetapi rohani saya juga turut ambruk.
Berat badan saya turun drastis sampai hanya 38 kilogram. Dibandingkan dengan tinggi badan saya yang mencapai 165 cm, keadaan saya hanya tinggal kulit pembalut tulang. Bila saya berdiri atau berjalan, kepala saya terasa sangat pusing. Saya juga terkena komplikasi penyakit darah rendah akut. Semua makanan yang masuk ke mulut selalu saya muntahkan. Hanya infus yang bisa memberi kekuatan untuk perut saya tetap kenyang. Seluruh keluarga saya mulai cemas. Tidak jarang mereka menangis didepan saya ketika melihat saya yang sudah setengah sekarat diatas tempat tidur tanpa bisa berbuat sesuatu yang berarti kecuali membuka mata. Saat itu saya berdoa kepada Tuhan : "Tuhan, jika ini adalah saat terakhir hidupku di dunia ini, aku tidak menyesal. Jika Engkau mau cabut nyawaku, sekarang aku siap ke Surga." Saya sudah berserah total!
Yang lebih parah dari hari-hari saya di rumah sakit adalah saat dimana tiba-tiba liver saya membengkak karena tidak ada makanan yang mau masuk ke tubuh selain infus. Saya harus menjalani USG dan diambil darah sebanyak 100 cc tiga kali sehari. Untuk ukuran tubuh saya yang saat itu cukup lemah, hal itu semakin membuat saya menderita. Rasanya seluruh tubuh saya sakit semua. Belum lagi obat-obatan yang saya konsumsipun harus ditambah satu lagi, yakni untuk pereda liver yang bengkak.
Ternyata Tuhan Yesus masih menghendaki saya hidup. Saat itu ada teman seiman dari kantor saya yang datang menjenguk dan membacakan Mazmur 91. Mendengar teman saya membacakan ayat-ayat dari pasal itu, saya menangis. Hati saya seperti diketuk oleh Tuhan dan seketika itu juga saya mempunyai semangat untuk hidup kembali.
Selama empat bulan berikutnya setelah keluar dari rumah sakit, saya rutin berobat jalan dan berangsur-angsur mulai sembuh. Tetapi mendadak ada kejadian baru yang lebih mengejutkan lagi. Ketika saya menyampaikan keluhan mengenai sakit di punggung saya kepada dokter yang menangani penyakit saya dari perusahaan, Beliau menyarankan saya untuk rongent ulang, bukan di paru-paru lagi tetapi di tulang punggung. Dari hasil rongent baru ini, dokter mengambil kesimpulan bahwa ternyata TBC yang saya derita selama ini bukan TBC biasa. Virus TBC tidak hanya ada di paru-paru saya tetapi sudah menyerang sumsum tulang belakang saya. Tepatnya di daerah Lumbal 1 saya, ada dua ruas tulang yang remuk dan sedang membentuk benjolan baru sebagai hasil leburannya.
Tubuh saya terasa sakit jika dipakai untuk bergerak, tidur menjadi tidak nyenyak, dan saat berjalanpun menjadi goyang rasanya. Kata dokter, itu disebabkan karena saraf-saraf yang ada disekeliling dua ruas tulang itu ikut meradang. Vonis terakhir dari dokter ini membuat saya semakin syok. Dokter mengatakan, jika seandainya saya mengalami patah tulang belakang, maka kaki saya akan lumpuh seumur hidup. "Tuhannnnnn...", saya hanya bisa menjerit didalam hati menghadapi vonis terbaru dari penyakit saya itu. Beberapa bulan berikutnya, obat-obatan sayapun ditambah lagi jumlahnya. Obat-obatan itu semakin membuat saya seperti dicabik-cabik, sakit!
Proses demi proses saya jalani, sampai akhirnya saya memutuskan untuk pindah dari perusahaan tersebut. Saya tidak tahan dengan kondisi kerja di perusahaan yang membuat beban tersendiri bagi saya. Tubuh saya sudah tidak seperti dulu, maka begitu ada kesempatan untuk pindah ke perusahaan lain di Cinere, saya langsung mengambil kesempatan emas itu. Tiba di Cinere, pertama kali yang saya tuju adalah dokter paru-paru. Ternyata dokter specialist paru-paru di RS. Puri Cinere pun angkat tangan mengenai penyakit TBC saya. Virus TBC yang ada di paru-paru saya memang sudah bersih, tetapi yang menjadi masalah adalah virus TBC yang masih ada tulang belakang saya. Dokter itu kemudian merujuk saya untuk ke RS. Fatmawati. Dokter RS. Fatmawati mempunyai analisa yang sama seperti dokter dari perusahaan pertama saya dulu. Saya kembali divonis bisa lumpuh oleh dokter specialist orthopedi. Jika ada satu saraf saja disekeliling dua ruas tulang belakang saya yang meremuk itu putus, ini adalah langkah awal menuju kelumpuhan kaki seumur hidup saya.
Hmm, benar-benar ujian mental! Ketika dokter specialist orthopedi ini memvonis dengan kata-kata bisa lumpuh untuk kedua kalinya, beberapa hari berikutnya saya down lagi. Sampai-sampai saya harus kabur dari kost-kost-an saya di Cinere dan menginap di rumah teman di Jakarta Timur. Sedih, takut, bercampur ngeri menghantui saya. Kalau saya langsung mati karena penyakit TBC yang terlanjur parah ini, bagi saya tidak masalah. Tetapi kalau harus lumpuh terlebih dahulu...itulah yang saya takuti. Saya tidak bisa membayangkan jika diri saya yang sudah terbiasa hidup mandiri sejak kecil ini akan menjadi beban untuk orang-orang yang saya kasihi terutama pihak keluarga.
Ditengah ketakutan itu, saya hanya mengingat nama Yesus. Suatu malam ketika saya mengikuti sebuah FA - Family Altar - di gereja saya di Cinere, saya share didepan semua teman-teman tentang penyakit saya. Beruntung waktu di Cinere saya bertemu dengan teman-teman yang luar biasa imannya kepada Yesus sehingga saya juga turut dikuatkan bersama keberadaan mereka. Akhirnya, malam itu mereka berdoa khusus untuk saya. Suatu malam terindah dalam hidup yang baru kali itu saya rasakan. Saat seluruh tangan terangkat dan satu nama disebut "Yesus!...", seketika itu juga suatu keberanian yang luar biasa mulai masuk ke seluruh tubuh saya. Saya tersungkur dalam hadirat Tuhan dalam waktu yang cukup lama, menikmati kekuatan Surgawi yang mengalir melalui doa-doa teman-teman saya.
Keesokan harinya, saya mengambil komitmen untuk tidak akan menyentuh sedikitpun obat-obatan dari dokter lagi. Saya mengatakan keputusan ini kepada kakak rohani saya agar ia datang ke kost-kost-an saya dan membantu menguatkan iman saya semalaman. Keesokan harinya, saya benar-benar membuang semua obat-obatan dari dokter yang kurang lebih hampir delapan bulan sebelumnya saya konsumsi rutin.
Selama seminggu setelah saya tidak mengkonsumsi obat-obatan anti TBC yang jumlahnya tinggal delapan biji sehari – setelah dikurangi obat anti TBC untuk paru-paru yang sudah sembuh, saya mengalami tubuh linglung – obat-obatan anti TBC ada yang mengandung sejenis morfin untuk mengurangi rasa sakit, jika dilepaskan begitu saja tanpa pengurangan dosisnya sedikit demi sedikit bisa menyebabkan blank sesaat pada penderitanya. Saya pernah merasakan gelas yang saya pegang tiba-tiba terjatuh sendiri dari genggaman atau tiba-tiba tubuh saya mati rasa beberapa waktu. Semua yang saya lakukan terasa diluar kendali normal selama seminggu itu. Meski begitu, saya tetap bergantung penuh kepada Tuhan Yesus.
Anehnya setelah seminggu berlalu, tubuh saya berangsur-angsur semakin sehat. Saya tidak merasakan meriang lagi atau keadaan ’seperti tercabik-cabik’. Semua kembali ke kondisi normal seperti sebelum saya terkena penyakit TBC parah. Keputusan yang teramat penting juga langsung saya ambil setelah tubuh saya terkuatkan secara ajaib selama tidak mengkonsumsi obat-obatan anti TBC dari dokter, yakni komitmen untuk baptis selam di gereja!
Sampai sekarang saya masih tegak berdiri dengan kedua kaki sehat saya dan tidak lumpuh! Hasil leburan ditulang sumsum belakang saya tetap ada, tetapi sudah membatu. Dulu dokter specialist orthopedi dari RS. Fatmawati pernah menyarankan agar remukan tulang itu dioperasi kemudian dipasang sejenis pens penyangga dikedua sisi ruas tulangnya. Tetapi karena biaya operasinya lebih dari 50 juta, saya sama sekali tidak mau melakukan operasi itu karena biayanya terlalu mahal untuk ukuran saya. Saya hanya bergantung kepada Tuhan Yesus dan Ia pun bertindak melakukan mukjizat-Nya kepada saya. Saat ini bagian yang dulu membuat gerak tubuh saya agak terhambat sudah tidak terasa sakit lagi. Saya masih bisa berjalan normal, berlari, bahkan bermain basket seperti sebelum saya tervonis sakit TBC Tulang Lumbal 1.
Tuhan selalu mengingatkan saya dengan kisah Paulus. Jika Paulus mempunyai 'duri dalam daging'-nya, maka seorang Enjie pun mempunyai 'remukan disumsum tulang belakang'-nya.
Janji Tuhan yang saya imani, Dia akan selalu menjaga tulang saya dari patahan sampai kapanpun juga! (nj@coe)
Mazmur 34:21, Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah.
Friday, August 28, 2009
Free Wallpaper Flowers
Sample : Orange 1
Sample : White Lotus 1
Sample : Orange 2
Sample : White Lotus 1
Sample : White Lotus 2
Sample : Yellow
Wallpaper Size : 1024 x 768 pixel
Suitable for PC/Notebook
Suitable for PC/Notebook
Free Wallpaper
Sample : Ngebel Lake 1
Download free wallpaper Ngebel Lake 1 : link 1 or link 2
Sample : Ngebel Lake 2

Download free wallpaper Sunset 3 : link 1 or link 2
Download free wallpaper Ngebel Lake 1, 2, & 3 : link 1 or link 2
Download free wallpaper Sunset 1, 2, & 3 : link 1 or link 2
Wallpaper Size : 1024 x 768 pixel
Suitable for PC/Notebook
Download free wallpaper Ngebel Lake 1 : link 1 or link 2
Sample : Ngebel Lake 2
Sample : Ngebel Lake 3
Sample : Sunset 1
Sample : Sunset 2
Sample : Sunset 3
Download free wallpaper Sunset 3 : link 1 or link 2
Download free wallpaper Ngebel Lake 1, 2, & 3 : link 1 or link 2
Download free wallpaper Sunset 1, 2, & 3 : link 1 or link 2
Wallpaper Size : 1024 x 768 pixel
Suitable for PC/Notebook
Wednesday, August 26, 2009
Siapa Sie Loe?
Oleh : Angelina Kusuma
Seorang anak kecil tetangga baru rumah saya, membuat saya tergelak dengan ulahnya ketika menghadapi pengamen nekad yang bertandang ke rumahnya. Anak ini lain dari pada anak yang lain. Dengan lantang dan berani, ia berkata kepada pengamen yang menadahkan tangan meminta uang kepadanya seusai memamerkan suara fales-nya yang tak sedap didengar, "Siapa sie loe, minta-minta sama gue...?" Hihihi, karena anak kecil ini pindahan dari kota Jakarta, ia terbiasa bergaya ceplas-ceplos di depan orang lain termasuk meng-loe-loe dan meng-gue-gue-kan orang lain :D.
Tahu bahwa ada penghuni baru di komplek perumahan kami, si pengamen nekad langsung ke rumahnya untuk unjuk gigi. Sayangnya, kali ini ia salah sasaran. Bukannya mendapat uang hasil berjerih lelah dari meng-genjrang-genjreng gitar kecil bersenar tiganya, yang didapatinya hanyalah seorang anak kecil dengan logat loe-loe, gue-gue dan berani mengkritiknya. Si pemuda nekad yang tak berhasil mendapatkan uang hasil mengamen di depan anak kecil itu, akhirnya pergi dari halaman rumahnya sambil ngedumel. "Puelittt...", itulah katanya yang sempat saya dengar sebelum ia melangkah pergi mencari sasaran baru ke rumah lain.
"Bi, kenapa pengamennya nggak dikasih uang aja?", tegur saya kepada Obi, tetangga baru kecil saya itu, setelah pengamen nekad menghilang di tikungan jalan.
"Emang dia siapa, mbak? Enak aja minta-minta uang sama gue. Kenal aja kagak, ya nggak tak kasihlah..."
Obi, sebenarnya adalah anak yang ramah dan murah hati. Ia suka memberi makanan kecil atau apa pun yang dimilikinya kepada anak-anak kecil di sekitar rumah barunya, termasuk saya. Hanya saja, rupanya ia kurang suka berbagi dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi jika orang tersebut berlaku kurang sopan kepadanya lebih dulu, seperti si pengamen nekad itu contohnya.
Tingkah Obi kecil ini, mengingatkan saya tentang etika bagaimana cara meminta yang baik kepada orang lain. Setidaknya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika kita hendak meminta sesuatu kepada orang lain agar orang tersebut mengabulkan permintaan kita dengan mudah.
1. Kita harus dikenal lebih dulu oleh orang yang bersangkutan.
2. Kita harus menunjukkan perangai yang baik/sopan selama proses meminta dan sesudah meminta (berterima kasih sebagai ucapan syukur), agar yang sudah memberi merasa tepat telah mengabulkan permintaan kita dan tidak jera mengulangi perbuatan memberinya kepada kita di masa mendatang.
Obi kecil sudah menyadari kedua prinsip di atas. Ketika ia menemui pengamen nekad yang mulai dari proses meminta dan setelahnya menunjukkan perangai kurang sopan, ditambah lagi dengan ketidak kenalan dia pada sosoknya, membuat Obi enggan untuk memberinya uang sepeser pun padanya. Jika anak sekecil Obi dan manusia saja menerapkan standar seperti ini kepada orang-orang yang meminta kepadanya, terlebih lagi Bapa kita di Surga?
Ketika kita meminta sesuatu kepada-Nya di dalam doa, Ia juga akan memperhatikan siapa kita sebelum menjawab doa-doa tersebut. Apakah kita anak kecil, anak tetangga, anak tiri, anak nakal, anak hilang, atau anak Tuhan yang sudah dikenalnya dengan dekat dan diperkenan oleh-Nya? Doa-doa kita dikabulkan Tuhan, bukan karena 'apanya' tapi karena 'siapanya'.
1 Yohanes 3:22, Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
Doa dan permintaan yang kita panjatkan kepada Tuhan, tidak hanya terbatas di soal kerohanian. Ia berkata, "Apa saja yang kita minta...". Artinya, Ia juga memperhatikan permintaan-permintaan kita yang sifatnya jasmani. Mau minta mobil, boleh. Mau minta pasangan hidup, tidak dilarang. Mau minta minta uang yang banyak, bisa saja dikabulkan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kita. Namun masalahnya, apakah kita sudah berkenan kepada-Nya agar permintaan-permintaan tersebut dikabulkan oleh-Nya?
Menjadi orang yang berkenan di hati Bapa, berarti harus dikenal dengan baik oleh-Nya lebih dulu. Doa orang Kristen sering tidak dikabulkan oleh Tuhan karena mereka lebih menginginkan berkat-berkat yang disediakan-Nya dari pada menginginkan Pribadi-Nya. Kita sering bertindak sebagai pengemis yang menadahkan tangan meminta-minta, tapi tidak mau bergaul intim dengan Bapa, sehingga Ia menahan berkat-berkat untuk kita agar kita tidak tinggi hati dan menganggap dengan kekuatan sendirilah, semua hal itu kita dapatkan.
Zakaria 4:6, Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.
Bapa tidak pernah mengecewakan anak-anak yang diperkenan oleh-Nya. Ia tidak akan berkata, "Tidak", terhadap permintaan mereka yang menyenangkan hati-Nya, meski pun itu suatu hal yang mustahil bagi akal dan pikiran manusia. Buat Ia mengenalimu sebagai anak yang berkenan di hati-Nya, pasti Ia tidak akan berpaling darimu (nj@coe).
Mazmur 91:14-16, Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.
Seorang anak kecil tetangga baru rumah saya, membuat saya tergelak dengan ulahnya ketika menghadapi pengamen nekad yang bertandang ke rumahnya. Anak ini lain dari pada anak yang lain. Dengan lantang dan berani, ia berkata kepada pengamen yang menadahkan tangan meminta uang kepadanya seusai memamerkan suara fales-nya yang tak sedap didengar, "Siapa sie loe, minta-minta sama gue...?" Hihihi, karena anak kecil ini pindahan dari kota Jakarta, ia terbiasa bergaya ceplas-ceplos di depan orang lain termasuk meng-loe-loe dan meng-gue-gue-kan orang lain :D.
Tahu bahwa ada penghuni baru di komplek perumahan kami, si pengamen nekad langsung ke rumahnya untuk unjuk gigi. Sayangnya, kali ini ia salah sasaran. Bukannya mendapat uang hasil berjerih lelah dari meng-genjrang-genjreng gitar kecil bersenar tiganya, yang didapatinya hanyalah seorang anak kecil dengan logat loe-loe, gue-gue dan berani mengkritiknya. Si pemuda nekad yang tak berhasil mendapatkan uang hasil mengamen di depan anak kecil itu, akhirnya pergi dari halaman rumahnya sambil ngedumel. "Puelittt...", itulah katanya yang sempat saya dengar sebelum ia melangkah pergi mencari sasaran baru ke rumah lain.
"Bi, kenapa pengamennya nggak dikasih uang aja?", tegur saya kepada Obi, tetangga baru kecil saya itu, setelah pengamen nekad menghilang di tikungan jalan.
"Emang dia siapa, mbak? Enak aja minta-minta uang sama gue. Kenal aja kagak, ya nggak tak kasihlah..."
Obi, sebenarnya adalah anak yang ramah dan murah hati. Ia suka memberi makanan kecil atau apa pun yang dimilikinya kepada anak-anak kecil di sekitar rumah barunya, termasuk saya. Hanya saja, rupanya ia kurang suka berbagi dengan orang yang baru dikenalnya, apalagi jika orang tersebut berlaku kurang sopan kepadanya lebih dulu, seperti si pengamen nekad itu contohnya.
Tingkah Obi kecil ini, mengingatkan saya tentang etika bagaimana cara meminta yang baik kepada orang lain. Setidaknya ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan ketika kita hendak meminta sesuatu kepada orang lain agar orang tersebut mengabulkan permintaan kita dengan mudah.
1. Kita harus dikenal lebih dulu oleh orang yang bersangkutan.
2. Kita harus menunjukkan perangai yang baik/sopan selama proses meminta dan sesudah meminta (berterima kasih sebagai ucapan syukur), agar yang sudah memberi merasa tepat telah mengabulkan permintaan kita dan tidak jera mengulangi perbuatan memberinya kepada kita di masa mendatang.
Obi kecil sudah menyadari kedua prinsip di atas. Ketika ia menemui pengamen nekad yang mulai dari proses meminta dan setelahnya menunjukkan perangai kurang sopan, ditambah lagi dengan ketidak kenalan dia pada sosoknya, membuat Obi enggan untuk memberinya uang sepeser pun padanya. Jika anak sekecil Obi dan manusia saja menerapkan standar seperti ini kepada orang-orang yang meminta kepadanya, terlebih lagi Bapa kita di Surga?
Ketika kita meminta sesuatu kepada-Nya di dalam doa, Ia juga akan memperhatikan siapa kita sebelum menjawab doa-doa tersebut. Apakah kita anak kecil, anak tetangga, anak tiri, anak nakal, anak hilang, atau anak Tuhan yang sudah dikenalnya dengan dekat dan diperkenan oleh-Nya? Doa-doa kita dikabulkan Tuhan, bukan karena 'apanya' tapi karena 'siapanya'.
1 Yohanes 3:22, Dan apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari pada-Nya, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan berbuat apa yang berkenan kepada-Nya.
Doa dan permintaan yang kita panjatkan kepada Tuhan, tidak hanya terbatas di soal kerohanian. Ia berkata, "Apa saja yang kita minta...". Artinya, Ia juga memperhatikan permintaan-permintaan kita yang sifatnya jasmani. Mau minta mobil, boleh. Mau minta pasangan hidup, tidak dilarang. Mau minta minta uang yang banyak, bisa saja dikabulkan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah kita. Namun masalahnya, apakah kita sudah berkenan kepada-Nya agar permintaan-permintaan tersebut dikabulkan oleh-Nya?
Menjadi orang yang berkenan di hati Bapa, berarti harus dikenal dengan baik oleh-Nya lebih dulu. Doa orang Kristen sering tidak dikabulkan oleh Tuhan karena mereka lebih menginginkan berkat-berkat yang disediakan-Nya dari pada menginginkan Pribadi-Nya. Kita sering bertindak sebagai pengemis yang menadahkan tangan meminta-minta, tapi tidak mau bergaul intim dengan Bapa, sehingga Ia menahan berkat-berkat untuk kita agar kita tidak tinggi hati dan menganggap dengan kekuatan sendirilah, semua hal itu kita dapatkan.
Zakaria 4:6, Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam.
Bapa tidak pernah mengecewakan anak-anak yang diperkenan oleh-Nya. Ia tidak akan berkata, "Tidak", terhadap permintaan mereka yang menyenangkan hati-Nya, meski pun itu suatu hal yang mustahil bagi akal dan pikiran manusia. Buat Ia mengenalimu sebagai anak yang berkenan di hati-Nya, pasti Ia tidak akan berpaling darimu (nj@coe).
Mazmur 91:14-16, Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.
Subscribe to:
Posts (Atom)