Monday, March 09, 2009

Tergantung, Di Tangan Siapa

Oleh : Angelina Kusuma

Jika dulu ada orang yang memberikan bola basket ke tangan saya, itu artinya sudah tiba saatnya bagi saya untuk mengambil seragam basket dan memakai sepatu kets saya kemudian mempermainkan bola itu di lapangan bersama-sama anggota tim basket saya lainnya. Tapi jika sekarang di tangan saya diberikan bola basket...mungkin bukan saja permainan seru di lapangan basket yang akan saya suguhkan, namun juga menjadikan bola tersebut sebagai obyek fotografi yang bagus dan pasti akan menghasilkan gambar-gambar unik hehehe.

Di salah satu komunitas blog pecinta fotografi yang saya ikuti, admin-nya cukup kreatif mengadakan berbagai challenge menarik untuk member-nya yang diadakan setiap 10 hari sekali dengan tema-tema sederhana yang fun tapi cukup kreatif.

Ketika saya baru bergabung di komunitas ini, saya sempat merasa minder dibuatnya. Bagaimana tidak? Yang saya hadapi bukan fotografer amatiran yang baru kemarin sore belajar memotret seperti saya, tapi disini juga ada banyak fotografer profesional dan pecinta fotografi yang sudah lama melanglang buana di dunia ini. Senjata fotografinya tak perlu ditanya lagi! Hampir semuanya sudah mempersenjatai dirinya dengan kamera profesional seri SLR atau DSLR.

Saya yang hanya memegang kamera pocket seri Power Shot, mau tak mau harus super berani memenuhi challenge yang dilontarkan admin itu, menghadapi member-member lain dengan kamera mereka yang lebih canggih dan bisa menghasilkan kualitas gambar jauh lebih bagus dibandingkan kamera pocket saya.

"Practice make you professional", kalimat ini diucapkan oleh sahabat saya ketika saya memberitahukannya bahwa saya mulai tertarik dengan dunia fotografi untuk mengabadikan berbagai moment menarik yang saya temui.

Sebuah pengalaman berharga juga pernah diberikan oleh Pak Yo, pemilik studio foto di kota tempat tinggal saya yang biasa didaulat menjadi tukang foto di gereja tempat saya berjemaat. Saat perayaan Natal gereja pertengahan Januari 2009 kemarin, saya menguntit setiap kegiatan yang dilakukan oleh Pak Yo dan para crew-nya saat meliput jalannya acara perayaan Natal itu untuk didokumentasikan dalam bentuk foto dan video. Mungkin karena kasihan melihat mupeng (muka pengen) saya ketika memandangi beliau dengan kamera profesional seri DSLR di tangannya, akhirnya Pak Yo mendekati saya untuk memberikan tawaran.

Pak Yo: "Kamu pengen nyoba pake kamera ini ta Njie?"
Enjie: "Iya buangetz Pak."
Pak Yo: "Ya udah kita tukeran..." (sambil menunjuk kamera Power Shot saya)
Enjie: "Yang bener Pak?"
Pak Yo: "Yup. Kamu tahu pohon Natal itu? Coba kamu foto dengan kameraku dan aku akan foto juga dengan kameramu. Nanti kita bandingkan hasilnya."

Hahaha...mendapat tawaran menarik itu saya langsung meloncat. Yeah, kapan lagi bisa pegang kamera yang berharga minimal 7 juta itu kalo nggak sekarang! Ya nggak?

Singkat cerita...akhirnya saya dan Pak Yo pun beraksi bersama-sama. Jepret sana...jepret sini...jepret situ...jepret sono...hehehe.

Selesai menghabisi si pohon Natal dengan kamera DSLR di tangan, saya menunjukkan hasil foto-foto saya ke tangan Pak Yo. Demikian juga beliau, juga menunjukkan hasil jepretan beliau dengan kamera Power Shot saya.

Alangkah kagetnya saya ketika dibandingkan melalui PC, ternyata hasil foto-foto saya juga tidak sebegitu menarik dibandingkan dengan hasil foto-foto Pak Yo yang hanya memakai kamera pocket saya. Hiks, malu aku maluuu :(...Padahal saya pikir, dengan adanya kamera profesional di tangan saya, itu akan membuat hasil foto-foto yang saya buat lebih menarik.

"Yang terpenting bukan kameranya Njie, tapi siapa yang menggunakan kamera itu!"

Kata-kata Pak Yo ini saya ingat sampai sekarang. Yes, itulah yang benar. Tidak perduli apakah di tangan saya ada kamera profesional atau kamera pocket, kalo saya sebagai fotografernya kurang jeli membidik sasaran yang ingin saya potret, sampai kapanpun hasil foto saya juga tidak akan menarik. Pak Yo sudah membuktikan bahwa beliau tetap bisa menghasilkan foto yang lebih bagus daripada saya meski beliau hanya memegang kamera pocket yang spec-nya jauh dibandingkan kamera yang biasa beliau operasikan. Sedangkan saya, dasarnya emang belum menguasai teknik fotografi dengan baik makanya dengan kamera profesional di tanganpun hasil foto saya tetap aja STD BGT GL (standar buangetz gitu loch...).

Dalam setiap aspek kehidupan kita lainnya juga demikian. Yang terpenting bukan senjatanya, tapi siapa yang memegang senjata tersebut. Bible di tangan anak-anak yang takut akan Yesus, pasti menjadi sarana untuk membuatnya hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri karena mereka tahu bahwa Bible adalah Firman dari Tuhan yang mengandung janji-janji dan peneguhan iman langsung dari-Nya. Tapi Bible yang sama di tangan orang-orang yang kurang takut akan Yesus apalagi di tangan orang-orang yang sama sekali belum mengenal Dia? Mungkin Bible itu hanya akan menjadi buku pajangan biasa atau benda yang akan disentuh dua tahun sekali yaitu saat Natal dan Paskah tiba :).

Bola basket di tangan saya harganya tidak akan lebih dari Rp. 100.000,-. Tapi bola basket yang sama di tangan Michael Jordan, bisa berharga ribuan juta dollar. Kamera Power Shot saya di tangan Pak Yo, bisa menghasilkan foto-foto setara dengan hasil foto kamera DSLR. Tapi kamera DSLR Pak Yo di tangan saya, hanya bisa menghasilkan foto-foto setara dengan hasil foto kamera Power Shot. Semua, tergantung di tangan siapa yang menggunakannya!

Ibrani 4:12-13, Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Saturday, March 07, 2009

Persiapan Pernikahan Bagi Wanita Single

Oleh : Angelina Kusuma

Vina, gadis manis dengan lesung pipit di pipinya dan berkulit putih. Ia cerdas, mandiri, mempunyai jenjang karir yang cukup bagus di perusahaannya dan rajin pelayanan di rumah Tuhan. Diusianya yang menginjak ke 30 tahun ini, ia masih setia dengan status single-nya alias jomblo. Vina bukannya tidak menarik. Tetapi entah kenapa, setiap kali menjalin hubungan dengan pria, hubungan itu tidak pernah berhasil mengantarkannya ke jenjang pernikahan.

Selain Vina masih ada lagi Brenda, Josefine, Tabitha, dan banyak lagi wanita-wanita lain yang cukup bersinar dan takut akan Tuhan namun tetap single di usianya yang sudah matang. Saya bahkan pernah mendapat pertanyaan bernada corious dari sahabat saya mengenai fenomena ini. Katanya, "Apa benar image wanita yang takut akan Tuhan sama dengan calon perawan tua?"

Awalnya saya cukup tergelitik dengan pertanyaan usil sahabat saya ini. Tetapi ketika saya melayangkan pandangan ke kiri dan ke kanan, muka belakang, saya menjadi tertegun dibuatnya. Hampir semua sahabat wanita saya yang takut akan Tuhan dan sesungguhnya sangat-sangat matang dalam hal jasmani dan rohani saat berbicara tentang kehidupan pernikahan, arti pasangan hidup, dan bisa menghadapi anak-anak kecil dengan baik, kebanyakan dari mereka memang masih berstatus single!

Jodoh di tangan siapa?

Kejadian 2:18-20, TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.

Inisiatif awal untuk membuat manusia hidup berpasangan ada di tangan Tuhan (Kejadian 2:18). Tuhan kita itu Maha Besar. Ia merancang seluruh detail kehidupan kita tanpa kecuali termasuk soal pernikahan. Tetapi, Ia juga memberikan tanggung-jawab kepada manusia untuk membuat rencana-Nya tersebut berhasil atau tidak. Di Kejadian 2:19 tertulis bahwa Tuhan membentuk segala binatang dan segala burung di udara kemudian membawa-Nya kepada manusia setelah Ia berfirman, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." Disini ada sedikit kontradiktif. Masa iya sie Tuhan tidak tahu bahwa pasangan manusia bukanlah salah satu dari semua jenis makhluk hidup yang sedang dibawanya kepada manusia saat itu?

Ah...Tuhan pasti tahu kok. Tetapi Ia tetap menguji manusia agar ia bertanggung-jawab penuh akan pilihan yang akan dibuatnya. Dan buktinya, setelah Ia mendapati bahwa manusia itu tetap setia menanti pasangan hidupnya di tengah-tengah semua jenis makhluk hidup lain yang bukan untuknya (tidak sepadan), Tuhan membawa pasangan hidupnya yang benar yaitu Hawa yang dibentuk dari tulang rusuknya sendiri.

Masalah jodoh tak hanya di tangan Tuhan sehingga manusia bisa menyerahkannya mutlak kepada Tuhan tanpa usaha sama sekali. Jodoh juga bukan di tangan manusia saja sehingga ia bisa seenaknya memilih pasangan hidup yang disukainya kemudian menikahinya tanpa melibatkan Tuhan. Urusan pasangan hidup merupakan peran serta dari kedua belah pihak, ada kerjasama antara Tuhan dan manusia yang bersangkutan. Tuhan adalah pemrakarsa pernikahan setiap manusia, sedangkan manusia bertanggung-jawab membuat pernikahan itu benar-benar terjadi atau tidak di kemudian hari dengan pilihan-pilihan yang dibuatnya.

Bersiap-siap

Sebagai wanita, kita juga harus aktif menyambut peluang pernikahan kita. Aktif dalam arti mempersiapkan diri sebaik-baiknya menjadi wanita yang berkualitas, bukannya sibuk mengejar para pria dan menjerat mereka ke pernikahan hehehe. Gunakan setiap waktu single yang ada untuk bergaul akrab dengan Roh Kudus dan menghias tubuh jasmani dan rohani kita dengan kodrat sebagai wanita yang seutuhnya berkarakter Kristus.

Alkitab adalah pattern wajib yang harus dipegang oleh wanita-wanitanya Kristus. Peranan wanita dalam kehidupan ini begitu mulia. Ia diciptakan sebagai penolong pria. Dipersenjatai oleh Tuhan dengan kekuatan dibalik kelemah-lembutannya, dihiasi dengan kepandaian dibalik kecantikannya, dan diberikan kemampuan khusus untuk mengubah dunia dengan kebijaksanaan dan keindahannya.

Persiapan pertama yang harus dilakukan oleh wanita single guna menyambut pernikahannya adalah dengan menyadari kodratnya yang mulia ini. Sebelum kita bisa bangga terhadap diri kita sebagai wanita, kita tidak akan bisa menolong pria yang nantinya akan menjadi suami kita dengan maksimal. Peranan wanita yang unik ini tidak bisa disepelekan. Banyak pria-pria yang makin diberkati kehidupannya karena adanya wanita-wanita yang special di sisi mereka. Wanita-wanita yang special ini adalah mereka yang sudah utuh menjadi wanita dan puas akan kodratnya sebagai wanita, bukan wanita yang biasa-biasa saja cara hidupnya.

Persiapan kedua adalah belajar menjaga hati. Hati wanita lebih rapuh daripada kebanyakan hati para pria. Pengendalian hati dan pikiran harus dikuasai oleh wanita-wanita yang sedang jatuh cinta. Banyak wanita patah hati karena mereka terlalu banyak bermain tebak-tebakan dengan angan-angan mereka sendiri ketika sedang berhadapan dengan pria berprospek yang sesuai dengan kriteria pasangan hidup yang diingininya, padahal pria tersebut hanya mendekatinya sebagai seorang sahabat.

Pria memang lebih mudah merasai kedekatan dengan wanita tanpa ada embel-embel cinta untuk dibawa ke pernikahan. Kenapa? Karena sejak kecil para pria sudah dekat dengan wanita juga yang adalah ibunya (priapun berada sekitar 9 bulan didalam kandungan perut ibunya bukan?) dan mereka tidak jatuh cinta kepadanya! Hal ini kurang diwaspadai oleh kebanyakan wanita sehingga mereka sering kali salah membaca peta relationship-nya. Banyak pria mendekati wanita hanya untuk sekedar berbagi sebagai sahabat ketika mereka mempunyai masalah seperti ketika pria-pria ini berbicara dengan ibu atau saudara perempuan mereka, bukan sebagai calon pacar. Come on ladies, jangan ngarep terlalu banyak dulu jika ada pria yang curhat padamu hihihi. Bisa aja ia cuma berniat sharing doang, jadi jangan terlalu Ge eR!

Karena perbedaan perilaku antara pria dan wanita ini, baiklah jika para wanita mempersiapkan dirinya dan tidak terlalu banyak berharap lebih dulu terhadap hubungan yang sedang berlangsung dengan seorang pria sebelum para pria tersebut mengambil komitmen yang lebih jauh lagi daripada sahabat. Kita tidak bisa mencegah orang lain melukai hati kita tetapi kita bisa menjaga hati kita agar tidak terluka.

Persiapan ketiga adalah persiapan membaca peluang relationship. Tidak bisa dipungkiri bahwa peluang kita untuk menikah lebih besar adalah dengan mereka yang pernah berkencan atau dekat dengan kita, bukan dengan pria asing yang sama sekali belum pernah kita temui. Meski dengan adanya kemajuan teknologi internet saat ini, jarak dan waktu bisa memendek dalam hitungan detik, kita tidak boleh lengah membaca setiap peluang relationship yang datang kepada kita.

Wanita sering salah mengartikan peluang relationship yang dihadapinya karena tertipu dengan intimacy yang telah terjalin antara dia dan seorang pria. Banyak intimacy yang terjadi saat ini hanya karena berinteraksi melalui internet, entah melalui forum online, chat online, e-mail, maupun social networking. Tidak salah menggunakan sarana internet untuk menjalin kedekatan dengan orang lain, tetapi perlu diwaspadai juga bahwa digital intimacy seperti ini juga harus diimbangi dengan kedekatan emosional secara langsung sebelum benar-benar memutuskan untuk berkomitmen relationship yang sah.

Selalu minta tuntunan Roh Kudus ketika merasa jatuh cinta. Persiapan kencan kita hanya ada di dalam Yesus. Percayakan kunci hatimu kepada-Nya sampai tiba waktunya Ia menuntun seorang pria yang tepat kepadamu. Penekanan peluang relationship yang benar, bukan pada kisah cintanya namun pada proses dan persahabatan yang terjalin didalamnya. Lagi-lagi...jangan tertipu oleh kisah cinta romantis ala film Hollywood atau sinetron. Biarkan persahabatan yang ada itu berkembang dengan sendirinya ke arah komitmen yang benar jika sudah tiba waktunya. Ingat juga bahwa persahabatan itu pasti ada batas-batasannya. Dan selama hubungan yang terjalin masih berkutat di area friendship, jaga hati dan pikiranmu agar tidak melibatkan passion atau hasrat/nafsu terlalu berlebihan.


Pandang dunia dengan senyuman, wanita-wanita single-nya Kristus. Tunggu waktu-Nya dengan sukacita dan terus maju! Tertawai harapan akan pernikahanmu tanpa melepaskan pandangan dari Kristus. Waktu menunggu yang dihabiskan dengan penuh tawa sambil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang positif akan membuat waktu menunggu itu menjadi lebih berguna, berkualitas, dan tidak menjemukan. Bersiap sedialah setiap saat dengan segala kemungkinan. Siapa tahu, besok pagi seorang pangeran benar-benar berdiri di depan pintu rumahmu dan mengajakmu menikah karena ia tahu bahwa engkau adalah seorang wanita milik Kristus yang paling tepat untuk disanding hihihi. SEMANGAT and olwez be happy in single...^o^ V.



Wednesday, March 04, 2009

Do Not Grieve The Holy Spirit of God

Oleh : Angelina Kusuma

Saya hampir menangis ketika melihat tubuhnya tergores-gores di beberapa bagian pagi ini. Sedih, melihat sesuatu yang saya cintai ini sedikit cacat seperti itu. Semua salah saya! Jika saja saya lebih berhati-hati membawanya, pasti ia tidak akan tergores. Ya, di body atas digicam kesayangan saya, A590 IS, lecet di dua tempat sepanjang 2 milimeter. Sebabnya karena saya menempatkannya di dalam tas bersama SIM (driving licence) dan membiarkannya bergesekan satu sama lain tanpa pelindung. Gesekan dengan permukaan kartu SIM yang keras itu ternyata mampu membuat cat di body digicam saya lecet-lecet.

Sebelumnya, saya ngomel-ngomel ketika Mami saya memperlakukan digicam itu dengan kurang hati-hati. Paginya saya lupa membawa digicam bag saya ke tempat kerja. Karena di dalam tas itu ada SIM yang harus saya bawa karena malamnya harus pergi ke acara komsel gereja dengan menggunakan sepeda motor, maka saya meminta tolong Mami agar Beliau membawakan digicam bag itu ke tempat kerja saya beserta semua isinya. Betapa kagetnya saya ketika Mami datang dengan membawa digicam bag saya dalam keadaan setengah basah karena Beliau membawa tas itu tanpa membungkusnya dengan plastik padahal sepanjang perjalanan yang dilaluinya sedang turun hujan yang cukup deras.

Selamat dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya. Itulah ibaratnya nasif digicam saya selanjutnya. Ia selamat dari akibat kehujanan selama perjalanan bersama Mami saya, tetapi akhirnya catnya lecet juga karena saya salah membawa dengan mencampurkannya bersama permukaan kartu SIM yang keras. Sekarang, tinggallah saya yang meratapi kecacatan di body digicam akibat keteledoran saya itu dengan sedih...hiks.

Apapun yang memperoleh predikat 'berharga' pasti akan mendapat perlakuan istimewa dari kita. Saya penggemar fotografi, makanya saya sangat membanggakan digicam ini meskipun ia bukanlah yang tercanggih. Saya melindunginya dengan segala cara, salah satunya dengan membelikan tas khusus agar ia tidak rusak jika saya membawanya berpindah-pindah tempat. Tak hanya itu, saya juga memberikan hiasan gantungan kunci yang manis untuk digicam bag-nya sebagai pernak-pernik tambahan agar saya semakin PD (percaya diri) menyandang tas itu beserta isinya kemanapun saya pergi.

Seberapa berharganya masa depan dan Yesus bagi kita? Jika kita menganggap masa depan dan Yesus itu sangat berharga, kita pasti akan melakukan segala cara untuk menjaganya lebih dari apa yang saya lakukan untuk menjaga digicam saya. Masa depan kita berkaitan erat dengan Yesus. Di tangan-Nya terletak masa depan. Karenanya, jika kita ingin menjaga masa depan kita tetap utuh, haruslah menjalani hari-hari yang telah diberikan-Nya ini dengan iman bersama Dia dan menjauhi tindakan-tindakan yang mendukakan hati Bapa.

Efesus 4:30-31, Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan. Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Terkadang, kita tidak sadar dengan cara hidup kita sehari-hari. Kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah, masih sering kita jamah meskipun kita sudah berikrar akan hidup setia kepada Yesus. Tak hanya kekudusan jasmani yang dituntut dari kehidupan orang-orang yang takut akan Tuhan, tetapi juga kekudusan secara jiwani dan rohani. Mencuri, merampok, korupsi, berzinah, membunuh, jelas merupakan tindak kejahatan yang dibenci oleh Tuhan. Tetapi, bagaimana dengan tindakan-tindakan seperti di bawah ini?

- Diputusin pacar, sedih berkepanjangan sampai tidak mau membuka hati lagi
- Sikap dan tingkah laku dikritik orang lain, geram sampai gregetan
- Tidak mendapatkan apa yang diingini, marah-marah sepanjang hari
- Beradu otot dengan orang yang tidak sependapat
- Bergosip
- Mengumpat dalam hati
- Disuruh membantu orang tua menyelesaikan sebuah pekerjaan, melakukannya dengan bersungut-sungut
- Sering mengeluh tentang pekerjaan yang tidak maju, kondisi keuangan yang seret, kesehatan yang kurang baik, prestasi-prestasi yang buruk, dll

Hal-hal diatas kelihatannya sepele, tetapi itu sudah masuk dalam kategori mendukakan Roh Kudus lho. Roh Kudus tidak akan betah tinggal dalam suasana kehidupan seseorang yang memendam luka-luka batin terus-menerus karena Ia adalah Roh yang tertib. Ia hanya bisa tinggal dalam kehidupan seseorang yang penuh kasih dalam segala hal seperti ciri Bapa sendiri yang adalah Kasih Sejati.

Hal negatif sekecil apapun yang menyusup di hati kita, akan membuat Roh Kudus hengkang dari kehidupan kita. So, do not grieve the Holy Spirit of God!! Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu (Efesus 4:32).

Sunday, March 01, 2009

Battle In Your Mind

Oleh : Angelina Kusuma

Brenda memandangi kalender di meja kerjanya dengan gelisah. Hari apa ini? Tanggal berapa sekarang? Jam berapa ya? Hmm...

Beberapa detik berikutnya

Ia mengambil handphone...mengetik beberapa kalimat sms di handphone-nya...kemudian, send to...

Brenda diam. Menunggu reply dari seseorang di seberang sana.

Satu menit...
Lima menit...
30 menit...
50 menit berlalu...

"Why? Kok sms-nya nggak terkirim-terkirim juga ya?"

Satu jam pun akhirnya lewat...

Dua kubu mulai membentuk benteng-benteng pertahanan yang siap saling menjatuhkan di dalam pikirannya

(+): "Mungkin dia sedang berada di luar jangkauan sinyal seluler, makanya HP-nya nggak bisa dihubungi"
(-): "Ah, dia ganti nomor HP kali!"
(+): "Dia pasti lagi sibuk kerja"
(-): "Dia udah nggak ngarep lagi dihubungi sama kamu!"
(+): "Jika nanti dia ada waktu, sms dan e-mail-mu pasti dibalas deh..."
(-): "Bodoh! Kenapa tadi kirim sms segala!"
(+): "..."
(-): "@#$&%..."

Satu atau dua kali, kita pasti pernah mengalami situasi yang dialami oleh Brenda di atas. Ketika kita tengah menunggu sesuatu yang tak kunjung juga tiba, pikiran kita yang awalnya damai tiba-tiba menjadi gundah dan berbenturan satu sama lain.

Seberapa sering kita membiarkan pikiran kita berjalan sendiri tanpa kendali? Otak kita merupakan pusat koordinasi seluruh tindakan yang dilakukan oleh anggota-anggota tubuh lainnya. Jika di otak kita terjadi guncangan, anggota tubuh yang lain juga tidak akan berfungsi dengan sempurna.

Sangat penting menguasai dan mengendalikan pikiran agar selalu terisi oleh hal-hal yang manis didengar dan membangun. The real battle is in our mind. Yang membuat dunia tampak buruk atau indah, tergantung dari bagaimana cara pandang kita yang bersumber dari pikiran. Dua kubu berlawanan yang dihadapi oleh Brenda, pasti sering kita alami juga ketika sedang menghadapi suatu masalah. Kubu negatif dan kubu positif akan berebut simpati untuk kita pilih setiap saat dan itu jugalah yang akan menuntun kita ke hasil akhir yang baik atau buruk.

Winning battle inside mind hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sudah terlatih. Hampir sama dengan latihan jasmani, otak kita juga harus dilatih untuk mengendalikan hasil akhirnya. Seseorang yang selalu bisa berpandangan positif atas kehidupannya tidak terjadi dengan instant. Pasti ada proses pembelajaran berkali-kali sebelumnya yang terjadi pada orang tersebut sehingga membentuk kesadaran baru yang otomatis akan terarah ke positif ketika ia menghadapi masalah.

Saat saya menghadapi vonis dokter yang berkata bahwa saya bisa lumpuh seumur hidup jika kaki saya patah karena adanya virus TB yang menggerogoti tulang belakang saya, peperangan yang saya hadapi tak hanya melawan virus TB lumbal 1 yang bersarang di tubuh dan sudah meremukkan dua ruas tulang belakang saya itu, melainkan juga peperangan yang ada di pikiran saya. Saya menang terhadap penyakit TB lumbal 1 bukan karena obat-obatan atau resep dokter yang manjur. Jika saya masih tegak berdiri di kedua kaki saya saat ini, semua karena saya berhasil memenangkan peperangan yang ada di pikiran saya. Keberanian saya untuk tetap hidup timbul setelah saya bisa mengatasi kubu-kubu negatif yang dibentuk oleh pikiran saya dan melenyapkannya.

Itulah dahsyatnya kekuatan dari pikiran kita. Otak bisa mengendalikan seluruh hasil yang ingin kita capai di dunia ini. Peperangan yang bisa kita lihat, sebenarnya tidaklah sehebat peperangan yang tak bisa kita lihat. Menangkanlah peperangan yang tak terlihat itu (yang ada di pikiran kita) lebih dulu, baru kemenangan peperangan yang bisa kita lihat juga akan tercapai dengan lebih mudah (nj@coe).



Friday, February 27, 2009

Penunjuk Arah

Oleh : Angelina Kusuma

Setiap orang yang tidak tahu arah saat dalam perjalanan, membutuhkan alat bantu yang bisa memberitahukan posisi yang tepat dimana ia tengah berada. Alat bantu penunjuk arah tersebut bisa berupa peta, kompas, atau GPS. Ketika saya masih bekerja di perusahaan shipbuilding fabrication di Jakarta dan sering ditugaskan mengikuti acara sea trial, tim saya tidak pernah lupa dibekali dengan seperangkat peralatan Global Positioning System oleh perusahaan kami sebelum berangkat. Saat di tengah-tengah laut, GPS memberikan petunjuk posisi yang sangat akurat agar kami bisa menyelesaikan tahap-tahap sea trial dengan baik dan bisa kembali ke galangan kapal dengan selamat tanpa tersesat.

Alat bantu petunjuk arah yang sekarang sering kita temui dalam bentuk peta, kompas, atau GPS ini, ternyata sudah ada sejak zaman Israel dulu. Ketika Tuhan menuntun bangsa ini keluar dari Mesir menuju tanah perjanjian, Tuhan membuatkan petunjuk arah bagi mereka berupa tiang awan pada waktu siang dan tiang api pada waktu malam hari.

Kel. 13:21, TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.

Anehnya, meski bangsa Israel sudah mempunyai petunjuk arah yang mempunyai kuasa besar karena Dia adalah Tuhan sendiri, mereka tetap saja 'tersesat' di padang gurun sampai 40 tahun lamanya. Wew...

Apa sebabnya bangsa Israel sampai harus menghabiskan waktu 40 tahun lamanya di padang gurun, bahkan sampai seluruh generasi pertama yang keluar dari tanah Mesir musnah di padang gurun kecuali Kaleb dan Yosua?

Buandelll poll!!

Jika kita membaca sejarah mulai dari dibawanya bangsa Israel keluar dari Mesir oleh tangan kuatnya Tuhan di Keluaran sampai Ulangan, kita akan tahu bahwa bangsa Israel ini merupakan bangsa yang sering menggerutu, bersungut-sungut, berkali-kali jatuh dalam penyembahan berhala, tidak menghormati pemimpin-pemimpin mereka, dan tidak mempercayai janji-janji Tuhan meski banyak mukjizat sudah mereka terima selama di perjalanan itu.

Bangsa Israel tersesat begitu lama di padang gurun bukan karena mereka tidak mempunyai alat petunjuk arah yang akurat dan terpercaya. Mereka tersesat karena ulah mereka sendiri, tidak mau mengikuti Tuhan yang adalah petunjuk arah mereka selama dalam perjalanan dari Mesir ke tanah perjanjian.

Musa yang saat itu adalah pemimpin bangsa Israel memberi peringatan keras agar bangsa Israel tidak lebih lama lagi tersesat di padang gurun karena kebandelan mereka sendiri.

Bil. 32:15, Jika kamu berbalik membelakangi Dia, maka kamu akan lebih lama lagi dibiarkan-Nya tinggal di padang gurun dan kamu akan membawa kemusnahan atas seluruh bangsa ini.

Hmm, teguran Musa mengerikan ya? Coba saja seandainya setelah diperingatkan oleh Musa bangsa Israel tetap tidak setia kepada Tuhan dan mengulangi apa yang sudah dilakukan oleh nenek moyang mereka dulu, jangka waktu 40 tahun lamanya di padang gurun itu bisa diperpanjang lagi oleh Tuhan dan bisa juga sampai memusnahkan seluruh bangsa Israel tanpa terkecuali.

Jika kita melakukan apa yang dilakukan bangsa Israel di padang gurun itu, bisa jadi kita juga akan bernasif sama seperti mereka. Tuhan Maha Pengasih tapi juga Maha Kudus. Dia tidak akan membiarkan seorangpun meremehkan-Nya dan mempermainkan-Nya. Sekali pedang Tuhan teracung, tidak akan ada yang bisa menahannya. Hanya orang-orang yang rendah hati dan 100% percaya kepada janji-janji-Nya seperti Kaleb dan Yosua yang berhasil keluar dengan selamat dari padang gurun dan mendapatkan reward atas kesetiaan mereka bersama Tuhan di tanah perjanjian.

Siapa yang menjadi penunjuk arah bagi jalanmu ketika tengah berada di padang gurun persoalan? Tuhan atau egomu?

(Mzm. 23)
TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang;
Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.
Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

Wednesday, February 25, 2009

Say Goodbye For de Broken Heart!

Oleh : Angelina Kusuma

"Kak, aku abis diputusin sama cowoku" Gotchaa...pagi-pagi saya sudah mendengar kabar yang begitu 'menggembirakan' ini tadi hahaha.
"Selamat ya..."
"Lho, kakak ki...malah ngucapin selamat...:(" Hahaha, pasti saya adalah figur kakak yang paling menyebalkan bin payah bagi adik-adiknya :D. Tahu orang lagi patah hati kok ngucapin selamat bukannya bersimpati sedih gitu? Hahaha, is it? :D.

Banyak obat manjur bertebaran di toko-toko obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit di dunia ini, kecuali penyakit akibat patah hati. Tapi benarkah patah hati itu tidak ada obatnya sama sekali? Penyakit yang satu ini memang tidak mempan jika hanya diobati dengan obat biasa. Tapi masih tersisa satu obat super mujarab untuk menyembuhkannya kok. Obatnya hanya satu, yaitu hati yang gembira!

Ams. 17:22, Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.

Saya tidak pernah 'memanjakan' diri saat berada di situasi yang tidak nyaman. Manusia memang diciptakan dengan disertai perasaan yang bisa bersedih. Tapi bagi saya, saya diciptakan bukan untuk berlama-lama tinggal dalam kesedihan itu. Rugi, jika kita melewati hari-hari yang telah disediakan oleh Tuhan ini dengan kemurungan dan tangisan terus-menerus. Say goodbye for de broken heart! Say welcome for joy every time!

Saya bukannya tidak pernah merasakan patah hati. Riwayat relationship saya juga lebih banyak gagalnya daripada suksesnya hihihi. Pria yang pernah mengisi hari-hari saya dulu, malah ada yang sudah menikah saat ini. Yang lucu ketika seorang sahabat yang tahu bahwa dulunya saya pernah menyukai pria berinisial x dan ia memberitahukan bahwa pria tersebut akan menikah dalam waktu dekat.

"Oh ya? Puji Tuhannn, akhirnya si x mutusin merit juga...kapan resepsinya bo'? Gue mo dateng."
"Serius Njie, loe mo dateng ke resepsinya si x? Nggak patah hati loe? Kan loe suka buanget sama tuh cowo?"
"Hahaha, lha emang kalo gue patah hati trus bisa mbatalin acara meritnya dia apa?"

Yeah, itulah yang saya pilih untuk hidup saya, selalu bersukacita senantiasa apapun yang terjadi. Saya tidak ingin bersedih atas keadaan yang tidak bisa saya rubah. Saya sudah menemukan tujuan hidup saya yang utama, yaitu hidup hanya untuk Tuhan Yesus yang saya sembah. Selebihnya, saya menikmati setiap jejak kehidupan saya di dunia ini dengan sepuas-puasnya. Entah itu saat saya kekurangan ataupun kelebihan, semua selalu indah di mata saya karena saya percaya Tuhan Yesus memberikan semuanya bukan untuk membuat saya menderita tapi agar saya berkecukupan dengan bergantung penuh kepada-Nya saja.

Mzm. 147:3, Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.

Saat-saat single atau jomblo bukannya tidak berharga bagi Tuhan. Justru saat kita hanya memiliki-Nya sebagai satu-satunya fokus hidup kita, harusnya itu lebih menantang dan memacu diri untuk melayani Dia dengan lebih 'gila-gilaan' lagi. Ketika kita mempunyai pribadi lain yang kita pikirkan selain Yesus (seperti kekasih atau suami/istri), kita akan sulit melayani-Nya dengan kemampuan dan seluruh jiwa kita 100%. Mau tak mau, fokus kita kepada Yesus akan sedikit bergeser dengan adanya sosok lain yang kita kasihi tersebut selain daripada Dia. So, ucapkan selamat datang kepada status jomblo (again) jika Tuhan memang menghendakinya terjadi demikian. Artinya, Dia masih menginginkan kita memikirkan-Nya saja tanpa diganggu oleh sosok lain di hidup kita.

Dalam relationship, semua orang pasti merindukan bertemu dengan soul mate yang tepat, bukan sekedar sole mate. Moment break bisa dijadikan ajang pembelajaran agar kita menemukan soul mate yang tepat, bukan ditangisi dan dimurungi berlama-lama. Kegagalan adalah batu loncatan untuk meraih yang lebih baik di depan. Jangan pernah mau dikuasai oleh kesedihan yang berlarut-larut.

Kita pasti lebih tertarik kepada orang lain yang penuh dengan senyum dan selalu bersemangat. Jika kita saja memilih hal yang demikian, terlebih lagi dengan calon pasangan hidup kita nantinya. Salah satu alasan seseorang menikah adalah untuk membangun keluarga kecil di dalam Tuhan agar bisa saling berbagi kebahagiaan bukan kesedihan. Jika kita terus meratapi patah hati dan tidak bangkit menata hidup dengan cepat, bagaimana mungkin kita akan dilirik oleh calon pasangan hidup kita selanjutnya yang mungkin masih ada di luar sana?

Come on para jombloer (again) yang abis patah hati...susut air matamu, pasang senyummu, dan lanjutkan hidupmu! Terlalu berharga air matamu dihabiskan hanya demi sebuah hubungan yang sudah berakhir dan tidak bisa kamu rubah. Lebih baik, gunakan air matamu untuk menangisi jiwa-jiwa yang masih belum mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamatnya secara pribadi. Rite? Always shine on guys...(nj@coe).

Ul. 31:8, Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati."



Sunday, February 22, 2009

Welcome Sorrow!

Oleh : Angelina Kusuma

Seperti seorang anak kecil yang baru saja mendapatkan mainan baru, rasanya saya ingin melompat-lompat kegirangan saat ini. Yes, my dreams come true! Impian saya untuk menjadi salah satu penulis bagi Tuhan akan segera terwujud. Artikel-artikel di journal blog sayalah yang mengantarkan saya pada posisi ini. Seorang redaktur dari majalah rohani besar di Indonesia, akhirnya tertarik memakai beberapa tulisan saya di edisi majalahnya. Mengejutkan? Iyahhh, memanggg!

Saya tidak pernah merencanakan akan menjadi salah satu penulis di majalah tersebut sebelumnya. Saya sadar, saya bukan seorang penulis yang baik dan tidak pernah bersentuhan dengan dunia kesastraan sekalipun. Ketika pertama kali menulis di journal blog, saya tidak berfikiran untuk menjadikannya sebagai artikel yang akan dimuat di majalah tertentu suatu saat nanti. Awalnya, saya menulis karena alasan dan motivasi yang jauh berbeda dari pada yang sedang terjadi saat ini.

Saya menulis karena sakit hati.
Saya menulis karena benci.
Saya menulis karena marah.
Saya menulis karena kecewa.
Dan saya menulis karena semua energi negatif yang begitu besar menghimpit jiwa saya!

Itu adalah alasan kenapa saya mau menulis dulu. Semua air mata, kesedihan, dan kegalauan yang ada di dalam hati, itu yang membuat jari-jari saya bergerak merangkai kata-kata membentuk kalimat-kalimat bertutur (pada dasarnya saya memang tipikal orang yang kurang bisa men-sharing-kan kejadian-kejadian buruk di hidup saya kepada orang lain, makanya saya lebih bisa open mind di tulisan hihihi).

Untungnya, saya bukanlah manusia yang benar-benar terhilang meski sempat merasai kepahitan hidup hehehe. Tangan kanan Yesus menggenggam erat tangan saya dan mengubah semua kesakitan saya itu menjadi sukacita yang sungguh luar biasa. Berjalan bersama Tuhan di lembah kelam, benar-benar membuat saya sadar bahwa Dia saja yang perlu saya andalkan ketika menghadapi gunung-gunung dan bukit masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan akal dan kekuatan manusia saja.

Saya tidak menolak ketika Ia datang membawakan tongkat didikan yang keras meski setiap kali rasanya saya juga ingin lari dari kenyataan. Siapa sie yang ingin merasai sakit hati, kebencian, kemarahan, kekecewaan, dan kesedihan terus-menerus? Semua orang pasti memilih always happy, no fear. Tetapi sekarang, saya justru bersyukur atas semua hal-hal buruk yang telah terjadi di hidup saya itu. Di satu titik, saya hampir kehilangan segala hal dalam kurun waktu berturut-turut. Saya kehilangan kesehatan saya, saya kehilangan kedamaian bekerja di kota perantauan, saya kehilangan hubungan dengan seorang pria yang saya kasihi, saya kehilangan figur ayah dunia saya, saya kehilangan rumah, saya kehilangan sahabat-sahabat dekat saya, penolakan terhadap diri saya dari keluarga begitu kuat...saya dipaksa berjalan sendirian dan kesepian!

When you're alone, you never truly walk alone. Jesus near you. He is beside you. His hand hold you and never leaving you in confuse.

Saya berontak protes kepada Tuhan saat itu, "Kurangkah aku melayani-Mu selama ini hingga Kau jauhkan semua kebahagiaan itu dariku?" Tetapi semakin saya berontak, tangan kuat-Nya semakin terasa menekan diri saya hingga terjepit. Sampai akhirnya saya terkapar menyerah, dan setelah itu Tuhan mulai menjamah bagian-bagian hidup saya yang sakit dan menyembuhkannya total, perlahan-lahan!

Ketika saya mengerang, "It's hurt, Lord...", Tuhan memaksa saya untuk terus 'tersenyum' dan berjalan maju tanpa mengucap kalimat 'keluhan atau menyerah'. Semua kata-kata takut saya diganti-Nya dengan berani. Kegelisahan saya diganti-Nya dengan kepastian. Kekecewaan saya diganti-Nya dengan pemulihan. Kehilangan saya diganti-Nya dengan kepenuhan. Dan air mata saya disusut-Nya menjadi tawa gembira. Jika ada beberapa orang yang membaca journal blog saya dan mereka merasakan ada kekuatan dibalik kehancuran yang telah saya alami, yep...itulah yang sudah diajarkan oleh Dia selama ini.

Yesus ingin kita tetap percaya kepada-Nya meski kenyataan berkata tidak. Ucapkan, "Selamat datang" kepada setiap kehilangan, kesakitan, ketakutan, kecemasan, kekuatiran, kekecewaan, kegagalan, dan semua bentuk masalah yang menimpa hidupmu. Masalah bukan untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi dengan gagah berani! Yesus yang adalah Tuhan dan Juru Selamatmu jauh lebih besar dibandingkan setiap masalah yang datang menimpamu. Ia sudah berjanji bahwa kesudahan dari hidup kita pasti indah pada waktunya. So, don't worry when you're in sorrow. Keep smiling and always be happy ^_^ V.

Ia sanggup membalikkan waktu-waktu penderitaan kita dengan sukacita yang tidak ternilai harganya (saya sudah mendapatkan pemulihan total terhadap hidup saya dan kemuliaan dari artikel-artikel yang pernah saya tulis selama dalam didikan-Nya itu, yang ternyata tak hanya memberkati saya pribadi tetapi juga bisa memberkati orang-orang yang tengah mengalami hal sama seperti yang sudah saya alami dulu), jika kita tetap setia di jalan-Nya dan bergantung penuh kepada-Nya setiap saat (nj@coe).

Saturday, February 21, 2009

Kesenangan Mata

Oleh : Angelina Kusuma

Kesenangan mata itu tidak ada habis-habisnya. Ketika ia sudah menikmati satu pemandangan bagus, ia tidak akan puas hanya berhenti sampai disitu. Akan ada pemandangan-pemandangan lain yang jauh lebih bagus dan ingin dinikmatinya...lagi...dan lagi...

Banyak orang berkata bahwa fotografi merupakan salah satu jenis hobby yang muahal buangetz. Jika ingin menekuni dunia fotografi dengan serius, siap-siap aja jutaan Rupiah melayang hanya demi untuk membeli peralatan kamera profesional dan software editing-nya. Hmm, saya rasa memang demikian adanya hehehe.

Sejak kecil, saya suka berpetualang. Suka melakukan perjalanan ke luar kota dan menikmati setiap detail-detail keindahan yang terdapat di alam sekitar kota tersebut berada. Karena kesukaan saya ber-traveling ria ini, akhirnya menyeret saya pada dunia fotografi. Mengabadikan setiap moment perjalanan saya dalam bentuk foto-foto, rasanya makin memberi kepuasan yang tiada bandingnya.

Terjun ke dunia fotografi, membuat saya sadar bahwa mata manusia memang punya banyak tuntutan hihihi. Kalo awalnya saya cukup puas dengan hasil foto-foto dari kamera pocket jadul saya, sekarang dengan kamera pocket semi profesional yang saya milikipun rasanya masih kurang :D. Keinginan membeli kamera profesional agar bisa menghasilkan foto-foto dengan kualitas yang lebih baik lagi dari sekarang, makin membuat saya harus mengencang ikat pinggang karena harus berhemat mengumpul uang demi 'dia' nantinya hahaha.

Yah, itulah yang namanya kesenangan mata. Tak akan berhenti di kata cukup dengan mudah, jika tidak dikendalikan oleh manusianya sendiri ^o^ V.

Apa yang harus kita lakukan agar kesenangan mata tidak menguasai kita?

1. Jangan buka celah

Ingat kisah Daud? Daud adalah seorang raja sekaligus panglima yang hebat di medan peperangan. Tugasnya? Sebagai raja sekaligus panglima ya jelaslah memimpin pasukannya bertempur mengalahkan musuh-musuhnya. Tapi eits...suatu ketika Daud lupa akan tugas besarnya ini sesaat. Pada waktu raja-raja biasanya maju berperang, Daud menyuruh pegawai dan prajuritnya maju melawan bani Amon. Sementara ia tinggal sendirian di Yerusalem, om kita yang terkenal sudah mengalahkan ribuan pertempuran ini berjalan-jalan dengan enjoy-nya di atas sotoh istananya. Uenak tenan...kali ya menikmati suasana sore hari seperti itu dengan berkeliling istana.

Berhenti sampai disitukah kegiatan 'nganggur' yang sedang dilakukan oleh Daud? Oh tidak...Ada lagi pemandangan indah yang akhirnya ditangkap mata Daud. Ops, itu dia...ada tante Batsyeba sedang mandi hihihi.

Ah, seandainya Daud tidak membuka celah saat itu, tentu ia tidak jatuh ke dalam dosa. Mata Daud yang dibiarkan menikmati pemandangan yang salah pada waktu yang tidak tepat, menyeretnya pada kehancuran kerajaan dan keluarganya di akhir kisah yang ditulis oleh nabi Samuel.

2. Jangan coba-coba

Ingat kisah Adam dan Hawa? Om Adam (bukan nama suaminya si ratu ngebor Inul Daratista yah hehehe) dan tante Hawa hidup nyaman di Eden. Tiba-tiba si ular bisik-bisik ke tante Hawa, "Eh, tentunya Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, iya tho?". Yah, dasarnya tante Hawa lugu kali ya...kata-kata si ular malah ditanggepin, "Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan kok, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buat itu, nanti kamu mati."

Uh uh, si ular nyela lagi, "Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat." Mendengar kata-kata si ular, tante Hawa mulai melihat ke arah buah itu dan mengambilnya untuk memakannya bersama om Adam. Karena jebakannya berhasil, si ular pasti berkata dalam hati, "Yes, yes, yes...jebakan gue berhasil...berhasil...tante Hawa ketipu!"

Ah, seandainya tante Hawa dan om Adam tidak coba-coba mengikuti kata-kata si ular nakal itu, pasti mereka akan tetap di Eden dan tidak diusir oleh Tuhan dari sana sampai saat ini. Iya kan?

3. Jangan diam aja, usir dalam nama Tuhan Yesus!

Ingat kisah Yesus ketika dicobai iblis di padang gurun? Tiga kali lho si iblis mencoba menggoda Yesus. Pertama dengan menyuruh-Nya mengubah batu menjadi roti, hendak memberikan-Nya seluruh kerajaan dunia, dan menyuruh-Nya menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah agar para malaikat datang menatang-Nya.

Apa yang dilakukan Yesus untuk mematahkan bujukan iblis?
a. Jawab Yesus kepada iblis: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja."
b. Yesus berkata kepada iblis: "Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!"
c. Yesus menjawab iblis, kata-Nya: "Ada firman: Jangan engkau mencobai Tuhan, Allahmu!"

Begitu ketiga kalinya Yesus mengusir iblis dengan 'ada tertulis dan ada firman'...puff...tiba-tiba iblisnya mundur! Ih...malu...aku malu...kali ini cobaannya iblis nggak mempan euy hihihi.

Yup, itulah kunci untuk lepas dari godaan kesenangan mata atawa kesenangan duniawi. Kita harus berani dengan tegas mengusirnya di dalam nama Tuhan Yesus yang sudah berhasil membuat iblis undur dari hadapan-Nya 2000 tahun yang lalu. Kita yang percaya kepada Yesus, juga diberi-Nya kuasa untuk melakukan hal yang sama seperti yang telah Dia lakukan sebelumnya, membuat kesenangan mata itu undur menguasai kita.


Markus 9:47, Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu dari pada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka.